YOUR LIE

JOHNNY X TAEYONG


Happy Reading...

.

.

.

.

.

.

"John, boleh ambil eggtart juga?" Tanya Taeyong antusias sambil memegang satu lusin eggtart.

Dan untuk kesekian kalinya Johnny kembali menuruti permintaan kekasihnya dengan senyuman.

Hari ini Taeyong sangat bersemangat. Dia mengajak Johnny untuk mengunjungi teman-temannya yang sedang berlatih untuk persiapan debut. Beberapa waktu ini mood Taeyong memang luar biasa bagus. Dia senang setelah menerima kabar bahwa agensi berniat untuk memasukkan beberapa lagu ciptaannya ke dalam album debut NCT. Hal itu membuatnya sering bolak balik ke agensi untuk membicarakan banyak hal. Awalnya semua khawatir, takut jika Taeyong merasa terluka bila harus menyaksikan persiapan debut teman-temannya secara langsung. Tetapi sejauh ini dia justru terlihat sangat bahagia dan bersemangat. Dia bilang, senang bisa ikut terlibat dan mensukseskan debut NCT. Dia hanya merasa gugup karena sebentar lagi lagu ciptaannya akan segera dirilis. Dia sedikit takut memikirkan bagaimana reaksi orang saat mendengar lagu-lagunya nanti.

.

.

Johnny menumpu kedua tangannya pada pegangan troli. Dia tersenyum
memeperhatikan gerak-gerik Taeyong yang sedang mengecek barang belanjaan dalam troli. 'Lucu sekali, menggemaskan' pikirnya.

"Apa ini cukup? Atau terlalu banyak?"

Johnny tersadar dari segala pikirannya. Kemudian melirik troli dan menghitung jumlah makanan yang ada disana. "Hmm... sepertinya cukup. Apa masih ada yang ingin kau beli?"

Taeyong berpikir sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan
tersenyum riang.

"Ya sudah, kita ke kasir sekarang." Johnny mulai mendorong trolinya beriringan mengimbangi Taeyong.

.

.

.

.

.

Di tempat lain tujuh orang remaja lelaki tengah berkumpul di sudut ruangan luas berkaca. Beberapa ada yang begitu saja merebahkan tubuhnya di lantai. Beberapa lagi memilih menyandarkan diri dengan nyaman pada dinding. Semua tampak berantakan dengan baju yang kusut dan basah karena peluh. Juga rambut yang lepek dan sudah tak tertata lagi.

Tak nampak berminat bahkan untuk sekedar bergurau, seperti biasanya mereka pada lain waktu. Tenaga mereka nyaris habis setelah tubuhnya dipaksa bekerja selama hampir delapan jam penuh. Jadwal yang semakin padat belakangan ini, memberi tekanan yang sangat terasa bukan hanya fisik tetapi juga mental dan pikirian mereka. Semua tampak sibuk dengan pikiran dan kegiatan masingmasing. Hingga salah satu dari mereka bergumam dan menarik perhatian yang lainnya "Taeyong hyung akan datang kesini. Katanya sebentar lagi sampai"

Salah satu dari mereka yang sebelumnya terlentang di lantai merubah posisi hingga menghadap si pembawa berita. "Dia datang sendiri?"

"Hmm... sebentar hyung" dia kembali memeriksa ponselnya, menunggu jawaban dari Taeyong.

"Oh, katanya dia bersama Johnny hyung"

Terlihat seorang yang menanyakan kedatangan Taeyong mengernyit setelahnya. "Sejak kapan mereka jadi sedekat itu?". Peka sekali. Memang diantara yang lain bisa dibilang dia merupakan soulmate Taeyong. Orang itu ialah Yuta. Mengingat keduanya lahir di tahun yang sama, membuat mereka nyaman untuk berbagi banyak hal dan pemikiran.

Pertanyaan itu berhasil menarik perhatian yang lain. Karena mereka paham betul watak sahabat mereka, Taeyong. Dia bukan tipe yang mudah dekat dengan orang asing. Dia seorang introvert yang terkesan dingin pada orang yang tidak begitu dekat dengannya. Lalu kenapa tiba-tiba dia jadi sedekat itu dengan orang yang sebelumnya dia bilang hanya teman hyungnya.

Suara pintu terbuka membuyarkan pikiran dari ketujuh remaja itu. Berbagai praduga yang sebelumnya memenuhi pikiran mereka hilang begitu saja saat melihat Taeyong berjalan mendekat. Tergantikan dengan senyum sumringah dan
beberapa sorakan. Semakin ramai saat menyadari Johnny disamping sahabatnya menenteng kantung berisi banyak makanan.

.

.

.

"Hyung~ sejak kemunduranmu, agensi memintaku untuk berlatih rap lagi." Jaehyun merajuk sambil mengunyah pizzanya.

"Eh? Bukannya sudah ada Mark dan Yuta?"

"Karena aku terlalu lama menyesuaikan diri dengan rapmu. Sementara kau dan Mark punya style rap yang berbeda. Jadi ada beberapa hal yang masih tumpang tindih saat rap kami dipadukan. Sepertinya, agensi mencari alternatif terbanyak untuk bisa membuat rap kami jadi satu kesatuan. Aku tidak terlalu mengerti juga dengan yang agensi pikirkan." Jelas yuta panjang lebar.

Mendengar penjelasan Yuta, Taeyong jadi teringat Mark yang sejak tadi tidak terlalu banyak bicara. "Mark, kau sendiri bagaimana? Apa ada kesulitan?"

Mark cukup terkejut ditanya langsung oleh Taeyong. Tiba-tiba dia jadi gugup
karena sesuatu yang tak begitu jelas. Padahal sebelumnya dia tidak pernah
seperti ini. Dia cukup dekat dengan Taeyong, keduanya sering berlatih dan bicara banyak tentang rap dan hal-hal kecil lain.

Sorot matanya bergerak tak nyaman. "Tidak hyung, semua lancar-lancar saja. Mungkin hanya perlu sedikit penyesuaian."

Sesungguhnya mark tidak merasa semudah itu. Dia merasa canggung dan kesulitan untuk berbaur dengan yang lain. Aneh, padahal mereka sudah mengenal sejak lama. Tapi masuknya dia ke dalam tim secara tiba-tiba berhasil menciptakan dinding tak kasat mata yang membatasi pergerakannya. Dia tidak menyalahkan siapapun, ini sepenuhnya kesalahannya sendiri. Dia sadar itu. Memang dia yang selalu terkesan menahan diri jika bersama hyungnya. Oleh karena itu, dia pikir tak pantas baginya untuk mengeluh. Ada begitu banyak orang yang menginginkan posisi dalam grup. Dia seharusnya berterima kasih karena agensi membiarkannya mengisi posisi yang ditinggalkan Taeyong.

Taeyong cukup peka untuk menyadari adanya hal yang tidak beres dari si bungsu. Tetapi melihat bagaimana tidak nyamannya bocah itu saat Taeyong menatapnya lekat, membuatnya memilih untuk diam. Mungkin dia akan membahasnya di
lain waktu yang lebih tepat. Setelah Taeyong mengalihkan pandangannya dari Mark. Tak sengaja matanya bertemu langsung dengan Yuta. Meski hanya melalui kontak mata keduanya paham, jika mereka memikirkan hal yang sama.

.

.

.

Sejak kedatangan Taeyong dan Johnny, tanpa disadari oleh keduanya, Yuta terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Mungkin yang lain tak begitu menyadari. Tetapi Yuta sangat dekat dengan Taeyong. Waktu yang mereka habiskan bersama, membuatnya memahami sosok Taeyong luar dalam. Dia bisa merasakan sedikit saja perubahan atau hal-hal tak biasa pada sahabatnya itu.

Taeyong yang ada di hadapannya saat ini tidak sepenuhnya seperti Taeyong yang sebelumnya ia kenal. Auranya terasa lebih hangat. Cara bicara dan juga caranya tersenyum, semua terasa baru untuk Yuta.

Belum lagi caranya berinteraksi dengan Johnny. Apakah dia selalu bersikap seperti itu pada teman-temannya? Taeyong memang dekat dan selalu memanjakan Jaehyun, karena dia bilang Jaehyun sangat manis. Tapi sekarang, rasanya di seperti melihat sosok Jaehyun pada diri Taeyong. Sungguh tidak terlihat seperti Taeyong. Apa dia mencoba membuat dirinya terlihat manis di hadapan Johnny? Yang benar saja! Untuk apa? Dia bahkan tidak pernah bersikap seperti itu pada Taeil, jadi Yuta rasa ini bukan soal usia. Dan masih banyak hal yang juga terasa aneh. Salah satunya, saat Johnny begitu saja meninggalkan ruangan untuk menjawab panggilan ponselnya. Demi tuhan, tatapan Taeyong terus membuntuti Johnny hingga sosoknya menghilang di balik pintu, dan terlihat kecewa kemudian. Tetapi begitu saja kembali ceria sesaat setelah Johnny kembali.

Yuta merasa lengannya di guncang pelan oleh seorang yang ada disampingnya, Ten. Sepertinya Ten menyadari tatapan menelisik dari Yuta untuk dua manusia di hadapannya yang tampak asik dengan dunia mereka.

Ten tidak mengatakan apapun, tapi setelah melihat gerak-gerik Yuta, dia mulai menyadari apa yang begitu menarik perhatian lelaki jepang ini. Selanjutnya Ten melihat Yuta menunjukkan smirknya.

"Tampaknya kalian semakin dekat, kalian benar-benar berkencan?"

Taeyong terkejut mendengar pertanyaan Yuta. Kenapa? Padahal sebelumnya saat Yuta menggodanya tentang ini, dia segera menunjukkan ketidaksukaan dan mulai marah.

Berbeda dengan Taeyong, disampingnya Johnny terlihat santai. Dia menanggapi Yuta dengan kekehan misterius. Dan Yuta tidak bisa mengartikannya.

Taeyong terlihat gelisah saat Johnny menatapnya dengan senyum. Tetapi Johnny tak begitu mengindahkan kegelisahannya. Dia menggenggam jemari Taeyong lembut dan mengalihkan tatapannya kepada Yuta. "Kau benar. Kami sudah berkencan selama hampir tiga bulan"

Hening. Semua terdiam, tak tau harus bagaimana meresponnya.

"Haha... kau bercanda?" Ucap Taeil memecah keheningan. Terdengar canggung saat dia mengatakannya.

Namun Johnny tak gentar sedikitpun. Dia terlihat serius, tangannya masih
menggenggam jemari Taeyong. Sementara sang empunya hanya diam tertunduk. Tanpa ia sadari, sikapnya justru semakin mendukung pernyataan dari Johnny.

"Hyung..." Jaehyun bergumam ragu. Namun cukup berhasil untuk membuat Taeyong, kembali menunjukkan wajahnya.

Taeyong tak tahu harus bilang apa. Dia belum sepenuhnya siap, tapi ia rasa semuanya sudah cukup jelas. Dan tak ada lagi hal yang bisa ia tutupi. Ekspresi dan gerak-geriknya sudah sangat menunjukkan kenyataannya. Sekilas terpikir di benaknya. Mungkin ini yang membuat Johnny menghindar saat tempo lalu bertemu mantan kekasihnyanya. Tiba-tiba mengkonfirmasi hubungan mereka di hadapan orang lain ternyata memang tak semudah itu.

Taeyong ingin lari serta membawa Johnny saat mendapati beragam ekspresi dari sahabatnya. Namun akhirnya dia hanya bisa menghela napas berat. "Aku sudah tak bisa mengelak bukan?"

Suasana menjadi semakin canggung karena tidak ada yang berkomentar
setelahnya. Terlalu shock rupanya. Namun Yuta menjadi yang paling shock diantara semua. Dia tidak menyangka, candaannya dulu berubah jadi kenyataan. Taeyong pikir, mungkin dalam hati teman-temannya sedang menghardik orientasinya. Dia menatap Johnny sendu. Dia ingin menangis, takut jika akan dijauhi teman-temannya nanti. Johnny juga bingung, dia jadi merasa bersalah. Tapi dia juga bisa apa, jika tadi dia mengelak, dia takut Taeyong akan marah lagi. Dia eratkan genggaman tangannya pada jemari Taeyong, berharap itu bisa sedikit menenangkan kekasihnya.

"Wah... Selamat hyung. Akhirnya kau berkencan juga"

Johnny dan Taeyong merasa tercengang melihat Ten yang tiba-tiba memecah keheningan dengan ucapan selamat. Mereka pikir, Ten hanya sekedar berbasa-basi. Namun senyum tulus yang setelahnya ia pamerkan membuat keduanya sedikit lega.

"Aku sempat terkejut, tak menyangka jika ternyata Taeyong hyung seperti itu. Tapi hal seperti ini bukan suatu yang aneh untukku. Santai saja"

Penuturan Ten, mulai menyadarkan yang lain. Memang tak ada hal yang bisa mereka lakukan atas jalan yang telah Taeyong pilih. Itu di luar hak mereka. Dan apapun yang terjadi Taeyong tetap sahabat mereka.

"Biar kutebak, pasti Taeyong yang dibawah". Itu adalah hal pertama yang keluar dari mulut Yuta. Dia memang sangat paham cara untuk menohok seseorang.

Taeyong mendelik tajam kepada Yuta. Sedangkan beberapa yang sebelumnya tak paham akan maksud Yuta, segera mengerti setelah mendengar tawa menggelegar dari Ten dan Johnny.

"Yuta, kau memang cerdas"

Taeyong panik, saat yang lain ikut termakan ucapan frontal dari Yuta. Bahkan tiga bocah paling muda di ruangan inipun tersenyum malu-malu karenanya. Dia menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. "Sudah. Hentikan..."

.

.

.

.

.

Akhirnya hari yang dinantikan tiba juga. Hari debut NCT. Hari ini adalah kali pertama mereka melakukan pre record di salah satu acara musik. Hari ini semua tampak gugup, tak terkecuali Taeyong yang juga berjanji kepada teman-temannya untuk hadir dan menyaksikan panggung debut NCT secara langsung.

Dia datang secara terpisah, di waktu yang berbeda. Taeyong datang sedikit lebih siang dengan diantar hyungnya.

Disana, Taeyong ikut memonitori jalan dan juga hasil dari pre record hari ini. Semua berjalan baik, juga tak disangka deretan fans yang hadirpun melebihi ekspektasi semua orang.

Saat mereka kembali ke ruang tunggu, semua member beserta Taeyong saling berpelukan tak kuasa menahan tangis haru. Akhirnya mereka berhasil melakukan debutnya, setelah banyak melalui hal-hal sulit tak terduga selama perjalanan menuju ke titik ini.

Taeyong bahagia meski tak bisa ikut berdiri diatas panggung. Dia bangga pada teman-temannya yang telah bekerja keras meneruskan mimpi mereka, untuk membuat debut yang spektakuler.

Semua saling bercengkrama mengucap sukur serta terimakasih kepada satu sama lain juga staff yang sudah membantu mereka.

Sebagai perayaan mereka memutuskan untuk makan bersama di salah satu restoran. Taeyong juga turut di acara itu. Berbeda dengan sebelumnya yang dipenuhi dengan isak tangis haru, sekarang acara berjalan lebih santai juga hangat. Semua tampak bahagia dengan senyum mengembang di masing-masing wajah mereka.

Taeyong beserta teman-temannya duduk di meja yang sama. Obrolan-obrolan ringan menemani kegiatan makan siang mereka. Kebanyakan, berbicara tentang pengalaman serta perasaan mereka saat melakukan pre record hari ini.

"Oh ya, Taeyong bukankah ujian akan dilaksanakan sekitar dua minggu lagi.
Bagaimana persiapanmu?"

Mendengar itu, Taeyong langsung merengut tak suka. "Ck! Yuta kau benar-benar merusak moodku"

Yuta tertawa "Kenapaa? kau masih lambat dalam pelajaran?"

"Hyung, tak perlu tanyakan hal yang sudah jelas"

"Berisik kim doyoung" ucap Taeyong sinis.

Terlihat selanjutnya doyoung menunjukkan ekspresi menyebalkannya. Taeyong
yang hampir melayangkan pukulan, teralihkan perhatiannya oleh pertanyaan si sulung, Taeil. "Memang kau tidak ikut les atau semacamnya?"

"Aku punya tutor pribadi yang datang ke rumah. Tenang saja hyung" Senyum cerah terpampang di wajahnya saat mengatakan itu.

Terlihat Ten memicingkan matanya "Pasti yang hyung maksud, Johnny"
Taeyong membenarkan pernyataan Ten dengan menunjukkan cengirannya.

"Johnny pasti mengajarimu banyak hal bukan?" Sambung Yuta sambil menaikkan satu sisi halisnya.

Taeyong paham, kearah mana pertanyaan itu. Dia mencoba untuk tetap tenang, tetapi dia justru membentak Yuta dengan sedikit tergagap. "A-apa!"

Yuta tersenyum penuh arti setelahnya. Terlihat Ten disampingnya ikut bergabung. Dengan wajah yang tak kalah menyebalkan, dia berbisik kepada Yuta dengan suara yang jelas masih terdengar oleh semua. "Dia malu hihi..."

Taeyong malu juga merasa muak karena digoda terus. Dia merengut dengan wajah memerah. "Jangan berpikiran aneh. Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu. Kami hanya berpegangan tangan, berpelukan dan berciuman saja saat sedang berdua" jelasnya dengan terburu-buru.

Terkecuali Yuta dan Ten, semua nampak terkejut mendengar penuturan dari Taeyong. Walaupun mereka sudah bisa membayangkan apa yang mungkin dilakukan sepasang kekasih pada umumnya, mendengar hal itu diucap sendiri oleh Taeyong membuat mereka terkejut bukan main. Terlihat doyoung sampai terperangah, tidak bisa berkata-kata. Sedangkan Jaehyun diam-diam mulai membayangkan adegan saat Taeyong dan Johnny sedang berciuman.

Sementara dua orang yang membuat onar semakin menertawakan Taeyong. Sial! Seharusnya Taeyong paham watak dua sahabatnya itu. Mereka pasti sengaja memancingnya untuk mengatakan hal-hal semacam ini.

.

.

.

.

.

Taeyong baru saja berpamitan kepada teman-teman dan juga para staff. Dia
memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Karena memang teman-temannya masih punya jadwal lain setelah ini.

Tadi salah satu manager disana sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang. Karena tidak ingin merepotkan akhirnya dia menghubungi Johnny, memintanya untuk menjemput. Beruntung jadwalnya memang sudah kosong.

Taeyong berjalan sendiri ke area parkir. Mencari sosok Johnny, yang katanya sudah tiba sejak beberapa menit lalu.

Saat tiba disana, dengan mudah dia menemukan Johnny tengah bersandar pada mobilnya. Sosoknya yang tinggi menjulang memang sangat mencolok. Ditambah lagi kondisi area parkir yang sepi.

Dari jarak yang cukup jauh, Taeyong tersenyum meperhatikan eksistensi juga penampilan kekasihnya dari ujung kaki hingga kepala. Dia tampan, selalu begitu. Semakin keren dengan setelan yang pas dengan gayanya sendiri. Entah bagaimana hingga sosok sempurna sepertinya, bersedia menjalin kasih dengan dirinya yang seperti ini.

Johnny akhirnya sadar akan kehadiran Taeyong yang berdiri cukup jauh darinya. Dia cukup heran melihat kekasihnya hanya berdiri disana dan tersenyum manis ke arahnya. Tapi dia mendapati dirinya turut melakukan hal yang sama setelahnya. Mungkin Johnny harus mengakui, jika senyuman bisa menular.

Taeyong mulai berjalan mendekat. Entah kenapa, setiap langkahnya membuat perasaanya jadi campur aduk. Tak tahu bagaimana, tiba-tiba air mata mulai menggenang di pelupuk. Dia mempercepat langkahnya, ingin segara menghambur ke dalam pelukan kekasihnya.

Johnny khawatir saat Taeyong tiba-tiba menubruknya dengan sedikit terisak. Ia sembunyikan wajahnya di pundak Johnny.

Taeyong tak yakin mengapa ia mulai menangis. Tetapi, secara mendadak dia mulai membayangkan akan bagaimana jika dia bisa memulai debut bersama teman-temannya. Juga bagaimana rasanya berdiri diatas panggung itu. Apa dia menyesal? Tapi kenapa baru sekarang? Dia pikir dia sudah bisa menerima sepenuhnya. Hingga saat ia melihat Johnny, semua perasaan terpendam, yang bahkan sebelumnya tak ia sadari keberadaannya seolah tertarik ke permukaan.

Mungkin rasa itu memang masih ada, terkubur dengan sendirinya di dasar hati Taeyong. Menunggu waktu dan tempat terbaik untuk ditumpahkan. Dan mungkin sosok inilah yang telah hatinya pilih sebagai wadah pelampiasan dari segala kegundahannya.

Taeyong bersyukur, Johnny cukup pengertian untuk tidak menanyakan banyak hal. Dia suka, bagaimana Johnny lebih memilih untuk memeluknya dalam diam, dan memberi ruang baginya untuk mengontrol emosinya lebih dulu. Keduanya tampak nyaman berbagi hangat dari pelukan masing-masing. Bahkan mereka tak begitu mengindahkan pandangan aneh dari beberapa orang yang berlalu lalang. "Biarkan seperti ini dulu, kumohon..." lirih Taeyong.

Setelahnya tanpa mengatakan apapun Johnny mengikuti permintaan Taeyong dan mengeratkan pelukannnya.

.

.

.

To Be Continue