Disaat orang lain telah tenggelam dalam bunga-bunga tidur mereka, Karma sama sekali tidak merasakan kantuk. Makan malam sudah lewat tiga jam lalu, dan selama itu ia hanya duduk bersandar di bibir kasur tanpa di alasi apapun. Dinginnya angin malam dan keramik kamarnya tak digubris. Mungkin karena tubuhnya— tidak, hatinya tengah merasa panas.
Bukan, Karma sama sekali tidak cemburu. Setelah mengetahui fakta bahwa Asano dan Isogai yang sama-sama menyukai mantan kekasihnya, ada beberapa hal yang ia rasakan.
Pertama, Karma menyesal. Mengingat dirinya yang memutuskan hubungan spesial itu terlebih dahulu, kemudian perasaannya kembali tumbuh sejak gadis itu kecelakaan, bahwa tindakannya waktu itu salah.
Kedua, ia pasrah. Sejak amnesia, Karma tak tahu apa Rio masih mencintainya atau tidak. Namun selama itu, Isogailah yang selalu berada di dekatnya. Kemungkinan gadis itu mencintainya mungkin sudah hilang.
Ketiga, ia kesal. Berhubung rasa cintanya pada Rio kembali bersemi, Karma tak terima jika salah satu dari mereka memilikinya. Ia tak ingin kalah, ia juga ingin memiliki (kembali) Rio.
Ketiga perasaan tersebut sukses membuat Karma membeku seperti ini. Tiga jam bukan waktu yang sebentar untuk kegiatan yang sama sekali tidak mengekskresikan keringat, namun cukup untuk membuat perasaannya berperang. Tiga jam saling bergesekan, mencari tahu siapa yang akan terkikis terlebih dahulu.
Dan itu yang akan ia lakukan nanti.
Karma memegang erat foto dirinya bersama Rio yang tengah tersenyum kepada kamera. Foto itu mereka ambil ketika masih berpacaran dulu, masing-masing memiliki satu, dan ia masih menyimpannya sampai sekarang. Perasaan dalam hatinya masih saja berperang.
Menyesal, pasrah, kesal, siapakah yang akan menang?
.
.
.
Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Memory © shichigatsudesu
Chapter 11 : Memory!
.
.
.
Masih ada satu keping lagi yang harus dicari.
.
.
.
"Rio-chan, Rio-chan,"
Merasa tubuhnya tengah digerakan, Rio membuka matanya. Ia menatap sang bunda bingung, maklum baru bangun tidur.
"Kita sudah sampai, Rio-chan."
Seketika matanya melebar. "Benarkah?"
Rio menolehkan kepalanya ke samping kiri. Benar, itu rumahnya. Cepat-cepat ia turun dari mobil. Tak lupa ia membuka sabuk pengaman terlebih dahulu, kemudian mengambil langkah seribu untuk masuk ke dalam. Seperti anak kecil saja.
"Rio-chan, jangan lari, nanti jatuh."
Namun gadis pirang itu mengabaikannya. Ia tetap saja berlari, bahkan sampai kamarnya di lantai dua.
SREEEETTT
"Whoooaaa..." teriak Rio histeris saat punggungnya menyapa lantai karena terpeleset. "Aduuhh, kenapa kesetnya licin sekali." Rintihnya.
Tak perlu berlama-lama mengeluh, Rio akhirnya bangkit dari posisi jatuhnya. Ia menuju nakas samping tempat tidur, mengambil sebuah kardus yang berisi barang-barang berharganya.
"Diary... diary... dimana diary— ahh, ketemu!"
Rio segera membuka lembar demi lembar buku hariannya. Ia membaca scan aksara-aksara di bukunya, fokus mencari satu buah nama. Setelah sampai di halaman akhir, ia menutup bukunya kasar. Napas pun ia hembuskan perlahan.
"Hmmm, kenapa tidak ada nama Isogai-kun disini?" keluhnya. "Mengapa aku banyak menulis nama Karma-kun?"
Rio kembali membongkar kardus itu, mencari barang yang kira-kira ada kaitannya dengan Isogai Yuuma. Namun sayang, ia tidak menemukannya.
"Mungkin aku menulisnya di buku yang lain. Diary yang ini kan sudah habis."
Rio bergegas menuju meja belajarnya, mencari buku hariannya yang lain. Tak lebih dari semenit, gadis pirang itu berhasil menemukan buku tersebut. Ia pun membaca buku yang baru terisi sepertiganya, dan lagi-lagi ia tak menemukan nama Isogai di sana.
Sampai di halaman terakhir,
"Ini dia, ketemu!" Rio senang bukan main. Akhirnya setelah meluangkan waktu bermenit-menit, ia bisa menemukan nama si ikemen. Tanpa basa-basi, ia segera membaca isinya.
Hari ini aku merasa senang sekali. Festival musim panas tahun ini begitu meriah. Bukan hanya acaranya, tetapi semua teman-temanku berkumpul di sini. Karma-kun, Nagisa-kun, Kaede-chan, Sugino-kun, mereka semua terlihat begitu senang.
Seandainya Asano-kun ada di sini...
Oh ya, aku juga melihat Isogai-kun di festival. Dia membuka stan yakisoba di sana. Kurasa dia sengaja membantu anggota karang taruna selaku panitia penyelenggara, lumayan kan dapat uang. Ia juga memberi kami yakisoba, gratis, dan rasanya enak sekali. Isogai-kun pintar masak, hebat sekali. Kami merasa senang.
Ngomong-ngomong, Isogai-kun tampan sekali jika menggunakan yukata.
Rio mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia tak menyangka kalau dirinya pernah menulis buku harian seperti itu. Selain itu, ia menulis ini saat musim panas, dan sekarang sudah hendak di penghujung musim gugur.
Rio sweatdrop. Kalau begini, ia tidak bisa mengetahui tentang Isogai dong?
Tapi, setelah membaca cerita singkat dari buku hariannya, ia menyimpulkan satu hal; Isogai Yuuma adalah orang baik.
"Sugino-kun bilang, Isogai-kun itu menolongku saat kecelakaan. Aku percaya kalau dia yang menolongku, tapi benarkah begitu?"
Rio merenung sejenak, bersamaan dengan buku harian yang ia kembalikan ke tempat semula. Namun, sebuah benda berwarna merah jambu menarik perhatiannya.
Tangannya mengambil benda persegi itu. "Dompet? Punya siapa ini?" bingungnya.
Si gadis pirang membuka dompet itu. Ia terkejut ketika mendapati wadah menyimpan foto dalam dompet itu sobek. Tidak tanggung-tanggung, sobekannya besar sekali.
"Sayangnya sekali, padahal dompet ini masih ba—"
DEG!
Tiba-tiba Rio mengingat sesuatu. Ia diam, mencoba mengendalikan emosinya agar tidak panik. Kemudian pandangannya kembali pada dompet di tangannya. Sayangnya ingatan itu masih samar, sehingga Rio masih belum tahu ingatan apa yang menyerangnya tiba-tiba itu. Sedetik kemudian, ia menyadari sesuatu.
"Ini dompetku." Ucapnya kemudian. "Apa ini, ada hubungannya dengan Isogai-kun?"
.
.
.
Hari sudah mulai petang, namun Karma dan Rio belum pulang menuju rumah. Padahal bel pulang sekolah sudah berbunyi dua jam yang lalu, seharusnya siswa SMA Kunugigaoka sudah berada di rumah masing-masing.
"Karma-kun, terima kasih sudah menemaniku ke rumah sakit." Ucap Rio, kemudian tersenyum pada si surai merah.
Karma menoleh ke arah gadis di sebelahnya. "Sama-sama."
Setelahnya mereka berdua bungkam. Selama perjalanan menuju perjalanan menuju stasiun, tidak ada satu pun topik yang menemani mereka. Rio sibuk memperhatikan bangunan-bangunan di sisi kiri-kanannya, sedangkan Karma hanya diam menatap trotoar. Pemuda itu sedang sibuk mengurusi pikirannya yang sedari tadi melayang ke kejadian siang tadi.
—Saat jam makan siang—
"Isogai-kun,"
Isogai menolehkan kepala, menatap Karma yang barusan menyerukan namanya.
"Ada apa, senpai— whooaa..." Isogai menatap tangannya terkejut. "Tunggu, senpai! Kau mau bawa aku kemana?"
Karma menarik tangan Isogai, namun tak lama. Setelah kedua pemuda itu menjauhi kelas 2-B, Karma melepas cengkeramannya.
"Kau mau apa, senpai?"
"Isogai-kun," Karma memanggilnya lagi, mengabaikan pertanyaan kouhainya yang terlihat sedikit panik. "Aku ingin kau menjawab pertanyaanku."
"...ya?"
"Satu. Apa kau baik-baik saja?" tanya Karma. "Ingatan Rio sudah kembali, namun dia melupakanmu. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu, apa kau baik-baik saja?"
Isogai meneguk ludahnya, ia bingung. "Aku... baik."
"Dua. Bagaimana perasaanmu pada Rio?" Isogai terlihat sedikit terkejut. "Apa kau benar-benar sudah menyerah, karena dia melupakanmu?"
Kini si ikemen benar-benar terkejut. "B-Bagaimana kau tahu, senpai?"
"Sebenarnya, aku melihatmu saat bertengkar dengan Asano-kun di rumah sakit kemarin." Jelasnya. "Aku mendengar semuanya."
"Bertengkar, ya?" ulang si ikemen. "Apa kau yakin itu bertengkar?"
"Karena itu, aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kau sakit hati, seperti malam itu, waktu kau mengantarkan Rio ke rumah sakit, waktu kau mengatakan perasaanmu padanya." Isogai hanya diam mendengar Karma bertutur kata. "Karena itu juga, aku dapat mengetahui perasaan Asano-kun."
Karma menunduk lesu. Isogai yang melihatnya juga ikutan lesu. "Karma-senpai..."
"Asano-kun menyukai Rio sejak dulu, mungkin jauh sebelum aku. Dia menembak Rio, namun ditolak. Setelahnya dia menjauh, namun sampai sekarang anak itu masih mencintai Rio." Jelas Karma. "Benar begitu, Isogai—"
"Aku... sebenarnya ingin menyerah, senpai." Potong Isogai. "Sampai kapanpun, Nakamura-senpai akan tetap mencintaimu. Aku tahu itu."
"Sungguh?"
"Kalaupun sudah tidak mencintaimu, Nakamura-senpai pasti akan memilih Asano-senpai untuk menjadi penggantimu. Aku patah hati, jujur, jadi begitulah pikirku." Lanjutnya. "Namun Asano-senpai menyuruhku untuk tidak menyerah. Berkatnya aku merasa lega."
"Jadi, karena—"
"Karena itu, aku akan tetap mencintai Nakamura-senpai, seperti Asano-senpai mencintainya." Lagi-lagi Isogai memangkas kalimat Karma. "Tapi maaf, senpai, sepertinya aku akan menjauhinya."
"HAH? Kenapa?!" kaget Karma. "Kau tidak ingin Rio mengingatmu, begitu?"
"Bukan begitu." Sanggahnya. "Aku hanya tidak ingin memaksa Nakamura-senpai mengingatku. Aku tidak ingin kejadian merepotkan itu terjadi lagi, kasihan Nakamura-senpai."
"T-Tapi—"
"Lagipula, ada kau di sisinya. Nakamura-senpai pasti akan mengandalkanmu. Pastinya dia akan sangat senang."
Isogai tersenyum pada Karma, sedangkan si merah terperangah mendengarnya. Masalah kejadian merepotkan itu, ada benarnya juga. Misal ia memaksa Rio untuk mengingat Isogai, mungkin kepalanya akan sakit lagi dan kemudian masuk rumah sakit. Keduanya tidak sempat bertanya pada dokter yang menanganinya waktu itu, jadi wajar saja kalau tidak tahu.
Tapi, bagian terakhir itu...
Ada suatu kesenangan yang melanda hatinya. Dengan begini Karma dapat mendekati Rio lagi. Namun ia juga memikirkan Isogai. Apa tidak apa-apa jika dirinya menjauh begitu saja padahal sebelumnya mereka dekat sekali?
"Karma-senpai," Karma menoleh pada Isogai. "Mulai sekarang, kita bertukar peran, oke?"
.
Fiuuhh... Karma menghembuskan napas pelan. Kedengarannya berat sekali, bahkan Rio yang menyadarinya tiba-tiba merasa khawatir.
"Karma-kun, kau kenapa?" tanyanya.
Karma yang sudah sepenuhnya kembali ke dunia nyata segera menjawab, "Tidak apa-apa."
"Bo~hong~" kemudian si pirang menyentil hidung si merah. "Wajahmu aneh begitu, berarti kau sedang bohong."
"Begitukah?" Karma mengusap pelan indera penciumannya yang sedikit memerah. "Lebih baik sekarang kita makan."
"Aku setuju." Jawab Rio. Beberapa langkah kemudian mereka pun menemukan tempat yang kini tengah mereka cari. "Bagaimana kalau disini?"
Karma mengangguk setuju. "Baiklah."
Lonceng pun berbunyi, tanda terdapat pengunjung yang datang atau pergi. Namun tanda kali ini mengisyaratkan ada pengunjung yang datang ke kafe ini.
"Selamat datang, Tuan, Nona. Ada yang bisa saya—"
Karma dan Rio membelalak mata mereka, begitu juga dengan pelayan yang barusan memberikan sambutan. Benar-benar pertemuan yang tak terduga.
"ISOGAI-KUN?!"
.
.
.
"Dua rice omelete medium dan dua ice lemon tea. Silahkan dinikmati."
Isogai menaruh menu makanan yang dipesan Karma dan Rio di atas meja. Ia sangat terbiasa sekali, pikir Karma. Isogai bersikap sama kepada semua pengunjung kafe, tak memandang ia temannya atau bukan. Benar-benar profesional. Karma merasa takjub.
"Terima kasih, Isogai-kun." Ucap Karma.
"Sama-sama— errr, bukan itu maksudku."
Karma dan Rio sama-sama memandang bingung Isogai. Ada apa dengan anak ini, tiba-tiba berbisik seperti itu? Dan keduanya semakin bingung ketika bocah kelas dua itu membungkukan badannya.
"Apa tidak apa-apa, senpai, hanya memesan ini?" bisik Isogai.
"Nee, kau ingin kami membeli makanan mahal disini?" tanya Karma sebal.
"Bukan begitu." Isogai menggerak-gerakan tangannya, menandakan bahwa pertanyaan Karma tidak benar. "Aku hanya kaget kalian membeli ini. Biasanya pengunjung disini membeli cake."
"Justru kami yang merasa terkejut karena ternyata disini jual makanan berat seperti ini." Balas Rio seraya tersenyum. "Kami berdua lapar, jadi kami pesan makanan yang mengandung karbohidrat, hehe."
Mendengarnya, Isogai tersenyum ramah. "Ngomong-ngomong, kalian dari mana?"
"Kami baru dari rumah sakit, Rio ada check up." Jawab si surai merah.
Isogai mengangguk paham. "Oh ya, kafe ini dekat dengan rumah sakit, ya?"
"Oh ya, aku baru ingat." Rio tiba-tiba merogoh tasnya, mengambil sebuah benda yang sepertinya ingin ia tunjukan. "Aku menemukan ini di rumah. Saat aku melihatnya, tiba-tiba aku mengingat sesuatu, tapi masih samar-samar. Kira-kira kau tahu tidak ini apa?"
Isogai terkejut melihat dompet merah muda yang dikeluarkan Rio. Apalagi saat bagian sobek yang menarik pandangannya, Isogai merasa kembali terbang ke kejadian beberapa bulan silam saat ia menolong si gadis pirang. Karma juga ikut terkejut, meskipun tidak separah Isogai.
"Itu... dompetmu?"
"Aku juga tahu ini dompetku!" Rio sweatdrop. "Maksudnya, apa dompet ini ada hubungannya denganmu? Karena sampai sekarang, aku masih belum dapat mengingatmu, Isogai-kun."
Isogai terasa bagaikan disambar petir sampai ia mematung seperti itu. Rio mengatakan hal itu dengan polosnya, masih dengan dompetnya yang disodorkan ke arah si ikemen. Ia meneguk ludah. Kira-kira ia harus jawab apa?
"A-Ano—"
"Yuuma-kun, meja nomor 13, onegai."
"Baik, nee-san." Seru Isogai. Tak lama ia kembali menatap dua pelanggan di hadapannya. "Aku harus kembali bekerja. Selamat menikmati pesanan anda."
"T-Tunggu, Isogai-kun."
"Maaf, senpai, aku sedang sibuk. Kalau aku ada waktu, aku pasti akan memberitahumu." Pamit Isogai pada Rio yang berusaha mencegatnya.
Sedangkan gadis itu menunduk lemas. Wajahnya berubah menjadi sedih. Mungkin ia penasaran, namun Isogai tidak memberikan jawabannya.
"Sudahlah, Rio, kita makan dulu saja." Karma berusaha menenangkan Rio. "Kalau Isogai-kun sedang luang, baru kita tanya dia."
"Baiklah." Rio hanya mengangguk lemah, sembari memasukan sesendok rice omelete ke mulutnya.
.
"Maaf, senpai, sepertinya kita tidak bisa mengobrol banyak." Isogai sedikit menundukan badannya. Ada secuil perasaan tidak enak yang terpatri di wajahnya.
"Tidak apa-apa, Isogai-kun. Sekarang memang bukan waktunya untuk membicarakan itu." Ucap Rio berusaha menenangkan si surai hitam. "Aku tahu kau sibuk. Maaf ya, aku bertanya yang tidak-tidak."
Isogai memasang cengirannya. Entahlah, ia tak tahu harus membalas apa.
"Kalau begitu, kami pamit, Isogai-kun." Karma melambaikan tangan pada Isogai, kemudian ia bersama Rio melangkah meninggalkan tempat makan tersebut.
"Silahkan datang kembali." Ucap Isogai. "Semoga harimu menyenangkan."
Karma dan Rio pergi dari kafe. Kini Isogai hanya menatap pintu masuk yang sudah tertutup, masih dengan lonceng yang bergoyang. Pelanggannya sudah pergi, namun Isogai rasa mereka telah meninggalkan sesuatu disini.
"Nakamura-senpai... belum bisa mengingatku, ya?"
Isogai tersenyum miris. Ia memegangi dada sebelah kiri, mencengkeram kain hitam yang membalut tubuhnya seolah tengah merasakan sakit.
Tidak, ia memang sakit. Berbincang dengan seseorang yang tidak mengingat kita itu rasanya menyakitkan sekali, ya?
.
.
.
"Akan kuantar sampai stasiun, Rio."
"Bukankah kau juga naik kereta?" heran Rio. "Ada apa, Karma-kun?"
"Aku lupa kalau aku harus pergi ke suatu tempat."
"Kau mau aku temani, Karma-kun?"
Karma segera menggelengkan kepala. "Jangan, jangan, kau pulang saja." Cegatnya.
"Kau yakin?"
Karma hanya mengangguk. "Kalau begitu, aku pergi ya?"
"Kau yakin tidak ingin ditemani?" Rio kembali memastikan. Sepertinya gadis itu tengah mengkhawatirkan pemuda itu.
"Ini sudah hampir malam, Rio. Sebaiknya perempuan tidak pulang larut malam." Kemudian Karma mengembangkan seulas senyum. "Kau hati-hati, ya?"
Rio balas tersenyum. "Seharusnya aku yang mengatakan itu, Karma-kun." Ucapnya. "Sampai jumpa besok."
Karma melambaikan tangannya pada Rio karena gadis itu melakukan hal yang sama. Setelah memastikan bahwa si pirang telah menghilang dari pandangan, pemuda Akabane itu segera bergegas menuju tempat tujuan semula. Ia melangkah dengan kecepatan penuh, berusaha mencapai tujuan dalam waktu ringkas. Pemuda itu tidak ingin rasa penasaran menguasai dirinya. Karma ingin segera mengetahui sebuah jawaban; mengapa Nakamura Rio bisa melupakan Isogai Yuuma.
Karma harus segera bertemu dengan sang dokter, sekarang juga!
.
.
.
Tak butuh waktu lama, kini Rio telah tiba di stasiun akhir. Setelah mencapai jalan raya, ia segera pergi menuju halte bus. Berhubung sudah malam jadi lebih baik ia pulang menggunakan kendaraan umum.
Sambil menunggu bus, Rio iseng mengedarkan pandang. Atensinya tertarik pada sebuah kedai ramen dekat stasiun. Tempatnya tidak seberapa luas, namun sepertinya terdapat banyak pengunjung. Rio pun penasaran.
"Sepertinya ramen disana enak. Aku juga ingin—"
DEG!
Rio menggantungkan kalimatnya. Ia diam, namun pikirannya kacau berantakan. Lagi-lagi ingatan samar-samar itu datang. Rio merasa pusing, karena ia tak tahu ingatan apa itu.
"Jangan-jangan, ada sesuatu dengan tempat itu." Gumamnya. Kemudian kepalanya menampakan sosok Isogai Yuuma yang tengah tersenyum padanya. Rio yang peka segera tersadar. Ada satu petunjuk lagi yang berhubungan dengan ingatannya yang masih tidak tahu dimana keberadaannya.
"Isogai-kun..."
.
.
.
TBC
.
.
.
Last Chapter : Karma!
