Remake dari Novel milik E.L James.

Fifty Shades of Choi.

BL, Romance, OOC.

Choi Siwon x Cho Kyuhyun.

Disclaimer : Cerita asli milik EL James, saya hanya meremake dan memotong seperlunya.

- Fifty Shades of Choi -

Aku harus mempunyai banyak keberanian selama aku menjadi tahanan Siwon. Keberanian untuk terus bertindak di luar dari kebiasaan, keberanian untuk melakukan hal-hal aneh cenderung gila yang telah dia tulis di dalam kontrak. Kontrak? Aku rasa aku tidak sanggup membaca semuanya, itu terlalu banyak yang artinya banyak aturan juga. Aku mulai membaca dari lembar kedua, lembar pertama adalah cover.

Berikut ini adalah ketentuan perjanjian yang mengikat antara Pihak 1 dan Pihak 2 :

1. Tujuan pokok dari perjanjian ini adalah memperbolehkan Pihak 2 untuk mengeksplorasi sensualitasnya dan batas keselamatannya.

2. Pihak 1 dan Pihak 2 setuju dan mengakui bahwa semua yang terjadi menurut syarat-syarat perjanjian ini akan menjadi dasar suka sama suka dan bersifat rahasia.

3. Pihak 1 dan Pihak 2 menjamin bahwa mereka masing-masing tidak mengidap penyakit seksual serius. Jika kedua pihak di diagnosa adanya penyakit, secepatnya dia harus memberitahu yang lainnya.

4. Kepatuhan untuk melaksanakan perjanjian, setiap pelanggaran akan berdampak langsung pada perjanjian.

5. Semua yang tercantum dalam perjanjian ini harus dibaca dan mengerti sejelas-jelasnya karena ini merupakan tujuan dan persyaratan pokok.

6. Pihak 1 harus bertanggung jawab untuk kesejahteraan dan pelatihan yang tepat, bimbingan, dan disiplin dari Pihak 2.

7. Jika suatu saat Pihak 1 gagal untuk menjaga persyaratan yang telah disepakati, pihak 2 berhak untuk mengakhiri perjanjian.

8. Berdasarkan ketetapan pasal 2-5 di atas Pihak 2 harus melayani dan mematuhi Pihak 1 dalam segala hal. Pihak 2 harus tanpa pertanyaan atau ragu-ragu menawarkan kesenangan pada Pihak 1.

9. Pihak 1 dan Pihak 2 mulai melakukan perjanjian pada saat tanggal perjanjian ini ditandatangani dan berjanji untuk mematuhi persyaratan tanpa kecuali.

10. Perjanjian ini berlaku selama tiga bulan dari tanggal yang disepakati. Salah satu pihak dapat mengajukan perpanjangan, jika tidak ada kesepakatan untuk perpanjangan maka perjanjian seperti ini akan berakhir dan kedua belah pihak bebas untuk melanjutkan hidup mereka secara terpisah.

Tindakan yang harus di terima pihak 2 :

- Tangan di depan

- Tangan di belakang punggung

- Terikat pada mebel

- Mata ditutup

- Mulut disumpal

- Diikat dengan tali

- Diikat dengan lakban

- Diikat dengan belenggu kulit

- Mengikat dengan borgol

Jenis Hukuman yang bisa diterima oleh Pihak 2 :

- Dipukul pantatnya

- Dipukul dengan tongkat

- Dicambuk

- Digigit

- Dijepit

- Wax panas

- Metode lainnya yang menimbulkan rasa sakit

Kami yang bertanda tangan telah membaca dan memahami sepenuhnya ketentuan-ketentuan perjanjian ini. Kita bebas menerima persyaratan perjanjian ini dan telah mengakui ini dengan tanda tangan kami di bawah ini.

Pihat 1 : Siwon Choi (Tanda Tangan)

Pihak 2 : Kyuhyun Cho (Tanda Tangan).

Kepalaku berdengung. Bagaimana aku bisa setuju dengan semua ini? Dan ternyata itu untuk keuntunganku, untuk mengeksplorasi sensualitasku, batas-batasku dengan aman. Oh, ya ampun! Aku mengejek sangat marah, melayani dan mematuhi segalanya. Semuanya! Aku menggeleng tak percaya.

Hanya tiga bulan? Itulah mengapa ada banyak sekali korban? Dia tidak mempertahankan hubungannya sampai lama atau mereka merasa cukup setelah tiga bulan? Setiap akhir pekan? Itu terlalu berlebihan. Aku tidak akan pernah melihat Henry atau teman yang lain yang mungkin aku dapat dipekerjaan baruku.

Aku bergidik membayangkan sedang dipecut atau dicambuk. Memukul pantat mungkin tak terlalu buruk, lalu mengikat? Dia pernah mengikat kedua tanganku saat itu. Tapi aku tidak boleh menatap matanya? Satu-satunya kesempatan yang aku punya untuk dilihat adalah apa yang dia pikirkan. Sebenarnya aku tak pernah tahu apa yang dia pikirkan, tapi aku suka melihat ke dalam matanya.

Satu-satunya pria yang membuatku tertarik, tapi dia datang dengan perjanjian. Pria yang suka mencambuk dan dia orang yang hidup dengan banyak masalah. Yah, setidaknya aku merasa senang akhir pekan ini. Wajahku memerah mengingat tangan, mulut dan tubuhnya dalam diriku. Aku menutup mata, aku mengenali rasa kenikmatan menarik ototku dari dalam, jauh di bawah tubuhku.

Aku mematikan lampu dan berbaring menatap langit-langit. Aku berharap aku tak pernah bertemu dengannya. Aku tidak pernah merasa begitu hidup seperti yang aku rasakan sekarang. Aku menutup mata, aku hanyut dalam tidur sesekali bermimpi ranjang bertiang empat dan mata hitam yang tajam.

-Fifty Shades of Choi-

Keesokan Harinya.

"Kyuhyun, aku sudah membangunkanmu dari tadi. Kau pasti tidur nyenyak sekali."

Mataku enggan terbuka, aku melirik alarmku. Jam delapan pagi? Aku tidur selama tepat sembilan jam.

"Henry, ada apa?" Gumamku mengantuk.

"Ada orang yang mengirim paket untukmu. Kau harus menandatangani itu."

"Apa?"

"Ayolah, kotaknya besar. Sepertinya sangat menarik." Dia menunggu dengan tak sabar dan penuh semangat, dia keluar kembali ke ruang tamu. Aku turun dari tempat tidur lalu keluar. Seorang pemuda tampak menggenggam sebuah kotak besar.

''Mr Cho?''

''Iya.'' Jawabku hati-hati.

"Aku punya paket untuk anda. Tapi aku harus setting dulu baru bisa menunjukkan cara menggunakannya."

Aku sedikit terperangah, seketika itu aku tahu siapa pengirim paket ini.

''Baiklah, benda apa itu?'' Aku menunjuk kotak yang pria itu bawa.

''Macbook Pro, keluaran terbaru dari Apple.''

Kenapa itu tak membuatku terkejut? Aku menghela napas berat. Sudah seharusnya aku memprediksi ini, semua yang dibutuhkan pasti akan dia berikan. Laptop untuk mencari referensi, sudah jelas pasti untuk itu.

''Aku akan setting di meja makan.''

Henry mendekatiku, ''Kyuhyun, apa itu?'' Tanya Henry penasaran. Aku hanya menghelas nafas, ''Laptop dari Siwon.'' Jawabku.

''Laptop? Bukankah kau bisa menggunakan punyaku.'' Kening Henry mengerut. Aku memutar mata, tentu karena Siwon tahu itu makanya dia mengirim barang pribadi untukku.

''Dia hanya meminjamkannya, dia ingin aku mencobanya.'' Aku berbohong, kebohongan yang terdengar tidak masuk akal.

"Ini OS terbaru dan programnya lengkap, hardisknya 1,5 terabyte sehingga anda bisa menyimpan banyak data dengan RAMnya 32 GB. Anda berencana menggunakannya untuk apa?" Pengantar barang itu bertanya.

Aku sedikit menggigit bibirku, ''Email.'' Jawabku.

''Email?'' Dia tersedak, menaikan alisnya dengan pandangan sedikit aneh di wajahnya.

''Dan juga browsing di internet.'' Lanjutku, sedikit menaikan bahu.

''Laptop ini sudah ada wireless-nya, aku sudah setting dengan akun anda. Laptop ini siap dipakai di mana saja.''

''Akunku?''

''Alamat email baru anda.'' Dia menunjuk sebuah ikon di layar dan terus berbicara padaku tapi terdengar seperti suara berisik.

Aku sama sekali tidak tahu apa yang dia katakan, dan jujur aku tidak tertarik. Katakan saja bagaimana cara menyalakan dan mematikannya, aku akan mencari tahu sisanya. Lagipula aku sudah pernah menggunakan punya Henry selama empat tahun. Henry bersiul, kagum saat dia melihatnya.

Setelah selesai setting dia memintaku menandatangani catatan pengiriman. Saat Henry mengantar dia keluar, aku duduk memegang cangkir tehku. Membuka program email dan duduk di sana menunggu email dari Siwon. Hatiku langsung melompat ke dalam mulutku, aku mendapat satu email dari Siwon! Dengan gugup, aku membukanya...

From : Siwon Choi.

Yang tersayang Mr Cho. Aku percaya kau tidur nyenyak, aku berharap kau bisa menggunakan laptop ini dengan baik seperti yang kita bicarakan. Aku menunggu hari rabu untuk makan malam. Senang menjawab setiap pertanyaan sebelumnya, boleh melalui email jika ada yang ingin kau tanyakan lagi.

Aku langsung membalas.

From : Kyuhyun Cho.

Aku tidur sangat sangat nyenyak. Aku mengerti bahwa komputer ini adalah pinjaman, jadi bukan milikku.

From : Siwon Choi.

Komputer dipinjamkan tanpa batas. Aku perhatikan dari nadamu sepertinya kau sudah membaca dokumen yang kuberikan padamu. Apa kau memiliki pertanyaan sejauh ini?

From : Kyuhyun Cho.

Aku punya banyak pertanyaan, tetapi tak pantas lewat email, dan sebagian dari kita harus bekerja untuk mencari nafkah. Aku tak ingin atau perlu komputer tanpa batas. Sampai ketemu lagi, selamat siang.

From : Siwon Choi.

Sampai jumpa, sayang! Aku akan bekerja untuk mencari nafkah juga.

Aku mematikan komputer, menyeringai seperti orang idiot. Aku bisa terlambat kerja, aku segera ke kamar mandi. Aku masih tidak mampu menggelengkan kepala, senyumku menggelikan. Aku seperti anak kecil yang gamang dan semua kecemasan mengenai perjanjian memudar.

- Fifty Shades of Choi -

''Hy, apa kita jadi minum kopi?'' Changmin bertanya saat aku menerima panggilannya.

"Tentu, aku di tempat kerjaku. Bisakah kau ke sini pada jam dua belas?"

"Sampai ketemu nanti."

Aku hanya tersenyum lalu melanjutkan pekerjaan sampai jam makan siang.

13.00 PM.

Changmin tepat waktu, dia datang dengan senyuman merekah di wajahnya. Dia berjalan dengan tidar sabar saat memasuki toko. ''Hy!'' Dia tersenyum lebar dan mempesona.

''Hy, Changmin.'' Aku memeluknya sebentar, pelukan sebagai sahabat. "Aku sudah kelaparan. Aku hanya akan memberitahu pada Mrs. Lee kalau aku akan makan siang." Dia mengangguk dan menunggu di luar Toko.

Saat kami berjalan-jalan ke kedai kopi, aku menyelipkan tanganku pada Changmin. Aku sangat berterima kasih pada sikap normalnya yang sudah kembali.

"Kau benar-benar memaafkanku?" Bisiknya.

"Min, kau tahu aku tidak pernah bisa lama marah padamu."

Changmin hanya menyeringai, kami masuk ke kedai kopi dan banyak bicara. Tidak membahas soal persoalan kemarin, kami hanya membicarakan hal-hal yang selalu kami bicarakan dulu. Aku sendiri mulai tidak sabar untuk pulang, daya tarik email dari Siwon dan mungkin aku bisa mulai proyek penelitianku.

- Fifty Shades of Choi -

Henry tidak di rumah, jadi aku menyalakan laptop dan membuka emailku. Benar saja, ada email dari Siwon di inbox. Aku hampir terpental dari kursiku karena gembira.

From : Siwon Choi.

Yang tersayang Mr Cho, aku harap kau baik-baik saja di tempat kerja.

Aku membalas.

From : Kyuhyun Cho.

Aku merasa sangat baik di tempat kerjaku, terima kasih banyak.

From : Siwon Choi.

Senang kau baik-baik saja. Saat kau mengirim email, kau tidak melakukan penelitian?

From : Kyuhyun Choi.

Mr. Choi, hentikan mengirim email padaku, aku dapat memulai tugasku. Aku ingin dapat nilai A untuk yang lainnya.

From : Siwon Choi.

Nilai A yang pertama sangat layak kau didapatkan.

From : Kyuhyun Cho.

Dapatkah kau memberi saran untuk alamat yang bisa kupakai dalam penelitian ini?

From : Siwon Choi.

Selalu mulai dengan Wikipedia. Tidak ada email berikutnya kecuali jika kau memiliki pertanyaan. Paham?

From : Kyuhyun Cho.

Ya... Sir. Kau sangat bossy!

From : Siwon Choi.

Kyuhyun, kau belum tahu. Yah, mungkin punya bayangan sekarang. Sekarang kerjakan!

Aku mematikan laptop. Menghelas nafas pelan sebelum mulai mencari sesuatu yang aku butuhkan di Google. Aku merasa sedikit mual dan di dalam diriku terus terang terkejut. Di dalam kepalaku bertanya apa aku benar-benar ingin hal ini? Astaga! Apakah ini maksud dia membangun Red Room of Pain?

Aku duduk menatap layar, sebagian dari diriku, bagian yang sangat lembab dan tak terpisahkan dariku yang aku baru kenal akhir-akhir ini. Sungguh aku seperti dinyalakan. Ya, beberapa hal memang sangat panas tapi apa itu untukku? Bisakah aku melakukan ini? Aku butuh ruang. Aku harus berpikir.

- Fifty Shades of Choi -

17.45 PM.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sangat antusias ingin berlari. Aku menemukan sepatu kets-ku yang belum pernah dipakai, celana training dan t-shirt. Aku menyalakan I-Phoneku, jaga-jaga Siwon mengirim pesan atau email mungkin. Hal yang tidak pernah aku lakukan akhirnya aku lakukan karena Mr Choi. Setidaknya aku harus lebih bugar karena akan selalu berhadapan dengannya.

Saat aku melangkah keluar, Henry yang baru membeli makanan untuk makan malam hampir menjatuhkan kantong yang dibawanya saat melihatku. Aku melambaikan tangan padanya lalu melanjutkan lariku. Aku serius butuh waktu sendirian, tidak siap dengan segala pertanyaan Henry yang mengintrogasi. Aku mulai berlari pada saat senja, matahari sudah condong ke barat dan langit berwarna biru laut.

Aku berlari melewati taman. Apa yang akan aku lakukan? Aku menginginkan dia tapi mengikuti syarat-syaratnya? Mungkin aku harus menegosiasikan apa yang aku inginkan. Membahas perjanjian yang konyol baris demi baris dan mengatakan apa yang dapat diterima dan apa yang tidak. Penelitianku telah mengatakan padaku bahwa hukuman itu tak dapat diterapkan.

Dia harus tahu itu, aku tahu bahwa itu akan menjadikan tolak ukur dari hubungan. Ini menggambarkan apa yang dapat aku harapkan dan apa dia harapkan dariku? Maksudku dengan penyerahan total diriku. Apakah aku siap untuk memberikan itu? Apakah aku punya kemampuan untuk menjalaninya?

Aku berhenti di samping sebuah pohon cemara besar dan meletakkan tanganku di lutut. Terengah-engah, menghisap udara yang sangat berharga ke paru-paruku. Ini terasa lebih baik, pertukaran udara di paru-paruku. Aku bisa merasakan tekadku yang keras. Aku bisa mengatakan padanya apa yang baik dan apa yang tidak. Aku perlu mengirim email padanya seperti yang ada dalam pikiranku, kemudian kita bisa mendiskusikan ini pada hari Rabu.

Aku menghirup napas dalam-dalam kemudian joging kembali ke apartemen. ''Aku akan mandi lalu istirahat, sampai jumpa Henry!'' Aku melambai lalu masuk ke kamar mandi, Henry hanya fokus dengan barang-barangnya.

Kembali ke kamarku, aku mulai mengirimkan pesan untuk Siwon. Untuk pertama kalinya, aku mengirimkan pesan terlebih dahulu untuk Siwon Choi, Mr Freak Control.

From : Kyuhyun Cho.

Setelah menjalani semuanya, aku mulai mengerti dan tahu tentangmu. Aku senang mengenalmu.

Aku menunggu dan menunggu. Aku melirik jam alarmku, sepuluh menit telah berlalu. Untuk mengalihkan diri dari kecemasan yang berkembang di perutku, aku mulai melakukan apa yang kukatakan pada Henry, mengemasi kamarku. Aku mulai dengan menjejalkan buku-bukuku ke dalam peti.

Jam sembilan, aku tidak mendengar apa-apa. Mungkin dia keluar. Aku cemberut kesal karena itu kupasang headset I-Phone di telingaku. Aku duduk di meja kecilku untuk membaca kembali kontrak dan aku membuat komentar. Aku tidak tahu mengapa aku melihat ke atas, mungkin aku menangkap gerakan kecil dari sudut mataku.

Aku tidak tahu, tetapi ketika aku menatap ke atas, dia berdiri di ambang pintu kamar tidurku menontonku dengan penuh perhatian. Dia mengenakan celana flanel abu-abu dan kemeja linen putih, memutar-mutar pelan kunci mobil. Aku menarik headset ditelingaku keluar dan membeku.

''Selamat malam, Kyuhyun.'' Nada suaranya dingin, ekspresinya benar-benar dijaga dan tak terbaca. Nada bicaranya membuat tenggorokanku kering. Kenapa Henry membiarkan dia disini tanpa peringatan?

"Aku merasa bahwa pesanmu perlu balasan secara pribadi." Ia menjelaskan datar.

Aku membuka mulut dan kemudian menutupnya kembali. Belum pernah ada di alam semesta ini atau tempat lainnya aku mengira dia akan meninggalkan semua yang dilakukannya dan muncul di sini.

"Boleh aku duduk?" Tanyanya, matanya sekarang menari dengan lucu, mungkin dia akan melihat sisi yang lucu? Aku mengangguk, kekuatan berbicaranya masih sulit dipahami. Siwon Choi tengah duduk di tempat tidurku.

"Aku selalu ingin tahu kamar tidurmu akan terlihat seperti apa." Katanya.

Kamarku fungsional tapi nyaman, mebel rotan putih dan ranjang dobel bed dari besi warna putih dengan selimut kain perca yang ditambal sulam yang dibuat oleh ibuku saat dia baru belajar menjahit. Semua berwarna biru tua dan krem.

"Disini sangat tenang dan damai." Bisiknya. Tidak sekarang ini, tidak jika denganmu di sini. Akhirnya, pusat otakku mengingatkan tujuannya.

''Bagaimana bisa kau...''

''Aku masih disini, menginap di hotel.'' Potong Siwon cepat, aku mengangguk mengerti.

''Apa kau mau minum?'' Tawarku sopan.

"Tidak, terima kasih Kyuhyun." Dia tersenyum mempesona, senyum dengan bibirnya melengkung, kepalanya miring sedikit ke satu sisi.

''Jadi kau senang sudah tahu aku?''

Apa dia tersinggung? Aku menatap jari-jariku. Bagaimana aku bisa menggali diriku sendiri keluar dari ini? Jika aku mengatakan padanya itu hanya sebuah lelucon, aku tidak berpikir dia akan terkesan.

"Kupikir kau akan membalas melalui pesan atau email." Suaraku lirih, menyedihkan.

"Apa kau menggigit bibir bawahmu dengan sengaja?" Tanyanya muram.

Aku berkedip ke arahnya, terengah-engah, membebaskan bibir. "Aku tak menyadari aku menggigit bibirku." Bisikku pelan.

Hatiku berdebar-debar. Aku dapat merasakan tarikan itu, tarikan listrik yang nikmat diantara kami. Mengisi ruang diantara kita dengan listrik statis, dia duduk sangat dekat denganku. Matanya hitam, gelap membara, siku bertumpu di lutut, kakinya terpisah. Napasku tersengal-sengal dan aku tak bisa bergerak.

"Jadi kau memutuskan berolahraga?" Dia bernafas, suaranya lembut dan merdu. Jari-jarinya dengan lembut mengelus kepalaku, "Kenapa kau jadi suka olahraga, Kyuhyun?" Jarinya menelusuri sekitar telingaku, sangat lembut. Aku mulai berpikir, aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukan itu.

''Jawab aku, Mr Cho.''

Mata hitamnya membara padaku, tatapannya sangat dalam menantang. Aku mengambil tindakan pencegahan, aku menubrukkan diriku ke arahnya. Entah bagaimana ia bergerak, aku tak tahu bagaimana, dalam sekejap aku di tempat tidur terjepit di bawahnya. Tanganku terentang dan ditahan di atas kepalaku, tangannya yang bebas menggenggam mukaku dan mulutnya menemukan mulutku.

Lidahnya di dalam mulutku, memiliki dan merasukiku. Aku merasa dia menekan sepanjang tubuhku. Dia menginginkan aku, dan ini aneh, bagian dalam tubuhku merasa nikmat. Hanya aku, pria tampan ini menginginkanku! Batinku bersinar begitu terang hingga dia bisa menerangi Seoul. Dia berhenti menciumku, aku membuka mata dan aku menemukan dia sedang menatapku.

"Percaya padaku?" Ia mengambil napas.

Aku mengangguk, mataku terbelalak, jantungku melonjak di tulang rusukku, darahku bergemuruh di seluruh tubuhku. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan dasi sutra abu-abu peraknya. Dia bergerak begitu cepat, duduk mengangkang saat dia mengikatkan pergelangan tanganku bersama-sama, tapi kali ini ia mengikat ujung dasi ke salah satu jari-jari kepala ranjang besi putihku.

"Ini lebih baik untukmu." Bisiknya tersenyum nakal dan aku tahu itu, dia membungkuk dan mulai melepas sandalku.

''Aku pikir tidak.'' Aku protes, mencoba menantang dia.

"Jika kau berontak, aku akan mengikat kakimu juga. Jika kau membuat suara, aku akan membungkammu. Jadi diam karena Henry mungkin di luar mendengarkan sekarang."

Oh My... Apa yang akan dia lakukan sekarang! Perlahan-lahan dia melepas celana trainingku, dia mengangkatku dan menarik selimut. Selimutku keluar dari bawahku dan merebahkan aku lagi, kali ini di atas sprei.

"Hmm..." Dia menjilati bibir bawahnya perlahan-lahan. "Kau menggigit bibir itu, kau tahu efeknya terhadapku." Dia menempatkan jari telunjuknya di atas bibirku, sebuah peringatan.

Aku nyaris tak bisa menahan diri, berbaring tak berdaya, mengamatinya bergerak dengan anggun di sekitar kamarku. Perlahan, dengan santai dia melepas sepatu dan kaus kaki, membuka celananya dan mengangkat bajunya ke atas kepalanya. Dia menarik t-shirtku, dan aku pikir dia akan melepasnya tapi dia gulungkan ke leherku dan kemudian menarik itu di atas kepalaku.

"Mmm.." Dia mengambil nafas sambil memuji. "Ini makin lama makin baik. Aku akan mengambil minum." Condong ke bawah, dia menciumku, bibirnya lembut menyentuhku dan badannya bergeser dari tempat tidur. Aku mendengar derit pelan pintu kamar tidur.

Aku berusaha keras untuk mendengarnya. Aku bisa menangkap suara obrolan pelan, aku tahu dia berbicara dengan Henry. Oh tidak! Dia nyaris telanjang. Apa yang akan dia katakan? Aku mendengar suara botol dibuka. Apa itu? Dia kembali, pintu berderit sekali lagi, terdengar pelan suara kakinya berjalan di lantai kamar tidur. Dia menutup pintu dan melepas celana pendeknya, sepertinya celananya turun ke lantai dan aku tahu dia telanjang!

- Fifty Shades of Choi -

TBC.