.
Pernikahan.
Dengan gaun putih indah, rambut berhiaskan mahkota dan setiap mata yang memandang kekaguman ke arahmu.
Menjadi putri yang nyata selama sehari.
Dan pangeran akan menyambut di ujung sana, tersenyum lembut.
Siap menggandeng tangannya menuju istana baru hanya milik berdua.
Itulah pernikahan idaman yang Hinata muda impikan.
.
…*…
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Saya tidak menerima keuntungan berupa material apapun dari pembuatan fanfiction ini.
Warning: OOC, Modern!AU, Model world, Typo(s), etc
Kesalahan data sangat mungkin terjadi akibat kurangnya materi yang membahas setting dan detail mengenai kehidupan seorang model. Nama brand hanya imajinasi penulisnya, kalau ada kesamaan dengan brand dunia nyata, hanya kebetulan semata.
Happy Reading ^^
.
…*…
.
Hinata tahu ayahnya—dan juga pamannya—memiliki rambut panjang yang indah. Namun sepanjang ingatannya, rambut ayahnya berwarna cokelat lembut, dan bukannya hitam pekat. Lagipula ayahnya juga tak memiliki wajah a la banci yang senang mengamen di perempatan jalan. Dan tambahan lagi, ayahnya juga bukan seorang penata rias kawakan yang selalu mengumbar senyum miring penuh enigma—meskipun itu terlihat horor—pada semua orang.
Intinya, Hinata tak tahu—dan tak ingin tahu—bagaimana bisa skenario pernikahannya dapat melibatkan seorang Orochimaru sebagai walinya.
"Ah, tidak usah panik dan berkeringat begitu! Kau tampak sangat cantik dengan dandananmu yang berkilauan ini! Tentu saja itu karena aku sendiri yang meriasmu."
"Te-terima kasih …"
Jika boleh jujur, sebenarnya yang membuat dia berkeringat dingin bukanlah skenario pembuatan video promosi yang menyaru adegan pernikahan sesungguhnya. Yang membuatnya benar-benar gugup adalah; dia terpaksa menggandeng tangan seorang pria dengan jas hitam mewah namun bersikap seperti remaja yang mendambakan pangerannya.
Deskripsi di atas dapat disimpulkan dalam dua kata: Banci Lebay.
Tapi jangan sampai Orochimaru tahu, dia bisa saja mencekiknya dengan sabuk kulit di lingkar celana kainnya jika sampai Hinata kelepasan bicara.
"Sebenarnya aku juga gugup. Aku biasa bekerja di balik kamera. Baru kali ini aku bekerja di muka. Itupun karena pengambilan video ini dibuat dengan terburu-buru, sehingga mereka tidak sempat mencari model untuk menjadi ayahmu."
"O-oh …"
Orochimaru masih sibuk bicara sambil menggerak-gerakkan tangannya, sementara dari sudut mata, Hinata menangkap beberapa pemeran pembantu—para tamu undangan pesta pernikahan mulai datang dengan gaun-gaun mewah dan make up di wajah. Entah mengapa sekarang dia benar-benar gugup—dan itu bukan hanya karena dia terpaksa menggandeng tangan seorang banci melintasi virgin road tentunya.
"Para tamu yang datang di sini pun adalah para pekerja butik yang kebetulan datang hari ini. Mereka benar-benar beruntung bisa menggunakan pakaian-pakaian pesta karya Temari meski hanya untuk beberapa jam," Orochimaru masih memberikan penjelasan tanpa diminta. "Tentunya bukan aku yang merias mereka, cukup Kabuto saja. Tanganku hanya cocok untuk memoles para bidadari-bidadari anggun dan pangeran-pangeran tampan. Seperti dua tokoh utama acara ini."
Hinata menoleh pada Orochimaru. "La-lalu … bagaimana dengan kameramennya?"
"Hm, kameramennya ya?" Orochimaru menoel-noel dagunya dengan cara yang kelewat feminin—membuat punggung Hinata merinding. "Yah, karena ada satu atau dua alasan, terpaksa kita menggaet seorang kameramen dari luar. Tapi tenang saja, kualitasnya tak perlu diragukan. Bagaimanapun juga dia adalah teman Kankuro dan sudah berpengalaman dalam berbagai macam pembuatan film ternama."
"Oh …" Hinata mencuri pandang pada pemuda dengan wajah tertutup kacamata gelap dan masker yang tengah membicarakan konsep yang akan diambil dengan Temari dan Gaara.
Si banci merunduk sedikit, memberi gestur berbisik. "Dia adalah orang yang sangat eksentrik. Tidak pernah memperlihatkan seperti apa wajahnya di balik masker itu. Beberapa berpendapat jika dia sangat tampan—seperti patung Apollo—beberapa menduga wajahnya semengerikan centaurus yang sedang mengamuk. Dan, oh ya, namanya Aburame Shino."
"Oh …"
Hinata tak tahu berapa kali dia sudah mengulang kata 'oh' selama pembicaraan dengan Orochimaru. Tak tahu harus menimpali apa lagi. Kosa katanya seolah lenyap tertelan celoteh indah dari sang penata rias berjiwa ganda itu.
Gadis itu mencuri pandang pada sosok berambut merah yang berulang kali menarik ujung lengan jas putihnya dengan risih, seolah kain itu akan memakan tangannya jika dia tak waspada. Sesekali kameramen pengganti menanyakan sesuatu padanya, yang hanya ia jawab dengan jawaban singkat. Jika itu sudah terjadi, maka Temari akan mengambil alih tugas menjawab dan menerangkan tentang angle yang diinginkannya atau konsep dan tata cahaya rumit yang tidak Hinata mengerti.
Saat mata hijau beradu pandang dengan lavender, Hinata menunduk, menyembunyikan parasnya di balik maria veil tipis yang melindungi wajahnya, menggingit-gigit bibir mungilnya dan berhati-hati agar lipstik sewarna bunga sakura musim semi itu tak luntur.
"Pangeran api dan putri es, konsep yang benar-benar bagus dan cocok dengan dunia nyata. Meski Kankuro terpaksa merombak ulang beberapa bagian satu jam sebelum pemotretan untuk menambah aksen merah dengan bunga mawar. Tidak masalah." Orochimaru mengerling pada sang gadis, merasakan cengkraman gadis pemalu itu mengerat di tangannya. "Gaara memang bukan rajanya mengumbar kata-kata mesra, namun dia tahu pasti bagaimana caranya membuat seorang gadis merasa terpesona."
"Ya …." Hinata memainkan gaunnya dengan satu tangan, resah. "Tapi dia terlalu tahu tentang itu. Entah sudah berapa banyak gadis yang mengalami skenario seperti ini di tangannya kemudian jatuh cinta."
"Hanya satu yang aku ingat."
"Eh?"
"Dia gadis pemalu dan sangat ringkih, benar-benar seperti salju." Orochimaru mengalihkan pandangannya pada mawar-mawar merah yang kini terletak di atas meja. "Gadis itu berusaha menjadi sekuat es, namun salju tetaplah salju. Akan hancur dalam genggaman. Dan Gaara mencoba untuk menjaganya utuh dengan hati-hati."
Hinata mendongak memandang wajah sang penata rias yang kini benar-benar terlihat seperti seorang pria dewasa.
"Dan orang itu adalah kau, Hinata Hyuuga."
.
…*…
.
Menikah.
Meski itu hanyalah sebuah sandiwara yang tidak berarti, tak pernah ada yang mengatakan pada Hinata jika terasa sangat … memualkan.
Buan dalam artian yang membuatnya ingin memuntahkan makan siang. Mual yang dirasakannya ini jauh lebih rumit. Pernah membaca istilah 'seperti ada seribu kupu-kupu di dalam perut'? Yang Hinata rasakan jauh lebih abstrak dari itu. Seolah kupu-kupu itu merobek perutnya dan terbang ke angkasa membawa kesarannya.
Lebih tepatnya lagi, perasaannya saat itu hanya dapat dirasakan, tidak akan pernah bisa dituangkan lewat kata-kata.
Tangannya mencengkram erat lengan Orochimaru, membuat bagian yang dia sentuh menjadi berkerut. Andai saja Temari melihatnya, Hinata pasti akan diberikan decakan kesal dan komentar untuk bersikap profesional dengan tidak merusak properti yang sudah disiapkan.
Orochimaru mengangguk mengerti—benar-benar menjelma menjadi sosok ayah yang akan menikahkan anak gadisnya. Senyum lembut tersungging. "Tidak perlu tegang," diucapkan dengan suara berat laki-laki yang berwibawa.
Hinata mengangguk pelan. Tanda jika dia mengerti.
Aba-aba dari Temari diberikan. Alunan piano terdengar, tiap pemeran figuran yang duduk di meja-meja berbentuk lingkaran menoleh ke arahnya. Dekat dengan altar, dia dapat melihat Sakura yang duduk semeja dengan Sai tersenyum padanya—menyemangati tanpa kata. Tiba-tiba saja lutut Hinata terasa lemas, sepatu hak yang dia kenakan di balik gaun terasa berubah menjadi agar-agar.
Oh Tuhan, bahkan berjalan di runway dengan blitz menyambar wajah dan membutakan mata pun rasanya tak seburuk ini.
Namun gadis itu tetap berjalan pelan. Dituntun oleh Orochimaru yang tampak lebih tua akibat make up khusus yang digunakannya di wajah sendiri. Hinata menunduk sembari tersenyum, seperti yang biasa dilihatnya pada pernikahan para gadis yang pernah dihadirinya, mencoba mengimitasi kebahagiaan yang mereka rasakan.
Di balik kerudungnya yang semi transparan, dia dapat melihat semua terjadi seolah dia hanya seorang penonton yang tidak terlibat di dalamnya.
Sorang wanita dengan gaun hijau toska yang tengah memainkan piano klasik, menyenandungkan nada-nada mars pernikahan yang anggun dan lembut. Dua orang anak kecil berambut pirang dengan gaun putih panjang dan tiruan sayap malaikat mengangkat maria veil panjangnya agar tidak terseret di lantai, sementara dua anak laki-laki dengan mawar merah di dadanya menaburkan kelopak bunga yang sama di sepanjang virgin road. Beberapa orang wanita—yang sepertinya berperan sebagai ibu dan saudaranya—mengusap air mata palsu (obat tetes mata?) dengan tisu, seolah tengah terharu. Kamera mengikuti tiap detail suasana, merekam tiap gerak-gerik mereka yang terlibat dalam pembuatan video pernikahan itu.
Sasuke menunggu di ujung sana. Sama seperti skenario, namun dia tak menggunakan jas putih salju yang seharusnya dia kenakan. Hanya setelan resmi sederhana berwarna hitam gelap yang melekat pada tubuhnya. Tentu saja karena dia bukanlah pemeran utama pria hari ini, dia batal 'menikah' dengan Hinata dengan tema musim dingin. Namun tak apa, berperan sebagai best man pun tak cukup buruk, setidaknya dia tidak perlu menghapal sumpah romantis yang biasa diucapkan saat pernikahan.
Seorang pria berambut merahlah yang menjadi calon suaminya. Berdiri tenang seolah dia sudah terbiasa berada di depan kamera—bukan di belakangnya. Mengulurkan tangan ke arah Hinata, matanya mengungkapkan secara tersirat permintaan agar sang 'ayah' untuk mengikhlaskan putri kecilnya bersanding dengan sang pemuda.
Saat tangan Hinata meraih tangan yang terulur itu, dia sadar, tangannya gemetar. Dan pemuda itu tampak tak keberatan dengan kecanggungannya, dia menerimanya. Menggenggam erat tangan itu dan menuntunnya perlahan—bagaikan seorang putri dengan sepatu kaca—menaiki tangga kecil menuju altar, tempat seorang pendeta gadungan siap meresmikan hubungan palsu mereka.
Pikiran Hinata hilang saat bibir pendeta itu menggumamkan sumpah sehidup semati dalam suka maupun duka.
.
…*…
.
"Ku … kurasa aku harus meminta maaf pada Temari dan Kankuro … dan fotografer kita—siapa?—Aburame Shino … juga setiap orang yang terlibat … aku harus meminta maaf secepatnya. Tidak, sekarang juga. Kita harus kembali ke Sahara …"
Satu-satunya hal yang bisa Sakura syukuri dari ocehan Hinata adalah; dia melakukannya dalam Bahasa Jepang. Supir taksi yang membawa mereka pasti akan kebingungan memilih rute jika dia bisa memahaminya. Gadis itu mengernyitkan alisnya. "Kurasa kau sakit."
"Tidak, aku tidak sakit. Tapi … tapi … tapi …"
"Oh, ayolah. Temari saja memujimu, mengapa kau masih mempermasalahkannya sih? Kau cukup diam dan mengiyakan setiap kata-katanya. Mudah saja kan?"
"Aku tidak bisa melakukannya …" Hinata menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Aku kehilangan konsesntrasiku di tengah pekerjaan. Seharusnya aku tidak boleh melakukannya … aku sama sekali bukan model profesional jika terus begini …"
Sakura mengedipkan mata. Sama sekali tak mengerti pada gadis di sampingnya. "Aku tak tahu apa yang merisaukanmu. Terutama karena sejak tadi kau hanya merancau dengan kalimat yang tumpang tindih tidak jelas. Tapi, apapun yang ada dalam pikiranmu, aku lebih setuju dengan Temari. Aktingmu mengagumkan. Aku sampai terpana saat melihatnya tadi."
"Tapi aku tidak berakting!"
"Apa?"
Hinata melenguh pelan. Memainkan jari di dadanya, memandang kosong pada sepatu hak tinggi yang dikenakannya. "Aku merasa … aku tidak benar-benar berakting tadi." Gadis itu semakin menundukkan wajahnya, tampak tengah memikirkan hal yang sama sekali tidak dimengertinya. "Tidak sepenuhnya benar, aku hanya tidak bisa terus berakting. Aku masih berakting saat Orochimaru menggandengku di virgin road. Aku juga masih berakting saat menyambut tangan Gaara. Tapi … tapi … setelah itu tidak, sama sekali tidak. Aku melupakan fakta jika aku sedang bersandiwara di hadapan kamera dan mengikuti naluriku sendiri. Ah, bodohnya aku …."
"Jadi, kau membiarkan instingmu yang membawamu bergerak semala pembuatan video tadi?" Sakura mencoba memahami arti di balik kata-kata Hinata yang diucapkan terlalu cepat dan terlalu lirih.
Hinata mengangguk kecil. "Aku tidak bersikap profesional."
"Tapi menurutku kau sudah sangat bersikap profesional." Sakura mengangkat bahu. Menyingkirkan rambut merah mudanya yang jauh menutupi mata. "Kau tahu Konan? Aktris yang tahun lalu mendapatkan penghargaan pendatang baru terbaik? Dia pernah berkata, 'saat seorang aktris masuk ke dalam perannya, maka dia akan menyatu dengan tokoh tersebut. Secara tubuh maupun jiwa. Dan itu tak akan membuatmu merasa tengah berakting'. Kurasa kau sudah sangat pro jika kau bisa melakukannya—aku saja tidak."
"Yang kulakukan tidak seperti itu. Yang kulakukan adalah … aku menganggapnya seolah aku tak sedang berakting. Akulah yang tengah melepas masa gadisku dan menginjak dunia pernikahan di sana … maksudku … maksudku … kurasa aku tengah berdelusi dengan menggunakan pekerjaan sebagai wahananya … kira-kira seperti itu …"
"Maksudmu, kau merasa seolah kau sedang mengalami pernikahan yang sesungguhnya, atau semacam itu?"
"Itulah yang sejak tadi aku coba sampaikan padamu, Sakura …"
Sang gadis merah muda memiringkan kepalanya dan menyangga dagu dengan wajah serius. Mencoba menggali ingatan tentang pernikahan palsu yang tadi dilihatnya.
Hinata yang berjalan gugup di virgin road, namun tetap berusaha untuk tersenyum bahagia seperti pengantin wanita yang sesungguhnya. Hinata yang tampak ragu menangkap tangan Gaara namun akhirnya tersenyum lembut, seolah sudah yakin akan keputusannya. Hinata yang merona malu saat pendeta menanyakan akan sumpah sehidup sematinya. Tangan yang gemetar bahagia saat sebuah cincin berlian terselip di sana. Menunduk dan merona habis-habisan saat maria veil-nya dibuka oleh Gaara. Dua dahi serta hidung yang bertemu sebagai ganti akan ciuman yang seharusnya dilakukan, tawa bahagia terselip indah di atara keduanya. Dan yang terakhir, prosesi melempar bunga untuk para gadis. Dan Sakura tampaknya menjadi orang yang cukup beruntung mendapatkannya—buket bunga itu sekarang masuk ke dalam tas besar di bawah kakinya untuk dipamerkan pada Ino sesampainya di hotel.
Dan entah mengapa dia tak merasa kaget mendengar pengakuan Hinata. Mungkin dalam hati dia juga sudah merasa seolah tak ada kepalsuan di dalamnya, jadi dia hanya menimpali dengan kata-kata sederhana:
"Baguslah kalau begitu. Kuharap itu tidak hanya akan berakhir dalam video promosi saja. Dan semoga aku juga cukup beruntung mendapatkan buket bunganya saat itu."
Sang gadis beramut indigo tampaknya tak puas dengan jawaban Sakura. Kegelisahan masih tampak nyata di air wajahnya, tak dapat disembunyikan. "Itu tidak membantuku merasa lebih baik, Sakura …"
"Omong kosong." Sang gadis menepis. "Aku tahu, jauh dalam lubuk hatimu sebenarnya kau merasa lega bukan? Kau merasa lega dapat melakukannya dan kau merasa bahagia meski itu hanya sekedar video promosi semata—karena kau melakukannya dengan orang yang kau sukai."
"Orang yang kusukai … dia … dia bukan Gaara …"
"Siapa yang coba kau bohongi sekarang?" Sakura menghela napas panjang. Menepuk pundak gadis di sampingnya. "Apa kau masih meragukan Gaara?"
Hinata menunduk dalam-dalam. Tampaknya karpet kusam taksi tua yang mereka panggil itu jauh lebih enak dilihat dibandingkan wajah Sakura yang kerap muncul di sampul majalah. Dia masih memainkan jarinya, kali ini dengan lebih cepat. "Jujur saja, aku sama sekali tidak tahu dengan perasaan Gaara. Dia seolah sedang bermain-main denganku. Menarikku mendekat, memberikan kebahagiaan dan kehangatan. Sedetik kemudian dia akan mendorongku menjauh hingga terjatuh. Sakit dan kedinginan. Aku merasa … dia tidak serius."
"Dia serius."
"Kau tak bisa menjaminnya, Sakura. Meskipun kau adalah sepupunya … kau tak akan bisa menjamin perasaannya."
"Kami memang saudara sepupu. Sayangnya, selama bertahun-tahun kami tak pernah saling berinteraksi kecuali dalam pekerjaan—seperti ini. Saling menjaga jarak, tak ingin berhubungan satu sama lain. Tapi … jika ada satu hal yang aku tahu dari Gaara, dia tak pernah memperlakukan seorang wanita dengan buruk dan egois kecuali jika dia benar-benar tertarik padanya." Mata hijau itu memandang Hinata dalam-dalam dan tersenyum kecil. "Gaara, dia sudah benar-benar jatuh cinta padamu. Dan video ini … adalah caranya untuk menunjukkan betapa dia ingin terus selalu bersamamu—apapun yang terjadi."
Hinata menggigit bibirnya mendengar jaminan Sakura. "Kau bukan orang pertama yang mengatakannya."
"Karena semua orang pasti gemas jika mengikuti perkemangan hubungan kalian. Tidak ada perkembangan sama sekali, padahal waktu yang kita miliki terbatas di sini."
Sang gadis berambut indigo mengangguk pelan. "Justru karena itu. Karena kita akan segera pergi, aku tak berani untuk mengambil langkah apapun. Aku takut … aku takut jika aku harus mengulang rasa sakit akibat ditinggalkan … sekali lagi. Aku tak mau itu terulang, maka dari itu aku … aku memutuskan untuk mundur." Senyum pahit tergambar tak menyenangkan di wajah sang gadis. Tak perlu seorang psikolog cerdas untuk melihat jika sebenarnya Hinata ragu akan pilihannya sendiri. "Aku sudah cukup merasakan manis antara kami … dan pernikahan ini adalah batas untukku. Aku tak ingin melanggarnya …"
"Jika bukan kau yang bertindak Hinata, kurasa Gaara lah yang akan melakukannya."
Namun Hinata tak lagi berminat untuk menimpali. Dia hanya memandang langit malam yang berbintang dengan wajah sendu, tampaknya mencoba mencari satu bintang jatuh yang dapat mengabulkan permintaannya.
Sementara Sakura sibuk dengan handphone-nya, mencoba mengirim pesan pada kakaknya nan jauh di Jepang. Doa yang sama terus diulangnya dalam otak dan hatinya, memandang jam tangan dan handphone-nya bergantian, berusaha mengkalkulasi segala kemungkinan yang akan terjadi di keesokan hari.
"Mengapa kau melakukan semua ini? Kau hanya akan melukai Hinata dan Gaara!"
"Bukan mauku melukai mereka. Namun kau lah yang membuatku terpaksa melakukannya."
"Seegitu besarkan rasa bencimu padaku hingga kau melakukannya?"
"Aku tak pernah membencimu."
"Kau membenciku. Sangat membenciku hingga menjauhkan siapapun yang dekat denganku. Itachi, Sasuke, Naruto, Kiba, Gaara, Hinata … harus seberapa banyak lagi orang yang akan kau lukai sebenarnya?"
"Aku tak bisa menjawabnya sekarang. Karena aku tak akan tahu."
"…"
"Semakin kau dekat dengan seseorang, maka semakin besar dia akan terluka. Kau harus tahu itu, Sakura."
"Sai … mengapa kau melakukan semua ini? Apa salahku hingga kau begitu membenciku?"
"Satu-satunya kesalahanmu adalah; kau sudah bersikap baik padaku, dan melakukannya pada orang lain."
"Aku …"
"Kita hentikan saja pembicaraan ini. Kau hanya akan mengulang pertanyaan yang sama dan aku sudah kehabisan variasi untuk menjawabnya. Maka dari itu, lihat saja. Esok pertunjukan yang sebenarnya baru akan dimulai."
"Semoga besok tak terjadi apapun yang buruk …" bisikan lirih itu tak terdengar oleh siapapun. Oleh supir yang mengendara di depan, oleh Hinata yang duduk diam di sampingnya, bahkan oleh Dewa yang mengatur segalanya dari langit sana.
Apa yang terjadi esok, maka terjadilah.
.
…*…
.
Deidara menguap lebar, menggosok matanya yang memerah. Entah harus merutuki dirinya sendiri yang terlalu larut dalam kegembiraan pesta selepas peragaan busana semalam atau permintaan semena-mena teman lama yang minta dijemput di bandara esok pagi. Yang jelas, dia lelah dan mengantuk. Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu terakhir dia terpaksa bangun cepat untuk menjemput seseorang di bandara. Tidak tahukah mereka jika seorang model memerlukan waktu tidur ekstra agar kulit mulusnya tetap terjaga?
Namun bukan itu masalahnya. Yang jadi masalah utama adalah entitas makhluk astral yang berjongkok di sampingnya sambil turut menguap lebar.
"Jadi, katakan satu alasan yang bagus padaku sampai kau ikut ke tempat ini!" tuntutnya.
Pemuda yang masih berjongkok sambil merokok itu mendongak dan memamerkan senyum menyebalkannya. "Apa kau terganggu dengan keberadaanku di tempat ini?"
"Sangat."
Orang-orang yang lewat di dekat mereka tersenyum dan berbisik kecil. Tanpa mendengarnya pun, Deidara tahu jika banyak dari mereka yang salah mengira dia dan makhluk sial di sampingnya ini adalah pasangan kekasih—pemuda tampan dan pacar wanita-nya yang tomboy—yang hobi mengumbar kemesraan dengan bertengkar tapi sayang. Sudah banyak orang yang salah paham akan mereka di masa lalu, bahkan setelah gender Deidara terbongkar pun tak berbeda. Tapi tidak, tentu saja tidak, hubungannya dengan makhluk di dekatnya ini memang akrab, cukup akrab hingga sampai pada taraf di mana mereka dapat saling melemparkan ejekan tanpa ada yang terluka, namun jelas bukan hubungan intim sepasang kekasih.
"Hei, Dei. Kau ini dingin sekali. Aku hanya ingin menyambut teman-teman baik kita yang datang berkunjung saja ke sini." Pemuda itu bangkit berdiri dan merenggangkan tubuhnya yang kaku. "Lagipula seharusnya kau sambut aku dengan ramah, aku masih lelah karena lembur di bar semalam dan harus bangun pagi buta."
Inginnya Deidara menjawab dengan nada sinis, Memangnya siapa yang memintamu datang ke tempat ini? Tapi mengingat ialah orang yang semalam meracau tentang keharusan menjemput saat kesadarannya menipis termakan alkohol, Deidara hanya dapat mendecih pelan. "Bukan berarti aku tak bersyukur kau ada di sini. Mobil yang kubawa ini hanya bisa menampung dua orang saja, sementara empat yang akan datang."
Hidan terkekeh pelan. "Pada akhirnya kedatanganku ada artinya juga kan?"
"Hanya sebagai supir. Tidak lebih dan tidak kurang."
Tak peduli dengan jawaban sinis temannya, Hidan hanya mengangkat bahu. Lidah Deidara Yamanaka tidak secantik parasnya, dia sudah tahu itu sejak zaman mereka masih sering saling lempar potongan penghapus di dalam kelas. "Jadi dia tak datang sendiri kali ini?"
"Jika hanya kita berdua, maka tak akan dapat menghentikannya yang sedang mengamuk bukan?" Deidara menyambar rokok yang ada di tangan kawannya dan membumihanguskannya di bawah sol sepatuhnya yang tebal. Dagu mengendik, menunjuk pada pengumuman 'NO SMOKING' berukuran besar. "Lagipula makhluk-makhluk cinta adik seperti mereka pasti tak akan melewatkan kesempatan untuk melihat makhluk-makhluk lucu itu bergaya di depan kamera."
"Oke. Kurasa aku sudah dapat menebak siapa saja yang akan datang kali ini."
Deidara terkekeh pelan. Dari sudut matanya dapat dia lihat empat laki-laki yang berjalan dengan langkah-langkah lebar dan wajah serius—oke, untuk yang ini hanya tiga sebenarnya—ke arahnya. Hawa buruk segera menyapa tengkuk Deidara. Setidaknya sampai satu-satunya pemuda berambut pirang dengan gradasi warna panjang menuju merah—buatan, jelas—berlari menghampirinya.
"Dei!"
"Kyuu!
Mereka berpelukan. Nyaris seperti sepasang sahabat perempuan yang lama tak bertemu. Saling peluk dan menanyakan kabar dalam Bahasa Perancis dengan cepat. Kemudian berpelukan lagi dan melakukan cipika-cipiki. Sebuah reuni keluarga yang mengharukan.
Hawa buruk yang sempat mampir ke tengkuk Deidara tampaknya bertahan cukup lama bagi pemuda berambut sewarna perak di sampingnya. Buktinya, bukannya melakukan salam sapa seperti sang sahabat, dia justru hanya memandang serius pada tiga pemuda lain yang wajahnya tampak tak menyiratkan rasa suka cita. Bukannya dia tak tahu jika kombinasi Neji Hyuuga, Itachi Uchiha dan Sasori Haruno bukan kombinasi yang menyenangkan seperti Kyuubi Uzumaki dan Deidara Yamanaka, namun tetap saja muka dingin ketiganya pasti tak hanya berasal dari sana.
Ia mendengus pelan dan mengacak rambutnya. "Mungkin semalam aku terlalu banyak memakai cadangan keberuntunganku untuk melihat para gadis—dan beberapa pemuda—cantik. Pagi ini aku terlalu sial sampai harus disapa dengan tiga laki-laki berwajah muram."
"Tidak ada yang memintamu untuk datang ke sini, Hidan," desis satu dari mereka yang wajahnya tampak paling murka pagi ini. Dua pria lainnya hanya mengangkat bahu dengan wajah pasrah.
"Well, aku hanya datang karena Dei tak membawa mobil yang cukup untuk menampung lima orang, sebenarnya."
"Berarti itu kesalahan, Deidara."
Yang namanya disebut, meski tengah heboh saling menanyakan kabar keluarga satu sama lain, menoleh dengan wajah garang—luntur sudah semua imej androgini yang dimilikinya, Deidara Yamanaka menjelma menjadi lelaki tulen. Seratus persen. "Jangan asal bicara kau, Neji Hyuuga. Jika kau bukan salah satu teman lama yang kukenal baik saja, maka sudah pasti aku akan mematikan teleponmu seketika dan kembali menyapa bantal dan selimutku." Ia mengetuk-ngetukkan sepatu di lantai beton kesal. "Aku sudah meminjamkan dua mobilku pada adik dan sepupuku."
"Oh, jadi kau termasuk salah satu orang brengsek yang membuat Hinata membangkang padaku?"
"Apa? Adikku itu bernama Ino Yamanaka dan sepupuku bernama Naruto Uzumaki. Aku belum memiliki saudara yang bernama Hinata."
Neji mendengus pelan mendengar jawaban itu dan langsung menyeret koper-kopernya, memasukkannya ke bagasi mobil Deidara. Sementara sang empunya segera mendekat pada tiga pendatang lain yang sejak tadi hanya diam.
"Jadi, katakan padaku. Apa ada yang salah dengannya? Atau jadwal creambath-nya sedang bermasalah? Dia tampak lebih tempramental dibandingkan biasanya."
Pemuda yang memiliki kerut di bawah mata—tanda kerja keras yang sudah dilakoni sejak usia muda—hanya tersenyum paham saja. Itachi Uchiha menggeleng pelan sambil menepuk kepala Deidara, bersikap seperti seorang kakak pada adiknya yang baru saja membuat kesalahan berbahaya. "Neji tidak sepertimu, Dei. Ada masalah yang benar-benar membuat dia tidak dapat menahan emosinya. Dan salah satunya jika menyangkut adik-adik sepupu kesayangannya. Hinata Hyuuga juga bukan merupakan pengecualiannya."
Deidara memutar mata. Mengingat kembali gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama yang sama beberapa hari lalu. "Oh, gadis pemalu pendatang baru itu ya?"
"Hm jadi soal Hinata Hyuuga," Hidan turut bergumam pelan.
"Kau mengenalnya juga?" tanya Itachi.
Sang bertender eksentrik hanya mengangkat bahu. "Dia dan beberapa model Asia—termasuk adik Dei dan Sasori—datang ke barku beberapa malam lalu. Aku sempat bicara sebentar dengannya sebelum dia pulang lebih dulu karena … sesuatu." Memutuskan untuk menyembunyikan affair Hinata dengan Gaara—yang sepertinya menjadi penyulut api kemarahan Neji—Hidan memutuskan untuk tak melanjutkan kata-katanya.
"Oh ya." Dei menepuk tangannya tanda teringat sesuatu. "Aku yang merekomendasikannya pada Ino. Meski dilayani oleh seorang bartender biseksual genit dan menyebalkan, L'Etoile merupakan salah satu bar terbaik di Perancis."
Hidan sudah hendak mengatakan betapa dia senang Deidara mau menjadi salah satu sales 'girl' tak dibayar kafenya sebelum Itachi memotong dengan mimik serius. "Aku datang hanya untuk mempertanggungjawabakan salah satu tingkah sembrono anggota keluargaku. Rapat kerjasama antar dua perusahaan terpaksa ditunda karena tindakannya itu."
"Sasuke? Tak biasanya dia bersikap di luar kendali. Bukankah dia sama denganmu? Anak emas Uchiha."
"Bukan Sasuke, tapi Sai." Itachi menghela napas panjang. "Dia yang menelepon Neji kemarin lalu."
Les tempêtes qui viennent soudainement.
.
…TBC…
.
Les tempêtes qui viennent soudainement: Badai yang datang tiba-tiba.
.
.
A/N:
Terima kasih sudah membaca chapter ini.
Akhirnya, badai yang diciptakan Sai datang juga TTwTT lega rasanya. Ngomong-ngomong, maaf aku jadi inkar janji mau update 3 chapter sebulan. Tiba-tiba saja aku mengadakan Event Crack Pairing Celebration selama bulan Maret, jadi sedikit sibuk. Dan rasanya sebagai panitia tidak menyumbang itu … kurang lengkap.
Hitung mundur PRIMADONA sudah dilakukan, senang rasanya sebentar lagi FF ini akan tamat. Dan aku akan senang juga jika kalian mau mengikutinya sampai akhir.
Oke, balas review anon dulu ya. Yang login kita ngobrol via PM.
Nuni: Iya ^^
Katsumi: Wah, maaf ya, aku sudah menentukan plot FF ini dari awal, nggak bisa diganti …
Re: Amin, makasih banyak ya ^^
Miharu: Aku suka konsep tali merah pengikat takdir, jadi ya … mengikuti alur klise aja kali ya.
Alice: Makasih sudah mau baca ya. Iya, memang Gaara kok.
Yusa Azha-chan: Iya, maaf sudah hiatus lama ya …
Dark Side: Bukan dendam juga, kurasa sedikit-sedikit soal Sai sudah kusinggung di sini :3
Guest: Iya, makasih ya ^^
Guest: Maaf, rating M bukan untuk lime. Aku membuatnya untuk kehidupan dewasa.
Lavender: Iya, terima kasih ya.
Oke, sekali lagi terima kasih sudah membaca. Kalian penyemangat terbesarku selama ini. Aku nggak tahu seberapa banyak ucapan terima kasih agar cukup untuk merepresentasikan perasaanku. Mohon kritik dan saran ya ^^
