Title : Song For Unbroken Soul

Main Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Other cast...

Author : Oh Hani

Rate : M

Warning : Genderswitch, DLDR, NO BASH ! REVIEW juseyooo !

Disclaimer : REMAKE Novel karya Nureesh Vhalega yang judulnya 'Song For Unbroken Soul'. Hanya mengganti cast sesuai couple favorit. Dan ini bukan FFN milik saya pribadi. Hanya numpang dan ngehidupin FFN ini karena pemilik aslinya sedang HIATUS.

.

.

.

*Happy Reading*

.

.

.

BE FANS GOOD


Yeri melangkah menapaki rumah sakit yang amat dibencinya. Rumah sakit ini adalah tempat di mana ayahnya dirawat setelah terkena serangan jantung yang membuatnya pergi meninggalkan dunia. Namun kali ini Yeri harus membuat pengecualian, karena kakaknya membutuhkannya.

Yeri memasuki kamar rawat dan melihat Jongin tengah membisikkan sesuatu di telinga gadis berwajah pucat yang mengenakan alat bantu pernapasan di atas tempat tidur. Selama sesaat Jongin hanya menatap gadis yang telah koma selama tiga hari itu, lalu Jongin mengecup dahinya dan berbalik menuju pintu.

Langkah Jongin tertahan ketika melihat Yeri telah berdiri di hadapannya. Yeri memeluk Jongin, meminta maaf karena baru datang. Namun seperti biasa, Jongin menampilkan sosok kakak yang baik hati. Jongin justru berterima kasih karena Yeri bersedia untuk datang. "Bisakah kau menjaganya sebentar? Aku harus menemui dokter." ujar Jongin.

"Tentu. Kau harus makan, oppa. Belilah sesuatu di kantin. Kau nampak sangat mengerikan. Biar aku menjaganya. Kau tenang saja, aku sudah tahu bawa ia adalah orang baik. Aku akan meminta maaf juga berterima kasih begitu ia membuka mata nanti." sahut Yeri. Jongin tersenyum, meski senyum itu tak mencapai matanya, lalu melangkah pergi.

Yeri duduk di kursi samping ranjang, kemudian mendesah. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan gadis di hadapannya ini hingga mampu membuat Jongin mencintainya dengan begitu dalam. Namun apa pun itu, Yeri hanya berharap agar Jongin bahagia. Juga agar Kyungsoo segera sadar, karena kebahagiaan Jongin hanya ada pada Kyungsoo.

Yeri tersentak ketika melihat pergerakan pada tangan Kyungsoo. Tuhan ternyata menjawab doanya, karena kini Kyungsoo telah membuka mata. Dengan hati mengucap beribu syukur, Yeri menekan tombol di sisi tempat tidur untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian Jongin bersama dokter dan suster memasuki kamar rawat Kyungsoo dan memeriksanya. Yeri melangkah ke sudut, hanya memperhatikan. Nampaknya semua baik-baik saja karena Jongin terlihat begitu lega. Seolah dunianya urung menemui kiamat.

Yeri kembali ditinggal bersama Kyungsoo ketika Jongin keluar untuk menghubungi keluarga Kyungsoo. "Eonni. Aku senang melihatmu baik-baik saja. Aku ingin meminta maaf atas sikapku sebelumnya. Aku sekarang tahu bahwa pria itu benar-benar jahat. Terima kasih, Kyungsoo eonni." ucap Yeri tulus. Kyungsoo hanya membalasnya dengan senyum.

Yeri mendesah, "Jongin oppa sangat mencintaimu, entah atas alasan apa, karena jujur saja aku tidak bisa melihat hal dalam dirimu yang bisa disandingkan dengannya. Jangan salah paham, hanya saja aku sedikit terlalu berlebihan jika menyangkut dirinya. Aku harap kau mengerti. Jongin oppa rela mengorbankan segalanya demi diriku. Ia bahkan berhenti menjadi pianis karena aku memilih Julliard juga. Kau tahu peraturan di keluargaku. Seandainya saja aku yang mengambil alih perusahaan, Jongin oppa tidak harus berhenti. Namun ia tidak mau melakukannya. Ia meyakinkanku untuk terus memperjuangkan mimpiku. Kim Jongin adalah orang paling tidak egois di dunia. Dan aku berharap kau tidak akan pernah menyia-nyiakannya." ujar Yeri.

Kyungsoo hanya terdiam. Ia sungguh mengerti maksud Yeri, karena Kyungsoo pernah melakukan hal serupa. Tujuh tahun yang lalu. Yeri pamit undur diri. Ia mengucapkan semoga cepat sembuh, kemudian melangkah pergi. Jongin kembali masuk dan tersenyum pada Kyungsoo. Tangannya membelai pipi Kyungsoo lembut. Kyungsoo menangkup tangan Jongin dan menautkan tangan mereka.

"Kyungie. Maaf karena aku harus mengatakan ini. Tapi kau harus tahu." ucap Jongin. Kyungsoo menatap Jongin, menunggu.

"Ibumu meninggal dalam kecelakaan itu. Pemakamannya akan dilaksanakan besok. Maafkan aku, Kyungie. Aku sungguh menyesal." lanjut Jongin. Kyungsoo memejamkan mata dan membiarkan tangis kehilangan kembali menenggelamkannya.

Iring-iringan berpakaian hitam itu mulai meninggalkan pemakaman, hingga akhirnya hanya menyisakan tiga orang di sisi makam yang penuh bertaburan bunga. Kyungsoo menatap nanar makam ibunya. Kyungsoo tidak ingin mempercayai penglihatannya, namun kenyataan berteriak keras hingga mustahil untuk menyangkal; dua orang yang Kyungsoo cintai dalam hidupnya telah pergi dan tak kan kembali. Dan semua itu adalah kesalahannya.

Kyungsoo masih membeku dalam dukanya, sehingga ketika ayahnya menghampirinya dan mengatakan hal-hal menyakitkan itu, Kyungsoo tak merasa sakit. "Kau adalah bencana dalam hidupku. Kau merenggut semua orang yang paling berharga bagiku. Kau membuatku terpaksa membencimu, Kyungsoo. Karena kau menghancurkan segala hal yang kau sentuh." ucap Joomyeon dengan duka yang tersirat jelas.

Jongin menggenggam tangan Kyungsoo, mencoba memberikan kekuatan. Jongin tahu Kyungsoo sudah cukup menderita tanpa perlu mendengar kalimat tambahan terkutuk itu. Namun Jongin mengerti kondisi kejiwaan Joomyeon yang saat ini amat terguncang, sehingga meskipun ingin melayangkan tinju, Jongin menahan dirinya dan memilih untuk diam. Hanya berdoa sepenuh hati kalimat itu tidak akan meninggalkan luka berkepanjangan bagi Kyungsoo. Gadis itu sudah memiliki cukup banyak luka. Wu Joomyeon pergi dari pemakaman tanpa memandang Kyungsoo lagi. Meninggalkan Kyungsoo dan Jongin berdiri berteman keheningan di sisi makam.

Kau menghancurkan segala hal yang kau sentuh.

Kyungsoo berbaring menatap langit-langit kamarnya dengan satu kalimat itu terputar ulang terus-menerus dalam benaknya. Kalimat itu merekat kuat. Seakan mempertegas fakta yang selama ini Kyungsoo sangkal. Kyungsoo menatap Jongin yang tertidur di sampingnya. Wajah pria itu terlihat lelah, namun napasnya yang teratur menenangkan Kyungsoo.

Tanpa sadar air mata Kyungsoo mengalir. Tuhan tahu betapa menakjubkan pria itu. Betapa sempurna pria itu untuknya. Pria yang selalu tegar untuk menjadi sandarannya. Pria yang bahkan tetap bertahan setelah mengetahui segala keburukannya. Kyungsoo bersumpah demi jiwanya, ia tidak akan pernah mampu mencintai pria lain selain Kim Jongin. Kyungsoo tidak bisa membiarkan dirinya menghancurkan Jongin. Kyungsoo tidak akan membawa Jongin ke dalam hidupnya yang kelam. Kyungsoo tidak mampu menanggung luka lebih dari ini. Dan karena itu, Kyungsoo harus merelakan Jongin.

Jongin: Baru saja selesai meeting. Aku akan ke apartemenmu sebentar lagi. Aku merindukanmu Sayang. Sampai jumpa.

Jongin menyandarkan tubuhnya dengan helaan napas berat. Bulan ini terasa bagaikan neraka baginya. Kecelakaan yang menimpa Kyungsoo, tiga hari tergelap dalam hidupnya saat Kyungsoo koma, pemakaman ibu Kyungsoo, dan kini sikap Kyungsoo yang mengkhawatirkan. Kyungsoo kembali melakukan aktivitas seperti biasa setelah satu minggu masa pemulihan intensif.

Namun Jongin tahu dengan jelas Kyungsoo berubah. Gadis itu sangat diam. Sering kali tidak fokus pada kehidupan di sekitarnya. Kyungsoo seperti membangun dunia lain di dalam benaknya. Jongin sudah melakukan berbagai cara demi menghapus kesedihan Kyungsoo, karena mungkin dengan itu Kyungsoo bisa kembali seperti biasa.

Bukannya memperlihatkan kemajuan, Jongin justru melihat kemunduran. Namun Jongin tidak akan menyerah. Jongin akan membuat Kyungsoo bahagia. Jongin tidak akan pergi dari Kyungsoo. Jongin meraih ponselnya dan menghubungi Kyungsoo, karena gadis itu belum membalas pesannya. Ketika tak juga mendapat jawaban, Jongin memutuskan untuk segera datang ke apartemen Kyungsoo.

Kota Seoul telah gelap seutuhnya, menghadirkan suasana malam yang semarak dengan cahaya lampu sementara Jongin larut dalam pikirannya. Ketika sampai, Jongin menemukan apartemen Kyungsoo tidak terkunci.

Tanpa prasangka, Jongin melangkah masuk. Dan pemandangan yang menyambutnya seakan menusuk tepat di jantungnya. Kyungsoo tidak sendirian. Kyungsoo sedang bersama dengan seorang pria dan mereka berciuman. Tepat di bibir.

Jongin tidak bisa menahan dirinya. Tangannya bergerak cepat menarik pria itu, lalu memukulinya hingga tangannya terasa kebas. Pria yang dipukuli Jongin mencoba melawan, namun apalah dayanya menghadapi Jongin yang bahkan lebih tinggi juga lebih kekar darinya. Perlawanan itu sia-sia hingga akhirnya setelah meneriakkan berbagai makian, pria itu meninggalkan apartemen Kyungsoo dengan kondisi babak-belur. Jongin berusaha mengatur napasnya yang berkejaran. Tangannya masih mengepal erat, namun Jongin menolak menghempaskannya ke dinding. Jongin justru melarikan tangannya ke rambut, lalu meremasnya dengan mata terpejam.

Keheningan yang membalut apartemen itu terasa tajam; menyakiti mereka berdua dengan berlarinya setiap detik hingga menjelma menit. Sayatan demi sayatan yang mengambang di udara membelah jiwa mereka hingga serpihan. Cinta sungguh tak pernah mudah, namun haruskah cinta menuai luka? Jongin menghampiri Kyungsoo dengan langkah pelan. Matanya tak lepas dari sosok gadis di hadapannya, yang nampak begitu kosong. Jongin tahu apa yang dilakukan Kyungsoo; mengkristalkan tangis, menelan jerit, juga membekukan luka. Ini bukan sebuah penyangkalan, ini adalah kepercayaan. Harapan. Seiring dengan kakinya yang menekuk hingga membawa tubuhnya berlutut, Jongin mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang bukan saja menyiratkan permintaan, karena ketika mengucapkannya, Jongin tahu kalimat itu lebih menyerupai permohonan. Kalimat yang ia harap, membawa penyembuhan.

"Aku mohon, berhenti menyakiti dirimu sendiri." Perlahan, keheningan itu terurai oleh isak tangis. Jongin tetap berada di tempatnya, tak beranjak sedikit pun. Jongin sadar Kyungsoo membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri. Untuk menyesali juga menangisi segala hal. Sementara Kyungsoo menempatkan tangan di atas jantungnya. Sakit. Sungguh sakit. Kyungsoo menyadari dengan kesadaran memilukan bahwa ia telah menyia-nyiakan segalanya. Ia hampir melakukan kesalahan yang sama. Kyungsoo menyesali keputusan egoisnya. Kyungsoo menangisi ketidakmampuannya untuk bertahan, kelemahannya yang menyerah untuk memperjuangkan.

"Maafkan aku." isak Kyungsoo.

Ia terus mengulang kalimat itu di antara tangisnya. Kyungsoo mencoba mengatur napas, lalu melanjutkan dengan terbata, "Apa yang harus kulakukan?" Jongin menyentuh kedua sisi wajah Kyungsoo. Melarikan ibu jarinya untuk menghapus air mata dari wajah di hadapannya.

"Mulailah dengan kejujuran." jawab Jongin tanpa ragu. Kyungsoo membalas tatapan Jongin. Tak ia temukan amarah, apalagi kebencian. Kedua mata coklat gelap itu hanya mencerminkan penerimaan. Ketulusan. Juga cinta. Dan Kyungsoo tahu, hanya ada satu kejujuran yang sangat diyakininya saat ini.

"Aku mencintaimu." Bisik Kyungsoo sepenuh hatinya. Jongin tidak mengatakan apa pun lagi, hanya membawa Kyungsoo ke dalam pelukannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Lanjut / Delete

#Oh Hani#

.

.

Big Thanks For :

LuhanLove | KaiWIFE | Uchiha Annie | Sofia Magdalena | Kim YeHyun | TaeOhnya | SooBabyBoy | intanchristine4 | jeje | ohkiki94 | blackKamjong | Pororo | Fadhillah | sushimakipark | Lovesoo | yixingcom | dodyoleu | sehunsdeer | Kim JongSoo | WuKriSoo | tarry24792 | MissJongin | dwifit | YoonAra1261 | nisakaisa | veronicayosiputri9

Review juseyooo ^^

.

.

Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk baca dan review ff REMAKE ini. Maaf tidak bisa balas satu-satu review oenni, saeng, oppa, chingu, ahjumma, ahjussi sekalian. Tapi Hani baca semua kok review kalian. Terima kasih banyak sudah mau ngluangin waktu baca FF REMAKE ini. FF ini tinggal sati chapter lagi. Para SIDERS tolong tunjukan diri kalian juga dengan —jangan jadi SIDERS lagi. #BOWBarengGembul

Review juseyooo ne ^^

.

.

.

CONTINUES UNTIL COMPLETED OR DISCONTINUED UP HERE ?