Guys, maaf ya kalo saya suka lama update FF. Tapi itu dikarenakan kesibukan saya yg lagi bikin skripsi. Saya pasti usahakan buat update tiap minggu, jadi mohon kesabarannya. Thanks before.

Chanyeol mematung. Seolah oksigen di sekitarnya menghilang begitu saja, dadanya serasa sesak saat melihat orang yang tengah berciuman itu adalah Kris dan Baekhyun –kekasihnya.

"B–Baekhyun?"

Suara bass itu berhasil menyadarkan Baekhyun dari keterkejutannya. Matanya semakin melebar saat melihat Chanyeol berdiri di ambang pintu. Refleks, didorongnya kasar Kris sehingga melepaskan pagutan bibir mereka. "C–Chanyeol? A–aku–"

"Apa–kenapa kau..," Chanyeol speechless. Pikirannya mendadak kacau. Rasa marah, kecewa, dan bingung bercampur jadi satu.

"Aku bisa jelaskan, Yeol." ucap Baekhyun seraya mendekati Chanyeol, tapi itu hanya membuat Chanyeol memundurkan langkahnya. Baekhyun berhenti dan menatap Chanyeol. Hatinya benar-benar sakit melihat tatapan kecewa dari mata Chanyeol. Dia tidak menyangka Chanyeol akan datang dan dia tidak tahu kenapa dia bisa memergokinya di saat yang paling tidak tepat. Tapi itu bukanlah yang terpenting saat ini. Yang penting, Chanyeol harus tahu bahwa ini hanyalah kesalahpahaman.

"Yeol, kumohon. Kau hanya salah paham." Baekhyun setengah frustasi meyakinkan Chanyeol, tapi pria tinggi itu sepertinya masih bingung dengan situasi ini. Kris yang memahami situasi inipun memanfaatkannya sebaik mungkin. Dihampirinya Chanyeol dengan seringaian andalannya sehingga pria bermata bulat itu menatapnya tajam.

"Inikah yang ingin kau perlihatkan padaku?" desis Chanyeol.

"Menurutmu?"

Chanyeol mengepalkan kedua tangannya kuat –menahan emosi. "Kalau kau pikir kau bisa merusak hubungan kami karena tindakan bodohmu, maka kau salah besar." tandasnya, membuat Baekhyun tertegun.

Chanyeol masih mempercayainya.

Sejenak Baekhyun bisa bernapas lega karenanya. Namun berbeda dengan Kris. Pria berambut pirang itu mendengus –meremehkan ucapan cheesy Chanyeol.

"Benarkah? Apa kau juga akan tetap berpikiran sama saat mengetahui bahwa Baekhyun sebenarnya tidak benar-benar mencintaimu?"

Baekhyun dan Chanyeol sama-sama terkejut mendengarnya.

Chanyeol mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Kau itu hanya bahan taruhan Baekhyun dan Jongin."

"Hyung!" bentak Baekhyun. Dia tidak menyangka Kris tahu mengenai hal itu, meski dia berani bersumpah itu bukanlah taruhan. Kini matanya beralih pada Chanyeol yang sedang menatapnya tak percaya. "Yeol, kumohon, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku benar-benar mencintaimu." Baekhyun berusaha meyakinkan Chanyeol kembali.

"Kalau begitu, apa?! Apa yang diucapkannya itu benar?!" tanya Chanyeol setengah emosi. Melihat Baekhyun terkesiap karena bentakannya, Chanyeol menetralkan kembali suaranya. "Kau menjadikanku bahan taruhan? Kau mempermainkanku?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat. Matanya sudah perih dan rasa sesak di dadanya semakin menyiksanya. "Aku tidak pernah menjadikanmu taruhan, oke? A–aku hanya ingin membuktikan pada Jongin bahwa aku tidak pernah berpikiran dangkal akan pria yang kukencani."

Chanyeol tertegun. Matanya menatap mata Baekhyun –seolah mencari kebohongan di dalam sana tapi tidak ada. Itu bahkan membuat hatinya semakin sakit. Itu semakin membuatnya jelas –bahwa Baekhyun tidak pernah benar-benar mencintainya.

"Karena itu kau mengubah penampilanku? Kau tidak pernah benar-benar menyukaiku saat itu?"

Baekhyun terkesiap karena ucapan Chanyeol. Dia tidak menyangka ucapannya bisa menjadi bumerang bagi dirinya.

"B–bukan begitu, Yeol. Kumohon, percayalah padaku." Suara Baekhyun mulai bergetar. Tapi pria jangkung itu menggeleng pelan seraya memundurkan langkahnya –mendekati pintu keluar.

"Ternyata aku salah menilaimu, Baek."

Dan Chanyeol-pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Baekhyun yang sudah mengeluarkan airmatanya.

.

.

.

###

FINDING PRINCE CHARMING

Part 11 Do You Truly Love Me?

by Pupuputri

Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Support Casts : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Wu Kris, Oh Sehun, Xi Luhan

Genre : Romance, Comedy

Rate : M

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: Part ini adalah part paling galau sekaligus klimaks FF ini. Perasaan Baekhyun mulai diragukan Chanyeol dan ah–gak rame kalo diceritain. Jadi, langsung aja dibaca dan jangan lupa kasih review!

###

.

.

.

Keadaan kamar apartemen Chanyeol sudah tak berbentuk lagi. Pria jangkung itu kembali dengan emosi dan melampiaskan emosinya pada barang-barang di sekitarnya. Darah mengucur deras dari tangan kanannya akibat memukul cermin kamar mandinya sampai hancur, tapi dia tidak peduli. Pria jangkung itu hanya terduduk di pintu kamar mandinya sambil menunduk. Mengingat kembali kejadian di hotel Kris tadi hanya membuat dadanya semakin sesak sampai bernapas saja terasa sulit baginya.

"Baekhyun.." gumamnya lirih. Dia merasa matanya mulai perih karena rasa sesak itu.

Chanyeol tidak pernah sekalipun dipermainkan sampai sebegininya oleh seseorang. Meskipun Baekhyun tidak benar-benar menjadikannya taruhan, tapi tetap saja itu membuat hatinya sakit. Seharusnya dia tahu alasan di balik Baekhyun merombak penampilannya. Seharusnya dia tahu semua sikap manis Baekhyun selama ini perlihatkan padanya bukanlah bentuk cinta. Seharusnya dia tahu Baekhyun tidak pernah memiliki perasaan khusus padanya. Itu karena Baekhyun tidak bisa menerima Chanyeol seutuhnya. Seharusnya dia mengetahui itu sejak awal, tapi perasaannya pada pria manis itu membutakannya. Jongin benar. Baekhyun memang selalu berpikiran dangkal. Lalu sekarang apa? Menyesalinyapun percuma. Chanyeol merasa sangat bodoh sekarang. Menyadari dirinya selama ini hanya menari-nari di atas telapak tangan seorang Byun Baekhyun, membuatnya seperti orang paling tolol di dunia.

"Kenapa, Baek?"

Airmata mengalir di pipi Chanyeol. Pria itu menangis dalam diam sambil menunduk.

###

Baekhyun terisak dalam tidurnya. Menyadari airmatanya keluar, pria mungil itu membuka matanya. Napasnya begitu memburu dengan airmata yang mengalir di pipinya. Dia menatap sekelilingnya –masih dengan mata berair. Dia berada di kamar apartemennya. Kini perhatiannya dialihkan pada jam beker di nakas sebelah ranjangnya. Jam sembilan pagi. Ah, Baekhyun terlambat masuk kelas. Matanya terpaku pada sebuah pigura foto di sebelah jam beker itu. Fotonya dengan Chanyeol saat di Jinhae. Mereka berdua nampak bahagia disana, membuat dadanya kembali sakit saat membandingkannya dengan kejadian kemarin. Pria itu mengerang, kemudian menghapus airmata yang hampir jatuh lagi. Disibaknya selimut yang menyelimuti tubuhnya, kemudian beranjak menuju dapur.

Saat Baekhyun hendak mengambil telur dari lemari es-nya, suara bel pintu apartemennya menginterupsi kegiatannya. Dengan malas, Baekhyun menutup kembali lemari es-nya dan berjalan menuju pintu. Tanpa melihat siapa orang itu terlebih dahulu melalui intercom, Baekhyun membukakan pintu itu. Seketika matanya membulat sempurna saat menemukan sosok Kris berdiri disana. Dengan cepat, Baekhyun menutup pintu itu, tapi dia kalah cepat dengan Kris. Kris menahan pintu itu agar tetap terbuka, sedangkan Baekhyun berusaha menutupnya dengan mendorongnya.

"Baek, kumohon dengarkan dulu penjelasanku!" seru Kris.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" balas Baekhyun. Dia menambah tenaganya untuk menutup pintu itu, tapi tentu saja dia kalah dengan tenaga Kris. Akhirnya pintu kamar apartemen Baekhyun terbuka lebar. Baekhyun terlanjur malas untuk berhadapan dengan Kris, jadi dia memutuskan untuk pergi ke dalam tanpa memedulikan Kris.

"Baek, dengarkan aku dulu!" Kris menahan lengan Baekhyun, tapi kemudian ditepis oleh si pemilik lengan. Baekhyun menatap tajam ke arah Kris. Matanya benar-benar menunjukkan bahwa dia sangat marah pada pria berambut pirang itu. "Beri aku sepuluh–tidak, lima menit saja untuk bicara." pinta Kris memelas.

Baekhyun benar-benar malas mendengarkan Kris sekarang, tapi dia tidak bisa menolaknya. Hatinya masih menganggap Kris sebagai sahabatnya dan itu membuat dirinya terlihat lemah.

"Empat menit, lima puluh detik." ucap Baekhyun sambil melipat tangannya di dada.

Kris senang karena Baekhyun mau memberinya kesempatan untuk bicara. Tanpa berbasa-basi lagi, dia segera mengeluarkan apa yang ingin dikatakannya, "Aku minta maaf, Baek. Aku tahu sikapku keterlaluan kemarin, tapi aku melakukannya karena aku mencintaimu." Baekhyun tidak menjawabnya, hanya menatapnya tajam. "Kau tidak mengerti, Baek. Aku mencintaimu jauh sebelum Chanyeol bertemu denganmu. Cobalah mengerti posisiku, Baek."

"Lalu bagaimana dengan posisiku? Apa kau pernah mencoba mengerti posisiku?" balas Baekhyun sinis.

"Aku tahu kau kesal padaku, aku mengerti. Tapi rasa ini benar-benar membunuhku dan aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Baek. Aku benar-benar mencintaimu. Aku mencintaimu sampai sesak rasanya. Rasa ini sudah kupendam sejak dulu dan–"

"Lalu kemana saja kau selama ini?! Kalau kau memang mencintaiku, seharusnya kau berada di sisiku!" tandas Baekhyun, membuat Kris mati kutu.

"Maafkan aku, Baek." ucap Kris pelan –nyaris seperti bisikan.

Baekhyun menghela napas panjang, kemudian mendekati Kris. "Aku yang seharusnya minta maaf, Hyung. Aku seharusnya lebih peka pada perasaanmu. Aku hargai perasaanmu padaku, tapi maaf..," Baekhyun memberi jeda di antara kalimatnya, "..aku tidak bisa membalasnya."

Kalimat itu terasa begitu menyakitkan bagi Kris. Dia hanya bisa menunduk dengan rahang yang sudah mengeras. Baekhyun tahu Kris kecewa dengan jawabannya, tapi dia tetap tidak menyesal. Digenggamnya tangan Kris, membuatnya menatap Baekhyun. "Aku mencintai Chanyeol. Kau memang benar, pada awalnya aku memang tidak pernah memiliki perasaan khusus padanya, tapi dia bukanlah bahan taruhanku ataupun Jongin. Yang kutahu sekarang adalah perasaanku padanya tulus. Karena itu, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Maaf."

Kris menelan ludahnya kasar. Matanya sibuk menatap sekeliling kamar Baekhyun karena matanya sudah terlalu perih. Menatap pria manis itu hanya membuat hatinya semakin sakit. "Jadi, begitu saja? Kau tidak bisa memberiku kesempatan lagi?" Baekhyun menunduk, kemudian menggeleng pelan. Kris menghembuskan napasnya kasar, kemudian tersenyum getir. "Arasseo. Aku tidak akan mengganggumu lagi ataupun Chanyeol."

Baekhyun memberanikan diri menatap Kris. Tak bisa dipungkiri hatinya ikut sakit melihat sahabatnya terluka karenanya. "Maafkan aku, Hyung. Kau adalah sahabatku dan aku menyayangimu. Aku hanya–"

"Aku mengerti." Kris memotong ucapan Baekhyun. "Terima kasih telah memberiku jawaban, Baek." Kali ini Kris tersenyum tulus. Setidaknya hatinya sudah lega karena rasa yang selama ini dipendamnya sudah ia keluarkan.

"Boleh aku memelukmu?" Baekhyun terkekeh, kemudian mengangguk. Mereka berduapun berpelukan erat –pelukan antar sahabat. "Ngomong-ngomong, bunga mawar dalam vas kristal itu dariku."

Baekhyun terkejut, kemudian melepas pelukan mereka. "Itu darimu?" Kris mengangguk. "Heol. Kupikir itu dari penguntitku."

"Aku memang penguntitmu." ujar Kris dengan senyuman jahilnya, membuat Baekhyun terkekeh. "Kau mau aku bicara dengan Chanyeol?" tawarnya.

Baekhyun menggeleng pelan. "Aku yang akan bicara dengannya."

"Baiklah, kalau begitu." Kris mengangguk paham.

###

Jongin membulatkan matanya saat melihat pria berkacamata duduk di sebelahnya. Itu Chanyeol dengan penampilan culunnya –meski tatanan rambutnya tidak klimis (hanya acak-acakan) dan kancing kemejanya dilepas satu. Jongin sempat menganga sebelum akhirnya kembali ke alam nyata. Diapun bertanya pada Chanyeol, "Ada apa dengan kacamata itu?"

Dan pertanyaan itu membuat Chanyeol mendelik ke arahnya, membuat Jongin ngeri juga.

"Maaf, bercanda. Aku hanya kaget kau tiba-tiba mengenakan kacamata lagi. Bukankah Baekhyun menyuruhmu untuk menggantinya dengan kontak lensa?"

Lagi-lagi pertanyaan itu membuatnya mendapatkan death glare dari Chanyeol. Jongin menelan ludahnya kasar. "Kalian sedang bertengkar lagi?" tebaknya hati-hati.

"Bukan urusanmu." tandas Chanyeol sinis.

"Kau tahu? Dalam beberapa bahasa, 'bukan urusanmu' itu artinya 'tebakanmu benar'."

Jongin benar-benar tidak bisa baca situasi, padahal terlihat jelas bahwa Chanyeol sedang kesal padanya.

"Dalam beberapa bahasa, 'bukan urusanmu' artinya 'tutup mulutmu atau kujahit paksa dengan tanganku sendiri'." balas Chanyeol tanpa menatap Jongin, membuat Jongin (lagi-lagi) menelan ludahnya kasar.

"Arasseo, arasseo. Kau sedang tidak ingin diganggu. Aku mengerti. Astaga." Jongin mengalah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mereka benar-benar mirip anak SMA –batin Jongin.

"By the way, kacamata bening cocok juga untukmu."

Chanyeol tertegun. Dia baru sadar bahwa dirinya mengenakan kacamata pemberian Baekhyun. Mendadak rasa rindu muncul di hati Chanyeol. Dia merindukan senyuman Baekhyun dan suaranya yang memanggil namanya. Ah, rasa sesak itu muncul lagi, padahal Chanyeol hanya memikirkan Baekhyun selama beberapa detik. Chanyeol segera menggelengkan kepalanya –menepis Baekhyun dari pikirannya.

Jangan pikirkan dia, Park Chanyeol –batinnya.

###

"Chanyeol-ah.."

Suara itu berhasil menghentikan langkah Chanyeol. Wajahnya yang sedari tadi menunduk, kini menatap si pemilik suara. Sontak jantungnya berdebar keras saat menemukan Baekhyun berdiri di samping mobilnya. Chanyeol mengepalkan kedua tangannya.

Sial.

Chanyeol ingin memeluknya, tapi dengan cepat ditepisnya keinginannya itu.

"Aku ingin bicara." ucap Baekhyun, tapi diacuhkan Chanyeol. Pria jangkung itu masuk ke dalam mobilnya tanpa menatap manik Baekhyun. "Yeol, kumohon. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Baekhyun memelas, namun Chanyeol masih tidak bergeming. Dia hanya menatap kosong setir mobilnya, kemudian menatap Baekhyun melalui kaca mobilnya. Sungguh, dia juga ingin bicara dengan Baekhyun. Tapi ego-nya masih lebih besar daripada hati kecilnya. Jadi –tanpa menatap Baekhyun lagi, Chanyeol menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan Baekhyun yang menyerukan namanya dari kejauhan.

Hatinya sakit.

Sangat sakit.

Tapi dia tidak bisa menatap Baekhyun untuk saat ini. Karena setiap kali menatap wajah kekasihnya, emosi Chanyeol kembali tersulut. Dia ingin sendirian untuk sementara waktu.

Tapi Baekhyun tidak menyerah.

"PARK CHANYEOL! KALAU KAU TIDAK KELUAR, AKU AKAN MENERORMU SETIAP HARI!"

Sementara itu, Chanyeol sedang menutup kepalanya dengan bantal karena ini sudah setengah jam Baekhyun berteriak di depan kamar apartemennya dan Chanyeol hanya bisa berharap tetangganya tidak merasa terganggu dengan suara cemprengnya.

"Aish, kenapa dia keras kepala sekali sih?!" Chanyeol berdecak kesal. Dia masih bertahan dengan ego-nya untuk tidak bicara dengan Baekhyun.

"HUWAAAAAAAAAAA! CHANYEOL JAHAAAAAAATT! KENAPA KAU TIDAK MAU KELUAAAAAAAAR?!"

Chanyeol mengeluarkan ekspresi datar. "Sekarang dia berakting, hah?"

"PARK DOBBI, CEPAT KELUAR ATAU AKU AKAN TELANJANG BULAT DISINI!"

Dan itu membuat Chanyeol terkesiap. Dia segera berlari menuju pintu dan membuka pintunya. Napasnya yang agak tercekat tadi, kini bisa bernapas normal kembali. Untunglah Baekhyun belum melepaskan sehelai benangpun karena dia bisa malu kalau sampai kekasihnya telanjang bulat di depan kamarnya, terlebih lagi dia tidak ingin orang lain melihatnya telanjang. Tapi itu semua hanya akting. Chanyeol yang bodoh baru menyadari itu setelah melihat Baekhyun tengah tersenyum lebar padanya. Astaga, cepat panggil dokter spesialis jantung. Sepertinya jantung Chanyeol hampir jatuh dari tempatnya karena senyuman manis Baekhyun.

"Akhirnya kau keluar ju–"

BLAM! –Chanyeol menutup kasar pintu apartemennya.

Dia merasa tolol karena tertipu dengan mudahnya pada salah satu trik Baekhyun.

"YAK, DOBBI! BERANI-BERANINYA KAU MEMBANTING PINTU TEPAT DI WAJAHKU?! KAU–"

"Pulanglah." Suara Chanyeol melalui intercom menginterupsi teriakan Baekhyun. "Kumohon pulanglah, Baek." Chanyeol terdengar memelas.

Baekhyun menghela napas panjang, kemudian berjalan pulang dengan lunglai. Sepertinya Chanyeol memang belum ingin bicara dengannya.

###

"Ooh, jadi begitu." Jongin berkomentar setelah Baekhyun menceritakan masalahnya dengan Chanyeol. "Pantas saja dia jadi aneh semenjak kemarin."

"Aku harus bagaimana?" Baekhyun mengerang frustasi.

Jongin, Sehun, dan Luhan hanya bisa saling berpandangan. Baru kali ini –setelah beberapa tahun, mereka melihat Baekhyun frustasi karena masalah cinta. Kejadian seperti ini hanya muncul di saat Baekhyun benar-benar jatuh cinta pada seseorang.

"Menurutku sih lebih baik kau beri dia waktu untuk sendiri dulu." Sehun beropini dan disambut anggukan dari Luhan.

"Aku setuju. Semua ini mungkin masih membuatnya bingung, jadi sebaiknya kau biarkan saja dulu Chanyeol." timpal Luhan.

Baekhyun menghela napas panjang. "Mungkin kalian benar."

Tapi tetap saja itu membuat hati Baekhyun tidak tenang. Otaknya selalu saja memikirkan sosok pria bertelinga lebar itu. Dia ingin segera membereskan kesalahpahaman ini, tapi sepertinya sahabat-sahabatnya ada benarnya juga. Chanyeol mungkin hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

###

Pertahanan Baekhyun hampir runtuh. Dia sudah tidak tahan lagi. Ini sudah tiga hari semenjak Baekhyun memutuskan untuk memberikan waktu untuk Chanyeol sendirian dan dia hampir menjadi penguntit Chanyeol. Hampir.

"Aku. Bisa. Gila." ucapnya penuh penekanan. Benar-benar terdengar depresi.

Ini hari Minggu dan dia tidak mood kemana-mana atau melakukan apapun selain menatap ponselnya. Jempol Baekhyun mengelus pelan layar ponselnya, mengelus foto Chanyeol yang tersenyum lebar. Dia rindu Chanyeol. Tidak bisa digambarkan betapa dia merindukan senyuman bodoh Chanyeol, rona wajah Chanyeol saat dia menggodanya, juga suara bass itu. Ah, Baekhyun benar-benar hampir gila dibuatnya. Jemarinya menekan layar ponselnya, mulai memasuki aplikasi pesan dan menulis sebuah pesan singkat –tanpa mengirimnya.

Aku merindukanmu..

Singkat, tapi–

PIP!

Baekhyun melotot saat tulisan di layar ponselnya mengatakan bahwa pesan telah dikirim.

Baekhyun bodoh.

Dia terlalu lemot untuk menyadari hal yang baru dilakukannya.

"YA TUHAN, YA TUHAN, BAGAIMANA INI?!" Baekhyun panik. "KENAPA MALAH TERKIRIM?! AAAARRGH! JARI-JARI BODOH!" Baekhyun mengumpat jari-jarinya sendiri –"–

Di tempat lain, Chanyeol tengah mematung karena pesan yang baru didapatnya. Itu pesan dari Baekhyun. Singkat, tapi benar-benar menohok hatinya. Tanpa sadar, pria jangkung itu mengembangkan senyumannya. Dia sendiri juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Dia juga sama rindunya dengan Baekhyun, namun dia masih bertahan untuk tidak mengontak Baekhyun duluan. Dia ingin memberi pelajaran untuk Baekhyun –dimana ini sangat menyiksa Chanyeol juga. Tapi dia tidak menyangka Baekhyun akan mengiriminya pesan seperti ini setelah tiga hari tidak menghubunginya. Pertahanan Chanyeol hampir runtuh, namun Chanyeol berusaha sekuat tenaga untuk tidak membalas pesan itu.

"Tidak. Belum waktunya." gumamnya seraya menyimpan ponselnya kembali di saku.

###

Chanyeol sedang melajukan mobilnya menuju apartemennya sepulangnya dari supermarket dekat apartemennya. Chanyeol tidak bisa berhenti memikirkan kekasihnya apalagi setelah mendapat pesan singkat itu. Pikirannya selalu dipenuhi dengan Baekhyun, Baekhyun, dan Baekhyun. Apakah kekasihnya makan dengan teratur –mengingat dia selalu salah pengertian dengan kata 'diet'? Apakah kekasihnya baik-baik saja tanpanya? Dan masih banyak lagi pertanyaan dalam benak Chanyeol. Dia hampir gila dibuatnya.

Saat dia akan berbelok di tikungan, seorang pria tiba-tiba berlari ke jalanan, membuat Chanyeol refleks menginjak rem. Chanyeol membuka matanya –yang tadi sempat ditutupnya karena saking kagetnya– saat mobilnya berhasil berhenti. Dia tidak merasakan mobilnya menabrak apapun, tapi dia juga tidak menemukan pria yang hampir ditabraknya tadi. Tanpa buang-buang waktu lagi, Chanyeol segera turun dari mobilnya. Dia kaget saat melihat pria yang hampir ditabraknya tadi menunduk sambil melindungi kepalanya dengan tangannya. Tapi entah kenapa, sosok itu tidak terlalu asing bagi Chanyeol.

"K–kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol seraya menghampiri sosok itu. Pria mungil itu menoleh ke arah Chanyeol, berhasil membuat mata Chanyeol membulat sempurna. "K–Kyungsoo?"

"C–Chan..hiks.." Kyungsoo terisak. Chanyeol baru menyadari bahwa Kyungsoo sedang menangis.

"K–kau kenapa? Apa aku menabrakmu? Apa kau terlu–"

Ucapan Chanyeol terpotong karena tiba-tiba Kyungsoo memeluknya. Chanyeol tertegun –bingung dengan tindakan Kyungsoo. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengelus puncak kepala Kyungsoo. Kyungsoo jarang sekali menangis. Jadi, Chanyeol berasumsi bahwa pria mungil ini sedang memiliki masalah.

"Masuklah. Kita bicara di apartemenku." Chanyeol memapah Kyungsoo menuju mobilnya, kemudian melajukan kembali mobilnya menuju apartemennya. Selama di perjalanan, Kyungsoo tidak berhenti terisak, membuat Chanyeol khawatir padanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada pria mungil itu?

Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di apartemen Chanyeol. Pria jangkung itu memapah Kyungsoo, kemudian masuk ke dalam apartemennya. Di sudut lain, seorang pria pendek dengan mata berhiaskan eye-liner tengah menatap Kyungsoo dan Chanyeol dengan tatapan tajam. Itu Baekhyun. Kedua tangannya mengepal kuat, sedangkan rahangnya sudah mengeras. Dia berusaha meredam emosinya dengan berpikiran positif meski hatinya sudah sangat panas saat ini. Dia yang awalnya berhasil menyingkirkan ego-nya dan hendak menemui Chanyeol di apartemennya, malah disuguhkan oleh pemandangan itu. Baekhyun kembali mengubur keinginannya untuk bertemu Chanyeol. Dalam hatinya, dia terus meyakinkan dirinya untuk tidak berpikiran negatif tentang pemandangan itu.

Chanyeol pasti punya alasan sendiri –batin Baekhyun.

Kemudian diapun pergi dari sana.

###

TING TONG.

Chanyeol yang sedang sibuk memasak di dapur, segera berlari menuju pintu untuk membukanya. Pria jangkung itu terbelalak saat menemukan pria yang sangat dirindukannya sedang berdiri tepat di hadapannya. Baekhyun yang sedari tadi menunduk, memberanikan diri untuk menatap Chanyeol. Saat manik Baekhyun bertemu dengan manik Chanyeol, Chanyeol sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak memeluk pria mungil itu sekarang juga. Itu membuat jantungnya berdegup gila. Keadaan hening selama beberapa saat, membuat mereka berdua terlihat canggung.

"Uh..masuklah." ucap Chanyeol –memecahkan keheningan. Baekhyun cukup terkejut atas respon yang diberikan Chanyeol. Sesaat, hatinya merasa senang saat pria jangkung itu mau menemuinya. Sepertinya Baekhyun membuat keputusan yang tepat untuk menemui Chanyeol lagi.

Baekhyun mendudukkan dirinya di sofa, disusul dengan Chanyeol yang duduk di sofa lainnya. Keadaan kembali canggung. Baekhyun tidak menyangka hal ini akan terjadi, jadi dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

Ayolah, Baek! Katakan sesuatu! –seru Baekhyun dalam hati.

"Um..bagaimana kabarmu?" tanya Baekhyun –memulai percakapan basa-basi.

"Baik. Kau sendiri?" Chanyeol balik bertanya.

"A–aku juga baik."

Hening kembali.

Baekhyun hanya bisa menunduk sambil merasakan jantungnya bertalu-talu. Dia tidak bisa berhenti memainkan jemarinya saking gugupnya. Chanyeol yang mengetahui hal itu, segera bangkit dari duduknya. "Aku akan buatkan minum dulu."

Akhirnya Baekhyun dapat merasakan oksigen di sekitarnya setelah sebelumnya sulit mendapatkannya. Pria pendek itu merutuki kebodohannya dengan memukul pelan kepalanya. Chanyeol melihat itu melalui ekor matanya. Tanpa sadar, pria jangkung itu mengembangkan senyum simpulnya –yang tidak diketahui Baekhyun tentunya. Pandangannya tidak pernah lepas dari sosok mungil yang sedang sibuk mengamati seisi kamar apartemennya. Perasaan Chanyeol sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kekasihnya. Dia senang, bingung, sekaligus gugup, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya seperti yang Baekhyun lakukan. Entah sejak kapan dia pandai berakting.

"Maaf, Yeol." ucap Baekhyun saat Chanyeol meletakkan minuman di atas meja. Pria jangkung menatap Baekhyun lurus. "Atas sikap Kris Hyung, juga sikapku. Aku tahu aku salah dan aku sangat menyesal. Maafkan aku, Yeol." Suara Baekhyun terdengar bergetar.

Chanyeol tidak tahu harus berkata apa. Dia tahu Baekhyun tulus minta maaf padanya, tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana dengan perasaannya. Dia masih kecewa pada Baekhyun, tapi dia tidak bisa berlama-lama marah padanya apalagi setelah Baekhyun minta maaf padanya.

"Aku–"

Ucapan Chanyeol terpotong karena ponselnya yang berdering. Diambilnya ponsel itu dan melihat nama si penelepon. Itu dari Kyungsoo.

"Ada apa, Kyungsoo-ya?"

Jantung Baekhyun berdegup kencang saat nama Kyungsoo keluar dari mulut kekasihnya. Sejak kapan mereka bertukar nomor ponsel? Apa kemarin? –tanya Baekhyun dalam benaknya.

"Tenanglah, Kyung. Aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas kalau kau menangis seperti itu." Chanyeol terdengar khawatir dan itu membuat Baekhyun cemburu. "A–arasseo. Kau tunggu disitu, aku akan segera kesana." Chanyeol memutuskan sambungan dan segera bangkit dari duduknya. Baekhyun refleks menahan lengannya.

"Kau mau menemui Kyungsoo?"

"Maafkan aku, Baek. Kyungsoo membutuhkanku. Kau bisa pulang sendiri'kan?"

Kalimat itu berhasil membuat dada Baekhyun nyeri.

Chanyeol hendak melepaskan tangan Baekhyun dari lengannya, tapi pria pendek itu semakin mencengkeramnya. "Baek, lepaskan aku. Kyungsoo sedang me–"

"Kumohon jangan pergi." ucap Baekhyun memelas. Matanya mulai terasa perih karena kekasihnya lebih mengutamakan mantan kekasihnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia sangat cemburu. Sudah cukup ia melihat Chanyeol memedulikan mantan kekasihnya. Dia ingin egois sekali ini saja.

"Jangan seperti ini, Baek. Kyungsoo sedang da–"

"AKU TIDAK INGIN KAU MENEMUINYA!" Baekhyun berteriak –memotong ucapan Chanyeol lagi. Napasnya begitu memburu karena jantungnya berpacu begitu cepat. Baekhyun menatap mata Chanyeol dengan pandangan sememelas mungkin, berharap kekasihnya mau tinggal dan meladeni keegoisannya.

Chanyeol terlihat bimbang. Hatinya ikut sakit saat melihat mata kekasihnya yang sudah menggenangkan bulir bening itu. Tapi dia sendiri tidak bisa membiarkan Kyungsoo yang sedang dalam kesusahan. Kyungsoo jauh lebih membutuhkannya saat ini. Jadi dengan berat hati, Chanyeol melepaskan tangan Baekhyun. "Maafkan aku, Baek."

Baekhyun terkesiap karena ucapan Chanyeol. Saat Chanyeol pergi dan menghilang di balik pintu, tubuh kecil Baekhyun merosot begitu saja –merasa seluruh tenaganya menghilang entah kemana. Pria pendek itu masih mematung di tempatnya, menatap kepergian Chanyeol dengan tatapan tidak percaya. Dia merasa dunia berhenti berputar untuk sesaat. Airmatanya sudah mengalir di pipinya. Hatinya benar-benar sakit kali ini. Jauh lebih sakit dibandingkan saat melihat tatapan kecewa Chanyeol beberapa hari yang lalu, jauh lebih sakit dibandingkan saat melihat Chanyeol memapah Kyungsoo ke dalam apartemennya.

Apakah aku salah untuk bersikap egois sekali saja? Apakah aku tidak lebih berarti daripada Kyungsoo? Apakah Chanyeol masih mencintai Kyungsoo? –Baekhyun berkutat dengan berbagai pertanyaan dalam otaknya, namun dia tidak bisa menemukan jawabannya.

Untuk pertama kalinya, Baekhyun meragukan perasaan Chanyeol terhadap dirinya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa terisak di kamar apartemen Chanyeol.

TBC

Ada yang nangis? Alhamdulillah kalo ada #plakk!

Dramanya sempet gagal di tengah-tengah gara-gara si Baek mau telanjang bulat –"– entah kenapa mimik serius saya langsung hilang dan ngakak sendiri pas ngetiknya *dijedotin readers ke tembok*

So? Masih penasaran? Berikutnya adalah part terakhir, jadi review yang banyak dulu ya!

Thanks banget buat yang udah review sebelumnya. So sorry saya gak bisa bales satu-satu, TAPI saya tetep baca semua review kalian. So thank you so much for your support and your reviews, I really appreciate them. LOVE YOU ALL *hug tightly*

SUPER THANKS TO:

48BemyLight, muchaaannn, neli amelia, anaals, Byun Byun, KT CB, baekyeoljung, narsih556, elfirda365, VijnaPutri, Sniaanggrn, Uchiha Tachi4Sora, AnaknyaChanbaek92, baeqtpie, hunniehan, exoblackpepper, edifa, reiasia95, bellasung21, nia.aries, alfi95, DinAlya, farfaridah16, KyusungChanbaek, guest, YOONA, liddypark, ksbsuwkddus, Guest, tanpanama, bebek goreng, Vitamin, CanyulCintaBekyunYadongtralala, aquariusbaby06, Ohmypcy, Re. Tao, dewi. min, ChenMinDongsaeng14, ThatXX, GuestGuestGuest, Yeolliestring (aww~ makasih sarannya, saya juga berharap hal yang sama, tapi kayaknya kalo karya tulis yaoi masih sulit di Indo ya?), dyahclloelfblue