Disclaimer: I don't own Digimon
Chapter 11
Malam yang indah, Cahaya terang dari Harapan!
Siang yang cukup terik, para digimon telah kembali pada partner masing-masing. Betapa bahagia mereka, Taichi bersama Agumon sedang bertanding sepak bola dengan Daisuke, ya tentu Veemon ada disana. Yamato dan Gabumon sedang berlatih musik, teman-teman satu band-nya pun tidak mempermasalahkan makhluk bertanduk itu. Sora, Mimi, Piyomon dan Palmon sedang berjalan-jalan di suatu mall, mereka membeli banyak pakaian dan aksesoris. Jyou dan Gomamon mereka kembali ke apartement, Gomamon sedang berbaring di tempat tidurnya sementara Jyou sibuk membaca buku pelajaran. Miyako dan Iori juga kembali ke apartement, mereka memang dijanjikan untuk makan siang disana. Ken dan Wormmon kembali ke-rumah, Ia membantu Ibu-nya untuk memindahkan barang-barang. Sementara Takeru dan Hikari beserta digimon mereka, melanjutkan piknik kecil yang telah direncanakan.
"Nee, Takeru-kun.. kau mau ini?" Hikari mengeluarkan roti isi dari kotak makannya.
"Wah, apa kau membuatnya sendiri?" Takeru menerimanya.
"Tentu" Hikari menjawab, "Bagaimana rasanya?"
"Enak! aku tidak percaya Ibu-mu memiliki seorang gadis yang roti buatannya tidak menyiksa." Takeru berkomentar mengingat apa yang terjadi padanya saat terakhir kali makan siang di apartement Hikari.
"Terimakasih, Takeru-kun" Hikari tersenyum mendengarnya, ia memang sudah biasa mendengar komentar tentang Ibunya, karena bagaimanapun.. Ia juga mengetahuinya.
"Takeruuu, aku juga mau!" Patamon berusaha mengambil roti isi di tangan Takeru.
"Patamon, aku memiliki sesuatu untukmu" Hikari merogoh tas, dan mengeluarkan sebatang cokelat.
"Ah, Asyik! Kau memang baik, Hikari" Patamon terbang kearahnya.
"Lalu, bagaimana dengan digimon-mu ini?" Tailmon berkata sambil membelakangi Hikari.
"Tailmonn, tentu saja.. Ini untuk mu" Hikari mengeluarkan kotak biskuit yang biasa habis oleh Tailmon.
"Kau memang tau apa yang aku suka" Tailmon berbalik dan melompat ke pangkuan Hikari.
"Nee, Tailmon.. apa itu?" Patamon yang baru saja melahap habis coklatnya, melihat kearah Tailmon yang sedang mengambil beberapa biskuit dari kotak.
"Ah, aku tidak tau tapi ini enak.. Coba saja" Tailmon mengulurkan kotak itu dan Patamon menghampirinya.
"Sangat enak!" Patamon melumat biskuit itu dimulutnya.
"Hikari, sepertinya memang biskuitnya yang enak dan bukan aku yang rakus" Tailmon mengambil beberapa dan memasukannya kedalam mulut.
"Aku juga menyukainya, saat aku kecil, Onii-chan dan aku sering diajak untuk membeli biskuit ini." Hikari tersenyum pada digimon-nya.
"Itulah mengapa Taichi sering mencarinya di lemari!" Tailmon melihat kearah Hikari dengan ekspresi tidak percaya.
"Jika kau mengatakan yang sebenarnya, ia mungkin akan memulangkan mu ke dunia digital saat itu juga. Hahaha" canda Hikari.
"Aku lebih nyaman tinggal bersama-mu, Hikari.."
"Tentu, aku juga" Hikari mengelus kepala Tailmon.
"Aku juga ingin selamanya tinggal bersama Takeru, namun terkadang aku merindukan dunia digital." Patamon kembali pada pangkuan Takeru.
"Tidak lama lagi teman, kami akan membawa kalian pulang."
"Saat waktu itu tiba, sepertinya kita tidak perlu takut pada Kuwagamon!" Patamon memberi senyumnya.
"Hati-hati Patamon, jika Air Shot mu tidak dapat menghentikannya.. Aku tidak akan berharap apapun." Takeru mengatakan dengan nada tidak peduli, ia ingin melihat reaksi Patamon.
"Takeruu, kau jahat!" Patamon berbalik dan memukulkan tangan kecilnya.
"Hahaha, tentu tidak Patamon.. Aku tidak akan kehilangan sedikitpun harapan."
"Hei, Patamon.. Apa kau merindukan wujudmu sebagai HolyAngemon?" Tailmon bertanya pada digimon orange bersayap didepannya.
"Aku memang menginginkan-nya untuk terjadi lagi, namun seperti-nya mustahil" Patamon tertunduk lemas.
"Tidak ada yang mustahil, teman" Takeru kembali menaruh Patamon ke pangkuannya.
"Yah, hanya saja.." Tailmon menggenggam ekornya yang panjang dan ber Holy Ring itu.
"Kau tidak usah khawatir, Tailmon. Selama Cahaya dalam tubuhku tidak redup. Kau dapat berubah menjadi Angewomon." Hikari memberi senyuman kepadanya.
"Aku mempercayainya.." Tailmon mengangguk.
"Hikari.."
"Ya, Takeru-kun?"
"Apa kau ingat saat HolyAngemon menyelamatkan kita?" Takeru menatap dalam kearah Hikari.
"Ya, harapan-mu telah menyelamatkan ku" Hikari menaruh kepalanya di pundak Takeru.
"Cahaya-mu yang telah menuntun kami, Hikari"
"Itu adalah arti dari nama-ku. Haha" Hikari tertawa sambil melahap roti isi yang ia bawa.
"Ngomong-ngomong Hikari-chan, apa kau bebas malam ini?"
"Tentu, ada apa Takeru-kun?"
"Yah, aku mau mengajakmu ke suatu tempat.. atau yah sekedar.." Takeru sedikit kebingungan.
"Tapi aku tidak yakin Onii-chan akan mengizinkan ku.." Hikari tertunduk.
"Aku akan mencoba bicara padanya.." Takeru menyentuh pundak Hikari.
"Baiklah, semoga beruntung sehingga kau dan aku…" Hikari tidak melanjutkan kata-katanya.
"Aku akan berusaha.." Takeru mengedipkan mata.
Terjadi keheningan sesaat diantara mereka..
"Takeruu, apa aku boleh ikut?" Patamon terbang dari atas kepala Takeru.
"Tentu, teman.. Kau bisa bersama Tailmon" Takeru meraih teman kecilnya itu.
"Yay! Aku beruntung memiliki partner seperti mu" Patamon tersenyum sangat lucu.
"Ngomong-ngomong, kemana kita akan pergi Takeru-kun?" Hikari bertanya sambil menggendong Tailmon.
"Aku akan mengajakmu kesuatu tempat, kau lihat saja nanti."
"Kau berjanji tidak menyembunyikan rahasia dariku" Hikari melirik nya.
"Memang, dan ini bukanlah rahasia.. Ini adalah kejutan." Takeru tersenyum padanya.
"Kau memang tau bagaimana membuatku kesal. Hahaha" Hikari memukul pelan pundak Takeru.
"Haha, Hikari-chan.. apa kau memiliki sesuatu lagi di tas mu?" Takeru melihat kedalam tas Hikari.
"Er, Tunggu aku lihat dulu.." Hikari merogoh tasnya lebih dalam. "Sepertinya.. habis."
"Kita makan terlalu cepat hahaha"
"Aku juga baru menyadarinya, hahaha" Hikari menutup tasnya.
"Nah, Hikari-chan.. lebih baik aku antar kau pulang sekarang." Takeru memindahkan Patamon ke atas kepalanya.
"Ah, Baiklah.. sebaiknya sebelum Onii-chan sampai.." Hikari bangkit dan mengambil tas-nya.
Perjalanan mereka dari Stasiun Hikarigaoka menuju Odaiba, cukup memakan waktu. Perjalanan yang sedikit membosankan, dan mungkin dapat membuat terlelap.
"Hikari-chan, ayo.." Takeru memanggilnya sambil melangkah masuk ke salah satu gerbong kereta.
Hikari mengikutinya.
"Ah, sepi sekali.. Tidak biasanya kereta ke Odaiba sangat sedikit penumpangnya!" Takeru berkomentar sambil berputar-putar.
"Paling tidak, kita tidak akan berdesak-desakkan nantinya." Takeru tersenyum dan mengambil tempat duduk.
"Ya, aku pun bisa tidur dengan tenang!" Patamon berteriak dari kepala Takeru.
"Tidurlah sepuas yang kau mau, Patamon. Tapi kau harus segera bangun jika terjadi sesuatu." Takeru mengingatkan.
"Tentu, Pegasmon dapat membawa kita dari sini lebih cepat." Ujar Patamon sambil menguap.
Hanya beberapa orang yang terlihat masuk ke dalam gerbong kereta, tidak lebih dari hari kerja biasa. Bahkan masih tersisa beberapa baris kursi kosong.
"Takeru-kun, aku mengantuk. Jika sampai Odaiba tolong beritau aku." Hikari meminta seraya memejamkan mata-nya.
"Baiklah.."
Ditengah-tengah perjalanan, Takeru sedang memikirkan beberapa rencana untuk-nya dan Hikari. Jika Taichi akan mengizinkan, tentu ia akan berusaha melakukan rencana itu dengan semaksimal mungkin.
"Ah, sepertinya yang itu tidak perlu.." Takeru menatap keatas sambil berkata pada dirinya.
"Apa yang akan Hikari katakan nanti?" Ia melihat gadis manis yang sedang tidur disebelahnya.
"Uh, tentu.. Ia sangat cantik walaupun saat tertidur" Takeru mendekatkan dirinya.
"Apa mungkin aku bisa.." pandangan Takeru makin dekat dengan wajah Hikari.
Ia memejamkan matanya, tatapan muka mereka hanya berjarak beberapa centi.
"Stasiun Nakano-Sakaue, Nakano-Sakaue, silahkan keluar di pintu sebelah kiri"
"Uh.." Hikari membuka mata-nya, dan menemukan wajah Takeru hanya beberapa jarak darinya. "Takeru-kun?"
"Hah? Oh, kita sampai." Takeru kembali tersadar dari lamunannya.
Mereka yang telah keluar dari gerbong kereta, langsung melanjutkan langkah menuju Apartement.
"Hei kalian.." Taichi datang dari arah lain diikuti oleh Agumon.
"Taichi-san" Takeru tersenyum menyambutnya.
"Ternyata kau memang bisa menjaga adik-ku" Taichi mengacak-acak rambut Takeru.
"Onii-chan, Takeru mau meminta izin untuk aku pergi bersama-nya malam ini"
"Hah? Kenapa?" Taichi tetap tidak menangkap pembicaraan pertama.
"Aku dan Takeru akan pergi malam ini!" Hikari sedikit berteriak didepan kakaknya.
"Tidak, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu." Taichi kembali menolak seperti biasa.
"Ahh, ayolah Onii-chan.." Hikari memasang wajah memohonnya.
"Aku akan memastikan ia tidak apa-apa, Taichi-san" kali ini Takeru yang mengangkat suara.
"Lihat?"
"Uhh, baiklah.. Aku mempercayaimu Takeru, dan kau ingat. Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu jika sesuatu terjadi pada Hikari." Taichi menatapnya dengan wajah serius.
"Nee, Taichi.. ada apa?" Agumon menarik-narik tangan Taichi dari bawah.
"Ah? Tidak.. haha ayo masuk" Taichi melanjutkan langkah-nya ke dalam apartement.
"Sampai nanti malam, Hikari-chan. Aku akan kesini sekitar pukul 7. Bersiaplah" Takeru mengecup kening Hikari dan berlari ke arah apartementnya.
"Sampai nanti!" Hikari melambaikan tangan.
"Hikari, sekarang apa yang kita lakukan?" Tailmon bertanya
"Ayo kita bersiap, Takeru dan Patamon akan kembali dalam 2 jam" Hikari menarik tangan Tailmon masuk apartement.
Sementara Takeru berlari kearah rumahnya, ia terus memikirkan rencana-nya matang-matang. Ada beberapa benda yang harus ia siapkan, tentu itu adalah bagian dari kejutan.
"Kalung.. kalung.." Ia berlari sambil mencari toko aksesoris. "Nah!"
Ia masuk kedalam toko itu, dan langsung menuju bagian kalung.
"Yang mana yang cocok untuk Hikari..?" Takeru memilih dari sekian banyak yang ada.
"Bagaimana jika yang itu?" Patamon menunjuk salah satu kalung berwarna pink.
"Tidak, aku tidak menyukai yang itu" Takeru menolak.
"Jika tidak ada yang cocok, kau bisa memilih sendiri mau seperti apa" Seorang staff menghampirinya.
"Ah baiklah" Takeru mengangguk.
"Apa kau memiliki contoh aksesori yang kau inginkan?" Staff wanita yang tadi mengantarnya menuju counter.
"Umm tidak, tapi aku bisa menggambar-nya."
"Baiklah, sertakan juga kau mau ini terbuat dari apa" Staff itu mengeluarkan kertas, dan sebuah pensil.
"Umm, seperti ini.. ya sedikit lagi disini.." Takeru menggambar apa yang ada di benaknya.
"Uh, itu kan…" Patamon terkejut melihat bentuk dari kalung tersebut.
"Nah, selesai" Takeru menaruh pensil di atas kertas itu dan mengembalikan kepada staff.
"Baiklah, aku akan membawanya ke dalam. Tunggu sebentar.."
"Takeruu, ide mu adalah yang terbaik" Patamon tersenyum setelah melihat kejutan apa yang akan Takeru buat.
"Jangan kau bilang ini pada siapapun, sebelum aku memberikannya" Takeru memberi tau Patamon bahwa ini adalah sebuah kejutan, sebelum ia berkata pada Tailmon dan Hikari mengetahuinya.
"Tentu.." Patamon mengangguk.
"Hai, maaf membuatmu menunggu. Pesananmu sedang kami proses, mungkin memakan waktu sampai satu jam. Namun, sebelumnya kau perlu membayar untuk pesananmu" Staff tersebut kembali dari arah pintu belakang kasir.
"Ah, berapa?" Takeru mengeluarkan dompet dari saku-nya.
"Karena kau memesan model sendiri, maka menjadi 750 Yen." Kasir itu menghitung pada mesin.
"Ah, sepertinya aku tidak membawa sebanyak itu." Takeru tertunduk lemas melihat dompetnya yang berisi 500 yen.
"Ah, Onii-chan! Ia bisa membantuku" Takeru mengeluarkan ponselnya dari kantung.
"Hai, Yamato-Ishida berbicara.." Suara disebrang sana menjawab panggilan.
"hai Onii-chan! Apa kau sedang sibuk?"
"Tidak, aku sedang dalam perjalanan ke apartement-mu, ada apa baby bro?" Yamato memang suka mengejek Takeru seperti anak kecil.
"Ah, aku sedang tidak di apartement, kau mengetahui toko aksesoris yang tidak jauh dari tempat tinggal ku?" Takeru memberi tau dimana posisi ia berada.
"Tentu, aku sering melewatinya. Apa kau ada disana?"
"Ya, dan aku membutuhkan bantuanmu" Takeru kembali ke alasannya menelepon Yamato.
"Bantuanku?"
"Ya, aku kekurangan uang sekarang. Mungkin aku bisa meminjam beberapa darimu" Takeru berusaha untuk mendapatkannya.
"Hah? Apa? Hahahahaha. Aku tidak percaya adikku bisa kekurangan uang. Hahaha" Yamato tertawa lepas di sebrang telepon
"Onii-chan, aku serius meminta pertolonganmu."
"Baiklah, aku hampir sampai disana.. Sampai nanti, Takeru.."
"Ya, terimakasih banyak Onii-chan"
Ia menutup ponselnya dan menyakukan kembali.
"Onii-chan memang sangat baik.."
"Jadi, apa kau akan membayarnya sekarang?" Staff tadi bertanya pada Takeru.
"Ya, aku akan menunggu kakak-ku untuk datang." Takeru mengangguk.
Tidak lama, seseorang membuka pintu toko itu. Sosok ber rambut pirang acak-acakan, dengan membawa gitar dibelakangnya, tentu diikuti oleh Gabumon.
"Ah, Onii-chan!" Takeru tersenyum melihat kakaknya sudah tiba.
"Gabumon!" Teriak Patamon dari atas kepala Takeru.
"Jadi, apa yang kau pesan sampai kau kekurangan uang?" Yamato menghampiri kasir tempat Takeru berdiri.
"Aku membeli kejutan untuk Hikari, aku dan ia akan pergi malam ini." Takeru menjelaskan apa yang terjadi.
"Oh, jadi adik-ku ini sudah memulai kencan-nya." Yamato memukul pelan pundak Takeru.
Takeru tidak berkomentar apa-apa, muka-nya memerah.
"Ah, mumpung aku disini.. Apa kau tidak ingin membeli sesuatu yang lain?" Yamato kembali bertanya.
"Darimana kau mendapat uang sebanyak itu, sampai-sampai kau menawarkanku lebih?" Takeru balik bertanya.
"Aku masih menyimpan uang tahun baru, itulah mengapa aku memilikinya sekarang" Yamato memperlihatkan amplop berisi uang tahun baru yang ia terima.
"Aku akan menyimpannya untuk tahun depan." Takeru tersenyum
"Bagaimana jika sebuah cincin?" Yamato menyarankan.
"Aku tidak akan menikahi-nya sekarang, Onii-chan" Takeru menyangkal ide tersebut.
"Bukan untuk-nya bodoh, ini untuk dirimu sendiri." Yamato berkata sambil menghampiri seorang staff.
"Permisi, apa aku bisa memesan design untuk cincin itu?" Yamato menunjuk pada cincin kecil berwarna putih dengan ukiran batu kecil diatasnya.
"Ya, apa kau memiliki gambar model yang kau inginkan?"
"Ah, dapatkah aku menjelaskan sendiri bagaimana cincin yang ingin aku pesan?"
"Mari, ikut denganku" Staff tersebut mengantarnya ke meja tempat Takeru menggambar kalung itu.
"Tidak perlu merubah bentuk cincin-nya, hanya saja batu diatasnya itu diganti dengan lambang ini." Yamato menggambar sesuatu.
"Kau ingin ini berwarna beda atau sama dengan warna cincin-nya?"
"Aku ingin lambang ini berwarna kuning" Yamato menunjuk pada sebuah lambang yang baru saja selesai ia gambar.
"Baik, sepertinya memakan waktu 15 sampai 20 menit. Sebelumnya, kau perlu membayar untuk pesananmu. Ah, maaf sebelumnya. Atas nama?"
"Takeru Takaishi." Yamato berkata kepada staff tersebut.
"Arigatou Onii-chan" Takeru memeluknya dari belakang.
"Nah, biar aku yang membayar semua. Simpan uang-mu, mungkin saja kau membutuhkan nanti" Yamato mengeluarkan dompetnya.
"Kau memang kakak yang paling baik" Takeru makin erat memeluk kakaknya.
"Ini hanya untuk menyelamatkanmu" Yamato berkata sambil mengeluarkan uangnya.
"Baik, terimakasih telah berbelanja di toko kami. Pesanan kalian akan siap dalam waktu yang telah ditentukan. Sekitar pukul 18:45 bisa kalian ambil. "
"Ah, baiklah." Yamato mengangguk. "Sekarang kita menuju apartementmu."
"Ya" Takeru dan Patamon mengangguk.
"Kau membuatku iri.." Yamato mengambil topi Takeru. "Aku tidak percaya, bahkan aku sendiri belum memulai kencan bersama siapapun.."
"Bagaimana dengan Sora-san?" Takeru merespon kata-kata kakaknya.
"Ya, mungkin suatu hari Taichi atau aku yang akan mendapatkannya."
"Kalian sungguh mirip dengan ku. Daisuke sering bersaing denganku untuk mendapatkan Hikari"
"Sangat beruntung kau yang mendapatkannya" Yamato berkata sambil memakaikan kembali topi pada Takeru.
"Kau juga bisa mendapatkannya, Onii-chan"
"Semoga.." Yamato tersenyum kearah adiknya.
Kediaman Yagami terlihat normal, ibu-nya yang sedang sibuk di dapur, Taichi yang sedang menonton TV, dan Hikari yang sedang berada di kamarnya. Ia sedang memilih pakaian yang akan ia kenakan saat Takeru menjemputnya.
"Tidak.." Hikari melemparkan beberapa pakaian dari lemari. "Ah, jangan yang ini.."
"Aku bingung.." Ia tetap memilih mana yang akan ia pakai.
"Hikari… apa kalian manusia selalu seperti ini?" Tailmon dari tempat tidurnya bertanya.
"Maksudmu?" Hikari berbalik dengan ekspresi kebingungan
"Ya.. seperti yang kau lakukan. Kebingungan untuk mencari pakaian yang paling bagus" Tailmon berkomentar. "Sementara kami Digimon, tidak perlu mementingkan sesuatu semacam itu."
"Yang terpenting sekarang, aku mau tampil menarik didepan Takeru." Hikari kembali fokus untuk mencari apa yang akan ia pakai.
"Tidak.. bukan yang ini.."
"Ini tidak.. bukan.." Hikari terus menggeser beberapa pakaian yang tergantung di lemari-nya.
"Ah! Ini bagus!" Hikari menarik sebuah gaun pendek berwarna pink dan berpita putih.
"Bagaimana?" Hikari berbalik sambil menaruh gaun itu didepannya.
"Menarik, bagaimanapun penampilanmu Hikari.. Kau tidak akan jauh dari kata menarik, bahkan saat kau baru tersadar pagi ini." Tailmon melihat kearah partner nya itu.
"Terimakasih.. Tailmon" Hikari tertawa kecil mendengar itu.
"Lebih baik kau bersiap sekarang, Takeru akan sampai tidak lebih dari 20 menit lagi." Tailmon melihat ke arah jam.
"Ah benar!" Hikari beranjak untuk bersiap.
"Tidak.. ini cocok untukmu!" Yamato kembali memakai-kan kemeja putih yang baru saja dilepas Takeru.
"Jangan, Onii-chan.. aku lebih memilih kaos yang tadi." Takeru menunjuk.
"Percayalah padaku, aku ahli dalam memikat wanita.." Yamato mengancingi kemeja putih itu.
"Lalu mengapa belum ada wanita yang tertarik padamu?" Takeru bertanya setelah ia kembali rapi dengan kemeja.
"Aku hanya tidak seberuntung kau. Sudah-lah, sekarang kau pergi dan ambil hadiah kejutan mu."
"Aku tidak akan begini tanpa bantuanmu" Takeru tersenyum pada kakaknya.
"Ya, pelajarilah apa yang aku lakukan hari ini." Yamato membalikkan badan Takeru dan mendorongnya keluar apartement, diikuti Patamon dari belakang.
"Nah, sekarang bersenang-senang lah! Kau sudah besar ternyata." Yamato berkata dari dalam apartement.
"Ya, katakan pada Ibu aku akan pulang sekitar pukul 10 malam." Takeru berbalik dan melambaikan tangan.
"Akan aku urus, sampai nanti baby bro!" Yamato melambaikan tangan dan menutup pintu Apartement.
"Ayo kita jemput mereka!" Takeru berkata pada Patamon.
"Kau tau? Kau terlihat bagus dengan kemeja putih ini Takeru." Patamon berkomentar tentang penampilan Takeru, ia memakai kemeja putih berlengan panjang, celana tuxedo hitam dengan sepatu yang ia biasa pakai ke sekolah. Tidak lupa dengan topi yang selalu ia pakai.
"Benarkah? Arigatou Patamon" Ia memeluk digimon kecilnya itu.
"Sebelumnya, kita harus mengambil kejutan untuk Hikari disini." Takeru berbelok masuk ke toko aksesoris yang ia kunjungi tadi sore.
"Hai, aku Takeru Takaishi. Aku memesan sebuah kalung dan cincin. Apa aku dapat mengambilnya sekarang?" Takeru memberikan struck tanda bukti pembayaran.
"Ah, ya.. Baru saja selesai, ini." Seorang staff yang berbeda memberikan sebuah kotak berwarna biru dengan ikatan pita berwarna silver, dan satu kotak kecil berwarna merah.
"Terimakasih, selamat datang kembali!" Staff itu menunduk seraya Takeru mengantongi hadiah kejutannya.
Takeru berjalan keluar toko, dan menemukan keadaan jalan sudah mulai gelap.
"Ah, sebaiknya kita cepat. Aku tidak mau Hikari menunggu" Takeru mempercepat langkahnya.
Suara pintu kamar Hikari diketuk
"Masuk.." Ia menjawab ketukan tersebut.
"Dimana pangeran-mu itu?" Taichi membuka pintu kamar Hikari dan berdiri disana.
"Ia sebentar lagi datang, aku hanya perlu sedikit merapikan rambut.. dan selesai." Ia berbalik dan menatap kakaknya.
"Kau Hikari?" Taichi tidak percaya memandangnya.
"Tentu saja" Hikari menjawab dengan ekspresi kebingungan.
"Kau sangat cantik.." Taichi tersenyum pada Hikari. "Takeru tidak akan kecewa."
"Terimakasih, Onii-chan" Hikari membalasnya dengan senyum paling cerah.
Pintu apartement mereka terdengar diketuk seseorang.
"Nah, itu pasti dia." Taichi berbalik dan berjalan ke arah pintu.
Taichi membuka pintu apartementnya, dan menemukan seorang pemuda ber rambut pirang dengan kemeja putih berdiri didepannya.
"Hai" sapa Takeru.
"Hai, Takeru.. Sepertinya kau sudah menyiapkan malam terbaik untuk adikku.." Taichi melihat kearah penampilan Takeru.
"Apapun untuk Hikari" Ia merespon.
"Tetap, jaga ia sampai kau mengantarnya pulang." Taichi mengingatkan.
"Serahkan saja padaku" Takeru tersenyum.
"Ngomong-ngomong, kemana kalian akan pergi?"
"Hanya aku dan Hikari yang perlu mengetahuinya, kau tidak perlu mengikuti kami" Takeru tertawa kecil.
"Baiklah, aku kalah." Taichi menunduk karena taktiknya tidak berhasil.
"Aku mendapatkan itu dari Yamato, ia memberitau-ku segala macam yang akan aku perlukan. Hahahaha" Takeru tertawa sambil menjelaskan.
"Sebaiknya kau jangan percaya pada Yamato" Taichi mengedipkan mata pada Takeru.
"Sebenarnya aku tidak ingin mempercayai-nya, tapi apa boleh buat. Kau telah membuktikan bahwa ia benar hahahaha" Takeru tertawa cukup puas.
"Sepertinya Hikari sudah siap, nah.. jaga adikku" Taichi berbalik dan melihat Hikari bersama Tailmon keluar dari kamar.
Hikari memakai gaun pilihannya, dengan potongan selutut, dan pita putih dibelakangnya, ia terlihat sangat manis dengan gaun tersebut.
"Malaikat cahaya tidak pernah tampil sebaik ini didepan ku" Takeru menyambutnya dari depan pintu.
"Malaikat harapan tidak pernah ada yang sepertimu" Hikari membalasnya sambil menghampiri.
"Kau siap?"
"Tentu." Hikari menggenggam tangan Takeru.
"Hikari.. ia sudah tumbuh besar.. Aku tidak percaya ia akan menjadi gadis yang kuat." batin Taichi dengan melihat kedua-nya.
"Aku pergi" Hikari melambaikan tangan pada Taichi.
"Bersenang-senanglah!" Taichi melambai balik.
Mereka berdua menghilang dari depan pintu, malam itu.. Takeru mengajaknya ke sebuah taman. Disana ada sebuah kolam yang cukup besar, dengan jembatan yang melintang diantaranya. Takeru berpikir, disana adalah tempat yang cocok. Bahkan bulan malam itu sangat terang.
"Tutup mata-mu, aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah.." Takeru menuntun tangan Hikari.
"Baiklah" Hikari menutup mata-nya, ia berjalan mengikuti arahan Takeru.
"Sekarang kita sampai.." Takeru membalikkan Hikari menghadap sisi yang lain.
"Satu.. dua.. tiga.."
Terpampang didepan pandangannya, bulan yang sangat cerah dan indah menghiasi langit, ditemani oleh bintang-bintang yang bekelip sekitar luasnya mata memandang. Pantulan sinar bulan pada air menambah pemandangan yang sangat indah, Hikari terkagum melihat tempat yang Takeru janjikan.
"Takeru-kun, mulai sekarang.. Aku akan mempercayai semua kata-katamu. Ini bukanlah rahasia, ini adalah kejutan." Hikari menatap langit dan berbalik.
"Aku memilih waktu yang tepat.." Takeru tersenyum.
"Aku tidak percaya kau dapat melakukan ini. Terimakasih Takeru-kun" Hikari memeluknya erat.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan malam yang indah ini." Takeru mengambil sesuatu di kantungnya. "Bersama-mu, Hikari.." Ia mengeluarkan kotak biru berpita silver itu.
"A-Apa ini?" Hikari bertanya sambil menerima kotak yang diberikan oleh Takeru.
"Bukalah kotak itu.. kau akan menemukannya sendiri." Takeru tersenyum.
Hikari perlahan membuka ikatan pita yang ada pada kotak itu, dengan sangat hati-hati dan penuh rasa penasaran. Ia membuka kotak biru itu.
"I.. Ini.." Hikari tertegun melihat isi dari kotak tersebut. Sebuah kalung yang berkilau dengan lambang Crest Hikari tertera pada kalung tersebut. Crest of Light
"Hadiah untuk seorang malaikat cahaya di hadapanku." Takeru memakai-kan kalung itu pada Hikari.
"Ta..Takeru-kun.." Hikari hampir menangis bahagia melihat apa yang Takeru berikan padanya.
"Sempurna.." Takeru membelai rambut Hikari.
"K..kau.." Hikari menatapnya tidak percaya. "Takeru-kun!" Hikari kembali memeluknya.
"Apa kau menyukainya?" Takeru bertanya sambil mendekap Hikari.
"Aku sangat menyukainya, kau yang terbaik" Hikari menjawab dalam pelukannya.
Takeru melihat ada kantung pada gaun Hikari, ia cepat-cepat mengambil kotak yang terakhir dan memasukannya kesana.
"Sekarang, aku mau kau melakukan sesuatu.." Takeru melepaskan pelukannya.
"Apapun akan aku lakukan untukmu"
"Ambil sesuatu dari kantungmu." Takeru meminta dengan halus.
"Ta-Tapi, aku tidak membawa apa-apa" Hikari kebingungan.
"Kau berbohong padaku." Takeru tersenyum padanya.
"Tidak, aku memang tidak memba.." Hikari merogoh semua kantung yang ada pada gaun-nya, sampai ia merasakan ada sesuatu di dalam kantungnya.
"Apa kau yakin?" Takeru kembali bertanya.
"A-Apa ini?" Hikari mengeluarkan kotak kecil berwarna merah.
"Aku ingin kau yang membuka-nya"
Hikari kembali merasakan rasa penasaran yang menyelimutinya tadi. Ia membuka kotak tersebut. Ia kembali terkejut melihat apa yang ada di dalam kotak kecil itu. Sebuah cincin berwarna perak, terukir nama mereka berdua di sekeliling cincin, dan yang terpenting. Lambang Crest of Hope milik Takeru terpasang pada cincin itu.
"Ta-Takeru.. ini.." Hikari tidak percaya untuk kesekian kalinya.
"Ya, ini adalah harapan kita berdua." Takeru tersenyum.
"Sekarang, ulurkan tanganmu." Hikari mengerti apa maksudnya.
Takeru mengulurkan tangan-nya.
Hikari menggenggam dengan hati-hati cincin tersebut. Ia menyentuh tangannya dan berusaha konsentrasi memakaikan cincin itu pada jari Takeru.
Hikari mengarahkan cincin itu pada jari kelingking yang berarti persahabatan, namun ia terhenti.
"Tidak.." Ia kembali tersenyum. Ia kembali mengarahkan pada jari manis Takeru, berarti orang yang dicinta.
"Aku mengetahuinya.." Takeru berkata pelan.
"Apa kau mencintaiku?" Hikari terhenti di setengah jalan memakaikan cincin itu.
"Ya, aku mencintaimu. Hikari Yagami."
"Begitu juga denganku.." Hikari menyelesaikan cincin itu dan terpasang pada jari manis Takeru.
"Lalu..?" Hikari tersenyum menatapnya.
"Apa yang kau inginkan?" Takeru mendekatkan dirinya.
"Aku.." Hikari terlihat tidak yakin mengatakannya.
"Aku tau.." Takeru menaruh jari telunjuknya pada Hikari, untuk membuatnya diam.
"Apa kau mencintaiku?" Takeru kembali bertanya.
"dengan segenap hatiku, Takeru Takaishi." Ia kembali tersenyum menatapnya.
Takeru mendekatkan wajahnya pada Hikari, gadis cantik dihadapannya memejamkan mata. Takeru tidak pernah sedekat ini dengan Hikari, teman masa kecilnya di Dunia Digital. Kelopak mata mereka bertemu.
Di bawah rembulan bercahaya dan bintang berkelip. Mereka mendekatkan diri satu sama lain, saat itu juga..
Takeru mencium gadis impiannya, Hikari.
Hikari merasakan sesuatu yang berbeda, ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Sangat bahagia, bahkan ia tidak ingin ini berakhir begitu cepat. Maka Hikari memutuskan untuk tidak melepaskan Takeru dari ciumannya. Ia sangat menikmati apa yang Takeru berikan padanya malam itu. Mereka tetap berciuman sambil berdansa kecil dibawah sinar bulan.
"Aku juga mencintaimu.." Takeru membuka mata dan melepaskannya.
"Takeru, kau telah memberikan momen paling indah dalam hidupku.."
"Kau menyukai-nya?"
"Ya.." wajah Hikari menjadi lebih merah dari biasanya.
"Kau menginginkannya lagi?"
"Keajaiban tidak datang dua kali." Hikari berkata sambil tidak melepaskan pelukannya.
"Hanya dalam mimpimu.."
Takeru kembali mencium Hikari. Ia sangat nyaman bersama Takeru saat itu. Ia seperti melupakan semua hal, hanya ia dan Takeru yang tersisa.
Di malam yang sama, tidak jauh dari mereka. Sesosok gadis berada di atap salah satu gedung apartement. Ia sedang melihat tajam kearah pasangan bahagia dibawah-nya.
"Romantis sekali mereka.." gumam gadis tersebut.
"Apa kau iri pada mereka, Nona Yuki?" kegelapan yang berada dibelakang Yuki memanggilnya.
"Jangan panggil aku nona.." Yuki memalingkan perhatiannya. "dan aku tidak iri pada mereka."
"Kau tidak bisa berbohong.." sosok itu menjadi lebih jelas, seorang wanita dengan pakaian hitam.
"Aku tidak berbohong.."
"Lalu?"
"Lupakan, ayo kita pergi sekarang. LadyDevimon.."
Tidak jauh dibelakang Takeru dan Hikari yang sedang duduk berdua dibawah bintang-bintang. Patamon dan Tailmon juga sedang berada diatas dahan pohon. Kebetulan, Tailmon membawa D-Terminal milik Hikari. Jadi ia tidak bosan selama berada disana.
"Uhm.. Tailmon"
"Ya?" Tailmon menjawab singkat sambil mengutak-atik D-Terminal.
"Aku masih memikirkan apa yang kau sembunyikan dariku.." Patamon mengungkit kembali.
"Aku bilang sekarang belum saatnya." Tailmon masih tidak memalingkan sedikit perhatian pun.
"Lalu, apa kau akan membuatku kebingungan seperti ini? Dan harus menunggu sampai aku menjadi Angemon lagi? Dan kau.."
Mendengar itu, Tailmon menutup D-Terminal dan menyimpannya. Ia bergeser kearah Patamon, dan mengecupnya di bagian pipi.
"Apa itu akan membuatmu diam?" Tailmon tersenyum.
Wajah Patamon berubah merah, ia tidak percaya apa yang baru saja ia dapatkan.
"Y-Ya.."
"Baiklah, kau hanya harus menunggu sampai waktunya tiba.." Tailmon kembali membuka D-Terminal.
Sesaat, D-Terminal itu berbunyi.
Tailmon yang sedang memegangnya, langsung membuka pesan tersebut.
Hai Hikari-chan,
Maaf aku mengganggumu malam ini,
Jika kau tidak sibuk, Apa kau mau menemani ku ?
Daisuke
Tailmon berdiri setelah selesai membaca email tersebut.
"Hi-" Tailmon nyaris berteriak, namun terhenti setelah Patamon mencoleknya.
"Biarkan mereka.." Patamon tersenyum pada Tailmon.
Ia melihat Takeru dan Hikari sedang tertawa bersama dalam kebahagiaan.
"Baiklah.." Tailmon kembali membuka D-Terminal dan membalas email dari Daisuke.
Daisuke-kun,
Maaf tapi aku sedang bersama Takeru.
Jika kau memang membutuhkan seseorang, cobalah Miyako-san.
Hikari
"Beruntung Hikari pernah mengajari bagaimana membalas email dari D-Terminal" Tailmon kembali duduk ditempatnya.
"Kau kejam, malaikat yang kejam" Patamon tertawa kecil melihat apa yang Tailmon lakukan.
"Paling tidak kita bisa membiarkan mereka bahagia malam ini." Tailmon memperhatikan keduanya.
Daisuke yang sedang menunggu balasan di kamarnya, berharap untuk yang terakhir kali. Ia memang tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Hikari. Walaupun ia sudah mengetahui apa kenyataannya.
"Chibimon, aku merasa tidak akan berhasil mendapatkannya" Daisuke tertunduk dan kembali menatap D-Terminal dihadapannya.
"Jangan menyerah, Daisuke!" Chibimon memberi semangat.
"Jika iya, aku akan menjemputnya. Jika ia menjawab tidak.. kita akan pergi" Daisuke dengan tatapan kosong berbicara sedikit serius.
"Pergi ?" Chibimon bertanya kebingungan.
D-Terminal itu berbunyi.
"Ini dia.." Daisuke membuka-nya, dan menemukan..
Daisuke-kun,
Maaf tapi aku sedang bersama Takeru.
Jika kau memang membutuhkan seseorang, cobalah Miyako-san.
Hikari
Daisuke sangat lemas melihat pesan yang ada di layar D-Terminalnya, bahkan saat ia dalam harapan terakhir. Hikari masih sempat bersama Takeru. Ia sudah kehilangan semangat. Air mata-nya terlihat sedikit membasahi kelopak mata, dan terjatuh ke layar D-Terminal. Tepat diatas nama Hikari.
"Baiklah.. kau memang pantas untuk mendapatkannya." Daisuke menutup D-Terminal itu.
"D-Daisuke.." Chibimon yang berada di tempat tidur melompat turun mengikuti Daisuke yang berjalan ke depan komputer.
"Aku sudah tidak bisa menerima-nya lagi.." Daisuke mengambil Digivice yang tertera di meja komputer.
"D-Daisuke, apa yang kau lakukan?" Chibimon berusaha menghentikan.
"Terlambat sobat.." Ia meneteskan air mata.
"Ikuzo, Chibimon.." Ia berkata dengan sangat lemah.
Daisuke mengarahkan digivicenya kearah layar.
"Dejitaru Geeto, Open.." Daisuke mengatakan dengan terisak.
Tidak disangka, dengan keadaan seperti itu.. Daisuke dapat membuka gerbang digital tanpa halangan sedikitpun.
"Baiklah.. Takeru, jaga ia baik-baik.." Daisuke berkata pada dirinya sendiri.
"Hikari, jangan lupakan aku.."
"… selamat tinggal, semuanya."
