Summary: Sebuah kesalahan yang hanya bisa ditutupi dengan kesalahan lainnya, seperti sebuah kebohongan yang kemudian ditutupi dengan kebohongan lain. Sakura dan Naruto menikah, dan dalam waktu dekat mereka akan memiliki bayi. Semua itu berawal dari sebuah kesalahan besar... (Catatan pernikahan Naruto-Sakura AU)

WARNING: AU, OOC, PLOT TWIST, SEXUAL IMPLICATION, SUGESTIVE THEME

DISCLAIMER: STANDARD APPLIED

.

"Ada tiga macam ikatan, orang tua-anak, kakak-adik, dan suami-istri." - My Brother

.

.

10. Bittersweet Trouble

.

Mungkin apa yang kulakukan ini salah, ah tidak, apa yang kulakukan ini sudah pasti salah. Entah apa yang ada di kepalaku sampai-sampai aku ada di tempat ini saat ini... Ah tunggu, bagaimana kalau Naruto sampai tahu? Tidak, Naruto tidak akan tahu. Lagi pula kenapa kalau dia tahu?

Toh aku bukannya sedang berselingkuh.

"Jadi kamu mau pesan apa?"

Aku menghela napas, sejak tadi mataku menatap daftar menu tapi tidak benar-benar membacanya. Kepalaku penuh dengan hal lain.

Buru-buru aku menyebutkan menu paling atas yg ada di daftar itu. Aku bahkan tidak lapar saat ini.

Sebenarnya kenapa aku ada di sini?

Aku menatap pria di hadapanku ini sambil memicingkan mataku. Kenapa aku mau saat ia mengajakku bertemu lagi hari ini? Ah ya, ia bilang dia akan mengembalikan anting-antingku kali ini.

Seharusnya aku segera pergi setelah menerima anting-antingku tapi Sasuke tidak akan membiarkanku pergi sebelum makan. Dia tahu aku tidak pernah bisa menolaknya.

Mungkin semua terdengar membingungkan. Semua berawal pagi ini, saat aku sedang asyik menonton acara bincang-bincang pagi di TV tiba-tiba saja teleponku berdering.

Aku tidak menyangka bahwa Sasuke akan menelponku, mengatakan bahwa ia sedang berada di sekitar rumahku dan mengajakku untuk bertemu. Lagi-lagi ia beralasan ingin mengembalikan anting-antingku. Aku juga tidak menyangka, sebelum aku sempat berpikir, mulutku sudah mengiyakan ajakan Sasuke untuk bertemu. Padahal aku tahu, ini bukan hal yang benar untuk dilakukan.

Kami bertemu di sebuah restoran keluarga yang berjarak beberapa blok dari apartemenku. Aku sedikit cemas kalau-kalau ada tetanggaku yang memergoki kami berdua.

Entah mengapa aku merasa bersalah.

Aku tidak mengerti mengapa Sasuke masih mau bertemu denganku. Seingatku saat kami putus dulu ia benar-benar marah padaku. Aku tidak yakin ia akan memaafkanku. Saat ini pun aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepalanya. Mungkinkah ia masih membenciku?

Aku memicingkan mata memandang anting-anting yang ada di tanganku.

"Ini bukan antingku."

Sasuke tersernyum, "oh ya?"

Aku menatapnya dengan bingung, "ini bukan anting-antingku. Aku tidak mungkin salah mengenali antingku sendiri."

Sasuke hanya tersenyum sambil memakan saladnya. Aku masih mengerutkan dahiku. Aku tidak paham, ada apa ini sebenarnya.

"Sasuke..."

"Itu memang bukan antingmu, aku baru membelinya."

Aku menaikan sebelah alisku, "untuk apa?"

Sasuke meletakan garpunya. Matanya menatap langsung ke mataku, "Aku ingin kau kembali padaku."

Aku terdiam. Sasuke masih menatapku dengan serius. Aku mencoba menunggu beberapa saat, berharap ia akan tertawa dan berkata bahwa semua yang baru saja ia katakan hanyalah lawakan untuk membuatku tertawa. Tapi sayangnya untuk sebuah lawakan, apa yang baru saja dikatakannya itu sama sekali tidak lucu dan untuk satu hal aku juga tahu bahwa Sasuke bukanlah tipe yang suka melawak. Apa yang baru saja di katakannya itu benar-benar serius dan aku tidak tahu harus memberikan respon seperti apa.

Aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Untuk beberapa saat mulutku membuka dan menutup tanpa bisa bicara apa-apa, untuk orang yang di meja di seberang kami aku pasti terlihat seperti ikan yang diletakan di luar akuariumnya. Aku tidak mengerti mengapa Sasuke bisa tampak begitu tenang saat dan setelah mengatakan hal seperti itu.

Setelah selama ini kenapa harus sekarang?


"Aku pulang..."

Aku menghela napas panjang sebelum berkata, "Selamat datang!"

Aku mencoba bersikap senormal mungkin di hadapan Naruto. Aku tahu kami tidak saling mencintai tapi bagaimana pun kami adalah suami istri, dan aku tidak berniat berselingkuh darinya.

Kata 'selingkuh' sendiri sudah terdengar mengerikan di telingaku.

Aku berjalan ke luar dapur menuju ke arah Naruto yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke atas sofa setelah melepaskan jas yang dikenakannya. Aku berdiri tidak jauh darinya masih sambil berpikir bagaimana harus bersikap di hadapannya malam ini setelah apa yang telah terjadi hari ini.

"Hhhhh..."

Aku dan Naruto saling bertatapan. Kami baru saja menghela nafas panjang bersamaan. Aku mengerjapkan mataku, begitu juga dengan suamiku itu. Ia menghentikan gerakannya yang sedang melonggarkan dasinya. Alisnya bertaut saat ia menatapku dengan tatapan cemas.

"Ada apa?"

Aku menggeleng, mata birunya menatap mataku, mencari tanda-tanda kalau aku berbohong atau menyembunyikan sesuatu, "tidak... Kamu sendiri?"

Ia buru-buru menggelengkan kepalanya tapi aku tahu bahwa ia tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Aku bergerak ke arahnya dan menuding dadanya dengan telunjukku. Ia mundur beberapa langkah saat aku maju ke arahnya.

"Naruto..." desisku, "Kamu menyembunyikan sesuatu kan?"

"B-bukan hal penting..."

"Oh ya?"

Aku tahu ia berbohong saat matanya menghindari tatapanku.

"Naruto!"

"Baiklah aku akan cerita..." kata Naruto akhirnya, "Hanya kalau kamu bercerita ada apa denganmu."

Aku berjengit.

Sebuah penawaran yang cukup cerdik. Aku melipat kedua tanganku di atas perutku yang sudah semakin membuncit sambil memikirkan penawaran yang diajukan suamiku itu. Tentu saja aku masih memiliki alternatif lain yaitu berpura-pura merajuk sampai ia menceritakan ada apa dengannya, bagaimana pun juga menjadi seorang wanita hamil dengan hormonnya yang siap meledak setiap saat memberikan keuntungan tersendiri buatku, tapi aku menepis kemungkinan itu. Satu-satunya pilihan kalau aku ingin mendengarkan ada apa dibalik helaan nafas panjang suamiku itu adalah dengan memberikan alasan kepadanya mengapa aku menghela nafas.

Pilihan yang sulit, tapi inilah hidup.

Aku tidak tahu bagaimana Naruto akan bereaksi nanti tapi apa boleh buat, que sera sera...


Entah aku harus merasa senang atau sedih. Atau dua-duanya sekaligus?

Dulu seseorang pernah mengajariku bahwa setiap hal yang terjadi pasti memiliki segi positif dan negatif di saat yang sama, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Lalu kali ini, bagaimana aku harus menyikapinya?

Aku melirik ke arah Naruto yang masih duduk terdiam di sebelahku. Rupanya aku bukannya satu-satunya di antara kami yang kehilangan kata-kata dan tidak tahu harus berbuat apa. Sebenarnya aku masih terkejut dengan apa yang baru saja suamiku itu katakan padaku. Sebenarnya saat memintanya menceritakan apa yang tengah ia sembunyikan dariku tadi, aku tidak membayangkan kalau itu adalah sesuatu seperti ini.

"Jadi..." aku menelan ludah, "kamu kehilangan pekerjaanmu?"

Naruto menggeleng, "Aku bukannya dipecat," ia mencoba untuk tertawa tapi tawanya terdengar tidak bertenaga, "hanya 'diistirahatkan' sampai tahun ajaran baru April mendatang."

Aku mengerutkan dahiku, "Ok, aku mengerti. Tapi kenapa?"

Mata safirnya lagi-lagi menolak menatap mataku.

"Naruto..." Aku mulai frustasi karena sejak tadi ia belum bercerita dengan jelas dan aku perlu tahu. Kalau suamiku kehilangan pekerjaan karena sesuatu aku sebagai istri berhak untuk tahu alasannya kan?

Naruto menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ia terlihat ragu-ragu tapi kemudian akhirnya ia membuka mulutnya untuk bercerita, "Beredar rumor, kalau aku menjalin hubungan khusus dengan salah seorang muridku."

"Apa?" Aku berdiri dari dudukku.

Aku menatap suamiku yang masih duduk di sofa kami itu dengan tatapan tidak percaya. Aku tidak pernah melihat Naruto sebagai seseorang yang bisa berselingkuh, terlebih lagi dengan anak didiknya sendiri. Naruto mungkin bukan pria terpintar yang pernah kutemui tapi aku tahu ia tidak sebodoh itu untuk berselingkuh dengan muridnya sendiri. Tapi tetap saja. Laki-laki tetaplah laki-laki. Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan tergoda oleh wanita lain... Tunggu, tentu saja ia akan tergoda, bukankah ia hanya menikahiku karena terpaksa. Tapi... Kalau ia memikirkan anak ini tentunya ia tidak akan melakukan hal seperti itu... Ya kan?

"Sakura... Kau dengar aku?"

Aku mengerjapkan mataku dan tersadar kalau Naruto rupanya sedang mencoba berbicara denganku.

Matanya menatapku dengan cemas, "Kamu tidak apa-apa kan?"

Aku menggeleng, sebelah tangan memijat pelipisku yang tiba-tiba saja terasa pening. Aku duduk lagi namun kali ini bergeser sedikit lebih jauh darinya.

"Aku tidak mengerti," gumamku, "Kenapa tiba-tiba?"

"Muridku, salah seorang murid perempuanku, sedang dalam masalah..." Naruto bercerita lagi, "Aku meluangkan waktu untuk mendengarkan masalahnya, entah bagaimana lalu beredar rumor aneh..."

Aku menggelengkan kepalaku, "Aku masih tidak mengerti, pihak sekolah tidak bisa seenaknya saja..."

"Sudahlah," tiba-tiba saja Naruto tertawa, saat aku melemparkan tatapan marah padanya ia menatapku dengan tatapan minta maaf, "Hal baiknya, kita bisa berlibur seperti yang kamu ingin kan kan?"

Ia memang selalu seperti ini. Selalu ada 'hal baik' dari semua hal. Ya itu adalah satu hal yang ia ajarkan padaku. Aku membuang nafas dan menggelengkan kepalaku. Sepertinya percuma juga untuk marah tentang hal ini.

"Jadi," Naruto menatapku takut-takut, "Bagaimana denganmu? Apa hal yang sejak tadi mengganggu pikiranmu?"

Aku terkesiap. Tiba-tiba aku kembali teringat tentang apa yang tadi Sasuke katakan padaku. Padahal untuk beberapa saat tadi aku berhasil melupakannya karena masalah yang Naruto ceritakan padaku.

Saat melihat bagaimana Naruto menatapku, entah mengapa aku merasa mengatakannya bukanlah hal yan tepat untuk dilakukan.

Sepertinya kali ini aku harus berbohong lagi...

"Ah, aku cuma memikirkan soal liburan kita nanti..."


Author's Note:

Ada banyak alasan yang membuat saya tidak puas dengan chapter ini. Somehow, ada banyak yang mau saya ceritakan tapi saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Karena itu deskripsi tiap paragraf juga menjadi semakin pendek. Mungkin karena fic ini saya tulis dalam kondisi sakit dan stres memikirkan tesis yang belum juga selesai...

Ok, lupakan soal eksternal, mari bicara soal NaruSaku. Saat ini, sejak chapter sebelumnya terutama, saya sudah memberikan hint tentang perasaan Naruto pada Sakura, tinggal bagaimana reader sekalian menyimpulkan sendiri seperti apa perasaan Naruto itu. Soal hint perasaan Sakura yang mungkin nggak se'pekat' hint perasaan Naruto, ini cuma salah satu bentuk 'penafsiran' saya dari hubungan narusaku yang digambarkan MK dimana Sakura lebih semacam 'love in denial' (or something like that). Saya menangkap kesan seperti malu-malu tapi mau. Atau semacam itu.

Another reason why I love Naruto's character is because he is so pure. Menurut saya Naruto itu akan tetap mencintai satu orang sekali jatuh cinta. Oh, tentu saja Naruto yang saya gambarkan mungkin berbeda dengan yang MK gambarkan.

Untuk chapter ini sendiri karena diceritakan dari sudut pandang Sakura, maka ada beberapa point yang sengaja tidak dijabarkan terlalu jauh. Untuk masalah Naruto di sekolah, bisa di baca di chapter selanjutnya supaya lebih jelas :D

Terima kasih untuk yang sudah baca dan ninggalin review, juga buat yang baca tapi males ninggalin review :D (Saya paham perasaan malas seperti itu kok...)

Ok, got no more to say.

See you in next chapter!

.

Recchi