NARA
.
.
KIM YESUNG
KIM KIBUM
SHIM CHANGMIN
CHOI MINHO
.
Annyeong..., ada yang merindukanku? Hehee... oke, langsung saja ne!
Awas, banyak typo!
.
Yesung meraba dadanya. Rasanya semakin nyeri. Ada apa dengannya?
Apa dia cemburu? Pada Kim Kibum?
Yesung menggeleng keras menyangkal rasa di hatinya. Tanpa menyadari, Kim Ryeowook masih memperhatikannya dari spion sampai jarak menghapusnya dari pandangannya.
"Kim Yesung..., tidak ada yang boleh mengalahkanku. Mianhae..."
.
Happy reading
.
NARA
Chap 10
.
.
Yesung menarik nafas lega begitu ia keluar dari kereta. Posisinya tadi benar-benar tak nyaman. Biasanya meski kereta penuh, selalu ada Kibum yang melindunginya agar tubuh mungilnya tak terdesak oleh tubuh-tubuh penumpang lain.
Namja manis itu menggelengkan kepalanya. Mencoba menghilangkan pikirannya tentang Kibum. Bukankah harinya tanpa Kibum jauh lebih panjang dari pada kebersamaan mereka? Jadi terlalu cepat untuk berpikir bahwa ia tak terbiasa tanpa Kibum.
Tapi...
"Hari ini tuan muda Kim Kibum pulang ke rumahnya, ya? Sayang sekali," gumam Min.
Yesung menatap yeoja itu. "Wae? Kau sedih dia pergi?"
Bibir Min berpout. "Bukannya tuan muda yang melamun terus dari tadi?" balasnya.
"Aku? Aniyo!" bantah Yesung dengan wajah merona.
Min terkikik geli. "Arra..., lebih baik tuan muda mandi, saya akan menyiapkan pakaian anda. Tuan muda mau blazer, tuxedo, atau jas biasa?"
"Ne? Untuk apa aku memakai semua itu?"
Si gadis berkacak pinggang menatap tuan mudanya. "Aigo..., apa tuan muda lupa? Hari ini calon mertua anda datang, dan mengundang anda makan malam. Makanya tuan muda harus tampil semaksimal mungkin kan?!"
"Ndeee...?" teriak Yesung panik.
Selanjutnya maid tersayangnya hanya bisa geleng-geleng kepala menatap tingkah sang majikan yang entah gugup atau ketakutan karena baru menyadari bahwa acara 'perjodohan' itu benar-benar serius.
Beberapa jam setelahnya, setelah sempat kebingungan memilih pakaian yang pantas ia kenakan di perjamuan resmi dengan 'calon mertua'nya, Kim Yesung telah selesai bersiap.
Ah, hanya penampilannya.
Karena hatinya masih belum siap untuk hal ini.
Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana dia harus bersikap? Apa mereka akan menyukainya? Seperti apa orangtua Kibum? Ramah seperti orangtuanya? Atau kaku seperti orang kaya pada umumnya? Apa yang mesti ia katakan untuk menyapa mereka? bagaimana Yesung memanggil mereka?
Astaga! Dia tidak yakin akan kembali dalam keadaan hidup malam ini.
Kim Heechul bersandar di bingkai pintu kamar Yesung. Mengamati adik manisnya yang sedang mondar-mandir seperti setrika.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya setelah sekian menit menikmati wajah cemas adiknya sebagai pemandangan langka.
Yesung menoleh. "Ne?"
"Kau tinggal berkata 'tolong' jika butuh bantuanku," ucap Heechul.
"Tolong?" ulang Yesung tak mengerti.
Heechul menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati adiknya. "Ne."
"Untuk?" tanya Yesung lagi.
"Lari dari pertunangan kalian. Kau tidak menyukai Kim Kibum kan?"
Yesung tersentak. Dia bahkan lupa jika pertunangannya itu terpaksa ia setujui. Atau malah belum ia setujui?
"Oh, itu..., aku rasa aku masih punya teman untuk aku mintai tolong jika benar-benar mendesak."
Alis Heechul bertaut. "Nugu?" tanyanya.
"Choi Minho," jawab Yesung seraya keluar dari kamarnya.
Heechul terdiam. Ternyata Yesung masih tak mau menerima bantuannya. Ya sudahlah, yang terpenting, adiknya tidak sekaku sebelumnya. Apapun pilihannya, Heechul akan mendukungnya.
.
Di lain tempat, Kibum pun tak kalah gugup dengan Yesung. Di satu sisi dia menantikan malam ini. Tapi di sisi lain, ia merasa sangat cemas.
Bagaimana jika Yesung menolak pertunangan ini secara langsung? Atau jika ia tak berani menolak, dan mereka tetap melanjutkan perjodohan ini, bagaimana jika Changmin kembali dan menuntut Kibum memenuhi janjinya? Akan lebih baik jika Yesung sendiri yang memutuskan untuk memilihnya, dan menolak kembali pada Changmin.
Tapi, bukankah mereka belum ada ikatan? Changmin dan Yesung belum berpacaran kan? Jadi bukan salah Kibum jika berada diantara mereka kan?
Ayolah Kim Kibum! Kenapa kau bisa jatuh sedalam ini?
"Mereka belum datang?" tanya sang umma saat putra tersayangnya terlihat mondar-mandir di depan pintu.
Kibum menoleh. "Hm," jawabnya.
Ummanya terkekeh. Mungkin bagi oranglain, jawaban itu sangat ambigu. Tapi baginya itu sebuah ketidak sabaran, dan juga kegugupan yang menumpuk di hati putranya.
"Aigo..., apa kau juga bersikap sedingin ini pada calon tunanganmu? Bersikap yang ramah, jangan sampai orangtua Kim Yesung membatalkan perjodohan kalian karena kau terlalu cuek!" ancam ummanya.
"Itu mustahil. Mereka sangat menyukaiku," jawab Kibum datar.
"Aish! dasar!" umma Kibum memukul lirih kepala putranya. Tepat saat sebuah mobil berhenti di halaman rumah mereka.
"Itu mereka. Cepat sambut mereka, umma akan memanggil appa dulu."
Tanpa perintah ke dua, Kibum beranjak keluar dari rumahnya, berniat menyambut keluarga calon tunangannya. Tapi...
"Annyeong!"
"Kim Ryeowook?" ucap Kibum heran melihat gurunya yang datang bersama sepupunya.
"Wae? Suaramu terdengar kecewa?" tanya gurunya.
Kibum menoleh pada Onew, meminta penjelasan.
"Bukan aku! Aku sedang jalan-jalan bersama teman-temanku, dan dia menculikku," ucap Onew cepat.
Kibum mendengus kesal. "Bawa dia pergi sekarang juga," ucap Kibum.
"Wae? Aku hanya ingin menyapa orangtua..., ah, selamat malam Kim Ahjussi, ahjumma," sapa Ryeowook pada orangtua Kibum yang menyusul keluar.
"Kau? Kim Ryeowook?" tanya mereka.
"Ne. Apa kalian mau pergi?" tanya Wookkie saat menyadari penampilan Kibum dan orangtuanya yang sangat formal.
"Kami sedang..."
"Din..., din...!"
Sebuah mobil masuk ke halaman rumah keluarga Kim dan berhenti di belakang mobil Ryeowook. Membuat namja manis itu penasaran. Sementara kedua orangtua Kibum langsung tersenyum menyambut tamunya.
"Maaf, sedikit macet di jalan," ucap ayah Yesung begitu turun dari mobil.
Keempat orangtua itu telah asyik mengobrol, sambil memasuki rumah Kibum. meninggalkan lima namja yang terkungkung dalam suasana aneh.
Yesung tak bersuara. Terlalu kaget melihat Ryeowook di sana. Begitupun sebaliknya. Sementara Heechul hanya menatap mereka satu-persatu, karena tak mengerti dengan situasi yang ia hadapi. Lain dengan Onew yang merasa terjebak alam lingkaran setan. Kibum sendiri justru terpesona dengan penampilan Yesung malam ini hingga mengganggap yang lain makhluk astral.
"Ternyata orangtua kalian saling mengenal? Dunia ini sempit, ya?" Kim Ryeowook yang pertama bersuara.
Heechul menoleh. "Kau siapa?"
"Aku? Kekasih Kibummie," jawab Ryeowook.
"Mwo?" sentak Heechul, sementara Yesung pun tak kalah kaget.
"Ya! Kim Ryeowook!" protes Kibum.
"Mian, mian! Hanya bercanda," jawab Ryeowook sambil tertawa.
Selanjutnya, Yesung sudah tak mendengar apapun. Terlalu sibuk dengan pikirannya.
Skenario yang terpikir di kepalanya adalah, Kibum yang berencana membalas dendam pada Changmin dan Yesung, berusaha membuat Yesung melupakan Changmin agar namja itu bisa bersama noonanya. Dan setelah itu menyusun rencana membuat Yesung jatuh cinta padanya. Dan setelah ia merasa semua itu berhasil, maka sekarang saatnya ia mengakhirinya. Membawa kekasihnya di hari perjodohan mereka, untuk membuat Yesung patah hati dan terluka.
Mata Yesung melebar.
Patah hati? Terluka? bukankah itu artinya Yesung telah jatuh cinta pada Kim Kibum? Ma-mana mungkin bisa secepat itu? Dia masih memiliki Changmin kan?
"Kenapa masih di luar? Ayo masuk! Jinki'ah, Ryeowook'ssi, kalian sekalian saja ikut makan malam," panggil appa Kibum.
"Ne, Ahjussi," jawab Wookkie cepat. Lebih cepat dari Onew yang berniat menolaknya.
"Kajja!" Heechul menggandeng tangan Yesung.
"Masuk saja, hyung, ada telepon masuk," ucap Yesung saat merasakan getar di sakunya.
Heechul dan yang lain beranjak meninggalkan Yesung. Sementara Kibum sengaja berjalan paling belakang untuk menunggunya.
"Hallo?"
"Ini aku, Yesungie."
Mata Yesung melebar. "Changmin hyung?" ucapnya seraya menoleh.
Di depan pintu, Kibum sedang menatapnya tajam.
Yesung membuang muka. "Hyungie, apa ini benar kau?" tanyanya.
"Hmm, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu, Yesungie. Apa kau tidak merindukanku?"
Yesung tersentak. "A-aku juga merindukanmu, hyungie. Sangat...," ucap Yesung sambil menahan isakkannya. Rasa bersalah tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Di ujung line, Changmin tersenyum pahit. Matanya menatap lurus pada Vic yang sedang berusaha menggerakkan kakinya.
Gadis itu, bagaimana dia bisa menyembunyikan semua perasaannya dengan begitu rapat? Bahkan dia masih bisa tersenyum mendengar semua cerita Changmin tentang Yesung. Dia terlihat sangat bahagia mendengar Changmin menemukan Yesung. Dan dia bahkan mendukung keegoisan Changmin untuk menyelesaikan syuting secepatnya demi bertemu Yesung. Dan karena keegoisan itu, hampir saja Changmin kehilangan sahabatnya. Orang yang begitu mencintainya.
Jika Kibum membencinya, itu memanglah pantas untuknya.
"Kim Yesung..., Saranghaeyo..., jeongmal saranghanda..."
Kembali ke line sebelumnya. Yesung tersentak mendengar ucapan Changmin. Bibirnya terasa kaku untuk menjawab kalimat itu.
"Na..."
"Jangan menjawabnya."
"Ne?"
Changmin tersenyum miris di ujung sana. "Aku akan sangat merasa bersalah jika mendengarnya sekarang," ucapnya.
"W-waeyo? Apa terjadi sesuatu pada Vic noona? Apa yang terjadi?"
Kibum masih setia berdiri di depan pintu rumahnya. Menunggu Yesung yang bahkan telah lupa bahwa namja tampan itu ada di sana. Hatinya terasa sangat nyeri, mengingat sampai hari perjodohan ini, Yesung masih mencintai Changmin.
"Kibummie, semua menunggumu. Kenapa masih di sini, hemm?" Kim Ryeowook melangkah mendekati Kibum.
Kibum menoleh menatap 'mantan kekasihnya' itu.
"Mereka bilang kalian dijodohkan? Benarkah?" tanya Wookkie dengan wajah cemas.
"Jangan memasang tampang sok terluka seperti itu," ucap Kibum seraya meninggalkan Wookkie.
"Waeee? Kenapa kau kejam sekali? Aku ini benar-benar terluka kau tahu!" jawab Ryeowook seraya berlari kecil menyusul Kibum.
Yesung yang berniat masuk ke rumah, menghentikan langkahnya saat melihat keakraban mereka.
.
-NARA-
.
Heechul menatap Yesung dan Kibum bergantian. Ada apa dengan keduanya? Apa mereka bertengkar?
Ah, sebelum memikirkan itu, ada yang lebih membuatnya penasaran. Sebenarnya siapa Kim Ryeowook? Bukannya Kim Kibum menyukai adiknya? Lalu bagaimana bisa muncul namja lain yang mengaku sebagai kekasihnya?
"Ahjumma, masakan ahjumma semakin enak!" puji Wookkie.
"Benarkah?" ibu Kibum terlihat senang mendengar pujian itu.
Yesung menatap iri pada Kim Ryeowook. Merindukan dirinya yang dulu. Merindukan Kim Yesung yang seceria itu. Merindukan dirinya yang sok tahu dan bahkan terkadang sangat kekanakan. Kemana semua sifat itu?
"Ahjumma, seharusnya ahjumma membuka sebuah restoran. Masakan ahjumma tak kalah dengan koki hotel berbintang!"
"Kau berisik sekali saem!"
"Ya! Lee Jinki!" Ryeowook melotot menatap Onew tajam.
"Aku benar kan? Kau terlalu cerewet! Ya kan, Kibum'ah?" Onew mencari sekutu.
"Hm!" jawab Kibum.
"Tuh, kan?" sahut Onew.
"Kalian ini! yang sopan pada orang yang lebih tua!" lerai ibu Kibum.
"Ahjumma! Aku belum setua itu!" protes Wookkie.
Yesung menghela nafas sesak.
Bukankah hari ini mereka berencana membicarakan pertunangan Kibum dan Yesung? Lalu kenapa justru Kim Ryeowook yang menjadi bintang di sini? Sedangkan Yesung dan keluarganya hanya menjadi penonton saja.
Rasanya sesak.
Lebih sesak dari pada saat Changmin mengatakan hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.
.
"Yesungie, mianhae..."
"Waeyo?"
"Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi."
"A-apa yang kau bicarakan, hyung? Apa terjadi sesuatu yang buruk? Victoria noona baik-baik saja kan?"
"Victoria..., dia..., mencintaiku. Apa yang harus aku lakukan?"
"M-mwo?" Yesung tersentak.
"Aku telah membuat seseorang yang begitu baik padaku, hampir lumpuh permanen, dan bahkan nyaris mati. Meskipun ada kemungkinan dia akan pulih, tapi..., apa aku bisa meninggalkannya?"
"Hyung..."
Terdengar helaan nafas Changmin. "Maafkan aku, Yesungie, aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk kembali padamu. Mianhae..."
Dada Yesung terasa sangat sesak. Bukan karena Changmin yang memutuskan untuk meninggalkannya. Tapi karena ia tahu, Changmin sangat terluka saat ia mengatakannya.
Namja itu memutuskan untuk bertanggungjawab pada gadis yang mencintainya, dan meninggalkan cintanya sendiri, untuk menebus keegoisannya di masa lalu. Dia menangis dan terluka, demi orang lain dengan mengabaikan kebahagiaannya. Tapi Yesung...
"Hyung, aku yang bersalah. Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Karena akulah yang bersalah."
"Ne?" suara Changmin terdengar terkejut.
"Aku mengkhianatimu, hyung. Aku jatuh cinta pada orang lain. mianhae..."
"Ki-kim Yesung?"
"Aku tidak pantas untuk memiliki cintamu, hyung. Kau boleh membenciku, memakiku, tapi..., aku mohon, berusahalah bahagia tanpaku. Terimakasih atas semua yang hyung berikan untukku. Mianhae..."
.
"Yesungie, kau melamun?"
Panggilan sang umma membuat Yesung tersentak. Ummanya tersenyum. Yesung melirik ke segala arah. Appanya sedang menikmati makanan sambil mengobrol dengan ayah Kibum. Heechul fokus pada makan malamnya. Ummanya mengobrol dengan Onew. Sementara ibu Kibum sesekali menanggapi ucapan Ryeowook.
Kim Kibum?
Namja itu memalingkan muka saat Yesung menoleh padanya. Membuat Yesung terkesiap, karena refleks Kibum yang malu karena ketahuan menatapnya itu, justru membuat Yesung salah paham.
Bagaimana tidak jika Kibum justru mengalihkan pandangannya pada Kim Ryeowook?
Yesung melirik jam tangannya.
Sudah terlalu lama. Kemana bo-
"Tuan...! Tunggu dulu...!"
Semua menoleh mendengar suara pelayan rumah Kibum.
"Choi Minho?" ucap Onew saat melihat namja itu berdiri sambil mengatur nafasnya di depan pintu ruang makan.
"Aku datang, menjemputmu, Kim Yesung hyungie!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Serempak semua menoleh pada Yesung.
Namja manis itu meletakkan sendoknya. Lalu berdiri dan membungkuk. "Mianhae, aku tidak bisa menerima perjodohan ini tanpa cinta. Maafkan aku," ucapnya lalu beranjak pergi.
Kibum mengepalkan tangannya melihat Minho membawa pergi Yesungnya.
"Aku akan mengejarnya!" ucap Heechul seraya berlalu mengejar adiknya.
Hening.
Suasana ruang makan hening seketika.
"Apa yang terjadi?" ucap Ryeowook.
"Maafkan putra kami, tuan Kim. Kami akan bicara padanya. Besok saya akan menghubungi anda. Ayo, sayang," ucap ayah Yesung.
"Kami permisi dulu," ucap ibu Yesung seraya mengikuti suaminya pergi.
"Jelaskan tentang hal ini, Kim Kibum?" perintah sang ayah.
"Itu..."
"Kalau aku jadi Kim Yesung, aku juga akan menolaknya," ucap Onew.
"Lee Jinki?"
"Bukankah hari ini hari penting untuk mereka? Tapi kalian justru asyik dengan orang asing," sindir Onew.
"Aku?" Ryeowook menunjuk wajahnya sendiri.
"Ne, kau terus saja mengambil perhatian oranglain dari Kim Yesung. Kau sengaja kan?"
"Kau!"
"Haah..., Jinki benar. Kita memperlakukannya seperti orang asing. Dia mungkin berpikir Kibum membawa namja lain untuk menolaknya. Terlebih jika dia tahu, dulu kalian pernah pacaran," ucap ayah Kibum.
"Appa?" sentak Kibum kaget. Tak menyangka ayahnya tahu masa lalunya.
"Kim Ryeowook'ssi. Aku minta maaf karena melibatkanmu dalam hal ini. Aku tahu Jaejoong memintamu membantunya. Dan aku mohon, cukup sampai di sini saja. Aku tidak tahu, apa yang putraku minta, tapi, biar kami yang menyelesaikannya."
"Ne?" sentak Wookkie kaget.
"Jinki'ah, antarkan gurumu pulang," perintah ayah Kibum.
"Ayay, kapten!" ucap Onew cepat, seraya menarik gurunya keluar dari rumah Kibum.
"Appa, sebenarnya apa maksud ucapan appa?" tanya Kibum bingung.
Ayahnya berjalan keluar dari ruang makan. Di susul Kibum di belakangnya. Sementara ummanya memanggil pelayan untuk membereskan ruang makan.
"Appa!"
Sang ayah mengambil tempat duduk di tengah sofa ruang keluarga. Menatap putra bungsunya dengan tajam.
"Kau! Memaksa Shim Changmin meninggalkan Kim Yesung dan bertanggung jawab atas noonamu. Kau melakukan ini bukan demi noonamu. Kau, memanfaatkan perjodohan ini demi memenuhi keegoisanmu. Kau ingin mengikat Yesung, bukan karena janji kakek kalian, ataupun karena cinta. Tapi karena kau sangat egois, Kim Kibum!"
Mata Kibum membola mendengar ucapan appanya.
"Aku tidak..."
"Akhiri semuanya. Noonamu akan baik-baik saja tanpa Changmin. Kakek pasti bisa mengerti jika perjodohan ini tidak mungkin berlanjut."
"Appa!"
"Jikapun kakek tetap ingin cucunya menikah dengan cucu sahabatnya, Jaejoong atau Jinki bisa menggantikanmu."
"Appa!" teriak Kibum keras. "Aku tidak akan melepaskan Kim Yesung pada siapapun!" tegas Kibum seraya berlalu menuju kamarnya.
Sang appa menghela nafas berat.
.
Jaejoong terhenyak mendengar ucapan Wookkie. Appanya tahu tentang semuanya? Jadi dia tahu semua masalah yang Kibum timbulkan selama ini? astaga...
"Jadi sunbae sengaja memanfaatkanku untuk memisahkan Kim Kibum dan Kim Yesung?"
"Aku pikir kau sudah tahu?" jawab Jae santai.
"Ya! Kim Jaejoong!"
"Mianhae, karena aku pikir sifat tak ingin kalahmu itu mungkin bisa berguna. Aku tidak ingin adikku semakin tenggelam dalam kesalahan yang mungkin akan disesalinya."
"Cih! Aku tidak tersanjung!"
"Jadi apa kau menyerah?"
"Ayahmu mengatakan agar aku tidak ikut campur."
"Aku pikir kau masih tertarik pada adikku."
"Ya..., itu benar sih. Tapi bocah itu bahkan tak mau melirikku."
Jaejoong tertawa. "Kau tahu, dari segala kesalahannya itu, ada satu hal yang benar. Cintanya pada Yesung, meski sangat egois. Tapi itu nyata."
"Ya, aku tahu. Jangan membuatku semakin merasa rendah!"
"Mian, mian..."
"Hei, sunbae. Bagaimana kalau kau salah?"
"Ne?"
"Kau ingin memisahkan mereka karena kasihan pada Kim Yesung dan kekasihnya kan? Lalu bagaimana jika ternyata Kim Yesung menyukai Kibum?"
"M-mwo? A-apa itu benar?"
"Yaa..., tapi ide jeniusmu membuat mereka saling salah paham. Aku bahagia, setidaknya mereka tidak akan bersatu. Itu karma karena membuatku patah hati!"
"Ya! Kim Ryeowook! Jangan bercanda! Apa itu benar?"
"Molla! Tapi seharusnya kau senang kan? Rencanamu memisahkan mereka berhasil. Sampai jumpa!"
"Ya! Kim Ryeowook! Ya!"
Jaejoong terdiam menatap layar ponselnya. Apa benar dia telah melakukan kesalahan? Benarkah Kim Yesung menyukai adiknya? Lalu bagaimana dengan Changmin? Bukankah mereka saling mencintai?
Namja itu tergesa berlari ke kamar rawat adiknya. Ingin bertanya secara langsung pada Changmin. Jika hal itu benar, maka salahnya jika sampai Kibum dan Yesung saling membenci.
"Oppa!" panggil Vic saat Jae muncul.
"Lama sekali, hyung, aku kan harus kembali ke lokasi syuting!" omel Changmin.
Jaejoong tak menyahut.
"Aku pergi, ne!" pamit Changmin sambil mengecup pipi Vic. Membuat Vic dan Jaejoong tersentak.
"Changmin'ah...!" ucap yeoja itu dengan wajah merona.
"Sampai besok," ucap Changmin seraya keluar dari kamar rawat Vic.
Jaejoong berlari mengejar Changmin. "Shim Changmin, apa yang-"
"Ada apa dengan wajahmu, hyung?" tanya Changmin.
"Aku yang lebih dulu bertanya, Shim Changmin! Jangan membuat adikku berharap padamu."
Changmin tersenyum. "Harapannya tidak akan menjeratku, hyung. Tenang saja."
"ne?"
"Tidak secepat itu. Tapi aku, pasti bisa membuatnya bahagia. Dia memiliki cinta yang besar untukku kan? Pasti, tidak akan sulit untukku jatuh cinta pada gadis sebaik Victoria.
"Changmin?"
Changmin tersenyum tulus. "Mungkin awalnya hanya rasa tanggungjawab saja. Tapi perlahan, aku pasti akan membalas cintanya."
"Tapi..., bagaimana dengan Kim Yesung?"
"Dia menyukai oranglain. Meski aku kecewa. Tapi..., aku bahagia. Setidaknya dia tidak akan terluka karena aku meninggalkannya."
Jaejoong tersentak. Dia benar-benar salah bertindak.
"Sampai besok, hyung!"
.
-NARA-
.
Choi Minho menenggelamkan kepalanya di atas meja. Semalam setelah menerima pesan Yesung, dia seperti orang gila, yang langsung mencarinya. Kim Yesung dan Kim Kibum dijodohkan? Rasanya hampir gila saat mendengarnya.
Ia senang, disaat seperti itu, Yesung meminta bantuannya, dan bukan orang lain. Meski mungkin itu terpaksa, karena Changmin tidak ada. Tapi..., itu semalam, sebelum ia tahu, Yesung menolak perjodohan itu bukan karena tidak menyukai Kibum. Tapi justru sebaliknya.
"Apa yang harus aku lakukan, Minho'ah? Aku telah mengkhianati Changmin hyung. Aku jatuh cinta pada namja lain. Dan aku mendapatkan hukumannya. Changmin hyung memilih oranglain, sementara orang yang aku cintai, hanya mempermainkanku. Dia menyukai oranglain," ucap Yesung semalam sembari memeluknya erat.
Minho patah hati.
Ia tahu sejak awal Yesung tak pernah menatapnya. Tapi Minho tak pernah berpikir, Yesung yang sangat mencintai Changmin, bisa berpaling dari namja itu. Dan bukan pada Minho.
"Hei, Minho! Kau masih hidup kan?" tanya Sulli sambil menggoncang kepala namja itu.
"Sulli'ah!"
"Hmm?"
"Yesung hyung mencampakkanku," ucap Minho tanpa mengangkat kepalanya.
"Ne? Bukankah dari dulu dia tidak tertarik padamu?"
"Ya!" protes Minho.
"Berhentilah mencintai orang yang tak pernah mencintaimu!" ucap Sulli.
Minho menatap sahabatnya.
"Bukankah Nara Choi memiliki cinta hampir dari sepertiga penghuni sekolah?"
"Ya! Kurasa lebih dari itu!" protes Minho.
"Ani! Kau pikir penggemarmu lebih banyak dari Nara yang lain?"
"Cih! Kupikir kau sedang menghiburku!" gerutu Minho.
"Aku memang melakukannya. Asal kau serius mencarinya, pasti akan kau temukan yang lebih baik dari Kim Yesung," ucap Sulli seraya beranjak pergi.
"Hei! Bagaimana kalau kau saja?" tanya Minho setengah bercanda.
Sulli tersentak. "Boleh," jawabnya datar yang membuat Minho melongo.
Apa dia tidak salah dengar?
.
Onew menghela nafas.
Aura gelap di kanan dan kirinya membuatnya sulit bernafas. Dia ingin bertukar tempat duduk dengan oranglain. Tapi semua penghuni kelas merasakan tekanan yang sama. dan tidak ada satupun yang bersedia bertukar tempat dengannya.
Dosa apa yang dia lakukan di masa lalu?
"Aku sudah tidak tahan! Bisakah kalian akhiri saja! Jika kalian saling membenci katakan langsung! Jika kalian saling menyukai katakan juga!" ucap Onew akhirnya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya semalam? Semua dibatalkan," ucap Yesung.
"Kau yakin? Aku rasa harabeoji tidak akan menyetujuinya. Semua akan berlanjut," sahut Kibum.
"Kalau begitu, Onew, kau cucu kakek Kim juga kan? Kau saja yang menggantikan namja menyebalkan itu!" geram Yesung.
"Aku tidak keberatan," ucap Onew polos, sebelum merasakan hawa yang semakin mencekam.
"Apa nyawamu lebih dari satu, Lee Jinki?" ucap Kibum dengan nada mengancam.
"Kim Kibum! Apa masalahmu, eoh?!" Yesung menggebrak meja seraya berdiri, menatap tajam pada Kibum.
"Masalah? Tunanganku melarikan diri dengan namja lain. kau pikir itu bukan masalah?!"
"Kau membawa mantan kekasihmu di hari perjodohan itu, wajar saja dia lari!"
"Dia datang sendiri. Apa itu salahku?!" elak Kibum.
"Kau masih mencintainya. Lalu untuk apa kau bertunangan dengan oranglain?!"
"Apa aku pernah mengatakan aku mencintainya?" bantah Kibum.
"Bukankah dia first kissmu?" sahut Yesung.
"Itu tidak salah. Tapi bukan berarti aku mencintainya."
"Kau selalu mengatakan cinta pertamamu sangat cerewet, bukankah itu Kim Ryeowook saem?" teriak Yesung yang membuat semua siswa semakin penasaran dengan penyebab pertengkaran mereka.
"Apa aku pernah menyebut namanya?!"
"Dia yang mengatakan padaku!"
"Jangan mencari-cari alasan untuk menolakku, Kim Yesung?! Apa kelebihan Shim Changmin yang tidak aku miliki, sampai kau begitu tergila-gila padanya?!"
"Changmin hyung mencintaiku!"
"Aku juga mencintaimu, Kim Yesung!" teriak Kibum tanpa sadar.
Mata Yesung melebar mendengarnya. "A-apa? J-jangan bercanda. Kau hanya ingin membalas dendam pada kami kan?"
"Itu..."
"Jika itu yang kau inginkan, selamat Kim Kibum. Kau berhasil. Aku mengkhianati Changmin hyung dengan jatuh cinta namja pada orang lain. Dan sekarang Changmin hyung memilih untuk bersama noonamu. Kau menang, Kim Kibum...," ucap Yesung dengan mata berkaca-kaca.
Onew mendesah berat. "Kim Yesung aku rasa kau salah pa-"
Kalimat Onew terputus saat Kibum mendorongnya hingga nyaris terjengkang, kalau saja kursinya tak membentur tembok di belakangnya. Sementara Kibum menarik dasi Yesung memaksa namja itu mendekat dan langsung menangkap bibir namja manis itu dengan Onew berada tepat diantara mereka.
Kissue...
Seluruh penghuni kelas terbelalak menyaksikan momen itu. Si manusia salju, Kim Kibum, yang sangat minim ekspresi, bisa melakukan hal segila itu? Mencium seseorang di hadapan banyak orang. Mereka bahkan tak pernah berpikir mereka dekat.
"Ehem! Kim Kibum! Kim Yesung! Apa yang kalian lakukan di kelasku?!"
Yesung mendorong tubuh Kibum menjauh saat mendengar suara itu. "Kalian berdua dihukum. Keluar dan berlutut dengan tangan di atas, selama satu jam pelajaran!"
"Mwo? Ya! Kim Ryeo-"
"Sopanlah pada gurumu, Kim Kibum'ssi! Jalani hukuman kalian, dan jangan bergerak sebelum aku perintahkan!"
"Cih!"
Kibum menggandeng Yesung keluar dari kelas mereka untuk menjalani hukuman mereka. Atau sebenarnya itu sedikit pembalasan dari Kim Ryeowook.
"Hei, Saem, kau berhutang satu penjelasan pada kami," ucap Kibum saat melewati Ryeowook.
Namja manis itu tersenyum. "Aku ingin melakukannya, tapi ayahmu ingin agar aku tidak ikut campur, kau ingat? Jadi itu bukan urusanku," ucapnya tanpa berhenti tersenyum.
"Kau!"
"Jadi, selamat menjalani hukuman kalian," ucap guru mungil itu seraya menutup pintu kelas.
Yesung berlutut di samping pintu kelas, tanpa banyak bicara. Kibum menoleh, seraya mengikutinya. Berlutut sambil mengangkat tangan mereka.
"Hei, Kim Yesung, tadi itu kau cemburu ya?" tanyanya.
Yesung menoleh, menatap tajam pada namja di sampingnya. "Ani!" jawabnya.
Kibum menyeringai. "Geotjimal!"
"Aku tidak berbohong!"
"Jinjja? Tapi otak jeniusku berkata, semalam kau cemburu pada Kim Ryeowook, berpikir bahwa dia adalah cinta pertamaku, makanya kau melarikan diri kan?"
Mata Yesung melebar. "A-apa yang kau bicarakan?"
"Bodoh!"
"Mwo?"
"Namja cerewet itu bukan Kim Ryeowook. Tapi namja yang aku kenal di Jepang. Yang terlambat di upacara penyambutan siswa baru. Namja yang setiap hari menggerutu karena selalu menjadi sasaran pengakuan cinta para siswa. Namja yang tak pernah bisa diam. Tapi namja itu menghilang, dan berubah menjadi oranglain yang selalu tampak kesepian. Namja itu bernama Kim Yesung."
Pipi Yesung merona mendengar ucapan Kibum. Kalimat panjang pertama yang Yesung atau bahkan oranglain tak pernah dengar sebelumnya.
Jadi, Kim Kibum menyukainya sejak mereka di jepang? Bahkan sebelum mereka berpura-pura menjadi sepasang kekasih?
"Bo-bohong..."
"Aku sudah berusaha menyampaikannya, tapi kau tak pernah mengerti. Pabboya!"
Yesung terdiam. Menunduk menghindari tatapan Kibum padanya. Dia benar-benar tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Hyungie?"
Kedua namja itu mendongak mendengar suara Minho.
"Kalian sedang apa?" tanyanya.
"Kau tidak lihat?" jawab Kibum kesal. Masih merasa Minho adalah saingannya.
Hoobae mereka itu menahan tawanya. "Aku tidak tahu apa kesalahan kalian, tapi ini rekor. Jarang sekali kan melihat Nara Kim menderita," ucapnya tanpa sedikitpun rasa simpati.
"Cih!" Kibum membuang muka.
"Jadi, kalian dilarang bergerak apapun yang terjadi ya?" tanyanya seraya berjongkok di depan Yesung.
"Jangan menanyakan apa yang sudah kau tahu, Minho'ah!" kesal Yesung.
Minho mengangkat bahu. "Hanya memastikan," ucapnya ambigu. "Bahwa aku bisa melakukan ini...,"
Mata Kibum dan Yesung membola karena Minho yang seenaknya mencium bibir Yesung dan melumatnya. Memanfaatkan situasi yang ada.
"Hadiah pertunangan kalian. Selamat bersenang-senang!" ucapnya kemudian seraya berlalu pergi. Kali ini tanpa menoleh lagi.
"Ya! Choi Min-"
Kalimat protes Yesung terpotong saat Kibum mencondongkan tubuhnya dan melakukan hal yang sama seperti apa yang Minho lakukan, tanpa menurunkan kedua tangannya yang terangkat.
Yesung terpaku. Tak tahu harus melakukan apa. Jantungnya berdebar sangat kencang. Sementara tubuhnya justru tak mampu bergerak sedikitpun. Yang bisa ia lakukan hanya diam, menerima kecupan-kecupan kecil yang Kibum lakukan. Pun dengan tangan yang masih terangkat tinggi.
Kim Ryeowook mendengus kesal. Padahal ia berniat membatalkan hukumannya karena kasihan. Tapi sepertinya mereka justru menikmati hukumannya. Masa bodoh jika nanti guru lain memergoki dan menambahkan hukuman untuk mereka. Itu urusan mereka.
.
The End
.
Lama tidak muncul dan langsung End. Pasti banyak yang komplain. #pura-pura nggak dengar.
Pokoknya makasih untuk semua dukungan dan reviewnya. Mian lama baru update. Untuk HaeSung dan Wonsung brothershipnya, akan menyusul. Selanjutnya, mungkin saya akan pensiun. Hhehehe..., atau kalau tidak, mungkin akan pindah haluan jadi GS. Itupun saya nggak janji untuk update rutin.
Entahlah. Karena suatu hal, yang saya juga nggak ngerti alasannya, tiba-tiba saya kehilangan semangat menulis BL. Mianhae... dan terima kasih sekali lagi. Saranghae!
See ya!
