WELCOME BABY

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoonhoon

Jimin-Yoongi-Jihoon

...Welcome Baby...

[11] THANKS A LOT, LOVE

Jimin masih merasa sakit akibat remasan tangan Yoongi yang sangat kuat tadi. Sekarang istrinya iu sudah masuk ruang bersalin dan Jimin tak diijinkan masuk mengingat kondisinya juga tak bisa dibilang baik untuk bisa menemani Yoongi di dalam sana. Jimin hanya bisa menunggu di luar, bersama Taehyung dan Jungkook yang juga khawatir.

Saat dibawa ke ruang bersalin Yoongi tak henti-hentinya melenguh sakit. Dari wajahnya Jimin tahu kalau yang Yoongi rasakan adalah kesakitan yang bukan main. Ia memang tak bisa membayangkannya tapi melihat Yoongi berkeringat dingin begitu Jimin jadi ikut merinding. Dia menggenggam tangan Yoongi agar istrinya itu dapat berbagi rasa sakitnya. Buku-buku jari Jimin sampai memutih saking kuatnya Yoongi mengenggam.

Sekarang di depan pintu bersalin, Jimin duduk gelisah. Dia menyandarkan kepalanya yang pening ke tiang besi penyangga infus yang barusan sudah dipasangkan lagi oleh perawat.

"Jiminie!"

Terlihat Seokjin datang dengan sedikit berlari diikuti Namjoon di belakangnya. Mereka membawa kantung plastik berisi makanan. Jimin hanya menengadah tanpa bangkit dari duduknya sementara dua bocah laki-laki yang tadi duduk di sebelahnya berlari dan menerjang sang ibu.

"Kami kembali ke ruang rawatmu dan bertemu seorang perawat, katanya kau sedang di ruang bersalin bersama istrimu." Seokjin yang napasnya sedikit terengah itu berjongkok untuk memeluk anak-anaknya. "Yoongi sedang bersalin sekarang?"

"Iya. Dia di dalam."

"Kau tidak menemaninya?"

Pertanyaan Namjoon membuat Jimin benar-benar sedih.

"Aku diusir." dari kata-kata itu saja harusnya Namjoon tahu kalau alasan Jimin duduk di luar karena dia tidak cukup sehat dan kuat untuk mengikuti proses persalinan istrinya. Jimin masih berstatus pasien rumah sakit yang baru beberapa jam lalu masuk UGD.

Jimin terlihat mengenaskan memang. Aneh melihat seorang lelaki dengan perban di kepala, infus di tangan dan luka-luka di tubuhnya sedang duduk menunggu istrinya bersalin.

"Tenanglah, Yoongi pasti akan baik-baik saja." Namjoon duduk di samping Jimin dan menepuk pundak tetangganya itu. "Kau tidak perlu cemas."

"Entahlah, Namjoon, aku hanya—aku tidak pernah melihat Yoongi kesakitan sampai seperti itu. Tangannya dingin tapi badannya berkeringat. Sudah begitu... dia menangis dan menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan sakit. Aku biasa mendengarnya berteriak dan menjerit, sekarang saat dia berusaha keras untuk menahan itu aku benar-benar merasa bingung. Aku tidak bisa apa-apa..."

"Aku juga punya perasaan yang sama denganmu dulu, dua kali aku mengalaminya. Tapi aku percaya pada Seokjin, dan semua baik-baik saja."

"Sekarang kita hanya perlu percaya dan berdoa saja, Jiminie..." tambah Seokjin dengan nada bicaranya yang lembut.

Jimin menoleh akhirnya. Dia juga memandang Taehyung dan Jungkook. Dua anak itu juga mungkin sama, lahir dari proses yang tak mudah. Tapi mereka tumbuh sehat dan sempurna. Jimin hanya harus percaya pada Yoongi-nya. Yoongi akan melahirkan bayinya dan semua pasti baik-baik saja.

.

Mereka tak tahu sudah berapa lama waktu berjalan. Jimin hanya diam saja. Namjoon sesekali menghiburnya karena dia terlihat terlalu suram. Dua kakak beradik yang sudah lelah menangis itu jatuh tertidur di pelukan ibunya. Seokjin melirik lampu ruang bersalin itu berkali-kali. Berharap warnanya segera berubah hijau.

"Ah!"

Seokjin memekik saat lampu itu benar-benar telah berubah menjadi hijau. Tak lama seorang perawat keluar dari pintu itu. Dia menurunkan maskernya sebatas dagu.

"Tuan Park Jimin?"

"Iya?" Jimin langsung bangkit berdiri ketika namanya dipanggil.

"Persalinannya sudah selesai. Anda boleh masuk."

"Ah? Oh... eng..." Jimin terlihat bingung, dengan tangan menunjuk pintu dan kata-kata yang tak keluar dari mulutnya. Perawat itu menyungggingkan senyum.

"Istri Anda baik-baik saja. Bayi Anda juga lahir dengan selamat dan sehat."

Jimin tak kuasa untuk menahan senyum yang mengembang dan air mata harunya. Dia sangat senang dan bersyukur. Semua baik-baik saja.

Dia pun melirik Namjoon dan Seokjin yang masih setia mendampinginya. Mereka memberi gestur supaya Jimin cepat-cepat masuk ke ruang bersalin. Jimin juga sempat melihat Seokjin menitikkan air mata sambil tertawa.

Jimin menyeret tiang infusnya dan masuk dengan langkah ragu ke dalam ruangan itu. Di ambang pintu, sayup dia dengar suara tangisan bayi. Semakin dia berjalan masuk, tangisan itu terdengar makin keras. Dia mencari di mana sumber suara itu. Matanya menangkap beberapa perawat wanita sedang memandikan bayi mungil yang masih merah. Bayi itu menangis. Itu bayinya. Itu Jihoon. Jimin memandang kegiatan itu dengan rasa tidak percaya. Dia benar-benar tidak percaya bahwa Jihoon yang sembilan bulan berada di dalam perut Yoongi kini sudah lahir. Sudah nampak di hadapannya dengan tubuh kecil dan tangisannya.

"Oh, selamat Tuan Park." seorang dokter yang memimpin operasi itu memberinya sebuah senyum simpul. Berbagai peralatan yang telah digunakan untuk proses persalinan itu hampir selesai dibereskan. Jimin melihat seseorang yang entah mengapa sangat dirindukannya itu tengah berbaring lemah di sebuah ranjang. Seorang perawat terlihat tengah membersihkan bekas jahitan di perutnya dengan kapas dan alkohol.

"Jiminie...?" panggil Yoongi lirih.

Jimin mendekat dan berhenti di samping ranjang itu, dia mengamit tangan Yoongi dan merematnya kuat. Entah, ada gelenyar aneh ketika tangan mereka bersentuhan. Keduanya saling bersitatap dan tak lama sama-sama menangis haru. Jimin mencium tangan Yoongi berkali-kali sambil menggumamkan kata terimakasih.

"Jihoonie sudah lahir ya...?" tanya Yoongi dengan suara lemahnya. Dia masih bisa tersenyum walau dia benar-benar kelelahan.

"Iya." Jimin mengangguk.

"Jihoonie nangisnya kencang sekali..." Yoongi agak meringis. Tangis bayi kecil itu bahkan lebih keras dari suaranya.

"Hu-um..." lagi-lagi Jimin hanya mengangguk. "Terimakasih sayang, terimakasih atas segalanya."

"Ya, aku juga mencintaimu Jiminie..."

Jimin tertawa kecil mendengar kalimat Yoongi yang seakan lebih dulu tahu apa yang ingin dikatakannya. Dia mengecup tangan lembut itu, persis di atas cincin perak yang tersemat di jari manisnya.

...Welcome Baby...

Bayi baru lahir butuh proses inisiasi pertama untuk mengenalkannya pada sang ibu. Yoongi yang sudah dipindah ke ruang rawat yang lebih nyaman kemudian diminta untuk melakukan proses itu. Bayi kecilnya tertelungkup di dadanya. Dengan wajah mungil itu dia mengusak, mencari kehangatan, aroma sang ibu, juga sumber makanannya.

Yoongi agak malu saat sang dokter masih berada di sana. Begitu pula dengan keberadaan Seokjin dan Namjoon juga anak-anak mereka. Jadilah semuanya meninggalkan ruangan itu dan memberi Yoongi privasi. Hanya tinggal Jimin yang setia menemaninya.

"Jiminie ini geli..."

Yoongi tertawa meringis saat merasakan Jihoon benar-benar bersentuhan dengan kulitnya. Bayi itu menggeliat-geliat di dada Yoongi dan terlihat sibuk mencari sesuatu yang diinginkannya.

"Biar dia cari sendiri puting susumu, jangan bantu dia..." Jimin menahan tangan Yoongi yang hendak mengarahkan kepala mungil itu ke sebelah dadanya. Akhirnya Yoongi hanya menunggu.

Hap! Yoongi sedikit menahan pekikannya ketika merasa putingnya dilahap. Ada mulut kecil yang bergerak-gerak di sana.

"Jimin..." dia tidak tahu harus berkata apa. Dia benar-benar merasa asing dengan semua ini. Dengan bayi yang selama ini berada dalam kandungannya, sekarang sedang menyusu untuk pertama kali. Dia senang, tapi dia juga bingung harus merespon seperti apa.

"Jihoonie... Park Jihoon-ku sayang..." Jimin memandang kagum pada bayi itu. Disentuhnya pipi Jihoon dengan ujung jarinya. Sangat lembut dan hangat. Entah apa yang mendorongnya hingga tiba-tiba ia ingin menangis dan dia benar-benar melakukan itu. Bahkan sampai terisak-isak.

"Jiminie jangan menangis! Dasar pria cengeng! Cengeng, kau!" Yoongi memaki sang suami sementara tangnannya bergerak menepuk-nepuk pipi yang sudah merah dan basah itu. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai Yoongi juga ikut menangis. Aneh memang, tangisan itu bisa menular. "Dasar Jiminie pabbo!"

"Aah, aku tidak pabbo! Berhenti memakiku! Dasar penyihir!" Jimin mencium wajah Yoongi bertubi-tubi. Lelaki cantik itu memang penyihir. Si penyihir yang sudah membuat Jimin amat cinta padanya.

Jihoon masih betah menyusu sementara kedua orangtuanya berbagi ciuman mesra penuh kasih.

...Welcome Baby...

Esoknya Yoongi dan Jimin mendapat kunjungan dari Jung Hoseok. Lelaki yang kemarin sedang dinas ke luar kota itu sengaja kembali setelah mendengar kabar sepasang suami-istri itu sama-sama berada di rumah sakit.

"Awalnya aku bingung mau menjenguk siapa dulu, kau atau Jimin saat mendengar kalian berdua masuk rumah sakit. Ternyata si pasien yang satu malah nyasar di sini." cibir Hoseok pada Jimin yang tengah menumpu kepalanya dengan siku di atas ranjang Yoongi. Lelaki itu nyengir saja tanpa dosa.

"Mana mungkin aku berbaring di kamarku dan membiarkan istriku berduaan saja dengan mantan pacarnya di sini—aduh!" candaan itu direspon Yoongi dengan tamparan di pipi Jimin. Tamparan sayang. Jimin meringis. Yoongi tak terlalu suka Jimin menyindirnya seperti itu. Walau hanya bercanda, 'sih.

"Aku terluka dan kau menamparku? Kenapa kau sejahat itu pada suamimu, Yoongs?"

"Oh aku jahat ya? Tapi kau memang pantas disiksa, bagaimana 'dong?" balas Yoongi dengan mata melotot. Ei, dia sangat menyeramkan kalau sudah begitu.

"Kalian ini terlalu aneh untuk jadi suami-istri. Suka sekali ya, kalian bertengkar begitu?" Hoseok mengurut pangkal hidungnya. Rasa-rasanya dulu saat ia pacaran dengan Yoongi, ia tak pernah adu mulut seperti ini. Tapi mereka hobi sekali bertengkar seperti anjing dan kucing. "Nanti kalau anak kalian lihat bagaimana?"

"Aku tidak akan membiarkan Jihoon membela dia!" mereka menjawab kompak. Kalimatnya sama. Keduanya saling menatap takjub dan tak percaya kalau apa yang keluar dari mulut mereka benar-benar persis. Hoseok tak ketinggalan herannya.

Ah, mungkin memang mereka sudah sehati. Sejiwa. Namanya suami-istri. Akhirnya Hoseok menyimpulkan sendiri.

"Sepertinya kalian harus sedikit mengurangi hobi bertengkar itu, atau kubawa saja anak kalian menjauh dari orangtuanya yang tidak bisa akur ini?" kata Hoseok asal.

"Ei, beraninya. Sini berkelahi denganku dulu kalau mau membawa Jihoon."

"Hehehehehehe, bercanda..." Hoseok mengangkat kedua tangannya tanda menyerah pada si rambut oranye yang berdiri menantang dengan dada membusung itu. Bagaimana pun Jimin punya massa otot yang jauh lebih besar darinya.

"Bercandamu bikin aku sensi." senyum Jimin sebal.

"Iya maaf... aku tidak bermaksud..." Hoseok mengeluarkan sejurus kekeh andalannya dan satu pukulan bersahabat di dada Jimin. Jimin masih tersenyum tapi dia balas memukul dada Hoseok. Lebih keras sedikit. Muka Hoseok seketika penuh derita.

"Aduh! Akh—! Yoongi!"

Yang pertama Hoseok memukul Jimin, Jimin memukul Hoseok, dan sekarang Yoongi yang mencubit lengan Jimin keras sekali.

"Jangan terlalu sentimen begitu, bisa 'kan? Kau ini tdak tahu situasi." komentarnya pedas. Jimin masih meringis dan mengusap-usap lengannya yang habis dicubit itu.

"Terimakasih sudah membelaku, Suga."

"Sama-sama Hobi-ah."

Jimin komat-kamit mencibir acara 'terimakasih dan sama-sama' mereka itu. Sedikitnya dia cemburu.

"Nah, aku hampir lupa untuk memberikan hadiah ini pada kalian—eh maksudku pada anak kalian—ya berarti untuk kalian juga 'sih." Yoongi tertawa mendengar omongan Hoseok yang diralat-ralat. Lelaki itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah boneka Pikachu. Jimin menggeleng.

"Aigoo, Pika—"

"—chuu..."

Dua sahabat sekantor itu mengucap nama si pokemon bersambungan. Yoongi merasa mereka terlalu lucu dan bodoh. Menggelikan.

"Kalau bonekanya Pikachu aku juga mau. Buatku saja. Nanti kau beli lagi buat Jihoon." ucap Jimin meminta. Boneka itu masih ada di tangan Hoseok.

"Ya! Mana bisa begitu?" Hoseok menjauhkan boneka kuning lucu itu dari tangan Jimin.

"Kalau buatku saja boleh tidak, Hope?" giliran Yoongi yang meminta penuh rayuan maut. Matanya mengerjap-erjap centil dengan bibir mengerucut imut. Pipi gembilnya putih seperti tofu.

"Tidak untukmu juga. Aku berikan ini untuk Jihoon." Hoseok menaruh boneka itu di boks Jihoon. Jimin tertawa keras. Yoongi memberengut kecewa.

"Ish. Dasar kuda."

"Khehehehehehehe." tawa Hoseok mengejek. "Aku harus segera kembali ke kantor, ada pekerjaan yang kutinggal. Nanti aku datang lagi kemari."

"Ya, pergilah Hope-ah. Kerjakan pekerjaanmu, jangan jadi pegawai yang makan gaji buta." Jimin mengusir.

"Dasar tidak tahu terimakasih. Huuh! Aku cinta kau, Park mochi Jimin!"

"Sayangnya aku hanya cinta Yoongi, Jung kuda Hoseok!"

Yoongi terlalu lelah untuk menghentikan mereka. Biarlah. Ia senang suami dan mantan pacarnya dahulu itu berhubungan baik sebagai sahabat.

Ia menyamankan diri pada sandarannya di kepala ranjang dan bantal berlapis. Matanya memandang boks bayi di samping ranjangnya. Di sana Jihoon tengah tertidur lelap. Dia terlalu asyik bermimpi mungkin. Gaduh-gaduh di kamar itu tidak digubrisnya sama sekali.

"Daah!"

Terlalu larut mengkhayal, Yoongi baru sadar Hoseok sudah pergi ketika pintu itu ditutup. Jimin kembali ke kursinya dan mengamit tangan Yoongi. Ia lantas mencium punggung tangan istrinya itu.

Kadangkala Jimin nampak berbeda ketika mereka tengah berduaan. Jika ada orang lain, ada temannya, seperti Hoseok tadi, dia banyak bercanda. Tapi dalam keadaan yang hening seperti ini, dia lebih kalem dan lembut.

"Jiminie, aku ingin gendong Jihoon."

"Oke."

Meski baru sehari, Jimin sudah cukup pandai menggendong bayi. Karena bisa atau tidaknya tergantung pada kepercayaan diri. Banyak orangtua yang takut menggendong anaknya yang baru lahir. Tapi Jimin yakin bahwa Jihoon akan baik-baik saja di gendongannya. Ia ayahnya.

"Halo, Jihoonie... Papa tidak mengganggu tidurmu, 'kan? Mamamu ingin menggendongmu sekarang."

Jihoon menggeliat. Tapi bayi kecil itu sama sekali tidak nampak terganggu. Hanya merasa bahwa ranjang empuknya berganti menjadi lengan dan dada seorang ayah yang kokoh.

"Jihoonie..."

Yoongi menerimanya dengan hati-hati. Bayi itu sedikit merubah posisi dengan kepala yang mengusak ke dada Yoongi, termasuk tangannya yang bertumpu di sana. Yoongi mengelus pipi pucat yang warnanya sama dengan kulitnya itu lembut.

"Sepertinya Jihoon sudah hapal kalau bertemu mamanya dia harus apa."

Yoongi menoleh, Jimin memasang tampang biasa.

"Padahal tadi pagi dia sudah menyusu, masa' dia masih ingin lagi?"

"Siapa tahu?"

Jimin menggendikkan bahu.

"Jihoonie masih belum kenyang?" tanya Yoongi pada bayinya. Jimin tertawa melihat adegan itu. Ia pun memindahkan bokongnya dari kursi ke ranjang dan tanpa permisi bersandar di dada Yoongi seperti yang Jihoon lakukan.

"Jihoonie sepertinya suka sekali pada susu ya?"

"Jimin! Kau kira dadaku bantal apa?!" Yonggi membentak. Ia singkirkan kepala oranye itu dari dadanya. Sayang Jihoon menyahut bentakan itu dengan suara tangisnya yang pecah.

"Mama jangan marah-marah, Jihoon takut jadinya..."

"Kan kau juga yang cari masalah!"

Oeeekkkkkk!

Sepertinya keluarga kecil Park ini memang keluarga yang tak akan pernah lepas dari yang namanya keributan.

...Welcome Baby...

END

Psssttt! Masih ada ekstra chapter! Bonus heheheheh.