Beberapa minggu berlalu kini Sakura dapat pulang ke apartemenya dan dapat beraktivitas seperti biasa. Sebenarnya Naruto sangat ingin mengajak Sakura untuk pulang ke rumahnya, tapi Sakura bersikeras menolak. Dan tetap pada pendirianya.
"yakin ingin bercerai?"
"ya aku sangat yakin"
Naruto seolah tak mempunyai pilihan lain, dai sungguh tak ingin percerainya dan Sakura terjadi. Tapi apa yang bisa Naruto perbuat? Apa Naruto akan memaksanya? Tapi sungguh dia tidak bisa melakukan itu. Demi tuhan! Sakura sedang mengandung darah daginya.
"baik akan aku turuti keinginanmu tapi.."
Naruto tersenyum getir.
"izinkan aku untuk merawatmu, merawat anak kita dan menemanimu saat kau akan melahirkanya"
"ya kau boleh merawatnya hanya samapai dia lahir. Dan kita tidak tinggal bersama"
"tapi sakura-chan.."
Sakura mengelus perutnya.
"anak ini miliku"
"baik, aku turuti keinginanmu"
Maka setelah Naruto bernegosiasi dengan Sakura, perceraianpun terjadi. Meninggalkan luka terutama dihati Naruto. Kali ini Sakura harus tegas, sudah cukup dia menderita karena perlakuan Naruto. Dia tidak ingin dirinya dan anaknya kelak menjadi korban. Naruto menemani Sakura, menemaninya pergi ke dokter atau apa saja yang Sakura butuhkan Naruto bersedia siap 24 jam untuknya. Meski tak tinggal seatap, meskipun tak lagi serumah tapi Naruto bersyukur dia masih diberikan kesempatan menjadi seorang ayah meskipun hanya sesaat.
.
.
.
"dia lucu sekali"
"tentu saja. Dia sangat mirip dengan anda tuan"
Naruto melihat haru anaknya yang baru saja lahir kedunia di inkubator. Sakura baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat, lahir sempurna tanpa cacat apapun.
"anaku.."
Sakura mengelus dan mencium anaknya hendak menyusuinya. Naruto melihat pemandangan yang menakjubkan, untuk pertama kalinya buah hatinya menyusu pada ibunya.
"biarkan aku memberi dia nama Sakura"
Naruto ikut mengelus kepala anaknya dengan lembut dan penuh cinta.
"Namikaze Shinaciku"
sakura fokus menyusui Shinaciku.
"kau ingatkan perjanjian kita Naruto"
"hm"
Baru saja Naruto merasakan kebahagiaan, Sakura tetap bersikeras pada pendirianya.
"tak bisakah aku merawat Shina-kun samapi dia tumbuh besar?"
"perjanjian tetaplah perjanjian, selain itu aku tak mau kau bertemu lagi dengan Shinaciku. Jangan usik hidup kami Naruto"
"tapi Sakura-chan, dia juga anaku"
"aku tak peduli"
Melihat ketegasan dimata Sakura Naruto seakan tak bisa berbuat apa-apa.
"baik"
Sakura mencium pipi bayinya yang sedang tertidur pulas dalam gendonganya.
"bagaimanapun juga aku adalah ayah dari Shinaciku"
Naruto menatap lamat puteranya.
"setidaknya izinkan aku memengok kalian, sebagai ayah aku ingin bertanggung jawab. Dan kalau kau membutuhkan apa-apa aku harap kau bisa menghubungiku Sakura. Dan tentang Shina.."
Naruto menelan ludah teras berat.
"hak asuhnya memang menjadi milikmu. Tapi aku akan tetap memberi nafkah pada kalian berdua, setidaknya sampai Shina dewasa. Dia juga mempunyai hak atas warisanku, aku hanya minta waktu padamu Sakura untuk bertemu dengan puteraku. Aku ingin merawat dia sampai dewasa dan dapat memimpin perusahaan kelak"
Naruto tersenyum getir menatap Sakura yang tetap melihat Shinaciku tidur dalam gendonganya.
"jaga Shinaciku untuku"
.
.
.
TBC
.
.
Gomen kalau beneran di buat cerai T_T konfliknya lebih tenang saja ko fic-nya gak bakalan Shionn buat bad ending apa lagi sad ending. arigatou gozaimats yang udah berkenan reviews dan reads fic Shionn ini. shionn harap tidak terlalu mengecewakan
