Kangen gak? Wkwkwk…

Warning: Ootjeh, gaada perkelahian, flat? Maybe. Dll.

The Middle

15. Pertemuan yang Disengaja

"Sial!" Oikawa menggertak meja. Dia memegang kertas, lalu menghancurkannya dalam robekan. "Ini tidak sesuai rencanaku." Ringisnya. "Seharusnya ini berhasil!"

"Menjerit-jerit gila seperti itu tidak akan membantu." Komentar Iwaizumi. Dia bersandar di kusen pintu, dengan Ushijima yang memasuki ruangan gelap itu.

Oikawa terkekeh merendahkan. "Kenapa kalian begitu tenang? Memangnya kita sedang mengalami apa? Kemenangan, atau kekalahan?"

Suara kendaraan bermotor di tengah malam terdengar dan melenyapkan kesunyian di ruang gelap itu. Ushijima menggelengkan kepalanya. "Kita tidak kalah. Tapi tidak menang juga. Kita seri."

Oikawa tersenyum kecut dan membalik meja dengan kedua tangannya, membuat suara dentuman keras di ruangan yang sunyi itu. "Kalian tahu kalau aku ini Nomadic sama seperti kalian, 'kan?! Dan aku Nomadic berkemampuan Sang Perencana!"

"Dan itu membuatku gila saat mengetahui bahwa rencanaku gag-"

"Tidak ada yang mengatakan bahwa rencanamu gagal, Kusokawa." Sela Iwaizumi, dengan tangan yang mencengkeram bahu Oikawa dengan kuatnya. Oikawa mendecih, melepaskan cengkeraman tangan Iwaizumi. "Terserahlah."

Ushijima menghela napasnya. "Setidaknya seri adalah kita bisa mengambil keuntungan dari The Middle dan mereka juga bisa mengambil keuntungan dari kita."

Dengusan keluar dari hidung Oikawa. "Ya, ya. Roger that, boss." Cibirnya. "Iwa-chan, bisa panggil Kageyama-kun?"

Iwaizumi mengangguk. "Sudah kupanggil. Mungkin beberapa detik lagi dia kemari."

"Ada apa kau memanggilku, Iwaizumi-san?" Pemuda berambut hitam lurus muncul dengan cahaya dari belakang yang membuatnya terlihat serba hitam.

"Ah, baru saja kami membicarakanmu." Gumam Ushijima, bersedekap ke arah Kageyama-sang pemuda. "Aku hanya ingin mengatakan, apa yang kau lakukan saat si gagak hitam dan si kacamata jangkung itu mengejarmu?"

Kageyama sedikit tersentak, dan menundukkan kepala, melihat ke samping. Mulutnya seketika tertutup rapat tidak mau memberi jawaban. "Jawablah." Tukas Iwaizumi. "Sebenarnya kami kecewa terhadap kamu yang tiba-tiba seperti itu dan membuat pertandingannya menjadi seri."

"Padahal kau sebenarnya lebih unggul dari Sugawara."

Lelaki yang dulunya dijuluki Black Mask itu menelan air liurnya. "Gagak hitam itu dulunya sahabatku semenjak kecil." Akhirnya, Kageyama membuka suaranya. "Sudah enam tahun kami tidak bertemu, dan itu membuatku syok saat melihat ternyata dia masih ada di sini."

"Daripada terdiam kaku dan akhirnya tertangkap, lebih baik aku menghindar, pikirku saat itu."

"Teman masa kecil, ya..." Gumam Oikawa melihat ke langit-langit ruangan, mengingat masa kecilnya bersama Iwaizumi dan Sugawara.

Ushijima mengangguk. "Aku mengerti perasaanmu." Sambil berjalan, dia memegang pundak kiri Kageyama. "Tapi, misi adalah misi. Dan musuh adalah musuh. Jika misimu menghancurkan musuh, maka hancurkan mereka walaupun itu adalah saudaramu sendiri." Kemudian, Sang Boss The Contra keluar dari ruangan.

Kageyama menggepalkan tangannya yang gemetar. Oikawa melihat itu. "Berbicara tentang pertandingan seri, berarti satu keuntungan kita dapatkan, dan satu keuntungan untuk The Middle. Kau tahu maksudnya apa?"

"Aku akan keluar dari sini. Seperti yang dikatakan Ushijima-san." Lanjut Kageyama, mengulang perjanjian pada masa itu. Oikawa tersenyum puas. "Itu baik untukmu juga, kan? Sekarang, tugasmu sudah selesai di sini. Terserah kau mau pergi sekarang atau besok."

"Lalu, bagaimana dengan keuntungan The Contra?" Sela Kageyama. Oikawa sedikit terdiam, lalu dia dan Iwaizumi saling berpandangan. "Kau mau ambil Suga, atau si gagak hitam?" Bisiknya.

Suara tawa menggema ke seluruh ruangan. "Ya tentu merebut si gagak hitam lalu menjualnya. Kou-chan terlalu keras kepala untuk diajak kemari."

Kageyama mengernyit. "Tapi itu sama saja aku tidak akan bertemu-"

"Aku tidak berencana untuk mempertemukanmu dengannya. Mengerti?" Sela Oikawa dingin.

Seketika, suara gedoran pintu ruangan gelap itu terdengar dengan bising. "Tendou-kun, apa yang kau lakukan?!" Geram Oikawa menutup kedua telinganya. "Urgent, urgent! Aku dengar dari Shirabu-kun, Kindaichi-kun membuka pintu yang diketuk. Tebak siapa yang datang?" Ujar Tendou dengan wajah kagetnya.

"Tidak ada waktu untuk bermain-main, Tendou. Siapa yang datang dan kenapa bisa ada yang tahu tempat persembunyian kita?" Tukas Iwaizumi.

Tendou menyeringai. "Di sana ada Kuroo-kun, Bokuto-san, dan yang-"

"Kep*rat! Kenapa The Ayes bisa datang?!" Geram Oikawa langsung bergegas ke ruang utama. Sedangkan Kageyama kehabisan kata-kata.

-The Middle-

"Jika kalian tahu, kami kalah telak melawan The Middle. Mereka mempunyai dua kartu Ace dan satu kartu King yang membuat mereka semakin kuat. Jadi, aku kemari hanya ingin menyampaikan..."

"... Kami membutuhkan bantuan kalian, atau mungkin kita sebut ini sebagai sebuah kerja sama."

"...Kita banyak menanggung dendam kepada The Middle, bukan?"

"Jadi, sekarang kita membalas dendam dengan cara memusnahkan The Middle dan menguasai dunia asli. Persetan dengan dunia phantasm dan peraturan yang membuat kita berperang antar saudara..."

"Pemerintah hanya mempermainkan kita seperti wayang. Kalian juga pasti sudah tahu."

"Akhir dari penjelasan kami, maukah kalian menerima tawaran kami untuk bekerja sama?"

-The Middle-

"Kenapa kalian menerima tawarannya?" Kata Kageyama melihat Oikawa dengan suara rendah tapi sedikit sopan. Dia menggertak giginya, menahan amarah. Karena dia tahu, bahwa itu melawan hukum.

Dia melanjutkan. "Pemerintah sudah baik memberikan kebijakan untuk kita dengan memberikan tempa-"

"Bukannya sudah aku katakan, kalau Nomadic muncul saat ada orang yang mempunyai latar belakang hidup yang benar-benar miris, Kageyama-kun?" Sela Oikawa dengan tatapan dingin kepada Kageyama.

"Ibuku diperkosa lalu dibunuh oleh siapa? Oleh pejabat. Sebagian keluarga Iwa-chan dibantai karena disangka mempunyai hubungan khusus dengan partai berbahaya yang sekarang baru dimusnahkan. Mereka dibantai oleh siapa? Pemerintah."

"Lalu siapa yang memperbudak Ushijima-kun selama 8 tahun? Pemerintah kita." Lanjut Oikawa bersandar di kusen jendela.

Sejujurnya, Kageyama baru tahu tentang latar belakang Oikawa dan yang lainnya sekarang. Dia mengepalkan tangannya. "Maaf, aku tidak bermaksud..." kata-kata Kageyama menggantung.

Oikawa menghembuskan napasnya dengan maklum. "Dan sekarang, pergilah. Sebelum kau benar-benar diusir oleh Ushijima."

Kageyama mengangguk, mengambil ranselnya dan membuka pintu.

Krek.

"Sial." Gerutu Kageyama sembari menutup pintu markas pada pagi itu. "Kenapa malah ini yang terjadi...?" Geramnya, lalu bergegas pergi dari tempat itu. "Aku harus cepat-cepat mencari Hinata dan bertemu dengannya."

-The Middle-

"Bosaaaaaaaaaaaaaaaan~" gerutu Hinata berselonjoran di sofa.

Tsukishima mendengus ke arah Hinata. "Bukannya barusan kita memecahkan pencurian berantai dan mengejar si pencuri itu sampai kewalahan?" Tanyanya. "Semangatmu itu benar-benar seperti monster."

Hinata mendecih. "Seharusnya kau yang dijuluki monster karena tinggi badanmu yang jangkung itu!"

"Hee, jadinya kau iri?~"

"T-tidak bodoh! Walaupun seperti itu lompatanku lebih tinggi darimu!"

"Tapi kalau aku yang melompat pasti aku jauh lebih tinggi kan?"

"Berisik! Kacamata sialan!"

"Bocah cebol kampungan."

"Hei! Kau sepertinya menyindirku!" Seru Nishinoya tidak terima.

"Kalian! Jangan berisik!" Daichi berseru dengan emosi dan menjitak kepala Tsukishima, Hinata dan Nishinoya.

"Kenapa aku juga kena?!" Seru Nishinoya tambah tidak terima.

Ennoshita yang sudah pulang dari rumah sakit tertawa. "Sepertinya mereka butuh hiburan." Dia menyimpulkan.

Asahi mengangguk. "Mungkin tidak apa-apa kan, kalau sekali-kali pergi ke taman hiburan?" Usul Asahi menutup laptopnya. Hinata dan Nishinoya langsung bersorak setuju.

"Yoosh! Kalau begitu, semua anggota The Middle akan ikut! Aku, Nishinoya, Ennoshita, Daichi-san, Asahi-san, Yachi-chan, Kiyoko-san, Suga-san, Hinata, dan Tsukishima!" Seru Tanaka dengan berapi-api.

"Aku tidak ikut."

"Eh?" Semua mata tertuju kepada si pemilik suara. "Ini adalah kejadian langka karena seorang Suga menolak ajakan ke taman hiburan." Gumam Daichi.

Sugawara tersenyum kecut. "Sebenarnya aku juga ingin ikut! Tapi manager di bar menyuruhku untuk bekerja dan aku sangat sangat sangaaaat kelelahan." Gerutunya.

Apa?! Seorang Suga bisa kelelahan?! Batin semuanya dengan tidak percaya.

Kiyoko terkikik (yang tidak disadari membuat Tanaka dan Nishiniya terpesona), "Baiklah kalau begitu. Ini sudah pukul sepuluh pagi, mungkin taman hiburannya baru buka. Lebih baik kita pergi sekarang agar beli tiketnya tidak mengantri terlalu panjang."

"Siap Kiyoko-chaaan~!"

Dan pada saat itu, semua berdadah-dadah ke Sugawara dan Nenek San di sebelahnya. "Oh iya, Asahi! Aku pinjam laptopmu ya!" Tambah si pemuda abu-abu itu.

"Jangan buka yang aneh-aneh!"

-The Middle-

Sugawara duduk di meja Asahi dengan santai. Pukul sebelas nanti, ia akan pergi ke bar entah untuk perkumpulan klien atau apapun itu.

Dia membuka laptop Asahi dengan wajah jahil, menyalakan laptopnya dan membuka folder bernama "Aib Anggota The Middle".

"Setidaknya membaca tentang aib seseorang bukanlah hal yang tidak-tidak, kan?" Kikik Sugawara yang mulai merasa jiwanya Out of Character.

Mulai dari pertama melihat foto masa kecilnya Asahi dan Daichi, foto saat Nishinoya dan Tanaka mandi bersama sambil bernyanyi-nyanyi tidak jelas dan hanya memakai selembar handuk, dan yang lainnya.

Sugawara sempat kesal karena ada fotonya yang sedang menatap celana boxernya dengan rindu yang dijemur di balkon apartemennya. Sungguh, siapa yang memotretnya itu?!

Tapi, suatu hiburan itu berubah menjadi rasa penasaran. File Tsukishima-lah yang belum dia buka selama ini.

Dengan sedikit keraguan, dia meng-klik folder itu. Sayangnya, folder itu tidak mempunyai foto aib sedikitpun, malah banyaknya seperti Microsoft Word yang judulnya tidak dimengerti oleh Sugawara. Hmph, dia memang jago menutupi aibnya. Batinnya dengan cemberut.

Tapi, ada satu dokumen yang membuat Sugawara penasaran. Dia membuka, dan membacanya.

...

"Apa?" Kata Sugawara dengan nada yang tidak percaya. "Darimana Asahi bisa mendapat informasi ini?" Dilihatnya sumber-sumber di akhir halaman itu dari berbagai berita, koran, website, para saksi, dan website tersembunyi yang masuknya hampir sama susahnya dengan deep web.

Sebuah deringan ponselnya bisa membuat Sugawara jantungan dengan suasana yang tegang tadi. Mana dia sendirian di markas, pula. Dengan rusuh, dia mengangkat teleponnya.

"Halo?"

"Ah, Suga-san! Kamu ada dimana?"

"Eh, Kinoshita-kun? Aku, err... masih ada di rumah nenek." Jawab Sugawara sambil mengoperasikan printer di sebelahnya untuk bekerja.

"Kau tidak sibuk kan? Sebentar lagi manager akan datang. Usahakan jangan sampai terlambat!"

"Iya, iya, aku akan segera ke sana. Aku memang hendak berangkat!"

"Baiklah kalau begitu. Kami tunggu kehadiranmu di bar, Suga-san!"

Dan telepon pun ditutup. Sugawara mengambil kertas yang telah dicetak oleh printer, menutup laptop Asahi tanpa dimatikan, dan langsung menyambar jaketnya.

"Ya ampun, Asahi. Kau memang seorang Hacker yang unggul."

-The Middle-

"UWAAAAAAAAH! Keren!" Seru Hinata dengan mata berbinar. Dia melihat berbagai hiburan menarik yang begitu besar dan megah.

Tsukishima memandang Hinata dengan angkuh. "Kampungan. Jadi kamu baru pertama kali kemari, hm?"

"T-tidak, kacamata sialan! Aku pernah tapi sudah lama sekali!" Ujar Hinata dengan kesal.

"Kalau begitu, aku dan Kiyoko-san akan naik bianglala!" Seru Yachi sambil menunjuk ke arah bundaran yang besar.

Daichi mengangguk, sementara Tanaka dan Nishinoya diam-diam mengikuti Kiyoko dan Yachi di belakang.

Oh, jadi itu ya, yang namanya bianglala... batin Hinata, yang seumur-umur hanya pernah lihat bianglala dari koran bekas kacang rebus.

"Aku dan Ennoshita mengunjungi food court!" Seru Yamaguchi melambai-lambai ke yang masih ada di depan pintu masuk.

Daichi membalas lambaian tangan Yamaguchi, dan beralih menatap Tsukishima dan Hinata. "Kalian mau kemana?"

Tsukishima menaikkan bahunya. "Entahlah. Daichi-san dan Asahi-san sendiri mau kemana?"

Terlihat kedua dari mereka menyeringai jahil kepada satu sama lain. "Game Master." Katanya mantap.

"Kalau begitu, kami duluan ya!"

"Kita bertemu lagi pukul 1 di taman dekat food court!"

Tsukishima dan Hinata membalas lambaian tangan Daichi dan Asahi. Tsukishima hanya membayangkan kedua om-om berbadan kekar dan berjenggot seperti Asahi bermain menangkap boneka. Tidak, si kacamata itu geli membayangkannya.

Tapi itu lebih baik daripada harus bersama bocah-yang-tidak-ada-habisnya-bersemangat-walaupun-sudah-babak-belur ini. "Jadi, kau mau kemana?" Tanya Tsukishima dengan acuh tak acuh.

Hinata menyeringai.

Tsukishima menyesal telah bertanya.

"ROLLER COASTER! KITA DUDUK DI YANG PALING DEPAN!"

"Tidak. Aku—"

"No. Pokoknya Tsukishima harus ikut! Nggak ada alasan untuk menolak!" Hinata langsung menarik tangan Tsukishima.

Pemuda berkacamata itu hanya menggerutu.

-The Middle-

Dalam tempat lain, bianglala telah berputar dengan lembut, membiarkan pemandangan dari luar bilik itu memanjakan mata para penumpang di dalamnya. Yachi menempelkan kedua telapak tangannya di kaca jendela. Pemandangan yang sangat indah di akhir musim panas itu. Awan-awan bergelora seperti gula kapas raksasa yang terbang tertiup angin diiringi pemandangan hijau pohon-pohon dan rumah-rumah kecil di sekitarnya.

"Wah, semua yang ada di kota ini kelihatan dari atas sini!" Seru Yachi dengan antusiasnya. Kiyoko tersenyum melihat keantusiasan milik sang juniornya. Rasanya asyik juga jika bisa berekspresi sepuasnya.

Tiba-tiba, ponsel milik Kiyoko berdering. "Hm, siapa itu, Kiyoko-san?" Tanya Yachi.

Dengan tenang, Kiyoko mengambil ponsel dari tas kecilnya dan melihat siapa yang meneleponnya. "Eh, Suga?"

"Apa?! Suga-san menelepon Kiyoko-san?!" Seru Yachi yang mulai panik. "Apa yang terjadi dengan Suga-san?!"

Kiyoko buru-buru langsung mengangkatnya. "Halo?"

"Kiyoko-san, apa sekarang kau sedang sibuk? Lagi dimana?"

"Aku sedang bersantai kok, Aku dan Yachi sedang menaiki bianglala. Ada perlu apa?"

"Apa aku bisa bicara sebentar?" Tanya Sugawara yang sedang menaiki taksi di sana.

"Kalau sebentar, aku masih bisa." Jawab Kiyoko bersandar di kursi.

"Oh, baguslah. Jadi begini, ..."

"Hm, begitu ya..."

"..."

"Besok? Aku tidak mempunyai jadwal kok. Dimana?

"..."

"Ra-mu-ne Cafe? Itu dekat dengan rumahku. Di sana pukul empat sore? Baiklah, aku akan pergi ke sana nanti. Sama-sama." Kemudian Kiyoko menutup ponselnya. Yachi yang sedari tadi diam mengeluarkan suara. "Suga-san... bicara tentang apa denganmu?" Tanya Yachi dengan gugup.

Kiyoko tersenyum lembut. Dia menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa, dia hanya mengajakku untuk minum kopi bersama."

"M-MINUM KOPI BERSAMA?!" Seru Yachi tambah panik, membuat Kiyoko sedikit kaget. "Ada apa, Yachi?" Tanyanya.

Yang ditanya hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Mmpf-hanya saja, a-aku takut membayangkan Nishinoya dan Tanaka marah saat mendengar hal itu." Kata Yachi sambil gemetaran.

Sementara itu,

"Noya-san! Itu lihat, Kiyoko-san dan Yachi-chan sedang mengobrol!" Seru Tanaka menunjuk ke sisi kaca. "Mana?! Mana?!" Serunya langsung berada di sebelah Tanaka.

"Itu! Kira-kira, mereka sedang ngobrolin tentang apa ya...?"

Nishinoya memicingkan matanya. "Hmm... Sulit untuk diprediksikan..."

-The Middle-

"Bagaimana, seru tidak, mainnya?" Tanya Daichi dengan bangga. Setelah mereka makan siang di sana, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah kedua mereka, markas. Ini sudah pukul tiga sore, banyak anak-anak sekolahan yang pulang ke rumah bersama teman-temannya. Ada yang pulang sendiri, bersama temannya, dan juga ada yang mampir dulu ke rumah temannya.

Semuanya mengangguk dan tersenyum puas, begitu juga dengan Hinata yang energi semangatnya tambah tinggi. Hanya Tsukishima saja yang parasnya berbeda. Asahi yang menyadari mimik wajahnya, bertanya. "Sepertinya kau tidak terlalu terhibur. Ada apa?"

"Bagaimana terhibur jika hiburan itu menaiki roller coaster di paling depan? Itu malah membuatku muntah.

Semua anggota The Middle tertawa melihat penderitaan Tsukishima. Namanya juga The Middle, anggotanya memang begitu. Sungguh miris.

"Hinata," Suara rendah dari belakang terdengar ke telinga sang lelaki berambut jingga itu. Langkahnya terhenti, dan menoleh ke belakang. Begitu pula dengan yang lainnya. Tatapan Hinata langsung menegang pada saat itu. Tsukishima , Asahi, Daichi, dan yang lainnya hanya melihat dengan tatapan kebingungan.

Dengan sedikit terdesak, Hinata berkata dengan rasa tenggorokan yang kering. "... Kageyama?"

The Middle

a/n:

Yak, maap hampir three bulan nggak nongol :v

Diriku emang sibuk, biasa, orang penting *uhuk*

Ada banyak faktor hambatan aku gabisa update.

1. Tugas

2. Pulang selalu malem

3. Ekskul

4. Pulang malem langsung ngerjain tugas

5. Gaada inspirasi

6. Males/dibakar hidup-hidup/

Dannnn, untuk yang review aku jawab deh beberapa~

Allen491, LynAkmn, Jambul si Ayam Bertopi, Kenma Plisetsky: BAGI YANG MEMBERIKU SEMANGAT MAKASIIIIIIIIIH BANGETTTTTT! LOPE BUAT KALIAN DEH!

Allen491: Entahlah, pairingnya gaje banget di sini, saya nggak bisa buat action romance :'v

Takeshi24yamada: Tydack, cerita ini tidak sempurna! Jauuuh dari sempurna! Dan maap aku tydack bisa membuat pairing! Uhuhuhu~ :'v

Thankyou bagi kalian yang udah baca dan support~

Love from: Jooja