HI ... I'm back. maaf sekali sudah menelantarkan fiiksi ini. tak ada niat. tapi memang kegiatan sehari-hari yang sangat menyita waktu membuat fiksiku terlantar semua.
mudah-mudahan masih ada yang menunggu dengan setia ya...
untuk orang yang tidak suka, monggo tinggal di klik tombol kembali. dan untuk yang suka silahkan menikmati. semoga chapter ini bisa membuat kerinduan kalian terobati (pede mode on)
Tahukah kalian bahwa setiap keputusan yang kalian ambil akan membawa kalian pada peristiwa yang berbeda dan kadang tak pernah terduga? Hinata mengalaminya. Ketika dia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya tanpa bayangan masa lalu. Dia malah di hadapkan pada kenyataan yang selama ini tersembunyi. Banyak rahasia yang terungkap mengenai kehidupannya. Sanggupkah dia menghadapi semua itu, atau malah dia akan menyerah?.
I presented
SUNSHINE
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : Naruto, Gaara, Hinata
Ratting : M
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 10
Hinata tak tahu apakah jantungnya masih bisa menahan kejutan lagi setelah ini. Ya hari ini jantungnya serasa dipompa dengan cepat oleh kejadian-kejadian yang menimpanya. Pertama dia bertemu dengan orang-orang yang mirip dengan dirinya, Hyuga begitulah nama marga mereka, marga yang sama dengan seseorang yang pernah menghancurkan kehidupannya. Meskipun dia tahu Hyuga adalah marga yang terkenal di konoha namun bertemu secara langsung dengan anggota keluarga dari penyandang marga tersebut baru pertama kali di alaminya, selain dengan shion dan ibunya tentu saja.
Kejadian kedua adalah dia tak menyangka akan bertemu dengan sang mantan mertua. Itupun kalau Kushina pernah menganggappnya sebagai menantu. Tapi seingatnya dari dulu Kushina tak pernah menganggapnya ada. Jadi Hinata tidak tahu harus menyebut wanita berambut merah yang sekarang sedang duduk berhadapan dengan dirinya ini sebagai siapa.
Wanita penyandang Namikaze itu terlihat berubah dari apa yang pernah diingatnya. Dulu Kushina selalu terlihat segar meskipun di umuunya yang sudah tak muda lagi. Namun wanita di hadapannya ini terlihat lebih kurus dan seperti tidak tidur dalam waktu yang lama. Lingkar hitam di sekeliling matanya merupakan pembuktian dari teori tersebut.
Pertanyaannya kenapa mereka bisa saling bertemu? Salahkan saja Sakura yang tak memberitahukan keberadaan Kushina yang sedang berada dikediaman wanita Uchiha itu, saat Hinata berniat menjemput Himawari setelah acara makannya dengan keluarga Hyuga. Mau menghindarpun percuma karena mereka sudah saling bertatap muka.
Hinata masih menunggu wanita itu untuk mengeluarkan suaranya, namun selama lebih dari 5 menit tak ada satu katapun yang di keluarkan oleh Kushina. Himawari sendiri sedang di ajak oleh Sakura ke halaman belakang rumahnya, jadi mereka di tinggal berdua di ruang tamu rumah tersebut.
"Maaf Kushina-san ... sepertinya saya harus segera pergi. Langit sudah mulai menghitam" Hinata akhirnya berinisiatif untuk membuka suaranya. Dia hendak bangun ketika suara Kushina mengintrupsinya.
"Hi... Hinata... Tunggu dulu" Suara wanita itu terdengar ragu "Aku ... aku ..."
"Sudahlah Kushina-san, sepertinya saat ini kita memang sama-sama belum siap untuk berbicara. Mungkin lain kali ketika kita sudah lebih siap dengan hati masing-masing, kita akan berbicara. Saat ini saya harus benar-benar pulang" Ya kenyataannya hati Hinata belum siap berhadapan dengan mantan mertuanya tersebut. Dia memilih beranjak setelah ucapannya itu.
"Hinata ... ma .. maafkan ibu ..."
Kata terakhir itulah yang Hinata dengan dari mulut sang wanita paruh baya sang mantan mertua, sebelum dia beranjak ke halaman belakang untuk mengambil Himawari dan segera pergi dari rumah itu.
.
.
.
.
Gaara mengernyit saat mendapati istrinya masuk kedalam mobil dalam keadaan panik. Dia memang sengaja tak ikut turun untuk menjemput Himawari, selain menunggu di parkiran rumah sepupunya itu. Alasannya untuk menghemat waktu. Namun melihat raut wajah Hinata yang berbanding terbalik dengan saat wanita itu keluar dari mobil, membuat dia sedikit penasaran. Apa yang terjadi di dalam rumah Sakura?
Himawari terlihat mengantuk dalam gendongan istrinya tersebut. Tak ingin membuat suasana menjadi kurang nyaman, pria itu segera melajukan mobil saat Hinata sudah selesai dengan sabuk pengamannya. Dia akan bertanya pada sang istri prihal perubahaan moodnya itu setelah sampai di hotel.
Tak butuh waktu lama bagi mereka sampai ke tempat menginap mereka untuk beberapa hari di Konoha. Meskipun dia punya beberapa kenalan di kota ini, Gaara lebih nyaman tinggal di hotel atau setidaknya sampai dia menemukan tempat untuk mereka tinggali mengingat Hinata menginginkan untuk mereka tinggal di Konoha.
Gaara mengambil alih Himawari dari pangkuan Hinata. Putrinya itu sudah terlelap, meskipun matanya sedikit terbuka saat tubuhnya berpindah pada tangan kekarnya, namun tak lama kemudian gadis kecil itu memejamkan kembali matanya.
"Jadi apakah terjadi sesuatu di rumah Sakura?" Tanya Gaara setelah pria itu meletakan Himawari di tempat tidur.
"Maksud Gaara-kun?" Hinata meliriknya dari arah meja rias, wanita itu sedang membersihkan mukanya.
"Kau tak pandai berbohong, wajahmu menyiratkan bahwa ada sesuatu yang terjadi saat tadi kita menjemput Hima" Pria itu menghampiri Hinata kemudian melingkarkan tangannya di leher sang istri.
"Ti-tidak ada apa-apa" Wanita itu gugup
"Hinata!"
"Aku bertemu dengan Kushina-san.." Ujar Hinata saat mendengar suara tidak suka sang suami
"Kami tak berbicara apa-apa hanya saja ..."
"Hinata ... apa kau yakin ingin pindah tinggal di Konoha?" Gaara membalikan tubuh HInata dan menatap mata wanita itu.
"Maksudmu?" Hinata bertanya ragu
"Kau tahu, jika kita memutuskan untuk tinggal di kota ini, kemungkinan kau bertemu dengan orang-orang di masa lalumu sangat besar" Ujar Gaara
"Aku tahu ... Tapi bagaimana dengan Gaara-kun. Aku tak ingin membuatmu ..."
"Masalahnya bukan terdapat pada ku sayang ... masalahnya apakah kau siap menghadapi apa yang akan terjadi kedepannya? Mengingat sekarangpun saat kau bertemu dengan Kushina kau sudah panik. Apa kau yakin bisa menghadapi mereka?" Gaara terdiam sesaat mengamati raut wajah kebingungan sang istri.
"Aku sudah bilang kau tidak usah memaksakan dirimu. Aku tak keberatan harus pulang pergi Suna-Konoha. Jangan khawatirkan aku OK . Khwatirkan dirimu sendiri" Lanjutnya sebelum berdiri hendak menuju kamar mandi tapi lengannya di tahan oleh Hinata, wanita itu memeluknya. Menyandarkan kepalanya di dada sang suami, mencari ketenangan.
"Aku sudah bertekad untuk melupakan masa laluku. Jadi aku siap menghadapi apapun yang akan menghadangku di depan. Aku tetap ingin pindah ke kota ini" Ujar Hinata mendongakan kepalanya menatap sang suami.
Gaara membalasnya dengan senyuman " Baiklah, besok kita akan mencari rumah di kota ini" Ujar Gaara mengecup bibir Hinata.
.
.
.
.
"Bibi ... apa bibi baik-baik saja?" Sakura menghampiri Kushina yang masih belum beranjak dari kursinya semenjak di tinggal Hinata.
"Sakura .. Apa gadis ... gadis tadi adalah cucuku, Himawari?" Kushina malah melayangkan pertanyaan pada Sakura.
"Bibi ..."
"Sakura ... bibi mohon cukup jawab pertanyaan bibi, apa Himawari adalah cucu bibi?" Kushina memotong ucapan Sakura dan kembai menanyakan hal yang sama.
"Iya.. Hima-chan adalah cucu bibi. Anak Naruto dan Hinata" Sakura menjawab
"Ya Tuhan ... aku ... aku ... " Kushina tak bisa berucap apa-apa. Air matanya mulai mengalir. Ada rasa bahagia sekaligus sedih dalam suaranya.
"Lalu ... lalu kemana cucu laki-lakiku? Bukankah Himawari mempunyai saudara kembar laki-laki, Boruto. Kemana Boruto? kenapa dia tidak bersama Hima?" Kushina mulai bertanya keberadaan cucu laki-lakinya.
"Bibi ... sebenarnya ... " Sakura ragu apakah dia harus menceritakan keberadaan Boruto pada Kushina
"Ada apa Sakura? Apa terjadi sesuatu pada Boruto?" Kushina bertanya panik saat melihat kesedihan di wajah Sakura
"Bibi ... Boruto sudah tiada"
"Apa maksudmu?"
"Boruto sudah meninggal"
"Tidak ... tidak mungkin" Kushina tdak percaya " Sakura tolong ceritakan semuanya pada Bibi. Bibi ingn tahu seberapa besar kesalahan yang telah bibi perbuat pada Hinata" Kushina menarik tangan Sakura dan menggenggamnya erat. Matanya menyiratkan permohonan yang tak bisa di tolak Sakura.
Meskipun wanita berambut pingk itu awalnya sedikit kesal pada Kushina. Namun dia juga tak bisa terus-terusan menyembunyikan semuanya. Lagi pula dia juga ingin tahu seberapa jauh Kushina terlibat atas penderitaan yang di alami Hinata. Apalagi wanita itu sudah bertemu dengan Hinata dan anaknya, dan melihat dari reaksi yang di tunjukan Kushina. Sepertinya wanita itu merasa menyesal.
"Boruto meninggal saat usianya masih bayi Bibi ... Ada yang dengan sengaja mencelakai Hinata dengan menabrakan sebuah mobil padanya. Dan apakah bibi tahu, mobil yang digunakan palaku untuk menabrak Hinata adalah mobil Naruto "
"Apa?" Kushina menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Itu tidak mungkin Sakura, Naruto tidak mungkin melakukan hal itu. dia bahkan tidak ingat akan sosok Hinata dan kedua anaknya."
"Tapi Bi... Hinata yakin dengan penglihatannya. Apalagi sebelumnya dia sering menerima surat ancaman yang di kirimkan ke alamatnya. Mengatakan bahwa dia harus segera pergi dari Konoha atau sesuatu akan terjadi padanya dan kedua anaknya" Jelas Sakura
"Bisa saja ancaman itu datang dari musuhnya kan Sakura?" Kushina bertanya tak yakin
"Bibi .. Hinata tidak mengenal siapapun di Konoha selain keluarga bibi, aku dan Sasuke. Bibi tak pernah mengijinkannya untuk keluar rumah kalau bibi tidak lupa." Jawab Sakura sedikit menyinggung
"Tapi ... tapi. Aku sudah tak pernah mengusik kehidupan Hinata saat dia pergi dari rumahku" Kushina membela diri
"Maksdu bibi saat wanita itu di usir dari rumah bibi tepatnya" Sakura berkata sarkatis
"Sakura ... aku tahu aku berdosa padanya, dan aku menyesal. Tapi tak pernah sekalipun aku berniat mencelakainya. Aku hanya ingin keluargaku utuh kembali maka aku menyuruh Hinata pergi dari rumahku. Aku ingin menjalankan amanat suamiku, Apa itu salah?"
"Aku yakin bibi sudah tahu jawabannya. Permasalahannya adalah jika bukan Bibi atau Naruto yang melakukan, maka ada pihak lain yang menginginkan Hinata menderita. Dan orang itu adalah ... "
Kedua wanita yang berbeda umur itu saling berpandangan. Fikiran mereka tertuju pada satu nama yang paling mungkin menjadi tersangka terhadap kejadian yang menimpa Hinata.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam saat Kushina masuk ke dalam rumhanya. Dia melihat sang putra semata wayang masih duduk di ruang tamu, seperti sedang menunggu seseorang.
"Ibu ... Ibu dari mana saja? Kenapa ponsel ibu tak bisa di hubungi?" Tanya Naruto menghampiri sang ibu yang baru masuk ke dalam rumah.
"Ah ... Ibu dari rumah Sakura dan ponsel ibu low batt. Kenapa kau belum tidur?" Kushina balik bertanya
"Aku menunggu ibu. Tidak biasanya ibu pulang sampai selarut ini. Apa ibu lupa dengan penyakit ibu?" Tanya Naruto khawatir
"Ibu mengobrol terlalu seru dengan Sakura, jadi lupa waktu" Kushina jadi mengingat obrolannya dengan sahabat putranya tersebut.
"Naruto ada yang ingin ibu tanyakan?" Kushina bertanya tiba-tiba
"Ibu bisa bertanya apapun" Jawab Naruto
"Apa kau mengingat sesuatau tentang ..."
"Ah ibu sudah pulang?" Tiba-tiba Shion datang, memotong perkataan Kushina
Kushina hanya melirik ke arah Shion kemudian memusatkan kembali perhatiannya pada Naruto.
"Nar ... "
"Ibu sebaiknya ibu segera istirahat, kita bisa melanjutkan obrolannya besok pagi. Tidur terlalu larut tidak baik untuk kesehatan ibu. Benar kan Naruto-kun?" Shion lagi-lagi memotong perkataan Kushina. Sementara Naruto hanya menganggukan kepala tanda menyetujui peryataan Shion.
"Naruto-kun... aku akan mengantar ibu terlebih dulu" Ujar Shion memboyong Kushian ke arah kamarnya.
"Ibu ... apa yang akan ibu katakan pada Naruto?" Tanya Shion penasaran
"Itu bukan urusanmu Shion" jawab Kushina.
"Bu ... Naruto adalah suamiku dan aku berhak mengetahui apapun tentang suamiku" Jawab Shion, kentara sekali menantunya itu sedikit menahan amarah.
Kushina tak peduli kemudian menutup pintu kamarnya di depan wajah menantunya itu. setelah obrolan panjangnya dengan Sakura, wanita paruh baya itu sedikit curiga bahwa ada hal lain yang mendorong Shion bersama ibunya untuk menyingkirkan Hinata dari kehidupan Naruto. Tapi Kushina sendiri belum yakin dengan motif yang di lakukan kedua orang tersebut, selain janji pernikahan Naruto dan Shion.
.
.
.
.
Neji mendial sebuah nomor untuk di hubungi. Setelah perbincangannya dengan Hiashi, akhirnya mereka memutuskan untuk menyelidiki Hinata. Ya mereka belum terlalu yakin bahwa Sabaku Hinata adalah Hyuga Hinata yang mereka cari selama ini, tapi jika mengingat marga wanita itu sebelum menikah dengan Gaara, dan kemiripan wajah Nyonya Hyuga dengannya, itu cukup untuk dirinya dan Hiashi yakin untuk melakukan hal ini
"Apa yang kau inginkan Hyuga?" Sapaan itulah yang terdengar saat sambungannya di angkat oleh lawan bicaranya
"Apa selalu seperti itu jawabanmu pada seseorang yang menghubungimu secara baik-baik, Sabaku?" Neji berusaha bergurau
"Tidak usah menceramahiku, apa yang kau perlukan?"
"Aku dan keluargaku ingin bertemu dengan Hinata lagi" Neji mengutarakan maskudnya
"Tidak bisa sekarang, aku dan Hinata berncana mengunjungi rumah yang akan kami tempati"
"Jadi kalian berniat pindah?"
"Bukan urusanmu"
"Aku serius Gaara. Maksduku begini. Aku yakin orang sepertimu mempunyai musuh yang lumayan banyak dan jika kau menempatkan keluarga mu di lingkungan yang tidak terjaga dengan baik keamanannya, maka kau tidak akan tenang"
"Apa maksudmu berkata seperti itu padaku?"
"aku punya sebuah penawaran terhadapmu Gaara" Neji tak boleh salah bicara jika berhadapan dengan orang semacam Gaara.
"Kau tahu di kota Konoha, komplek yang paling aman untuk di tempati salah satunya adalah komplek Hyuga. Kami punya beberapa rumah yang bisa di tempati." Lanjutnya lagi
"Heh... Kau lupa dengan peristiwa penculikan anak tertua kepala keluarga Hyuga, Neji?" Si Sabaku menyindir, sedikit membuat Neji jengkel
"Ya aku tahu, itu sejarah kelam kami, karena itu kami lebih berhati-hati tentang keamanan lingkungan kami semenjak saat itu. Lagipula Fasilitasnya juga tak akan mengecewakan. Kau akan lebih mengerti setelah melihatnya sendiri. Kau berkutat dalam bidang pproperty, kalau aku tidak salah"
Karena tidak ada jawaban dari Gaara. Neji melanjutkan ucapannya
"Aku mohon Gaara, kau tahu aku... maksudku kami telah kehilangan salah satu keluarga kami selama dua puluh tahun. Meskipun aku belum tahu siapa itu HInata, tapi aku yakin dia adalah bagian dari kami. Aku akan memberi tahu sebuah rahasia padamu Gaara. Siapapun dalang di balik penculikan sepupuku dua puluh tahun lalu, dia masih berkeliaran bebas sampai saat ini. Kami hanya ingin memastikan Hinata dan putrinya baik-baik saja. Aku tak meragukan kemampuanmu untuk menjaganya , tapi kau pasti tak mungkin terus-terusan bersamanya 24 jam. Jika dia dekat dengan kami, maka kita bisa menjaganya sama-sama. Kuharap kau akan memikirkan ucapanku ini"
"Akan aku fikirkan"
Neji tersenyum miring. Mudah-mudahan usahanya tak sia-sia. Meskipun berbincang dengan sabaku itu cukup menguras energi dan kesabarannya. Sepertinya itu tidak jadi masalah jika Gaara menerima usulannya. Dengan begitu mereka sedikit diberi kemudah untuk lebih mengenal Hinata.
Maaf kalo ada tulisan yang masih salah, atau ceritanya malah jadi absurb. ini saya fiikirkan dan ketik langsunghanya dalam dua hari. jadi semoga di maklumi jika ada salah-salah kata.
terimakasih... jangan lupa RnR!
Ja nee
