Title : Tears in the Thorn

Author : Elle Riyuu

Main Cast : Chanbaek

Genre : Romance, hurt/comfort

Rate : M

Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.

.

.

[CHAPTER 11]

.

.

.

Baekhyun tahu ia telah membuat kesalahan yang benar-benar fatal. Sungguh, ia benar-benar tidak bermaksud untuk menerima ciuman itu. Hanya saja ia tidak pernah diajarkan bagaimana caranya menolak. Karena yang ia tahu, jika ia melakukan penolakkan ia akan mendapatkan hukuman. Meski pria itu adalah Jongin, seseorang yang tidak pernah melayangkan tangan padanya. Tapi ia tak pernah tahu kehidupan Jongin saat jauh darinya, ia mungkin saja berubah menjadi orang yang kasar. Sehingga ia membalas pagutan Jongin dengan hati yang pecah, ia merasa ia telah berkhianat. Dan kini calon suaminya menjadi sangat marah, membuatnya semakin merasa bersalah dalam kubangan dosa.

"Cha-Chanyeol! P-pelankan! Turunkan k-kecepatannya! K-kumohon!" Baekhyun mencengkram seatbelt yang melintasi dadanya dengan begitu kuat, ia tampak pucat dan berkeringat.

Tapi Chanyeol tidak peduli, ia malah menginjak pedalnya dengan semakin brutal. Semua racauan Baekhyun seakan semakin menambah kadar kemarahannya. Racauan suara lembut itu membuat bayangan kejadian tadi melintasi kepalanya berkali-kali.

"To-tolong d-dengar-ka-kan aku! Ja-jangan s-seperti ini, Chanyeol! J-jangan m-membunuhku dengan c-cara ini! Kumohon!" Baekhyun berteriak sekuat tenaga karena tekanan rasa takut dan panik, tidak peduli dengan suaranya yang berubah serak. Tubuhnya gemetar dan ia mulai menangis dengan keras.

"Ya, Baekhyun! Benar! Aku ingin menyakitimu! Membunuhmu! Agar kau tahu seberapa besar dosa yang harus kau tanggung karena telah mengkhianatiku! Kau telah mengkhianati Phoenix!" Chanyeol berteriak dengan amarah yang mutlak, menggeram marah dan membuat Baekhyun jadi semakin gemetar.

Chanyeol tidak tahu dengan pasti perasaan apa yang tengah dirasakannya yang jelas adalah rasa kecewa yang menyengat. Ia benar-benar kecewa karena Baekhyun berupaya mengkhianatinya.

"C-Chanyeol!" Baekhyun memekik keras saat Chanyeol menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba di depan pagar kediaman mereka, menghasilkan bunyi decitan yang menusuk telinga.

"Sial!" Tapi Chanyeol malah berteriak keras, membuat Baekhyun merasa semakin kecil.

Dan di detik selanjutnya Baekhyun semakin menangis keras karena Chanyeol yang benar-benar terlihat menakutkan. Chanyeol yang menggeram marah dengan tangan-tangan mengepal yang memukul-mukul klakson dengan brutal. Chanyeol yang menurunkan kaca jendela dengan berteriak marah pada mereka yang membuakakan gerbang. Chanyeol yang kacau, Baekhyun merasa pening karena ketakutan.

.

.

Chanyeol keluar dari mobilnya bahkan sebelum pengawalnya sempat bergerak untuk membukakan pintunya. Chanyeol berjalan cepat menuju sisi tempat Baekhyun duduk dengan kening yang berkerut, menahan amarah yang sudah hampir meluap. Dan Baekhyun yang terus menangis hanya mampu berusaha melepaskan seatbelt-nya. Namun gerakan tangannya yang ceroboh membuatnya menangis semakin keras, ia harus segera melepaskan seatbelt-nya, tapi tangannya yang gemetar tidak bisa bergerak dengan benar.

Baekhyun merasakan matanya semakin memburam setelah Chanyeol membuka pintu mobil. Wajah itu kini terlihat datar, tapi Baekhyun tahu amarahnya yang begitu besar terselip jelas dalam dua iris kelamnya.

"Keluar, Baekhyun." Tubuh Baekhyun meremang saat Chanyeol menyebut namanya dengan suara datar, terasa seakan ia dipanggil oleh malaikat kematian.

Baekhyun mengangguk cepat dengan isakkan yang telah keluar dari sela bibir mungilnya. Tangannya terus bergerak, tapi sesekali ia merengek karena tangannya yang masih belum bisa bergerak dengan benar.

Chanyeol yang menatap kelakuan pria kurus itu hanya mampu menatap tajam, ia merasa muak dengan raut ketakutan dan tubuh gemetar yang Baekhyun tunjukkan. Dalam keheningan yang terasa begitu menyiksa, Chanyeol akhirnya menurunkan tubuhnya lalu membuka seatbelt Baekhyun dengan terlalu mudah, membuat Baekhyun sedikit terkesiap. Dan Baekhyun memekik saat Chanyeol menyambar lengannya dan menariknya kasar. Chanyeol tahu kalau ia menyakiti Baekhyun dari bagaimana ia dapat merasakan tulang dari tangan kurus itu tercetak jelas dalam genggamannya.

"Chanyeol! C-Chanyeol! M-maafkan ak-aku!" Baekhyun mencoba memberontak, tapi tangannya semakin terasa terbakar karena Chanyeol mengeratkan genggamannya.

"Jangan memberontak, sialan!" Chanyeol berteriak kalap, ia telah benar-benar marah dan Baekhyun malah semakin menyulutnya.

Baekhyun tersentak hebat karena Chanyeol yang meneriakinya 'sialan', ia semakin terisak-isak. Tangannya terasa sangat sakit, tulangnya terasa akan remuk. Tapi ia hanya bisa terdiam, membiarkan Chanyeol menariknya ke dalam ruangan pria itu. Ruangan yang berisi banyak dokumen dan sebuah meja kerja yang sangat jarang Chanyeol gunakan.

"Jangan berani mengusikku! Atau kalian akan merasakan akibatnya!" Chanyeol memberi peringatan pada para pengawalnya , termasuk Jongdae dan Minseok yang hanya mampu terdiam.

Chanyeol menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya sebelum menatap Baekhyun yang tadi ia lempar ke lantai. Calon istrinya tampak sangat berantakan , dan pucat, dan gemetar, tampak sangat ketakutan. Manik kecokelatannya menyampaikan ribuan rasa gentar dan karena itu Chanyeol merasa semakin hidup.

"M-maafkan aku!" Baekhyun berteriak panik saat meihat Chanyeol berjalan mendekatinya. Tangan kirinya terangkat untuk memberitahu bahwa ia ketakutan dan tubuhnya beringsut mendekati meja untuk menjauhi Chanyeol.

"Kau pikir apa yang telah kau lakukan?" Chanyeol berjalan dengan tegas setelah Baekhyun tidak lagi memiliki jalan untuk menghindarinya, saat Baekhyun telah memeluk dirinya sediri.

"Calon istri seorang Phoenix telah mencoba menjadi jalang pria lain! Kau jalangku!" Chanyeol menarik kepala Baekhyun dengan kasar, memaksa pria itu menatap matanya yang dipenuhi dengan amarah.

Baekhyun memekik, tangannya yang kurus dan gemetar terangkat untuk mencengkram tangan Chanyeol yang menarik rambutnya, seakan meminta Chanyeol untuk berhenti menyakitinya.

"Kau mencoba untuk ditiduri pria lain! Kau jalang sialan!" Chanyeol menguatkan genggamannya.

"AKH! A-aku tidak! L-lepaskan! Ku-kumohon!" Baekhyun mencegkram tangan Chanyeol semakin erat, menimbulkan luka-luka goresan pada tangan kekar itu.

"Apa yang kau maksud dengan tidak?! Kau membalas cumbuannya! Penuh gairah dan memabukkan!" Chanyeol merasa amarah telah mencapai ubun-ubunnya. Tangannya terangkat, memaksa Baekhyun bangkit disertai erangan memilukan.

""Ti-tidak! Tidaak! K-kumohon! J-jangan s-saki-ti aku! B-berhenti!" Isakkan Baekhyun semakin keras disertai racauannya yang menusuk hati dan telinga.

"Jalang yang berusha mengkhianati Phoenix harus mendapatkan hukuman! Aku tidak akan berhenti!" Chanyeol mendesis dengan kebengisan di dalamnya, menatap Baekhyun yang menggeleng lemah disertai tatapan ketakutan dan memohon.

Chanyeol menggeram lalu membalik tubuh Baekhyun dengan paksa, membuat tubuh kurus itu menghadap meja kerjanya. Lalu tangan Chanyeol bergerak cepat menggapai tubuh bagian depan Baekhyun, membuka kancing-kancing kemeja Baekhyun dengan kasar. Dan Baekhyun tidak tahu apa yang membuatnya hanya menangis dengan memeluk perutnya sendiri, seakan melindungi sesuatu.

"Tidak, ti-tidak. Ma-maafkan aku." Baekhyun semakin ketakutan saat Chanyeol telah menelanjangi tubuh atasnya.

"Tidak ada ampunan untukmu, Honey." Chanyeol berbisik lirih pada telinga kanan Baekhyun. Tangannya bergerak melepaskan celana dan celana dalam Baekhyun, membuat Baekhyun merasa menggigil.

Baekhyun mulai memberontak saat mendengar bunyi berisik ikat pinggang di balik punggungnya, Baekhyun sangat ketakutan, kenangan menyakitkan di masa lalu mulai memenuhi kepalanya.

"Kau jalang sialan!" Kakaknya berteriak marah lalu membungkukkan tubuh Baekhyun ke depan, memaksa tubuh bagian depan pria kurus itu untuk menyentuh meja dengan kasar.

"Kau jalang sialan!" Chanyeol berteriak marah lalu membungkukkan tubuh Baekhyun ke depan, memaksa tubuh bagian depan pria kurus itu untuk menyentuh meja dengan kasar.

Benda-benda di meja Chanyeol menjadi sangat berantakan. Sedangkan Baekhyun terengah-engah dengan tangan kiri yang masih memeluk perut dan tangan kanan yang mencari tempat bertumpu.

"Harusnya kau berpikir lebih dari seribu kali jika kau ingin mengkhianatiku!"

Ctar!

Ctar! Ctar!

Baekhyun memekik tanpa suara dengan mata mebelalak lebar saat benda berbahan kulit itu menyentuh kulitnya dengan keras. Garis memanjang merah terlihat jelas pada punggung hingga nyaris bokongnya yang mengkilat oleh keringat.

"Kau telah berbuat kesalahan besar dengan mencoba mengkhianatiku!"

Ctar! Ctar! Ctar!

Ujung-ujung jemari tangan kanan Baekhyun tampak memutih karena cengkramannya yang begitu kuat pada pinggir meja. Punggung tangan kirinya memar karena berapa kali terantuk meja oleh lonjakannya sendiri. Kali ini Baekhyun benar-benar menjerit dengan air mata tanpa henti.

"S-sakit.." Baekhyun mendesis dan mencoba menopang tubunya. Tapi ia kembali tersentak karena rasa sakit yang menyengat di punggungnya begitu terasa saat ia menggerakkan tangannya.

Chanyeol lalu melempar ikat pinggang di tangannya, menghasilkan bunyi gemerincing yang keras. Diam-diam Baekhyun menarik napas lega, mengira Chanyeol sudah selesai dengan hukumannya. Tapi kemudian ia kembali memekik dangan tubuh yang kembali tersentak saat dua jari Chnayeol tiba-tiba melesak memasuki analnya dengan kasar.

"Hukumanmu masih belum berakhir, sayang." Dan Baekhyun kembali memekik tanpa suara dengan mata yang juga kembali terbelalak saat Chanyeol menggerakkan jari-jarinya, perih.

"AKH!" Baekhyun memekik sekali lagi saat Chanyeol kali ini mengocok lubangnya, sangat perih dan sedikit nikmat. Baekhyun terengah-engah, kepayahan dalam menerima hukuman kenikmatan yang Chanyeol berikan.

Chanyeol menggerakkan jari-jarinya dengan semakin brutal dan disaat Baekhyun sudah benar-benar kepayahan, Chanyeol menyerang titik manisnya dengan kecepatan yang tidak main-main.

"Engh! Ngh! Ngah! Ahah!" Baekhyun mendesah dengan kacau saat Chanyeol menyerang titiknya dengan begitu brutal. Dan Baekhyun merasa analnya terkoyak dengan ganas.

"Mmh! Cha-Chanh! Ngah! Nyah!" Baekhyun tidak sanggup, wajahnya yang basah sedikit menggeleng, gerakan Chanyeol terlalu nikmat.

"Cha-Chanyeolh!" Baekhyun mengeluarkan sarinya lalu terengah-engah. Tubuhnya hampir merosot jatuh, tapi Chanyeol menahannya dengan tangan yang lain, mendekapnya dari balik punggungnya. Baekhyun memejamkan matanya saat Chanyeol menarik jari-jarinya. Dinding lubangnya masih sangat sensitif dan gesekan jari Chanyeol memberi getaran lain pada tubuhnya.

"Menikmati pencapaianmu, sayang? Hm?"

Baekhyun tidak mampu menjawab karena ia masih terengah, tapi sesuatu mengejutkannya. Sesuatu yang jauh lebih panjang dan besar mencoba menerobos lubangnya, membuat Baekhyun reflek mencoba menjauh.

Dan tubuh Baekhyun mematung seketika, matanya terbelalak lagi dan lagi, wajahnya menengadah, dan dadanya membusung tinggi saat Chanyeol melesakkan miliknya seutuhnya dengan tiba-tiba, analnya terasa robek. Sudah dua minggu lamanya lubangnya tidak dipenuhi oleh sesuatu yang besar dan panjang, ini terasa menyiksa.

"Grrhh..." Chanyeol menggeram saat merasakan lubang Baekhyun seakan menghisapnya, penuh dan nikmat. Chanyeol jadi kehilangan akal sehatnya.

"Pe-pelan... Aks!" Baekhyun meringis saat Chanyeol bergerak dengan cukup cepat, Baekhyun belum terbiasa.

"Kau menolakku, sayang? Kau mencoba menolakku?" Chanyeol merasa sedikit geram, kemarahannya masih tersisa banyak. Chanyeol menarik rambut Baekhyun dengan kasar, memaksa tubuh itu untuk menjauh dari meja dengan leher yang terlihat begitu jelas. Dan itu terasa menyakitkan karena Chanyeol tidak menariknya sepenuhnya untuk disandarkan pada dada bidangnya, melainkan memaksa Baekhyun bertumpu dengan satu tangannya dan membuat dadanya membusung sempurna.

"Tidak, ti-tih-dakh." Baekhyun menjawab dengan kesengsaraan, suaranya terasa tercekat karena kepalanya yang menengadah terlalu tinggi.

Chanyeol menjawab dengan gumaman sesaat sebelum ia menjilati luka di punggung Baekhyun. Chanyeol dapat merasakan tubuh Baekhyun yang menegang, ia tahu ia menyakii Baekhyun. Chanyeol akhirnya mempercepat gerakannya, membuat tubuh kurus itu terantuk-antuk meja. Lubang Baekhyun terasa sangat nikmat, rasa sempit itu, rasa yang ia rindukan. Dan ia tahu, Baekhyun juga menikmatinya karena erangan dan desahan terdengar lirih dari bibir Baekhyun yang mungil.

"Jangan mencoba mengkhianatiku. Aku dapat menyakitimu." Chanyeol berucap lirih di balik punggung Baekhyun yang terluka, lalu mengecup lembut luka-luka memanjang itu berkali-kali.

"Y-yah, Chanh-yeolh." Dan Baekhyun yang mematuhi perkataannya membuat Chanyeol sedikit merasa senang. Hingga ia akhirnya menumbuk titik manis Baekhyun dengan cepat dan keras, sedikit memberi hadiah.

"Ngah! Ah! Yeolh! Ouh! Oh!" Baekhyun merasakan ia diterbangkan pada kabut kenikmatan, matanya mulai memburam.

"Chanyeol!" Baekhyun akhirnya memekik dan mengeluarkan sarinya diikuti Chanyeol beberapa detik setelahnya. Sungguh, Baekhyun tidak pernah diterbangkan pada kenikmatan yang begitu tinggi, hanya Chanyeol yang dapat melakukannya.

Chanyeol menarik miliknya perlahan dan melepaskan cengkramannya pada rambut Baekhyun. Mereka terengah-engah karena pencapaian yang luar biasa, pencapaian yang bercampur dengan rasa rindu dan frustasi. Pencapaian yang melambangkan betapa mereka begitu saling memuja dan mendamba. Pencapaian yang dicapai karena gairah tanpa akhir.

Dan napas Baekhyun kembali tercekat saat Chanyeol membalik tubuhnya dengan cepat, membuatnya bertumpu pada meja yang sekarang berada di belakang tubuhnya. Baekhyun menutup matanya saat Chanyeol melumat bibirnya, ganas dan kasar. Baekhyun masih merasakan adanya kemarahan dan gairah pada ciuman yang Chanyeol berikan.

"Jangan mencoba mengkhianatiku lagi, kau milikku." Chanyeol berujar dengan suara yang tajam, membuat Baekhyun mengangguk lemah.

Chanyeol menjauhi Baekhyun sesaat setelah melihat anggukan pria itu, melepaskan tangannya dan membuat Baekhyun merosot jatuh. Baekhyun terdiam saat menatap Chanyeol yang merapikan penampilannya sendiri. Calon suaminya tampak akan pergi lagi. Dan itu benar, setelah Chanyeol telah rapi, pria itu menatap sebentar pada Baekhyun yang telanjang dan berantakkan lalu melangkah keluar.

Dan Baekhyun tahu, ini adalah kesalahannya. Chanyeol baru saja kembali dari pekerjaannya dan Baekhyun merindukannya, berharap dapat sedikit menghabiskan sebikit waktu bersama. Tapi ia malah membuat calon suaminya murka dan kecewa. Mereka telah melakukannya, tapi dengan penuh amarah yang menyesakkan. Dan itu kesalahannya, ia adalah manusia pembawa sial yang dilahirkan dengan berjuta masalah.

.

.

Chanyeol keluar dari ruangannya dengan ekspresi datar. Ia menghampiri dua orang di sana sesaat setelah ia menutup kembali ruangannya.

"Kalian urus dia setelah aku pergi." Chanyeol berujar pada Jongdae dan Minseok lalu berjalan menuju pintu keluar.

"Yang tidak kuberikan perintah segera bubar!" Chanyeol kembali berujar, membuat pengawal-pengawalnya segera berlari menuju pekerjaan masing-masing.

Dan tepat setelah bunyi kendaraan Chanyeol menghilang Minseok langsung berlari memasuki ruangan Chanyeol.

"Oh Tuhan!" Minseok berteriak nyaring di ambang pintu, membuat Jongdae reflek mendekatinya. Tapi tepat sesaat sebelum Jongdae sempat melihat keadaan Baekhyun, Minseok menutup lagi pintunya.

"A-ambil selimut, Dae! C-cepat!" Minseok berujar seraya mendorong-dorong lemah tubuh Jongdae, membuat Jongdae segera melesat ke kamar mereka dan meraih sebuah selimut.

"A-aku akan memanggilmu se-setelah aku m-menyelimutinya." Minseok berujar sedetik setelah menerima selimut itu dari kesasihnya dan Jongdae menyahutnya dengan anggukan.

Minseok segera memasuki ruangan itu lalu menutup pintunya. Lengannya yang kurus tampak gemetar dan mata indahnya tampak memerah, Baekhyun terlihat terlalu menyedihkan dengan tubuh telanjang dan gemetar. Baekhyun yang menangis dan terluka, Minseok memilih untuk segera menghampirinya.

"Oh Tuhan." Minseok telah berjongkok di depan tubuh Baekhyun yang masih meringkuk, suaranya terdengar bergetar.

"Apa yang telah ia lakukan padamu?" Air mata Minseok menetes, tapi ia tidak peduli. Minseok segera menyelimuti tubuh itu dan menutupinya serapat mungkin lalu merengkuhnya dengan hati-hati, terlalu takut kalau ia akan semakin menyakiti Baekhyun.

"Hyung... Hyung..." Suara Baekhyun terdengar lirih dan Minseok dapat merasakan remasan lemah pada punggungnya.

"Ya, Baekhyun. Aku di sini." Minseok berujar disertai tangisnya yang semakin keras. Baekhyun tampak lemah dan terluka, tapi ia hanya mampu untuk memeluk dan menenangkannya, ia tidak mampu melindungi adiknya.

"Ini kesalahanku." Baekhyun mulai meracau dan Minseok hanya menggeleng lemah, mengeratkan rengkuhannya.

"Aku telah mengecewakannya." Baekhyun mulai menangis keras dan Minseok merasa sedikit panik.

"I-ini sa-salahku." Napas Baekhyun mulai terdengar putus-putus, tersendat karena tangisannya sendiri.

"Tidak, tidak." Sungguh, Minseok tidak sanggup melihat adiknya sebegini terluka.

"A-aku pem-bawa s-sial. Pe-pembawa masalah." Suara Baekhyun melemah dan Minseok semakin merasa panik menyerangnya.

"Tidak! Tidak! Baekhyun!" Minseok berteriak saat tubuh Baekhyun melunglai, adiknya kehilangan kesadarannya.

"Jongdae!" Minseok memanggil Jongdae dengan teiakan yang serak dan itu membuat Jongdae segera masuk.

"Baekhyun p-pingsan! Laku-lakukan s-sesuatu!" Napas Minseok tersengal karena kepanikan dan Jongdae rasa ia harus segera melakukan sesuatu.

"Ya, sayang. Tapi aku akan lebih dulu mengantar Baekhyun hyung ke kamarnya." Dan Minseok mengangguk cepat, merasa itu adalah hal yang tepat. Ia menyerahkan tubuh Baekhyun pada rengkuhan Jongdae lalu membantu Jongdae memindahkan tubuh adiknya.

.

.

Chanyeol membanting pintu mobilnya dengan kasar setelah ia menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung. Sebuah tempat dimana wanita dan pria berdompet tebal menghabiskan malam dengan berpesta. Tapi ini belum begitu malam, ia baru saja tiba setelah menjemput calon istrinya yang mencoba berkhianat, setelah ia memberi pelajaran. Dan sekarang ia merasa tidak baik, karena kemarahan, gairah, kerinduan juga rasa bersalah masih memenuhinya. Sehingga ia pergi ke tempat itu untuk menemui seseorang.

"Dimana Taeyong?" Chanyeol bertanya pada beberapa pria dan wanita yang mengenakan baju pendek terbuka, tampak menjijikan dengan bau parfum yang cukup menyengat.

"Ia di ruangannya, Tuan. Di atas." Seorang wanita menyahut dengan suara serak yang dibuat mendayu, benar-benar menunjukkan kalau ia sungguh bersedia membuka kakinya lebar-lebar untuk kepuasan pria tampan itu.

Chanyeol mengangguk sekali lalu memandang wanita itu sekilas. Cantik dan seksi, tapi tidak semenarik pria yang lubangnya baru saja ia koyak tadi, masih kurang menggairahkan dibanding tubuh calon istrinya. Diam-diam Chanyeol menghela napas karena kembali mengingat apa yang telah ia lakukan pada Baekhyun. Ia yakin pria itu kembali terluka. Dan ia yang menorehkan luka-luka itu, menambah luka fisik dan batin yang memang telah pria kurus itu miliki.

Chanyeol menutup matanya setelah berada di depan ruangan yang tadi ditujunya. Ia menarik napas dengan berat, berupaya mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Rasa sesak yang muncul akibat rasa sesal yang semakin memenuhinya. Ia benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk mengurangi bahkan menghilangkannya. Dan Chanyeol merasa ia hanya perlu masuk untuk menemui seseorang itu, karena mungkin saja seseorang itu dapat membantunya untuk mengurangi rasa sesak itu. Untuk malam ini, hanya malam ini.

"Taeyong." Chanyeol berujar seraya menutup pintu saat menemukan orang yang dicarinya tengah duduk di sisi tempat tidur.

Taeyong tampak terkejut dan menolehkan kepalanya, itu Chanyeol. Sudah sejak lama pria itu tidak kemari karena kesepakatan mereka. Tapi kapanpun pria itu ingin mengunjungi tempat ini, Taeyong tidak mampu untuk mengusirnya, karena tempat ini ada karena kekayaan Chanyeol, tempat yang pria itu berikan padanya sebelum perpisahan mereka.

"Ada apa? Apa yang membuatmu kemari?" Mata Taeyong memperhatikan Chanyeol yang duduk perlahan di dekatnya, tampak lelah.

"Aku ingin di sini, bersamamu, malam ini." Ini hal yang tidak Taeyong harapkan, Chanyeol yang menyahut lirih dan sinar matanya yang tampak redup, tidak saat pertemuan mereka kembali setelah sekian lama. Tapi ia hanya mengangguk, membiarkan pria itu melepaskan rasa sesaknya untuk malam ini, hanya malam ini.

.

.

"Bagaimana keadaan Baekhyun?" Minseok mengernyit saat melihat Yixing yang meringis. Luka di punggung Baekhyun memang telah terlihat sedikit mengerikan.

"Cukup buruk, luka-luka ini mungkin akan terlihat semakin mengerikan. Ini, oleskan ini pada lukanya." Yixing memberikan sesuatu yang disambut Minseok dengan baik.

Yixing mengangguk saat Minseok mengucapkan terima kasih dengan suara lembut, begitu rapuh.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku turut berduka dengan apa yang Baekhyun alami." Yixing menatap Minseok yang tengah mengoleskan obat itu pada punggung dan tangan Baekhyun yang terluka, tampak sedikit kesulitan untuk tetap menutupi bagian-bagian privasi Baekhyun dengan selimut tadi.

"Sejujurnya kami juga tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja, apapun yang terjadi, ia hanya selalu mendapatkan rasa sakit." Jongdae menyahut, matanya juga menatap Minseok yang tengah mengoleskan obat itu pada luka-luka Baekhyun dengan tangan yang terlihat gemetar.

.

.

"Sudah setahun kita tidak bertatap muka sejak perpisahan kita saat itu." Taeyong membuka mulutnya setelah Chanyeol membenarkan posisi duduk di samping kanannya, mencoba mencairkan atmosfer yang terasa kaku.

"Ya, cukup lama." Chanyeol tersenyum lemah.

"Bagaimana kabarmu?" Chanyeol bersuara dengan lebih lembut, menatap mata Taeyong yang balas menatapnya. Dari tatapan mata itu Taeyong dapat melihat keangkuhan yang luntur. Ini adalah Chanyeol, seorang manusia biasa yang bisa merasakan rasa sakit, ia bukanlah lagi seorang Phoenix.

"Aku baik, ini semua berkat dirimu." Taeyong juga ikut tersenyum, mencoba mengimbangi Chanyeol yang mencoba membangun atmosfer hangat dan nyaman untuk mereka berdua.

"Hei, jangan berkata seolah aku yang membuatmu menjadi lebih baik." Chanyeol tersenyum kecut, berpikir Taeyong tidak harus merasa bahwa Chanyeol telah berbuat baik padanya. Karena pada kenyataannya ia lah yang pernah membuat pria itu menangis dan menyeretnya pada penderitaan yang menyiksa.

"Dan kau berkata seolah kau adalah sorang iblis yang mengerikan, kau memang membuat hidupku membaik." Taeyong berujar dengan nada rajuk di dalamnya, membuat Chanyeol terkekeh geli.

"Kau tahu? Aku menyayangimu." Chanyeol tersenyum lembut menatap Taeyong dengan tatapan yang begitu hangat.

"Aku tahu." Taeyong tertawa, mengundang senyuman Chanyeol untuk melebar.

"Dan kau? Bagaimana kabarmu?" Taeyong menghentikan tawanya, senyum terpatri di wajahnya.

"Tidak begitu baik." Senyum Chanyeol meredup dan Taeyong cukup tahu bahwa Chanyeol ngin mengatakan sesuatu, jadilah Taeyong hanya mengerutkan keningnya.

"Pria itu telah berada di bawah atap yang sama denganku." Dan Taeyong membelalakan matanya.

"Baekhyun? Byun Baekhyun maksudmu? Bagaimana bisa secepat itu?" Chanyeol menggelengkan kepalanya, seakan menyampaikan itu ada di luar kendalinya, ia juga kebingungan. Karena ayahnya sebelumnya mengatakan bahwa perjodohan akan dilakukan setelah keduanya menyelesaikan pendidikan.

"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Aku harap kau tidak menyakitinya." Taeyong berkata setelah menghela napas sekali. Sedikit banyak ia tahu kalau Chanyeol bukan pria yang dapat menata emosinya dengan sangat baik.

"Aku menyakitinya, aku telah menyakitinya." Chanyeol meremas rambutnya sendiri dengan kalut.

"Sekali sebelum kepergianku karena pekerjaan, dan hari ini setelah kembalinya aku dari pekerjaan. Hari ini aku menyeretnya dan membuat keributan di koridor kampus, mempermalukannya seakan ia adalah makhluk paling rendah yang pernah aku temui." Taeyong mengusap pundak Chanyeol seraya diam-diam meneguk ludahnya gugup, seakan tahu hal apa yang akan Chanyeol katakan selanjutnya.

"Lalu... lalu aku menyetubuhinya di ruanganku, di meja kerjaku dengan paksa, seperti binatang. Aku melakukannya dengan sangat kasar dan tanpa kendali, mencambuk punggungnya, mengoyaknya menjadi begitu kesakitan." Dan Taeyong merasakan napasnya tercekat, membuat pergerakan tangannya yang tadi mengelus punggung Chanyeol terhenti.

"Dan setelah aku melihatnya yang merosot jatuh lalu memeluk tubuh polosnya sendiri dengan wajah lelah dan terluka, aku meninggalkannya dan menyerahkannya pada orang lain." Pada kalimat terakhirnya, suara penuh sesal itu menyesakkan dada Taeyong, Chanyeol begitu menyesal dan ia telah tenggelam dalam rasa bersalah yang menyiksa.

"Lalu apa yang harus aku lakukan, Chanyeol?" Taeyong memberanikan diri untuk bertanya, berupaya untuk membantu pria itu mengurangi bebannya.

"Hanya temani aku untuk malam ini."

"Oh... Apa kau ingin aku sedikit menghiburmu? Pusat tubuhmu, Chanyeol, gairahmu masih menggebu." Taeyong bukanlah seorang pelacur, meski ia adalah pemilik tempat menjijikkan ini. Tapi ia hanya ingin membantu, kalau saja suara desahan dan erangan serta pencapaian mereka dapat meringankan seluruh rasa sesal dan bersalah yang Chanyeol rasakan.

"Tidak, biarkan gairah ini terus mengingatkanku bahwa aku telah membuat suatu dosa yang mengerikan, aku juga tidak ingin menyakitimu. Hanya jadilah penghangat dalam tidurku, peluklah aku untuk malam ini. Aku ingin tidur nyenyak dan melupakan sejenak rasa sesak yang aku rasakan." Dan Taeyong mengangguk, membiarkan Chanyeol membantunya berbaring dan menyelimuti mereka. Membiarkan Chanyeol memeluknya. Membiarkan Chanyeol tidur nyenyak dengan memeluk cinta pertamanya.

.

.

"Eungh..." Baekhyun terbangun dengan kepala yang terasa begitu berat, apapun yang ia tatap tampak buram dan berputar.

"Oh, Baekhyun! Kau telah bangun?" Minseok dengan tergopoh-gopoh menghampirinya, terlalu takut kalau Baekhyun bergerak tiba-tiba lalu menyakiti dirinya sendiri.

"Hyung?" Mata Baekhyun menyipit, ia telah melihat dengan lebih jelas sekarang.

Baekhyun terdiam mengingat apa yang telah membuatnya bangun dengan kepala yang begitu berat. Hingga kilasan-kilasan melintas-lintas di kepalanya. Kampus, perpustakaan, Jongin, berciuman, Chanyeol, teriakan, persetubuhan. Oh, Baekhyun telah mengingat semuanya, Chanyeol meninggalkannya.

"Chanyeol..." Baekhyun bergumam, suaranya masih terdengar begitu lirih, matanya bergerak-gerak dan tampak panik, seakan melihat kilasan-kilasan dari kepalanya sendiri.

"Chanyeol! Chan-Chanyeol!" Dan Baekhyun mulai berteriak, seakan memanggil Chanyeol yang pergi meninggalkannya.

"Ngh.. Chan-Chanyeol!" Baekhyun berteriak diiringi lenguhan rasa sakit, ia mencoba bangun tapi Minseok menahannya.

"Hyung... Chanyeol... Chanyeol..." Baekhyun semakin memberontak saat Minseok menekan tubuhnya untuk kembali berbaring.

"Baekhyun, Baekhyun. Apa yang kau takutkan? Semua baik-baik saja." Minseok mencoba menenangkan Baekhyun yang semakin memberontak, menahan Baekhyun yang semakin menyakiti dirinya sendiri.

"Chanyeol... Chanyeol meninggalkanku, ia pergi..." Kali ini Baekhyun telah menangis, terlalu mempercayai kilasan mimpi buruk yang berasal dari kepalanya.

"Akh!" Baekhyun akhirnya memekik kecil setelah punggungnya terhempas dengan sedikit kasar di tempat tidur saat Minseok mendorongnya sedikit lebih kuat, membuat Jongdae segera berlari dan menenangkan kekasihnya.

"Berhenti, Baekhyun! Berhenti menyakiti dirimu sendiri! ia masih bersamamu! Ia masih bersama kalian! Jangan menyakiti dirimu sendiri!" Minseok berteriak lantang dengan wajah memerah tapi ia berhasil mebuat Baekhyun berhenti.

"K-kalian?" Baekhyun berujar dengan mata yang bergerak kebingungan.

"Kau hamil, kau mengandung anaknya." Minseok berucap dengan lebih tenang.

Dan Baekhyun sempat tersentak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Tidak, tidak mungkin. Demi apapun, ia tidak mungkin megandung secepat ini.

"Tidak, tidak mungkin." Baekhyun berujar lirih. Tapi tiba-tiba Minseok mengeluarkan sesuatu, itu test pack, masih baru. Lalu Jongdae mengangkatnya ke kamar mandi. Mereka menyuruhnya untuk membuktikannya sendiri.

Setelah Jongdae menurunkannya dengan lembut, Baekhyun mulai membuka kemasan test pack itu. Dengan dada yang berdebar Baekhyun mencobanya, mengabaikan kepalanya yang masih terasa berat dan luka juga lubangya yang masih terasa perih. Saat Baekhyun akan melihat hasilnya, ia menggigit bibirnya sendiri, terlalu khawatir dengan apa yang harus ia lihat. Dan tepat setelah ia melihat hasilnya air mata menetes dari matanya, positif, ia hamil.

"Tidak..." Baekhyun menangis semakin keras bahkan hingga meraung.

Kilasan-kilasan tentang mimpi buruk kepergian Chanyeol sekarang terasa lebih nyata. Ia hamil dan Chanyeol akan meninggalkannya. Ia hamil dan calon suaminya akan pergi. Tapi itu semua karena dirinya sendiri, ia mengandung dan ia yakin calon suaminya akan memilih pergi dari sisinya. Karena ia tidak berguna, karena ia telah berkhianat. Bayinya akan menderita karena kesalahannya, karena seluruh dosa yang telah ia perbuat.

.

TBC/END?

.

.

Wehhh,, telat lagi akunya TAT.. tapi Baekhyun dihukum sama Chanyeol kan? Nah lho.. tapi buat yang minta untuk buat Chanyeol nyesel, aku udah buat dia nyesel ya ;p

Untuk :

chayeonlee | Annisa Lee | RatedMLovers614 | Aisyah304 | winter park chanchan | light195 | No name | AlexandraLexa | LightPhoenix614 || meliarisky7 | LUDLUD | ruacadel | Beefvcker | WinterJun09 | YvkariKim | auliaMRQ | park yeolna | Aisyah614 | yousee | a11 | siapahayoooo | Baek13erry | donghyun | | Aya | LyWoo | pongpongi | scorcap65 | byunbbh | BAEKBAEK04 | n3208007 | Guest | Chanbaeknaena | rennofrz | shinshiren | guess me | Guest(2) | Sara | misterooh | annisa | Eriiiii09

Q : Jongin bakal jadi orang ketiga kah? Atau cuma lewat?

A : sayangnya aku udah punya banyak orang ketiga nihhh, gimana? Tapi aku ga terlalu suka cast yang cuma lewat ya.. nah lho.. XD

Q : Baek udah hamil ya?

A : udah kejawab tuh di atas :D

Q : Jongin punya hubungan apa sama Baekhyun?

A : dia cowok masa lalu Baekhyun yang selalu terpikirkan itu lho *eakk :v

Q : yang ngomong sama Kyungsoo itu Kai kan?

A : tepat sekali *prokprok :v

Oh iya, ada yang masih belum paham ya? katanya Chanyeol benci kok jadi baik? Coba deh kalian pahami lagi waktu di chap Baekhyun hampir di-rape babang Minho. Di situ kalian bisa lihat perasaan asli si Chanyeol. Ada orang yang menyalahartikan rasa cinta sebagai rasa benci, rasa enggan jadi rasa muak, rasa kasian jadi rasa jijik. Rasa benci Chanyeol padahal rasa cinta. Rasa muak Chanyeol waktu liat Baekhyun kesakitan adalah rasa enggannya dia untuk liat Baekhyun kesakitan lagi, dia ga mau Baekhyun sakit terus. Rasa jijik yang dia rasa in sebenernya karena di hati kecilnya dia yang keciiillll banget adalah dia kasian sama Baekhyun.

So, dari penjelasanku di atas semoga udah nangkep ya :D cuma ya Chanyeol belum nyadar aja, jadilah dia terus nyakitin Baekhyun atau baik ke Baekhyun. Singkatnya perasaannya Baekhyun terpermainkan lahhh. Dan karena dasarnya dia ga dididik dengan baik, dia jadi kasar banget.

Pertanyaannya, kapan dia nyadar? Nah, makanya review untuk update selanjutnya, kita sama-sama perhati in perkembangan kepekaan Chanyeol. Yuk, review mari~ XD

.

Terserah mau review berapa XD kayak biasa aja, aku mau liat sebesar apa antusias para reader ku yang tercinta, terkasih, dan tersayang ngasih feedback buat chapter ini XD

Last, you reviewing and I writing~ ^^