TOO FAR SERIES

(NEVER TOO FAR)

by RyeoTa Hasu

(Original Story by Abbi Glines)

Cast :

Lee Sung Min (19 y.o)

Cho Kyu Hyun (24 y.o)

Shim Chang Min as Kyuhyun's step brother (24 y.o)

Lee Tae Min as Kyuhyun's youngest step brother (21 y.o)

Choi Si Won (25 y.o)

Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (19 y.o)

Lee Dong Hae (24 y.o)

Kim Hee Chul (26 y.o)

Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o)

Kim Ryeo Wook (21 y.o)

Kim Ki Bum (21 y.o)

Kim Jung Mo (19 y.o)

Cho Ji No

Lee Sung Jin as Sungmin's twins brother (already passed away)

Bae Soo Ji aka Suzy

Lee Min Ho

Cast lain menyusul

Disclaimer :

This original story is fromToo Far Series Novel by Abbi Glines

I just remake it with my own idea and with Kyumin as main Cast

Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi

Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita

Rate :

M (Mature)

Warning :

Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Mature Contain, some explisit sexual activity, uncensored,

.

.

DON'T LIKE? DON'T READ!

MAKE IT SIMPLE

HAPPY READING ^.^

.

.

Chapter 11

o.o.o.o.o.o.o.

.

.

(Sungmin POV)

.

Ketika kami sedang dalam perjalanan menuju pusat kota Seoul, aku teringat Joongki Ahjushi.

Kami sama sekali belum saling berbicara sejak tadi pagi. Seharian Ahjushi mengurung diri di kamar. Aku harus memberitahukannya jika aku akan pergi dan mungkin akan pulang besok.

"Eunhyukkie," aku menoleh pada Eunhyuk yang tengah mengemudi dengan santai sambil mengikuti iringan musik.

"Hmm?" Eunhyuk menoleh sambil tersenyum.

"Bisa aku meminjam ponselmu? Aku harus memberitahu Joongki Ahjushi jika aku tidak akan pulang malam ini."

"Joongki Ahjushi?" tanyanya bingung.

"Iya. Dia, teman Abeojiku, aku menganggapnya seperti paman kandungku. Sementara ini aku tinggal dirumahnya."

"Baiklah, sebentar." Eunhyuk merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Lalu menyerahkannya padaku.

Aku menekan nomor Joongki Ahjushi yang sudah ku hapal.

Telepon diangkat di detik kedua.

"Yeoboseyo?" suara Joongki Ahjushi terdengar dari seberang.

"Ahjushi, ini Sungmin."

"BunnyMin! Kemana saja kau?" suara Ahjushi terdengar khawatir.

"Aku pergi ke makam. Maaf tidak memberitahu Ahjushi." Ujarku menyesal.

"Lalu, apa kau bertemu dengan Jungmo?"

"Jungmo? Tidak, aku tidak bertemu dengannya. Memang kenapa Ahjushi? Apakah Jungmo datang ke sana?" tanyaku.

"Ya. Dia datang mencarimu. Aku bilang padanya kau belum kembali. Dia tampak khawatir. Dia langsung berbalik dan pergi setelah berbicara beberapa hal. Dia juga menangis."

Jungmo menangis?

"Mengapa dia menangis Ahjushi?" tanyaku bingung. Aku belum pernah melihatnya menangis. Setidaknya sejak hubungan kami berakhir dulu. Saat dia berlutut sambil memohon agar aku tidak mengakhiri hubungan kami. Itu adalah terakhir kalinya aku melihat Jungmo yang lemah. Setelah itu, kami hanya menjalin pertemanan, dan dia berubah menjadi pria yang lebih dewasa dan tidak sensitif lagi.

"Aku rasa, dia mengetahui perihal kehamilanmu."

Aku tersentak.

Jungmo, dia tahu?

"Dia terlihat sangat kacau. Dia bilang dia tahu semuanya, rahasia yang kau sembunyikan dan memintaku untuk tidak berbohong padanya. Tapi aku sama sekali tidak memberitahunya. Kau percaya padaku kan BunnyMin?"

Tentu saja aku percaya.

"Tapi bagaimana Jungmo bisa tahu?"

"Entahlah. Mungkin, dia juga mengikutimu? Sebaiknya pergilah mencarinya dan berbicara dengannya. Tidak peduli bagaimana perasaanmu padanya tapi kita harus memastikan bahwa dia baik-baik saja dan tidak membuat masalah."

Aku mengangguk.

"Baiklah Ahjushi. Aku akan mencari tahu dimana dia."

"Bagus. Tapi kau juga harus berhati-hati. Kau memiliki nyawa lain yang harus kau lindungi BunnyMin."

"Ne, Ahjushi."

Aku mengakhiri pembicaraanku dan mencoba menghubungi Jungmo.

Semoga dia mengangkatnya.

"Halo," syukurlah dia mengangkatnya.

Namun aku bisa mendengar keraguan dalam suaranya. Sesuatu telah terjadi.

"Jungmo-ya? Apakah kau baik-baik saja?" tanyaku khawatir.

Ada jeda kemudian desahan panjang. "Sungmin? Yeah... Aku baik-baik saja."

"Dimana kau?"

Dia berdeham. "Aku, eh...aku di Hyeopjae."

Dia ada di Jeju?

Aku menegakkan tubuh dan mencengkeram erat ponsel.

Apakah dia memberitahu Kyuhyun?

Aku memejamkan mata ku erat-erat sebelum bertanya, "Kenapa kau kesana? Apa kau sudah tahu... Tolong katakan padaku kau tidak..."

Aku tidak bisa mengatakan itu. Tidak dengan adanya Eunhyuk di sampingku yang melirikku penasaran.

"Aku harus melihat wajahnya. Aku perlu tahu jika dia benar mencintaimu . Aku perlu tahu karena... aku hanya perlu tahu."

Itu tidak masuk akal.

"Apa yang kau katakan padanya? Bagaimana kau menemukannya? Apakah kau telah menemuinya?"

Mungkin dia tidak menemukannya. Mungkin aku masih bisa menghentikan ini.

Ada tawa keras di ujung lain telepon. "Ya, aku menemukan dia baik-baik saja. Tidak sulit. Tempat ini kecil dan semua orang tahu di mana putra bintang rock terkenal tinggal."

Oh My God!

"Apa yang kau katakan padanya?" tanyaku perlahan, ketakutan mulai menyelimutiku.

"Aku sudah tahu rahasiamu Sungmin-ah. Tapi tidak. Aku tidak memberitahunya. Aku tidak akan melakukannya kepadamu."

Aku sedikit merasa lega. Aku tahu Jungmo tidak akan sejahat itu padaku.

"Tidak bisakah kau memberikan aku sedikit kesempatan, Sungmin-ah? Aku dulu berselingkuh sebab aku masihlah remaja yang bergairah yang ingin mencoba normal seperti yang lain. Sungmin-ah, kapan kau akan memaafkanku? Apakah aku harus membayar kesalahanku itu sepanjang hidupku? Aku minta maaf... Oh God! Aku benar-benar menyesal. Aku akan kembali dan mengubah segalanya jika aku bisa."

Dia berhenti dan membuat rengutan yang terdengar seperti sedang sakit.

"Jungmo-ya? Ada apa denganmu? Apakah kau baik-baik saja?" tanyaku.

Aku tidak mau mengakui apa yang dia katakan. Aku tahu dia menyesal. Aku juga.

Tapi tidak, aku tidak akan pernah bisa melaluinya. Memaafkan mungkin bisa. Tapi melupakan adalah hal lain.

"Aku baik-baik. Aku hanya sedikit babak belur. Anggap saja pria itu tidak suka padaku, oke."

Pria itu? Kyuhyun? Apakah Kyuhyun menyakitinya? Itu tidak terdengar seperti Kyuhyun sama sekali.

"Siapa?"

Jungmo mendesah, "Cho Kyuhyun, siapa lagi?!"

Aku melongo saat aku menatap lurus ke depan. Kyuhyun telah menyakiti Jungmo?

"Aku tidak mengerti."

"Tidak apa-apa. Aku punya kamar untuk menginap dan aku akan tidur. Aku akan pulang besok. Kita punya beberapa hal untuk dibicarakan."

"Kim Jungmo. Mengapa Kyuhyun bisa menyakitimu?"

Ada jeda lain dan kemudian napas kelelahan. "Karena aku bertanya akan hal yang menurutnya bukanlah urusanku. Aku akan pulang besok."

Dia bertanya. Pertanyaan macam apa?

"Sungmin-ah, kau tidak harus memberitahunya. Aku yang akan menjagamu. Hanya saja... kita perlu bicara."

Dia yang akan menjagaku?

Apa yang dia bicarakan?

Aku tidak akan membiarkan dia mengurusku.

"Dimana kau sebenarnya?" tanyaku.

"Di sebuah hotel di dekat pantai Hyeopjae."

"Oke. Tetaplah disitu dan aku akan menemuimu besok." Jawabku kemudian menutup telepon.

Eunhyuk menghentikan mobilnya di tepi jalan. Kami hampir tiba di Seoul.

Dia mengangkat satu alisnya sambil menatapku penasaran.

"Sepertinya kita tidak jadi bersenang-senang Eunhyukkie." Aku menatapnya dengan rasa bersalah dan menyesal.

"Why? Terjadi sesuatu?"

"Aku harus ke Jeju sekarang," kataku serius.

Aku tidak bisa membiarkan Jungmo berbaring terluka di kamar hotel dan aku tidak bisa menghadapi kemungkinan dia akan kembali dan mencoba untuk berbicara dengan Kyuhyun lagi.

Jika Eunhyuk bisa mengantarku kesana aku bisa memeriksanya dan kemudian mengantarnya pulang .

Eunhyuk hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Dia tidak bertanya apapun, itu bagus. Aku sedang tidak ingin menjelaskan apapun saat ini.

"Baiklah. Tapi aku sudah lelah. Jadi, bisakah kau yang mengemudi?"

Aku mengangguk.

Aku menyerahkan ponsel padanya dan membuka pintu mobil.

Aku harus segera ke Jeju. Mungkin aku akan sedikit ngebut.

.

(Sungmin POV END)

.

.oooO

.

(Kyuhyun POV)

Kami akhirnya mengunjungi salah satu night club favoritku yang sering ku kunjungi saat menempati Apartemenku di Gangnam.

Changmin dan Donghae akhirnya menyerah membujukku untuk merayu gadis untuk berdansa.

Mereka memilih pergi berdansa dengan salah para gadis yang telah main mata dengan kami ketika kami berjalan masuk ke klub.

Mereka datang ke sini untuk bersenang-senang sedangkan aku membutuhkan pengalihan.

Tapi sekarang saat aku sudah disini yang ingin kulakukan hanyalah segera pergi. Jadi, yang ku lakukan hanyalah meminum birku dan mencoba untuk tidak membuat kontak mata dengan siapa pun.

Aku terus menunduk dan memasang wajah datar.

Ucapan Donghae itu terus berputar di kepalaku.

Aku takut...

Aku terlalu takut untuk membiarkan diriku percaya bahwa Sungmin akan kembali ke sini.

Aku ingat wajahnya malam itu saat perpisahan kami.

Dia begitu kosong. Emosi di matanya hilang.

Dia telah selesai denganku, dengan Abeojinya dan dengan segala sesuatunya.

Cinta itu memang manis. Tapi juga sangat kejam.

Ponsel dalam sakuku bergetar. Ada pesan masuk.

Aku tidak mengenal nomornya.

010-4882-XXX

'Hei ini Eunhyuk. Jika kau bukanlah pria lemah yang bodoh bangunlah dan bersiaplah dengan rencana.'

Apa artinya itu?

Apakah... Sungmin di Jeju? Apakah itu artinya...

Aku berdiri dan menaruh cukup uang di bar untuk membayar minumanku.

Aku berjalan melalui kerumunan orang sampai aku menemukan Changmin yang sedang berdansa dengan seseorang berambut merah di lantai dansa.

Matanya bertemu mataku dan aku mengangguk ke arah pintu.

"Sekarang," kataku dan berbalik untuk berjalan keluar. Aku akan meninggalkan dia disini jika dia tidak menyusulku saat aku mencapai Range Roverku.

Sungmin akan Jeju.

Aku akan mencari tahu.

.

(Kyuhyun POV END)

.

.

.oooO

.

.

(Sungmin POV)

.

Aku mengulurkan tangan dan menyentuh kaki Eunhyuk untuk membangunkannya. Dia telah tertidur hampir sepanjang perjalanan. Bahkan saat kami menyeberang ke Jeju.

Kami telah tiba di kawasan pantai Hyeopjae dan aku membutuhkan Eunhyuk untuk mengemudi agar aku bisa mencari keberadaan mobil Jungmo yang mungkin terparkir di cottage atau motel pinggir pantai.

"Kita sudah sampai?" gumamnya mengantuk dan duduk di kursinya.

"Hampir. Aku membuthkanmu untuk menyetir. Aku akan mencari mobil Jungmo."

Eunhyuk menatapku bosan.

Aku tahu dia melakukan ini hanya dengan harapan bisa membawaku kembali tinggal disini dan menjagaku. Dia tidak terlalu peduli dengan tujuanku yang ingin menemukan Jungmo.

Tapi aku butuh tumpangan.

Aku harus bertemu Jungmo. Dia dan aku harus berbicara.

Jungmo tidak memiliki urusan apapun untuk datang menemui Kyuhyun. Aku hanya berharap dia tidak mengatakan pada Kyuhyun tentang kehamilanku.

Bukan berarti aku ingin menyimpan rahasia itu dari Kyuhyun.

Hanya saja, tidak mudah memberitahu semuanya. Dia belum tahu mengenai keadaanku yang berbeda dari pria lainnya. Kelainanku, keistimewaan dalam tubuhku. Rahim ini.

Aku perlu proses.

Aku harus mencari tahu apa yang harusku lakukan. Kemudian aku akan menghubungi Kyuhyun.

Jungmo yang pergi menemui Kyuhyun seperti orang gila bukanlah hal yang ku inginkan. Aku tetap tidak percaya dia bisa melakukan hal itu.

"Berhenti disana. Aku ingin masuk kesana. Aku membutuhkan kafein untuk kantukku ini," perintah Eunhyuk.

Aku melakukan sesuai yang dia katakan dan memarkir mobil di depan Coffee Shop.

"Kau mau sesuatu?" tanya Eunhyuk saat dia membuka pintu.

Aku tidak yakin kalau kafein bagus untuk... untuk si bayi. Terlebih kasusku ini termasuk langka dan aku belum memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Aku menggelengkan kepalaku dan menunggu sampai dia keluar dari pintu sebelum aku mengeluarkan isakan dari dadaku yang tidakku harapkan.

Aku tidak berfikir apa arti dua garis merah itu sebelumnya. Aku sadar. Benar-benar sadar sekarang.

Seorang bayi. Bayi Kyuhyun.

Oh,Tuhan.

Aku menggeser tubuhku ke kursi penumpang. Aku dapat melihat Eunhyuk yang sedang berjalan menuju mobil. Dia terlihat sedikit waspada sekarang.

Aku mendorong kembali pikiran tentang bayiku dan fokus untuk menemukan Jungmo.

Aku bisa menjalani masa depanku sendiri, masa depan bersama bayiku nanti.

"Ok. Aku punya kafein. Aku siap menemukan pria ini."

Aku tidak memprotesnya.

Aku tahu dia sudah tahu nama Jungmo. Aku mengucapkannya beberapa kali. Hanya saja dia menolak untuk mengucapkannya.

Baginya ini adalah bentuk dari pemberontakan.

Jungmo mewakili Ilsan dan dia tidak ingin aku kembali ke Ilsan. Melihat kekesalannya itu membuatku hangat. Eunhyuk menginginkanku dan rasanya menyenangkan.

"Dia meninggalkan Ilsan terburu-buru jadi mungkin tidak membawa banyak uang. Jadi, dia mungkin ada di suatu tempat yang sesuai dengan uang yang dibawanya. Biasakah kau membawaku ke beberapa cottage atau penginapan murah disini?" tanyaku.

Eunhyuk menggangguk tetapi tidak menatapku. Dia malah mengetik pesan di ponselnya.

Bagus.

Aku memerlukannya untuk fokus dan dia malah sepertinya mengatakan pada Lee Donghae jika kami hampir sampai.

Aku benar-benar tidak ingin kekasihnya itu mengetahui sesuatu.

Kami berkendara selama tiga puluh menit dengan aku memeriksa setiap tempat parkir pada semua motel murah di sini.

Hal ini membuatku frustasi. Dia pasti ada di suatu tempat.

"Bisakah aku meminjam ponselmu? Aku akan menghubungi Jungmo dan memberitahu kalau aku mencarinya. Dia akan mengatakan padaku keberadaannya kalau dia tahu aku sudah berkendara sampai sejauh ini."

Eunhyuk memberikan ponselnya padaku dan aku dengan cepat memencet nomor Jungmo. Terdengar nada dering dua kali.

"Hallo?"

"Kim Jungmo. Ini aku. Kau ada dimana? Aku ada di Hyeopjae sekarang dan aku tidak bisa menemukan mobilmu dimana pun."

Sunyi, kemudian terdengar Jungmo mengumpat, "Shit!"

"Jangan marah. Aku hanya ingin mengecekmu. Aku datang untuk membawamu pulang." Aku tahu dia putus asa jika aku pergi ke tempat ini lagi. Dia berfikir aku akan meninggalkan Ilsan. Meskipun itu memang benar, tapi bukan ke tempat ini.

"Ku bilang padamu aku akan pulang segera setelah aku menyelesaikan semuanya, Lee Sungmin. Tidak bisakah kau tetap berada disana?" kejengkelan dalam suaranya menggangguku. Aku menduga dia tidak senang ketika aku datang untuk mendatanginya.

"Kau ada di mana Jungmo-ya?" tanyaku lagi. Kemudian aku mendengar suara wanita di belakangnya. Telponnya jadi teredam.

Tidak diperlukan otak pintar untuk mencari apa yang dilakukan Jungmo sekarang. Dia sedang bersama dengan seorang wanita dan dia mencoba untuk menyembunyikannya dariku.

Hal ini mebuatku marah.

Bukan karena kupikir Jungmo dan aku punya kesempatan, tetapi ini karena dia membiarkanku berfikir dia terluka dan sendirian di kota asing.

Pecundang.

"Dengar. Aku tidak punya waktu untuk permainan bodoh mu, Kim Jungmo! Aku akan kesana, selesai. Lain kali, bisakah aku tidak membuatnya terdengar seolah kau membutuhkanku padalah jelas kau tidak butuh."

"Tidak, Sungmin-ah. Dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak bisa tidur setelah aku meneleponmu, jadi aku kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Aku ingin segera menemuimu."

Seorang gadis terdengar berteriak marah padanya.

Pria ini memang payah dalam menjalin hubungan.

"Pergilah buat temanmu itu merasa lebih baik. Aku tidak butuh penjelasan. Aku tidak butuh apapun darimu. Aku tidak membutuhkanmu lagi." Kataku datar.

Cukup Kim Jungmo, kau telah mengecewakanku lagi.

"Tidak Sungmin, tidak. Aku mencintaimu, sayang. Aku sangat mencintaimu. Tolong dengar kan aku," dia memohon dan gadis yang bersamanya menjadi lebih histeris. "Diamlah Vict!" dia menggeram dan aku tahu dia telah kembali ke Ilsan. Dia bersama Victoria.

"Kau pergi bersama Victoria? Kau sudah pulang jadi aku tidak perlu kuatir lagi dan pergi menemui Vict? Kau memang aneh, Kim Jungmo. Kenyataannya? Kau memang tidak bisa menyakitiku lagi. Tapi berhentilah berfikir untuk mengubah perasaan orang lain. Kau tetap bercumbu dengan Vict dan itu salah. Berhentilah berfikir dengan kejantananmu itu dan dewasalah sedikit."

Aku menekan tombol end dan memberikan kembali ponsel nya pada Eunhyuk. Matanya melebar saat dia manatap ku.

"Dia sudah kembali ke Ilsan," kataku menjelaskan.

"Yeah... aku tahu," kata Eunhyuk pelan. Dia menunggu.

Dia layak mendapatkan lebih. Dia telah membawaku kembali kesini. Dia juga satu-satunya sahabat sejati yang aku miliki.

Kim Jungmo bukanlah seorang teman. Tidak juga. Seorang sahabat sejati tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang dia lakukan.

"Bisakah aku tidur di tempatmu malam ini? Kupikir aku tidak akan kembali kesana. Aku akan segera pergi. Aku akan mencari tahu kemana aku akan pergi besok dan kemudian ketika aku sampai disana aku akan meminta Joongki Ahjushi mengirimkan sisa barangku. Sepertinya aku tidak punya terlalu banyak barang. Trukku berada di pemakamam. Truk itu tidak akan pernah bisa di pakai untuk perjalanan lagi."

Eunhyuk mengangguk dan menyalakan mobil kemudian keluar menuju jalan. "Kau bisa tinggal bersamaku selama kau membutuhkannya. Atau lebih lama," jawabnya.

"Terima kasih," kataku sebelum menyandarkan kepalaku ke kursi dan menghirup nafas dalam-dalam.

Apa yang akan kulakukan sekarang?

.

.

Aroma dari daging yang di panggang menjadi lebih tajam dan semakin tajam saatku hirup. Seolah aroma daging itu mengambil alih semua indraku.

Tenggorokanku sesak. Perutku bergulung oleh bau yang tajam itu. Bunyi desis terdengar dari suatu tempat.

Sebelum aku benar-benar bisa membuka mataku, kakiku telah menapak lantai dan aku lari ke kamar mandi. Untung saja apartemen Eunhyuk tidak telalu besar dan aku tidak perlu berlari jauh.

"Sungminnie?" terdengar suara Eunhyuk memanggil dari dapur, tapi aku tidak bisa berhenti.

Menjatuhkan lututku di depan toilet aku memegang tempat duduk porselen dengan kedua tanganku dan mulai memuntahkan semua isi dari perutku hingga tidak ada yang tersisa selain kekeringan yang melumpuhkan tubuhku.

Setiap kali aku berfikir telah selesai aku mencium lagi bau daging bercampur dengan muntahan dan aku akan mulai muntah lagi.

Aku begitu lemah, tubuhku bergetar saat aku mencoba untuk muntah dan tidak ada lagi yang keluar.

Sebuah lap dingin ada di wajahku dan Eunhyuk berdiri di depanku mengguyur toilet dan kemudian menyandarkanku pada dinding.

Aku meletakkan lap pada hidungku untuk menghalangi bau. Eunhyuk tahu dan menutup pintu kamar mandi di belakangnya. Setelah dia menyalakan kipas angin dia meletakkan tangan di pinggangnya dan menatapku.

Ketidakpercayaan di wajahnya membingungkanku.

Aku sakit. Apa yang aneh dengan itu?

"Daging? Bau daging membuatmu mual?"

Dia menggelengkan kepalanya, tetap menatapku seolah dia tidak mempercayainya.

"Dan kau tidak akan mengatakannya padaku, bukan? Kau akan menaruh pantatmu pada bus sialan dan pergi begitu saja. Sendirian saja. Aku tidak bisa mempercayaimu, Lee Sungmin. Apa yang terjadi pada pria cerdas yang mengajariku agar para pria playboy itu tidak bisa mempermainkanku? Hmmm? Kemana perginya dia? Karena rencanamu disini payah. Sangat payah. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau punya teman disini. Kau akan membutuhkan teman dan... ku harap kau berniat mengatakan pada Kyuhyun tentang hal ini juga. Aku mengenalmu dengan baik, jelas ini adalah bayinya."

Bagaimana dia tahu? Aku hanya muntah. Banyak orang yang terkena virus, "Ini hanya virus," gumamku.

"Jangan bohong padaku! Ini hanya daging, Lee Sungmin! Kau tidur begitu nyenyak di sofa dan saat aku mulai memasak kau mulai mengeluarkan suara aneh dan terlonjak dan berbalik. Kemudian kau berlari seperti peluru yang hendak dimuntahkan. Kau berbohong pada pria yang sejenis denganmu, kau tidak bisa membohongiku. Hilangkan ekspresi terkejut itu dari wajahmu."

Aku tidak bisa bohong padanya? Jadi?

"Ya, aku sama sepertimu. Aku berbeda. Untuk apa aku selalu membawa kondom di saku dan dompetku hah? Itulah alasannya Lee Sungmin. Untuk menghindari kesalahan yang sama yang terjadi padamu."

Dia adalah temanku. Dia sama sepertiku. Itulah mengapa kami saling mengerti satu sama lain.

Aku menarik lututku ke atas dagu dan membungkus lengan disekeliling kakiku. Ini adalah cara untuk memeluk diriku sendiri. Ketika aku merasa dunia seolah hancur di sekitarku dan tidak bisa mengendalikan nya aku akan selalu memeluk diriku seperti ini.

"Itulah kenapa Jungmo datang kesini. Dia mengetahui aku membeli tes kehamilan kemarin. Dia membuntutiku dan mendengar pembicaraanku dengan Joongki Ahjushi. Itulah mengapa dia kemari. Untuk bertanya pada Kyuhyun... untuk bertanya tentang hubungan antara Kyuhyun dan aku. Aku menolak untuk bicara dengan Jungmo tentang hal ini. Aku tidak ingin bicara tentang Kyuhyun sama sekali. Kemudian aku merasa aneh dalam beberapa minggu ini. Aku mual dan terlalu sensitif. Karena aku tahu aku berbeda tapi belum tentu juga sesuai dugaanku. Jadi, ku pikir aku akan membeli beberapa tes, hasilnya akan negatif dan semuanya akan baik baik saja."

Aku menghentikan penjelasanku dan mengistirahatkan pipi pada lututku.

"Tes itu... semuanya positif?" tanya Eunhyuk. Aku mengangguk dan tidak menatapnya.

"Kau akan mengatakan nya pada Kyuhyun? Atau kau hanya akan pergi begitu saja?"

Apa yang akan dilakukan Kyuhyun?

Adiknya membenciku. Eommanya membenciku.

Mereka membenci Eommaku.

Dan aku membenci Lee Minho.

Bagi Kyuhyun menjadi bagian dari kehidupan bayi ini akan membuatnya menjauhi mereka. Aku tidak bisa memintanya melakukan itu.

Meskipun mereka semua kejam. Kyuhyun mungkin mencintai mereka.

Dan dia tidak akan menyerah pada Taemin.

Aku sudah tahu itu ketika terjadi padaku dan Taemin, dia telah memilih Taemin.

Dia akan melakukannya sampai kapan pun.

Ketika aku tahu semuanya. Dia akan menyimpan rahasia Taemin. Kyuhyun memilihnya.

"Aku tidak bisa mengatakan padanya." kataku pelan.

"Apakah itu benar? Karena dia perlu tahu pentingnya menjadi seorang pria dan berada disana untukmu. Pelarian ini bodoh."

Dia tidak tahu semuanya.

Dia hanya tahu sedikit dan hanya sepotong.

Ini hanya cerita tentang Taemin dan tidak ada yang lain di mata Kyuhyun.

Tapi aku tidak setuju.

Ini juga ceritaku.

Taemin tetap memiliki kedua orang tuanya dan juga Hyungnya, Kyuhyun.

Aku? Aku tidak punya siapa siapa.

Eomma telah meninggal. Adikku telah meninggal.

Dan Abeoji, mungkin bisa dianggap meninggal.

Jadi, cerita ini lebih menjadi milikku daripada Taemin. Mungkin lebih.

Aku mengangkat kepalaku dan menatap Eunhyuk. Dia satu-satunya temanku di dunia dan sama berbeda sepertiku. Jadi, jika aku ingin bercerita tentang hal ini maka dia lah orang yang tepat.

.

(Sungmin POV END)

.

.oooO

.

(Kyuhyun POV)

.

Sudah tiga minggu, empat hari, dan dua belas jam sejak aku melihatnya.

Sejak dia menghancurkan hatiku.

Jika aku mabuk, aku akan menyalahkan alkohol.

Itu pasti hanya khayalan, khayalan yang menyedihkan.

Tapi aku belum mabuk. Tidak setetes pun.

Tidak ada yang salah pada Sungmin.

Dan itu memang dia.

Dia memang benar-benar di sini.

Lee Sungmin kembali ke Hyeopjae.

Dia di depan rumahku.

Aku telah menghabiskan lima jam semalam mengemudi seluruh tempat sialan untuk mencari Eunhyuk berharap dia akan membawaku pada Sungmin.

Tapi aku tidak menemukan keduanya.

Kembali ke rumah dan menerima kekalahan, sangat menyakitkan. Aku telah meyakinkan diri ku bahwa Eunhyuk masih di Ilsan bersama Sungmin.

Mungkin pesan dari Eunhyuk adalah pesan ketika mabuk dan tidak lebih. Mungkin seharusnya aku menyusulnya ke Ilsan saat aku masih di Seoul kemarin. Seoul dan Ilsan tidaklah jauh.

Ya, seharusnya begitu.

Tapi kini, aku terpana melihatnya.

Dia terlihat lebih kurus dan aku tidak menyukainya.

Apakah dia tidak makan? Apakah dia sakit?

"Halo, Kyuhyun," katanya, memecah kesunyian.

Bunyi suaranya hampir meluluhkanku.

Ya Tuhan, aku merindukan suaranya.

"Sungmin." Aku berhasil mengucapkannya, takut bahwa aku akan menakutinya hanya dengan berbicara.

Dia mengulurkan tangannya ke atas dan membalutkan sehelai rambutnya di jarinya dan menariknya dengan sedekit keras. Dia gugup.

Aku tidak menyukai bahwa aku membuat dia gugup. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membuat ini menjadi lebih mudah?

"Bisakah kita berbicara?" tanyanya lembut.

"Ya." Aku melangkah mundur untuk membiarkan dia masuk.

"Masuklah."

Dia berhenti dan melirikku menuju rumah.

Rasa takut dan rasa sakit yang terpancar di matanya membuatku diam-diam mengutuk diriku sendiri.

Dia telah terluka di sini. Dunianya telah hancur di rumahku.

Shit! Aku tidak ingin dia merasa seperti itu tentang rumahku. Tidak ketika ada kenangan bagus juga di sini.

"Apakah kau sendirian?" tanyanya. Matanya berpindah kembali menatapku.

Sungmin tidak ingin melihat Eommaku ataupun Abeojinya. Aku mengerti sekarang. Ini bukan tentang rumahku yang membuatnya gugup, tapi mereka.

"Aku memaksa mereka untuk pergi di hari kau pergi," Aku membalas, menatapnya dengan hati-hati.

Matanya membelalak.

Kenapa ini mengejutkannya? Tidakkah dia mengerti? Dialah prioritas dalam hidupku sekarang. Aku sudah memberitahunya di kamar hotel itu.

"Oh! Aku... tidak tahu..." dia berhenti.

"Hanya ada aku. Kecuali untuk kunjungan sesekali Changmin, selalu hanya aku sendirian."

Dia harus tahu aku belum pindah. Aku tidak pindah.

Sungmin berjalan ke dalam rumah dan aku mengepalkan tangan menjadi genggaman ketika aroma familiar manisnya mengikutinya.

Begitu banyak malam aku duduk disini dan bermimpi melihatnya berjalan kembali dalam hidupku. Duniaku.

"Bisakah aku mengambilkanmu sesuatu untuk diminum?" tanyaku, berpikir bagaimana aku benar-benar ingin meminta dia untuk berbicara denganku.

Untuk tinggal denganku. Untuk memaafkanku.

Sungmin menggelengkan kepalanya dan berbalik untuk menatapku. "Tidak. Aku baik-baik saja. Aku... aku hanya... aku berada di kota dan..."

Dia mengernyitkan hidungnya dan aku melawan dorongan untuk meraih dan menyentuh wajahnya. "Apakah kau memukul Jungmo?"

Jungmo?! SHIT!

Dia tahu tentang Jungmo. Apakah dia di sini untuk membicarakan pria itu?

"Dia menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya. Mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya." Jawabku melalui gigi terkatup.

Sungmin menghela nafasnya. "Aku hanya bisa membayangkan," dia bergumam dan menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku dia datang ke sini. Dia tidak memikirkan sesuatu dengan keseluruhan. Dia hanya bertindak impulsif."

Dia tidak membelanya. Dia meminta maaf untuknya.

Itu bukan tugasnya. Bajingan bodoh itu bukan tanggung jawabnya atau salahnya.

"Jangan meminta maaf untuknya, Lee Sungmin. Itu membuatku ingin memburunya." Aku menggeram, tidak mampu mengontrol reaksiku.

"Itu salahku dia ke sini, Kyuhyun-ah. Makanya aku meminta maaf. Aku menyinggung perasaannya dan dia mengira itu semua gara-gara dirimu, jadi dia ke sini sebelum membicarakannya denganku."

Membicarakannya dengan dia? Apa-apaan Jungmo perlu berbicara dengannya?

"Dia harus mundur. Kalau dia terlalu-"

"Cho Kyuhyun. Tenanglah. Kami teman lama. Tidak lebih. Aku memberitahunya beberapa hal yang aku ingin katakan dari dulu. Dia tidak menyukainya. Aku kejam tapi aku harus mengatakannya. Aku lelah untuk melindungi perasaannya. Dia mendesakku terlalu jauh. Hanya itu."

Aku mengambil nafas dalam tetapi dentuman di kepala ku semakin keras.

"Apakah kau datang untuk menemuinya?"

Aku perlu tahu apakah itu penyebab kenapa Sungmin disini.

Jika hal ini tidak ada hubungannya denganku, hatiku harus siap menghadapinya.

Sungmin berjalan ke arah tangga bukannya pergi ke ruang tamu. Aku memperhatikan itu.

Aku mengerti. Dia mungkin masuk ke rumahku tapi Ia tidak bisa berjalan ke dalam dan menghadapinya.

Belum.

Mungkin tidak akan pernah.

"Dia mungkin telah menjadi alasanku untuk masuk ke dalam mobil dengan Eunhyuk." Dia berhenti sejenak dan menghela nafas, "tapi dia sudah pergi ketika aku sampai di sini. Aku disini untuk alasan lain. Aku... Aku ingin berbicara denganmu."

Dia datang ke sini untuk berbicara denganku? Sudahkah waktunya cukup?

Aku gunakan setiap ons kekuatan yang aku miliki untuk berdiri diam dan tidak pergi menariknya ke dalam pelukanku. Aku tidak peduli apa yang dia katakan. Fakta dia ingin melihatku sudah cukup.

"Aku senang kau datang," kataku.

Kerutan kecil itu kembali dan Sungmin tidak melihat langsung ke arahku. "Semuanya masih sama. Aku belum bisa untuk membiarkan hal itu pergi. Aku tidak akan pernah bisa mempercayaimu. Bahkan... bahkan jika aku mau. Aku tidak bisa."

Apa itu artinya? Debaran di dadaku semakin kuat.

"Aku akan meninggalkan Ilsan. Aku tidak bisa tinggal di sana. Aku harus bisa melakukannya sendiri."

Apa?

"Apa kau pindah dengan Eunhyuk?" tanyaku, merasa ragu jika aku masih tidur dan ini adalah mimpi.

"Tidak, aku tidak akan. Tapi pagi ini aku berbicara dengan Eunhyuk dan kupikir mungkin jika aku menemuimu dan berbicara denganmu dan menghadapi... ini, aku akan bisa tinggal bersamanya untuk sementara waktu. Tidak akan permanen. Aku... akan pergi dalam beberapa bulan. Hanya sampai aku punya waktu untuk memutuskan kemana aku akan pergi selanjutnya."

Jadi Sungmin masih berencana untuk pergi.

Aku perlu merubah itu.

Aku punya beberapa bulan jika dia tinggal di sini. Untuk pertama kalinya sejak dia mengatakan padaku untuk meninggalkan hotel aku merasa masih punya harapan.

"Aku pikir itu bijak. Tidak ada alasan untuk membuat keputusan dengan tergesa-gesa ketika kamu memiliki pilihan yang tepat disini."

Dia bisa tinggal di rumah ku gratis. Di tempat tidurku. Bersamaku. Tetapi aku tidak bisa menawarkan itu.

Dia tidak akan pernah setuju.

.

(Kyuhyun POV END)

.

.

(Sungmin POV)

.

"Aku akan bekerja di klub. Kita akan... umm... bertemu di lain kesempatan. Aku bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain tapi aku butuh uang dari klub."

Aku menjelaskan hal ini kepada diriku sama seperti aku menjelaskannya pada Kyuhyun.

Aku tidak begitu yakin apa yang akan aku katakan saat aku muncul disini.

Aku hanya tahu bahwa aku harus berhadapan dengannya.

Pada awalnya Eunhyuk telah memohon padaku untuk memberitahu Kyuhyun tentang kehamilanku. Akan tetapi, setelah dia mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan aku, Abeoji, Eomma Kyuhyun serta Taemin, dia tidak berpihak lagi pada Kyuhyun seperti sebelumnya.

Dia setuju bahwa tidak ada untungnya memberitahu Kyuhyun mengenai apapun.

Mengumpulkan keberanian untuk kembali ke rumah ini setelah aku meninggalkannya tiga setengah minggu yang lalu adalah hal yang sangat sulit.

Harapanku bahwa hatiku tidak akan bereaksi saat melihat wajah Kyuhyun telah sia-sia.

Dadaku mengerut sangat parah sehingga suatu keajaiban bahwa aku masih bisa bernapas.

Tidak perlu berbicara.

Aku hamil bayinya... bayi kami.

Tapi kebohongan. Penipuan. Siapa dirinya.

Semua itu telah menahanku untuk mengucapkan kata-kata yang seharusnya dia dengar. Aku tidak bisa.

Itu salah.

Aku telah menjadi seseorang yang egois. Aku tahu itu. Itu tidak akan mengubah apapun.

Bayi yang aku kandung sekarang mungkin tidak akan pernah tahu tentangnya. Aku tidak bisa membiarkan perasaaanku padanya mengaburkan tujuanku akan masa depanku... atau masa depan anakku.

Lee Minho, Bae Sooji dan Lee Taemin tidak akan pernah menjadi bagian dari kehidupan anakku. Aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak bisa.

"Tentu saja. Yeah, bekerja di klub akan menghasilkan banyak uang."

Dia berhenti dan menjalankan tangannya di rambutnya.

"Sungmin, tidak ada yang berubah. Tidak bagiku. Kau tidak butuh ijinku. Ini adalah yang benar-benar aku inginkan. Adanya kau disini. Melihat wajahmu. Oh my God, Sungminnie, aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak gemetar dengan adanya kau berdiri di rumahku sekarang."

Aku tidak bisa melihatnya. Tidak sekarang.

Aku tidak pernah mengira dia akan mengatakan semua hal itu.

Percakapan yang kaku dan menegangkan menjadi lebih dari yang aku perkirakan. Itu adalah yang aku inginkan. Hatiku tidak bisa menerima yang lainnya.

"Aku harus pergi, Kyu. Aku tidak bisa, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak masalah dengan adanya diriku di sini. Aku akan menjaga jarak."

Kyuhyun bergerak sangat cepat hingga aku tidak menyadari sampai dia berdiri antara aku dan pintu. "Aku minta maaf. Aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku mencoba untuk berhati-hati tetapi aku menghancurkannya. Aku akan berbuat lebih baik. Aku janji. Pergilah ke tempat Eunhyuk. Lupakan apa yang barusanku katakan. Aku akan bersikap baik. Aku janji. Hanya saja... hanya saja jangan pergi. Tolonglah."

Apa yang akan kukatakan?

Dia berusaha membuatku untuk menenangkannya. Untuk meminta maaf padanya.

Dia senjata mematikan bagi emosi dan akal sehatku.

Jarak. Kami butuh jarak. Aku mengangguk dan melangkah melewatinya.

"Aku akan... umm... mungkin akan bertemu lagi denganmu." Aku berhasil mengeluarkan suara parau sebelum membuka pintu dan melangkah keluar rumah.

Aku tidak menoleh ke belakang tapi aku tahu dia melihatku pergi. Itu satu-satunya alasan aku tidak berlari.

Jarak... kami butuh jarak. Dan aku butuh menangis.

Aku menjadi lebih sensitif dan sentimental. Karena bayi ini.

Mungkin dia merasa senang telah bertemu Abeojinya.

.

.

Seolah dia tahu kalau aku akan datang.

Awalnya aku sudah memutuskan akan langsung pergi ke dapur dan mencari Leeteuk hyung dan Kibummie. Aku rasa mereka tahu dimana aku bisa menemukan Siwon.

Tetapi ternyata Siwon telah menungguku di pintu saat aku membuka pintu masuk belakang klub.

"Dan dia kembali. Sejujurnya aku mengira kau tidak akan kembali," Siwon menggumam saat pintu tertutup di belakangku.

"Mungkin hanya sebentar,"jawabku.

Siwon berkedip padaku dan menganggukkan kepalanya menuju ruangan yang mengarah ke kantornya. "Ayo kita bicara."

"Oke," aku berkata sambil mengikutinya.

"Eunhyuk sudah meneleponku dua kali hari ini. Dia ingin tahu apakah aku sudah bertemu denganmu. Memastikan kau mendapatkan pekerjaanmu kembali," Siwon berkata sambil membuka pintu kantornya dan menahannya supaya aku bisa masuk kedalam.

"Yang tidak kusangka adalah telepon yang baru saja aku terima sekitar sepuluh menit yang lalu. Itu mengejutkanku. Dari caramu melarikan diri dari sini tiga minggu yang lalu dan meninggalkan Kyuhyun begitu saja, aku tidak mengira dia akan meneleponku untuk kepentinganmu. Dia tidak perlu melakukannya. Aku sudah setuju bahwa kau akan mendapatkan pekerjaanmu kembali."

Aku berhenti dan melihat ke arahnya. Apakah benar yang kudengar darinya?

"Kyuhyun?" Tanyaku, hampir takut bahwa aku berhalusinasi terhadap komentar itu.

Siwon menutup pintunya kemudian berjalan dan berdiri di depan mejanya.

Dia bersandar pada kayu berkilau yang terlihat mahal itu dan menyilangkan tangannya di depan dadanya.

Senyum yang disunggingkan sejak aku datang kini telah hilang. Dia terlihat lebih khawatir sekarang.

"Ya, Cho Kyuhyun. Aku tahu kebenaran telah terungkap. Donghae telah memberitahuku sebagian. Setidaknya hanya yang dia ketahui. Tapi kemudian aku tahu siapa dirimu. Atau yang disangka Kyuhyun dan Taemin sebelumnya. Aku memperingatkanmu, Kyuhyun akan memilih Taemin. Dia telah memilihnya saat aku memberimu peringatan. Apakah kau benar-benar ingin kembali ke semua ini? Apakah Ilsan begitu buruk?"

Tidak. Tentu saja tidak.

Tetapi, aku, pria berusia sembilan belas tahun dan hamil sendirian tanpa keluarga cukup buruk.

Bagaimanapun hal itu bukanlah sesuatu yang ingin aku ceritakan pada Siwon.

"Kembali kesini tidak mudah. Melihat mereka... juga tidak mudah. Tapi aku perlu mengetahui apa yang akan kulakukan selanjutnya. Kemana aku akan pergi. Tak ada yang tersisa bagiku di Ilsan. Aku tidak bisa berada disana dan berpura-pura ada yang kumiliki disana. Ini waktunya bagiku menemukan hidup baru. Dan Eunhyuk adalah satu-satunya teman terdekatku. Pilihan tempat untukku pergi sedikit terbatas."

Alis Siwon bergerak naik. "Ouch. Lalu aku apa? Aku pikir kita teman."

Tersenyum, aku berjalan dan berdiri di belakang kursi di seberang Siwon. "Kita teman tapi... bukan teman dekat."

"Bukan karena aku tidak mencoba yang terbaik."

Aku tertawa kecil dan Siwon menyeringai. "Senang mendengar itu. Aku merindukannya."

Mungkin kembali tidak akan begitu sulit.

"Kau mendapatkan pekerjaanmu. Itu milikmu. Aku punya masalah dengan para pembawa minuman karena sedikitnya staf pria sedangkan 'peminatnya' semakin banyak." Dia memberikan tanda kutip pada peminat, aku tahu maksudnya.

"Dan Leeteuk serta Kim Kibum masih merajuk. Mereka memang tidak akrab dengan pelayan yang lain. Mereka sangat merindukanmu."

"Terima kasih," jawabku. "Aku menghargainya. Aku ingin jujur padamu. Dalam empat bulan, aku bermaksud untuk pergi. Aku tidak bisa tinggal disini selamanya. Aku punya..."

"Kau punya kehidupan yang harus kau cari. Yah, aku mendengarmu. Disini bukanlah tempat untuk menanam akarmu. Aku mengerti. Untuk berapapun lamanya, kau mendapatkan pekerjaan." Ujar Siwon tegas.

Oke, pekerjaan aman.

.

(Sungmin POV END)

.

.

.ooO

.

.

(Kyuhyun POV)

.

Aku mengetuk sekali sebelum membuka pintu rumah Taemin dan berjalan masuk.

Mobilnya terparkir di luar. Aku tahu dia disini. Aku hanya ingin memastikan dia tahu kalau aku ada disini.

Aku pernah membuat kesalahan dengan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dan kemudian aku melihat dia sedang berada di pangkuan seorang pria. Rasanya aku ingin mencuci mata dan otakku setelah kejadian itu. Dia gay. Sungguh tak kuduga.

"Taemin, ini aku. Kita harus bicara." Aku memanggilnya kemudian menutup pintu di belakangku.

Aku melangkah ke ruang tamu dan bunyi yang tidak lebih dari suara hening dan langkah kaki yang datang dari arah kamar tidur utama hampir membuatku berbalik dan pergi.

Tapi aku tidak jadi melakukannya. Ini lebih penting. Teman tidurnya harus pulang sekarang bagaimanapun juga. Ini sudah lebih dari jam sebelas.

Pintu kamar tidurnya terbuka dan tertutup.

Menarik. Siapapun yang ada disini, dia menetap.

Kami harus pergi keluar ke balkon untuk berbicara.

Aku tidak ingin membahas tentang Sungmin di depan orang lain. Aku mungkin kenal dengan pria yang ada di kamar itu. Itulah adalah satu-satunya alasan kenapa Taemin menyembunyikannya di dalam sana.

"Apa kamu tidak pernah mendengar tentang menelepon dulu sebelum datang?" Taemin membentak saat dia berjalan ke ruang tamu memakai mantel sutera pendek. Dia semakin lama semakin mirip dengan Eomma kami seiring bertambahnya usia. Dan hobinya memakai pakaian wanita membuat krisis gendernya semakin parah.

"Ini hampir jam makan siang, Taetae. Kau tidak bisa menahan priamu di tempat tidur sepanjang hari," jawabku dan membuka pintu ke arah balkon yang menghadap ke arah laut.

"Aku butuh berbicara denganmu dan aku tidak ingin melakukannya di tempat yang bisa didengar teman menginapmu."

Taemin memutar matanya dan melangkah keluar. "Aku merasa aneh bahwa ketika aku mencoba untuk berbicara denganmu selama berminggu-minggu dan kemudian kau sekarang ingin berbicara denganku, kau menerobos masuk seenaknya seakan aku tidak punya kehidupan. Setidaknya aku meneleponmu terlebih dahulu." Dia benar-benar terdengar seperti Eomma sekarang.

"Aku juga pemilik rumah ini, Tae. Aku bisa datang kapanpun aku mau," Aku mengingatkannya.

Dia akan pergi dari sini pada pertengahan Agustus untuk kembali ke asrama mahasiswanya dan jurusan kuliah yang belum dia putuskan.

Kampus adalah fungsi sosial baginya. Dia tahu aku akan membayar tagihan dan uang sekolahnya. Aku selalu mengurus semua hal untuknya.

"Sangat menyebalkan. Tentang apa ini? Aku bahkan belum minum kopi." Dia juga tidak takut kepadaku.

Bukan berarti aku ingin dia takut padaku, tapi ini saatnya dia bersikap dewasa.

Aku tidak akan membiarkan dia membuat Sungmin kembali melarikan diri.

Dalam sebulan, Taemin akan pergi.

Biasanya aku juga akan pergi.

Tapi tidak tahun ini.

Aku akan tetap berada di Hyeopjae.

Dan Eomma harus mencari tempat tinggal lain. Dia tidak akan mendapatkan rumah ini secara gratis sepanjang tahun ini.

"Sungmin telah kembali," Aku mengatakan secara terus terang.

Aku telah memiliki waktu untuk melihat segalanya dari sudut yang berbeda.

Aku tidak lagi merasa bahwa Taemin adalah seorang korban.

Saat kecil dia memang korban tapi begitu juga dengan Sungmin.

Taemin menegang dan matanya berkilat penuh kebencian yang mengarah kepada ayahnya dan bukan Sungmin. Apa aku tak salah?

"Jangan mengatakan apapun. Biarkan aku bicara lebih dulu atau aku akan mengusir teman menginapmu keluar dari sini. Aku yang berkuasa disin, Tae. Eomma kita tidak punya apa-apa. Aku menghidupi kalian berdua. Aku tidak pernah memintamu untuk apapun. Tidak pernah. Tapi sekarang aku akan memintanya... tidak, aku akan menuntutmu untuk mendengarkanku dan mengikuti ucapanku."

Kemarahan Taemin memudar dan sekarang si anak manja ada disana melihat ke arahku.

Dia tidak suka diperintah.

Aku tidak bisa menyalahkan Eommaku atas sikapnya itu, tidak seluruhnya. Aku juga merupakan penyebabnya. Dia terlalu dimanjakan.

"Aku benci dia," Taemin mendidih.

"Aku bilang dengarkan aku. Jangan berasumsi aku menggertak, Tae. Karena kali ini kau berurusan dengan sesuatu yang aku pedulikan. Hal ini mempengaruhiku, jadi dengarkan dan tutup mulutmu."

Matanya membulat terkejut.

Aku yakin aku tidak pernah berbicara seperti itu padanya. Aku sendiri juga sedikit merasa terkejut. Mendengar kebencian dalam suaranya yang mengarah ke Sungmin telah membuatku marah.

"Sungmin tinggal dengan Eunhyuk. Siwon telah memberi Sungmin pekerjaannya kembali. Dia tidak memiliki apapun di Ilsan. Dia tidak memiliki siapapun. Abeojimu itu sama sekali tak berguna. Bagi Sungmin dia sudah mati. Sungmin kembali untuk mencari tahu dimana tempat yang tapat baginya dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia telah melakukan hal itu sebelumnya, tapi ketika kebenaran telah terungkap membuat dunianya hancur sehingga dia melarikan diri. Merupakan sebuah keajaiban bahwa dia telah kembali. Aku ingin dia kembali disini, Tae. Kau mungkin tidak ingin mendengar ini, tapi aku mencintainya. Aku akan melakukan segalanya untuk memastikan dia aman. Dia telah aman dan tidak ada seorangpun, benar-benar seorang pun, bahkan adikku sendiri, yang akan membuatnya merasa tidak diinginkan. Kau akan segera pergi. Kau bisa menyimpan kebencianmu yang salah tempat jika kau ingin, tapi suatu hari nanti aku harap kau cukup dewasa untuk menyadari bahwa hanya ada satu orang untuk dibenci disini, yaitu ayahmu sendiri."

Taemin tenggelam dalam kursi santai yang dia taruh disini untuk bersantai dan membaca buku.

Aku juga mencintai Taemin. Aku telah melindunginya sepanjang hidupku.

Memberitahunya hal ini dan mengancamnya adalah hal yang sulit tapi aku tidak bisa membiarkannya menyakiti Sungmin lagi. Aku harus mengehentikannya.

Sungmin tidak akan memberikan kesempatan lagi padaku selama Taemin masih menyiksa hidupnya.

"Jadi kau lebih memilih dia daripada aku," Taemin berbisik.

"Ini bukan kontes, Taetae. Berhenti bertingkah seperti itu. Kau mendapatkan Ayah. Sungmin kehilangannya. Kau menang. Sekarang lepaskan."

Taemin mengangkat matanya dan air mata menempel pada bulu matanya. "Dia membuatmu membenciku."

Drama sialan.

Taemin hidup dalam pengaruh drama tv dalam kepalanya. "Tae, dengarkan aku. Aku mencintaimu. Kau adalah adikku. Tak ada seorangpun yang bisa mengubahnya. Tapi aku jatuh cinta pada Sungmin. Cinta yang berbeda. Itu mungkin halangan yang besar bagi rencanamu untuk menaklukkan dan menghancurkannya, tapi sayangku, sudah waktunya bagimu untuk melupakan masalah tentang Ayahmu. Tiga tahun yang lalu dia telah kembali. Aku ingin kau menyingkirkan rencanamu."

"Bagaimana dengan keluarga adalah yang utama?" Dia tercekik.

"Jangan bawa-bawa itu. Kau dan aku tahu bahwa aku selalu mengutamakanmu sepanjang hidupku. Kau membutuhkanku dan aku ada disana. Tapi kita sekarang sudah dewasa, Tae. Semua ada tempat dan waktunya."

Dia menghapus air mata yang keluar dari matanya kemudian berdiri. Aku tidak bisa bilang apakah air matanya asli atau palsu.

Dia bisa menyalakan dan mematikannya dalam sekejap.

"Baiklah. Mungkin aku akan kembali ke sekolah lebih awal. Kau juga tidak menginginkanku disini bagaimanapun juga. Kau telah memilihnya."

"Aku ingin kau selalu berada disisiku. Tapi kali ini aku ingin kau bersikap baik. Pikirkan orang lain sebagai gantinya. Kau punya hati. Aku pernah melihatnya. Sekarang waktunya untuk menggunakannya."

Punggungnya mengencang. "Jika kita sudah selesai bisakah kau meninggalkan rumahmu ini?"

Aku mengangguk.

"Yeah Aku selesai," Aku menjawab dan berjalan masuk ke dalam.

Tanpa berkata-kata lagi aku berjalan menuju pintu depan. Waktu akan menunjukkan apakah aku harus menggunakan ancaman untuk memberi adikku pelajaran.

Aku harap aku tidak perlu melakukannya.

.

(Kyuhyun POV END)

.

.

(Sungmin POV)

.

Aku membutuhkan barang-barangku dan aku butuh untuk menjual trukku.

Ini tidak akan pernah sampai sejauh ini.

Aku sudah memberitahu Joongki Ahjushi yang akan segera kembali bertugas. Dia juga telah menyempatkan diri memeriksa trukku untukku minggu lalu, setelah mengetahui jika trukku rusak dan dia mengatakan dia mampu untuk memperbaikinya. Biaya untuk memperbaiki segala kerusakannya akan menghabiskan lebih banyak dari yang bisa aku keluarkan. jadi aku memutuskan akan menjualnya.

Aku akan segera kembali ke Ilsan untuk mengambil barang-barangku dan mengucapkan selamat tinggal kepada Joongki Ahjushi serta memberikan beberapa penjelasan padanya.

Siwon telah memberikan aku beberapa hari untuk mengurus semuanya sebelum aku mulai kembali bekerja.

Eunhyuk sudah meminta izin kemarin untuk membawaku ke dokter dan mengecek kandunganku Tapi, pertama-tama aku memerlukan asuransi kesehatan. Dan Siwon bilang akan segera mengurusnya. Dia memang belum tahu soal kehamilanku, tapi dia berinisiatif memberikan asuransi kesehatan untukk karena kondisiku yang menurutnya memprihatinkan.

Terserahlah, yang penting aku memiliki asuransi untuk menjamin kesehatanku dan bayiku.

Hari ini aku mendengar Eunhyuk telah memberitahu Donghae tentang bagaimana mereka akan menghadapi kencan pertama mereka malam ini.

Aku telah memonopoli semua waktunya sejak dia datang dan menemukanku. Aku mulai merasa telah merepotkannya. Aku benci perasaan itu.

Aku bisa naik kendaraan umum. Itu akan lebih terjangkau dan tidak akan membebani Eunhyuk, tentunya.

Sebuah ketukan di pintu menginterupsi pikiranku. Aku pun pergi membuka pintu.

Kyuhyun berdiri disana, dengan sebelah tangannya diselipkan kedepan jinsnyadan baju kaos ketat yang dipakainya, sungguh bukan seperti apa yang aku perkirakan.

Dia mengulurkan tangan untuk melepas kacamatanya.

Aku berharap dia membiarkan benda itu untuk tetap disana. Kilatan matanya saat terkena sinar matahari terlihat lebih menakjubkan dari apa yang pernah aku ingat.

"Hey, aku bertemu Eunhyuk di clubhouse. Dia mengatakan kau berada disini," Jelasnya. Dia terlihat gugup. Aku tidak pernah melihatnya gugup sebelumnya.

"Yeah... um Siwon memberikan aku beberapa hari untuk mengambil barang-barangku dari Ilsan sebelum aku mulai kembali bekerja."

"Kau harus pergi untuk mengambil barang-barangmu?"

Aku mengangguk.

"Yeah. Aku meninggalkannya semuanya disana. Aku hanya membawa tas kecilku ini. Aku belum merencanakan dengan pasti untuk menetap."

Kyuhyun mengerutkan keningnya. "Jadi, bagaimana kau akan kesana? Aku tidak melihat trukmu."

"Aku baru saja akan mencari jadwal transportasi umum dan melihat mana yang terdekat dari sini."

Kerutan dikening Kyuhyun semakin dalam. "Itu menghabiskan waktu yang lama. Jeju ke Ilsan tidak sedekat Seoul ke Ilsan, Lee Sungmin."

Itu tidak seburuk seperti apa yang aku takuti.

"Kendaraan umum tidaklah aman, Sungmin-ah. Aku tidak suka idemu itu. Biarkan aku yang mengantarmu. Aku mohon. Aku akan membawamu kesana lebih cepat dan itu gratis. Kau bisa menyimpan uangmu."

Pergi bersamanya? Seluruh perjalanan ke Ilsan hingga kembali kesini?

Apakah itu sebuah ide yang bagus?

"Aku tidak tahu..." Aku terdiam karena sejujurnya aku benar-benar tidak tahu. Hatiku tidak siap untuk segala hal yang berkaitan dengan Kyuhyun.

"Kita bahkan tidak perlu bicara... atau kita bisa jika kau ingin. Aku akan membiarkanmu memilih musik dan aku tidak akan memprotesnya."

Jika aku kembali dengan Kyuhyun maka Jungmo tidak akan melakukan perlawanan. Atau bisa saja dia melakukannya.

Dia bisa memberitahu Kyuhyun tentang kehamilan. Tapi akankah dia? Aku bahkan tidak pernah mengatakan kepada Jungmo kalau aku tengah hamil. Dia hanya menguping. Jika Joongki Ahjushi itu mungkin. Tapi, aku percaya padanya.

"Aku tahu kau tidak bisa memaafkan kebohongan dan sakit yang kau rasakan. Aku bahkan tidak akan meminta untuk itu. Kau tahu aku merasa bersalah dan jika aku bisa kembali dan merubah semuanya, aku ingin sekali. Aku mohon, Sungmin, hanya sebagai seorang teman yang ingin menolong dan membiarkanmu untuk tetap selamat dari pria gila yang akan menyakitimu di luar sana, tolong biarkan aku mengantarmu."

Aku pikir tidak seperti yang dia pikirkan tentang mendapatkan bahaya. Tapi aku punya kehidupan lain di dalam perutku yang harus aku jaga.

"Okay. Ya. Aku akan pergi denganmu."

.

.

Donghae tergeletak di kursi biru besar yang terdapat diruang tamu Eunhyuk dengan kakinya bersandar pada sandarannya dan Eunhyuk meringkuk di pangkuannya.

Aku berada di sofa, rasa-rasanya aku seperti percobaan ilmiah, karena mereka berdua menatapku bingung.

"Jadi kau setuju dengan Kyuhyun untuk mengantarmu ke Ilsan besok untuk mengambil barang-barang? Maksudku kau tidak merasa aneh atau..." Eunhyuk terdiam.

Itu akan terlihat aneh.

Itu juga pasti akan menyakitkan berada di dekatnya tapi aku butuh tumpangan.

Eunhyuk harus bekerja, tidak ada hari libur lain untuk membantuku minggu ini. "Dia yang menawarkan. Aku butuh tumpangan, jadi aku menjawab ya."

"Dan apakah segampang itu? Kenapa aku tidak mempercayainya?" Tanya Eunhyuk sangsi.

"Karena dia meninggalkan bagian-bagian dimana Kyuhyun meminta dan memohon," ucap Donghae sembari tergelak.

Aku menarik cardigan milik Eunhyuk diatas bahuku.

Aku kedinginan. Aku merasa sangat dingin akhir-akhir ini dimana terasa aneh karena sekarang musim panas di Korea.

"Dia tidak memohon," jawabku, merasa terdorong untuk membela Kyuhyun. Sekalipun dia memohon, itu bukanlah urusan Donghae.

"Yeah, benar. Jika kau mengatakan seperti itu." Donghae meminum teh manis yang dibuatkan Eunhyuk.

"Ini bukanlah urusan kita. Tinggalkan dia sendiri, Hae-ya. Kita perlu memutuskan apa yang harus dilakukan tentang menyewa tempat ini di akhir minggu."

Aku tidak akan lama disini. Aku sudah memberitahu Eunhyuk.

Pindah ke rumah yang lebih mahal bukanlah ide yang bagus. Bagian sewaku tidak akan bisa diatasi setelah kepergianku dan Eunhyuk akan membayarnya sendiri.

Donghae mencium tangan Eunhyuk dan menyeringai kearahnya. "Aku beritahu kau bahwa aku akan mengurus semuanya. Kalau kau membiarkan aku." Dia mengedipkan mata padanya dan aku memalingkan kepalaku.

Aku tidak ingin melihat mereka.

Kyuhyun dan aku tidak pernah seperti itu. Hubungan kita sangatlah sebentar. Intens dan singkat.

Aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya kalau aku memiliki kebebasan untuk meringkuk disisi Kyuhyun kapanpun aku mau. Untuk mengetahui aku aman dan dia mencintaiku.

Kami tidak pernah memiliki kesempatan seperti itu.

"Dan aku beritahu kau, aku tidak akan membiarkan kau membayar sewaku. Maaf. Rencana baru. Oh, Sungminnie, mengapa kita tidak pergi mencari apartemen besok?"

Sebuah ketukan di pintu mengangguku sebelum aku setuju.

Lalu, Changmin membuka pintunya dan berjalan masuk.

"Kau tidak seharusnya masuk begitu saja ke dalam apartemen seseorang tanpa permisi. Dia bisa saja sedang telanjang," geram Donghae pada Changmin.

Changmin memutar matanya kemudian tersenyum ke arahku, "Aku melihat mobilmu disini, Fishy. Aku disini untuk membujuk Sungmin apakah dia mau keluar bersamaku."

"Kau mencoba untuk diusir?" Tanya Donghae.

Changmin menyeringai kemudian menggelengkan kepalanya sebelum melihatku. "Ayolah, Lee Sungmin! Mari pergi bersamaku dan bersenang-senang."

Apakah Changmin pernah berbohong?

Tentu dia telah mengetahuinya. Aku tidak bisa bilang tidak kepadanya.

Walaupun jika dia tahu, dialah orang baik pertama yang aku temukan disini. Dia yang mengisi tangki trukku dengan bensin. Dia yang mengkhawatirkanku ketika tidur di bawah tangga.

Aku mengangguk dan berdiri.

"Mereka berdua butuh waktu sendiri kurasa," jawabku, menatap ke arah Eunhyuk. Dia mengamatiku dengan seksama. Aku memberikan senyum untuk meyakinkannya, kemudian dia terlihat lebih santai.

"Jangan lupakan pembicaraan kita. Kita harus memutuskan dimana nantinya kami akan tinggal untuk seminggu," Kata Eunhyuk saat aku berjalan ke arah pintu.

"Kalian bisa membicarakannya nanti, Anchovy. Sungmin sudah pergi hampir sebulan. Kau harus berbagi," jawab Changmin membukakan aku pintu untuk berjalan keluar.

"Kyuhyun akan mengamuk," Donghae berteriak tepat sebelum Changmin menutup pintu, meredam apapun itu ketika Eunhyuk mulai berbicara.

Kami berjalan menuruni tangga dalam diam. Saat aku berada di sebelah Changmin, aku melihat kearahnya. "Apakah kau hanya merindukanku atau ada sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku?" tanyaku.

Changmin menyeringai. "Aku merindukanmu. Aku telah mengatasi masalah ketika Kyuhyun merajuk. Jadi percayalah kalau aku benar-benar merindukanmu."

Aku tahu dari nada menggodanya kalau ia ingin membuat lelucon. Tapi berpikir tentang Kyuhyun yang akan kecewa tidak membuatku tersenyum. Itu hanya akan mengingatkan segalanya.

"Maaf," gumamku. Aku tidak yakin apa lagi yang harus aku katakan.

"Aku senang kau kembali."

Aku menunggu. Aku tahu dia ingin mengatakan lebih. Aku bisa merasakannya.

Dia mengambil waktu dan aku pikir dia sedang berusaha memutuskan bagaimana caranya untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan kepadaku.

"Aku minta maaf atas apa yang terjadi. Bagaimana itu terjadi. Dan Taemin. Dia bisa saja datang mengaku sebagai jalang paling manja di dunia tapi dia memiliki masa kanak-kanak yang kacau. Itu menyesatkannya atau apapun itu. Jika kau hidup dengan Suzy Eomma sebagai ibumu, mungkin kau bisa mengerti. Kyuhyun seorang bocah lelaki, jadi dia tidak menjadi seburuk itu. Tapi, Taemin, dunianya kacau. Itu bukanlah sebuah permakluman untuknya, tetapi sebuah penjelasan."

Aku tidak menanggapinya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak merasakan simpati apapun terhadap Taemin.

Sudah pasti pria dalam hidupnya melakukannya. Pasti baik.

"Terlepas dari semua itu, apa yang dia lakukan adalah kesalahan. Bagaimana itu dirahasiakan darimu benar-benar kacau. Maaf karena aku tidak mengatakan apa-apa, tapi jujur, aku bahkan tidak menyadari kalau kau dan Kyuhyun memiliki apapun itu sampai apa yang terjadi malam itu di klub ketika dia kehilangan segalanya. Aku melihat dia tertarik padamu, tetapi begitu juga dengan sebagian besar pria dikota ini. Aku pikir dia satu-satunya pria yang tidak mengambil langkah karena kesetiaannya kepada Taemin dan baiklah, apa yang kau tunjukan kepada mereka berdua." Changmin menghentikan langkahnya dan aku memalingkan kepalaku untuk menoleh kearahnya.

"Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Sekalipun. Dia terlihat kosong. Aku tidak bisa menebaknya. Dia bahkan tidak tersenyum. Dia tidak pernah berpura-pura untuk tidak menikmati hidupnya. Dia berbeda semenjak kau pergi. Walaupun dia tidak jujur dan terlihat seperti melindungi Taemin... Kalian berdua hanya tidak memiliki cukup waktu. Taemin sudah menjadi tanggung jawabnya sejak dia kecil. Hanya itu yang dia tahu. Lalu tiba-tiba kau datang kedunianya dan mengguncangnya setiap malam. Jika dia memiliki waktu lebih dia akan memberitahumu. Aku tahu dia akan melakukannya. Tapi dia tidak. Itu tidaklah adil baginya. Ia jatuh cinta kepada pria ini, seorang pria. Dia selalu berpikir bahwa pria inilah alasan adiknya tanpa seorang Ayah. Sistem keyakinannya sudah berubah, tapi dia juga sulit untuk melewatinya."

Aku hanya melihatnya. Bukan karena aku tidak setuju. Aku bahkan sudah melewatinya di kepalaku. Aku mengerti apa yang ia katakan.

Masalahnya adalah... itu tidak merubah apapun. Walaupun ia memberitahuku, itu tidak akan merubah siapa dia atau siapa Taemin. Apa yang mereka tunjukkan kepadaku.

Hidup Eommaku tiga tahun belakanganini di dunia terasa seperti neraka sementara mereka tinggal di rumah-rumah mewah, silih berganti dari satu acara sosial ke lainnya. Keyakinan mereka dalam kebohongan yang mereka katakan kepadaku adalah satu-satunya hal yang tidak dapat aku terima.

"Shit! Aku mungkin merusak ini untuk omong kosong. Aku hanya ingin berbicara denganmu dan meyakinkanmu kalau Kyuhyun... dia membutuhkanmu. Dan aku tidak yakin kalau dia akan menggantikanmu. Jika dia mencoba untuk berbicara besok, setidaknya dengarlah dia."

"Aku bahkan sudah memaafkannya, Changmin. Aku hanya tidak bisa melupakannya. Apa yang kami akan atau apa yang kami akan tuju sudah berakhir. Tidak akan pernah lagi. Aku tidak bisa membiarkannya. Hatiku tidak akan membiarkan aku untuk melakukannya. Tapi aku selalu mendengarkannya. Aku peduli padanya."

Changmin mendesah lelah. "Aku kira itu lebih baik daripada tidak sama sekali."

Hanya itu yang bisa aku tawarkan.

.

(Sungmin POV END)

.

.

TBC

.

.

Balasan Review

Zagiya Joy :

beneran nih? berarti Hasu berhasil hehe. Hasu akan terus mengusahakan alurnya original spesial buat Kyumin meskipun garis besar ceritanya dari novel aslinya. yah, perbandingannya 60% novel, 40% improvisasi Hasu gitu deh. oke, Keep reading ne ^.^

orange girls :

iya, Min hamil. belum tau juga sih Kyu senang/ga. yg jelas Min akan mempertahankan kehamilannya,

Za KyuMin :

ah jangan timpuk lg donk #pelukWookie(?)

iya ini emang hati. kan hati mereka kaya bbm (?), naik turun mulu hehe...

abilhikmah :

kyu usaha kok. tapi pelan2...

Taniea458 :

sayangnya ga ketemu :( , tapi mereka ketemu di rumahnya Kyuhyun :D

PumpkinEvil137

cobaan cinta kyumin ga akan lebih berat dari berat badan Shindong kok, hehe

Karen kouzuki :

sayangnya mereka gak ketemu karena Min ga jd ke Seoul. orang k3 diantara kyumin? Siwon maybe?

nik4nik :

udah next nih...

dwi-yomi :

Min balik lg nih... mereka udah ketemu kan?

maiolibel

salam kenal jg

gomawo triple wow nya hehe... chap nya ga trlalu byk kok, soalnya 1 chap sengaja di panjangin

ShinYangChoi :

kurang panjang? gantian ama skripsi soalnya say, ehhe

Michiko Haru :

mereka ketemuannya di rumah Kyu di jeju

oke, keep reading ne kembaran beda satu huruf wkwk

intan ps :

Min belom mau kembali, tapi terpaksa. toh dia udah menceritakan semuanya ke Eunhyuk,

jadi tinggal Kyu yg harus tau.

LeeVinct :

Tenang, mereka ga akan kepisah lama kok, Hasu jg ga tega.

iya, dilanjut biar gampang bacanya ga harus nyari2 lagi kan... mereka ketemu di jeju kan, Min balik lagi ke sana..

joyers :

sungmin akan balik lagi k jeju n udah ktmu kyu lagi... rintangan nya banyak bgt pasti, hoho...

PRISNA :

Tuntutan cerita aslinya emang hamil. biar ada gregetnya Min dibikin MPREG deh, hehe...

Lee Minry :

iya... konfliknya lebih panas, dan nanti ehm nc ehm nya jg hehe

xcute :

ini dah lanjut, keep reading ne ^.^

.

Okelah,

Keep Reading.. ^.^

Gomawo

.

.

RyeoTa Hasu