Taehyung berdiri kaku, di depan ayahnya yang masih terlihat sibuk menekuni berkas-berkas di atas mejanya. Tak terusik sama sekali dan mengabaikan kehadiran Taehyung sedemikian rupa.

Taehyung memang jarang sekali bertemu dengan ayahnya. Diusianya yang kelima tahun, Taehyung bahkan sudah dirawat dan tinggal bersama nenek beserta kakeknya. Itulah kenapa seperti ada sekat tebal dan tak kasat mata antara Taehyung dan ayahnya.

Mereka begitu dekat, tapi terasa sangat jauh, seperti orang asing.

Saat ibunya meninggal setelah melahirkan Taehyung, dari sanalah kehidupan keras Taehyung dimulai.

Taehyung tumbuh dengan didikan keras dari ayahnya dan limpahan kasih sayang dari sosok kakak, nenek, beserta kakeknya.

Taehyung menunduk, menarik nafas sebentar untuk sekedar mengenyahkan seluruh beban berat yang terasa menyesakkan di hati, dan mengumpulkan seluruh keberanian yang mati-matian ia bangun.

"Aa-ada yang ingin kubicarakan, ayah," suara Taehyung terdengar lemah, mengisi kelenggangan ruang yang terasa sangat menyesakkan untuknya.

"Katakan."

Suara itu terlampau dingin. Menusuk masuk ke gendang telinganya begitu lancar. Taehyung mengangkat wajahnya;teguh beserta seluruh keyakinan yang ia miliki, bahwa keputusan yang ia ambil adalah benar.

Dan dari sini, Taehyung tak bisa mundur.

"Aku ingin pertunanganku dengan Jungkook dibatalkan."

Taehyung melihat ayahnya berhenti menekuni berkasnya sesaat, lalu disusul dengan tatapan dinginnya yang menusuk. Untuk sejenak Taehyung merasa gentar.

"Apa kau sudah tidak waras?"

Taehyung memang di didik untuk selalu menuruti perintah ayahnya. Dan saat dirasa Taehyung berani melawan apa yang telah ia tentukan;akan terlihat wajar jika Taehyung harus menghadapi wajah murka ayahnya sekarang.

Taehyung menggigit bibir bawahnya kuat. Dua tangannya yang menggantung di samping tubuh terkepal erat. Memerah dengan buku-buku jari yang mulai memutih.

Taehyung menunduk. Lalu dengan segenap harga dirinya; ia merendahkan tubuhnya. Duduk dengan dua kaki terlipat ke belakang; bersimpuh, sementara dua telapak tangannya persis menyentuh dan terpaku di atas dinginnya lantai ubin.

"Kau tahu apa akibat dari permintaan bodohmu ini?"

Taehyung tetap teguh, tak gentar menjawab meski suara yang dilayangkan oleh ayahnya begitu dingin, "Aku mencari investor, dan menanamkan seluruh saham yang ayah berikan padaku di perusahan Jungkook, sebagai jaminan. Jadi mereka akan tetap baik-baik saja, meskipun ayah memutuskan kerjasama."

"Apa Namjoon yang sudah membantumu?" geraman marah dari ayahnya terasa begitu jelas Di telinga Taehyung saat itu.

Tapi sekali lagi, Taehyung tak bisa mundur.

"Selama ini, aku tak pernah minta apapun dari ayah. Dan sekarang, aku hanya meminta pertunanganku dibatalkan," Taehyung mendongak dengan wajah sendunya yang menyedihkan. Hanya sebentar, sebelum kembali memaku pandang ke bawah dengan tundukan kepala dalam, "Dan kakak tidak terlibat dengan ini."

"KIM TAEHYUNG!!"

"AYAH KUMOHON,"

Taehyung menunduk lebih dalam, mati-matian menekan getaran samar di tubuhnya untuk tak terlihat di depan ayahnya.

Karena Taehyung, tak pernah mau terlihat lemah dan lebih menyedihkan daripada ini.

"Untuk kali ini. Sekali saja, bisakah ayah menganggapku sebagai seorang anak dan mengabulkan satu-satunya permintaan dari anakmu yang kau benci?"

Taehyung menunduk dengan gigitan kuat di bibir bawahnya, "Aku tahu jika ayah membenciku selama ini. Tapi meski begitu aku tetaplah putramu," tarikan nafasnya kuat diantara kepalan tangannya yang masih menyentuh ubin. "Jadi kumohon, sekali saja, penuhi permintaanku ayah. Hanya ini."

.

.

.

Yoongi terduduk di salah satu bangku lobby perusaan Kim Group dengan wajah gusarnya. Dua kakinya yang terbalut sepatu kerja mengetuk rapat lantai ubin. Ia gelisah, sekaligus khawatir.

Yoongi memang memutuskan untuk mengikuti Taehyung, tepat setelah dirinya mendapati Taehyung yang keluar dari perusahaan Jungkook dengan wajah kosongnya yang sungguh mengkhawatirkan.

Pandangan kosong.

Langkah lemah.

Gurat wajah lelah dan pucatnya.

Benar-benar membuat Yoongi kelimpungan diliputi perasaan tak tenang.

Yoongi berdiri mendadak, saat dua mata tajamnya mendapati sosok Taehyung yang berjalan dengan tundukan kepalanya.

"Taehyung-ah," panggilnya. Terdengar samar, namun sanggup memaku langkah lemah Taehyung, lalu disusul dengan dongakan kepalanya.

"H-hyung,"

Tak membuang banyak waktu, Yoongi membawa tubuhnya mendekat ke arah Taehyung. Bergerak cepat dengan langkah lebarnya yang terburu, lalu tanpa aba-aba menarik Taehyung. Mendekapnya penuh perhatian.

Yoongi tak pernah bisa mendapati wajah sendu dari Taehyung. Lukanya yang tertahan, namun sangat jelas terpampang di wajahnya itu;Yoongi tak pernah bisa membiarkannya.

"Hyung aku melepaskannya."

Dengan dua lengan yang tetap menggantung lemah di samping tubuh, Taehyung mengutarakan sesuatu yang ia tahan sekuat tenaga.

"Aku tahu. Tidak apa-apa." Yoongi menepuk bahu Taehyung begitu pelan dan penuh perhatian.

Taehyung sekarang tau, bahwa dalam cinta bukan hanya sekedar tentang memiliki atau berkorban, tapi juga tentang bagaimana cara merelakan dan juga mengikhlaskan.

Untuk sekarang, Taehyung tak bisa menerima Jungkook meski hubungan keduanya telah berubah. Tidak setelah Taehyung membuat Jimin menderita.

Taehyung tak berhak bahagia atas luka menganga di hati orang lain, kan?

Terlebih pada sahabatnya sendiri.

...