Chap 11
Byakuya terus menahan napasnya dari bau aneh yang keluar dari tubuh Renji.
"Ada apa?? Kau merasa asing dengan bau ini???"tanya Renji. Byakuya diam tak membalas. Renji tersenyum padanya.
"Tentu saja… Inilah kami… Para Vampir, mempunyai aroma tersendiri yang digunakan sewaktu berhadapan dengan mangsa…."bisik Renji. Byakuya sudah tak kuat menahan lagi, akhirnya ia kembali bernapas. Akan tetapi aroma itu terhirup olehnya dan membuat sekujur tubuhnya mendadak kaku dan tak mampu bergerak. Seluruh ototnya mengeras dan ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
"Kau tahu, ini bukan hanya sekedar bau biasa…. Udara di sekitarku akan bercampur dan akhirnya terhirup oleh mangsa kemudian membuatnya tak bisa bergerak, bahkan satu jari sekalipun… Singkatnya, ini adalah racun."ucap Renji dengan penekanan di akhir kalimat. Renji meraih beberapa helai di Kanan leher Byakuya. Kemudian ia memindahkannya pelan sehingga tidak menutupi leher Byakuya, lalu ia menempelkan bibirnya yang dingin disana. Perlahan ia membuka mulutnya dan menusukkan taringnya. Byakuya memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit yang perlahan-lahan semakin menjadi-jadi. Dengan sisa tenaga yang ada, Byakuya berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya dan berusaha mendorong tubuh Renji menjauh darinya. Tapi Renji menahan kedua tangannya.
"Kau yang mengatakannya sendiri padaku kalau kau membutuhkan bantuanku, kalau sudah begitu kau harus menuruti apa mau ku…"bisik Renji.
Karena tak kuat setelah darahnya banyak terhisap perlahan pandangan Byakuya mulai kabur dan samar, terus begitu sampai semuanya gelap. Kemudian, Byakuya tak sadarkan diri…
Orihime, Chad, Uryuu beserta teman-teman mereka dari desa berkumpul didepan Istana. Kabar tentang kerajaan mereka yang sedang berperang telah tersebar luas dan sampai ke telinga mereka. Di sana sudah ada beberapa prajurit tambahan yang akan berangkat ke perkemahan bersama mereka.
"Jadi, kudengar Ginrei-sama dipanah oleh orang dari Kerajaan Selatan. Apa kau tahu siapa ia?"tanya Orihime pada salah seorang prajurit wanita berambut abu-abu, Isane Kotetsu.
"Aku tidak yakin, tapi kudengar ia seorang pemanah handal berambut putih. Dan kudengar juga ia adalah seseorang yang cukup dikenal di Kerajaan Timur ini."ujarnya.
Tiba-tiba saja Uryuu melebarkan matanya. Chad menyadari kalau Uryuu terkejut.
"Ada apa?"tanya Chad. Uryuu menengok kearahnya dan menggeleng.
"Ti..tidak, tidak ada apa-apa."balas Uryuu gugup. Chad diam menatapnya dibalik poni coklatnya.
"Kau tak perlu gugup, kau 'kan sudah terbiasa berperang."ujar Chad. Uryuu berpura-pura terkekeh pelan mendengarnya.
"Iya, kau benar…"dusta Uryuu. Chad ikut tertawa kecil bersamanya, setelah itu keduanya kembali terdiam.
'Bukannya aku gugup karena tidak terbiasa berperang, tapi aku merasa kalau pemanah yang disebut-sebut barusan itu adalah seseorang yang telah lama hilang… Dari desa ini….'batin Uryuu. Ekspresinya tidak jelas, sepertinya ia akan menghadapi seseorang yang ia kenal.
Tak lama kemudian, mereka semua berangkat bersama-sama menuju perkemahan……
Pasukan Gabungan Kerajaan Barat dan Utara sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Selatan. Tiba-tiba Rukia berlari dan berhenti didepan mereka semua.
"Ada apa Rukia?"tanya Kisuke heran sambil menaikkan satu alisnya.
"Aku baru ingat!!! Kalau kita berbelok ke arah kiri dari sini, kita bisa menemukan perkemahan kerajaan Timur dalam waktu 10 menit!!!!!"jelas Rukia. Kisuke menghela napasnya.
"Haaaah… Rukia, kau tidak bisa menunda waktu lagi. Kalau kau tetap memaksa kami untuk kesana, kelompok ini akan kubagi dua."ujar Urahara santai. Ekspresi Rukia berubah menjadi kecewa. Ia mengangkat wajahnya menatap lurus kearah langit, tiba-tiba matanya melebar dan ia mengangkat tangannya lalu menunjuk kearah langit di belakang Urahara. Urahara menengok ke belakang, ada seekor Elang datang dengan sebuah surat terikat di kaki kirinya. Urahara mengangkat lengan kirinya ke udara dan Elang itu hinggap diatasnya. Urahara melepaskan ikatan pada kaki Elang itu dan mengambil surat tersebut. Tanpa diperintah, Elang itu mendadak terbang meninggalkan mereka. Mereka yang berada cukup jauh dibelakang Urahara langsung beramai-ramai menghampirinya.
"Apa isi surat itu?"tanya Yumichika semangat. Urahara membaca kode-kode yang tertera dalam pesan secara teliti, kemudian menerjemahkannya didalam kepalanya. Ia terkejut saat menyadari apa yang sedang terjadi dengan Kerajaan Timur. Ia menggelengkan kepalanya.
"Ada apa, Kisuke?"tanya Tosen penasaran.
"Ini gawat…"ucapnya, tangannya bergetar saat memegang kertas tersebut. Sikapnya membuat yang lain semakin penasaran dan kebingungan.
"Ada apa sebenarnya dengan semua ini dan kau, Urahara????!!! Jangan buat kami bingung!!!!!"protes Kenpachi sambil meremas pedangnya.
"Begini, ada kabar buruk dari Kerajaan Timur. Ginrei-san terkena panah dan ia terluka berat, akan tetapi Unohana-san beserta pasukan medis berhasil menyembuhkannya…."
"Yah, bagus kalau ia selamat. Lalu apa kabar buruknya?????"tanya Yumichika sambil memainkan bilah pedangnya, tanpa sengaja ujungnya mengenai pipi Yachiru dan membuatnya terluka. Yachiru menatapnya tajam, Yumichika terdiam takut sambil menelan liur. Kemudian Yachiru mengusapkan jari-jari mungilnya diatas luka tersebut, dalam sekejap luka itu lenyap tanpa bekas.
"Kau pikir kau bisa melukaiku????"tanya Yachiru kesal, Yumichika tersenyum padanya dan mengangkat bahu.
"Jangan bercanda kalian berdua, diamlah!"pinta Yylfordt. Mereka berdua pun langsung membeku ditempat.
"Kabar buruknya adalah, mereka memprediksikan bahwa Kerajaan Selatan tidak akan menyerang armada perang milik Kerajaan Timur untuk yang kedua kalinya…."Urahara kembali melanjutkan sambil memasang wajah serius. Rukia tersentak mendengarnya, ia berlari kearah Urahara dan berhenti menghadapnya.
"Nii-sama!!!!!"serunya. Matanya berair seolah ingin menangis. Urahara menangguk.
"Ya, mereka akan langsung mencari Kuchiki Byakuya dan menangkapnya."ujar Urahara. Rukia menarik tangan Urahara dan berjalan maju dengan cepat, yang lain mengikuti dibelakang.
"Hei, mau kemana kita????!!!"tanya Urahara pada Rukia. Rukia menggigit bibirnya, ia tampak sangat cemas, keringat dingin bercucuran dari tubuhnya, bahkan Urahara bisa merasakan tangannya dingin dan basah.
"Kita akan langsung ke Kerajaan Selatan, aku khawatir mereka akan langsung melancarkan serangan pada Istana karena Armada Perang meminta Nii-sama untuk berlindung disana!!!!!!"ujar Rukia. Urahara mengangkat satu alisnya.
"Bagaimana kau bisa…"belum selesai Urahara berbicara, Nemu yang berada jauh dibelakang berjalan cepat hingga berada sejajar dengan Urahara.
"Ia bisa membaca pikiran, Kisuke-sama."bisik Nemu. Urahara langsung menoleh kearah Nemu dan memberikan tatapan tak percaya padanya, Nemu mengangguk dengan ekspresi datar.
"Aku bersungguh-sungguh."ucap Nemu. Tiba-tiba Grimmjaw berjalan menerobos mereka, ia berlari dan menghampiri Rukia. Melepaskan pegangan Rukia pada Urahara dan menaruh kedua tangannya pada pundak Rukia.
"Rukia!!!! Jangan bertindak gegabah!!!! Keinginannmu yang ingin menghampiri perkemahan tadi itu benar!!! Kita butuh pasukan dalam jumlah besar!!! Kerajaan Selatan punya pasukan dalam jumlah banyak sekali, kalau hanya kita saja mungkin bisa menjatuhkan beberapa dari mereka. Tapi itu tidak akan menjamin apakah kita akan selamat, masih ada banyak koneksi bantuan yang mereka miliki!!! Mereka dapat menghubungi penjahat-penjahat tingkat atas kapanpun!!!!!!"ucap Grimmjaw. Kata-katanya membuat Rukia terdiam dan menatapnya kosong. Ia tidak dapat membalas kata-kata Grimmjaw untuk waktu yang cukup lama. Yang lain hanya diam menyaksikan dari kejauhan. Kenpachi duduk sila diatas tanah sambil melipat tangannya.
"Aaargh!!! Kemana sebenarnya kita ini???!!! Sejak tadi tujuannya belum jelas, kapan ini semua akan berakhir???!!"protes Kenpachi kesal sambil menusuk-nusuk tanah dengan pedangnya berkali-kali. Yachiru melompat kearahnya dan tersenyum dihadapannya, Kenpachi memasang ekspresi datar melihatnya.
"Sabarlah Ken-chan, Grimmjaw sedang meminta Rukia-chan untuk pergi ke perkemahan Kerajaan Timur terlebih dahulu!!!! Semoga saja, ini akan menentukan kemana kita pergi…"ucap Yachiru penuh harap. Kenpachi membalasnya dengan gumaman. Tak lama kemudian, Urahara membalikkan badannya menghadap mereka semua dan melambaikan tangan.
"Ooooi, kita akan pergi ke perkemahan Kerajaan Timur sekarang!!!!!!"serunya. Kenpachi langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mereka yang telah berada cukup jauh dari mereka berdua, Yachiru yang ditinggalkan langsung berdiri dan melompat keatas pundak Kenpachi.
Matahari semakin hari semakin naik hingga akhirnya mencapai puncak, cahayanya semakin menyengat dan suhunya semakin panas. Yachiru mengangkat sebelah tangannya untuk melindungi dirinya. Kulitnya yang pucat pasi itu terasa terbakar terkena sinar matahari, ia agak menyipitkan mata merah darahnya sambil menahan sakit. Kenpachi yang menyadari hal ini langsung mengambil Yachiru dari pundaknya, merobek jubah hitamnya yang ia kenakan. Kemudian memberikannya pada Yachiru. Yachiru menerimanya dan membungkus tubuhnya dengan itu. Kemudian Kenpachi menaruhnya kembali di pundaknya.
"Terima kasih…"bisik Yachiru pelan sambil tersenyum dan bersender pada kepala Kenpachi.
"Tak apa, lagipula kau bisa mati karena hangus jika terkena sinar matahari."balas Kenpachi. Yachiru masih tersenyum pada Kenpachi.
"Jadi, Ken-chan sudah tahu kalau aku ini bukan manusia????"tanya Yachiru santai, Kenpachi mengangguk. Yachiru tertawa kecil begitu juga Kenpachi.
"Tentu saja, siapa lagi yang suka menyerang para penjaga Istana hingga nyaris mati kehabisan darah selain kau."jawab Kenpachi. Tawa Yachiru makin keras, tapi hanya bagi mereka berdua. Kemudian Kenpachi melirik Yachiru dengan sebelah matanya yang kecil.
"Aku tahu kalau kau ini bukan manusia tapi sebenarnya, kau ini apa?"tanya Kenpachi. Yachiru menyeringai lebar, menampakkan gigi-gigi mungilnya, terdapat beberapa gigi taring yang amat tajam, lidahnya berwarna coklat pucat, menandakan sekali kalau ia bukan manusia. Setelah melihatnya, Kenpachi mengangguk, sepertinya ia mengerti sesuatu.
"Jadi, kau seorang Vampir?"tanya Kenpachi. Yachiru mengangguk semangat.
"Ya, kau benar!!! Tapi, tenang saja. Kami sudah kebal terhadap manusia, jadi kami tidak akan menyakiti kalian. Walau aku menyerang para penjaga karena melihat mereka berdarah…"balas Yachiru semangat.
"'Kami'???? Berarti kau tidak sendiri???? Dimana kalian tinggal???"tanya Kenpachi. Yachiru mengangguk.
"Tentu saja, kalau kami terpisah mungkin aku sudah membantai kalian semua sendiri sekarang ini. Kami tinggal didalam hutan menuju gunung Naga di tempat pertama kali kau memungutku!!!"jelas Yachiru. Kenpachi memutar rekaman ingatannya sambil terus berjalan ke depan, ia mengingat bagaimana ia bisa menemukan dan memungut Yachiru.
=Flashback=
Kenpachi sedang berjalan-jalan didalam hutan menuju gunung Naga. Kepingan salju menari-nari di udara dan mendarat dengan lembut kemudian meleleh diatas Kenpachi yang berdarah amat panas. Ia sengaja berada di hutan hari ini karena merasa bosan dengan Istananya, ia berniat mendaki gunung Naga ini untuk bersenang-senang yaitu bertarung dengan Naga yang ada di puncak sana.
Sesampainya disana, ia melihat sesosok naga besar bersayap seperti kelelawar. Kakinya mencengkeram sesuatu, yang ternyata adalah seorang anak kecil berambut Pink, Yachiru. Naga tersebut hendak menjadikan Yachiru sebagai santapannya. Tak tega melihat seseorang menjadi korban, Kenpachi langsung berlari menghampiri naga tersebut. Langkahnya yang berat beserta tubuhnya yang besar membuat sang naga dengan mudah menyadari kehadirannya. Naga itu menggesekkan kakinya berkali-kali diatas batu yang menjadi lantai tempat tersebut, tak jauh dibelakangnya ada sebuah kolam yang berisi lahar gunung berapi. Kenpachi berniat membuat naga tersebut terjatuh dan masuk ke dalam sana.
Ia mengeluarkan tamengnya yang besar dari balik jubah hitamnya, lalu melapisi bagian depan tameng tersebut dengan minyak yang ia bawa. Ia berjalan menghampiri sang Naga, begitu juga dengan sang Naga. Mereka saling menghampiri satu sama lain. Tanpa disadari sang Naga berjalan dengan menyeret kakinya dan ia belum melepaskan Yachiru dari cengkeramannya. Terdengar rintihan Yachiru, Kenpachi benar-benar panas melihatnya. Tanpa basa-basi ia langsung berlari dan melompat tinggi hingga bisa menyamai tinggi naga tersebut, kemudian ia mengeluarkan pedangnya dengan cepat. Sang Naga menyemburkan apinya, Kenpachi melindungi dirinya dengan tameng yang ia keluarkan, akibat ia melapisinya dengan minyak, tameng itu terbakar. Namun itu bukanlah sebuah masalah bagi Kenpachi, ia sudah terbiasa dengan ini. Ia membakar bilah pedangnya, kemudian menusukkan pedangnya yang panjang itu dengan cepat dan menembus sang Naga. Sang Naga meraung keras, raungannya membuat batu-batu di dinding tempat yang menyerupai goa itu berjatuhan. Kenpachi dengan cepat mengambil Yachiru dari kaki sang Naga yang sedang lengah dan berlari menuju pintu keluar.
Mereka berdua selamat, hanya saja Yachiru terluka cukup parah. Sepertinya sang Naga sudah menyiksanya habis-habisan jauh lebih lama sebelum Kenpachi datang dan menemukannya.
"Kau baik-baik saja?"tanya Kenpachi. Yachiru mengangguk pelan sambil tersenyum lembut padanya.
"Aku baik-baik saja kok…."balas Yachiru. Kenpachi mengeluarkan tas yang cukup besar dari balik jubahnya, kemudian mengambil beberapa peralatan medis dan hendak mengobati Yachiru.
"Tidak, tak usah!!! Luka ini akan sembuh dengan cepat!!!!"ujarnya setengah berteriak. Kenpachi menatapnya heran, baru kali ini ia melihat ada seseorang yang tak mau jika lukanya diobati.
"Yang benar saja, kau ini masih kecil…."ujar Kenpachi. Yachiru menggeleng, ia mengerutkan alisnya dan mengerucutkan bibirnya.
"Asal kau tahu saja!!!!! Aku ini sudah hidup hampir 500 tahun!!!!"seru Yachiru karena merasa dirinya diremehkan.
=End Of Flashback=
Kenpachi telah selesai mengenang semua masa lalunya tentang pertemuannya dengan Yachiru untuk yang pertama kali. Ia melirik Yachiru yang masih bersender pada kepalanya.
"Kalian sudah 'kebal' terhadap manusia???? Lalu bagaimana dengan Vampir yang ada di Kerajaan Timur????"tanya Kenpachi penasaran. Mendadak senyuman di bibir Yachiru menghilang.
"Oh, dia…… Sudah lama aku tidak bertemu dengannya…."ucap Yachiru sinis sambil mengerutkan alisnya. Kenpachi menatapnya penasaran.
"Memangnya ada apa antara kau dengannya????"tanya Kenpachi.
Byakuya membuka matanya perlahan setelah cukup lama tak sadarkan diri akibat sang Vampir. Ia meraba lehernya, tangannya terhenti saat merasakan sesuatu yang basah, ternyata itu darah. Renji tetap membiarkan korbannya terluka walaupun ia telah selesai 'minum'. Byakuya memutar bola matanya, mencoba mengenali dimana ia berada, ia masih ada didalam ruangan rahasia. Spontan ia kaget karena ia tidak mendapati Renji disana, ia segera bangun dari tidurnya sambil menahan rasa sakit. Ia berjalan keluar ruangan, tiba-tiba ada seorang pelayan istana berlari menghampirinya dengan terengah-engah, wajahnya tampak ketakutan.
"Ada apa, Rikicchi???"tanya Byakuya. Rikicchi berhenti didepannya, kemudian menarik napas panjang.
"Byakuya-sama, ada sesuatu yang gawat dengan Hisana-sama!!!!!!"ucapnya. Mata Byakuya melebar.
"Ada apa memangnya?"tanya Byakuya sambil mengerutkan alisnya.
"Ada orang aneh dikamar Hisana-sama!!!! Rambutnya panjang berwarna merah, matanya begitu menakutkan!!!!! Dan ia memilik taring-taring yang cukup panjang!!!!!!!"jelas Rikicchi ketakutan.
'Renji, apa yang dia inginkan….?????'batin Byakuya heran. Ia melihat kearah Rikicchi yang masih cukup trauma.
"Kenapa kau seperti itu, kau baik-baik saja????"tanya Byakuya. Rikicchi menggeleng.
"Ti…tidak, orang itu terlihat berbahaya!!! Melihatnya saja saya sudah tahu itu!!!! Sepertinya ia bukan manusia!!!!"jawab Rikicchi.
'Benar ternyata…….'batin Byakuya. Ia langsung berjalan meninggalkan Rikicchi.
"Mau kemana anda, Byakuya-sama?????!!!"tanya Rikicchi dari kejauhan.
"Aku mau menemui Hisana…"balas Byakuya sambil terus berjalan menjauh dari Rikicchi.
Byakuya menuruni tangga Menara Tengah, sesampainya diruang tengah ia langsung berbelok kearah Utara dan berlari menuju kamarnya. Gerakannya terhenti saat ia hendak membuka pintu, membayangkan apa yang akan ia lakukan jika ia telah masuk. Ia memeriksa apakah pedangnya masih ia pegang atau tidak, ternyata pedang itu masih menempel dipinggangnya. Kemudian ia memegang gagang pintu dan membukanya perlahan, ia tidak melihat siapa-siapa terkecuali Hisana yang sedang terbaring tenang diatas tempat tidurnya. Byakuya langsung menghampirinya, dan….
BLAM
Seseorang menutup pintu tersebut pelan, Byakuya membalikkan tubuhnya. ternyata Renji bersembunyi dibalik pintu kamarnya.
"Kau……"ucap Byakuya sinis. Renji yang bersender di pintu kayu itu membalasnya dengan tersenyum sinis pada Byakuya.
"Ada apa??? Kupikir kau tidak akan kemari…"kata Renji sambil mengangkat bahu.
"Apa yang telah kau lakukan pada Hisana????!!!"tanya Byakuya sambil menggeram pelan.
"Wow… Jangan marah dulu, aku hendak menggigitnya tapi aku batalkan saat aku merasakan hawa kehadiranmu."jawab Renji dengan nada tak peduli. Byakuya berjalan menghampirinya kemudian menarik baju Renji.
"Kau sudah berjanji padaku untuk tidak melukai siapapun termasuk dia jika aku memberikan darahku padamu!!!"ucap Byakuya emosi. Renji tertawa mendengar Byakuya.
"Ya, aku tahu itu…. Tapi aku tidak bisa tahan dengan aroma darah manusia yang lembut sepertinya, seperti cocaine yang membuatku terus ketagihan untuk mencium baunya, merasakan alirannya dibalik kulit itu dan merasakan nikmatnya."ucap Renji dengan nada sinis.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan???!!!!"tanya Byakuya sambil terus menahan emosinya. Renji menghela napasnya, tampak asap ungu tipis keluar dari mulutnya.
"Aku ingin bertemu lagi dengan teman lamaku, Aizen."jawabnya singkat. Mata Byakuya melebar tak percaya.
"Kau…!!!!!!"
"Dan aku ingin menyatukan kembali para Vampir yang tinggal di daerah Utara negeri ini yang sudah terpisah selama beratus-ratus tahun."sambung Renji.
"Kau tidak sendiri????!!!! Ada vampire-vampire yang lain???!!"tanya Byakuya tak percaya. Renji menyeringai lebar.
"Ya, beberapa dari mereka ada yang tinggal di Kerajaan-kerajaan di negeri ini. Seperti Kusajishi Yachiru salah satunya."ujar Renji.
"Yachiru??? Dia berasal dari Kerajaan Utara, dia masih kecil!!! Kau jangan berbohong!!!"seru Byakuya pada Renji. Renji memutar bola matanya.
"Terserah kau mau percaya padaku atau tidak, tapi ia memang seorang vampire, dan ia adalah salah satu vampire yang kuat dan tangguh. Wujud aslinya jauh lebih besar daripada yang kau lihat, ia terkurung dalam tubuh seorang anak kecil yang meninggal akibat diserang oleh kawanan serigala di hutan menuju gunung Naga."jelas Renji. Byakuya diam tak berkutik, namun ia tetap mendengarkan penjelasan Renji.
"Di Kerajaan Utara, sebenarnya ada 5 orang vampire yang menyamar menjadi manusia. Tapi yang kedoknya baru terbongkar hanyalah Yachiru, yang lain adalah Tesla, Nova, Neliel Tu, dan Toushiro Hitsugaya. Awalnya mereka tinggal di Kerajaan Utara dan mulai menyebar ke seluruh pelosok negeri. Mereka sudah kebal terhadap manusia, akibat terlalu lama menyamar bahkan mereka hampir lupa kalau mereka adalah vampire. Sungguh lemah…."hina Renji di akhir kalimat.
"Apa kau bilang???!!! Mereka masih jauh lebih baik daripada kau yang licik dan kejam ini!!!!!"balas Byakuya. Renji menngernyitkan alisnya dan mengerucutkan bibirnya. Kemudian ia melepaskan pegangan Byakuya padanya dan melemparnya ke pojok ruangan. Lalu Renji melesat cepat menuju Hisana yang masih belum sadarkan diri, ia merah tangan Hisana, kemudian mengusap pipinya dengan lembut.
"Wanita seperti ini yang seharusnya menjadi medium-ku…. Entah kenapa, si pendeta brengsek Ichimaru itu yang menyegelku didalam tubuhmu…."bisik Renji. Byakuya terkejut bukan main.
"Ja….jadi kau… disegel kedalam tubuhku???!!!!"tanya Byakuya tak percaya. Renji menatapnya sinis.
"Tentu saja, aku sudah ada didalam tubuhmu jauh sejak kau masih kecil. Aku sengaja membuatmu baru menyadari keberadaanku saat kau bertemu dengan pemuda kerajaan Selatan itu karena aku bosan, sangat bosan… Aku ingin melihat darah mengalir deras, jadi aku sengaja mengendalikan tubuhmu."ucap Renji panjang lebar. Ia mencibir pelan.
"Lalu, sebenarnya aku juga ingin menguasai seluruh tubuhmu untuk menyerang istrimu ini. Tapi niat itu kubatalkan karena aku ingin menyentuhnya dengan tanganku sendiri."ujar Renji. Ia mendekatkan bibirnya ke leher Hisana.
"Hentikaaaaaaaan!!!!!!!!!!!!!!!!"seru Byakuya.
"Jadi, ia dibuang dari kelompok hanya karena ambisi???"tanya Kenpachi pada Yachiru. Yachiru mencibir kesal.
"Hah??? 'Hanya'??? Kau bilang itu 'hanya karena'???? Apa kau tahu???!! Ia nyaris saja membunuh seorang manusia yang kami tolong!!!!!!"balas Yachiru. Kenpachi merasa penasaran dengan seseorang yang berhasil bertahan hidup dikelilingi vampir.
"Manusia??? Siapa itu??"tanya Kenpachi. Yachiru menopang dagunya diatas telapak tangan.
"Ia sekarang sudah menjadi prajurit Armada Perang Kerajaan Timur, ia adalah Hisagi Shuuhei."balas Yachiru.
"Bagaimana ia bisa bersama kalian???? Apa ia mengenal vampir di Kerajaan Timur?????"tanya Kenpachi. Yachiru menggeleng.
"Tidak, ia tidak tahu kalau kami vampir. Ia bahkan tidak tahu kalau yang diincar oleh Aizen adalah vampir yang ada di Kerajaan Timur!!!!"balas Yachiru. Kenpachi melirik kearahnya, Yachiru mengerucutkan bibirnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak mau memberitahu nama vampir itu????"tanya Kenpachi. Yachiru menghela napas.
"Tidak semudah itu, sekali kita menyebut namanya, ia akan menyadari kita membicarakannya. Kalau hanya sekedar asal-usulnya, itu tak akan berpengaruh banyak."jawab Yachiru. Saat keduanya mengakhiri pembicaraan, mereka sudah sampai di perkemahan Kerajaan Timur. Beberapa prajurit sudah berbaris dan menyambut mereka. Urahara mengangkat kedua tangannya.
"Tak usah terlalu formal, bersikap seperti biasa saja."ucap Urahara, mereka semua mengangguk kemudian melanjutkan kembali aktivitas mereka. Rukia berlari ke seluruh perkemahan, mencari seseorang. Ia melirik kesana-kemari. Tiba-tiba ada seseorang menghampirinya dari belakang, ia memegang kedua pundak Rukia.
"Kau mencariku????"tanya orang itu. Rukia melirik kearahnya, ia tersenyum lebar dan memeluknya.
"Ichigo!!!!!"seru Rukia senang. Ichigo membelai Rukia dengan tangannya yang besar.
"Sudah cukup lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu???"tanya Ichigo. Rukia mengangkat wajahnya, kemudian tersenyum padanya.
"Maafkan aku, kau pasti sangat khawatir. Aku baik-baik saja…. Grimmjaw yang menyelamatkanku, kemudian aku dibawa oleh Yoruichi-san ke Kerajaan Barat dan menetap disana untuk beberapa lama. Setelah Kerajaan Barat dan Selatan bergabung, mereka bersama-sama kemari untuk membantu kerajaan kita."jelas Rukia panjang lebar. Ichigo tersenyum hangat setelah mendengar kata-kata Rukia, membuatnya merona.
"Tak apa, yang penting kau selamat…. Aku sungguh ingin mengucapkan terima kasih pada Grimmjaw karena telah menjagamu…"ujar Ichigo jujur. Kejujuran itu makin diperkuat dari sorot matanya yang lembut.
"Ichigo….."Saat Rukia hendak mengatakan sesuatu…
"RUKIA!!!!! KUROSAKI-KUUUN!!!!"seru Orihime yang memeluk Rukia dari belakang. Rukia terkejut bukan main, jantungnya berdetak amat kencang dan nafasnya tak beraturan. Rukia membalikkan badannya menghadap Orihime, tangannya masih diletakkan diatas dadanya sambil mengatur napas.
"I.. Inoue…. Kau membuatku kaget saja…. Ba…bagaimana kau bisa kesini????"tanya Rukia.
"Kerajaan meminta pasukan tambahan, karenanya beberapa warga desa beserta prajurit yang tersisa digabungkan kemudian dikirim kemari."jawab seseorang dibelakang Ichigo. Otomatis Ichigo terkejut, dengan terburu-buru ia membalikkan badannya. Ternyata sudah ada Uryuu dan Chad dibelakangnya.
"I..shida!!!! Kau membuat jantungku nyaris copot saja!!!!"protes Ichigo. Uryuu membalasnya dengan tersenyum setengah.
"Fuh… Dasar…"ucapnya santai. Ichigo menaikkan satu alisnya, kemudian tersenyum setengah pada Uryuu. Tiba-tiba Hinamori menghampiri mereka.
"Maaf semuanya, tapi sebentar lagi kita akan berangkat. Jadi bersiap-siaplah…."ujarnya sambil membungkukkan badannya. Setelah itu ia bangun dan berlari meninggalkan mereka.
"Waktu begitu cepat yah… Rasanya baru sebentar kita bertemu, tapi harus berpisah lagi…."kata Chad pelan. Yang lain tertawa pelan mendengarnya.
"Ya, kau benar…. Kalau begitu kita harus cepat-cepat menyelesaikannya!!!!"balas Orihime. Setelah itu mereka semua berpisah, Ichigo beserta teman-temannya dari desa ikut bergabung dalam kelompok penyerangan. Sedangkan Rukia diminta untuk kembali ke Istana ditemani oleh Yachiru, yang sebenarnya memaksa para petinggi Kerajaan Timur agar bisa bertemu kembali dengan Renji. Setelah itu, mereka semua berangkat menuju Istana Kerajaan Selatan.
Di Kerajaan Selatan, Aizen sedang berbicara dengan pemanah berambut putih yang tak dikenal itu…
"Sudah bertahun-tahun kau meninggalkan daerah Timur, dan kau berani memanah raja mu sendiri.. Dasar kau ini.."ucap Aizen sambil menggelengkan kepalanya pelan. Pemanah itu tersenyum setengah dan memberikan tatapan tidak peduli.
"Aku memanahnya bukan karena benci, tapi karena kurasa kau butuh bantuan, Aizen…"ujarnya. Aizen tersenyum sambil meliriknya.
"Terima kasih atas bantuanmu, tepat sekali waktunya. Apa Cuma kebetulan atau kau memang mendengar kami berperang???"tanya Aizen. Pemanah itu mencibir pelan.
"Pertanyaan-pertanyaan yang kau lontarkan membuatmu terdengar seperti tak ingin kutolong. Aku benar-benar tidak tahu apapun soal perang ini, aku hanya kebetulan sedang melewati Istanamu dan mendengar suara pedang beradu. Jadi aku segera datang kemari, tapi saat aku memanjat ke jendela karena semua gerbang dijaga oleh Kerajaan Timur, aku melihatmu sedang bertarung dengan Ginrei, aku tahu saat itu kau benar-benar terdesak, jadi aku langsung memanahnya tanpa ragu-ragu."jelas orang itu sambil melipat kedua tangannya. Aizen memanggil semua anak buahnya, dalam hitungan detik mereka semua sudah ada didalam ruangan itu.
"Ada apa, ayah???"tanya Apache ketus saat melihat pemanah itu sedang ada bersama Aizen. Aizen memalingkan wajahnya kearah Apache, mulutnya bergerak-gerak pelan membentuk sebuah pesan. Apache terdiam dan melipat tangannya.
"Jadi, mau kemana kita setelah ini????"tanya pemanah itu santai.
"Mau kemana kita setelah ini??? Kau pikir kita bisa bepergian dengan pekhianatanmu itu???"tanya Aizen sambil mengerutkan alisnya, sorot matanya tajam. Pemanah itu mengangkat kedua alisnya.
"Apa maksudmu?"tanyanya.
ZRAK
"Apa maksudmu??? Kalau begitu apa maksudnya ini???"tanya Ulquiorra, sebelah tangannya mengunci kedua tangan sang pemanah. Sebelahnya lagi merebut anak panah yang disembunyikannya dengan kasar.
"Kau pikir, kau bisa membodohi kami???"tanya Aizen ketus. Pemanah itu terdiam. Ulquiorra mengeluarkan pedangnya dan mengarahnya dileher sang pemanah.
"Tentu saja tidak, apa kau bodoh??? Ada banyak pasang mata yang mengawasimu disini!!!!!"ujar Ulquiorra ketus. Pemanah itu terdiam takut sambil menelan liurnya.
"Pengkhiatanmu, berakhir hanya sampai disini."ucap Aizen pelan, ia mengangkat tangannya kemudian menurunkannya, pertanda ia menyuruh anak buahnya turun untuk membunuh pemanah itu.
"Kau salah, Aizen… Kaulah yang akan berakhir…."ucap seseorang dari arah yang berlawanan, Aizen terkejut dan membalikkan badannya, seluruh anak buahnya sudah ditahan oleh masing-masing anggota pasukan gabungan 3 kerajaan itu.
Ulquiorra berniat untuk membunuh pemanah itu, tapi…
"Kau tidak bisa semudah itu, membunuh ayahku…."ucap Uryuu. Ulquiorra memalingkan wajahnya.
"Kalau kau berani menggerakan tubuhmu bahkan satu jaripun, panah beracun ini akan menembus jantungmu."ancam Uryuu. Ulquiorra terdiam, kemudian ia terkekeh.
"Hahahaha…. Dasar kau ini, benar-benar bodoh!!!!!"hina Ulquiorra. Dengan liar ia menusukkan panah yang ia rebut kedalam tubuh pemanah tersebut.
"Ayah!!!!!!!"seru Uryuu. Setelah puas, ia menghadang Uryuu yang hendak menghampiri sang pemanah.
"Minggir kau!!!!!"usir Uryuu. Ulquiorra menatapnya sinis, kemudian menyeringai lebar.
"Kenapa???? Kenapa kau tidak menghiraukanku saja dan langsung berlari menyelamatkan sampah yang kau sebut 'ayah'???? Apa kau takut padaku????"tanya Ulquiorra meremehkan. Uryuu naik darah, ia langsung menjatuhkan panah dan busurnya. Ia langsung menarik pedangnya yang menggantung dipunggungnya.
"Kenapa kau tidak menggunakan panah dan busur???? Apa kau bosan??? Atau kau bertambah lemah???"tanya Ulquiorra sambil memancing amarah Uryuu. Tanpa segan-segan Uryuu menebas pundak Ulquiorra, darah hijau mengalir deras dan membasahi pakaian Ulquiorra. Ia pun berhenti tertawa, ekspresinya serius.
"Jadi kau bersungguh-sungguh????"tanya Ulquiorra. Uryuu diam tak membalas sambil terus mengayunkan pedangnya, saat pedang itu hampir memotong lehernya, Ulquiorra menahannya dengan jarinya.
"Siapa yang mengatakan kalau aku main-main??? Aku tidak bisa tinggal diam kalau kau sampai menyakiti ayahku!!!!!!"ucapan Uryuu semakin keras seiring dengan emosinya yang makin membara.
Grimmjaw yang tidak melakukan apa-apa, dengan segera mencari Aizen ditengah keramaian. Ia berlari menelusuri ruangan, ia tidak menemukan siapa-siapa disana. Dengan cepat matanya melihat dan mencari-cari, ia menemukan Aizen sedang berlari menujuk puncak Istana, Grimmjaw langsung cepat-cepat berlari menyusulnya.
"Tak kusangka, aku akan berperang melawan adik kandungku sendiri…."ujar Yylfordt sambil tersenyum meremehkan dan menahan serangan pedang Szayel. Szayel balas tersenyum padanya.
"Kenapa??? Kau takut kalah??? Itu hal yang normal terjadi."Szayel mengayunkan pedangnya dan kedua bilah pedang itu bertemu dengan kasar dan saling membentur dengan keras, sehingga menimbulkan bunyi benturan yang tinggi dan melengking.
"Takut??? Untuk apa aku takut dengan anak yang suka mengekor di kakiku jika ada serigala yang menghampirinya sewaktu berburu???"tanya Yylfordt sambil menahan tawanya. Merasa dirinya dihina, Szayel menggerakkan pedangnya tanpa ragu hingga nyaris memotong tangan Yylfordt.
Ditengah perjalanan menuju Istana Kerajaan Timur, seorang pemuda bermasker menghalangi Rukia dan Yachiru yang sedang terburu-buru.
"Siapa kau???!!!!"tanya Rukia setengah marah sambil mengepalkan tangannya. Ia hendak maju untuk memukulnya, namun ditahan Yachiru. Ia menatap pemuda itu tajam, pemuda itu tersenyum dibalik maskernya.
"Kau masih mengenalku rupanya…"ujar pemuda itu. Yachiru menyunggingkan senyum lembut dan berlari kearahnya lalu memeluknya seperti anak kecil.
"Nova!!!!! Lama tak berjumpa!!!!"seru Yachiru, suaranya menggelegar dan mengguncangkan tanah hingga membuat Rukia ketakutan.
"Ano..Yachiru-chan… Kita harus segera ke Istana, kau tahu 'kan kalau Nii-sama sedang dalam bahaya."ucap Rukia sambil berjalan menghampirinya. Yachiru membalikkan badannya dan menghadap kearah Rukia. Ia menarik tangan Rukia dan mendekatkannya pada Nova.
"Nova, ini dia putri Kerajaan Timur itu."ujar Yachiru pada Nova.
"Perkenalkan, aku Nova. Kau ini Kuchiki Rukia 'kan?"ujar Nova sambil menjulurkan tangannya pada Rukia. Rukia terdiam dan menatapnya kosong.
"Ada apa?"tanya Nova. Rukia menaikkan satu alisnya.
"Rasanya kau ini tinggal di desa, benar 'kan???"tanya Rukia balik padanya. Nova tersentak, kemudian mengangguk sambil tersenyum padanya.
"Iya, aku yang ada di toko Muffin milik Kurosaki Ichigo. Kau masih ingat padaku ternyata…"ujar Nova sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau di toko, kau tidak memakai masker. Kenapa kau malah membuatku mencurigaimu sekarang???"tanya Rukia. Pertanyaannya itu benar-benar membuat Nova bingung.
"Ehm, begini… Sebenarnya, aku ini adalah seorang mata-mata dari Kerajaan Utara yang menetap di pedesaan daerah Timur. Aku telah mendengar semuanya, dan aku kemari untuk menemani kalian kembali ke Istana."ujar Nova. Ia menjulurkan tangannya seolah-olah mengajak Rukia dan Yachiru untuk pergi bersamanya. Rukia menerimanya, tiba-tiba Nova menariknya dan menggendong Rukia di punggungnya, dengan cepat ia melompat diantara pohon-pohon besar didalam hutan lebat, Yachiru ikut disebelahnya.
Rukia memperhatikan Nova diam-diam, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari yang biasa ia temui di toko. Kulitnya jauh lebih pucat dibandingkan biasanya, warna matanya semakin terang. Tubuhnya amat dingin, Rukia seperti merasakan es kering menyentuh kulitnya, begitu dingin dan menyakitkan.
"Ukh…"Byakuya menahan Renji yang hendak menyerang Hisana dengan tangannya. Ia mengunci leher Renji sekuat tenaga, namun apadaya, bagai memeluk marmer yang begitu berat. Namun usahanya tidak sia-sia, ia berhasil menjauhkan Renji dari Hisana. Renji meliriknya kesal. Tanpa ia sadari, Hisana telah membuka matanya perlahan. Ia terkejut melihat Byakuya dan Renji saling menatap tajam.
"Bya..Byakuya-sama…!!!"panggil Hisana terkejut, Byakuya melirik kearahnya, begitu juga Renji.
"Lari, Hisana!!!!!!!"seru Byakuya. Ia tersentak, kemudian bangkit dari tidurnya dan langsung berlari kearah pintu. Renji dengan segera mencegahnya dan memeluk Hisana erat.
"Mau kemana kau????"tanya Renji santai, tatapannya tajam dan menusuk. Hisana tak dapat bergerak, ia begitu takut, ia mengalihkan pandangannya dari Renji dan menatap Byakuya penuh ketakutan. Byakuya menghampiri Renji, Renji mengangkat satu tangannya, bermaksud menahan Byakuya, namun Byakuya dengan cepat menyambarnya dan menahannya.
"Lepaskan dia!!!!"pinta Byakuya kasar. Renji menatapnya tajam dan mengerucutkan bibirnya.
"Tidak akan, kecuali kau bisa membuatku melepaskannya."balas Renji.
Rukia, Nova, dan Yachiru telah sampai didepan Istana. Dengan segera mereka langsung berlari kedalam Istana, didalamnya tak banyak yang menjaga. Istana hampir kosong dan tak terlindungi. Hanya ada beberapa orang didalamnya.
"Ano, Keigo-san. Dimana Nii-sama??!!!"tanya Rukia pada seorang penjaga Istana berambut coklat. Pemuda itu mendongak kearah Rukia.
"Ia ada diatas, di kamarnya tepatnya."jawab Keigo pelan. Rukia tidak membalasnya, dan ia langsung berlari ketengah Istana, dan menaiki tangga menuju kamar Byakuya.
Sesampainya diatas, ia tidak melihat ada siapa-siapa disana selain Rikicchi yang sedang berjalan penuh rasa ketakutan. Ia terus mencengkeram lengan bajunya, mulutnya terbuka dan keringat bercucuran dari dahinya. Rukia bersama yang lain menghampiri Rikicchi.
"Rikicchi!!!"seru Rukia. Rikicchi mengangkat wajahnya, wajahnya berbinar saat melihat Rukia menghampirinya.
"Rukia-san!!!!"balas Rikicchi.
"Kau tidak apa-apa???"tanya Rukia cemas. Rikicchi menggeleng.
"Byakuya-sama, ia sedang bertarung dengan makhluk berwujud berambut merah didalam kamarnya!!!!!!!"ujar Rikicchi. Nova dan Yachiru tersentak mendengarnya.
"Berambut merah……"ucap Yachiru, ia mengernyitkan alisnya. Nova mengangguk.
"Ya, itu dia…"ujar Nova. Ia langsung berlari dan berhenti didepan Rikicchi.
"Dimana letak kamar Byakuya Kuchiki????"tanyanya sambil memegang kedua pundak Rikicchi.
"A…ada diujung sana…"ujar Rikicchi sambil menunjuk kebelakang menggunakan jempolnya. Nova langsung melepaskan Rikicchi tanpa bicara apa-apa dan berlari meninggalkannya.
"Nova!!! Tunggu aku!!!"seru Yachiru sambil berlari mengejarnya. Rukia ikut mengejarnya dan meninggalkan Rikicchi.
"Kalian, tunggu aku!!!!!"
"Kau harus tahu satu hal, yaitu bahwa aku tidaklah bekerja sama dengan Aizen. Ia sebenarnya adalah seorang raja yang kemampuannya menarik perhatianku untuk memanfaatkannya."ucap Renji. Byakuya terdiam membeku.
"Jadi, ia sama sekali tidak bersalah. Dan kau memanfaatkannya!!!???? Dengan cara kotor apa kau membuatnya seperti ini???!!!!"tanya Byakuya setengah marah.
----
Aizen menghentikan pelariannya dipuncak Istana Kerajaan Selatan. Grimmjaw yang sedari tadi mengejarnya pun ikut berhenti. Aizen menyadari kehadirannya.
"Itu kau 'kan, Grimmjaw??? Tak usah bersembunyi, keluarlah…"kata Aizen. Grimmjaw pun keluar dari persembunyiannya, Aizen langsung membalikkan badannya. Ia menatap Grimmjaw marah.
"Kemarilah…"panggil Aizen.
----
"Ia adalah seorang Raja yang memiliki Prajurit perang dengan kekuatan mengagumkan, aku benar-benar menyukai hal tersebut. Jadi, aku memasukkan sebuah noir hitam kedalam tubuhnya 9 tahun yang lalu."lanjut Renji ambil menyeringai setengah.
----
Grimmjaw menarik pedangnya, ia bersiaga jika tiba-tiba Aizen menyerangnya. Aizen membalikkan badannya, jadi wajahnya terlihat dengan jelas. Grimmjaw terkejut saat ia melihat sesuatu seperti cahaya hitam mengelilingi Aizen.
'Si…siapa dia??!!! Ia bukan ayah yang kukenal selama ini!!!'batin Grimmjaw. Saat ia melihat wajah Aizen, ia menemukan sesuatu didalam sorot matanya, sesuatu yang ternyata adalah kesedihan yang mendalam. Ia tahu kalau hati ayahnya sudah semakin gelap saat ini. Ia tetap memberanikan diri untuk mendekati Aizen.
"Ayah…."panggil Grimmjaw pelan.
"Siapa ayahmu???!!!! Aku tidak akan mengakui orang lemah sepertimu sebagai anakku!!!"balas Aizen ketus. Grimmjaw tidak menghiraukannya, ia terus berjalan dan saat beberapa senti lagi…. Aizen tiba-tiba maju sambil mengeluarkan pedangnya.
"Karena kau sudah berani kemari, AYO KITA SALING ADU PEDANG HINGGA SALAH SATU DARI KITA ADA YANG MATI!!!!!!!"seru Aizen semangat. Aizen langsung mengarahkan pedangnya, Grimmjaw segera menahannya dengan sebelah tangan, akibat tertekan bilah pedang tangan Grimmjaw terluka cukup dalam.
'Bunuh saja aku, untuk keselamatanmu…..'tiba-tiba terdengar bisikan di kepala Grimmjaw.
"Siapa itu???"gumam Grimmjaw. Ia menatap Aizen dalam-dalam.
'Bunuh saja aku, Grimmjaw….'bisikan itu terdengar lagi, kali ini datangnya dari Aizen. Memang bibirnya tidak bergerak, namun seolah-olah ia sedang berdiri disebelah Grimmjaw dan membisikkan itu ditelinganya.
"Itu kau…"ujar Grimmjaw. Aizen melepas serangannya dan mundur, gerak-geriknya menjadi semakin aneh sejak ada cahaya hitam itu. Grimmjaw menghampirinya sambil mengarahkan pedangnya ke Aizen.
----
BRAKK
Rukia dan Nova berusaha membuka pintu tersebut, namun tertahan karena ada Renji dibaliknya. Yachiru menyuruh mereka untuk mundur, kemudian ia menghela napasnya dan berlari kearah pintu tersebut kemudian mendorongnya. Renji dan Hisana juga Byakuya terhempas dari arah pintu.
"Nii-sama!!!! Nee-sama!!!"seru Rukia. Ia melihat kearah bawah, dan menemukan seorang pria berambut merah.
"Ka…kau, yang diruangan rahasia itu!!!!!!"kata Rukia gemetaran. Renji langsung bangkit dan membalikkan badannya.
"Ya, kau benar.. Apa ada yang salah dengan keberadaanku???"tanya Renji, ia menatap Rukia sebentar. Kemudian muncul lagi keinginannya untuk menghisap darah, kali ini ia hendak menjadikan Rukia sebagai korbannya. Ia berjalan kearah Rukia, Rukia mundur pelan-pelan. Kemudian sesuatu menahannya dari belakang. Ia menoleh kearah belakang, ia hampir lupa kalau ada Nova dan Yachiru dibelakangnya.
"Tentu saja, keberadaanmu itu memang sebuah kesalahan… Renji."ucap Yachiru. Renji tersenyum menyambut kehadiran dua orang sesamanya itu.
"Oh, kalian…. Lama tak berjumpa, makhluk-makhluk hina… Bagaimana keadaan Aizen disana???"tanya Renji. Yachiru dan Nova diam tak membalas.
"Kupikir, mereka sudah saling bunuh sekarang…"Renji menjawab pertanyaannya sendiri. Rukia terkejut mendengarnya.
"A..apa maksudmu dengan saling bunuh??!!!! Memang Grimmjaw membenci ayahnya, tapi tak mungkin ia mau membunuhnya!!!!"seru Rukia pada Renji. Renji menyeringai lebar mendengarnya.
"Huh, ternyata ia tak tahu. Kalau ia mau mengeluarkan noir itu dari Aizen…"
----
Aizen sudah terkapar bersimbah darah, sedangkan Grimmjaw… Ia bersih tanpa ada darah setitikpun. Sebuah pedang besar yang ia pinjam dari Nel sudah siap ia tancapkan dijantung Aizen.
"Ayah…."panggil Grimmjaw, ia nyaris mengeluarkan air matanya. Aizen meliriknya, perlahan pandangannya melembut, sebuah senyum mengembang dibibirnya.
"Terima kasih, Grimmjaw…. Maafkan aku yang selama ini sering menyakitimu… Aku bukan seseorang yang pantas kau sebut 'ayah' karenanya…. Sesuatu membuatku tak sadarkan diri hingga aku menjadi jahat dan membuat semuanya jadi seperti ini…."jelas Aizen. Grimmjaw tak dapat menahan air matanya lagi.
"Nah, bunuhlah aku sekarang."pinta Aizen.
----
"Maka ia harus membunuh Aizen."sambung Renji.
"A..apa kau bilang??!!!!!"tanya Rukia tak percaya.
----
Grimmjaw menggigit bibir bawahnya, air matanya semakin mengalir deras.
"Cepatlah, Grimmjaw…. Sebelum noir yang Renji masukkan dalam tubuhku ini mulai menguasaiku lagi…"lanjut Aizen. Grimmjaw menggeram kesal.
"Kenapa…??? Kenapa ayah ingin aku membunuh ayah??!!!! Ini sungguh tidak adil!!!!"kata Grimmjaw dengan suara serak. Senyuman di bibir Aizen tidaklah menghilang dan menjadi semakin lembut.
"Aku tidak ingin menyakiti anak-anakku, prajurit negeri ini…. Yang akan melindungi negeri ini hingga tetesan darah terakhir. Kau tak perlu menangis, kau sudah besar… Hatimu harus teguh…."ujar Aizen, ia mengangkat tangan kanannya yang penuh darah. Kemudian mengusap kepala Grimmjaw dan mengacak-acak rambutnya.
"Sudah lama, aku tidak melakukan ini padamu.. Mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya…"bisik Aizen. Grimmjaw mengangguk, kemudian ia mengangkat pedangnya.
"Selamat Tinggal, ayah…."bisik grimmjaw penuh kesedihan. Aizenmengangguk padanya, senyumnya masih belum ia lepaskan.
"Ya, selamat tinggal."
JRAKK
Grimmjaw menancapkan pedang itu tepat di jantung Aizen, Aizen terbatuk dan mulutnya mengeluarkan banyak darah.
"Ayah!!!"Grimmjaw memanggilnya, berniat untuk menolong. Tapi Aizen menahannya.
"Tidak..Tidak usah Grimmjaw… Biarkan aku begini. Ini kulakukan untuk menebus semua kesalahanku selama ini.."ujar Aizen. Grimmjaw semakin tak tahan, akhirnya ia mengeluarkan semua kesedihannya dengan menangis dan terisak.
"Semoga, kita bisa bertemu lagi suatu saat. Di suatu tempat, yang indah seperti surga…"
Grimmjaw mengangguk sambil menundukkan wajahnya.
"Selamat tinggal juga, Grimmjaw…"bisik Aizen pelan. Setelah itu ia tidak bergerak lagi. Grimmjaw menangisi kepergiannya sambil terus terduduk dan diam membeku.
CHAPTER 11
-END-
Hiks hiks, sediiih….. SEDIIIH!!! AMAT SEDIH!!!! *dihajar massa*
Uaaargh!!!! Saya beneran nangis baca ending chapter ini….
Emm.. Sebenarnya saya bukan hiatus yah, tapi internet belum dibayar!!! Mau post di warnet, kebayang virus yang bisa ledakkin CPU itu.. –Hii!!!!!-
Sekarang, udah aktif lagi!!! Yay!!! Banzai!!!!
Dhia: Eh??? Doujin?? Mmmm.. Diusahakan deh, cari referensi dulu nih.. Oh iya!!! Good news buatmu!!! Chara design buat Rukia ama Grimmjaw udah ku post di dA!!! Silahkan buka yah!!!!
REVIEW PLEASE!!! ^0^
