Sasuke berjanji untuk kembali, tentu saja dia kembali, bahkan belum sampai dua minggu.

'Jika kau ingin keluargamu selamat maka datanglah!'

Sebuah ancaman muncul datang dari nomer yang tidak dikenal, kenapa dia lengah, berapa banyak bodyguard yang dipekerjakan dan tidak satupun dari mereka yang mampu menjaga orang-orang yang disayanginya.

Beberapa gambar Hinata yang sedang terikat mereka kirimkan begitupun Sakura dan puterinya.

Sial ...

Begitu bodohnya Sasuke, menyesal karena tidak mendengarkan ucapan Gaara dan Sasori di pesta peresmian perusahaan, mereka sudah memberi peringatan kepada dirinya.

'Jangan sampai lengah, kita tahu siapa yang sedang kita hadapi!'

Cukup lama Sasuke bersembunyi, tapi laki-laki jahat Alexandr Ivanov berhasil menemukan dirinya bahkan keluarganya.

Jika dia hidup seorang diri maka hal itu tidak akan jadi masalah, bahkan jika tubuhnya di cabik sekalipun Sasuke tidak akan peduli.

Tapi sekarang semua berbeda, terlebih dia cemas kepada Hinata, selain karena janji atas cintanya, nyawa Hinata terancam karena dia adalah putri Hiashi Hyuga, musuh besar Alexandr Ivanov.

'Kau harus membantuku, Kakashi!'

Terpaksa Sasuke meminta bantuan pada mantan leader-nya dulu, Sasori dan Gaara juga mungkin meminta bantuan pada pihak lain.

Sasuke tidak ingin kehilangan lagi setelah kematian sang sahabat yang mati di depan matanya.

Tidak, Sasuke tidak ingin terjerumus kembali pada dunia gelap yang sudah merenggut semuanya, termasuk keluarga Hinata yang di lenyapkan dengan kejam.

Secret Passion 2

Brakk ...

Sasuke mendobrak pintu rumahnya sendiri dengan sekuat tenaga, rahangnya mengeras serta tatapan tajam dari sorot matanya.

"Wellcome back, Honey!" Mata Sasuke menatap nyalang kepada wanita seksi berambut pirang.

"Ch, Dimana mereka?" Suara Sasuke sarat dengan kemarahan.

"Hmm, Kau terburu-buru, tenanglah mereka baik-baik saja!" wanita itu mendekat dan menggandeng lengan Sasuke, namun segera di tepis kasar oleh pria tersebut.

"Jangan bermain denganku, Tania!" geram Sasuke, ingin sekali dia mencekik leher mulus dan jenjang milik wanita itu, orang asing yang menjadi tamu di rumahnya satu minggu yang lalu. Jika saja Tania tidak di kawal beberapa orang berpakaian jam hitam, sudah pasti Sasuke akan menghabisinya.

Sasuke menyalahkan kecerobohannya karena lalai, dia lupa mencari tau identitas wanita asing itu yang sebenarnya.

"Namaku, Tania Careno Ivanov, apa kau ingat nama itu?" tanya Tania sambil tersenyum meremehkan.

"Tadinya kupikir ini akan mudah, merayumu, mendapat yang kuinginkan untuk kuberikan pada suamiku, Alexandr Ivanov!" lanjut Tania, wanita itu duduk di sofa dengan menopang satu kakinya.

"Aku ikuti isterimu, Haruno, menjadi temannya dan masuk dalam kehidupanmu, tapi aku kecewa ternyata kalian sudah bercerai, dengan susah payah membujuknya supaya dia membawaku padamu My Dear dan aku berhasil," ungkap Tania, wanita itu masih duduk dengan memperlihatkan setengah paha mulusnya yang berbalut rok ketat dan pendek.

"Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku, Jalang!" tegas Sasuke.

"Ch, Jalang? Bukankah kau juga penyuka jalang?" Tania tertawa meremehkan.

"Oops, Aku lupa, sekarang kau sudah berubah, pedofil? Benar, kan?" Sasuke membulatkan mata.

"Kenapa? Kau terkejut? Keponakan palsumu yang manja itu, Kau menyukainya, kan?"

"Aku tidak bodoh, Sayang," ejek Tania sambil menyilang tangan di dada. "Caramu memperlakukan gadis itu sangat berbeda."

"Terima kasih, itu menunjukkan kelemahanmu, tidak kusangka, pesona mantan isterimu, Sakura, terkalahkan oleh gadis ingusan seperti dia." Sasuke mengepalkan tangan, Tania tidak terlihat gentar.

"Jika kau berani menyentuhnya, Aku tidak akan mengampunimu, Tania!" teriak Sasuke.

Bugh ...

Sasuke menahan perutnya yang di hantam seseorang, sakit dan terasa sesak di ulu hati, Sasuke mendongak dan melihat pemuda berambut merah yang baru saja memukulnya.

"Ch, pengecut!" umpat Sasuke pada seorang pemuda yang tak lain adalah Jordy Careno, pemuda yang mengaku sebagai keponakan Tania.

"Sudah lama aku ingin melakukan ini." ucap pemuda itu, wajahnya mengeras seperti menahan amarah. Ternyata dia sangat fasih berbahasa Jepang, penipu sangat pintar bersandiwara.

"Kau tidak punya urusan denganku, Bocah Tengik!" umpat Sasuke untuk kedua kalinya.

"Cih. Bangsat seperti dirimu tidak akan ingat dengan semua yang sudah kau lakukan." Wajah Jordy memerah menahan amarah.

"Kau bahkan tidak ingat, Kau sudah membunuh Ayahku!" teriak Jordy, pemuda itu menarik kerah kemeja yang dikenakan Sasuke.

"Ah. Jadi kau dendam karena itu? Pasti ayahmu seorang tidak berguna. Karena orang-orang yang kuhabisi adalah sampah masyarakat," cibir Sasuke dengan senyum meremehkan.

"Jangan mencari masalah denganku. Anak muda," tambahnya.

Bugh...

Sasuke tersungkur, Jordy memukul tepat di ulu hatinya. Tania tertawa melihat adegan tersebut.

"Bangun. Sialan!" Jordy menginjakan satu kakinya di punggung Sasuke.

Srett ...

"Arghh ..." Pemuda berambut merah berteriak dengan menyentuh kaki kanannya. Seketika celana hitam yang kenakannya basah dengan darah dan sobek di bagian atas lututnya.

Sasuke menggunakan kesempatan saat semua orang lengah, entahlah para pengawal bodoh itu tidak memeriksa dirinya yang menyimpan benda tajam di balik kemeja dan jasnya.

'Amatir'

"Jordy!!" teriak Tania, wanita itu segera berdiri kemudian menghampiri keponakan nya.

Sasuke yang terlepas dari cekalan para pengawal dengan gerakan gesit menyerang mereka dan dalam sekejap keduanya terkapar. Perkelahian pun tidak bisa dihindarkan dengan pengawal yang lainnya.

Hap

Dengan satu tarikan, Sasuke menarik rambut Tania yang kebetulan berada tidak jauh darinya, sebilah belati yang dia gunakan untuk melukai Jordy, kini berpindah ke leher jenjang Tania. Sasuke kewalahan menghadapi para pengawal Tania yang jumlahnya lumayan banyak.

"Perintahkan mereka untuk mundur! Atau benda ini akan akan merobek tenggorokanmu!" perintah Sasuke dengan suara yang dingin.

"Kau tidak akan bisa melakukan itu!" jawab Tania, wanita itu bergerak ingin melepaskan diri.

"Kau membuatku kembali pada sifat hewanku. Jalang! Percayalah aku tidak segan memotong urat nyawamu," gertak Sasuke yang membuat wanita itu ketakutan.

"Katakan di mana mereka!" Tarikan di rambut Tania semakin keras sehingga wanita itu mendongak, sedangkan lehernya sudah tergores karena Sasuke menekan belati tersebut.

"Jika Kau tidak bicara. Maka aku akan memberimu kematian secara perlahan," Tania menelan ludah, para pengawal yang tersisa tidak berani mendekat karena ancaman Sasuke pada bos mereka sepertinya tidak main-main. Selain itu sebuah pistol kini mengancam tepat di kepalanya, sebelumnya Sasuke mengambil sebuah pistol dan menyimpan belatinya.

Tania mengisyaratkan para pengawalnya untuk mundur, sambil menahan perih di lehernya, dia masih berusaha untuk bisa melepaskan diri dari Sasuke.

"Mereka ada di gudang penggilingan padi, Desa Konoha," ucap Tania, setelah Sasuke mendesaknya untuk mengatakan dimana keberadaan keluarganya.

Sasuke membawa Tania sebagai sandera, dan dia membawa wanita itu ke tempat yang di tuju, untuk memastikan kebenaran dari ucapan Tania Careno.

'Sial ...'

Kenapa Gaara dan Sasori belum muncul, serta Kakashi yang sudah diminta untuk membantunya juga belum melakukan tindakan apapun?

Apakah Sasuke harus bekerja sendiri? Ah tolonglah, untuk kali ini dia benar-benar membutuhkan bantuan dari teman-temannya.

Secret Passion 2

Pintu gerbang gudang penggilingan padi terbuka lebar, dengan suara gesekan yang tercipta saat pintu tersebut dibuka.

Sasuke masih menyeret Tania sebagai sandera, dengan begitu dia leluasa masuk tanpa keluar tenaga untuk melawan para pengawal yang jumlahnya tidak sedikit.

Pada akhirnya mereka sampai pada sebuah ruangan gelap yang dengan cahaya yang sangat minim.

Prok

Prok

Prok

Suara tepukan tangan di dengar Sasuke, di salah satu sudut ruangan, siluet seorang pria yang duduk di kursi kebesarannya, dengan wajah yang tidak terlihat karena terhalang sebuah bayangan. Namun, tubuh tambunnya dikenali Sasuke.

Sasuke menarik sudut bibirnya, pria tambun itu masih suka menghisap cerutu dengan bau yang membuat dada menjadi sesak.

Sasuke mendengar pria itu menyapa dengan bahasa kebangsaannya, pria setengah abad itu mulai berdiri dan berjalan pelan mendekati Sasuke yang masih setia mencekal Tania supaya tidak lepas.

"Sasuke, lepaskan sweet heart Ku!" Pria itu berkata dengan suara yang memerintah.

"Tidak akan, sebelum Kau melepaskan keluargaku!" ancam Sasuke, ayolah pria seperti Alexandr Ivanov tidak akan bisa di ajak bernegosiasi, hanya ledakan senjata yang pria itu berikan sebagai jawaban.

Suara tawa pria Rusia menggema di gudang penggilingan padi, sebatang cerutu masih terselip di bibir hitamnya.

"Bocah ingusan, sudah menjadi macan rupanya," ejek si tambun, "ahh, baiklah, bawa wanita itu kesini!" perintah Alex pada anak buahnya.

Brak

Brak

"Sasukeee!!" Suara seorang wanita mengalihkan perhatian Sasuke, sebuah pintu di belakang Alex terbuka, seorang pengawal membawa Sakura dengan tangan terikat.

Jantung Sasuke terasa mencelos, hanya Sakura? Lalu mana Hinata dan Eri, kemarahan memuncak dalam dada Sasuke.

"Kenapa? Kau kecewa, Sasuke?" Pria tambun Alex kembali mengejeknya, dapat Sasuke lihat wajah Sakura yang ketakutan, paling tidak wanita itu tidak terluka sedikit pun.

"Mm, gadis lain akan kubawa setelah kita melakukan pertukaran," ucap Alex sambil merangkul pundak Sakura "Kau tahu apa yang kuinginkan, bukan?"

Brak

Brak

"Pamaaan!"

Pintu tadi kembali terbuka, gadis kecil keluar bersama satu orang pengawal lainnya, Eri segera memeluk ibunya, gadis itu menangis setelah bertemu dengan ibunya.

"Bebaskan mereka!" Geraman keluar dari mulut Sasuke, tapi dia bisa bernapas lega, ibu dan anak itu baik-baik saja.

"Berikan apa yang kumau! Kalau tidak, gadis itu tidak akan pernah Kau lihat lagi untuk selamanya," ancam Alex dan sekarang tatapannya berubah serius.

'Tidak, Hinata bertahanlah, kumohon!'

Sasuke sangat khawatir pada Hinata, gadis itu adalah penyemangat hidupnya untuk saat ini, selain itu dia punya janji pada Naruto untuk menjaga keluarganya.

Dengan terpaksa Sasuke harus mengulur waktu demi menunggu bantuan datang, bukan hal yang bijak jika dia melawan sendiri Alex dan anak buahnya yang berjumlah sangat banyak, kecuali jika dia ingin mati konyol di tangan para mafia tersebut.

"Kubebaskan jalangmu, dengan syarat Kau juga membiarkanku melihat gadis itu!" Sasuke memberikan penawaran pada Alex, hanya untuk melihat gadisnya baik-baik saja.

Alex tampak berpikir dan dia menyetujui pada akhirnya, seorang anak buah diperintahkan kembali untuk membawa Hinata.

Gemuruh di dada Sasuke semakin menjadi, rasa sakit menjalar dihatinya. Saat pintu kembali terbuka dengan membawa bayangan seseorang yang Sasuke rindukan.

'Hinata ...'

Hinata tidak sadarkan diri di atas sebuah kursi roda, tangan dan kakinya terikat, tidak hanya itu wajahnya lebam dan memar di beberapa bagian.

'Kejam sekali.'

Emosi Sasuke tersulut, dia bersumpah akan menghabisi siapa saja yang sudah membuat Hinata menderita.

"Berikan padaku pencetak uangnya, beserta semua barang-barangku, dan Aku akan kembalikan keluargamu," ucap Alex, pria tambun itu kembali bernegosiasi.

"Sejujurnya Aku tidak peduli jika Kau membunuh sweet heart ku, karena wanita jalang itu tidak berguna bagiku," ucap Alex, Sasuke tersenyum penuh arti.

Bruk

Dor

Dor

Sasuke mendorong tubuh Tania ke arah Alex, sehingga si tambun itu kewalahan dan terjatuh, tidak berhenti sampai di situ Sasuke menembak kaki si tambun dan juga beberapa pengawal lainnya.

Beberapa pria muncul dari luar tapi mereka tidak bisa berbuat apapun karena Sasuke menodongkan pistol tepat di kepala Alex. Pria tambun itu meringis menahan sakit dan panas di kedua kakinya.

"Cih, ini terlalu mudah bagiku, sebenarnya Aku bisa saja langsung melenyapkanmu, hanya dengan satu peluru saja," ucap Sasuke, dengan penuh percaya diri.

"Cih, Hahahaha ..." Alex tertawa keras seolah yang dikatakan Sasuke hanya sebuah lelucon.

"Kau pikir Aku sebodoh itu, my sweet heart sudah mengatakan semua kepadaku, termasuk rahasiamu dengan putri dari musuh besarku, Hiashi Hyuga," ejek Alex.

"Jika Aku menjadi dirimu, maka akan kuselamatkan gadis itu lebih dulu, setelah racun yang kuberikan menyebar di tubuhnya, maka bisa saja Dia akan segera, Pssshh, mati," tambah si tambun, amarah Sasuke memuncak terlebih setelah melihat Tania yang tersungkur masih sempat memperlihatkan jam tangan yang dipakainya pada Sasuke.

Dor ...

Dor ...

Sasuke kehilangan akal dan menembak Alex tepat di perutnya. Sejujurnya dia tidak ingin mengotori tangannya lagi. Namun, kemarahannya akan keselamatan Hinata tersulut saat mendengar ucapan si tambun.

Brak ...

Di saat yang sama, para tim dari kepolisian mendobrak paksa pintu besi gudang, Gaara dan Sasori bahkan mantan Leader Hatake Kakashi juga ada dan bertarung dengan anak buah Alex dan berhasil melumpuhkan mereka.

Tatapan Sasuke beralih pada gadis yang masih tidak sadarkan diri di atas kursi roda, dapat Sasuke lihat Sakura yang berusaha membuka ikatan gadis tersebut.

Hati Sasuke mencelos, dadanya terasa begitu sakit, Hinatanya telah di racuni, Sasuke takut akan kehilangan gadis itu.

"Hinata," lirih Sasuke, dengan segera dia memeluk Hinata dan membawa gadis itu dalam pangkuannya.

"Kita harus segera membawanya, mereka meracuninya," ucap Sakura, satu tetes air mata jatuh di pipi Sasuke. Pria itu sangat terluka.

"Tania ... Tania yang melakukannya, tiga jam yang lalu," tambah Sakura, wanita itu terisak.

"Tolonglah! Sakura!" Sasuke memohon pada Sakura, wanita itu menganggukan kepalanya.

"Aku tidak bisa hidup tanpa dirinya," ucap Sasuke sambil mencium puncak kepala Hinata. Sakura mengernyit karena tidak mengerti dengan ucapan Sasuke, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempertanyakan itu semua.

"Uhuk ..." Sasuke membulatkan matanya saat Hinata terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Sasuke, Ayo cepat!" Dalam setengah kesadaran, Sasuke mendengar Kakashi berteriak dan memerintahnya. Tanpa peduli hal lain, dia segera menggendong Hinata dan membawanya.

Mungkin harapan Sasuke semakin menipis, apakah dia akan kehilangan Hinata? Dia sudah banyak kehilangan, dan Hinata adalah harapan terakhir dalam hidupnya, gadis itu sudah membuat dirinya berharga.

'Maafkan Aku, Sayang!'

'Bertahanlah, untukku!'

Tbc

Duh chapter ini adalah chap terlama update ...

Maaf aku ga bisa buat scene action ... jadi aku bingung mau nentuin endingnya ky gimana

Ini asli gaje banget ...

Dan kayanya masih ada satu chap lagi ... tadinya chap ini adalah yang terakhir tapi ternyata ga bisa ...

Gomenasai

Di chap depan mungkin ada flashback yaa ...

See u next chap

Salam Aisya-Eva