Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing: Dark!Naruto x Naruto (Haruto x Naruto)
Warnings: Twincest / Selfecst, typo, yaoi, lemon (haha, akhirnya! Maaf ya kalau lemonnya nggak sesuai yang diinginkan D;) etc.
ATTENTION: Dark!Naruto di fanfic ini bernama Haruto Namikaze.
Don't like PLEASE don't read.
-x-
My Bastard Twin
Chapter 10 part A
-x-
Haruto menghela napas berat melihat langit telah berubah warna menjadi oranye. Sembari memijit ringan kepalanya yang terasa pening, Haruto yang kini sedang berdiri di depan rumahnya menatap cemas ke arah jalanan sepi. Sudah beberapa jam dia menunggu kepulangan Naruto namun kembarannya tidak kunjung menunjukan batang hidungnya. Berkali-kali menghubungi ponsel kembarannya namun sejak pagi hingga sekarang nomornya tidak aktif. Memikirkan betapa cerobohnya Naruto, membuat hatinya semakin tidak tenang.
"Bagaimana, Haruto, masih tidak ada kabar dari Naruto?" ibunya muncul dari balik pintu dengan telah mengenakan pakaian rapi.
Haruto mengangguk lemah. "Aku sudah mengiriminya pesan tapi sampai sekarang tidak dibalas juga, bu."
"Dasar! Kemana perginya anak itu!?" Kushina menggeram kecil.
Terlihat Minato menggeret sebuah koper menuju mobil sedan miliknya. "Tidak biasanya Naruto belum pulang jam segini – " sembari berguman hup, dia meletakan koper itu di bagasi mobil dan menutupnya kembali. "—pasti anak itu akan mengabari."
Kushina berdiri di samping mobil sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Alisnya mengerut tidak suka.
"Dia tidak mengantar kepergian orang tuanya malah pergi keluyuran entah kemana! Lihat saja kalau dia pulang akan ibu jewer kupingnya sampai merah!"
"Ibu tenang saja. Serahkan Naruto padaku," timpal Haruto. Dia membukakan pintu mobil dan menunggu sang ibu masuk ke dalamnya sebelum menutup pintunya kembali. "Jadi, ayah dan ibu bersenang-senanglah di pemandian air panas. Nikmati bulan madu kalian untuk yang kedua kalinya."
"Kau ini..." pipi Kushina bersemu. Senyum kembali muncul di wajah cantiknya. "Untung saja ada kau yang bisa ibu andalkan untuk menjaga Naruto. Ibu kadang heran meskipun kalian kembar tapi kepribadian kalian bertolak belakang."
Dari jok depan samping istrinya, Minato tertawa kecil. "Kalau anak itu mendengar perkataan barusan, sudah pasti dia akan marah besar, Kushina."
"Huh, biarkan saja. Aku berharap Naruto segera mengubah sikapnya menjadi lebih bertanggung jawab," ekspresi Kushina berubah sendu. "Dasar, aku tidak akan selalu ada di sampingnya untuk menasehati dan memarahainya."
Mendengar pernyataan Kushina, Minato dan Haruto hanya tersenyum maklum. Mereka tahu jika wanita itu bersikap tegas dan keras kepada Naruto karena sangat menyayanginya.
"Ayo, kita berangkat sekarang, Kushina."
Tersadar dari lamunannya, Kushina mengangguk pada Minato sebelum mengalihkan perhatiannya pada Haruto. "Tolong jaga rumah dan Naruto, ya. Jika kalian lapar kalian bisa memasak sesuatu. Ibu sudah mempersiapkan segala bahan makanan di kulkas."
Haruto mengangguk mengerti.
"Ah! Dan jika kembaranmu telah pulang, tolong jewer kupingnya untuk ibu."
"Siap!" jawab Haruto sembari terkekeh geli.
Melihat mobil orang tuanya telah melesat jauh, ekspresi Haruto berubah serius. Ketika masih tidak melihat adanya pesan masuk atau panggilan dari Naruto di ponselnya, dia segera mengunci pintu rumah dan berlari keluar; mencari keberadaan kembarannya.
'Kau dimana, Naruto?!'
-x-
Dengan langkah gontai, Naruto berjalan menuju rumahnya. Menurutnya hari ini sangat amat menyebalkan sekaligus melelahkan. Ketidaksanggupannya mengerjakan soal kuis tadi siang berujung pada tugas yang menyesakkan dari sang dosen. Karena dia merupakan salah satu mahasiswa yang mendapat nilai E pada kuis itu, dosennya memberikan tugas paper dengan topik berat yang dikerjakan secara individu dan harus dikumpulkan sore harinya. Salahkan Haruto dan kerisauannya karena memikirkan kembarannya akan kembali ke Tokyo. Meskipun dia berkata 'ingin belajar' tadi malam namun materi kuliahnya tidak ada satupun yang masuk ke kepalanya. Sungguh, sial.
Setelah selesai perkuliahan, Naruto dan teman-temannya bergegas menuju perpustakaan untuk mencari data. Untung saja setelah mata kuliah itu tidak ada jadwal mata kuliah lainnya, sehingga dia bisa ngebut menyelesaikan tugas paper hingga selesai tepat waktu. Jujur saja, hanya pada saat momen-momen seperti itu lah dia mengunjungi perpustakaan dan menjelma sebagai mahasiswa yang baik.
"Aku haus..."
Naruto mengedarkan pandangan ke arah jalan. Setelah melihat mesin minuman di taman yang tidak jauh darinya. Naruto berjalan mendekat dan memasukan koin ke dalam slot mesin. Setelah menekan tombol minuman yang dia pilih, sekaleng soda yang keluar langsung diminumnya.
"Fuaah!"
Menyadari langit yang sebentar lagi gelap, dia kembali berjalan.
'Lebih baik aku mengirim pesan pada Haruto...'
Setelah mengambil ponsel dari dalam tasnya, dahinya mengerut melihat ponselnya tidak mau menyala. "Eh!? Kenapa ini!? Kenapa ponselku tidak mau menyala?" serunya mulai panik sembari menekan-nekan acak tombol ponselnya. "Atau jangan-jangan... baterai ponselku habis?"
Berkali-kali matanya menerjap tak percaya ke arah ponselnya. Benar-benar mengerikan; mengerjakan tugas bisa berdampak seperti ini. Seumur hidup, dia tidak pernah melupakan ponselnya hingga seekstrim ini hanya untuk belajar atau mengerjakan tugas.
'Bagaimana ini. Tadi pagi aku mengabaikan panggilan Haruto... pasti di rumah dia sangat khawatir.'
Tiba-tiba seseorang menabraknya.
"Huwaa! Maaf!" seru Naruto panik melihat minumannya tumpah membasahi baju orang itu.
"Oii! Brengsek! Berani-beraninya kau membuat bajuku basah, huh!?"
Naruto menelan ludah susah payah melihat sosok pria di depannya. Tubuh kekarnya dipenuhi tato sedangkan hidung dan mulutnya ditindik. Auranya menunjukan bahwa pria itu adalah seorang preman. Saat itu juga Naruto menyadari bahwa dia telah menggali lubang kematiannya sendiri.
"Ma-maaf..." ulang Naruto, namun kini suaranya lebih pelan.
"Kau bilang maaf!?" seru preman itu marah. Dia menarik kerah baju Naruto agar mendekat kepadanya. "Kau kira dengan meminta maaf bajuku bersih kembali? HAH!?"
Sembari menyerit karena telinganya sakit mendengar teriakan preman itu, Naruto menggeleng pelan. Baru pertama kalianya berhadapan dengan orang macam ini, dia tidak tahu harus berbuat apa. Sial! Seharusnya dia menyetujui Kiba untuk mengikuti UKM Karate di kampusnya.
"Kau ini benar-benar—!"
Melihat oria itu meluncurkan pukulan ke arahnya, Naruto secara refleks segera menutup erat kedua matanya. Ketika tidak merasakan sakit apapun di tubuhnya, dengan takut dia membuka mata dan melihat seseorang yang tidak dia duga berdiri di hadapannya sedang menahan pukulan preman itu.
Melihat pria itu meluncurkan pukulan ke arahnya, Naruto secara refleks segera menutup erat kedua matanya. Ketika tidak merasakan rasa sakit apapun di tubuhnya, dengan takut-takut dia membuka mata dan melihat seseorang yang tidak dia duga berdiri di hadapannya sedang menahan pukulan pria itu.
"HARUTO!" seru Naruto terkejut sekaligus senang.
Jengkel karena sudah mengganggu aksinya, preman itu memukul Haruto berkali-kali. Namun setiap pukulannya selalu dapat dihindari Haruto dengan mudah.
"Brengseeek!" umpat preman itu. Dia menatap kesal pada Haruto yang saat ini menatap datar padanya. Suara tawa mengejek terdengar saat preman itu merogoh sesuatu dari balik jaketnya.
Melihat preman itu mengeluarkan pisau, Naruto terpenjat kaget.
"Maaf, dude, sebenarnya aku tidak mau menggunakan senjata tajam tapi kau benar-benar membuatku muak," preman itu menyeringai licik.
Haruto balik menyeringai. "Apa aku tidak salah dengar? Harusnya aku yang berkata seperti itu, brengsek," matanya menyipit tajam. "Begitu bodohnya dirimu mengganggu kembaranku."
"TUTUP MULUTMU, ASSHOLE!"
Mata Naruto melebar melihat pria itu berlari mendekat ke arah kembarannya. "HA-HARUTO, AWAS!" pekiknya.
Menunggu saat yang tepat, Haruto dengan gesit menghindari pisau yang diarahkan ke kepalanya dengan merendahkan badan. Dari bawah kembarannya memukul pergelangan tangan pria itu hingga pegangannya pada pisau terlepas. Pisau yang telah terjatuh segera dia tendang jauh. Tangan kanan Haruto mencengkram kerah baju pria itu sedangkan tangan kirinya memegang erat pergelangan tangannya. Dengan gerakan cepat, dia mengangkat tubuh pria itu dengan sisi punggung kanannya yang dibuat sedikit membungkuk dan menggoyahkan tumpuan pria itu dengan mengangkat kakinya.
Mulut Naruto menganga lebar melihat pria itu telah tegeletak tidak berdaya di atas tanah sembari merintih kesakitan.
"Kau membuatku jijik," ekspresi Haruto berubah dingin. Suaranya penuh dengan kebencian. "Enyah dari hadapanku sekarang atau aku tidak akan segan-segan menghabisimu."
Setelah kembarannya melepaskan cengkramannya, pria itu segera berlari ketakutan menjauhi mereka berdua.
"W-Wow! Bagaiamana bisa kau melakukannya, Haruto!? Tadi itu benar-benar keren!"
Haruto mengepalkan kedua tangannya dan berbalik menghadap kembarannya. "Kau tahu tidak betapa khwatirnya aku padamu!" serunya; mengeluarkan segala rasa cemasnya. "Bagaimana jadinya jika aku tidak melewati jalan ini saat mencarimu!? Kau mungkin saja sudah terluka, Naruto!"
Naruto menatap Haruto terkejut sebelum menghindari kontak mata dengan kembarannya. "Maaf, Haruto. Aku... Aku minta maaf," gumannya pelan. Dia mengigit bawah bibirnya, berusaha menahan air matanya untuk keluar. Tidak seharusnya dia menangis saat ini. Haruto marah karena dirinya; karena mencemaskannya.
Melihat tubuh Naruto bergetar kecil, Haruto merutuki dirinya yang tidak dapat mengontrol emosinya. Setelah mengambil napas dalam-dalam, senyum kembali muncul di wajahnya. Dia berjalan mendekat dan mengusap lembut rambut kembarannya.
"Jangan membuaku khawatir lagi, oke?" melihat Naruo mengangguk lemah, Haruto meraih tangannya dan menggandengnya. "Ayo, kita pulang, sebentar lagi hujan."
Niatnya untuk berbalik tertunda saat Naruto melepaskan pegangan tangannya.
"Naruto?" panggil Haruto bingung.
Naruto terdiam sejenak. Dia masih menunduk. "Aku tahu kau akan kembali ke Tokyo, Haruto."
Mata Haruto yang sempat melebar kini kembali ke seperti semula. "Ternyata benar dugaanku, kau mendengar pembicaraanku dengan Gaara kemarin," kemudian dia menyengir. "Tapi tenang saja, aku sudah bilang padanya jika aku menunda kepulanganku."
Naruto mencengkram erat bagian bawah bajunya. Rasa sesak kembali menyelimuti hatinya. Seperti yang Sakura katakan, dia harus melakukan sesuatu. Naruto harus mengatakannya sekarang sebelum semuanya terlambat –
"Haruto, jika kau benar-benar mencintaiku... lakukan sesuatu untukku."
Senyum muncul di wajah Haruto. "Katakan saja. Akan aku lakukan apapun yang kau minta, Naruto."
Naruto terdiam sejenak. Dia menghela napas panjang sebelum mendongak dan menatap serius kembarannya. "Kembalilah ke Tokyo."
– sebelum dia tidak bisa lagi menyesali penyesalannya.
Angin yang berhembus kencang kala itu membawa bulir-bulir hujan. Perlahan senyum Haruto menghilang bersamaan dengan turunnya hujan yang kini mengguyur tubuh mereka.
"Apa yang barusan kau katakan, Naruto? Kau ingin aku kembali ke Tokyo?" ulang Haruto tidak percaya.
"Benar," Naruto tertawa kecil. "Menunda kepulanganmu karena aku? Hah, yang benar saja! Siapa yang memintamu untuk tinggal di Kyoto lebih lama, brengsek!?"
Tidak, dia tidak boleh menunjukan sisi lemahnya yang membutuhkan Haruto di sampingnya, Meskipun dengan sarkasme, dia harus meyakinkan perkataannya. Ya, ini untuk kebaikan mereka berdua; terlebih untuk kebaikan Haruto dan karirnya.
"Cepat kembali ke Tokyo. Aku tidak ingin melihat wajahmu lebih lama lagi," dengan tenang Naruto berjalan melewati kembarannya.
"Itu yang kau inginkan, Naruto? Membiarkanku untuk meninggalkanmu?"
Naruto menggertakan giginya dan berbalik menghadap Haruto. "Benar! Aku menyuruhmu pegi! Aku melepaskanmu!" serunya frustasi. "Berterimakasihlah padaku, Haruto, sekarang kau bebas."
Lagi-lagi bibirnya bergetar. Hanya menunggu beberapa detik hingga air matanya mengalir; menjadi satu dengan derasnya air hujan yang membashi wajahnya kini.
"Aku mengenalmu, Naruto. Mengenalmu lebih dari kau mengenal dirimu sendiri. Aku telah bersamamu dari bayi, telah mencintaimu dari dulu. Dengan mudah, aku dapat mengetahui jika kau sedang berbohong atau tidak – "
Mata Naruto melebar. Sedalam itukah rasa cinta Haruto pada dirinya?
" – Aku tahu itu bukan isi hatimu yang sebenarnya. Katakan isi hatimu. Naruto. Jelaskan padaku alasanmu yang sebenarnya."
Tanpa disadari, Naruto telah menangis. "Karena aku tidak ingin menjadi egois! Aku tidak ingin kau pergi. Aku tidak ingin kau kembali ke Tokyo dan meninggalkanku. Tapi – Tapi aku tidak boleh egois dan memintamu untuk tinggal... aku tidak boleh selalu egois kepadamu, Haruto..."
Haruto terkejut mendengar pengakuan Naruto. Tidak dia sangka masalahnya membuat Naruto ikut terbebani. Namun entah kenapa, jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa senang. Mengetahui kembarannya juga memikirkan hubungan mereka membuatnya senang – sangat senang.
"Tenang saja, Naruto," bisiknya lembut. Dia memeluk erat kembarannya. Membiarkan tubuh mereka yang telah basah kuyup bersatu. "Semua akan baik-baik saja."
Tangis Naruto pun pecah. Tubuhnya merosot lemas di dada Haruto.
-x-
Naruto tidak tahu lagi. Hati dan pikirannya telah lelah. Dia menurut saja ketika Haruto menggendongnya pergi dari tempat itu. Meskipun hujan turun dengan derasnya dan udara menjadi dingin, entah kenapa tubuhnya terasa hangat karena bersentuhan dengan punggung Haruto. Naruto merasakan tubuhnya bergoncang saat Haruto berlari menembus hujan. Sesekali, di tengah suara gemuruh buliran air, dia dapat mendengar suara kembarannya yang menanyakan kedaannya dan menyuruhnya untuk bertahan. Naruto hanya dapat merespon dengan mengeratkan pelukannya.
Dia tidak begitu tahu kapan tepatnya mereka berdua sampai di rumah. Prediksinya bahwa dirinya akan dimarahi habis-habisan oleh sang ibu meleset ketika Haruto mengatakan jika kedua orangtuanya telah pergi ke pemandian air panas beberapa jam yang lalu. Pantas saja rumah mereka gelap dan sepi.
"Naruto, cepat lepaskan pakaianmu."
Naruto memandang heran pada Haruto yang kini sedang melepaskan bajunya. "Untuk apa?"
Tanpa melihat kembarannya, Haruto melemparkan bajunya ke keranjang. "Kau ingin mengenakan pakaian yang basah itu terus?"
Merasa pendapat Haruto ada benarnya, dengan susah payah Naruto melepaskan pakaiannya dan memasukannya kedalam keranjang yang sama. Beberapa saat kemudian, Haruto muncul dari balik pintu kamar mandi dengan selembar handuk yang telah melilit bagian bawah pingganggnya.
"Kenapa kau masih berdiri di sana, Naruto? Ayo, cepat kedalam. Bathup-nya sudah terisi dengan air panas."
Naruto menerjapkan matanya beberapa kali. "Maksudmu, aku mandi bersamamu?"
Haruto mengangguk mantap.
"Aku tidak mau!" tolak Naruto tegas.
"Eh, kok begitu?" Haruto memanyunkan bibir sebelum menyeringai. "Padahal ketika masih kecil dulu, kita sering mandi bersama dan tidak jarang pula kau merengek untuk mandi bersamaku. Aah~ kemana Naru-chan ku yang dulu pergi..."
Seketika itu, wajah Naruto berubah merah padam. "Ja-Jangan mengungkit masa lalu, brengsek! Kalau kau ingin mandi, ya, mandi saja! Pokoknya aku tidak mau mandi bersamamu!" dia membuang muka; berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Ya, terserah saja," Haruto menghela napas sembari menaikan bahunya. "Tapi, aku tidak tanggung jika kau sakit nantinya. Kau tentu tidak ingin minum obat yang pahit kan?"
"Ughh..."
Naruto tidak bisa berkutik. Mendengar 'obat pahit' disebut, membuatnya langsung merinding. Dia sangat benci sakit karena ibunya selalu akan memaksanya meminum obat pahit dari kecil. Pengalaman itulah yang membuatnya trauma, sehingga sebisa mungkin dia menjaga kondisi tubuhnya selalu fit agar tidak jatuh sakit.
"...baiklah," gumannya mengiyakan.
Melihat ekspresi enggan yang ditunjukan kembarannya, Haruto tersenyum kecil. "Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Jadi, cepatlah masuk. Aku tidak ingin kau sakit, Naruto."
Naruto terdiam memandangi Haruto. Tangannya bergerak memegangi dadanya yang terasa nyeri sebelum menggelengkan kepalanya kuat dan beranjak menuju kamar mandi.
-x-
Setelah membersihkan diri, akhirnya Haruto dan Naruto berendam di dalam bathup. Mereka duduk saling berhadapan sembari merasakan air hangat yang membasahi tubuh mereka.
Haruto menghembuskan napas. "Benar-benar nyaman. Pasti pemandian air panas jauh lebih enak daripada ini..."
"Kau sudah berjanji akan mengajakku ke pemandian air panas," Naruto mengingatkan.
Tawa Haruto menggema di dalam kamar mandi. "Tenang saja. Aku tidak akan mengingkari janjiku. Pasti kita akan ke pemandian air panas. Hanya menunggu waktu yang tepat saja."
Naruto tidak merespon. Pikirannya kembali mengingat perkataan Haruto padanya beberapa menit lalu. 'Tidak akan melakukan apapun', kalimat itu masih teringang-ngiang sampai sekarang.
"Hei, Haruto. Kenapa kau mengatakan perkataan itu barusan?"
Alis Haruto terangkat sebelah. "Maksudmu? Perkataan yang mana?"
"Kau tidak akan melakukan papaun padaku atau semacamnya..." jawab Naruto tanpa melihat Haruto. Dia lebih asyik bermain dengan air.
Haruto berguman sejenak sebelum tersenyum lembut. "Itu karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan apapun yang tidak kau sukai."
"Begitukah?" Naruto kembali terdiam. "Seharusnya aku merasa senang dengan hal itu kan? Seharusnya aku merasa lega. Tapi..." Haruto menunggu kembarannya menyelesaikan perkataannya. "Tapi kenapa aku merasa tidak suka? Kenapa hatiku sesak saat mendengar kau mengakatan hal itu?"
Haruto memandang tidak percaya pada kembarannya.
"Perasaan sesak ini, perasaan membutuhkan, perasaan ingin disentuh... kenapa aku merasakan seperti itu? Aku tidak mengerti diriku lagi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Haruto?!"
Mata biru Naruto kembali mengeluarkan air mata. Hisakan demi hisakan keluar. Dengan segera, Haruto merangkak mendekat ke arah kembarannya dan menyeka air mata Naruo dengan jarinya.
"Jangan menangis, Naruto. Tidak ada yang salah denganmu."
Naruto memandang Haruto. "Benarkah?" tanyanya tidak yakin.
Haruto mengangguk. "Itu semua adalah perasaan alami yang dirasakan oleh seseorang ketika menjalin sebuah hubungan. Tanpa disadari seseorang akan berubah menjadi egois bahkan posesif."
"... Kenapa mereka menjadi seperti itu?" tanya Naruto tidak mengeri.
"Jawabannya sederhana tapi memiliki arti yang dalam yaitu cinta," Haruto tersenyum lembut saat mendengar Naruto mengguman kata cinta. "Banyak orang yang mengkespresikan cinta dengan cara mereka masing-masing dan untuk kasusku aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau sukai, karena aku mencintaimu. Aku tidak mau lagi melihat air mata kesedihanmu seperti waktu itu lagi."
Ketika Haruto ingin kembali ke posisi semula, tangan Naruto mencengkram lengannya. Dengan gerakan cepat, Naruto telah menariknya mendekat dan mempertemukan kedua bibir mereka. Tidak ada aksi selanjutnya, bibir mereka hanya menempel untuk beberapa detik sebelum Naruto melepaskan ciuman polosnya.
"Tadi itu..."
Naruto membuang muka. "Itu – itu adalah caraku untuk mengekspresikan ci-cinta," dia menatap kesal pada Haruto yang masih menatapnya dengan tatapan terkejut. "Kenapa diam saja!? Katakan sesuatu, brengsek!"
Haruto tertawa kecil. Dia mengelus lembut pipi dan bibir Naruto sebelum mengangkat perlahan dagu kembarannya. Tubuhnya kembali dia condongkan sehingga bibir mereka berdua kembali bertemu. Dia dapat mengetahui kecangungan Naruto saat membuka mulut dan mempersilahkan lidahnya masuk. Entah kenapa, berkali-kali mencium bibir kembarannya, dia tidak pernah merasa bosan. Haruto ingin terus dan terus merasakan sensasi memabukan. Merasakan lidah mereka berdansa liar, merasakan saliva mereka bersatu, mendengar suara yang tercipta dari ciuman mereka; itu semua membuatnya tidak pernah puas.
"Cu-Cukup..." pinta Naruto disela ciuman mereka. "... Napasku... umm..."
Beberapa detik kemudian Haruto melepaskan ciuman mereka. Di depannya, terlihat pandangan paling erotis yang pernah dia lihat. Wajah Naruto yang memerah dengan bibir yang menganga kecil dan segaris saliva yang membasahi dagunya. Mata birunya digenangi air mata sedangkan dadanya terlihat kembang kempis mencari oksigen. Tidak, dia tidak boleh kehilangan kontrol. Haruto sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan melakukan apapun yang tidak disukai oleh Naruto dan dia tidak akan melanggarnya.
"Naruto," panggilnya lembut. "Jika kau mau kita bisa berhenti sampai di sini. Aku tidak keberatan."
Naruto menggeleng kecil. "Tidak. Lanjutkan. Biarkan aku merasakan kehangatanmu, Haruto. Sentuh aku, peluk aku..." pintanya penuh harap. "Biarkan aku melupakan fakta bahwa sebentar lagi kita akan berpisah, meskipun itu hanya sejenak."
Mendengar perkataan Naruto membuat dada Haruto sakit. Dia kembali mencium kembarannya namun kali ini lebih kuat. Tangannya yang menyusup masuk ke dalam rambut Naruto yang basah, menekan kepala kembarannya untuk memperdalam ciuman mereka. Sedangkan tangannya yang lain menekan, mencubit, dan memberikan pijatan pada nipple Naruto.
Tubuh Naruto bergetar, suara desahan yang tidak terkontrol keluar dari mulutnya ketika merasakan bibir Haruto mengecup, mengigit, dan menjilat leher jenjangnya.
"Ha-Haruto... ahh!"
Puas melihat beberapa tanda kemerahan muncul, kini Haruto mengalihkan perhatian ke nipple Naruto. Lagi-lagi dia mengulum nipple kemerahan itu dan mengigitnya kecil. Tangan kanannya masih mencubit nipple kembarannya yang lain, sedangkan tangan kirinya memegang kejantanan Naruto.
"Ja-Jangan sentuh aku disana, Haru – nghhh!"
Ini benar-benar gila. Sentuhan Haruto membuatnya gila. Kedua nipplenya terasa dimanjakan sedangkan kocokan demi kocokan dia rasakan pada kejantanannya. Belum sempat dia keluar, Haruto sudah menghentikan gerakan tangannya.
"Tenang saja, waktu kita masih panjang. Aku akan memberikan kenikmatan kepadamu," Haruto menjawab tatapan bingung sekaligus kesal yang ditunjukan kembarannya padanya. "Naruto, sentuh milikku," pintanya sembari berbisik di telinganya.
Naruto tersentak kaget. Pandangannya kini tertuju pada kejantanan Haruto yang belum menegang sempurna. Dengan penuh keraguan, dia menjulurkan tangannya dan memegangnya perlahan. Rasanya hangat dan berkedut.
"Bergeraklah bersamaku, Naruto."
Belum mengerti perkataan Haruto, suara desahan kembali Naruto keluarkan saat merasakan tangan kembarannya kembali bergerak naik turun. Secara refleks, tangannya pun ikut bergerak mengocok kejantanan Haruto.
"Haru – Haruto aku ingin... aku ingin..."
"Keluarkan saja, Naruto..."
Sesuai dengan perintah Haruto, beberapa saat kemudian dia pun mengeluarkan cairannya disusul oleh Haruto. Merasa lelah, dia menyandarkan punggungnya pada dinding bathup. Rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya, namun sebelum matanya menutup dia merasakan sesuatu sedang memasuki bagian dalam tubuhnya. Naruto menatap horor pada jari Haruto yang sedang masuk ke dalam anusnya.
"A-A-Apa yang kau lakukan, brengseeek!?"
"Apa maksudmu dengan apa? Tentu saja mempersiapkanmu, Naruto."
"Ta – Tapi kenapa harus lu-lubang itu? Tempat itu kan kotor!"
Haruto nampak berpikir. "Well, karena hubungan kita adalah homoseksual jadi hanya lubang inilah yang bisa dimasuki. Sudahlah, bear with it."
Urat kemarahan Naruto menegang. "Bear with it, my ass! Kau bisa mengatakan hal itu karena bukan kau yang dimasuki, breng – aaah!"
Sebelum sempat melanjutkan umpatannya, jari Haruto telah bergerak keluar masuk di dalam lubangnya. Sebuah sensasi yang berbeda dia rasakan ketika jari kembarannya mengenai sesuatu di dalam dirinya.
"AAAH!" erangnya.
Haruto terkekeh kecil. "Nikmat bukan, Naruto?" dia terus mengenai titik itu. "Itu adalah sweet spotmu. Kau menyukainya, hmm?" di dalam lubang Naruto terasa hangat dan sempit.
Naruto tidak menjawab. Dia hanya mendesah dan mengerang menikamati permainan kembarannya.
Tanpa memberitahu Naruto, Haruto telah memasukan jarinya yang lain. Memperlebar lubang sempit Naruto dengan menggerakan jarinya secara zig-zag dan berkali-kali mengenai sweet spotnya. Dirasa sudah cukup, dia segera mengeluarkan jarinya dari dalam Naruto. Sekilas Haruto dapat mendengar kembarannya menghela napas lega sebelum berseru kecil saat kedua kakinya dia angkat dan disandarkan ke bahunya.
"Akan aku mulai, Naruto..."
Ekspresi bingung Naruto perlahan-lahan berubah ketika merasakan sesuatu yang lebih besar mendesak masuk ke dalam lubangnya. Dia mengerang tertahan, mata dan mulutnya terbuka lebar, dan air mata mulai menggenai matanya.
"Haruto... Aku – Aku takut... Sakit..."
Meskipun tidak tega melihat Naruto yang kesakitan, tapi Naruto tidak bisa berhenti. Ini sudah terlalu jauh untuk menghentikan kegiatan mereka. "Psst, tenang Naruto. Semua akan baik-baik saja. Peluklah leherku jika kau sakit," dia mencium kening kembarannya lembut.
Tanpa menunggu waktu lagi, Naruto segera memeluk erat leher Haruto sembari menahan rasa sakit. Napasnya terengah-engah pelan saat merasakan kejantanan Haruto telah masuk sepenuhnya.
"Kapanpun kau minta aku akan bergerak, Naruto."
Naruto hanya terdiam sembari mengatur napasnya kembali. Ternyata kejantanan Haruto jauh lebih besar dari apa yang dia bayangkan. Kulitnya terasa robek saat benda itu masuk ke dalam lubangnya. Meskipun dia takut, tapi Naruto penasaran dengan sensasi apa yang akan dia rasakan setelah ini.
"Bergeraklah," pintanya kemudian.
"Kau yakin?"
Melihat Naruto mengangguk, dengan perlahan Haruto mulai menggerakan pinggulnya. Setelah membiarkan kembarannya beradaptasi dengan miliknya, dia menaikan tempo gerakannya. Keluar, masuk; membuat air dalam bathup ikut bergerak. Sesekali pula dia mengeluarkan kejantanannya hingga pucuk sebelum menghentakannya masuk kedalam.
"Ahh – Ahhh – Nghhhh!
Naruto terus mengerang. Sensasi ini jauh lebih hebat daripada saat Haruto memainkan nipple dan kejantanannya. Tubuhnya bergetar oleh gairah. Kepalanya terasa kosong. Dia terus bergerak senada dengan tempo Haruto yang menekannya terus menerus.
"Haruto – ahh – sudah c-cukup! Aku mau – "
"Sebentar lagi, Naruto – nghh."
Haruto semakin mempercepat gerakannya. Menggesekan kejantanannya ke dalam lubang kenikmatan Naruto lebih cepat dan lebih dalam hingga akhirnya keduanya keluar bersama-sama sembari saling menerikan nama pasangannya. Carian yang keluar ada yang membasahi tubuh mereka, ada pula yang telah larut dengan air bathup yang sudah tidak hangat lagi.
Melihat Naruto yang mulai memejamkan matanya, Haruto tersenyum lembut. Dia menyingkirkan rambut basah yang menutupi wajah kembarannya dan mengecup lembut keningnya.
"Terimakasih, Naruto. Selamat tidur. Aku mencintaimu."
-x-
To Be Continued
-x-
Maaf sekali. Aku benar-benar minta maaf. Pada chapter sebelumnya aku bilang akan mengupdate cerita ini cepat, tapi ternyata tidak. Tiba-tiba saja kena WB dan meskipun sedang liburan di kampus ada banyak kegiataan gomen.
Tapi untung saja, chapter kali ini selasai. Dan apa-apaan itu lemonnya...!? Huaaa. Malu sekali. Maaf ya kalau lemonnya terlalu vulgar atau nggak hot seperti yang dinginkan kaliaan. ;_; ini aku ngestuck banget di adegan lemonnya... #OTL
Terimakasih untuk kalian yang sudah mereview fanfic ini hingga fanfic ini bisa mendapat review 200 lebih! Terimakasih banyaaaak dan terimakasih juga yang telah mereview pada chapter sebelumnya!
Mohon chapter ini direview juga. Mohon chapter selanjutnya ditunggu. Sekali lagi terimakasih banyak.
