"The Tales Of New Ninja"

Disclaimer : Masashi Kishimoto©Naruto

Genre : Adventure

Rating : T

Warning : Typo-/Miss Typo, OOC, Alur terlalu cepat/kurang jelas,Strong!Naru,GodLike!Naru,Alive!MinaKushi,Gray!Naru, dll.

NB : - Sebagian besar dari cerita ini merupakan modifikasi alur di canon dan beberapa bagiannya merupakan imajinasi Author.

=ENJOY=

Sebelumnya :"Itachi? Kenapa?" Tanya Tobi.

Naruto menatap langit- langit ruangannya. "Yah, kurasa mendekatkan diri dengan sesama mantan ninja Konoha." Bohong Naruto.

Tobi mengangguk. "Akan kukatakan padanya. Beristirahatlah malam ini." Dan akhirnya dia keluar dari kamar Naruto.

"Hidan ya." Ucap Naruto kemudian mulai memejamkan matanya.

Akatsuki

Pagi hari di desa Ame seperti biasa dihiasi oleh hujan yang cukup deras. Awan hitam yang bergelayut disana menghalangi sinar mentari sehingga suasana cukup gelap. Di dalam sebuah kamar dengan sebuah jendela, seorang bocah berambut pirang dengan tenangnya tidur diatas ranjang sambil mendengkur.

Kriett…

Pintu ruangan itu terbuka. Menampilkan seorang laki- laki dengan dua buah keriput di bawah matanya. Perlahan ia mendekat ke arah ranjang dan duduk diatasnya.

Si bocah kuning terusik. Ia menyingkirkan selimut yang menutupi seluruh badannya itu kemudian mengusap matanya. "Oh, Itachi."

Laki- laki disebelahnya itu mengangguk. "Tobi bilang dia ingin kau dan aku merekrut Hidan."

Naruto mengambil posisi duduk disebelah Itachi. "Hoamm… Baiklah aku akan bersiap."

Itachi kembali mengangguk dan segera pergi dari kamar Naruto.

"Kurasa hari ini akan menyenangkan." Kata Naruto sambil melangkah keluar kamarnya juga.

Tok…Tok…Tok…

Sebuah ketukan pintu mengusik ketenangan ruang Hokage pagi itu. Seorang Kage dan veteran Kage di dalamnya mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu itu.

"Masuk!"

Dari pintu itu masuklah seorang laki- laki dengan perban di sebelah kiri matanya. Berjalan perlahan menggunakan tongkat, pria itu maju mendekati meja Minato.

"Danzo! Apa yang kau inginkan?" Tanya Hiruzen To The Point.

"Aku ingin mengajukan permintaan. Terutama padamu Hokage-sama." Ucap pria yang dipanggil Danzo itu.

Minato menatapnya lekat- lekat. "Dan apa itu?"

"Aku ingin memintamu untuk mengijinkanku menangkap dan membawa pulang Naruto."

Hiruzen dan Minato melebarkan matanya. "Untuk apa kau melakukan itu?"

"Salah satu Anbu ne-ku sudah melihat pertarungan antara kalian bertiga melawan Orochimaru. Dan menurut pengamatannya, Naruto memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia bisa menjadi senjata yang-"

"Tidak! Aku tidak akan mengijinkanmu untuk menangkap Naruto!" Balas Minato tegas.

Danzo terdiam. Tak lama ia kembali berbicara. "Bukankah secara pribadi kau juga ingin Naruto untuk kembali?"

"Ya. Itu memang yang kuinginkan. Tapi, aku ingin dia kembali atas kemauannya sendiri, bukan paksaan orang lain!" Minato bersikeras dengan keputusannya itu.

Hiruzen tersenyum. 'Jawaban bagus, Minato.' Ucapnnya dalam hati.

Sedangkan Danzo terdiam, lalu ia mengangguk. "Baiklah jika itu keputusanmu. Aku permisi." Dan akhirnya ia meninggalkan ruangan itu.

Minato kembali menyandarkan badannya. "Haahh…"

Hiruzen terkekeh. "Tidak kukira kau akan memberi jawaban itu, Minato."

"Aku juga tidak berpikir akan berkata begitu." Kemudian Minato memutar kursinya dan menatap keluar jendela.

"Kuharap Danzo tidak mengirim Anbunya secara diam- diam setelah tidak mendapat izin darimu." Kata Hiruzen lagi.

"Kuharap juga begitu."

"Haaah…Baru sehari aku beristirahat. Sekarang pergi lagi." Keluh Naruto.

Orang disebelahnya alias Itachi Uchiha menatapnya. "Jadi bagaimana keadaan Konoha kemarin?"

"Yah, kurasa baik- baik saja. Hanya beberapa bangunan yang hancur. Selebihnya tidak apa- apa." Balas Naruto.

"Begitu ya."

Naruto teringat sesuatu. "Kau masih berhutang penjelasan Itachi."

Itachi kembali menoleh. "Hah, baiklah. Alasanku menjadi nukenin dimulai ketika aku berusia enambelas tahun." Itachi memulai ceritanya.

"Saat itu, ayahku Fugaku Uchiha berpikir bahwa klan Uchiha semakin tersingkir dari desa Konoha. Hal itu diperkuat dengan keberadaannya di pinggir desa. Cukup jauh dari pusat desa. Fugaku berpikir bahwa satu- satunya cara agar klan Uchiha bisa mendapatkan tempat adalah dengan mengadakan kudeta." Itachi menjeda.

Naruto memahaminya. "Jadi, ayahmu merencanakan untuk mengkudeta Konoha bersama dengan para Uchiha?"

Itachi mengangguk. "Aku sudah coba membicarakannya baik- baik. Tapi hasilnya nihil. Sebagai mata- mata Uchiha untuk Konoha, aku bertanggung jawab untuk memberikan informasi itu kepada para tetua Konoha. Tentu saja mereka terkejut. Dan akhirnya mereka memberi pilihan. Aku berperang bersama Uchiha melawan Konoha, atau aku harus membunuh seluruh klan Uchiha."

Naruto terdiam sejenak. "Tidak ada pilihan lain, kah?"

"Sebenarnya ada. Rencananya adalah menggunakan genjutsu khusus milik sahabatku Uchiha Shisui. Namun salah satu matanya berhasil diambil oleh Danzo."

"Danzo? Aku ingat pernah diburu sekali oleh Anbu nya."

"Lalu, akhirnya aku mengatakan kepada para tetua bahwa aku akan membela Konoha. Tapi dengan syarat bahwa Sasuke tidak ikut. Dan akhirnya, aku meminta bantuan Tobi untuk membunuh seluruh klan Uchiha di malam sebelum kudeta dengan imbalan aku ikut organisasinya. Sejak saat itu, aku menjadi nukenin Konoha."

Naruto tersentak. "Jadi Tobi ikut membantai klan?!."

"Begitulah." Balas Itachi.

Kemudian keduanya kembali terdiam.

Lalu Naruto kembali berucap."Omong- omong, Sasuke pernah bercerita padaku tentang dirimu. Katanya kau itu sangat baik padanya. Bahkan melebihi kedua orangtuamu. Tapi dia membencimu setelah apa yang kau lakukan pada klan." Naruto mengambil minum dari tasnya kemudian menyegarkan tenggorokannya sejenak. "Dia berniat membalas dendam padamu. Katanya jika mau kuat harus memiliki kebencian."

Itachi sedikit tersentak. Namun ia sembunyikan dalam wajah datarnya itu. "Kau berusaha merubahnya?"

"Tidak. Aku hanya mengatakan bahwa tekad juga akan membawa kekuatan." Balas Naruto.

"Itu benar. Dan kurasa kau harus belajar fuin penyimpanan agar tidak perlu membawa tas seperti itu." Komen Itachi lagi.

"Ehehe…"

Sudah sekitar tiga jam mereka berjalan dari Amegakure. Menurut mata- mata Tobi yang Naruto ketahui namanya adalah Zetsu, Hidan berada beberapa kilometer dari Amegakure. Katanya juga, dia memiliki kemampuan dimana jika berhasil mendapatkan darah lawannya, ia akan menggunakan jutsu yang dapat membuatnya abadi kemudian membunuh lawannya dengan perantara dirinya.

"Nah, ini dia tempat yang dikatakan Tobi. Seharusnya orang itu tidak jauh dari sini." Ucap Naruto.

Mereka melihat- lihat sekitar. "Tidak ada tanda keberadaannya!"

SRING! SET!

Tiba- tiba sebuah sabit bermata tiga hampir mengenai Naruto dan Itachi jika saja mereka telat menunduk. Tapi dengan reflek yang mereka miliki serangan itu berhasil dihindari.

Kemudian muncul seorang berambut perak dengan warna pucat dengan sebuah hitai-ate dengan motif tiga buah garis miring tercoret. "Bagus juga reflek kalian!"

Itachi menatap orang itu. Sharingannya selalu hadir di kedua matanya itu. "Apa kau Hidan?"

Hidan menatap Itachi tanpa rasa takut. "Mau apa kalian?"

Naruto maju kedepan Itachi. "Kami ingin merekrutmu kedalam organisasi kami."

Hidan yang melihat Naruto seketika itu tertawa. "Hahaha! Bocah mau merekrutku kedalam organisasinya?!"

Itachi menepuk pundak Naruto. "Biar aku saja."

Naruto mengangkat tangannya kemudian berjalan ke bawah sebuah pohon. Ia mengeluarkan sepotong roti kemudian memakannya.

Itachi maju beberapa langkah. "Ku katakan sekali lagi. Ketua ingin kau bergabung dengan organisasi kami. Dan jika kau tidak mau melakukannya, kami akan melakukan dengan cara kasar."

Hidan menatap mata Itachi tanpa ragu- ragu. "Kalau begitu lakukan!"

Hidan melaju ke arah Itachi kemudian mengayunkan sabitnya ke kepala Itachi.

Set!

Itachi menunduk, kemudian bersalto sambil menendang dagu Hidan.

Buagh!

Hidan terpental kebelakang, kemudian beberapa kali menghantam tanah.

"Ugh…" Hidan bangun kemudian mengusap dagunya yang terkena tendangan Itachi.

"Kukatakan sekali lagi. Ketua ingin kau bergabung."

"Tidak akan!" Hidan kembali melaju ke arah Itachi sambil memegang sabitnya itu.

Itachi ikut maju dengan sebuah kunai di tangan kanannya.

Trang!

Bunyi besi yang berbenturan terdengar ketika kunai Itachi dan sabit Hidan beradu.

Hidan tersenyum sombong. "Heh, aku tidak terkalahkan! Aku ini abadi!"

Itachi tidak membalah. Tangan kirinya ia gunakan untuk membuat segel tangan kemudian menarik napas dalam.

Katon : Goukakyu No Jutsu!

"Oh sial!" Tidak mau terbakar sia- sia, Hidan segera melompat beberapa kali kebelakang kemudian menghindar kesamping sehingga bola api itu mengenai sebuah batu.

"Aku harus berhati- hati. Dia itu bukan ninja biasa. Dan kurasa dia seorang Uchiha." Gumam Hidan yang sedari tadi terus melihat ke mata Itachi.

Naruto yang sudah menghabiskan potongan rotinya kemudian menatap kedua orang itu. "Kurasa pertandingan ini akan segera berakhir."

Hidan kembali melaju menggunakan sabitnya, dan kali ini ia benar- benar seperti seorang yang kerasukan. Berulang kali ia mengayunkan sabitnya ke arah Itachi, hingga akhirnya salah satu serangaannya berhasil menggores pelipis Itachi.

"Akhirnya!" Hidan kemudian bersalto kebelakang beberapa kali. Setelah berhenti ia membuat sebuah segitiga di dalam lingkaran di tanah dan seketika tubuh Hidan berubah menjadi hitam dengan beberapa bagian putih.

"Inilah keabadian yang kukatakan tadi. Sekarang terimalah persembahaanku Jashin-sama!" Hidan kembali mengambil sabitnya, kemudian mulai menusukannya ketubuhnya sendiri.

"Ugh… Bagaimana rasa-" Ucapan Hidan terhenti. Itachi masih dalam keadaan baik- baik saja, bahkan pelipisnya juga tidak terdapat luka.

"Bagaimana…Kau-Uhuk!" Hidan terbatuk darah.

Itachi menunjuk ke tubuh Hidan. Terlihatlah tubuh Hidan yang masih seperti biasa, tidak berwarna hitam dan putih. "Bagaimana…Bagaimana kau-"

"Genjutsu." Kini Naruto maju de sebelah Itachi.

"Ta-tapi kapan?"

"Dari awal kau menatap Sharingannya kau sudah terperangkap didalamnya." Mereka berdua maju ke depan Hidan. "Kau kalah. Kini kau anggota kami."

Hidan mencabut sabitnya kemudian meletakan di sampingnya. "Hah…Kurasa organisasi kalian berisi orang- orang keparat."

Kemudian Hidan mengambil posisi terlentang dan menutup matanya. "Beri aku waktu tigapuluh menit."

Syutt!

Tiba- tiba sebuah pusaran muncul di belakang Naruto dan Itachi. Dari dalamnya keluarlah seorang laki- laki bertopeng oranye.

"Tobi?" Ucap Naruto dan Itachi bersamaan (Nb: Tobi udah bilang ke Naruto supaya manggil Tobi, Nagato, Konan pake suffix-nii/nee waktu pribadi saja).

"Kurasa kalian berhasil membujuk Hidan, walau dengan sedikit paksaan." Kemudian Tobi mengambil tiga buah jubah bercorak awan merah beserta tiga buah cincin lalu memberikannya kepada Naruto.

"Pakailah. Itachi 'shu' jari manis kanan, Naruto 'ku' kelingking kiri, Hidan 'san' telunjuk kiri. Kalau sudah, kalian bertiga segeralah ke tempat yang sudah kuberitahukan pada Itachi." Kemudian Tobi mengambil satu barang lagi. "Dan Naruto. Pakailah ini!" Setelah memberikannya kepada Naruto, Tobi kembali hilang kedalam pusaran.

Naruto melemparkan jubah dan cincin milik Hidan diatas sabitnya. Sementara milik Itachi sudah ia berikan. Naruto menggunakan jubah yang diberikan Tobi, kemudian memakai cincinnya. "Wow! Aku sudah resmi menjadi kriminal!" Lalu ia mengambil barang terakhir yang Tobi berikan.

Benda itu adalah sebuah hitai-ate Konoha yang tercoreng. "Jadi aku harus menggunakan ini? Tapi aku bukan nukenin."

Itachi ikut menatap benda itu. "Kau akan. Sebaiknya kau cepat pakai. Kita akan berangkat setelah kubangunkan manusia zombie itu."

Naruto memakainya di leher, sama seperti Hidan.

"Hei kau! Bangunlah!" Itachi menendang pelan badan Hidan.

Akhirnya Hidan membuka matanya. "Hah?"

"Kita harus pergi ke markas. Pakai jubah dan cincinmu. Cincinmu di telunjuk kiri." Itachi menunjuk jubah dan cincin Hidan.

"Baiklah." Ucap Hidan kemudian menggunakan jubah dan cincinnya.

"Ayo pergi!" Kini Naruto yang berucap.

Dan akhirnya mereka segera pergi menuju markas rahasia tersebut.

"Kenapa kertas ini tidak ada habisnya?!" Minato berteriak frustasi. Setelah kenangan buruknya hilang, kini ia kembali menjadi 'Minato-yang-benci-kertas'.

Sedangkan Hiruzen yang dari tadi menghisap cerutunya terkekeh. "Tidak perlu sampai seperti itu. Lebih baik kita minum teh dulu sembari menenangkan diri. Kurasa kau juga butuh sedikit minuman hangat karena cuaca mendung ini."

Minato mengangguk, kemudian segera berdiri dari kursinya. "Kurasa aku butuh itu." Dan akhirnya mereka segera pergi dari ruangan yang bagai neraka itu.

"Baiklah. Latihan cukup sampai disini saja. Aku baru ada urusan yang harus diselesaikan" Ucap seorang ninja bermasker dengan rambut abu- abunya yang menantang gravitasi.

"Baik sensei." Balas ketiga muridnya.

Seketika itu juga ia meninggalkan mereka bertiga dalam sebuah kepulan asap.

"Haah… Aku lelah sekali." Kata bocah laki- laki berambut merah. Kemudian ia berjalan menuju sebuah pohon dan duduk bersandar dibawahnya.

Kedua temannya kemudian berjalan mengikutinya.

Sasuke mengambil tiga buah minuman isotonik kemudian melemparkan dua diantaranya kepada Menma dan Sakura.

"Arigatou!" Ucap mereka.

Awan gelap diatas sana membuat suasana sedikit dingin. Dan tak lama kemudian hujan turun.

Menma dan Sakura segera pamit kemudian berjalan meniggalkan Sasuke. Sedangkan dirinya masih asik berada dibawah pohon itu, ditemani suasana dingin serta tetes hujan yang datang dari sela- sela dedaunan diatas pohon tersebut. Tanpa sadar ia kembali mengingat lagi ketika Naruto dan Nagato bersama dirinya masih berada disini.

Flashback

Di tempat yang sama dengan suasana yang sama. Sasuke, Naruto, dan Nagato baru saja menyelesaikan latihan mereka hari itu.

"Kau kalah, Sasuke!" Kata Naruto sambil menodongkan kunai ke wajah Sasuke. Kemudian ia meletakan kunai itu dan mengulurkan tangannya kearah Sasuke.

"Heh. Kau hanya beruntung." Balas Sasuke sambil menyambut uluran tangan Naruto.

Nagato yang melihat mereka hanya bisa tersenyum. "Hei kalian! Ayo cepat pergi! Hujan sudah semakin deras."

Mereka berdua berjalan mendekati Nagato yang berada di bawah pohon. "Aku masih ingin disini. Kalau kalian berdua mau pulang duluan saja." Kata Naruto.

Sasuke menatap Naruto. "Yah, kurasa aku akan menemaninya disini."

Nagato tersenyum lagi, kemudian mengangguk. "Jangan terlalu lama. Akan kubuatkan ramen untuk kalian berdua." Dan akhirnya Nagato menghilang menggunakan Shunshinnya.

Naruto segera duduk dan bersandar di bawah pohon itu sambil memejamkan matanya. Sasuke mendekat kemudian duduk disebelahnya.

"Jangan terlalu dekat. Atau kau akan kuanggap penyuka sesama jenis selamanya." Ucap Naruto.

"Siapa yang mau mendekatimu?!" Balas Sasuke sewot.

Keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya Naruto memecah keheningan itu. "Hei pantat ayam. Bagaimana kalau kau pulang dan menyiapkan air panas untukku?"

Sasuke menggeram. "Untuk apa aku melakukan itu?!"

"Yah, mungkin untuk menebus kebaikanku melatihmu." Naruto membalas santai.

"Kau bahkan hanya melatihku dua kali! Sisanya kau menghajarku hingga memar disana- sini!"

"Ehehe…"

Flashback End

"Dasar manusia bodoh!" Gumam Sasuke. Ia sedikit tertawa mengingat semua perdebatannya dengan Naruto. Namun melihat hujan yang semakin deras, akhirnya Sasuke memiilih untuk pulang ke rumahnya.

"Ha-ha-haaciw…" Dengan tidak elitnya Naruto bersin di sebelah Itachi. "Kurasa ada yang membicarakanku."

Itachi dan Hidan menatap Naruto kemudian ber-sweatdrop ria. 'Bocah aneh.' Batin mereka.

"Jadi ini tempatnya?" Tanya Hidan ketika mereka melihat sebuah batu besar di bawah tebing.

Itachi mengangguk. "Hanya tinggal mengalirkan chakra kita ke batu ini. Maka otomatis akan terbuka."

Setelah berkata begitu Itachi segera meletakan tangannya dan mengalirkan chakranya.

Perlahan- lahan batu itu bergeser dan akhirnya membuka jalan masuk menuju sebuah gua yang cukup luas didalamnnya.

"Ayo masuk!" Kata Itachi kemudian mulai masuk kedalamnya.

Tiba- tiba Naruto merasakan hasrat buang air."Kalian duluan saja. Aku ingin menuntaskan panggilan alamku."

Kening Hidan dan Itachi terbentuk sebuah persimpangan. Baru saja Hidan akan mengayunkan sabitnya, Naruto sudah menghilang dari pandangan mereka.

"Biarkan saja bocah itu! Lebih baik kita segera masuk." Ucap Itachi lagi kemudian masuk kedalam gua itu.

Beberapa langkah kemudian mereka menemukan semuanya sudah berkumpul.

"Maaf kami terlambat!"

"Dimana Naruto?" Tanya Nagato.

"Dia sedang-"

"Disini!" Tanpa wajah bersalah Naruto melangkah ke samping Itachi.

Beberapa orang disana sedikit tertarik melihat kehadiran Naruto.

"Tadi aku mendapat panggilan alam. Jadi silakan mulai saja!"

Nagato berdehem. "Baiklah karena kalian semua sudah lengkap. Kita akan memulai pertemuannya. Alasanku mengumpulkan kalian karena kalian adalah orang- orang kuat dari berbagai desa. Mungkin beberapa dari kalian menginginkan kedamaian, sama seperti diriku. Maka dari itu, aku ingin meminta kerjasama kalian : Hidan, Kakuzu, Deidara, Sasori, Kisame, Tobi, Konan, Itachi, dan Naruto. Kita akan menetapkan satu tujuan, menangkap ke sembilan Bijuu dan akan menciptakan kedamaian bersamanya. Peperangan yang terjadi akibat perebutan kekuatan mereka akan kita akhiri. Dan kita akan memimpin dunia ini dengan kekuatan para Bijuu itu."

Nagato mengatupkan tangannya.

Brak!Brak!Brak!

Beberapa saat kemudian, sebuah patung raksasa dengan sepuluh mata muncul dari dalam tanah. "Dengan ini kita akan menyimpan para Bijuu hingga ke-sembilannya terkumpul. Selama itu akan kuberikan waktu sepuluh tahun. Tidak perlu terburu- buru untuk menangkap mereka. Kalian juga tidak perlu takut tertangkap dan diburu oleh negara elemental. Karena kalian berada dibawah lindungan, AKATSUKI!"

Mereka semua menatap Nagato dengan kagum, kecuali Naruto.

'Jadi itu misi sesungguhnya.' Batin Naruto kalut.

"Kalian akan dibagi menjadi beberapa tim kecil dengan dua orang dalam satu timnya. Hidan-Kakuzu, Tobi-Kisame, Deidara-Sasori, Naruto-Itachi, Aku-Konan. Itu saja yang ingin aku sampaikan."

Mereka semua terdiam. Kemudian Deidara berteriak. "Hei Nagato-san! Apakah kami tidak diijinkan memilih partner kami?! Aku tidak mau dijadikan satu tim dengan dalang boneka ini!"

Twitch!

"Apa maksudmu dengan dalang boneka dasar tangan penjilat!"

"Hei kau! Apa benar kau abadi?" Tanya Kakuzu pada Hidan.

Hidan menoleh ke arah Kakuzu."Tentu saja dasar wajah topeng-UGH!" Secara tiba- tiba Kakuzu menggunakan semacam benda hitam dari tubuhnya kemudian menusuk Hidan.

"Dasar bodoh!" Dengan gagang sabitnya Hidan memukul kepala Kakuzu hingga terpental.

Sedangkan Naruto hanya bisa menatap mereka dengar tertawa. "Hahaha! Apa benar organisasi ini berisi kriminal?"

Seorang laki- laki berwajah hiu tiba- tiba ada di sebelah Naruto. "Hei bocah! Apa kau memang kuat sehingga kau dimasukan kedalam organisasi ini?"

Naruto menatapnya. "Sepertinya begitu. Staminaku saja yang lemah. Yah mungkin karena aku masih enambelas tahun."

Kisame merasa tertarik dengan Naruto. "Bisakah kau menunjukan salah satu kemampuanmu."

Naruto mengangguk. Segera saja ia membentuk beberapa segel tangan.

Mokuton : Shicuro No Jutsu!

Potongan- potongan kayu muncul dari bawah kaki Kisame kemudian membentuk sebuah penjara kayu dengan empat pilar.

Kisame membelalakan matanya. Bahkan seluruh orang disana langsung terdiam. "Ti-tidak mungkin?!"

Itachi yang melihat itu juga tidak kalah terkejutnya. "Kau bisa menggunakan jutsu Mokuton?"

Naruto menggaruk belakang kepalanya. "Yah, tapi tingkatnya masih jauh sekali dibawah."

Setelah berkata begitu Naruto melepaskan penjara kayu itu.

Kisame yang telah melihat kemampuan Naruto tadi merasa kagum. "Boleh juga kau bocah. Siapa namamu tadi? Naruto?"

Naruto mengangguk. "Lebih tepatnya Namikaze Uzumaki Naruto."

Kembali Naruto mengejutkan orang- orang disana.

"Jadi kau anak Konoha no Kiroi Senko?!" Kini giliran Deidara yang bertanya.

"Ya begitulah. Tapi itu sudah menjadi cerita lama." Balas Naruto.

"Apakah kita sudah boleh pergi?" Kata Naruto lagi.

Nagato mengangguk. "Kalian boleh pergi."

"Ayo Itachi." Naruto berjalan perlahan menuju pintu keluar. Diikuti oleh Itachi serta yang lainnya.

Timeskip - 3 Tahun kemudian.

Sudah tiga tahun semenjak pembentukan Akatsuki. Beberapa negara elemental yang telah mengetahui kekuatan dari Akatsuki memilih untuk menyerahkan beberapa misi yang berbahaya pada organisasi ini. Tentu saja dengan bayaran yang tidak sedikit. Tapi hal itu sebanding karena kesuksesan misi yang dijalakan selalu seratus persen.

Selama itu pula Naruto dan Itachi telah mengalami banyak hal bersama. Itachi juga sudah mengetahui seluruh rahasia yang Naruto sembunyikan selama ini, begitupula sebaliknya. Itachi yang sudah mengetahui segalanya akhirnya menyerahkan Sharingan milik Shisui dan mentrasplantasikannya di mata kiri Naruto. Selain itu, Itachi juga mengajari beberapa teknik dari Sharingan.

Uniknya, ternyata Naruto tidak kelelahan saat menggunakan Sharingan, walaupun ia bukan seorang Uchiha. Dan lagi, matanya juga tidak akan mengalami kebutaan karena secara ajaib chakranya juga membantu regenerasi di matanya.

Perubahan fisik juga terjadi di tubuh Naruto. Rambut kuningnya itu semakin panjang karena tidak pernah di potong. Wajahnya yang semakin dewasa tentu menambah daya tariknya. Ditambah dengan tingginya yang melebihi Itachi.

Kemampuan Naruto juga semakin meningkat. Dengan memburu beberapa nukenin dan mendapatkan uang, Naruto menjadi semakin berpengalaman dalam pertarungan. Pernah sekali ia terlalu banyak bicara hingga nyawanya dan Itachi hampir melayang. Karena itu ia berubah menjadi orang yang pendiam, seperti sekarang ini.

Dengan tenang mereka duduk di sebuah tebing yang dibawahnya adalah laut. Matahari yang sudah mulai kecoklatan menjadi tanda bahwa sebentar lagi malam akan tiba. Namun Naruto masih tidak mau beranjak dari sana.

"Hei, Naruto!" Itachi menepuk pelan kepala Naruto.

Sejak tadi Naruto tidak berbicara sama sekali. Dirinya hanya menatap ke bawah tebing.

"Ah iya. Ada apa?"

"Kemarilah! Itachi memberikan gestur untuk mengikutinya.

Naruto bangun, kemudian membersihkan pakaiannya dari tanah yang menempel, lalu berjalan mengikuti Itachi.

"Kita mendapatkan misi baru."

Naruto merasa tertarik. "Apa itu?"

"Memburu Ichibi."

Naruto berpikir sejenak. "Berarti kita ke Suna?"

Itachi kembali mengangguk. "Kudengar dari Zetsu, Orochimaru berhasil membunuh Yondaime Kazekage beberapa bulan yang lalu. Jadi kurasa menangkap Ichibi akan lebih mudah. "

"Orochimaru?!" Naruto menatap Itachi tidak percaya. "Tapi bagaimana dia membunuhnya?"

"Menurut informasi, Orochimaru membunuhnya diam- diam ketika dia sedang tidur. Dia menyelinapkan seekor ular yang sangat beracun dan ular itu menggigit Kazekage. Karena desa Suna tidak memiliki penawarnya, dia wafat beberapa jam kemudian. Sejak saat itu, Gaara terpilih menjadi Godaime Kazekage."

Naruto mengangguk paham. "Jadi kita akan memburu Kazekage berikutnya? Sungguh ironi."

"Yah, kita tidak punya pilihan." Itachi menghela napasnya pelan.

Naruto menoleh ke arah matahari. "Kurasa kita harus beristirahat. Perjalanan ke Suna cukup jauh bukan?"

Itachi mengangguk. "Kupikir begitu. Baiklah. Ayo beristirahat."

Dan akhirnya mereka mulai meninggalkan tempat itu untuk beristirahat.

Tanpa mereka sadari, seseorang mengawasi dari kegelapan. "Khu…Khu…Khu…Rupanya bocah itu anggota Akatsuki." Mata reptilnya menajam. "Kurasa akan semakin menarik." Lanjutnya kemudian menyatu dengan tanah.

TBC

A/N : Halooo! Bertemu lagi dengan author gaje dengan cerita yang semakin gaje pula. Author meminta maaf yang sebesar- besarnya jika chapter ini tidak memiliki hal- hal yang menarik. Author bahkan sempat berpikir untuk men-discontinue-kan fic ini. Yah, mungkin karena author sedang kehabisan ide untuk jalan ceritanya.

Oh iya. Mungkin author akan meminta banyak saran mengenai jalan cerita kedepannya. Kalau sekiranya readers sekalian punya ide yang bisa author pinjam, readers bisa menuliskannya di kolom review, atau bisa pm juga. Hehehehe….

Sekali lagi author meminta maaf untuk beberapa kekurangan dalam chapter ini. Juga terimakasih buat para readers yang mau meluangkan waktunya untuk review, fav dan follow cerita ini. Nah, sampai ketemu di chapter 12!