Disclaimer : Touken Ranbu milik Nitro

AN : mencoba menulis anmitsu/yasukiyo... maaf kalau ada karakter yang out of character


Kashuu memakai apron dan mulai mencuci piring dengan wajah merenggut kesal. Yasusada menatap Kashuu dengan tenang sambil meminum vitamin C hangat.

"Bantu aku, pilah pakaian putih dan yang berwarna. Kamu punya mesin cuci kan?" tanya Kashuu sambil menaruh gelas bersih di rak pengering.

Yasusada menyelesaikan minumnya dan menambah cucian Kashuu.

"Baiklah, baiklah. Tapi aku mau bilang kalau kamu pakai apron, kamu seperti istri yang baru nikah denga-" Yasusada tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Kashuu sudah menggunakan tangannya dan mengibas tangannya yang basah untuk menyerang Yasusada dengan air bekas cucian. Yasusada cepat-cepat kabur ke ruang cuci baju.

Sesudah Kashuu selesai mencuci piring, Kashuu mengecek Yasusada yang mengeluarkan pakaian putih yang sudah selesai di cuci.

"Tinggal pakaian berwarna sih." kata Yasusada.

"Hmm...baguslah." tanpa banyak bicara, Kashuu membantu Yasusada mengangkat separuh jemuran.

'Biarpun tak di minta, dia tetap saja mau menolongku. Kiyomitsu meman-' batin Yasusada.

"Yasusada, apa yang kamu pikirkan?" tanya Kashuu.

"Ah...bukan apa-apa..."

"Oh."

"Kita tidur di kamar master saja ya? Sekalian pesta tengah malam, mau?" tanya Yasusada.

"Memangnya kita mau melakukan apa sampai tengah malam?"

"Nonton video? Main game? Gosip?"

"Kita kan bukan perempuan yang hobi gosip. Lagipula mau menggosip hal apa?"

"Apa saja."

"Hm..."


Kashuu terbangun kaget. Mata merahnya melirik Yasusada di sampingnya yang enak-enak tidur sambil memeluk Kashuu. Mungkin dia salah mengira Kashuu sebagai guling. Kashuu bergerak, mendorong Yasusada menjauh. Yasusada mengeluarkan suara protes kecil sebelum kembali tidur dan memeluk Kashuu.

"Dasar bocah." gerutu Kashuu pasrah.


Pagi datang dengan cepat. Kashuu mau tak mau membangunkan Yasusada yang masih mengantuk.

"Nanti telat, bangun!"

"Masih jam enam...biarkan aku tidur..."

"Ini sudah jam tujuh! Kamu mau lewatin sarapan?!"

"Istriku, aku masih ngantuk. Biarkan papa tidur setelah aktivitas kemarin..."

"...YASUSADAAAAAA! MATI SAJA KAMU! CEPAT BANGUUUNN NANTI TELAT!"


Mereka bertemu Yamanbagiri di kelas dan Yamanbagiri menatap mereka.

"Yasusada, kenapa ada bekas tamparan di wajahmu?"

"Ini? Aku di tampar is-AAAKKKGGhh!" Yasusada mengaduh kesakitan.

Kashuu diam-diam menginjak kaki Yasusada. Dan tolong ingat kalau sepatu Kashuu solnya lebih tebal dari standar sekolah.

"...Aku tak akan tanya lagi." kata Yamanbagiri.


"Kelas kita akan berpartisipasi dalam festival sekolah tahunan." kata ketua komite kelas.

Kashuu menghela nafas. Dia tak mau dipaksa ikut dalam hal merepotkan begini.

"Ada saran?" tanya ketua komite.

"Rumah hantu!"

"Kafe!"

"Resto!"

"Takoyaki!"

"Maid kafe!"

"Ini sekolah laki semua! Siapa yang usul maid kafe?!"

"Drama!"

"Kita voting saja!"

Kashuu mengangkat tangan, berharap mereka setuju akan kafe atau resto. Tapi apa mau dikata, author berkata lain, takdir berkata lain. Kelas setuju dengan drama.

"Ada usul mau drama apa?"

"Romeo dan Juliet!"

"Putri Salju!"

"Si Tudung Putih!"

"Hey!"

"Kita voting lagi saja!"

Voting di menangkan oleh Romeo dan Juliet hanya karena lebih mainstream.

"Omong-omong, karena ini sekolah khusus laki, harus ada yang mau mengalah menjadi peran perempuan." kata si ketua komite.

"EEEHHHh?"

"Juliet dan ibunya, nanny-nya Juliet, lalu..."

"Ada usul siapa yang akan kalian korbankan?"

"Kashuu Kiyomitsu-kun!"

"Okita Yasusada-kun!"

"Yamanbagiri Kunihiro-kun!"

"Siapa yang mendukung Kashuu-kun sebagai Juliet?" hampir separuh kelas mengangkat tangan.

Kashuu terhenyak melihat Yasusada dan Yamanbagriri mengangkat tangan.

"Kalian berdua pengkhianat!" teriak Kashuu.

"Kami tak cocok pakai rok."

"Aku tak mau melepas tudungku."

"Kalian berdua bukan temanku lagi!" protes Kashuu.

"Siapa yang mendukung Okita-kun sebagai Juliet?" hanya beberapa yang mengangkat tangan termasuk Kashuu.

"Kenapa kalian semua tak ada yang mau Yasusada sebagai Juliet?" tanya Kashuu.

"Mau apalagi?"

"Mana ada Juliet dengan sabuk hitam di aikido dan pemenang kompetisi kendo seprovinsi?"

"Siapa yang mau Kunihiro-kun sebagai Juliet?" tangan yang naik lebih banyak dari Yasusada tetapi tak sebanyak Kashuu.

"Baiklah, Miss Juliet sudah di tetapkan."

"Tunggu, aku menolak!"


Doudanuki dan Mutsu berjalan di lorong sambil membawa beberapa barang yang akan di pakai sebagai dekorasi kelas.

"Kelasmu mengadakan apa, Doudanuki?" tanya Mutsu.

"Rumah hantu. Lebih baik daripada butler kafe." Jawab Doudanuki.

"Gyahahahah! Kelasku membuat kios takoyaki! Akan ada campuran takoyaki keju!"

"Eugh! Bisa di makan engga tuh?" Doudanuki meringis membayangkannya.

Mereka berdua terdiam ketika ada yang berlari melewati mereka. Lalu, Yasusada dan Yamanbagiri mengejarnya.

"...Itu barusan Kashuu Kiyomitsu kan?" tanya Mutsu.

"Yang lebih penting..."

"Kok dia pakai gaun?" tanya mereka berdua kompak.


Kashuu berlari kencang menghindari murid di lorong.

"Tunggu Juliet!" teriak Yasusada.

"Kashuu-kun, kembali!" bujuk Yamanbagiri.

"NO! Siapa yang mau jadi Juliet!?" teriak Kashuu sambil terus berlari.

"!"

Para rare empat alias anggota OSIS sekolah kebetulan lewat di perempatan lorong.

"Senpai! Tolong tangkap Kashuu!" teriak Yasusada.

"!"

Tsurumaru refleks menangkap Kashuu dan menjatuhkan Kashuu dengan gerakan judo.

"Hoaaa!" Kashuu terkesiap.

Tsurumaru berhasil membekuk Kashuu dan Yasusada tersenyum.

"Terima kasih, Kuninaga-senpai."

"Kenapa Kashuu-kun sampai kabur begini?" tanya Ichigo Hitofuri.

"Kashuu akan jadi Juliet kelas kami." jawab Yasusada bangga.

"Hmmm...pantas saja Kashuu-kun memakai dress setengah terpakai begini? " Tsuru tersenyum nakal.

"Juliet, bersediakah engkau menjadikan hambamu ini sebagai budak cintamu?" tanya Tsuru sambil memegang tangan Kashuu dengan wajah tengil.

"Tsurumaru-kun." panggil Uguisumaru dengan wajah tersenyum mengerikan.

Sebuah kipas kertas mendarat mendarat di kepala Tsurumaru, meghadiahkan benjol.

"Cinta memang derita tiada akhir..." komentar Kousetsu sambil menghela nafas.

"Juliet sayang, waktunya kembali ke kelas." kata Yasusada dengan senyum manis yang mengerikan.

"Maaf merepotkan senpai sekalian." Yamanbagiri menundukkan kepala, meminta maaf.

"Tunggu! Aku engga mau jadi Juliet! Aku engga pernah setuju soal Julieeeeetttt!"


Kashuu menatap dengan wajah tak suka. Kostum Julietnya berupa dress impian para gadis, anggun, lembut dan putih. Tapi Kashuu bukan gadis dan dia ingin kabur sekarang juga kalau bukan Tarou yang menahannya. Wajah Kashuu merah menahan malu. Yasusada mencoba kostum Romeonya dan Yamanbagiri memakai kostum Tybalt.

"Pak Tarou...kenapa bapak setuju dengan drama ini?"

"Kudengar satu kelas setuju."

"Aku engga setuju!"

"Voting separuh kelas melawanmu itu tak akan mungkin kau menangkan."

"Ugh!"

"Juliet!" Yasusada terlihat senang-senang saja memakai kostum Romeonya.

"Bagaimana?" tanyanya.

"Mati saja kamu, Yasusada! Gara-gara kamu, aku jadi Juliet!" gerutu Kashuu kesal.

"Kalian sudah seperti suami istri kok." Komentar Yamanbagiri.

"Juliet engga punya ikemen voice!" protes Kashuu.

"Romeo juga bukan shota." tambah Tarou.

"Hey, aku bukan shota! Hanya suaraku yang terdengar shota!" protes Yasusada.

"Yasusada, bisakah kamu pergi ke teluk tokyo dan tenggelamkan dirimu di sana?" tanya Kashuu yang kesal.

"Tidak! Kalau aku mati, tak ada yang bisa membantumu mengecat kuku!"

"...aku yakin Jirou akan dengan senang hati membantuku." jawab Kashuu kalem.

"Level argumen kalian seperti level argumen Rei." komentar Yamanbagiri.

"Ha?!" Yasusada dan Kiyomitsu spontan melihat ke arah Yamanbagiri bersamaan.

"Maksudnya, level anak usia lima tahun." demikian penjelasan Tarou.


Waktu pulang sekolah, Rei berada di depan sekolah dan Yamanbagiri membawanya ke kelas. Rei tersenyum manis dan dengan mata berbinar-binar, menatap bunga kertas yang di dapatnya dari Hachisuka.

"Ini bagus kan?" tanya Rei.

"Ya." jawab Kashuu dengan lelah.

"Kiyo-nii kenapa?" tanya Rei.

"Kiyo-nii lelah karena drama. Makanya Rei jangan ganggu Kiyo-nii." jawab Yamanbagiri.

"Drama apa?" tanya Rei penasaran.

"Romeo dan Juliet."

"...O*eo?" tanya Rei antusias.

"...itu kan merek biskuit, Rei." Yamanbagiri menghela nafas.

Ya...anak kecil mana tahu shakespeare dan Romeo Juliet sih?

"...Rei tahunya bulan Juli!"

"...itu nama bulan bukan Juliet." jawab Yamanbagiri.

"..." mata Rei berkaca-kaca seolah siap menangis kapan saja.

"Manba, jangan meladeni anak kecil dengan tajam. Sini Rei, mau coba melipat ini?" tanya Kashuu sambil menawarkan origami bangau kertas.

"Burung!"

"Bangau...ini rasanya out of contexts. Ya sudahlah. Begini cara melipatnya." Kashuu mengajarkan Rei melipat kertas itu.

"Kalau kita lembur, siapa yang antar Rei pulang?" tanya Kashuu sambil melipat sayap bangau itu

"Mutsu. Dia kan sayang anak kecil." jawab Yamanbagiri sambil menatap naskah dramanya.


Rei yang tertidur pulas di gendong Mutsu yang akhirnya selesai untuk hari ini. Kashuu menghela nafas kecapaian. Rei bertekad melipat 100 bangau dan tertidur setelah membuat dua puluh.

"Bantu aku, Tybalt." kata Kashuu.

"Dari bagian mana? Lagipula memang boleh aku baca bagian Romeo? Nanti Yasusada marah lho."

"Dia bukan ibuku! Shuddup and just do it! 不要太慢*!" kata Kashuu. (*Jangan lambat!)

"Aku engga ngerti mandarin." jawab Yamanbagiri kalem.

"Maaf, ini kebiasaan kalau emosiku yang lebih jalan."

"Semua bahasa tercampur ya? Kadang Horikawa juga begitu. Bahasa jepang dan ceko bercampur kalau marah."

"Wow, Horikawa sekarang keren dong? Dia kan campuran."

"Jangan dekati saudaraku, syal merah." kata Yamanbagiri dengan aura mengintimidasi.

"Dia rekanku saja tahu!" Kashuu cepat-cepat berkelit.