Disclaimer: Masashi Kishimoto
Aku suka kamu sungguh
Tidak bohong meski sedikit
Aku senang didekatmu sangat
Bukan jauh, bukan seperti ini, atau semacamnya
.
.
[ Bagian Kedua dari Chapter 10 ]
.
.
"Ada lagi?"
Sasuke membalikkan badannya dan mendapati senyum tulus dari Hinata, seorang teman seangkatannya, sekaligus penjaga toko buku tempatnya berada kini.
"Ada lagi yang kau butuhkan, Sasuke-kun?" tanya Hinata sopan, sekali lagi.
Sasuke mengalihkan pandangannya pada tumpukan buku di belakang Hinata. Ia menunjuk salah satu buku, novel tentang cinta. Hinata nampak mengerjap lalu memandangi Sasuke dengan tatapan heran. 'Jarang-jarang,' pikirnya.
"Tolong ambilkan yang itu!"
Hinata mengerjap beberapa kali.
"A-ah, baiklah."
Hinata berbalik dan menuju ke rak buku itu.
Sementara Hinata tengah mengambilkan buku untuknya. Sasuke kembali melakukan aktivitas yang tadi sempat tertunda. Memata-matai—ahh, bukan, bukan, lebih tepatnya menjaga seorang gadis berkacamata bening. Di dekat jendela. Ada cahaya Sang Surya, di siang menjelang sore, memasuki celah-celah kaca toko, kemudian menempa gadis putih berambut merah itu. Rambut merahnya, kulit putih dan halus pula, tatapan seriusnya pada sebuah objek.
Ahh, betapa bea…
"ini…"
"Ya, cantik."
"Cantik?"
Sasuke menegang ketika didengarnya sebuah suara dari belakang tubuhnya dan kemudian ia membalikkan badan. Kini, yang didapatinya adalah wajah Hinata yang tengah malu-malu sambil menyerahkan novel.
Sasuke meneguk ludahnya agak lumayan banyak.
Kata cantik, yang keluar dari mulut lelaki, apalagi seorang Uchiha Sasuke, bisa menyebabkan sihir tersendiri. Itu mengerikan!
"Sasuke, aku sudah, ini."
"Ah, Karin, ini tidak seperti apa yang kau lihat. Kau tahu aku juga manusia biasa. Aku kadang bisa melakukan beberapa kecerobohan yang…"
Ia berhenti bicara dan mengatupkan mulutnya saat ternyata Karin hanya memandanginya dengan tatapan yang aneh. Ia sekilas menangkap apa yang sedang dilakukan Hinata.
Gadis manis itu terkikik geli.
'Sebegitu cerobohkah aku kini?'
"Aku tunggu di luar, Sasuke." Karin mengendikkan bahu sambil berjalan ke luar.
"Y-ya."
Hal selanjutnya yang dilakukan oleh Sasuke adalah membayar biaya beli buku sambil dalam hati merutuki kebodohannya. Dalam hal asmara. Mungkinkah, ia, harus berguru kepada seseorang? Tapi siapa?
Kakaknya?
Uchiha Itachi?
.
.
.
.
Pada waktu yang hampir sama. Di tempat lain. Ada seorang Haruno Sakura yang tengah menyusuri lorong sekolah. Sekolahan pada saat ini telah lengang. Guru-guru mungkin sedang berada di ruangannya. Lalu berhubung pula sepertinya hari ini banyak ekskul yang diliburkan, bahkan dari tadi ia belum bertemu dengan seseorang.
Ia sendiri pula tidak ada kerjaan sedari hati. Hanya saja untuk menghindari seseorang yang sudah lima belas hari ini mengiriminya pesan-pesan singkat. Ia sahabatnya kok, sampai sekarang, meski memang jelas hal seperti ini tidaklah sopan.
Sakura berjalan dengan mengendap-endap ketika hampir sampai di gerbang sekolahan. Tidak ada yang mencurigakan. Hm, hm, hm.
Hanya ada sebuah kepala kuning lancip-lancip.
Eeee… tunggu dulu…!
Kepala kuning? Lancip-lancip?
Sebuah durian?
'Narutooo!' Ia kaget, menjerit dalam hati. Sigap segera. Ia menyembunyikan tubuhnya di balik gerbang. Mengamati pemuda berambut kuning dengan hati-hati.
Remaja laki-laki itu memejamkan matanya sambil menghirup udara, menikmati sedikit semilir angin yang datang. Untuk beberapa waktu, ia berdiri di sana. Dan Sakura mengamatinya.
.
.
.
.
Sasuke mengerutkan kening ketika ia sedang berjalan keluar dari toko dan mendapati Karin tengah melambaikan tangan selamat tinggal kepada seorang pemuda. Tampan memang. Dan, mengapa Karin memasang senyum seperti itu? Mengapa tidak untuknya saja? Apa hubungan keduanya?
"Oh, Sasuke, sudah selesai?" tanya Karin. Senyum manisnya belum pudar.
Sasuke mengangguk dan mulai melangkah. Uzumaki Karin mengikuti dari belakang.
Mereka berdua berjalan pulang dalam diam.
.
.
.
.
Sakura masih menunggu sampai Naruto mau pulang lebih dulu. Sejauh ini, lima belas menit waktu telah terbuang. Gadis itu mengelap keringat di dahi putihnya. Lelah memang, tapi semuanya sudah terlanjur begini.
Akhirnya, penantian bagi Sakura telah berakhir. Pemuda itu telah menjauh dari arah gerbang. Sakura segera keluar dari wilayah sekolah. Celingak-celinguk sebentar, kemudian mengembangkan senyumnya. 'Jelas bahwa Si Baka itu tidak akan sabar, hahaha…' pikirnya senang.
Namun tiba-tiba, sebuah suara mengagetkannya…
"Ayo pulang, Sakura-chan."
Sakura pucat pasi mendengarnya. Badannya terasa membeku untuk beberapa saat.
Naruto, tak ingin kehilangan kesempatan lagi, maka ia beranjak tepat di depan Sakura. Memasang senyuman lima jarinya.
"Oh, ha-i, Na-ruto." Sakura menyapa gerogi.
Pemuda di depannya tersenyum sumringah.
"Rasanya sudah begitu lama kita tidak sedekat ini, Sakura-chan." Ia menatap mata Sakura begitu tenang. Ia tersenyum lembut. Pada akhirnya, Sakura tersenyum serupa.
Naruto menggaruk kepalanya setelah beberapa waktu berlalu mereka di sana tanpa berucap satu atau bahkan dua buah patah kata. Sebenarnya, ada yang ingin ia sampaikan. Perasaannya, yang pada saat ini terasa tidak sanggup lagi ia bendung.
"Sakura-chan." Panggil Naruto pada Sakura.
Sakura tersenyum meski terkesan terpaksakan.
"A-aku ingin mengatakan sesuatu."
Kini Sakura mencoba tertawa dengan alasan gerogi sang pemuda.
"Sebenarnya… a-ku… aku…" Naruto seakan kehilangan bagaimana cara bernapas dengan benar.
"Aku suka kamu sejak dulu," kata Naruto cepat, pada akhirnya.
Sakura memandangi Naruto seksama. Ini mimpi kah? Atau kenyataan?
Gadis putih berparas ayu itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan bercanda Naruto." Ia mulai melangkah. Membuat Naruto mengikutinya.
"Aku tidak bercanda kok, Sakura-chan."
Sakura berhenti dan menatap iris biru cerah sang pemuda.
"Dengar, mungkin aku juga menyukaimu, tapi aku tahu bahwa kamu sudah punya yang lain. Mungkin kamu memang sudah mencuri hatiku, tapi aku tidak mau jadi yang kedua."
Sakura melangkah lagi. Ia tidak menyadari tentang apa yang telah diucapkannya tadi.
Sedang Naruto meski sempat terkejut, ia bergegas mengejar ketertinggalannya dari Sakura.
Kesempatan lebar, kesempatan emas. Tak datang dua kali.
"Tunggu Sakura-chan, apa maksudmu tadi?"
Sakura memandangi Naruto, heran, "Maksudku? Tentu aku…"
'Bodohnya aku.'
Sakura segera menutup mukanya malu dan berjalan cepat meninggalakan Naruto.
.
.
.
.
"Sampai di sini saja, Sasuke."
"Kenapa?"
"Ahh, bukan apa-apa, aku hanya tidak enak pada Bibi Mikoto."
"Tapi, aku sudah janji pada Naruto, mengantarmu pulang sampai ke rumah."
Karin tersenyum.
"Tenang saja, tinggal seratus meter saja kok, tuh di sana. Jadi, masuk sana. Hus… hus… hus…"
Meski dengan sedikit kurang suka Sasuke pun masuk ke kediamannya.
.
.
.
.
"Ayolah, Sakura-chan, aku suka kamu, sungguh."
Gadis berambut merah muda itu masih menatap tembok, membelakangi Naruto, wajahnya merah padam, ia sadar kini akan ucapannya tadi, kenapa juga ia jadi keceplosan soal perasaannya.
Ia memang juga suka. Tapi, kenapa harus sekarang?
"Apa kau perlu bukti, dattebayo!"
Naruto mencengkeram bahu Sakura dan membalikkan tubuhnya agar menatap ke sang lelaki.
"Tatap mataku!"
"Tidak, aku tidak mau."
Naruto menghela napas, "Aku suka kamu…" ucapnya. "Dan kamu suka…"
"Diam! Baka!" Sakura menjerit dan mulai terisak dengan beberapa bulir air mata turun dari pelupuk matanya. "A-ku memang suka kamu, tapi kamu sudah punya yang lain, kamu sudah punya K-arin, Nar-uto."
Naruto seketika terperangah dan membeku. Hal itu membuat Sakura tambah terisak.
"Memangnya, aku tidak boleh memilikimu ketika aku punya Karin-chan."
Karin-chan. Panggilan sayangnya?
Hampa terasa udara di sekita keduanya ketika suara tamparan berikutnyalah yang terdengar.
"Dasar laki-laki buaya!"
"Memangnya kenapa? Karin-chan itu sepupuku Sakura-chan."
Sakura belum sempat menjauh. Naruto menghampirinya yang kini membelakanginya. Ia untuk ke sekian kalinya berada di depan sang gadis.
"Karin-chan adalah sepupuku, dan kau adalah gadis yang aku suka. Aku ingin kau menjadi bagian dalam diriku. Dan aku dalam dirimu."
Kedua mata itu saling berhadapan. Cahaya mentari yang menerangi menghangatkan suasana sore hari. Wajah serius dan tatapan tajam itu. Haruno Sakura tahu, bahwa Uzumaki Naruto tidak sedang bercanda.
"Jadi, kau mau menerimaku?" tanya Naruto kepada Sakura.
Sakura sempat agak meragu. Namun ia sungguh tak ingin kehilangan seorang lelaki seperti Naruto.
"Y-ya, a-ku, ma-u."
Tangis haru yang mengalir dari matanya. Juga genggaman erat pada seragam sang pemuda. Menjadi tanda. Awal baru untuk keduanya.
.
.
.
.
Sasuke tahu bahwa ada yang aneh dengan Karin. Tidak biasanya, gadis bermahkotakan surai merah itu menolak antarannya sampai depan rumah. Maka ia masih di sekitar area luar rumahnya sekarang. Dan ia tahu, Karin, tidak pulang ke rumah paman Minato.
Lalu kemana dia?
Sesegera, Sasuke mengemasi barangnya dengan kilat. Membawa beberapa barang yang perlu. Mengabaikan tatapan aneh anggota keluarga yang lain. Dan memulai penyelidikannya.
Menjadi mata-mata, Uzumaki Karin.
Tas, sepatu, seragamnya masih sama. Beberapa hal telah ia persiapakan untuk berjaga-jaga. Karena pasti, ada hal-hal tak mengenakkan nanti.
.
.
.
.
Naruto dan Sakura sampai di kediaman Haruno saat matahari hampir terbenam. Pasangan muda mudi itu menghabiskan waktunya di taman tadi. Bahkan meski hanya memandang pohon, anak-anak kecil, kendaraan yang lalu lalang. Sudah membuat senyum senang terpatri berulang kali di bibir keduanya.
Sakura beberapa kali bertanya kepada Naruto tentang apakah ini kenyataan? Dan memang ini kenyataan.
Sungguh memang jika jodoh tidak akan kemana.
Naruto juga masih belum percaya akan dirinya sendiri, dari mana ia mendapatkan keberanian itu? Dari mana ia mendapatkan kata-kata itu?
Tetapi yang jelas. Hal ini, akan mereka jaga dengan kuat.
"Hm, Naruto, sampai jumpa besok."
"Ya, sampai jumpa besok, Sakura-chan."
.
.
.
.
Sasuke menyembunyikan dirinya di belakang semak-semak ketika Karin menengok kebelakang. Ia berjalan mengendap-endap sangat pelan agar suara langkah kakinya tidak membuat sang gadis curiga.
Karin masuk ke dalam telepon umum di pinggir jalan. Sasuke mencatat hal itu. Telepon mencurigakan, siapa? Kenapa? Dimana? Bagaimana?
Hanya dua menit. Hari hampir gelap. Karin keluar dari dalamnya. Tanpa membuang waktu, Sasuke segera masuk ke telepon umum itu. Ia memiliki firasat akan menemukan sesuatu.
Tiba-tiba, matanya menajam karena mendapati sebuah kertas coret-coretan yang sudah lucek.
Kertas belanjaan? Kertas nota? Atau kertas…
Suara ketokan kaca terdengar dari arah luar. Sasuke segera menunduk pada seorang kakek yang sepertinya ingin memakai telepon umum ini. Ia keluar dari sana.
Detik-detik berikutnya, Sasuke tak kuasa untuk tak bingung. Apalagi ketika telepon genggamnya berbunyi. Ia mengangkatnya… Uzumaki Naruto…
"Sasuke kau dimana?
"Kau bersama dengan Karin-chan, kan!
"Sekarang, Karin-chan kemana? Kenapa dia belum pulang ke rumah? Kenapa teleponnya tidak aktif? Dia bersamamu, 'kan!"
Sasuke tak mampu menjawab. Jangankan bisa menjawab. Ia sudah kehilangan jejak. Jalan sepi, dan orang berlalu lalang nampak lengang.
.
TBC
.
