Brokenheart

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Warn : AU, OOC, Typo(s), dll.

.

.

.

Don't Like Don't Read

Happy reading minna-san!

.

.

.

Chapter 11

Aku menatap takjub pada bagian dalam rumah ini. Dari luar tadi tampak begitu tak terawat, rumput tumbuh liar, pohon menjulang tinggi, pagar yang sudah tua. Tapi dalamnya sangat rapi dan dipenuhi barang-barang yang cukup mewah–meskipun berdebu. Ruang-ruang di dalamnya lengkap dengan semua perabotan yang dibutuhkan. Sayang sekali rumah sebagus ini tidak ditinggali. Apalagi tempatnya cukup asri dan sejuk karena dekat hutan.

"Senpai, sebenarnya ini rumah siapa?" tanyaku.

"Rumahnya Jiraiya-san." Zetsu-senpai yang menjawabnya.

"Siapa Jiraiya-san?"

"Pemilik rumah ini," sahut Hidan-senpai. Aku memutar mataku bosan mendengar jawabannya. "Aku tidak salah kan?" ujarnya tak berdosa. Kadang aku merasa gemas melihat sikapnya yang satu ini.

"Dia kenalan kami. Kenalan dekat," jawab Konan-senpai kemudian. "Berhubung dia sedang di luar kota, maka kita akan menggunakan rumah ini untuk menginap."

"Kita meminjamnya?"

"Kita menyabotasenya," sahut Pein-senpai di dekat telingaku. Aku melebarkan mataku mendengarnya.

"Apa tidak apa-apa?"

Konan-senpai menggeleng. "Dia memang jarang di rumah ini. Dia tidak akan tahu kita memakai rumahnya asal kita tidak meninggalkan jejak." Satu-satunya senpai cantikku itu mengedipkan matanya sebelum berlalu menyusul Pein-senpai yang tadi sepertinya menuju dapur.

"Saatnya bersih-bersih un! Nata, bantu aku menyapu un."

Aku menjawab Dei-senpai dengan gumaman. Tapi sebelum itu aku meletakkan tas besarku di atas sofa bersama dengan tas yang lain. Tas kami bertumpuk di sana.

Aku menyusul Dei-senpai menyapu ruang-ruang yang akan kami pakai. Sasori-senpai, Itachi-senpai dan Kisame-senpai mengambil beberapa futon dari sebuah kamar. Mereka dibantu Tobi-senpai dan Hidan-senpai menggelar futon-futon tersebut di atas lantai. Ada dua futon yang digelar terpisah dari yang lain, sepertinya itu untukku dan Konan-senpai. Aku sama sekali tak melihat Kakuzu-senpai dan Zetsu-senpai. Mereka terkadang memang suka menghilang, mungkin karena keduanya pendiam maka keberadaan mereka tidak akan terlalu terasa jika tidak ada. Mungkin.

"Hinata, bisa bantu kami sebentar?" Konan-senpai melambaikan tangannya dari dapur.

Aku menyusulnya ke dapur. Aku sedikit terkejut saat sudah cukup banyak makanan di meja makan. Ada berbagai macam menu.

"Makan di sini tidak akan cukup. Bisa bantu bawakan ke depan?" pintanya.

Aku menganggukinya dan mengambil dua dari sekian menu untuk dibawa ke depan. Pein-senpai sudah pergi duluan dengan setumpuk piring dan sendok ditangannya.

Ruang tamu yang kini sudah di sulap menjadi ruang tidur massal juga dipenuhi berbagai macam makan malam kami. Semua tertata di atas dua meja panjang yang digabung menjadi satu.

Kakuzu-senpai dan Zetsu-senpai datang dengan membawa beberapa camilan ringan dari pintu masuk. Keduanya juga langsung bergabung ke meja makan (dadakan) kami.

"Mobilnya sudah kuparkirkan dengan benar," ucap Kakuzu-senpai. Ia melempar kunci kepada Pein-senpai yang langsung menyimpannya ke dalam saku celananya.

"Juga tidak ada barang yang tertinggal." Gantian Zetsu-senpai yang memberikan laporan.

Rupanya mereka habis mengecek mobil. Sepertinya semua anggota Akatsuki memang sudah tahu kalau itu tugas mereka berdua. Pantas tidak ada yang mencari keduanya meski mereka tidak kelihatan tadi.

"Yosh! Karena semua sudah berkumpul maka..."

"Ittadakimasu!"

Sambung semua anggota Akatsuki meneruskan ucapan Pein-senpai. Mereka langsung ribut berebut makanan di atas meja. Suasana mendadak ricuh. Aku tersenyum melihat semua itu. Ini adalah pengalaman pertamaku. Makan malam besar bersama teman di tempat yang akan kami tempati untuk tidur. Meja makan yang ramai juga baru pertama kali ini kutemui.

"Makanlah Hinata. Ini mungkin terasa asing karena kau pasti selalu mengutamakan manner, tapi nikmati saja."

Aku tersenyum dan mengangguk pada Itachi-senpai. Di rumahnya dia pasti juga selalu mengutamakan manner sepertiku. Namun, bersama mereka bukan berarti aku menjadi sama dengan mereka kan? Aku tetap harus sopan saat makan. Lagi pula aku seorang gadis, manner memang diperlukan untukku.

.

.

.

"Tidak bisa tidur Hinata?"

Aku menoleh dan mendapati Pein-senpai berjalan ke arahku dengan hati-hati agar tidak membangunkan anggota lain.

"Kau juga senpai?"

"Aku hanya terganggu dengan angin yang masuk," balasnya.

"Maaf."

"Bukan masalah."

Pein-senpai melompat kecil dan duduk di atas kusen jendela yang tadi kubuka. Dia hanya diam sambil menatap rembulan dan bintang yang bertabur di kanvas langit malam. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya–jendelanya memang cukup lebar untuk kami berdua. Kaki kami berdua menggantung dan bersentuhan dengan rumput liar yang tumbuh di bawah.

"Hinata..."

"Ya?"

"Apa kau membenci kami?"

"Tidak."

"Sekali saja tidak pernah?"

"Kupikir tidak. Aku hanya merasa takut, tapi tidak sampai membenci," jawabku. Dan itu memang benar. "Mungkin aku juga marah. Tapi tidak benci. Aku bukan tipe orang yang mudah membenci."

"Apa kau juga tidak membenci Naruto?"

"Tidak. Pada Sasuke, Sakura dan Sai juga tidak. Mereka hanya tidak tahu."

"Dan mereka menilaimu asal karena ketidaktahuan mereka. Kau pasti juga mengakui kalau yang mereka lakukan padamu itu tidak adil."

"Aku tidak ingin berurusan dengan mereka."

"Tapi kau sudah."

"Senpai benar. Bahkan Sasuke membenciku karena aku lebih dekat dengan Itachi-senpai dari pada dia. Naruto dan Sakura juga benar-benar mengira aku bukan gadis baik-baik dan hanya bermuka dua."

"Tapi kau tidak seperti itu."

"Terima kasih sudah membelaku."

"Itu faktanya. Bilang saja jika ingin membalas mereka. Biar kutunjukkan seperti apa sebenarnya Akatsuki itu."

Mendengarnya berkata begitu mengingatkanku akan perkelahian Sasori-senpai dan berandalan waktu itu. Itu mode Akatsuki-nya. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa mereka lakukan jika benar-benar ingin membalas mereka. Membayangkannya saja aku merasa ngeri.

"Tidak perlu senpai. Aku tidak ingin lebih terlibat dengan mereka dan mempunyai masalah baru."

"Padahal itu bukan hal sulit bagi kami."

"Terima kasih sudah peduli."

Pein-senpai menggelengkan kepalanya. Dia mengusap puncak kepalaku sambil tersenyum.

Pipiku rasanya panas dibuatnya. Aku harus mengalihkan perhatian.

Kutolehkan kepalaku ke belakang. Aku tersenyum melihat bagaimana polah tidur anggota Akatsuki.

Hanya Itachi-senpai dan Sasori-senpai yang tidur dengan anteng. Bahkan Kakuzu-senpai dan Zetsu-senpai juga tak beraturan tidurnya, kaki mereka saling bertumpukan satu sama lain. Tangan Dei-senpai menumpang pada kepala Sasori-senpai, sedang kakinya ada di badan Hidan-senpai. Hidan-senpai sendiri juga sudah berubah posisi, tangan dan kakinya ia rentangkan ke samping kanan dan kiri. Tobi-senpai juga tak kalah parah, bahkan ia yang paling parah. Kisame-senpai juga menumpangkan kakinya di atas kaki Itachi-senpai.

Setidaknya Konan-senpai masih cukup normal dalam tidurnya, ia kelihatan begitu pulas. Mungkin karena kelelahan.

"Begitulah mereka kalau tidur. Kau harusnya bersyukur lahir sebagai perempuan."

"Aku mensyukurinya. Tidak bisa kubayangkan jika aku laki-laki dan harus tidur di antara mereka."

"Sebaiknya kita juga segera tidur. Jangan sampai terlambat untuk besok." Pein-senpai turun dari duduknya dan menuju ke futonnya. Ia menyiapkan bantalnya saat aku menghentikannya.

"Senpai, terima kasih sudah menemaniku bicara. Itu membuatku lega karena sudah membicarakannya."

Pein-senpai hanya membalasku dengan senyumnya.

.

.

.

Aku memijakkan kakiku hati-hati pada batu-batuan yang terjal. Ini masih dini hari dan pandangan masih belum begitu jelas. Sinar mentari juga belum menunjukkan keberadaannya.

Tapi kami mensyukurinya, karena itu artinya rencana kami tidak gagal. Berarti rencana kami untuk menyaksikan sunrise di puncak patung–yang konon katanya pendiri Konoha di zaman shinobi–bisa terlaksana.

Berbeda dengan pengunjung lain yang melewati jalanan aspal menanjak menggunakan mobil, kami lebih memilih mencapai puncak dengan mendaki. Memang medannya tidak terlalu terjal, tapi cukup untuk membuat kaki pegal dan keringat mengaliri badan. Tapi yang akan kami dapatkan bisa membayar lunas semua perjuangan itu.

Aku mendongak saat sebuah ukuran tangan terjulur di depan wajahku.

"Kubantu."

"Sasori-senpai?"

"Mau tidak? Jangan membuatku menunggu lebih lama."

Itu memang khas Sasori-senpai.

Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya. Dia yang berada lebih atas dariku menarik tanganku agar aku lebih mudah untuk naik. Kami berjalan bersisian di barisan paling belakang. Di depan kami ada Tiba-tiba, Dei-senpai dan Hidan-senpai yang berjalan sambil berdebat. Aku cukup kagum mereka masih memiliki kelebihan energi untuk itu.

"Terima kasih sudah membantuku senpai."

"Kau memang layak mendapatkan bantuanku Hinata," ucapnya dengan tersenyum.

"Hah? Maksudmu?"

Ia tidak menjawab. Tangannya menggenggam tanganku dan menariknya ke tanah yang lebih tinggi menyusul anggota lain. Aku menatapnya keheranan. Ada apa dengan sikapnya ini?

"Kita tidak boleh ketinggalan ini," ucapnya menatap depan. "Tujuan kita sudah tercapai."

Aku mengalihkan mataku dari memandang wajahnya ke tempat dimana ia memandang. Disana terpapar semburat sinar matahari yang masih kemerahan. Tubuh gembul sang surya yang bulat sempurna perlahan juga mulai menunjukkan dirinya.

"Indahnya..."

"Untuk itulah kita disini. Ini liburan musim panas yang bagus bukan? Sinar matahari yang dibenci karena panas, ternyata juga memiliki keindahannya sendiri. Sama seperti kami..."

Aku tidak begitu mendengarkan perkataan Sasori-senpai karena terlalu hanyut dengan pesona keajaiban alam di dini hari ini. Tapi satu hal yang kutahu pasti. Tadi itu adalah kalimat terpanjangnya.

Wusssh...

Aku memeluk diriku sendiri saat angin berembus. Meskipun sekarang musim panas, angin sepagi ini tidak berubah dan tetap dingin. Dan bukan hanya aku saja yang melakukannya, rata-rata dari pengunjung tidak mengenakan jaket. Mungkin mereka akan menghabiskan waktu di sini hingga menjelang siang. Air terjun di antara dua patung ini juga terkenal. Tempat ini juga memang sudah terkenal dengan pesonanya.

"Yosh! Selanjutnya kita akan menjelajah hutan!" seru Tobi-senpai begitu matahari sudah muncul sepenuhnya. Ia mengangkat sebelah tangannya ke atas.

"Bodoh un! Jangan berteriak!" Dei-senpai memukul kepala Tobi-senpai main-main. Tapi senpai yang menggunakan kaca mata ber-frame oranye itu tetap mengaduh kesakitan. Sering kali aku merasa lucu melihat tingkah mereka, apalagi jika ditambah dengan Hidan-senpai.

Seperti kata Tobi-senpai, setelah ini kami harus melanjutkan perjalanan kami ke hutan. Liburan kami sedikit unik. Kami mendaki, menjelajah hutan dan camping. Satu rencana sudah terlaksana, dari puncak patung ini kami akan turun ke tepian sungai dan menelusuri hutan Konoha.

Hutan ini memang dirawat dengan baik oleh pemerintah kota. Penjelajahan hutan menjadi salah satu objek wisata yang akhir-akhir ini booming. Suasana hutan yang masih alami menjadi daya tarik sendiri.

Kami juga akan mencari tanah lapang di hutan untuk mendirikan tenda. Kemah kami akan jadi mengasyikkan kupikir.

Liburan ini memang tidak mewah, tapi senang bisa menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Lagi pula ini akan jadi pengalaman pertama dan mungkin juga satu-satunya dalam hidupku.

"Hinata, ayo."

Aku mengangguk pada Sasori-senpai. Kami mulai berjalan menuruni puncak patung. Tapi baru beberapa meter sebuah mobil menghadang jalan kami.

"Mobil ini..." gumam Pein-senpai.

"Sasuke." Itachi-senpai berkata dengan dingin. Ia menatap dengan dingin.

Sasuke? Aku punya firasat kurang menyenangkan tentang hal ini.

Semoga tidak menjadi begitu buruk. Aku hanya ingin menikmati liburan kami.

.

.

TBC

.

.