"Terima kasih sudah datang."

Entah sudah berapa ratus kali ia mengatakan kata ini? Mulutnya terasa lebih pegal ketimbang kakinya yang ditopang sepatu tinggi yang berhasil membuatnya lebih dari sedagu pria disampingnya ini. Berjam-jam berdiri menyalami tamu dan terus berbasa-basi sambil memberikan senyuman terbaiknya membuat otot diwajahnya terasa kebas. Ia tidak heran jika setelah ini seluruh otot wajahnya akan berhenti bekerja dan beresiko mengalami penuaan dini.

Demi apapun itu. Ia lelah. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa lelahnya dirinya. Bekerja seharian di toko roti milik ayahnya, kerja lembur di perusahaan, berkutat dengan lembar-lembar pekerjaan terlihat lebih ringan ketimbang pesta pertunangan ini. Dan berita buruknya adalah ia masih ada satu babak yang lebih berat lagi! Pernikahan! Astaga! Bisa kalian bayangkan betapa beratnya itu?!

"Bisa kupinjam priamu sebentar, nona?" itu Naruto, teman Sasuke yang baru ia kenal setengah jam yang lalu bersama dengan satu temannya lagi, Shikamaru sepertinya namanya. Tentu ia akan mudah mengingat Naruto ketimbang temannya yang lain karena kepribadiannya yang berisik dan mencolok. Pria itu tersenyum lebar padanya, sok akrab.

Ia mengangguk pelan, memberikan persetujuan. Jadi secepat ia mengangguk, secepat itulah Sasuke sudah ditarik menjauh. Entah kemana dan untuk apa, ia tidak peduli sama sekali. Bawa jauh-jauh sekalian. Kalau bisa yang lama sekalian. Dia senang bukan kepalang tentunya bisa berada dalam radius yang jauh dari pria itu walaupun hanya untuk sementara.

Jadi Hinata akhirnya memutuskan untuk mencari tempat duduk. Jujur saja, bergabung dengan perbincangan seseorang, ia sungkan dan malas, ia tidak begitu kenal. Hanya sebatas nama dan ia tidak ingin menjadi orang sok akrab dengan mereka yang terlihat begitu jauh di atas dirinya. Ia masih merasa kerdil saja dengan mereka, tidak nyaman tentunya. Pembahasan mereka juga tidak jauh berbeda dengan pembahasan saat acara perkenalan. Tidak jauh-jauh dari kekayaan dan kemewahan. Walaupun sebenarnya, banyak juga yang tengah membicarakan dirinya. Tapi ia tidak ingin ambil pusing. Toh mereka tidak memberikan kontribusi apapun pada hidupnya ini. Masa bodoh saja.

Ia menggembungkan pipinya kesal, masih tidak menemukan tempat duduk. Kenapa pula harus standing party sih pesta pertunangannya? Mereka tidak memikirkan kaki-kaki wanita yang berbalut highheels sepertinya ya? Sialan.

Akhirnya ia berlabuh ke tempat minuman, mengambil segelas sampanye yang disajikan. Menyesapnya perlahan seperti yang diajarkan paman Sakumo dalam pelajaran berpesta akhir-akhir ini.

Tiba-tiba ia mendecih sebentar, teringat hidupnya yang baginya terasa berantakan. Bagaimana tidak? Di acara yang seharusnya membahagiakan ini tidak ada temannya sama sekali yang datang? Bukan karena keluarga Uchiha melarangnya. Hanya saja ia tahu diri. Mana mungkin dia mengundang teman masa sekolahnya dulu ataupun teman kerjanya? Itu sama saja mengumpankan teman-temannya untuk dipermalukan disini bersamanya. Sudah ia katakan berulang kali. Dirinya dan lingkungannya benar-benar berbeda kasta. Lagipula, tamu acara pertunangannya ini bukan orang-orang sembarangan. Masuk kesini saja penjagaannya begitu ketat. Ia benar-benar melempar kotoran ke temannya kalau mengundang mereka kemari.

Hanabi juga tidak kelihatan sejauh mata ia memandang. Gadis itu pasti sedang bersenang-senang mencari pria tampan atau tengah sembunyi-sembunyi memasukkan kekasihnya masuk ke pesta. Ia tidak punya klu sama sekali tentang adiknya. Kalau ayahnya dengan kakaknya sih sibuk di kerumunan para lelaki disana. Entahlah. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang terpenting ia masih bisa melihat ayah dan kakaknya. Setidaknya tidak begitu membuatnya merasa sendirian disini.

Sebenarnya bisa saja dirinya ikut berkumpul dengan kak Izumi, istri kak Itachi—kakak Sasuke, namun ia tidak begitu dekat dengan wanita itu. Kakak iparnya itu jarang berada di rumah, dan juga jarang mengajaknya berkomunikasi walaupun anak semata wayangnya jelas-jelas dekat dengannya. Yuriko juga tidak kelihatan. Mungkin tengah bermain dengan teman-temannya atau mungkin tengah beristirahat mengingat ini sudah memasuki waktu tidur gadis kecil itu. Hinata tentu tidak ingin repot-repot dengan bertanya pada kak Izumi. Dia malas memulai dan berbasa-basi. Lagipula kak Izumi terlihat sibuk berbincang dengan teman-temannya. Dia tidak suka berada dalam kerumunan orang asing.

Ia juga bisa saja ikut bersama nyonya Uchiha, yang berita besarnya adalah calon ibu mertuanya yang akan berubah status menjadi mertua sungguhan untuk beberapa minggu kemudian. Tentu ia tidak akan melakukan opsi itu. Hinata lebih memilih mendekam sendirian di keramaian ketimbang harus bersama ibu Sasuke itu. Dilihat darimanapun wanita paruh baya itu tidak menyukainya. Dan lagipula kepribadian mereka benar-benar tidak cocok, terlalu bertolak belakang. Ditambah lagi kata-kata yang dipenuhi pisau di ujung lidahnya. Membuatnya benar-benar tidak ingin mendekat jika tidak terpaksa. Benar kata orang-orang. Ibu mertua adalah gambaran ibu tiri yang sesungguhnya.

Hinata mengerjap lucu. Baru sadar kalau sampanye di gelasnya sudah habis. Ia tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri.

"Apa yang lucu?"

Ia terkesiap, terlonjak kaget dengan kedatangan Sai yang mendadak sudah berada disampingnya. Untung saja gelasnya tidak sampai jatuh. Bisa-bisa nanti ia menjadi pusat perhatian dadakan kalau itu benar terjadi.

"Oh? Ketua tim?!" tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Sai tersenyum geli. "Apa yang kau pikirkan sampai terkejut seperti itu?"

Hinata menggeleng keras. "Tidak ada. Ketua tim tiba-tiba muncul sih. Aku kan jadi terkejut." Hubungan formal antara mereka memang mulai menghilang, semakin dekat sejak pertemuan yang tidak disengaja kemarin.

"Maafkan aku. Ngomong-ngomong, dimana Sasuke?" tanya Sai sedikit heran melihat hanya dirinya saja disini.

Hinata mengedikkan bahu sebelum kemudian meletakkan gelas sampanye yang kosong ke meja. "Entah. Bersama teman-temannya tadi."

"Membosankan ya?"

Hinata mengangguk pasti. Lihat? Hanya ketua timnya saja yang mengetahui kebosanannya! Demi apapun! Menikah dengan Sai terlihat lebih menggiurkan dari awal dan semakin menggiurkan dengan bertambahnya waktu. Kenapa tidak ketua tim saja sih?

"Rasanya aku ingin melepas kakiku." Komentar Hinata sembari memperlihatkan salah satu kakinya yang tertutup gaun.

Sai tersenyum mengerti. Tentu ia tahu betul bagaimana lelahnya berdiri berjam-jam tanpa istirahat yang berarti. Belum lagi saat ditarik kesana kemari diperkenalkan ke orang-orang yang tidak pernah selesai untuk datang dan berbasa-basi. Dalam kehidupan keluarga Uchiha, ini adalah sebuah kegiatan sehari-hari. Terlalu banyak kegiatan formal setiap harinya.

"Ikut aku."

Hinata tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika tangannya ditarik lembut oleh Sai. Sialan! Degupan jantungnya tidak mau bernegoisasi dengannya. Rasanya dadanya bisa saja meledak kapan saja sepanjang tangannya digenggam oleh mantan ketua timnya itu.

Ternyata Sai membawanya ke balkon. Disana ada satu kursi, dan Sai dengan murah hati memberikannya untuknya. Pria itu berdiri bersandar di pagar pembatas dengan senyuman yang terkutuknya malah semakin membuat dadanya sesak karena lompatan jantungnya yang semakin menjadi-jadi. Rambut pria itu bergerak pelan akibat angin malam. Astaga! Ketampanan pria itu semakin menjadi-jadi saja dengan latar belakang langit malam dan kerlap kerlip kota Tokyo yang begitu menawan. Bisa tidak Sasuke Uchiha ditukar dengan Sai Uchiha saja, Tuhan?

Ia memijat kakinya, mencoba mengalihkan perasaannya yang tidak karuan.

"Lepas saja sepatumu."

Hinata mengigit bibirnya, kemudian mendesah pelan, merasa bahagia dan kecewa tanpa sebab pasti. Kenapa perhatian sekali sih pria ini?

"Biar kubantu." Dan tanpa menunggu persetujuannya, pria itu sudah mengambil alih kegiatannya untuk melepas sepatu berhak tinggi ini.

"Oh lihat kakimu memerah." Sai menunjukkan pergelangan kakinya yang memerah akibat tali sepatu yang padahal tidak begitu ketat, mungkin karena gesekan tali, Hinata menduga. Tapi bukan saja pergelangan kakinya yang menjadi korban, tumitnya memerah, memipih dan terasa begitu kebas. Ia tidak heran jika setelah ini dia akan menjadi saudagar kaya dengan kehadiran kapal dikakinya. Tumitnya akan pecah-pecah dan mengeras.

"Sehabis ini pastikan kau merendam kakimu ke air hangat. Itu akan membantu."

Hinata tersenyum sekenanya sembari menganggukan kepala. Merasa kecewa karena pria itu kembali ke tempat asal mulanya. "Tentu. Terima kasih ketua tim atas sarannya."

"Panggil saja Sai. Kita kan kerabat sekarang."

Hinata tertawa pelan, terpaksa tentunya, sebatas keformalan. "Akan kubiasakan."

Mendadak Hinata teringat sesuatu tentang pertemuan terakhirnya dengan Sai kemarin. Ia menatap pria itu tak percaya.

"Hei! Tunggu! Mana hadiahku?" tanyanya menuntut, bercanda tentunya.

Sai tertawa. "Ah benar. Kau masih mengingatnya rupanya."

"Kau kan sudah berjanji."

"Akan kuberikan nanti."

Bibir wanita itu mencebik sebentar, membuatnya tertawa gemas. "Kau berusaha menimbun ingatanku ya? Awas saja kalau kau nanti pura-pura lupa."

Sai hanya tertawa menanggapinya.

"Lebih baik kita kembali sekarang. Orang-orang akan mencarimu. Bisa saja nanti aku dituduh telah mencuri calon pengantin wanita dari calon pengantin pria sebelum pernikahannya."

Iya, ketua tim. Lakukan saja. Aku akan senang jika kau benar-benar melakukannya.

Hinata memaksakan senyumnya. "Ah benar. Ayo kembali."

.

.

.

"Nona Hinata. Bagaimana sih perasaan Anda bisa menjalin hubungan dengan Sasuke Uchiha yang terkenal akan kesibukannya yang super? Repot tidak?"

"APA?!"

Kiba dan Ino kompak berteriak keras di toko ramen yang tengah mereka sambangi sekarang hingga membuat kegaduhan. Mereka bahkan sampai mendelik meneriakinya. Ramen Kiba yang akan masuk ke mulut bahkan langsung turun kembali ke mangkok saking kagetnya melihat berita yang disiarkan secara langsung itu.

Hinata tertawa. "Repot tentunya. Bagaimana ya mengatakannya? Rasanya menyebalkan. Aku bisa saja meninggalkannya tapi dia terus memohon-mohon padaku tanpa henti. Aku kasihan padanya. Wajahnya bahkan sudah sangat menyedihkan kan?"

Tentu jawabannya yang kelewat nyleneh itu membuat gelak tawa media.

Hinata melirik Sasuke sebentar, memastikan ekspresi pria itu yang tampak sedikit kesal akan perkataannya. Biarkan saja. Kapan lagi dia mempermalukan pria sinting ini? Dendamnya masih membara kalau kalian ingin bertanya.

"Kalau ingin menjalin hubungan dengan Sasuke, lebih baik kalian pikir matang-matang dulu."

"Kenapa?"

"Dia lebih mencintai pekerjaannya ketimbang wanitanya. Dia selalu pergi saat kencan berlangsung. Dia juga tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya. Tidak ada kata romantis. Tidak ada makan malam penuh lilin ataupun kencan romantis. Dia itu pria yang membosankan. Jangan tertarik dengan wajah tampannya saja. Percaya padaku."

Awak media kembali tertawa mendengar penuturannya.

"Kalau begitu apa yang membuat Anda tertarik dengan Sasuke?"

"Apa ya? Aku kan kasihan padanya." Hinata mengiringi kalimatnya dengan tawa, bisa-bisa ia dipenggal kalau mengatakannya dengan nada serius. "Aku bercanda. Sasuke itu cepat tanggap, tidak suka mengatur dan memerintah, selalu mengerti diriku, dan tidak egois." Selama mengatakannya Hinata bahkan ingin muntah sendiri. Itu semua adalah sindiran keras untuk pria disampingnya ini. Ia bahkan sampai menekankan perkataannya satu persatu.

"Kalau Anda bagaimana?" pertanyaan itu ditujukan untuk Sasuke.

Sasuke tersenyum santai. "Tidak ada alasan khusus. Dia itu gadis bodoh."

Sialan! Pria itu benar-benar menabuh genderang perang dengannya?!

"Sudah tahu kalau aku pria membosankan, tapi tetap saja disisiku."

Mengabaikan sorakan menggoda, Hinata segera angkat bicara. "Itu karena kau yang memohon-mohon ya." Sahut Hinata tidak terima.

"Dan juga kekanakan. Kalian melihatnya?"

Mereka tertawa, membuat Hinata semakin geram. Ini tidak ada di naskah sama sekali! Melenceng jauh! Tunggu sebentar. Tapi kan dia yang memulainya duluan?

"Dia suka sekali berargumen. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Sekarang kalian tahu bagaimana aku bisa memenangkan tender selama ini. Aku berterimakasih padanya."

Sasuke melirik Hinata dengan tatapan layaknya pasangan yang tengah menggoda pasangannya, membuat wanita itu ingin sekali menampar wajah itu secepat mungkin. Terima kasih pantatmu itu!?

Tapi Hinata hanya tersenyum, menyembunyikan perasaan sebal yang terus tumbuh dengan liar pada dirinya.

"Temperamennya juga tidak main-main. Kalian akan suka jika mengenalnya. Kalian akan tahu bagaimana mood swing terbaik di dunia."

Astaga! Demi Tuhan! Hinata tahu sekali arti dari kata terbaik yang diungkapkan oleh Sasuke. Terburuk kan maksudnya?! Sialan kau Sasuke Uchiha! Akan kubalas setelah ini! Tunggu saja!

"Sepertinya Anda benar-benar mengurus nona Hinata dengan baik."

"Dia?!" Hinata lebih terkejut karena kata-kata tidak terima itu keluar begitu saja di depan awak media yang tengah meliput mereka.

Hinata tertawa canggung, menyembunyikan kekhawatirannya. Sasuke menggenggam tangannya. Kemudian menatapnya lembut sembari tertawa. "Ah benar, kau yang mengurusku selama ini. Terima kasih ya."

Walaupun semua orang mulai menyoraki mereka mengatakan kalau mereka pasangan yang lucu dan romantis. Tapi jujur saja. Yang ada dalam pikirannya adalah... Bolehkah aku muntah sekarang?

"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan? Melihat bagaimana kalian berinteraksi sepertinya sudah lama sekali."

Yang benar saja?! Tidak ada sebulan, demi Tuhan!

Hinata kembali tertawa, kemudian melirik Sasuke, memberikan kode pada pria itu untuk menjawab. Tiba-tiba lupa dengan naskah yang sudah ia hapalkan sebelum melakukan wawancara. Sialan! Seharusnya ia berlatih lebih keras lagi.

"Satu tahun."

"Iya. Satu tahun." Hinata ikut menimpali agar lebih meyakinkan.

"Wah. Ternyata tidak begitu lama ya? Hubungan kalian bisa dibilang masih muda untuk masuk ke ranah pernikahan. Apa yang membuat kalian yakin untuk naik ke level pernikahan?"

"Kalau tidak sekarang, aku tidak tahu kapan dia akan berubah pikiran untuk meninggalkanku. Katanya aku pria membosankan."

Tunggu! Tunggu! Kenapa pula dirinya malah bersemu merah sih mendengarnya?! Cheesy begitu, apa menariknya?! Kau benar-benar sudah tidak waras Hinata Hyuuga.

.

.

.

"Gila ya?!"

Ino membanting berkas yang ia pegang ke meja kerjanya.

"Dia bahkan tidak memberitahu kita sama sekali! Dia anggap apa kita ini?! Orang asing?!"

Kiba menghela nafas, bersandar pada kubikel milik Ino. "Dia pasti punya alasan tersendiri untuk merahasiakannya dari kita."

"Yang benar saja?! Itu yang kau anggap teman, huh?!" Ino sudah tidak bisa menghitung berapa kali dia mendecih memikirkan bagaimana bisa Hinata tidak memberitahunya sama sekali perihal hubungannya dengan direkturnya itu.

"Aku menghubunginya sejak tadi malam! Mengirim pesan, menelpon bahkan sampai membombardirnya dengan beribu pesan lewat media sosial. Tapi apa yang kudapat? Dia mengacuhkannya!" Ino kembali berorasi.

"Aku tidak bisa menerimanya! Kita akan datang ke pernikahannya dengan undangan atapun tanpa undangan! Jangan membawa hadiah! Itu hukuman untuk para penghianat!"

"Tentu. Aku ikut denganmu." Kiba menyetujuinya tanpa berpikir panjang.

"Aku masih tidak menyangka ternyata mereka sudah berhubungan sebelum Hinata bekerja disini. Pantas saja kedekatan mereka terbilang aneh. Hinata cepat sekali dekat dengan direktur."

Ino menyutujuinya. "Tapi kenapa direktur memecatnya? Rasanya aneh kalau dipikir-pikir."

"Sepertinya ada masalah pribadi. Alasan pemecatannya juga sedikit sensitif kan? Mereka benar-benar pasangan yang aneh menurutku."

"Aku rasa mungkin karena mereka akan menikah dan kau tahu benar kalau karyawan dalam perusahaan ini tidak ada yang boleh menikah dengan karyawan sini sendiri. Harus ada yang resign kan?"

"Tapi bukankah lebih baik jika resign dengan cara normal? Maksudku aneh saja kalau Hinata dipecat secara langsung oleh direktur kan? Semakin kupikirkan, semakin rumit saja. Aku tidak bisa menemukan alasan yang tepat tentang mereka."

"Terserah! Pokoknya Hinata hutang penjelasan dengan kita berdua! Penghianat itu tidak akan kumaafkan sampai dia mengatakan yang sebenarnya! Berengsek!"

"Dia pintar sekali memainkan perannya. Bersikap seolah-olah dirinya tidak tertarik dan membenci direktur sampai sel darahnya. Tapi pada kenyataannya malah begitu dekat sampai-sampai mau menikah seperti ini. Direktur juga pintar betul merahasiakannya. Mereka benar-benar pasangan hebat." Sebenarnya ketimbang pujian, ini adalah sindirian dari Ino.

Kiba sih hanya mendengarkan. Kalau Ino sedang seperti ini, tidak ada yang bisa menghentikannya. Seharian ini pasti hanya ini yang akan dibahas. Walaupun sebenarnya dirinya juga bertanya-tanya tentang hubungan antara direktur dengan teman dekatnya itu.

Dilihat darimanapun mereka berdua aneh baginya. Tidak ada alasan yang bisa masuk keotaknya tentang hubungan mereka. Walaupun dalam siaran tadi mereka berdua sudah mengatakan kalau mereka saling kenal secara tidak sengaja saat direkturnya mengadakan perjalanan bisnis ke Okiniwa setahun yang lalu. Ia sih bisa mempercayainya.

Tapi bagaimana mereka jatuh cinta yang membuatnya tidak habis pikir. Ini benar direktur Sasuke suka dengan Hinata Hyuuga? Kalau Hinata sih pasti mengiyakan seseorang seperti direkturnya ini. Siapa wanita yang akan melewatkan Sasuke Uchiha? Si direktur tampan yang terkenal akan kepawaiannya memenangkan tender yang penuh pesona karismatik hingga sering berlalu-lalang dalam majalah-majalah bisnis dan selalu terjual habis apalagi jika membahas kehidupan pribadinya? Ia rasa itu adalah sebuah ketidakmungkinan yang hakiki.

Ia tidak tahu kalau selera direkturnya itu yang meledak-ledak seperti Hinata. Bukannya ia tidak senang dengan kabar bahagia itu. Tapi Kiba pikir tipe direkturnya itu yang kepribadiannya pendiam, tenang, elegan, cerdas dan kalian tahu kan yang dimaksud olehnya? Benar-benar tidak bisa ditebak. Padahal dari dulu wanita-wanita yang dekat dengan direkturnya itu terkenal akan sifat dan kepribadian mereka yang tenang.

Dan juga bentuk tubuh Hinata? Bukan. Tubuh Hinata tidak jelek, ia tidak berpikir begitu. Hanya saja biasanya wanita yang dekat dengan direktur itu seperti model atau artis-artis papan atas. Dengan tubuh yang gempal seperti itu, lalu tinggi badan yang berbeda jauh terlihat tidak masuk akal baginya.

Mungkin benar kata orang-orang. Cinta itu buta.

.

.

.

Hinata memandang alat pemutar musik portabel yang ada di tangannya. Senyumnya kembali merekah. Ia tersenyum lucu, entah kenapa jadi gemas sendiri ketika mulai mencoba alat pemutar musik itu.

"Bahkan sudah ada lagunya." Ia menjerit tertahan ketika mulai mengoperasikan benda pipih itu.

"Ketua tim! Anda selalu yang terbaik!" ia menahan suaranya agar tidak meninggi kesenangan. Entahlah, ia merasa barang ini adalah barang paling romantis di dunia ini. Ia bertanya-tanya kenapa ketua timnya itu memilih alat pemutar musik portabel sebagai hadiah pertunangannya. Di jaman yang serba canggih ini, ponsel sudah dilengkapi pemutar musik dan bahkan aplikasi pemutar musik juga mudah didapatkan dengan milyaran lagu yang bisa dipilih sesuai keinginan kita. Tapi pria itu memberikannya ini. Sesuatu yang seharusnya mungkin perlu dipikir ulang untuk dijadikan sebagai hadiah di jaman sekarang. Tidak ingin membuat dirinya pusing akan jawabannya, Hinata memilih masa bodoh saja. Toh pemberian seseorang kan harusnya diterima dengan suka cita.

Kepalanya mulai mengikuti irama lagu yang tenang. Hinata harus mengakui lagu yang dimasukkan pria itu tidak mengecewakan. Walaupun isinya lagu-lagu yang kebanyakan tidak ia ketahui. Tapi itu benar-benar bagus. Ia tidak suka musik menghentak, lebih suka model-model lagu tenang dan juga romantis tentunya. Dan berita baiknya itu semua ada disini. Entah darimana pria itu tahu selera musiknya. Mungkin sekedar menebak. Kalau begini kan dia semakin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak jatuh ke pesona Sai Uchiha.

"Jadi kakak memutuskan untuk jatuh cinta dengan—"

Hinata melirik menuntut. Maksudnya apa!

"—Tuan S?"

Hanabi bergeser, menghindari bantal yang melayang kearahnya karena ulah kakaknya.

"Pantatmu itu?! Tidak akan!"

Hanabi mencibir. "Aku akan menjadi orang yang tertawa paling keras kalau itu sampai terjadi."

"Dalam anganmu itu." Kakaknya kembali sibuk memilih lagu-lagu.

"Kakak yakin? Kulihat-lihat kakak jadi sering tersenyum bodoh setelah pertunangan kemarin. Karena apa?"

"Bukan urusanmu."

"Baiklah. Itu bukan urusanku." Hanabi menyerah, tidak ada habisnya berdebat dengan kakaknya. Padahal kakaknya itu jelas-jelas seperti orang yang tengah dirundung asmara. Kalau bukan dengan Sasuke Uchiha, lalu siapa?

"Kau dengan kekasihmu, bagaimana? Sudah putus?"

Hanabi menekuk dahinya heran, kakaknya pasti ingin mengalihkan topik.

"Tidak biasanya kakak bertanya. Ada apa?"

"Ingin tahu saja. Mana tau matamu sudah terbuka lebar."

Hanabi mendengus. "Kenapa kakak tidak suka dengan kekasihku? Hanya karena perbedaan umur? Sudah kubilang itu bukan masalah besar kak."

"Kalau begitu bawa dia kehadapanku! Akan kulihat bagaimana dirinya. Kalau dia dewasa, dia pasti sudah menemui ayah atau setidaknya berkenalan dengan kakak kekasihnya yang masih di bawah umur ini."

Sudah cukup. Kakaknya ini benar-benar suka sekali menyulut konfrontasi diantara mereka. "Sudah kubilang ia akan menemui ayah dan kakak ketika sudah pantas."

"Jadi kapan tepatnya waktu pantas yang ia maksud itu huh?"

"Segera. Kakak tunggu saja." Hanabi menjawab cepat. Walaupun dalam dirinya terasa tertusuk karena pertanyaan kakaknya barusan. Tapi ia juga tidak bisa menjawab pasti. Yang ia punya hanya rasa percaya dengan kekasihnya. Jika kekasihnya bilang begitu maka ia percaya kekasihnya itu akan mengusahakannya. Yang terpenting dalam hubungan adalah saling percaya kan?

"Bagus. Aku sudah tidak sabar." Cemooh Hinata, kemudian kembali sibuk dengan alat pemutar musiknya mengabaikan perubahan mimik muka adiknya.

.

.

.

"Apakah tanggal pernikahan sudah ditentukan kalau begitu?"

"Kalian tunggu saja undangannya."

Sai meminum bir kalengnya sembari menatap layar tv yang tengah memperlihatkan Sasuke dan Hinata saling bergandengan tangan membelah kerumunanan awak media untuk masuk ke dalam mobil.

Benar.

Sai tengah menonton tayangan ulang wawancara tadi malam. Bukannya ia sengaja menontonnya. Hanya saja sepertinya semua perusahaan siaran di negeri ini tengah terobsesi dengan pasangan baru itu. Bahkan bukan hanya disitu saja, kalau melihat sns ataupun media sosial lainnya di negeri itu kalian bisa melihat semua media dipenuhi berita-berita mereka. Mereka berdua adalah definisi dari apa itu yang namanya berita hangat. Tapi ia tentu tidak heran. Pewaris Uchiha terakhir yang lajang itu—Sasuke Uchiha akhirnya resmi mematahkan semua hati perempuan di negeri ini. Dan wanita yang sayangnya beruntung itu—Hinata Hyuuga resmi menjadi bahan gosipan, gunjingan sekaligus pujian bagi semua wanita di negeri ini.

Ia mendengus pelan, birnya sudah habis.

Bohong kalau dulu ia tidak mendengar perkataan Hinata. Ia bahkan bisa dengan jelas membaca bibir tipis itu bergerak membentuk kata-kata.

"Saya menyukai Anda, ketua tim."

Memori itu kembali menyeruak dalam pikirannya.

Sai bersandar ke sofa. Ia bertanya-tanya, bagaimana kalau saat itu ia tidak berpura-pura tidak mendengar? Apakah yang akan terjadi?

Ia bahkan tidak tahu kalau mereka sudah saling mengenal satu tahun lamanya dan anehnya memiliki hubungan yang terkesan mendadak dan tidak terdeteksi. Terlalu halus untuk diketahui. Sepupunya itu benar-benar misterius sejak kecil. Lihai sekali dalam menyembunyikan perasaannya.

Dia bertanya-tanya kenapa gadis itu bisa berkata seperti itu dulu?

Mungkin apa yang sepupunya bilang benar. Hinata itu kekanakan. Mana ada seorang calon pengantin mengatakan suka pada pria lain sehari sebelum acara pertunangannya? Ia akan menganggapnya sebagai candaan belaka. Ia duga Hinata tengah tidak dalam kesadaran penuh, mungkin pengaruh obat atau alkohol atau semacamnya. Ia akan berpura-pura tidak mendengarnya.

Lucu sekali. Ia masih tidak habis pikir.

Pertama. Wanita itu bilang tidak mengenal Sasuke.

Kedua. Wanita itu bilang tidak suka Sasuke.

Ketiga. Wanita itu secara mendadak dipecat oleh Sasuke karena suatu kesalahan yang tidak disengaja dan melibatkan masalah pribadi.

Keempat. Dia merasa perlu untuk menariknya kembali untuk bekerja karena gadis itu anggota timnya.

Kelima. Gadis itu mendadak menghilang bagaikan ditelan bumi. Tidak pernah menghubunginya lagi.

Keenam. Gadis itu tiba-tiba muncul sebagai calon tunangan Sasuke.

Ketujuh. Gadis itu berkata menyukainya sehari sebelum pertunangannya yang ia duga dalam kesadaran yang tidak penuh.

Kedepalan. Dia pura-pura tidak mendengar dan bersikap seharusnya.

Kesembilan. Gadis itu bersikap layaknya dugaannya benar kalau gadis itu mengatakannya secara tidak sadar kemarin.

Kesepuluh. Sekarang ia tidak tahu pasti apa yang tengah ia rasakan sebenarnya.

Banyak sekali kelucuan yang ingin ia tertawakan dan ingin ia tanyakan. Namun dari semua poin itu, ada satu poin yang mengganggunya.

Poin kesepuluh.

Ia benar-benar membencinya. Sangat.

Itu mengganggu dan mengusiknya tanpa henti semakin kesini.

Asal kalian tahu saja. Hal yang paling Sai Uchiha benci di dunia ini adalah—

—ketika dia tidak mampu mengetahui apa yang ia rasakan sendiri.

.

.

.

Maaf banget atas typo kemarin teman-teman /pundung/ Sudah aku ganti setelah komentar kalian masuk. Maaf banget ya atas ketidaknyamanannya. Kali ini aku pastiin enggak deh. Aku udah baca bolak-balik biar memastikan gak ada typo lagi. Dan seandainya masih ada, tolong bilang ajah ya. Jangan sungkan.

Makasih buat yang udah ngeluangin waktu buat ninggalin jejak. Itu moodbooster aku buat nerusin ini. Maaf kalau gak bisa update cepet yak. Aku sibuk nykripshit soalnya, mau sidang proposal. Hehe.

Aku harap kalian selalu diselimuti kebahagiaan dimanapun kalian berada. God bless you all. Selamat bermalam minggu /lope attack/