LeChi's project proudly presents

.

.

.

CAFEIN for AFED 2016 : Kotak Drabble

.

.

.


Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengeruk keuntungan materil atau komersil sama sekali dalam membuat fanfiksi bersama ini.


Kotak Drabble:

.

.

Yuialea Ariane

.

.

Warning: OOC, typo, AU, shounen-ai/Boys Love.


Tersebutlah SMAN 69 Jakarta, salah satu SMA favorit di kawasannya, dan tempat dimana dua tokoh utama kita bersekolah.

Akashi Seijuuro, anak dari CEO suatu perusahaan ternama. Tampan, kaya raya, pintar, dan agak, uhuk, pendek dibanding teman-teman basketnya walau soal kemampuan dia yang utama.

Jika ditanya mengapa ia tidak memilih sekolah prestisius lain (yang sejatinya tersebar banyak di Jakarta), pemuda itu hanya akan menjelaskan bahwa ia agak bosan dengan situasi yang melingkupinya. Toh, hijrah ke sekolah manapun (atau masuk jurusan apapun) takdirnya hanya satu. Melanjutkan kepemimpian di perusahaan ayahnya.

Soal proses seleksi, mohon jangan ditanya. Di saat calon siswa lain harap-harap cemas dan mengecek situs PPDB online hampir tiap menit (bahkan hingga ke kamar mandi), Akashi hanya akan berleha-leha dan menunggu kapan tanggal pendaftaran ulang. Posisinya absolut. Nangkring pada halaman dan nomor pertama. Tidak bergeser, satu urutan pun dari hari pertama proses seleksi dibuka.

Dia bisa mengusai seluruh pelajaran. Baik dirumpun IPA maupun IPS (berhubung belum penjurusan, ia masih harus mempelajari semua). Trigonometri? Logaritma? Itu sudah menjadi makanan sehari-hari saat SMP. Menghitung kalor jenis? Sekali baca dan latihan pun dia sudah menguasainya. Menghitung marginal propensity to consume? Jangan bercanda, itu terlampau mudah.

Lucunya, ia yang serba bisa dan too good to be true duduk di samping seseorang yang... sangat sederhana. Furihata Kouki namanya.

Berbanding terbalik dengan Akashi, Furihata bukan anak yang sangat istimewa. Ayahnya hanya supir dan ibunya IRT biasa. Saat proses seleksi, ia hampir tidak bisa tidur semalaman. Hanya ada 320 siswa yang bisa masuk sekolah idamannya. Bermula dari posisi 206, turun hingga 269 dan berakhir pada urutan 308. Bukan, bukan karena ia bodoh. Rata-rata nilai ujian nasional disemua mata pelajarannya lebih dari delapan. Sekolah itu yang memang banyak peminatnya.

Ibunya sangat bangga, Furihata turut bahagia. Kau tahu, perasaan saat namamu terpampang di papan pengumuman kelulusan? Ya, seperti itulah kira-kira. Betapa hatinya menjerit ketika dibawah tulisan 'Selamat' terdapat namanya.

Nah, ini kisah nyeleneh mereka saat jam istirahat.

Dibelakang tempat duduk pasangan AkaFuri, ada dua orang (yang menurut Akashi) agak idiot bertengkar masalah kerupuk pedas yang dijual anak-anak OSIS sebagai bentuk penggalangan dana untuk acara pentas seni di sekolah mereka. Kise Ryouta dan Aomine Daiki namanya.

"Aominecchiiiiii kenapa tidak kasih tau kalau kerupuk ini sangat pedas!" Ujar Kise sambil menepuk bahu Aomine kuat-kuat dan terbatuk.

"Oi! Sakit Kise! Bukankah aku sudah memberi tahu!"

"Kau bilang ini kerupuk horny jelas aku tidak ambil pusing! Lagipula apa maksudmu menamai ini kerupuk horny!?"

"Itu karena jika memakannya dapat membuat wajah beberapa orang berkeringat dan memerah. Air liur mene-"

Percuma, ungkapan Aomine terputus saat Kise menepuk punggungnya dengan sangat kuat. Hingga lelaki itu turut terbatuk.

Kuroko, yang posisi duduknya di depan Akashi dan Furihata serta berpasangan dengan Kagami, hanya melihat Aomine sambil menghela napas. Mereka memang sangat konyol terkadang.

Tatapannya beralih ketika menyadari Akashi dan Furihata masuk kelas bersama sehabis jajan di kantin. Ya, Kuroko tahu hal tersebut merupakan sebentuk modus yang dilancarkan sang pemuda merah. Alasannya, ia tidak pernah membawa uang jajan dibawah lima puluh ribu. Sehingga jika membeli makanan kurang dari sepuluh ribu akan sulit mendapat kembalian.

Karenanya, Furihata diajak jajan bersama. Agar makanan yang dibeli lebih banyak dan kembalian lebih mudah didapatkan.

Mohon dimaklumi, Akashi Seijuuro itu orkay. Modusnya eksklusif bagi siswa berduit.

Dan, Kuroko memang polos, tapi dia tidak naif. Apalagi ignoran. Kadang dirinya merasa agak simpati kepada Akashi. Menurutnya, Furihata anak yang sederhana. Tanpa modus-modusan dia juga akan sangat terbuka terhadap pertemanan.

Juga mungkin, uhuk, hubungan.

Setelah mereka duduk, Furihata bertanya dimana Kise. Dan dijawab pendek oleh Aomine dengan kalimat "Lagi pergi cari minum."

Beberapa menit kemudian, Furihata menyadari sebungkus kerupuk yang terbuka di meja teman birunya. Ia bertanya kembali, "Aomine-san, ini kerupuk yang dijual anggota OSIS ya?"

Aomine mengangguk seraya membuka mata lebar-lebar ketika melihat layar telepon. Wah! Link download majalah gravure gratis!

"Ngg... Akashi-san, tadi soto milikmu yang mana ya?" Yang ditanya hanya melirik sebentar. Sebelum lanjut mengerjakan soal-soal dari buku Kimia nista yang tiba-tiba hadir di atas meja.

"Boleh tolong bukakan Furi? Aku akan mencicipinya. Punyaku lebih pedas."

Furihata mengangguk lugu. Setelah membuka soto yang terdapat dalam sterofoam, ia menyendok kuah dan menghantarkannya pada mulut Akashi.

"Idih, najong." Kagami menggerutu di depan. Antara geram dengan modus nista si pemuda merah, dan gemas karena keluguan teman cokelatnya yang tidak berdasar.

Kuroko melirik Kagami sebentar. Ia pun juga sama gemasnya. Tapi tidak mungkin secara terang-terangan dirinya menunjukkan itu semua. Jadi ia menepuk tangan Kagami untuk meredakan perasaan geregetannya. Sekalian, ehem, skinship.

"Milikku yang kedua, Furi."

"Ah, OK." Pemuda cokelat itu membalikkan badan, hendak menanyai Aomine untuk yang kesekian kali. "Aomine-san, apa kerupuk itu boleh kumakan?"

"Makan saja. Asal kau tahan pedas. Aku belum mencobanya. Tadi Kise sampai tunggang-langgang karena kepedesan."

Ia mengangguk disertai senyum. Tangannya menggenggam wadah kerupuk kemudian memasukkan isinya kemulut.

1... 2... 3...

Tidak telalu pedas.

3... 4...

Engg... sepertinya mulai terasa efeknya.

5... 6... 7...

Astaga, makanan apa yang rasanya sepedas ini!?

"FURIHATACCHI! Jangan dimakan! Itu kerupuk horny!" Kise datang berlarian sambil berteriak lantang dengan dramatisnya. Tapi semuanya sudah terlambat.

Furihata telah hor—kepedesan.

Wajahnya, bibir memerah, pipi merona, air mata menetes jatuh hingga berbercak dicelana abu-abunya. Serta mulut... megap-megap.

Demi Dewa...

Akashi segera mengalihkan pandang dan memandang pemuda di sampingnya seksama.

"Haa... ah.. aku, hngg... kepedesan."

Oh no.

Bagian lain dari Seijuuro berontak.

Kuroko segera menyikut pinggang Kagami. Menghantar tatapan sarat makna yang berarti 'Tolong bantu Akashi-kun'.

Kagami berdiri kurang dari sedetik kemudian berucap, "Akashi, nggg, bukannya kita disuruh ngambil buku PKN sama Pak Eko? Mendingan cepet diambil, udah mau bel soalnya."

Akashi mengangguk tenang, pertahanan dirinya masih pada level sempurna. Sebelum sesaat lagi terdegradasi jika tidak segera menghindar dari sumber masalah.

Aomine yang sedari awal berpura-pura asik sendiri sebenarnya terkikik dalam hati. Kerupuk itu pedas. Tapi tidak langsung memberi efek pada kunyahan pertama.

Ia tidak menyangka, rencana asal-asalan untuk mengerjai Yang Mulia Akashi Seijuuro membuahkan sukses.


~Fin~


Special thanks: Yuialea Ariane

Readers and Reviewers, mind to give review? ;)