Tanpa sadar Switch sudah ada di depan buffet yang terletak di samping TV, memperhatikan foto Rei dengan Aoi semasa mereka masih kecil. Sepertinya sekitar 10 tahun. Mereka tersenyum sambil berpegangan tangan. Foto itu di ambil dengan latar belakang menara Eiffel. Rei memakai gaun Lolita berwarna merah dengan aksen mawar di leher gaunnya. Sedangkan Aoi memakai gaun Lolita dengan aksen bunga iris di leher gaunnya juga. Rambut Rei hitam kelam, sedangkan Rambut Aoi kuning pirang dengan mata aquamarine-nya.. Walaupun begitu mereka sangat mirip.
Namun ada yang berbeda dari foto itu. Mata Rei. Bukan. Tepatnya, warna matanya.
"Switch! Ayo! Aku bakal masak makan malam!" ajak Rei yang tau-tau sudah ada di dapur. Switch berbalik dan menatap Rei yang menatapnya heran.
"Switch?"
Egao wa Mitai!
Summary : Rei, cewek yang gosipnya merupakan ketua geng berandalan, masuk menjadi anggota Sket Club. Dalam waktu singkat, Rei dan Switch menjadi akrab. Apa Rei masuk hanya untuk mendekati Switch?
Sket Dance by Shinohara Kenta
Semi-Canon, GaJe, Typo, dll.
This story is Mine.
DLDR, If you don't like, please click back button.
Chapter11: A Single Crack
Rei mendekati Switch yang masih menatapnya datar tanpa berkata apapun. Mata Onyx Switch menyipit saat Rei sudah ada di hadapannya.
"Kamu kenapa sih? Kaya' ngeliat hantu aja…" tanyanya heran.
"[Warna matamu…]"
Rei menyentuh kelopak mata kanannya, seakan menyadari sesuatu.
"Oh, ini…?" tanyanya. Ia tertawa saat menyadari kecerobohannya.
"Hehehe, sudah jadi kebiasaan kalau aku melepas contact lensku kalo aku ada di rumah…" Rei menggaruk kepalanya. Lalu ia tersenyum jahil.
"Lagi-lagi kamu tau rahasia kecilku, Switch!" serunya, lalu menatap foto yang diperhatikan Switch tadi. Ia tersenyum lembut.
"[Kenapa kamu sembunyikan?]" ketik Switch. Rei menoleh, menampakkan warna matanya yang berbeda ketika di sekolah. Bukan Sapphire, namun Ruby.
"Ya, aneh aja kalo ada orang yang warna matanya merah begini.." jawabnya santai. "Jadi aku tutupin aja pake contact lens."
Switch masih memperhatikan mata Rei. Ia merasa pernah melihat iris berwarna merah itu sebelumnya, namun ia tidak yakin kapan dan dimana. Ia merasa mengenal Rei dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Dan Switch yakin ia pernah berbicara dengan Rei sebelum gadis itu mendobrak pintu saat ia bergabung dengan Sket Club.
Ketika ia melihat mata Rei saat di sekolah, ia sedikit bingung. Warna mata Rei tidak sebiru Aoi, namun lebih ke warna ungu. Contact lens yang dipakai Rei tidak sepenuhnya menutupi warna matanya. Tapi kenapa Rei malah memilih biru daripada hitam? Dan apa Rei punya alasan lain untuk menyembunyikan warna matanya?
"[Kenapa kamu make warna biru, bukannya hitam?]" tanyanya ketika Rei akan melangkahkan kakinya ke arah dapur.
"Kalo hitam… pasti aku bakal disangka cewek yang fotonya seksi di internet itu…" ujar Rei sambil mempersiapkan makan malam. Switch pun duduk dimeja makan, menghadap Rei. Rei menggerutu. Harusnya Switch tau hal itu, kenapa malah bertanya?
"Oke, sudah selesai! Sup Kimlo ala Rei!" Rei menaruh masakannya di atas meja. Lalu mengambil piring dan menaruhnya di hadapannya dan Switch.
"[Sup Kim… apa? Kamu yakin ini aman?]" tanya Switch ragu.
"Kamu mau ngajak kelahi?" tanya Rei sambil mengepalkan tangannya dan menguarkan aura pembunuhnya.
"[Ah… gak… itu…]"
"Emangnya aku keliatan kaya' orang yang gak bisa masak?"
"[M..maksudku bukan gitu…]"
"Jadi kamu kira masakanku gak enak?"
"[Kalo di anime 'B*k* to T*st', cewek yang cantik dan moe aja masakannya bisa membunuh, apalagi yang mukamu..yah…begitulah…]"
Switch, kau harus menarik kata-katamu, karena Rei sepertinya akan mengirimmu ke neraka sekarang.
"Kalo gitu buat apa aku tinggal sendirian dengan kulkas yang penuh dengan bahan makanan kalo akhirnya aku gak bisa masak?!"
Rei menggebrak meja, membuat meja itu bergetar. Rei menatap Switch dengan tajam sampai-sampai tatapannya bisa menembus ke otaknya. Suasana hening sejenak sampai akhirnya Switch berani untuk menarikan jari-jarinya di atas tuts keyboard.
"[Rei…]" ketik Switch dengan suara yang dibuat seksi seperti di anime-anime bergenre Yaoi.
"Apa?" tanya Rei ketus.
"[Aku tau kalo aku ini tampan dan menarik…]" ketiknya dengan mata yang berbinar-binar dan segurat garis merah tipis di pipinya. "[Tapi ngeliatnya gak perlu sedekat ini kan?]"
"Apa kata—" kata-kata Rei terputus ketika menyadari bahwa posisinya terlalu dekat dengan Switch. "—mu?"
Rupanya tanpa sadar Rei berjalan memutari meja makan saat ia marah, dan sekarang ia berdiri di hadapan Switch dengan wajah mereka yang berjarak kurang dari 5 cm. Sepertinya Rei tidak menyadari hal itu karena ia sedang sangat kesal.
Rei, kau ada di posisi berbahaya sekarang, lebih baik kau menyingkir sekarang.
Rei langsung menjauhkan wajahnya dari Switch dan mengalihkan pandangannya dari wajah tampan pemuda itu. Ia langsung menutupi wajahnya yang memerah dengan lengannya.
S..sial! Lagi-lagi orang ini bikin aku salah tingkah! batinnya kesal. Switch kembali mengetikkan sesuatu di laptopnya. Suaranya sudah di set menjadi suaranya yang biasa.
"[Ho ho ho… Jangan malu-malu begitu, Rei.]"
"Aku gak kaya' kamu yang gak tau malu!"
Switch kembali menampakkan senyuman tipisnya, membuat wajah Rei bertambah merah. Sepertinya Switch senang menggoda Rei dan membuat gadis itu salah tingkah. Padahal sebelumnya gadis itu terlihat santai. Rei berjalan menuju bangkunya dan duduk di hadapan Switch. Mereka lalu makan tanpa berbicara sepatah kata pun.
"[Rei…]"
"Hm?"
Switch hendak mengetikkan sesuatu di laptopnya, kemudian ia mengurungkan niatnya, "[Gak jadi…]"
"Oh…" Rei berdiri dan membersihkan piring kotor yang ada di meja. Dengan perasaan tidak karuan ia membersihkan piring-piring itu. Ia tidak menyadari ketika Switch sudah berdiri di belakangnya.
"[Masakanmu enak…]"
"Makasih…" jawab Rei tidak ikhlas. Ia menyangka Switch mengatakannya hanya sebatas basa-basi saja. Namun sepertinya Switch tidak terima atas jawaban Rei yang terlalu singkat itu.
"[Aku sungguh-sungguh lho. Masakanmu enak…]"
"Iya, makasih…" jawab Rei. Masih dengan nada datar yang sama. Dan lagi-lagi Switch merasa tidak puas dengan jawaban Rei.
"[Kalo besok, kamu mau bawain aku bento?]" tanyanya. Rei membeku, dan hampir melepaskan piring di tangannya. Untuk kesekian kalinya wajah Rei memerah. Namun Rei tidak menjawab Switch karena terlalu gugup dengan permintaan Switch yang terlalu tiba-tiba itu.
"[Gimana?]"
Rei menyelesaikan pekerjaannya, namun masih berdiri di sana tanpa berkata apa-apa. Sampai sakhirnya jawaban meluncur dari bibir gadis itu, sebuah jawaban ambigu.
"E…entahlah…"
.
.
Ruang klub, sepulang sekolah…
"[Konichiwa…]" ketik Switch riang saat masuk ke dalam ruang klub.
"Wooaa, Switch! Kamu kelihatan senang banget hari ini?" tanya Bossun. Switch langsung duduk di tempatnya dengan riang.
"[Itu sih harus…]" ketiknya riang. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan Himeko dan seorang cowok berambut hitam-ungu masuk ke dalam ruangan. Ia sangat tampan dengan mata berwarna ungu dan ia lebih tinggi dari Switch. Ia memakai lipstick berwarna hitam. Selain itu, penampilannya wajar seperti siswa lainnya.
"Konichiwa…" sapanya ramah setelah duduk di hadapan Bossun dan Himeko.
"Yo, ada yang bisa kami bantu, Dante?"
"Pertanyaan…"
"Dante, aku gak ngerti maksudmu!" ujar Himeko frustasi.
"Maksudnya dia mau nanya, Himeko…" jawab Bossun.
"Aprodhite… Mahkota malam dan senja…" Dante mulai berpuisi.
"Maksudnya… Gadis cantik… Mahkota itu rambut, malam dan senja… hitam dan merah?"
"[Rei?]"
"Invincible…" ujar Dante.
"Tidak terlihat? Oh, itu maksudnya, Rei gak kelihatan hari ini." Bossun menggaruk dagunya. "Rei gak masuk hari ini gara-gara diskors selama seminggu." Jawabnya.
"Repeat?" tanya Dante terkejut.
"Iya, dia diskors gara-gara nyerang Sasayaka Aoi!" jelas Himeko.
"Yo! Minna! Konnichiwa!" Rei muncul di pintu sambil membawa tas gitarnya dan juga tas sekolahnya. Ia tidak mengenakan seragam sekolah seperti biasanya, ia tampak manis dengan kaos krem yang dilapisi rompi katun coklat selutut dan rok putih selutut dengan flat boots krem. Semuanya menoleh ke arah Rei yang tersenyum lebar.
Penampilan Rei hari ini membuat Switch kembali berfantasi. Dan juga membuat Dante terpesona.
"Mawar merekah…" gumamnya.
"Yo! Rei! Akhirnya kamu datang juga!" seru Bossun. Rei menaruh barang bawaannya di meja dan mendekati Himeko dan Bossun. Rei tersenyum lebar saat melihat Dante dan duduk di sampingnya.
"Yo! Dante!" Rei menepuk bahu pemuda itu. Membuat Dante tersadar.
"Akira-san!" Dante tersenyum ramah saat melihat Rei. "Scared, Invincible…"
"Coba ngomongnya biasa aja! Dan gak usah khawatir!" ujar Rei. "Cuma diskors seminggu bukan masalah besar!" Rei lalu berdiri dan mengambil tas sekolahnya, "Aku mau ganti baju, jadi kalo mau minta bantuan sama cowok-cowok di sini aja. Ayo Himeko!" ujarnya lalu keluar bersama Himeko. Rei tidak menyadari kalau Switch memperhatikannya dengan perasaan kesal, tentu karena Rei terlihat sangat akrab dengan Dante. Bahkan tanpa berpikir ia sudah tau maksud pemuda itu.
"Akira-san… Menjadi satu?" tanya Dante setelah Rei keluar dari ruangan.
"Maksud Dante, apa Rei juga masuk dalam klub ini?" ujar Bossun, menguraikan. "Lama-lama aku jadi penerjemah Dante nih.." gerutunya.
"[Iya, dan dia sudah sangat aktif dalam menerima permintaan dari siswa-siswi di sini…]" ketik Switch datar.
"Oh iya, Dante! Kamu ada hubungan apa dengan Rei? Kelihatannya kalian dekat banget?" tanya Bossun. Switch membeku di tempatnya.
"Cinta…Di awal pertemuan…" jawab Dante serius.
"Ehhh?" Bossun dan Switch berteriak saking kagetnya.
"Serius nih?! Rei yang urakan begitu?!" ujar Bossun heboh.
"[Matamu gak salah liat, atau…]"
"True…" jawab Dante. "Pertolongan… Mendekatkan…Mawar dan Violet…"
"Maksudnya dia minta bantuan buat PDKT sama Rei…"
"[Begitu…]" ketik Switch datar. "[Tipe cewek kaya' Rei itu memang agak susah dideketin ya?]"
"Exactly…"jawab Dante.
"Kenapa gak coba ajak dia kencan aja di taman ria?" celetuk Bossun.
"[Ide bagus itu Bossun!]" ketik Switch.
"Allright!" Dante berdiri, lalu berjalan ke arah pintu. "Thank you." ujarnya lalu pergi. Switch menghela nafasnya perlahan.
"Switch…" gumam Bossun. "Kamu gakpapa, kalo ada yang deketin Rei?"
"[Maa~ Maa~…]" ketik Switch, ["Gakpapa kok. Emangnya aku bakal kenapa?"]
"Kamu gak cemburu?"
"[Hohohoho… Cemburu? Gak kok…]" Switch menatap Bossun datar. Namun Bossun bisa melihat kilatan di mata Switch.
"Jangan bohong padaku Switch." ujar Bossun.
Pintu terbuka, dan muncullah Rei dan Himeko yang sudah memakai seragam olahraganya. Himeko menatap Switch dan Bossun kesal karena mereka belum berganti baju.
"Hei, cepat ganti baju! Nanti kita dimarahin Kapten kalo telat!" seru Himeko.
"Iya, iya. Kau ini berisik banget, Himeko!" gerutu Bossun.
"Apa kau bilang?!" ujar Himeko kesal. Ia lalu memukul kepala Bossun. Rei membuka jaket birunya lalu mengikatnya di pinggangnya. Lalu menatap kesal Switch.
"Switch, kamu juga, ganti baju!" katanya kesal.
"[Hoho, aku lagi gak enak badan! Jadi kaya'nya aku gak ikut latihan!]"
Pletak!
Rei meletakkan kotak bekal berwarna hijau di atas kepala Switch dengan agak keras.
"Makan dulu deh, biar kuat latihan!" gerutunya. Ia lalu memberikan kotak bekal berukuran sama kepada Himeko dan Bossun. Warna pink untuk Himeko, dan oranye untuk Bossun.
"Wah, terima kasih Rei!" ujar Himeko senang.
"Tumben kamu baik Rei…" kata Bossun sambil membuka kotak bekalnya. Isinya biasa, nasi dengan lauk chicken katsu, sosis, telur gulung, dan sayuran. Dan semuanya tersusun rapi.
"Ini gak ada racunnya kan?" tanyanya ragu, menyadari betapa terampilnya Rei dalam membuat makanan. Benar-benar berbanding terbalik dengan sifatnya yang urakan. Dalam hati Switch membatin, gadis ini benar-benar tidak bisa ditebak.
"Gak ada lah…" jawab Rei datar lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Switch. Ia lalu membuka kotak bekal berwarna merah, dan mulai menyantap makanannya.
"Dante udah pergi ya? Tadi dia minta tolong apa?" tanya Rei penasaran.
"[Ho ho ho… Itu rahasia…]" ketik Switch sambil menatap Rei dengan tatapan yang sulit di artikan. Rei pun kembali memakan makanannya dengan cuek.
"Ah, Switch gak asik!" ujar Rei kesal. Lalu ia menghela nafas kesal. "Tapi sudahlah, bukan urusanku juga…"
.
.
Setelah makan…
"Huahh! Ternyata masakan Rei enak juga!" ujar Bossun sambil menepuk-nepuk perutnya dan tersenyum puas. "Ayo kita ganti baju, lalu latihan baseball!" Bossun lalu berdiri dan keluar dari ruangan, disusul Switch. Kotak bekal yang sudah kosong, mereka taruh di atas meja, dekat dengan tempat Rei dan Himeko duduk.
"Rei…" panggil Himeko. Rei yang sedang memakai sepatu kets-nya menoleh ke arah Himeko. "Ya?"
"Ano…Itu…" kata Himeko gugup, membuat Rei menatap gadis pirang itu heran.
"Ngomong aja…" Rei menepuk bahu Himeko, sambil tersenyum lebar.
"A..aku… Mau belajar masak sama kamu Rei…" ujar Himeko. Rei semakin menyunggingkan senyum lebarnya.
"Hehehe, mau buat bento ya…" tebak Rei asal-asalan, namun sanggup membuat wajah Himeko merona merah. Himeko menunduk, membuat Rei bertambah heran.
"Eh? Aku bener ya?" tanyanya bingung. Namun lagi-lagi Himeko tidak menjawab, membuat Rei bertambah bingung.
"Yo! Himeko! Rei! Ayo ke lapangan!" ajak Bossun. Rei dan Himeko langsung berdiri dan menghampiri Bossun dan Switch yang sudah siap. Mereka lalu berjalan ke lapangan.
"Ah, iya. Kata Kapten turnamennya dipercepat!" kata Himeko.
"[Dipercepat?]"
"Iya, jadi tiga hari lagi." jawab Rei. "Jadi kita harus latihan ekstra keras hari ini dan besok."
"Lalu soal Kaimei Rock Festival-nya?" tanya Bossun. "Kita belum tentuin lagu lho…"
Rei menepuk bahu Bossun, dan tersenyum jahil. "Kalo gitu kamu harus tentuin jadwal latihan kita, ketua!"
"Ehh? Aku?!" seru Bossun. "T..tapi…"
"[Bener kata Rei, Bossun!]" ketik Switch dengan kacamata yang berkilauan.
"Ah, sudahlah. Setelah latihan kita sewa studio buat latihan…" kata Bossun pasrah.
"Sewa studio itu mahal, dasar ulat bulu bertanduk!" umpat Himeko.
"U..ulat bulu bertanduk?" kata Bossun pundung.
"Ngapain sewa studio?" timpal Rei, meremehkan. "Mending di apartemenku, ada kamar kosongnya."
"Eh? Kenapa gak bilang dari tadi, Rei!" seru Bossun dan Himeko bersamaan.
"Lha, Ini aku bilang." jawab Rei santai. "Kalo kalian sekalian mau nginap juga gak apa-apa kok…"
"Menginap?! Aduh, nanti Rumi ngamuk lagi…" gerutu Bossun. Mereka pun sampai di lapangan baseball. Kapten dan anggota baseball yang lainnya sudah berkumpul.
"Minna, hari ini kita akan berlatih dengan semangat ya!" seru gadis berambut kuncir dua itu.
.
.
Setelah latihan…
Switch berjalan ke arah ruang klub dengan santai sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil. Samar-samar ia mendengar suara Rei yang sedang berbicara dengan seseorang dengan bahasa yang asing. Switch mengaktifkan penyadap yang selalu di pasangnya di ruang klub dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang.
"Iya, Mama. Aoi maksa Akira buat pulang ke mansion Sasayaka, tapi Akira gak mau…"
"…"
"Gak Ma! Akira gak mau!"
"…"
"Biarpun Aoi adik Akira, tapi dia malah mihak si tua bangka itu!"
"…"
"Kalo Aoi terus maksa Akira, mending Akira ke Indonesia aja buat tinggal sama Mama!"
"…"
"Ya udah, kalo Mama bilang begitu. Lagian Akira di sini punya teman yang baik-baik, dan mereka jagain Akira kok Ma."
"…"
"Iya, Ma. Mama juga baik-baik di sana ya Ma… Salam sama Rea-nee juga."
Klik!
Hening. Sepertinya Rei menyudahi pembicaraannya. Switch pun mematikan penyadapnya dan masuk ke dalam ruangan. Ia mendapati Rei menatap smartphone-nya dengan kesal, sekaligus gelisah.
"[Indonesia ya…]" ketik Switch, membuat Rei menoleh ke arah Switch dengan kesal.
"Dasar tukang nguping!" gerutunya. "Dan kaya'nya kamu senang karena kamu udah dapat dataku lagi."
"[Ho ho ho… Tentu saja. Awalnya aku agak heran karena kamu tau banyak soal makanan Indonesia. Dan kamu sama sekali gak sipit.]" ketik Switch bersemangat. "[Aku terkesan karena kamu langsung tau kalo aku lagi nguping.]"
"Semuanya itu udah jelas." ujar Rei sambil menunjuk alat berbentuk lingkaran yang ada di atas meja. "Mana ada orang yang pasang penyadap di atas meja? Kamu gak bakat jadi mata-mata."
"[Tapi aku kan gak tau bahasamu.]"
"Switch." gerutu Rei. "Kamu itu programmer, jadi pasti kamu tau cara menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Jepang. Minimal kamu punya software-nya lah."
"[Ho ho ho… Sasuga Rei..]" ketik Switch dengan kacamata yang berkilat-kilat. Sepertinya Switch kalah dalam adu debat dengan Rei, untuk kesekian kalinya. Ah, Rei memang pandai bersilat lidah.
"Ayo kita ke apartemenku, Switch." ajak Rei.
"[Bossun dan Himeko?]"
"Ah, mereka lama. Lagian aku belum pasang pengedap suaranya. Ayo!" Rei lalu berjalan sambil menenteng kedua tasnya. Dalam hati Rei mengeluh, kenapa ia harus membawa gitar kalau akhirnya mereka akan latihan di apartemennya.
"[Mereka belum tau apartemenmu.]" ketik Switch lagi sambil menyusul Rei.
"Ah, SMS aja!"
"[Tapi…]"
"Switch!" Rei memotong kata-kata Switch kesal. "Biarin aja mereka berdua. Mereka butuh privasi."
"[Privasi?]" ketik Switch. Lalu seulas senyum tipis mengembang di bibir pemuda itu. "[Ara Ara~… Kamu benar-benar gadis yang pengertian, Rei…]"
"Pengertian, maksudmu?"
"[Ho ho ho… Kita berdua juga butuh privasi…]" goda Switch. Lagi-lagi Rei menatapnya dengan tatapan membunuh dan…
Brukk!
"Sudah kubilang jangan ngomong yang gak-gak!" umpat Rei dengan wajah yang memerah, lalu meninggalkan Switch yang terkapar tidak sadarkan diri. Sepertinya Rei menghajar Switch dengan tas gitarnya. Mari kita berdoa agar Switch tidak terkena gegar otak.
"Akira-san!" tiba-tiba Dante muncul di depan Rei yang kepalanya sudah hampir meledak karena perkataan Switch yang terlalu spontan.
"Ah, Dante!" jawab Rei dengan tidak minat. "Kok belum pulang?" tanya Rei heran, karena langit di luar sudah gelap, dan Rei jarang melihat Dante ada di sekolah sampai malam.
"Bernyanyi." jawabnya, sambil tersenyum. "Akira-san?"
"Oh, aku tadi habis latihan baseball sama anggota Sket Club yang lain." jawab Rei. "Dan kumohon, kali ini ngomong biasa aja ya! Kalo gak kubotakin kepalamu!"
"No violence!" jawab Dante takut. "Ehm. Baiklah…"
"Nah, gitu dong…" ujar Rei senang.
"Sket Club ikut baseball juga?" tanya Dante heran.
"Gak. Anggota mereka banyak yang cedera, jadi kami gantiin buat main di turnamen."
"Begitu ya.." Dante manggut-manggut. Lalu melihat Switch yang masih terkapar di lantai dengan tatapan geli.
"Dia kenapa?"
"Biasa, obatnya habis." jawab Rei tidak berperasaan. Dante pun tertawa mendengar perkataan Rei.
"Hehehe, sama pacar sendiri kok tega, Rei…" gurau Dante. Siapapun yang jeli pasti akan menangkap nada getir dari suaranya. Namun Rei tidak memperhatikan hal itu.
"Pacar? Otaku mesum macam begini kamu bilang pacarku?" tanya Rei kesal. Dante langsung menghela nafas lega.
"Bukan ya? Kalau begitu…" Dante mengeluarkan dua buah tiket berwarna biru dari sakunya.
"Aku punya dua tiket ke taman ria. Kamu mau pergi bareng aku?" ajaknya frontal sambil tersenyum lembut ke arah Rei. Rei hanya bisa menaikkan sebelah alisnya dan menatap Dante heran. Switch pun yang mendengar ajakan Dante langsung bangun dari komanya (?) dan langsung memasang telinga.
"Hah?"
.
.
.
TBC
.
.
.
#author dibacok readers
Ah, gomen-gomen… silahkan dilanjutkan membacanya…
.
.
.
"Sukiatte kudasai, ne?" Dante masih menyunggingkan senyum yang membuat cewek manapun meleleh akan pesonanya. Namun hal itu tidak berlaku bagi Rei. Gadis itu malah menatap Dante aneh seakan-akan pemuda itu adalah makhluk dari planet lain. Switch maupun Dante menanti jawaban Rei, membuat suasana menjadi canggung.
"Hah? Ahahahaha…"
Dante dan Switch terbelalak. Mereka tidak menyangka reaksi Rei akan semengejutkan ini. Gadis itu bukannya menjawab dengan gugup atau marah-marah. Gadis itu malah tertawa ngakak sambil memegangi perutnya.
"Kamu serius ngajakin aku?" tanyanya geli. "Maksudku, hehe… Maksudku, kamu gak bercanda kan? Biasanya kamu ngajakin cewek yang manis dan lugu." Rei mengusap airmata yang keluar di sudut matanya. "Terakhir, siapa namanya? Rika? Reva?"
"Rena…" jawab Dante, tersinggung. Senyumnya memudar, dan malah menatap Rei datar. Rei lalu menyelesaikan tawanya dan kembali menatap Dante dengan senyum jahilnya.
"Pokoknya itu deh, namanya."
"Decision?" tanya Dante serius. Sepertinya ia mulai kumat lagi. Namun sepertinya Rei tidak memperhatikan hal itu. Ia lalu memutar matanya ke atas, berfikir.
"Kapan sih?"
"Three days from now."
"[Tiga hari lagi? Itu berarti…]"
"Gah! Aku..maksudku kami, ada turnamen baseball!" jawab Rei, tak kalah seriusnya dengan Dante. Raut wajah Dante langsung berubah sedih, namun Rei langsung menambahkan,
"Tapi kalo kamu mau dateng ke turnamen, buat nonton, mungkin aku bakal mikirin soal ajakanmu lagi."
Wajah Dante langsung berbinar, lalu tersenyum.
"Wah! Kalo gitu, aku bakal nonton pertandinganmu." ujarnya riang. Lalu ia berbalik meninggalkan Rei sambil melambaikan tangannya.
"Aku tunggu jawabanmu ya!" ujarnya sambil tersenyum lembut. Rei mengangkat tangan kanannya untuk membalas lambaian Dante, sambil tersenyum jahil.
"[Subarashii…]" ketik Switch, membuat Rei mengalihkan pandangannya ke arah pemuda berkacamata itu. "[Kamu ancam dia sekali dan dia langsung nurut? Kemampuan negosiasi yang luar biasa, Akira Rei!]"
"Hm? Bukan masalah. Aku capek mesti ngartikan perkataannya tiap aku ngobrol sama dia." jawab Rei.
"[Apa itu berlaku saat dia ngomong sama kamu aja?]"
"Kemungkinan 99 persen." jawab Rei. "Mungkin besok dia sok puitis lagi."
"[Sou desu… Kalo gitu, ayo pulang.]" ketik Switch sambil menepuk bahu Rei. Rei lalu menatap Switch sambil tersenyum. "Ayo!"
"Matte, Akira! Usui!"
Switch dan Rei menoleh ke asal suara, dan mendapati Tsubaki mendekati mereka dengan tatapan tajamnya.
"[Maa~ Maa~… Ternyata Tsubaki. Ada apa?]" tanya Switch.
"Maaf, Usui. Bisa tinggalkan kami sebentar? Aku ingin bicara empat mata dengan Akira!"
.
.
Indonesia, di sebuah rumah mewah…
"Ma! Itu dari Akira, ya!" seorang gadis berambut coklat gelap dan bermata coklat sedang mendekati seorang wanita berusia 40-an, berambut pirang, dan bermata hijau yang menatap smartphone-nya dengan cemas. Melihat raut wajahnya yang sedikit kusut dan terlihat lelah, sepertinya gadis itu baru pulang kerja. Mereka berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Iya, Ameru. Dia lagi ada masalah dengan Aoi." jawabnya, sekaligus menggoda anaknya.
"Ma! Jangan bikin namaku kedengaran seperti hujan!" ujar gadis yang dipanggil Ameru itu kesal. "Namaku kan Amelia Ma! Dan anak itu! Kenapa dia bisa berubah 180 derajat begitu sih!"
"Mungkin karena ibu tiri kalian, Rea." ujar sang Mama, memaklumi. Akhirnya ia memanggil anaknya dengan nama kecilnya. Rea langsung tersenyum senang.
"Lagipula Aoi pasti punya alasan untuk melakukan hal itu." lanjutnya.
"Kalo gitu, aku mau nyusul mereka ke Jepang!" ujar Rea. "Aku bakal nelpon bos buat ambil cuti!"
"Rea…"
"Gakpapa Ma. Sekalian aku ngambil cuti tahunan, toh, aku sebentar aja di Jepang." ujarnya, menenangkan wanita itu. Lalu ia masuk ke dalam kamarnya.
Setengah jam kemudian, Rea keluar dari kamarnya dengan senyum cerah.
"Aku bakal berangkat besok pagi, Ma." ujarnya senang. "Bos juga udah ngasih izin buat cuti selama sebulan."
"Beneran gakpapa, Rea?" tanya ibunya cemas. "Mama khawatir kalo ayah kalian bakal marah."
"Kenapa Mama selalu cemasin si tua bangka itu sih!" jawab Rea kesal. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya dan membiarkan pintu terbuka. Sasayaka Midori, sang Mama, mengikuti anaknya dan berdiri bersandar di pintu.
"Jangan berkata kasar tentang ayahmu!" ujarnya agak marah. "Biarpun dia itu begitu, dia tetap ayahmu." suaranya melembut.
"Iya, iya." Rea akhirnya memaklumi. "Aku janji gak bakal buat masalah di sana kok. Tugasku cuma sebagai penengah aja kan?"
"Iya.." Midori tersenyum lembut. Lalu ia keluar sambil menutup pintu, membiarkan Rea berkemas-kemas untuk perjalanan melelahkannya besok pagi
.
.
Di atap sekolah…
Rei dan Tsubaki melewati pintu atap dan langsung berjalan ke arah pagar yang ada di pinggir atap. Suasana malam itu cerah, sehingga membuat bintang-bintang terlihat berkelap-kelip. Angin pun sepoi-sepoi, tidak terlalu panas, dan juga tidak dingin. Membuat suasana malam itu menjadi romantis.
Namun tidak bagi Rei. Ia merasa gelisah. Bahunya pegal karena terlalu lama membawa tas gitarnya. Tsubaki yang menyadari hal itu langsung menegur Rei.
"Kalo kamu ngerasa gak nyaman, kamu taro aja tasmu di lantai, atau biarkan aku membawanya."
"Hm? Gak usah repot." ujar gadis itu sambil menaruh tasnya di lantai. Lalu ia bersandar pada pagar, sambil menatap Tsubaki.
"Naa.. Doushitara ii?" tanyanya santai. Tsubaki langsung memasang wajah tegang, membuat Rei heran.
"Gomennasai!" Tsubaki membungkuk, membuat Rei menjadi bertambah heran.
"Eh?"
"Hontou ni gomennasai!" ucapnya sungguh-sungguh.
"Kenapa tiba-tiba? Hei, kamu ini kenapa sih?" tanya Rei, semakin heran akan tingkah Tsubaki. Seingatnya Tsubaki tidak pernah berbuat salah kepadanya.
"Maafkan aku karena udah bikin kamu diskorsing!" ucapnya tegas. "Ini semua kesalahanku!"
"Hah?" Rei menaikkan alisnya, lalu mendekati Tsubaki dan menepuk bahunya keras.
"Kamu itu aneh deh. Awalnya kamu dengan tegas menyatakan agar aku diskors, sekarang kamu malah minta maaf?" Rei menghela nafasnya perlahan, "Kamu itu aneh."
Tsubaki masih membungkuk, sampai akhirnya Rei melanjutkan, "Tegakkan badanmu, wakil ketua OSIS! Yah, setidaknya bersikap seperti itulah!" ujar Rei lalu menjauhi Tsubaki. Namun pemuda itu menahan pergelangan tangan Rei, "Panggil aku Sasuke, Tsubaki Sasuke!" ujarnya mantap.
"Hedeh, Yare Yare~…" gerutu Rei. "Oke deh, Uke."
"Sasuke, tau! Bukan Uke!" ujar Tsubaki marah. Rei langsung memukul kepala Tsubaki keras.
"Baru aja minta maaf, sekarang udah marah-marah." gerutunya. "Aku panggil kamu Tsubaki aja, itu lebih cocok dengan tingkahmu yang formal. Kamu juga sama sekali gak dingin seperti Sasuke yang ada di anime N*r*t*." ujarnya.
"Ah, itu lebih baik." Tsubaki menghela nafasnya. Lalu melepaskan genggamannya pada tangan Rei, "Sore yori, aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku!"
"Tanggung jawab?" Rei menatap Tsubaki aneh. "Emangnya kamu habis menghamiliku?"
Wajah Tsubaki langsung merah padam mendengar kata-kata Rei. "M..Maksudku bukan begitu…"
"Lalu?"
"Ah.. Etto…" Tsubaki menggaruk pipinya yang dihiasi semburat merah. Dia benar-benar mati kutu di hadapan gadis ini. "Setidaknya biarkan aku bertanggung jawab!"
"Kata-katamu itu!" gerutu Rei. "Atau jangan-jangan kamu habis menghamili Aoi?"
"Sudah kubilang, maksudku bukan itu!" wajah Tsubaki benar-benar memerah sekarang. "Emangnya tanggung jawab itu harus dilakukan setelah menghamili seorang gadis?"
"Kata-katamu itu terlalu berat untuk anak SMA!" Rei melipat tangannya di depan dada dan menatap Tsubaki tajam. "Nee, jadi kamu mau ngapain untuk bertanggung jawab? Menikahiku?" Rei menyunggingkan senyum jahilnya, membuat wajah Tsubaki berasap.
"Atau menikahi Aoi?"
"Ah, Mou!" erang Tsubaki frustasi. "Aku gak menghamili siapapun!"
"Iya, iya deh. Aku cuma bercanda." Rei mengibaskan tangannya dan memasang senyuman jahil. "Nee, jadi kenapa kamu merasa bertanggung jawab?"
"Aku ngerasa aneh aja kalo kamu ketinggalan pelajaran, jadi…"
"Hm?"
"Kamu gak keberatan kan, kalo tiap pulang sekolah aku ke rumahmu buat nganter catatan pelajaran?" tanya Tsubaki gugup sambil menggaruk pipinya.
"Gak usah repot." tolak Rei. "Kalo mau kamu titip aja ke Sket Club. Aku ada di sana kok."
"Eh? Serius?"
"Beneran, dan demi apapun!" sambung Rei. Lalu ia berjalan ke pagar untuk mengambil tas sekolah dan tas gitarnya, "Aku mau pulang. Kamu?"
"Gak, aku di sini aja dulu. Hati-hati di jalan…" kata Tsubaki. Rei lalu masuk ke dalam gedung, meninggalkan Tsubaki yang menatap langit berbintang yang berkelip nakal. Wajahnya yang biasanya kaku sekarang malah menyunggingkan senyum lembut.
"Kaya'nya… Aku suka dia deh…" gumamnya lembut.
.
.
Tanggung jawab? Emangnya kamu habis menghamiliku?
Switch berjalan berdampingan dengan Rei menuju apartemennya. Sejak tadi ia tidak berkata apa-apa sampai membuat Rei heran. Biasanya ia akan menggoda Rei sampai membuat gadis itu bersemu merah, sekarang malah diam seribu bahasa.
"Oi, Switch!"
Nee, jadi kamu mau ngapain untuk bertanggung jawab? Menikahiku?
"Oi, Mata empat!"
Switch tidak menjawab panggilan Rei. Otaknya terus mengulang-ulang kata-kata yang diucapkan Rei secara frontal kepada Tsubaki. Secara tidak sengaja ia mendengar percakapan Rei dan Tsubaki tentang 'tanggung jawab'.
"Sore yori, aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku!"
Switch yang secara tidak sengaja lewat di depan pintu atap menoleh ke asal suara. Ia baru saja dipanggil oleh Aoi, hanya untuk mendengar gadis itu menghina-hina Rei sekali lagi. Dan dilihatnya Tsubaki dan Rei sedang berbicara dengan jarak yang dekat. Switch langsung memasang telinga untuk mendengarkan mereka.
"Tanggung jawab?" Rei menatap Tsubaki aneh. "Emangnya kamu habis menghamiliku?"
Wajah Tsubaki langsung merah padam mendengar kata-kata Rei. Berbanding terbalik dengan wajah Switch yang berubah pucat. Rei? Hamil?Oleh Tsubaki?
"M..Maksudku bukan begitu…"
"Lalu?"
"Ah.. Etto… Setidaknya biarkan aku bertanggung jawab!"
"Kata-katamu itu!" gerutu Rei. "Atau jangan-jangan kamu habis menghamili Aoi?"
Switch mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Ternyata Tsubaki… Dia…
"Sudah kubilang, maksudku bukan itu!" wajah Tsubaki benar-benar memerah sekarang. "Emangnya tanggung jawab itu harus dilakukan setelah menghamili seorang gadis?"
"Kata-katamu itu terlalu berat untuk anak SMA!" Rei melipat tangannya di depan dada dan menatap Tsubaki tajam. "Nee, jadi kamu mau ngapain untuk bertanggung jawab? Menikahiku?"
Switch terbelalak. Rei? Meminta Tsubaki untuk menikahinya? Dengan cara yang santai pula?
Dengan perasaan marah ia meninggalkan tempat itu, tidak melanjutkan kegiatan mengintipnya karena ia takut akan jawabannya. Ia yakin Tsubaki akan bertanggung jawab atas perbuatannya pada Rei, dengan cara apapun itu. Meskipun dengan cara menikah sekalipun.
"Oi, programmer otaku bisu mesum!"
Switch tersadar dari lamunannya dan menoleh ke asal suara. Ia mendapati Rei sedang menatapnya tajam.
"[Oh, hai, Rei… Selamat atas kehamilanmu, ya!]" ketik Switch ringan, dengan wajah tanpa dosanya.
"Ham—" Rei terbelalak, terkejut atas kata-kata Switch yang tiba-tiba. "Apa kamu bilang?!" Rei berusaha menahan amarahnya dan berusaha bersikap santai. "Maksudmu apa?"
"[Ho ho ho… ]" ketik Switch sambil terus berjalan meninggalkan Rei yang kepalanya sudah panas. "[Semoga anakmu akan menjadi anak yang cerdas seperti ibunya dan tegas seperti ayahnya ya!]" Switch lalu melambaikan tangannya pada Rei dan meninggalkan Rei yang kesal karena disindir oleh Switch. Walaupun maksud pemuda itu bukan seperti itu.
Setelah Switch hilang dari pandangan, Rei menjatuhkan tubuhnya dan menatap arah kepergian Switch dengan tatapan kosong. Sial, hal ini terjadi lagi, umpatnya. Hal ini sama seperti ia diusir dari mansion Sasayaka setelah ayah dan ibunya bercerai, dan juga rumor tentang dirinya yang menjadi ketua geng berandalan.
Tak jauh darinya, Aoi mengintip sambil menyunggingkan senyum liciknya.
Rencananya berhasil. Dengan sedikit saran pada Tsubaki dan sifat ceplas-ceplos Rei, ia menghancurkan gadis itu. Sekali lagi. Aoi pun pergi sambil tertawa setan, meninggalkan Rei yang masih terpaku di tempatnya.
Sekarang gilirannya mengambil tempat Rei. Di hati Switch.
.
.
Keesokan harinya…
Himeko masuk ke dalam kelas, dan melihat Switch sedang asyik berbincang-bincang dengan Aoi. Mereka terlihat sangat akrab. Himeko pun mendekati mereka dengan alis terangkat. Sebenarnya, kalau dilihat lebih dekat, hanya Aoi saja yang berbicara, sedangkan Switch tidak menanggapinya.
"Ohayou, Aoi." sapa Himeko datar.
"Ohayou, Himeko-san." jawab Aoi anggun. Lalu pergi meninggalkan Switch dengan senyum licik yang tersungging di bibirnya. Himeko hanya bisa menatap kepergian gadis itu dengan tatapan heran, lalu pandangannya beralih kepada Switch.
"Switch, nani shitteru ya?" tanya Himeko heran.
"[Ho ho ho… Ohayou, Himeko. Aku gak liat kamu datang.]" ketik Switch dengan nada yan dibuat ceria.
"Aku datang dari tadi, baka!"
Drrt… Drrt…
Himeko mengeluarkan hpnya yang bergetar, tanda ada pesan masuk. Himeko membukanya, dan ternyata itu dari Rei.
From : Rei
Himeko, aku batal ikut turnamen. Dan aku keluar dari band.
Hari ini aku bakal ke Indonesia sama kakakku.
Makasih udah mau jadi temanku selama di Jepang. Kuharap kita bisa bertemu lagi.
Sasayaka Akira. (Rei)
Nb : Jangan bilang ke siapa-siapa, apalagi ke Switch.
"Masaka…" muka Himeko mendadak pucat.. "Shinjirarenai ya.."
"[Doushita, Himeko?]" tanya Switch yang heran akan perubahan raut wajah Himeko. Namun Himeko tidak menjawab Switch dan malah berlari keluar kelas setelah menaruh tasnya di meja Switch.
"Aku izin gak masuk kelas Switch! Dan aku titip tasku! Jaa!" ujarnya sebelum hilang dari pandangan.
.
.
Apartemen Rei…
Rei memetik gitarnya dengan lembut. Matanya terlihat sedih. Dari bibirnya mengalun nada yang sangat lembut.
Now that I find you…
Looking in the eyes of love…
Himeko menatapnya sedih. Baru kali ini ia melihat Rei dalam keadaan sekacau itu. Rambutnya kusut dan berantakkan. Matanya bengkak dan menghitam. Namun ia mendengarkan cerita Rei yang diungkapkan dengan cara aneh barusan. Lalu gadis pirang itu mendekati Rei dan memeluk gadis itu.
"Switch…" gumam Rei perlahan. Himeko mengelus-elus rambut hitam Rei lembut.
"Daijoubu, Rei… Daijoubu…" gumamnya perlahan. Lalu ia mengetik pesan sambil terus memeluk Rei.
To : Switch
Switch, lebih baik kamu ke apartemen Rei sekarang.
Kalo gak, kubunuh kau!
Baru saja Himeko akan menekan tombol kirim, terdengar suara bel yang menandakan ada orang yang datang. Disertai ketukan di pintu yang tidak bisa dibilang lembut sama sekali.
"Oi, buka pintunya sekarang!"
Himeko langsung melepaskan pelukannya, membatalkan pesannya, dan berlari ke pintu depan, dan membukakan pintu. Dilihatnya seorang gadis berambut coklat gelap sepinggul dan memakai kacamata berframe coklat yang menutupi mata hazelnya, sedang memasang wajah kesal. Penampilannya tidak manis seperti remaja kebanyakan. Malah ia terlihat dewasa dengan blus krem polos tanpa corak dan hiasan serta bolero putih dan celana panjang hitam. Di kakinya terpasang high heels berwarna coklat. Ia memakai ikat pinggang katun berwarna putih yang menjuntai sampai ke pahanya. Ia membawa koper besar, sepertinya dia datang dari tempat yang jauh.
Saat ia bersiap untuk memarahi orang itu, ia sudah kena semprot duluan.
"Mana Akira?!" Sasayaka Amelia, atau Rea, masuk dengan wajah garang bercampur panik dan kesal. Betapa terkejutnya ia saat melihat Rei sedang duduk di sofa dalam keadaan yang tidak baik. Ia langsung menatap tajam ke arah Himeko yang kaget akan kedatangannya yang tidak terduga itu.
"Kenapa dia?!" tanyanya. "Kalo aku tau dia bakal begini aku pasti datang lebih cepat!" gerutunya.
"Gomen…" jawab Himeko, gugup. "A..aku juga baru datang dan liat dia udah sekacau ini…"
"Sou desu yo ne…" Rea manggut-manggut, lalu menatap Himeko seakan-akan ia baru menyadari keberadaan gadis pirang itu. "Omae wa… dare?"
"Wa..watashi.. Onizuka Hime desu ya. Tapi panggil aja Himeko."
"Himeko ka…" Rea tersenyum manis. "Atashi no namae wa Sasayaka Amelia! Tapi panggil aja Rea!" ujarnya.
"A…Rea-nee…" Rei yang menyadari kalau kakaknya itu sudah datang langsung bangkit dari tempat duduknya dan merapikan rambutnya. "Kapan Rea-nee datang?"
"Lima menit yang lalu." jawabnya datar sambil membenarkan letak kacamatanya. "Dan aku datang cuma buat ngeliat kamu yang lagi galau, berantakan, karena Aoi?" sindirnya. Lalu melipat kedua tangannya di dadanya. "Anak itu benar-benar keterlaluan!"
"Rea-nee! Ini bukan karena Aoi—"
"Bukan ya?" Rea menaikkan alisnya. "Lalu karena siapa?"
"Switch." jawab Himeko. Membuat Rea dan Rei menatap gadis berlogat Kansai itu dengan kaget.
"Switch? Saklar lampu?" Rea mengalihkan pandangan pada Rei yang pucat. "Kamu galau gara-gara saklar lampu?" tanyanya kaget, membuat Himeko dan Rei menatap Rea dengan tatapan aneh.
"Bukan saklar lampu, Rea-nee…" jawab Rei lemah. "Tapi—"
"Ya udah, kamu masuk kamar aja, istirahat." Rea tersenyum, memotong kata-kata Rei. "Kamu keliatan kaya' vampire yang kena matahari. Pucat."
"Rea-nee…"
"Istirahat!" perintah Rea. Rei langsung masuk ke dalam kamarnya, sementara Rea menatap Himeko dengan tatapan menyelidiki.
"Teman sekolahnya Akira kan?" tanya Rea. "Kuharap dia gak bikin masalah kaya' Aoi."
"Iya…" jawab Himeko. "Hm… Anda kakaknya Rei?"
"Ah, gak usah formal gitu. Biarpun aku udah kerja, umurku baru 18 tahun!" Rea tersenyum jahil, persis Rei. "Iya, aku kakak dari si kembar Akira dan Aoi."
"E..eh.. Iya…" Himeko salah tingkah. Rupanya dia salah menaksir umur Rea. ia menyangka Rea sudah kepala dua, tapi nyatanya dia hampir seumuran dengan mereka. Hanya terpaut dua tahun.
Tak lama kemudian Rea masuk ke dalam kamar Rei, dilihatnya Rei berbaring di tempat tidurnya. Rea menyadari bahwa Rei memakai contact lens, dan menyuruh Rei melepasnya.
"Hei, kamu kan gak minus, kenapa pake contact lens? Warna biru pula!"
"Gakpapa kan, Rea-nee! Aku malu sama warna mataku…"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas!"
"Gak!"
"Lepas pokoknya!"
"Aku gak mau, Rea-nee!"
"Kalo kamu gak mau ngelepas contact lens-mu, aku bakal…"
"Bakal apa?"
"Aku bakal…"
"Bakal?"
"Aku bakal…"
"Bakal apa, Rea-nee?"
"Aku bakal ngelepas contact lens-ku sendiri!"
"Hah? Rea-nee kan gak pake contact lens? Tapi pake kacamata…"
"Ah, iya. Aku lupa…"
Himeko hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar pertengkaran antara kakak beradik itu. Suara mereka terdengar cukup jelas walaupun dipisahkan dinding. Dan Himeko hanya bisa bergumam pelan.
"Ah, dasar kakak adik…"
.
.
Di sekolah…
Rea dan Himeko berjalan di koridor sekolah yang sudah sepi. Ya, sebagian siswa sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Namun beberapa siswa ada yang masih di sekolah karena ada kegiatan klub. Himeko lalu menceritakan tentang sekolah mereka, dan tentu saja Sket Club.
"Sket Club itu di mana?" tanya Rea.
"Sebentar lagi kita sampai." ujar Himeko, lalu ia berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan, 'Sket Club. Buka untuk konsultasi.' Rea mengernyitkan alis saat membaca tulisan itu.
"Konsultasi? Emangnya kalian psikolog?" tanya Rea saat Himeko membuka pintu.
"Kami di sini untuk menolong siswa maupun guru yang membutuhkan bantuan kami!" ujar Bossun, berpromosi. "Eh? Rei kok beda?" tanyanya heran saat melihat Rea. Memang, Rei dan Rea agak mirip, namanya juga kakak adik. Tinggi mereka juga hampir sama, walaupun saat ini Rea terlihat lebih tinggi karena memakai high heels.
"Atashi wa, Sasayaka Amelia! Yoroshiku!" ujar Rea. "Tapi kalian bisa panggil aku Rea!"
"Sasayaka? Kembaran Rei yang lain?" tanya Bossun bingung. "Rei itu kembar berapa emangnya?!"
Pletak!
Himeko memukul Bossun dengan Cyclone-nya dengan tatapan kesal.
"Dia itu kakaknya Rei, tau!" ujar Himeko kesal. "Dia datang jauh-jauh dari…"
"Indonesia! Buat nyelesaikan masalah di sini." potong Rea serius. Lalu menatap tajam Himeko, Bossun dan Switch secara bergantian. "Karena kulihat kalian gak serius menolong, malah membuat keadaan menjadi tambah rumit!"
"[Maaf, Amelia. Tapi dia sama sekali gak cerita masalahnya, kecuali masalah dia yang terkena rumor, dan itupun sudah selesai. Dan kami sendiri masih bingung dengan masalahnya dengan Aoi yang katanya terus memaksa dia untuk pulang, dan berakhir dengan Rei diskors selama seminggu. Karena ia menyerang Aoi yang akhirnya mencela klub ini.]" jelas Switch panjang lebar.
Alis Rea naik sebelah, lalu ia menganggukkan kepalanya. "Ara~ Aku ngerti sekarang." Lalu pandangannya beralih ke dua pemuda yang menatap Rea dengan ingin tahu. "Sekarang, aku pengen tau nama kalian."
"Fujisaki Yuusuke. Tapi orang-orang memanggilku Bossun!"
"[Usui Kazuyoshi. Dan tolong, panggil aku Switch.]"
Rea langsung mendekati Switch yang masih duduk santai di depan komputernya, lalu mencengkeram leher seragam pemuda itu, dan menariknya agar pemuda itu berdiri menghadapnya. Lalu ia menatap tajam mata Switch yang tertutup kacamatanya.
"Oh, jadi kamu yang bikin Akira begini?" desisnya berbahaya. "Kamu benar-benar cocok jadi saklar lampu di dinding daripada jadi database dari Sket Club!"
.
TBC
Haduh… Makin aneh aja nih cerita! Maafkan Amel karena bikin cerita ini makin nista saja… Dante dan Tsubaki juga OOC banget.
Dan maafkan Amel karena seenaknya masuk ke dalam cerita, sebagai kakaknya Rei. Kalo para readers ada yang gak setuju, ntar Amel pulang lagi deh… hehehe…
Amel bales review dulu yee…
In-chan : Hehehe, ternyata fic-nya bikin shock ya! Jangan sampai jantungan ya! Hehehe… ^O^
YuIchi : Wah, semangat ya, ngerjain tugasnya! Dan makasih udah sempat-sempatin buat baca cerita Amel… ^^ Dan maaf karena setiap chap selalu berakhir dengan misteri, karena Amel sendiri bingung nentuin Endingnya gimana. Tapi Amel usahain di chap terakhir bakal Amel puasin rasa penasarannya deh!
maggie98 : Terharu? Kalo gitu Amel balas lagi biar makin terharu… #plakk… Gakpapa kok, tagih aja, biar Amel nyadar kalo udah waktunya update…^^ Dan semoga suka juga sama chap ini ya, walaupun rada gaje… XD
Mind to Review?
