Good Father

Main Cast : Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Jeno, Park Jisung

Genre : Romance

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please. NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION!

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANK YOU ^^

.

.


Jisung masuk ke kamarnya setelah bicara dengan Hyukjae, kemudian ia berbaring di ranjang dan menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Mungkin yang dikatakannya pada Hyukjae sedikit kasar, tapi Jisung hanya ingin mengingatkannya soal konsekuensi dari hubungan yang dia jalani saat ini. Entahlah, Jisung merasa serba salah.

Memang benar, Jisung pernah mengatakan akan mendukung hubungan Hyukjae dengan Donghae. Saat itu Jisung berpikir, hubungan pertemanannya dengan Jeno tidak akan terpengaruh. Tapi setelah mereka mengobrol di kantin, Jisung merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Mungkin hanya perasaannya saja, tapi Jisung benar-benar takut. Bagaimanapun Jeno adalah teman dekat pertamanya.

Sejak pertama kali diasuh Hyukjae, Jisung tidak pernah punya teman dekat karena lebih sering menghabiskan waktu di tempat penitipan anak. Saat Hyukjae sedang kuliah dan mulai bekerja, Jisung hampir setiap hari berada di tempat penitipan anak sehingga tidak punya waktu untuk bergaul dengan anak-anak lain selain di tempat penitipan. Jisung menjadi anak yang tertutup dan agak sulit bergaul setelah masuk sekolah.

Tapi semua berubah setelah Jisung mengenal Jeno. Berkat kehadiran Jeno di hidupnya, Jisung mengenal Jaemin yang begitu baik dan memperlakukannya seperti adik sungguhan. Jeno juga memperlakukan Jisung dengan sangat baik, layaknya seorang kakak. Jeno kadang memarahinya, tapi juga kadang mencemaskannya. Benar-benar seperti kakak sungguhan. Entah apa yang akan terjadi pada Jisung jika tidak bisa berteman lagi dengan Jeno. Mungkin Jisung akan kembali menjadi anak penyendiri yang membawa-bawa kotak harta karun peninggalan ibunya.

Oh, tunggu. Jisung jadi teringat pada kotak itu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Jisung membuka kotak itu. Jisung beranjak dari tempat tidur dan membuka lemarinya, mencari kotak yang selalu ia bawa saat kecil. Sebuah kotak berukuran 30cm yang berisi kenangan ibunya sebelum meninggal. Di dalam kotak yang seharusnya digembok itu ada foto, surat, dan barang-barang lain milik ibunya.

Sebenarnya Jisung tidak pernah tahu seperti apa ibunya, tapi menurut cerita Hyukjae, dia adalah wanita yang baik. Kata nenek, ibu Jisung menikah muda, lalu tak lama setelah menikah, dia mengandung Jisung. Semua baik-baik saja, sampai akhirnya Jisung lahir dan perilaku ayah Jisung mulai berubah jadi kasar. Entah apa alasan pastinya, tapi ayah Jisung memang benar-benar berubah jadi pecandu alkohol dan suka memukuli istrinya setelah Jisung lahir. Mengingat itu, membuat Jisung sangat sedih.

"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu membuka kotak itu." Hyukjae masuk ke kamar Jisung dan ikut duduk bersamanya di lantai dekat lemari. "Ibumu sangat menyayangi kotak ini, dia akan sangat marah jika aku mencoba menyentuh atau membukanya," katanya sambil memegangi gembok berbentuk hati warna merah muda yang sudah rusak.

Kotak yang ada pada Jisung sekarang itu adalah peninggalan satu-satunya milik kakak perempuan Hyukjae, Lee Sora. Saat masih hidup, Sora memasukkan semua kenangannya selama hidup ke dalam kotak itu. Suatu hari Sora pernah berkata pada Hyukjae, kotak itu digembok karena ada orang lain selain dirinya yang memegang kuncinya. Sora juga memberi tahu, jika suatu hari ada orang yang membawa kunci gemboknya dan mencari kotak itu, Hyukjae harus memberikannya pada orang itu. Tapi sampai saat Sora mengembuskan napas terakhirnya pun, orang yang disebutnya itu tidak pernah muncul untuk mencari kotak itu.

Hyukjae pernah bertanya pada Sora, mengapa kotak itu tidak boleh dibuka sekarang? Sora bilang, kotak itu menyimpan segala macam kerinduan, kesakitan, dan kesedihannya. Kotak itu seperti kotak pandora yang akan menimbulkan segala macam keburukan dan kesedihan. Lalu Hyukjae bertanya lagi, jika kotak itu hanya akan menimbulkan keburukan dan kesedihan, mengapa Sora masih menyimpannya juga? Sora menjawabnya dengan Bahasa Inggris yang tidak begitu Hyukjae pahami waktu itu. Katanya, 'Because missing someone is most beautiful pain'. Hyukjae tidak pernah tahu, sebenarnya siapa yang selalu dirindukan kakaknya?

Setelah Sora meninggal dan memang tidak ada yang mencari kotak itu, Hyukjae membuka paksa kotak itu dengan cara merusak gemboknya karena tidak menemukan kuncinya. Padahal, Hyukjae yakin Sora memiliki kuncinya. Tapi karena setelah kematian Sora keadaan rumah waktu itu kacau, jadi Hyukjae tidak sempat mencarinya lagi.

Di dalam kotak itu ternyata ada surat, foto, dan buku diari saat sang kakak masih sekolah dulu. Di dalam sana juga ada foto lama yang sudah sobek; foto Sora yang memakai seragam sedang menggandeng seseorang. Tapi karena sudah sobek, Hyukjae tidak bisa melihat wajah orang yang sedang digandeng Sora. Ada juga foto-foto ultrasonik Jisung saat ada di kandungannya, dimulai dari usia dua minggu hingga delapan bulan.

"Ya, samchon sudah pernah cerita soal itu," kata Jisung sambil memasukkan kembali barang-barang yang ada di dalam kotak itu. "Samchon bilang, kotak ini seharusnya dimiliki seseorang dan bukannya aku."

"Ibumu memang bilang, seharusnya ada orang yang mencari kotak ini. Seseorang yang memiliki kunci gembok kotak ini," kata Hyukjae menjelaskan.

"Lalu, mengapa orang itu tidak pernah datang?" tanya Jisung.

Hyukjae menggeleng tidak yakin, ia sendiri tidak tahu mengapa. "Entahlah, aku tidak tahu. Omong-omong, kenapa kau membukanya lagi? Mencari sesuatu?"

Jisung menggeleng dan menutup kotak itu. "Aku hanya iseng."

"Oh, iya. Soal pembicaraan kita tadi," kata Hyukjae ragu-ragu.

"Ya?"

"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Hyukjae sambil mengembuskan napas. "Aku bingung."

"Samchon pasti punya jalan keluarnya, percayalah," jawab Jisung. "Dan maafkan aku jika tadi ucapanku keterlaluan. Aku hanya …"

"Aku tahu …" sela Hyukjae. "Sudah malam, tidurlah."

Lalu setelah itu Hyukjae meninggalkan kamar Jisung dan kembali ke kamarnya dengan perasaan tidak karuan.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Hyukjae sampai di kantor sebelum Donghae datang, lalu mulai menyusun surat dan dokumen di atas meja. Saat Hyukjae berbalik, ia langsung dipeluk seseorang. Dari aromanya yang manis dan khas, Hyukjae tahu itu Donghae. Maka dari itu Hyukjae tersenyum dan langsung balas memeluknya dengan erat.

Pembicaraannya dengan Jisung kemarin, ingin Hyukjae lupakan dulu saat ini. Setidaknya, kalaupun nanti mereka memang harus berpisah, Hyukjae ingin menikmati hari-hari manis seperti ini. Biarkan Hyukjae memiliki kenangan yang indah bersama Donghae walau hanya sesaat.

"Pagi, Daepyonim."

"Pagi, kekasihku."

Mendengar panggilan Donghae yang tidak biasa, membuat Hyukjae mengerutkan kening dan langsung melepaskan dekapan mereka. "Ew, apa-apaan itu?" tanyanya dengan raut wajah jijik.

"Bukankah itu terdengar manis?" Donghae balik bertanya dan mengecup kening Hyukjae sebelum duduk di kursinya.

"Aneh!" jawab Hyukjae sambil berdecak.

"Aku belum memberi tahu Jeno soal hubungan kita," kata Donghae tiba-tiba. Dan itu cukup membuat Hyukjae sedikit terkejut.

"Ya?" sahut Hyukjae.

"Aku mungkin akan memberi tahunya nanti. Hmm, jika waktunya sudah tepat," jelas Donghae yang langsung diangguki Hyukjae.

"Baiklah, terserah kau saja," kata Hyukjae sambil memaksakan senyumnya.

"Jadwalku hari ini?" tanya Donghae setelah duduk dan melihat tumpukan surat di mejanya.

Hyukjae mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai membacakan jadwal Donghae. "Jam 10.30 ada rapat kecil dengan tim pemasaran dan jam 14.00 bertemu dengan klien."

"Sudah?" tanya Donghae ketika Hyukjae memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. "Wah, aku bahagia sekali tidak perlu melakukan presentasi hari ini."

"Hanya itu. Jadwalmu setelah itu kosong," jawab Hyukjae.

"Tidak ada kencan buta?" tanya Donghae yang langsung ditatap tajam oleh Hyukjae. "Dengan Lee Hyukjae-ssi …" katanya menambahkan.

Hyukjae memutar bola matanya dan langsung tersenyum. "Tidak ada! Hari ini aku sibuk sampai malam."

"Ah, sayang sekali!" Donghae memberengut dan berdecak kesal. "Bisa kau meluangkan waktu makan malam denganku?"

"Tidak bisa."

"Kalau aku berkunjung ke rumahmu?" tanya Donghae penuh harap.

"Ada Jisung di rumah."

Donghae menatap Hyukjae sambil mengangkat alisnya. "Memangnya mengapa kalau ada Jisung? Kita 'kan tidak akan melakukan apa-apa."

"Itu … maksudku …" Hyukjae tiba-tiba kehilangan kata-katanya.

"Apa yang kau pikirkan sepagi ini, hm?" tanya Donghae engan ekspresi nakal, menggoda Hyukjae.

"Aku tidak memikirkan apa pun!" sergah Hyukjae. "Kau saja yang berpikir aneh-aneh."

"Jadi kau akan mengundangku ke rumahmu kalau Jisung tidak ada di rumah?" goda Donghae sambil menatap nakal Hyukjae.

"Aku permisi dulu, Daepyonim." Hyukjae membungkuk, bersiap-siap pergi.

"Tunggu!" Donghae beranjak dari kursinya dan buru-buru menghadang Hyukjae.

"Apa lagi?" tanya Hyukjae malas. "Aku tidak akan mengundangmu ke rumahku meskipun …"

Donghae langsung meraup bibir Hyukjae, menghentikannya bicara. "Hmm, jeruk," katanya setelah melepaskan bibir Hyukjae.

"Kau selalu saja seenaknya!" Hyukjae berdecak sambil menatap sinis Donghae. "Oh, aku jadi ingat ingin memberimu sesuatu," katanya sambil merogoh saku celananya dan memberikan sesuatu ke tangan Donghae.

"Lipbalm? Untuk apa?" tanya Donghae bingung.

"Aku suka jika bibirmu terasa seperti stroberi."

Donghae menatap Hyukjae bingung. "Aku tidak pernah pakai lipbalm."

"Pakailah, itu membuat bibirmu lembab." Hyukjae tersenyum sebelum mengecup singkat bibir tipis Donghae dan langsung meninggalkan ruangan yang cukup luas itu.

Setelah Hyukjae pergi, Donghae tidak tahan untuk tersenyum dan duduk di kursinya sambil berputar-putar.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Siang ini Jisung mengobrol dengan Jaemin di kantin. Tanpa Jeno yang sedang sibuk bermain basket di lapangan utama sekolah. Setelah jahitan di bahunya kering, Jeno langsung beraktivitas seperti biasanya. Ikut olah raga ini dan itu, membuat dirinya berkeringat.

Dan saat Jeno tidak ada, Jaemin jadi punya kesempatan untuk membicarakan soal kejadian di atap kemarin pada Jisung. Meskipun semua itu bukan mimpi, tapi Jaemin masih saja tidak percaya. Seperti nyata, tapi juga seperti mimpi. Serius, Jaemin benar-benar sudah menduga Jeno akan marah dan membencinya. Atau setidaknya, Jeno tidak mau bicara padanya selama berbulan-bulan. Tapi ternyata, reaksi Jeno sungguh di luar dugaan Jaemin.

"Aku cukup terkejut mendengarnya," kata Jisung setelah Jaemin selesai bercerita. "Maksudku, tentang Jeno hyung yang mengungkapkan perasaannya padamu."

"Aku yang mengungkapkannya duluan," kata Jaemin mengoreksi.

"Kalau yang itu tidak mengejutkan."

"Park Jisung, seriuslah!"

"Aku serius," kata Jisung sambil tertawa pelan. "Dengan kepribadiannya yang seperti itu, Jeno hyung tidak mungkin mengungkapkannya duluan."

"Kau benar." Jaemin mengangguk setuju. "Jadi sekarang aku harus bagaimana?"

"Bagaimana apanya?" tanya Jisung.

"Hubunganku dengan Jeno selanjutnya," jawab Jaemin sambil berdecak.

"Ya, kalian tinggal berkencan dengan resmi." Jisung mengangkat sebelah bahunya sambil menyedot susu stroberinya yang hampir habis. "Kalian 'kan sudah saling tahu perasaan masing-masing. Apa lagi?"

"Kalian pasti membicarakan aku, ya?"

Jisung dan Jaemin menoleh bersamaan ke arah Jeno yang baru datang dan langsung duduk di samping Jisung, berhadap-hadapan langsung dengan Jaemin. Kemudian Jeno merebut susu pisang milik Jaemin dan menghabiskannya. Lagi-lagi mereka menggunakan sedotan yang sama, membuat Jisung melirik Jeno dengan tatapan tidak biasa.

Beberapa hari yang lalu, Jisung menemukan hal itu tidak biasa. Awalnya Jisung mengira Jeno memang tidak keberatan berbagi sedotan dengan siapa pun, tapi ternyata tidak seperti itu. Jisung pernah melihat Jeno sedang bersama temannya yang lain, dan saat temannya itu mengambil minuman milik Jeno, dia langsung marah dan tidak mau lagi meminumnya. Jelas-jelas Jisung mendengar, Jeno bilang tidak suka berbagi sedotan dengan orang lain. Lalu, mengapa dengan Jaemin hal itu seperti biasa saja?

"Bagaimana kau tahu?" tanya Jisung polos.

"Park Jisung!" seru Jaemin sambil memelototi Jisung.

"Apa yang kalian bicarakan tentang aku?" tanya Jeno sambil melirik Jisung. Dan Jaemin langsung memberi Jisung kode agar tutup mulut.

"Aku akan kembali ke kelas," kata Jisung sambil bangun dari kursi. "Ada yang memelototi aku, sepertinya dia ingin aku pergi."

"Hei, bukan seperti itu!" seru Jaemin salah tingkah.

"Aku akan pergi, hyung." Jisung melambaikan tangannya sebelum pergi. "Aku tidak suka mengganggu suami istri yang sedang lovey dovey."

"Park Jisung!" seru Jaemin lagi.

"Kata-katanya persis seperti Renjun," gumam Jeno setelah Jisung pergi.

"Memangnya Renjun mengatakan apa?" tanya Jaemin.

Jeno mengalihkan pandangannya pada Jaemin. "Ya? Oh itu … hmm, bukan apa-apa."


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Sepulang sekolah, Jisung menemukan mobil Donghae berhenti di depan gerbang. Jisung berpikir, Donghae mungkin sedang menunggu Jeno. Tapi setelah melirik jam tangannya, Jisung ingat Jeno baru keluar kelas jam delapan nanti. Sekarang baru jam tujuh. Ah, mungkin Donghae tidak tahu atau lupa. Jadi, Jisung berlari menghampiri mobil Donghae dan membungkuk begitu Donghae keluar dari mobil.

"Selamat malam, Daepyonim," sapa Jisung sopan. "Anda datang untuk menjemput Jeno hyung?"

Donghae menggeleng cepat sambil tersenyum. "Oh, bukan. Aku datang untuk menemuimu."

"Ya?" Jisung mengangkat alisnya. "Mencariku? Ada apa?"

"Oh, itu … hmm. Begini …" Donghae tampak berpikir dan ragu mengucapkan kalimatnya, membuat Jisung menunggunya bicara dengan gugup.

"Apa sesuatu terjadi pada samchon?" tanya Jisung cemas.

"Oh, bukan!" jawab Donghae buru-buru. "Bukan seperti itu."

"Jadi?" tanya Jisung tak sabaran.

"Hmm, pamanmu malam ini harus lembur bersamaku," jawab Donghae sambil tertawa tidak jelas. "Jadi … jadi, dia memintaku untuk menyampaikan pesannya padamu. Katanya, malam ini kau menginap saja di rumahku bersama Jeno. Kebetulan Jeno juga akan sendirian malam ini, karena aku harus lembur."

"Oh, tapi biasanya paman menelepon atau mengirim pesan padaku," kata Jisung merasa aneh.

"Itu … hmm. Ponselnya mati dan dia tidak sempat mengisi baterainya karena terlalu sibuk." Donghae menjelaskan. Jisung pun akhirnya mengangguk dan berhenti bertanya.

"Baiklah kalau begitu," katanya sambil membungkuk lagi.

"Kalau begitu aku akan kembali lagi ke kantor." Donghae kembali masuk ke mobilnya dan membuka Jendela. "Terima kasih, Jisung. Baik-baik bersama Jeno di rumah."

"Terima kasih?" gumam Jisung setelah mobil Donghae pergi. "Mengapa dia yang berterima kasih?" tanyanya bingung. Tapi sudahlah, Jisung tidak ingin memikirkannya.

Jisung kembali lagi ke gedung sekolah untuk menunggu Jeno yang masih belum keluar kelas. Saat berjalan menuju kantin, Jisung melirik jam tangannya. Baru pukul tujuh lewat lima belas menit, jam delapan masih cukup lama. Jisung mengirim pesan ke ponsel Jeno dan memutuskan untuk menunggunya di kantin sambil makan beberapa camilan.

Satu jam kemudian, mata Jisung mulai berat. Menunggu membuatnya mengantuk, ditambah lagi perutnya kembung karena kebanyakan minum susu stroberi. Mata Jisung benar-benar berat dan tiba-tiba tubuhnya merindukan tempat tidur. Jisung benar-benar mengantuk dan ingin cepat pulang.

"Park Jisung!" panggil Jeno yang baru saja datang.

"Oh, akhirnya kau datang," kata Jisung lega. Akhirnya ia bisa segera bertemu dengan tempat tidur yang nyaman.

"Aku baru menerima pesan dari ayahku. Katanya dia lembur bersama pamanmu dan menyuruhmu untuk menginap di rumah." Jeno menjelaskan dan Jisung hanya mengangguk lesu.

"Ya, aku sudah tahu," kata Jisung sambil menguap. "Itu sebabnya aku di sini menunggumu."

Jeno tersenyum melihat Jisung yang terkantuk-kantuk, lalu mengacak gemas rambut cokelat keemasannya. "Kau pasti sangat mengantuk. Ayo, kita pulang," katanya sambil menarik lengan Jisung dan membantunya bangun dari kursi.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Donghae kembali lagi ke kantor setelah mengungsikan Jisung ke rumahnya. Ini sedikit licik, tapi Donghae benar-benar ingin berduaan dengan Hyukjae. Sejak mereka memutuskan untuk berkencan secara resmi, Donghae tidak punya waktu untuk berduaan dengan Hyukjae. Mereka selalu saja sibuk dengan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk kencan sungguhan.

Jadi, setelah Donghae berpikir cukup lama, akhirnya sebuah ide—yang cukup gila—muncul di kepalanya. Jika tidak bisa mengajak Hyukjae keluar untuk kencan, maka Donghae akan mengencani Hyukjae di rumahnya saja. Siapa tahu ada bir atau semacamnya di sana dan Hyukjae mabuk lagi. Dengan begitu, siapa tahu Donghae bisa melakukan sesuatu pada Hyukjae. Karena status mereka sekarang, kali ini Donghae yakin bisa melakukannya sampai tuntas.

"Oh, Daepyonim …" panggil Hyukjae ketika pintu lift terbuka. "Kau dari mana?"

"Ya?" Donghae keluar dari lift dan cukup kaget melihat Hyukjae ada di sana. "Hm … itu … membeli bensin," katanya berbohong.

"Kukira kau sudah pulang," kata Hyukjae sambil mengikuti Donghae yang berjalan menuju ruangannya.

"Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Donghae pada Hyukjae yang sedang berdiri di ambang pintu ruangannya.

"Sudah," jawab Hyukjae. "Aku sedang bersiap-siap pulang sekarang," katanya sambil menunjukkan tas kerjanya.

"Oh, kalau begitu aku akan mengantarmu." Donghae memakai jasnya dan bersiap pulang.

"Tapi aku bawa mobil." Hyukjae memberi tahu dan menunjukkan kunci mobilnya.

"Ya, aku tahu," sahut Donghae sambil berjalan meninggalkan ruangannya, diikuti Hyukjae di sampingnya. "Tinggalkan mobilmu di sini dan aku akan mengantarmu pulang."

"Tapi …"

"Ini perintah!" sela Donghae tidak ingin dibantah.

"Baiklah." Akhirnya Hyukjae mengangguk dan mencoba mengalah. "Tapi, bagaimana cara aku menjemput Jisung dan mengantarnya ke sekolah besok? Memakai taksi?"

Donghae menghentikan langkahnya di depan lift, lalu menatap Hyukjae. "Aku akan mengantarmu … maksudku, menjemputmu besok. Mengenai Jisung, malam ini dia akan menginap di rumahku bersama Jeno. Mereka akan belajar bersama."

Hyukjae mengangkat alisnya. "Jisung tidak memberi tahuku soal itu. Dan bagaimana kau bisa tahu?"

Pintu lift terbuka, Donghae menarik lengan Hyukjae agar masuk lebih dulu ke lift. "Aku diberi tahu Jeno," katanya sambil berdeham.

"Oh." Akhirnya Hyukjae mengangguk dan berhenti bertanya.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan, hingga tiga puluh menit kemudian mereka sampai di basement apartemen Hyukjae. Setelah mesin mobil mati, Hyukjae melirik Donghae dengan ekor matanya sambil membuka sabuk pengaman. Sepertinya Donghae juga ikut melepaskan sabuk pengamannya. Mungkinkah dia akan ikut turun juga? Hyukjae bertanya-tanya dalam hati.

"Terima kasih, Daepyonim," kata Hyukjae. "Aku akan masuk sekarang."

"Kau bisa memanggil namaku dengan santai saat kita tidak di kantor." Donghae melirik Hyukjae dan tersenyum. "Kau juga bicara dengan santai padaku, kita 'kan seumuran."

"Oh, ya. Baiklah." Hyukjae mengangguk tidak yakin. Selama lima tahun ini Hyukjae selalu memanggil Donghae dengan sebutan daepyonim, hingga membuatnya lupa bahwa sebenarnya Donghae juga punya nama.

"Kau punya kopi di rumah?" tanya Donghae tiba-tiba.

Hyukjae mengangguk ragu sambil menatap Donghae. "Ya, punya."

"Bisakah aku minum kopi dulu di apartemenmu sebelum pulang?" tanya Donghae lagi. "Aku sangat mengantuk dan butuh kopinya," katanya menambahkan.

Menolak keinginan Donghae mungkin akan membuat Hyukjae terlihat tidak sopan. Meskipun mereka kini menjalin hubungan, bukan berarti Hyukjae bisa bersikap kurang ajar pada Donghae. Bagaimanapun Donghae masih tetap atasan Hyukjae meski status mereka telah berubah.

"Tentu saja, kau bisa mampir dan minum kopi dulu sebelum pulang." Hyukjae kemudian turun dari mobil, diikuti Donghae. Lalu, mereka masuk ke lift dalam keadaan hening.

Saat lift sampai di lantai 11, Hyukjae melirik Donghae sebelum pintu terbuka. "Tapi, Daepyonim …" katanya sambil ke luar dari lift.

"Ya?" sahut Donghae.

"Aku hanya punya kopi instan di rumah," lanjut Hyukjae ragu-ragu.

"Oh, itu tidak apa-apa."

"Baiklah, kalau begitu."

Hyukjae melanjutkan langkahnya menuju unitnya yang ada di ujung koridor, kemudian menekan kata sandinya dan mempersilakan Donghae masuk. Setelah Donghae duduk di ruang tengah, Hyukjae menyalakan televisi sebelum beranjak ke dapur untuk membuat kopi. Rasanya canggung sekali berduaan di rumah dengan Donghae, hingga membuat Hyukjae harus berpikir keras untuk mencari topik pembicaraan.

Beberapa menit kemudian Hyukjae kembali ke ruang tengah dengan membawa dua cangkir kopi dan sepiring buah stroberi. Hyukjae tidak yakin harus menyuguhkan apa pada Donghae, karena di kulkasnya hanya ada buah stroberi dan camilan milik Jisung.

"Oh, terima kasih," kata Donghae setelah Hyukjae menyimpan kopi dan sepiring buah di meja yang ada di depan sofa. Kemudian Donghae bergeser dan mempersilakan Hyukjae duduk di sampingnya.

"Aku tidak punya apa-apa untuk disajikan padamu," kata Hyukjae canggung.

"Ini sudah cukup," sahut Donghae sambil membuka jasnya agar lebih nyaman, lalu mulai meminum kopinya dengan perlahan-lahan.

Dan kemudian hening selama beberapa saat. Hyukjae tidak tahu harus membicarakan apa, sementara Donghae sedang sibuk menghabiskan kopinya sedikit demi sedikit agar bisa lebih lama tinggal di apartemen Hyukjae. Hanya ada suara televisi yang sedikit meramaikan suasana.

"Kau tahu cara main Go Stop?" tanya Hyukjae memecah keheningan.

"Tentu saja." jawab Donghae. "Asal kau tahu saja, aku ini masternya Go Stop."

"Benarkah?" tanya Hyukjae tidak yakin. "Aku pernah mengalahkan Jeno. Padahal, dia bilang belajar main Go Stop darimu."

"Ey, itu karena dia sangat payah!" jawab Donghae, berkilah. "Bagaimana kalau kita taruhan?"

"Call!" sahut Hyukjae antusias. "Mau taruhan apa?"

"Yang kalah harus buka baju!" seru Donghae dengan mata berbinar.

Hyukjae memutar bola matanya dan berdecak. "Mau kalah atau menang, tetap saja hanya menguntungkan dirimu!"

"Kenapa? Kau malu, ya?" tanya Donghae dengan senyum menyebalkan. "Ey, tidak perlu malu-malu! Aku sudah lihat semuanya waktu itu."

"Ganti saja taruhannya!" tolak Hyukjae mentah-mentah.

"Kenapa?" tanya Donghae sambil merengek.

"Bagaimana kalau yang menang boleh meminta apa pun dari yang kalah," usul Hyukjae. "Setuju?"

Donghae menatap Hyukjae dan tersenyum licik diam-diam. "Oke, call!"

Diam-diam Donghae memikirkan sesuatu saat Hyukjae pergi ke kamarnya dan mengambil alat untuk main Go Stop.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Dalam waktu dua jam, mereka sudah main dua ronde dan Hyukjae yang kalah. Hyukjae mengumpat dan bersumpah serapah pada Donghae. Sejak dua jam yang lalu, Hyukjae berhenti memanggil Donghae dengan sebutan daepyonim dan bicara dengan sangat santai. Bahkan Hyukjae mulai berani memanggil Donghae idiot. Tentu saja, yang ada di hadapan Donghae ini adalah Lee Hyukjae. Bukan saja hanya sekretarisnya, tapi juga teman, dan sekarang adalah kekasihnya.

Donghae jadi ingat ketika Hyukjae pertama kali menjadi sekretarisnya—waktu itu Donghae baru saja menjabat posisi representatif. Saat mereka sedang diskusi, tiba-tiba saja Hyukjae mengumpat dan menyebut Donghae idiot karena tidak bisa mengingat bahan presentasi. Mereka juga pernah bertengkar gara-gara itu, tapi kemudian berbaikan. Anehnya, Donghae yang mengajak Hyukjae baikan duluan. Padahal, seharusnya Hyukjae-lah yang minta maaf pada Donghae. Sudah bertahun-tahun berlalu, akhirnya Donghae bisa mendengar Hyukjae mengumpat seperti dulu lagi.

"Sudah lama sekali aku tidak mendengarmu mengumpat di depanku," kata Donghae sambil tertawa pelan.

"Kenapa?!" tanya Hyukjae galak. "Kau ingin aku mengumpat lagi? Dasar idiot!"

"Anehnya, aku malah merasa senang dan bukannya terseinggung," kata Donghae sambil berdecak-decak, heran pada dirinya sendiri.

"Sudah idiot, aneh pula." Hyukjae mendengus dan menggeleng-geleng sambil menatap Donghae. "Mau jadi apa kau ini?"

"Jadi kekasihmu selamanya!" jawab Donghae tertawa dan mendorong Hyukjae hingga terjungkal ke belakang.

"Dasar gila!" seru Hyukjae jengkel. "Sekarang, katakan saja apa maumu?"

Donghae tersenyum penuh kemenangan sambil memandangi Hyukjae yang tampak jengah. "Kau punya bir?" tanyanya dengan raut wajah yang aneh.

"Ada beberapa di kulkas," jawab Hyukjae. "Kenapa?"

"Kalau begitu bawa kemari," kata Donghae memerintah.

Hyukjae masih duduk di tampatnya dan menatap Donghae bingung. "Untuk apa?"

"Aku ingin minum bir denganmu dan kau tidak bisa menolak karena ini adalah keinginanku sebagai pemenang." Donghae menjelaskan dengan sejelas-jelasnya pada Hyukjae.

Sial, Hyukjae tidak tahu Donghae pintar bicara. Padahal, Donghae bisa sangat kikuk dan canggung saat presentasi di depan banyak orang. Tapi lihatlah caranya bicara di depan Hyukjae, begitu lancar dan seenaknya.

"Baiklah, terserah kau saja." Akhirnya Hyukjae beranjak dari tempat duduknya dan mengambil semua bir yang ada di kulkasnya. "Minumlah sepuasnya," katanya sambil menyimpan bir di lantai, di hadapan Donghae.

"Kau juga harus minum," kata Donghae sambil membuka dua kaleng bir dan memberikan salah satunya pada Hyukjae. "Cheers!" serunya sambil mengangkat kaleng bir dengan girang.

Tentu belum ada yang mabuk saat kaleng pertama habis, mereka melanjutkannya ke kaleng kedua dan masih bisa bertahan. Setengah jam kemudian, mereka sudah menghabiskan lima kaleng bir dan Hyukjae sudah terlihat kepayahan. Tidak sepenuhnya mabuk, tapi Hyukjae sudah merasa pusing.

Begitu pula dengan Donghae yang mulai tidak bisa membuka matanya dengan benar. Donghae membuka dasinya yang terasa mencekik, diikuti dengan membuka dua kancing teratas kemejanya. Udara terasa sangat panas saat melihat Hyukjae melakukan hal yang sama di hadapan Donghae.

"Lee Donghae!" seru Hyukjae tiba-tiba. "Kau tidak seharusnya mabuk karena harus berkendara!"

"Aku akan menginap di sini," jawab Donghae enteng.

Hyukjae menggeleng sambil mengibaskan tangannya. "Hmm, tidak boleh! Jisung akan pulang sebentar lagi!"

"Jisung ada di rumahku bersama Jeno," kata Donghae mengingatkan.

Hyukjae tiba-tiba mengikik dan mengangguk. "Oh, lupa. Aku lupa Jisung tidak akan pulang," katanya sambil terus mengikik.

"Hyukjae …" panggil Donghae sambil menatap Hyukjae yang menunduk dan memejamkan matanya.

"Ya?" Hyukjae mendongak, menatap Donghae. "Ada apa?"

"Apa kau sungguh-sungguh menyukaiku?" tanya Donghae.

Hyukjae mengangguk dan bergumam. "Ya, tentu saja."

"Apa kau mencintaiku?" tanya Donghae lagi.

Kali ini Hyukjae tidak langsung mengangguk dan menatap Donghae cukup lama. Hyukjae memang mabuk, tapi kesadarannya belum hilang sepenuhnya. "Kenapa kau bertanya begitu?"

"Jawab saja dengan jujur," desak Donghae yang langsung membuat Hyukjae menghela napas berat.

"Aku memang menyukaimu, tapi aku masih belum yakin soal mencintaimu."

Donghae memaksakannya senyumnya saat menatap Hyukjae sekali lagi. "Tentu saja, kita belum lama menjalin hubungan."

"Bagaimana denganmu?" tanya Hyukjae.

"Tentu saja aku menyukaimu dengan sungguh-sungguh," jawab Donghae dengan lancar.

Hyukjae menggeleng dan mengembuskan napas. "Bukan itu. Maksudku, apa kau mencintaiku?"

Tidak ada jawaban, Donghae hanya tersenyum dan beringsut mendekati Hyukjae. Lalu, Donghae mulai mengeliminasi jarak di antara wajah mereka. Donghae memagut bibir penuh Hyukjae sambil memejamkan mata. Sebelah tangan Donghae menahan tengkuk Hyukjae, sementara tangannya yang lain masuk ke dalam kemeja Hyukjae yang sudah sangat berantakan.

"Angh …" Hyukjae melenguh ketika merasakan sentuhan tangan Donghae di kulit pinggulnya.

Donghae membawa Hyukjae berdiri sambil terus berciuman, lalu membawanya ke salah satu kamar sambil melucuti pakaiannya.

"Tunggu!" Hyukjae melepaskan ciuman panjang mereka dan mengambil napas. "Aku tidak punya kondom," bisiknya sambil menggigit bibir.

Tentu saja Donghae sudah tahu, untuk itu Donghae datang dengan mengantongi beberapa kondom disaku celananya. Beberapa hari yang lalu Donghae membelinya di supermarket—yang tentu saja jauh dari kantor ataupun rumah. Itupun sambil menahan malu karena kasir di supermarket itu sempat membisikkan kata-kata semangat. Bikin malu saja.

"A-aku membawanya beberapa," kata Donghae sambil merogoh saku celananya dan menunjukkannya pada Hyukjae. "Ada tiga pilihan aroma, aku tidak yakin kau menyukai yang mana."

"Kali ini kita gunakan saja yang stroberi." Hyukjae mengambil satu yang aroma stroberi dari tangan Donghae, lalu melemparkan dua sisanya ke sembarang tempat.

"Kali ini?" tanya Donghae dengan senyuman nakal. "Apa itu artinya akan ada lain kali?"

Hyukjae berdeham dan menggeleng. "Bukan begitu maksudku," katanya pelan.

Sialan, Hyukjae benar-benar tidak tahu Donghae pintar bicara saat mereka sedang berdua seperti ini. Sudah beberapa kali dalam sehari ini Hyukjae dibuat mati kutu oleh kata-kata Donghae.

Donghae melingkarkan tangannya di pinggang Hyukjae, lalu menariknya hingga tubuh mereka saling menempel intim. "Tapi aku berharap ada lain kali," bisiknya di depan bibir Hyukjae.

Kemudian tanpa menunggu Hyukjae bicara lagi, Donghae kembali memagut bibir Hyukjae dan membawanya berbaring di tempat tidur. Donghae mulai melucuti pakaian Hyukjae hingga hanya menyisakan celana dalam putih yang membungkus bagian selatan tubuhnya. Setelah itu Donghae melepaskan pagutannya untuk melucuti pakaiannya sendiri sebelum mencumbu Hyukjae yang sudah pasrah di bawah kungkungannya.

"Ini pertama kalinya aku melakukan ini," bisik Hyukjae saat Donghae mencumbu belakang telingnya.

Donghae mengangkat kepalanya dan menatap Hyukjae. "Ini juga pertama kalinya aku melakukannya dengan laki-laki."

"Apa? Jadi kau pernah melakukannya? Dengan siapa?" tanya Hyukjae bertubi-tubi sambil memukul dada bidang Donghae dengan kepalan tangannya.

Alis Donghae bertaut ketika mendengar pertanyaan Hyukjae. "Tentu saja aku pernah melakukannya. Itu sebabnya, Jeno lahir ke dunia," jawab Donghae dengan jujur.

Ah, benar juga. Hyukjae tiba-tiba merasa bodoh mengajukan pertanyaan seperti itu. Sialan, sekarang Donghae mentertawakannya dengan puas.

"Bisa kita lanjutkan?" tanya Donghae sebelum melanjutkan cumbuannya.

"Sudah terlanjur basah, lanjutkan saja." Hyukjae mengendikkan bahunya.

"Aku akan membuatmu benar-benar basah," bisik Donghae suara berat.

Hyukjae hanya tersenyum ketika Donghae melanjutkan cumbuannya. Menciumi leher dan tulang selangkanya, hingga akhirnya berhenti di putingnya yang tegang. Donghae menghisapnya dengan keras hingga membuat Hyukjae mendesah-desah tidak karuan. Jari kaki Hyukjae melingkar menahan kenikmatan yang diberikan Donghae, sementara tangannya mengacak-acak rambut Donghae.

"Lagi …" desah Hyukjae sambil menggigit bibir bawahnya.

Cumbuan Donghae turun ke perut rata Hyukjae, memberikan beberapa tanda di sana sebelum akhirnya mengecup singkat penis tegang Hyukjae. "Dia benar-benar tegang," bisiknya sambil menghujani penis Hyukjae dengan kecupan ringan.

"Ahh! Jangan main-main!" seru Hyukjae sambil mengerang.

Donghae melepaskan celana dalam Hyukjae, lalu melebarkan kedua kakinya sebelum memasukkan penis tegang itu ke dalam mulut. Cukup lama Donghae melakukannya. Dimulai dari menjilatinya, hingga akhirnya melakukan deep throat. Hyukjae tiba-tiba menarik rambut Donghae dan kakinya menendang-nendang udara dengan gelisah.

"Angh … aku datang! Uhh, Donghae!" Hyukjae menjepit kepala Donghae dengan paha, lalu mengerang panjang saat melepaskan cairannya di mulut Donghae.

"Ini kedua kalinya kau membuatku menelan cairanmu," kata Donghae sambil kembali ke atas tubuh Hyukjae dan mempertemukan pandangan mereka.

"Ah, pasti insiden di Pulau Jeju itu, ya?" tanya Hyukjae sambil mengusap bibir Donghae yang berlelehan sprema dengan jempolnya.

"Hmm," gumam Donghae yang kini sedang sibuk memakai kondom di penisnya. "Oh, iya. Aku juga membeli sesuatu yang lain," katanya sambil berlari keluar kamar.

Tak lama Donghae kembali dengan sebuah botol di tangannya. Sebuah botol lubricant. Hyukjae memandanginya tidak percaya. Rupanya Donghae sudah menyiapkan segalanya.

"Aku harus menahan malu saat membeli ini," gumam Donghae sambil menuangkan cairan itu ke tangannya.

"Hei, lakukan dengan pelan-pelan," kata Hyukjae pelan saat melihat Donghae melumuri jarinya dengan cairan lengket itu.

"Aku tahu," kata Donghae sambil melebarkan kaki Hyukjae dan mulai mengelus kerutan dilubangnya dengan jari.

"Ngh …" Hyukjae melenguh dan memejamkan matanya.

Jemari Donghae mengelus kerutan dilubang Hyukjae dengan sensual sebelum akhirnya masuk. Awalnya satu jari, lalu Donghae menambahnyan menjadi dua. Gerakan maju mundur yang awalnya pelan, lama-lama makin cepat dan akhirnya membuat Hyukjae melenguh lagi.

"Tidak kena … angh!" Hyukjae menggeleng gelisah dan mencengkeram seprai. Dua jari Donghae tidak mengenai titik terdalamnya dan itu membuat Hyukjae frustrasi.

Mendengar itu, Donghae menarik kedua jarinya dan beralih mengocok penisnya sendiri. Donghae kemudian membawa penisnya yang sudah terbungkus kondom dan licin itu ke lubang Hyukjae, mendorongnya dengan perlahan, sebelum menghentakkannya hingga masuk seutuhnya.

Hyukjae mengerang panjang dan mencengkeram seprai makin kuat. "Angh … sakit! Sakit sekali!"

"Sakit?" tanya Donghae sambil menghujani bibir Hyukjae dengan kecupan ringan. "Maaf, aku akan bergerak agar mengurangi rasa sakitnya."

Hyukjae tidak menjawab dan hanya mengangguk, sementara itu Donghae mulai bergerak dan kali ini penisnya berhasil menyentuh titik terdalam Hyukjae.

"Ngh … di situ … lagi!" Hyukjae ikut menggerakkan pinggulnya saat merasa gerakan Donghae terlalu pelan. "Lebih cepat …!"

Gerakan Donghae makin cepat, sesuai keinginan Hyukjae. "Begini? Kau suka, hm?" tanyanya sambil mendorong tungkai kaki Hyukjae hingga menyentuh dadanya sendiri.

Hyukjae berteriak cukup keras saat dirasa penis Donghae makin dalam menusuknya. "Lagi … ngh … aku akan sampai!"

"Ergh, Hyukjae!" Donghae mengerang keenakan saat penisnya dijepit lubang licin Hyukjae. Rasanya begitu menikmat hingga tanpa sadar membuat Donghae bergerak makin cepat dan Hyukjae terhentak-hentak karenanya.

"Angh …! Aku sampai! Aku sampai!" Hyukjae menarik tengkuk Donghae dan memagut bibirnya dengan sedikit kasar. Saking kasarnya, Hyukjae tidak sengaja menggigitnya dan membuat bibir bawah Donghae terluka.

Cairan Hyukjae tumpah membasahi perut keduanya. Sementara itu, Donghae yang masih mengejar klimaksnya, hanya bisa mengangguk dan mengerang panjang saat penisnya berkedut dan siap meledak—Hyukjae tidak memberikannya kesempatan bicara dan terus memagut bibirnya.

"Argh, Hyukjae!" Donghae melepaskan paksa bibirnya dan mengerang lega saat meledak di dalam Hyukjae.

Napas keduanya pun memburu saling bersahut-sahutan. Donghae langsung menjatuhkan dirinya di atas tubuh telanjang Hyukjae dan mulai mengatur napasnya yang berantakan. Hyukjae juga melakukan hal yang sama sambil mengelus kepala Donghae yang ada di dadanya.

"Aku baru sadar, kita melakukannya di kamar Jisung," gumam Hyukjae saat menyadari cat temboknya berwarna biru langit. Cat di kamar Hyukjae berwarna pastel.

Donghae mengangkat kepalanya dan melotot horor. "Apa kau bilang?"

"Ini kamar Jisung," ulang Hyukjae.

"Kita memang sudah gila," gumam Donghae yang kembali ambruk di atas tubuh Hyukjae.


.·:*¨¨* ≈≈ *¨¨*:·.


Donghae bangun sebelum Hyukjae, lalu beringsut duduk di tempat tidur. Matanya memerhatikan Hyukjae yang sedang tidur dalam keadaan telungkup dan telanjang. Selimut yang dipakai mereka semalam hanya menutupi bagian bawah Hyukjae. Harus Donghae akui, Hyukjae memiliki punggung yang sangat sexy. Dan dia juga terlihat sangat manis saat sedang tidur. Donghae menunduk, mencuri ciuman dari bibir penuhnya yang merah dan tebal. Kalau saja hari ini libur, Donghae pasti tidak akan bangun dan terus memeluk Hyukjae yang sedang tidur.

Sebelum Hyukjae bangun, Donghae turun dari tempat tidur dan memakai celananya saja. Pagi ini Donghae harus menyiapkan sarapan untuk Hyukjae yang sudah pasti tidak akan bisa berjalan dengan benar. Saat melewati lemari Jisung yang ada di dekat pintu, Donghae menemukan sesuatu. Sebuah kotak yang mirip dengan kotak harta karun bajak laut. Pasti itu milik Jisung, mengingat ini adalah kamarnya.

"Kau sudah bangun?" tanya Hyukjae dengan suara serak.

Donghae menoleh dan mengangguk. "Hmm, aku akan menyiapkan sarapan untukmu dan bersiap ke kantor."

"Kalau begitu aku akan mandi dan membereskan kamar Jisung," kata Hyukjae sambil beringsut turun dari tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya dengan asal.

"Kau perlu bantuan?" tanya Donghae saat melihat Hyukjae meringis.

"Oh, tidak usah," jawab Hyukjae sambil menggeleng. "Aku bisa sendiri."

Donghae hanya mengangguk dan membukakan pintu untuk Hyukjae, mempersilakannya keluar dari kamar duluan. Setelah Hyukjae masuk ke kamar mandi, Donghae menoleh ke arah kotak itu sekali lagi dan menatapnya cukup lama.


。・:*:・゚ ,。・:*:・。D&E。・:*:・゚ ,。・:*:・。


With Love,

Milkyta Lee