argh,lagi-lagi masih pendeeeeeek update-ny _...hiks,mau gimana lagi Q_Q...maaf karena lagi-lagi saia menelantarkan fic ini,keasikan donload film,xixixi...anyway,selamat puasa untuk yang menjalankanny ^^...oh,and a little warning...akan lebih baik kalau membaca cerita ini ketika anda sedang tidak berpuasa,ehm,soalny ada scene *uhuk*...well anyway,enjoy :)

karakter sepenuhny milik Square-Enix


"Vincent! Dari mana saja kau?" Tanya Tifa dengan wajah khawatir di saat melihat sosok Vincent yang babak belur di lorong rumah sakit. "Dan kenapa kau terluka seperti itu?"

Shelke menaikkan sebelah alisnya. "Kau, bagaimana kau bisa mendapatkan Materia abu-abu itu?"

Tifa langsung mengalihkan pandangannya ke Shelke, kemudian berganti ke tangan Vincent yang tengah menggenggam sebuah Materia berwarna abu-abu. Materia, yang menyebabkan ini semua...

"Dia memberikannya kepadaku." Jawab Vincent sambil berlalu. Saat ia ingin membuka pintu, Cid menahannya.

"Lebih baik kau jangan masuk dulu, ayah Yuffie..."

"Kalau aku tidak masuk sekarang, kita akan kehilangan dia untuk selamanya!" Hardik Vincent. Untuk pertama kalinya, ia menunjukkan emosinya.

Cid sempat melirik ke arah sahabatnya yang lain. Barret dan Tifa tanpa ragu memberi anggukan, begitu pula Nanaki, sementara Shelke tidak menunjukkan reaksi apa-apa hingga Cloud angkat bicara. "Biarkan dia lewat, Cid. Vincent harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan aku rasa, dia siap menanggung semua akibatnya."

Vincent mengendus kesal. "Tidak perlu kau katakan, tentu saja aku siap."

Cloud memberi tanda agar Cid memberikan jalan untuk Vincent menggunakan dagunya. Dengan ragu Cid membuka pintu kamarnya.

"Mau apa kau ke sini lagi?" Teriak Godo begitu melihat Vincent.

"Tuan Godo, tolong tenang dulu, Vincent sedang berusaha untuk menolong Yuffie."

"Hah, ya ,tentu saja! Setelah dia berhasil membunuh anakku, tentu saja belum lengkap kalau dia belum mencoba untuk menghidupkannya lagi!"

Vincent tidak menggubrisnya dan berjalan menuju ke dekat ranjang tempat Yuffie terbaring tidak sadarkan diri. Ia mengeluarkan Materia abu-abu tersebut, dengan sendirinya Materia itu langsung melayang di atas dada Yuffie, dan dengan perlahan masuk ke dalam tubuh Yuffie.

Semenit, lima menit, sepuluh, dua pulu, setengah jam lebih, namun belum ada pergerakan berarti dari Yuffie. Dia masih sama seperti tadi. Teman-teman yang lain sudah mulai panik, Godo juga sudah menunjukkan kalau batas kesabarannya hampir habis.

"Vincent..." Kata Tifa lirih.

"Oh ayolah Vincent! Apa kau melupakan apa yang dibutuhkan seorang putri untuk terbangun dari tidurnya?" Sebuah suara wanita menggema dalam benak Vincent.

"Ibu, sudahlah! Tinggalkan saja dia! Ayo kita pergi..." Rengek suara satunya lagi. Yang pasti itu bukan suara Sephiroth.

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan..."

Vincent menghela nafas panjang, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yuffie, Godo sempat mencondongkan badannya ke depan untuk menghentikan apa pun yang akan dilakukan oleh Vincent, namun Tifa menahannya. Dengan lembut Vincent mengecup bibir Yuffie, tidak lama, tapi juga tidak sebentar.

Kelopak mata Yuffie terbuka dengan lambat, ia masih bisa merasakan bibir Vincent. Setengah sadar, Yuffie membalasnya, mengecup bibir Vincent tidak kalah lembutnya. Hingga sesuatu berusaha menyeruak keluar dari dalam dirinya, membuat tubuhnya sempat menegang beberapa saat.

Vincent melepaskan bibirnya, kemudian Materia abu-abu tersebut keluar, jatuh ke tangan Vincent.

"Hei, kenapa Materianya keluar lagi?" Tanya Cid bingung.

"Kalau tidak keluar, nanti Yuffie akan hidup abadi." Jawab Shelke yang berdiri di ambang pintu sambil bersandar.

"Yuffieeeeee!" Tuan Godo langsung memeluk anaknya seerat mungkin dengan air mata berlinang.

"Aku akan memberikan Materia ini kepada Reeve." Vincent undur diri di waktu yang tepat, ketika perhatian Yuffie tengah tercurah kepada ayahnya yang menangis bahagia, kepada sahabat-sahabatnya yang juga ikut merasakan luapan kebahagiaan pria tersebut.

Saat berjalan di lorong rumah sakit, Vincent sempat berbelok ke sebuah taman. Ia berdiri di bawah sebuah pohon besar. Hembusan angin menerbangkan rambut dan jubahnya, kedua matanya ia tutup rapat.

Terima kasih untuk bantuanmu, Lucrecia... Aku, tidak bisa apa-apa tanpa dirimu...


saia janji,dan akan berusaha agar update selanjutny bisa lebih panjang Q_Q