Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
.
.
Don't Like Don't Read
.
~ Stay With A Murderer~
[chapter 10]
.
.
.
Hari ini aku tidak kerja, hari minggu, aku libur dan bersantai. Melirik ke arah kalender, sudah hampir akhir tahun. Aku tidak sadar, waktu berlalu begitu cepat. Melirik ke arah Sasuke yang tengah bersantai di ruang televisi, akhir-akhir ini dia sudah jarang nonton dan hanya duduk bersantai di depannya. Dia bahkan tidak peduli jika remot tv ku ambil. Dia hanya duduk diam dan akan menonton apa yang ku nonton.
Dia menjadi penurut meskipun ucapannya kasar dan omelan kesalnya masih akan keluar begitu saja. Sasuke menjadi sedikit mandiri jika aku tinggal kerja, aku sudah mengajarinya untuk memanaskan makanan yang ku masakan di pagi hari, tapi sebelumnya, dia harus menutup semua jendela jika sedang memasak, jangan sampai ada tetanggaku yang kaget dengan bau masakan dari rumah yang pemiliknya sedang keluar. Entah mengapa aku merasa seperti seorang ibu yang sedang membesarkan anak laki-lakinya untuk hidup mandiri.
Waktu liburan kantor pun sudah sangat lama berlalu, sekarang sudah bulan november. Sasuke cukup lama juga yaa tinggal, dia bahkan menjadi terbiasa denganku dan kadang membuatku suka deg-degan sendiri dan kadang membuatku sangat kesal. Aku harap kami bisa berteman baik, aku sudah sering bercerita padanya setiap keluhan yang ku rasakan, dia kadang menjadi pendengar yang baik, kadang cuek dan tidak pedulikan apa yang sedang aku ceritakan. Aku jadi jarang bertemu dengan nenek Chiyo, terakhir yang aku dengar beliau tinggal di desanya, katanya untuk sementara, dia akan kembali lagi ke kota, dia sedang mengurus kebunnya yang cukup luas di sana. Jika dari sana, dia sering membawakanku banyak buah, ahk, aku merindukannya, aku harap dia segera pulang. Bersyukur ada Sasuke yang bisa menemaniku bercerita.
Tok Tok Tok
Ada seseorang yang tengah mengetuk pintu, jadi teringat saat kami baru tinggal bersama, jika mendengar suara ketukan, aku akan duluan panik dan Sasuke akan berlari ke kamarnya seperti di kejar hantu, mengingatnya membuatku jadi ingin tertawa. Tapi sekarang, kami menanggapinya dengan santai, tanpa ucapan atau pun seperti keadaan darurat, Sasuke akan berjalan santai naik ke kamarnya dan aku akan berjalan santai ke arah pintu.
"Ada kiriman." Ucap seorang pria, pekerja jasa pengiriman barang.
"Terima kasih." Ucapku, menandatangi bukti pengirimannya dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang.
Berjalan masuk dan melihat-lihat dari mana kotak ini di kirim. Sebuah senyum terpampang di wajahku, ini kiriman dari ibuku. Dari kota kelahiranku. Sudah sangat lama aku meninggalkan kotaku sendirian dan mengadu nasib di kota besar ini. Mengguncangnya sedikit, aku merasa penasaran apa yang ibu kirimkan padaku. Berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, membuka kotak itu dan mendapati sebuah syal rajutan berwarna kream, ada juga sepucuk surat. Aku membaca sampai habis dan rasanya aku sangat rindu pada mereka.
...
Sudah hampir memasuki musim dingin, ibu tahu kau punya banyak uang untuk memberi syal yang bagus dan bermerek, tapi ibu rasa syal buatan ibu tidak kalah bagusnya dari syal-syal yang di jual di mall itu.
...
Ayah sudah katakan, di sini ayah tidak kesulitan keuangan, pabrik ayah baik-baik saja, kau seharusnya memanfaatkan hasil kerja kerasmu dengan baik. Tabung saja nanti juga akan berguna.
...
Kami merindukanmu.
...
Salam dari ayah dan ibumu.
"Ada apa?"
Aku tidak sadar jika Sasuke sudah turun dan melihatku.
"Tidak ada apa-apa?" Ucapku, mengusap perlahan air mataku, aku tidak ingin dia salah paham. Aku baru saja menangis, menangis merindukan kedua orang tuaku.
"Apa ada yang menyakitimu?" Tanyanya, ini sungguh lucu, wajahnya terlihat khawatir.
"Aku tidak apa-apa, sungguh." Ucapku dan tersenyum di hadapannya.
"Oh, baiklah, jika kau punya masalah jangan sungkan katakan padaku." Ucapnya, dia bahkan tidak berani menatapku saat mengucapkan kalimat itu.
"Iya, kau orang pertama yang akan mendengarnya jika akan mendapat masalah." Ucapku, entah mengapa kami menjadi semakin dekat.
"Tapi aku tidak ingin mendengar ceramah dan omelanmu." Ucapnya dan dia sudah menatapku.
"Baik-baik." Suasana hatinya cepat berubah, sedikit-sedikit mulus, sedikit-sedikit seperti ada lubang pada jalanan atau tidak seperti krikil yang sedang ku jalani. "Eh, ngomong-ngomong kau suka warna apa?" Tanyaku padanya. Melihat syal buatan ibuku, aku juga ingin menghadiahkan syal untuk Sasuke.
"Tidak ada." Ucapnya, cuek.
"Eh? Kau tidak punya warna favorit?" pria macam apa dia, bahkan dia tidak suka warna.
"Hn." Ucapannya masih sama.
"Yang kau sukai?" Tanyaku lagi, berharap dia menyebutkan satu warna saja.
"Kau."
"Ha? Apa"
"Bukan apa-apa."
Apa-apaan dia, aku meminta warna favoritnya kenapa malah 'kau' yang di ucapkannya, 'kau' itu jenis warna apa? Aku baru dengar. Dia sungguh menyebalkan, uhm.. mungkin biru tua akan cocok dengannya, sudah ku putuskan, aku akan membuatkan syal untuknya sebagai hadiah, tapi, dia tidak boleh tahu jika aku membuatkannya hadiah ini, dia pasti akan keegeran dan besar kepala, mengganggapku babu yang mau melakukan apapun untuknya, cih, ini hanya hadiah biasa saja.
.
.
.
.
.
Hari ini di kantor, aku menyelesaikan pekerjaanku secepat kilat, memeriksanya berkali-kali dan sudah ku berikan pada pak Yahiko. Di rumah aku ada tidak waktu, biasanya pulang kantor dan langsung tidur, tapi kalau ku bawa ke kantor ini akan sungguh membantu, aku tengah merajut sebuah syal untuk Sasuke, dari pada pulang cepat dan nanti ketahuan Sasuke, aku lebih memilih tinggal di kantor hingga malam dan mengerjakan rajutan ini.
Normal POV.
Ino melihat Sakura yang sibuk melakukan sesuatu di meja kerjanya, map berkas di mejanya sedang kosong dan dia tidak pulang, berjalan menghampiri Sakura, Ino penasaran dengan apa yang di kerjakannya.
"Merajut?" Ucap Ino saat sudah berada di meja Sakura.
"Ahk, Ino, iya, aku sedang merajut, pekerjaanku sudah beres dan aku punya waktu bebas sekarang." Ucap Sakura, dia terlihat bersemangat.
"Untuk apa kau merajut? Sekarang kan banyak yang di jual di mall, bahannya bagus dan berkualitas." Ucap Ino.
"Tidak Ino, aku rasa membelinya langsung dengan buatan tangan akan beda rasanya. Aku ingin berusaha membuat ini hingga selesai dan memberikan padanya." Ucap Sakura.
"Kau benar juga, terasa berbeda jika buatan tangan. Tunggu dulu, siapa yang sedang kau buatkan?" Tanya Ino, dia jadi penasaran untuk siapa Sakura sampai repot-repot ingin melakukan pekerjaan yang membosankan ini.
"Rahasia." Ucap Sakura.
"Lagi-lagi kau main rahasia padaku, aku penasaran. Apa buat Naruto? akhir-akhir kalian terlihat bersama." Ucap Ino.
"Naruto? hahaha, tidak, kami sering terlihat bersama karena dia yag sering mengajakku, aku jadi tidak tega jika menolaknya."
Di saat itu, Naruto tengah lewat menuju ruangan Yahiko dan tanpa sadar mendengar sedikit percakapan Sakura dan Ino, dia hanya mendengar namanya di sebut dan sedikit mengintip dari jauh, Sakura tengah merajut, Naruto merasa Sakura akan memberikan hadiah rajutan itu padanya, kebetulan sudah hampir memasuki musim dingin, Naruto merasa sangat bahagia melihat hal itu, dia jadi tersipu malu sendiri dan kembali berjalan menuju ruangan Yahiko.
"Apa kau tidak memberikan hadiah pada Sai?" Tanya sakura.
"Hadiah untuk Sai? Uhm... entahlah, aku masih ragu." Ucap Ino.
"Ragu? Ragu kenapa?" Ucap Sakura.
"Aku pikir dia mungkin cuma menganggapku sebagai sahabat saja, aku merasa dia seperti di luar jangkauanku." Ucap Ino dan merasa sedikit murung.
Sakura terdiam, sejujurnya dia tidak menceritakan pada Ino tentang apa yang terjadi waktu liburan tahun ini. Sai memilihkan yukata untuk seseorang yang spesial baginya, dan Ino adalah orangnya, tapi mungkin karena Sai yang sangat jarang di ruangannya dan harus melakukan perjalanan bisnis sebagai kaki tangan Yahiko, Ino jadi jarang bertemu dengan Sai.
"Jangan pesimis seperti itu, kau sendiri tahu kan kalau Sai itu sibuk, aku rasa jika dia pulang nanti dan kau beri hadiah untuk memasuki musim dingin ini dia pasti akan merasa senang." Ucap Sakura, mencoba meyakinkan Ino.
"Kenapa kau yakin seperti itu? Aku sendiri sudah pasrah padanya, bahkan sikapnya begitu-begitu saja padaku, meskipun dia sering memujiku 'kau cantik' aku rasa itu seperti gombalan semata dan dia tidak berniat menjadikanku satu-satunya orang yang berarti untuknya." Ucap Ino.
Sakura merasa yang di ucapkan Ino memang ada benarnya, Sai kadang memuji Ino secara spontan dan tersenyum manis pada Ino, hal yang selalu saja terjadi, membuat Ino merasa itu bukan apa-apa. Berpikir tentang memuji seseorang, pikiran Sakura tertuju pada Sasuke yang selalu mengejeknya.
Dasar wanita gila!
Wanita barbar!
Wanita Aneh!
Wanita perkasa
Itu memang bukan sebuah pujian, Sakura merasa dia tidak pernah di puji, tapi mengingat kembali saat liburan kantor, Sasuke mengatakan dirinya seperti kembang api yang meskipun berisik, tapi tetap cantik di lihat, menurut Sakura itu tidak terdengar seperti pujian, malah ejekan juga, kenapa harus di samakan dengan sebuah kembang api.
"Sakura kau melamun?" Tegur Ino, dia melihat Sakura terdiam cukup lama.
"Heheh, maaf, aku pikir kau harus memberikan hadiah pada Sai, pokoknya harus, kau harus berpikir positif tentang Sai." Ucap Sakura.
"Baiklah, aku akan mengikuti saranmu, terima kasih Sakura, dan semoga pria yang mendapat hadiahmu itu akan senang menerimanya. Semangat." Ucap Ino.
Wajah Sakura berseri-seri dan bertambah semangat untuk menyelesaikan rajutannya itu.
"Uhm, Ino, ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Sakura.
"Apa? Katakan saja?"
"Menurutmu, jika seorang pria bersikap berlebihan pada seorang wanita, apa artinya? Seperti bersikap khawatir berlebihan dan bahkan akan ngomel jika kau tidak menanggapinya." Ucap Sakura.
Sejujurnya dia sudah lama ingin bercerita hal ini pada Ino, Sakura merasa bingung dengan sikap Sasuke yang mulai aneh padanya, tapi sepertinya hal ini berlaku pada Naruto juga yang mulai selalu ada di sampingnya.
"Apa kau sedang membicarakan Naruto?" Tanya Ino. Hanya untuk memastikan siapa yang sedang di bicarakan Sakura.
"Sebenarnya ini bukan tentang Naruto, tapi orang lain, tapi aku pikir Naruto juga begitu, dia menjadi aneh akhir-akhir ini." Ucap Sakura.
"Kalau menurutku, pria itu menyukaimu." Ucap Ino dan membuat Sakura sangat terkejut.
"He? Ti-tidak mungkin, untuk apa dia menyukaiku." Ucap Sakura, dia tidak percaya dengan apa yang di simpulkan Ino.
"Sepanjang yang ku tahu, jika seorang pria khawatir berlebihan pada seorang wanita, tandanya dia menyukainya dan tidak ingin orang yang di sukainya kenapa-kenapa." Jelas Ino.
"Begitu yaa." Ucap Sakura, dia terdiam, memikirkan jika benar Sasuke menyukainya. Sikapnya semakin aneh, dia bahkan terkesan seperti pacar bagi Sakura.
"Sakura."
"Iya?"
"Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan padamu, tapi Sai tidak mengijinkanku mengatakannya, katanya dia ingin Naruto sendiri yang berbicara langsung padamu." Ucap Ino, dia melirik ke sana-kemari, mengawasi jika tidak ada yang mengetahui apa yang sedang Ino bicarakan.
"Apa? Katakan saja, aku berjanji, setelah mendengar apa yang kau ceritakan aku akan menganggapnya tidak pernah mendengar apapun darimu." Ucap Sakura.
Ino mendekat ke arah Sakura dan mulai berbisik, dia mengatakan jika Naruto sempat mengatakan pada Sai, jika dia menyukai Sakura dan berharap Sakura mau menjadi pacar. Setelah mendengar hal itu Sakura terdiam cukup lama, kebaikan Naruto selama ini untuk lebih mendekatkan diri padanya dan Sakura tidak menyadari semua itu. Dia salah paham dengan Naruto.
"Aku harap kau tidak mengubah sikapmu pada Naruto setelah mendengar ini, Sai juga akan marah padaku jika menceritakan hal ini padamu." Ucap Ino. Dia merasa bersalah sudah menceritakan hal pribadi Naruto.
"Tenanglah Ino, aku akan bersikap seperti biasa di hadapan Naruto." Ucap Sakura.
"Dan bagaimana jika dia menyatakan perasaannya padamu?" Tanya Ino.
"Uhm, akan aku pikirkan dan pertimbangan lagi, dia termasuk pria yang sangat baik dan bahkan dia selalu sopan padaku, meskipun dia lucu dengan sikap frontalnya itu." Ucap Sakura.
"Ahh, baiklah, aku harap ada hal yang baik terjadi pada kalian, dan jika pun kalian tidak bersama dalam hubungan yang khusus, aku harap kalian masih berteman baik." Ucap Ino.
"Tentu, aku tidak akan bersikap kekanak-kanakan jika hal itu terjadi." Ucap Sakura.
"Baiklah, aku akan kembali ke mejaku." Ucap Ino dan berjalan kembali ke mejanya.
Hari sudah semakin malam, Sakura menghentikan kegiatannya dan bergegas pulang. Naruto tidak terlihat, biasanya dia akan tiba-tiba muncul di hadapan Sakura dan memaksa untuk mengantar Sakura pulang. Sakura berpikir jika Naruto sedang sibuk dan dia harus pulang sendirian.
End Normal POV.
Selama perjalanan pulang aku terus memikirkan ucapan Ino, Naruto menyukaiku, aku sangat terkejut mendengarnya, tapi sepertinya hal itu benar, dia menjadi sangat baik padaku, semacam Pe-de-ka-te. Haa..~ aku jadi sedikit sakit kepala, belum lagi sikap Sasuke yang seperti berlebihan padaku. Apa benar dia juga menyukaiku, memikirkannya saja rasanya jantungku mau copot, aku merasa aneh pada diriku sendiri yang deg-degan tidak jelas seperti ini. Apa aku juga menyukai Sasuke? tidak-tidak, aku tidak mengenal Sasuke sama sekali, ini hanya karena dia baik padaku, sama seperti Naruto.
Sesampainya di rumah seperti biasa aku akan langsung menuju dapur. Aku sedikit lapar dan harus makan sesuatu. Sasuke berada di mana? Aku merasa sedikit rindu padanya. He! Apa yang aku pikirkan! Tidak-tidak, aku tidak merindukannya, hanya kadang dia akan datang dan mengomel jika aku tidak makan malam.
"Aku juga lapar, kau lama sekali pulang."
Ahk, lagi-lagi Sasuke mengagetkanku. Dasar, dia seperti hantu yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang.
"Kau belum makan?" Tanyaku padanya.
"Aku menunggumu, sedikit aneh jika makan sendirian." Ucapnya.
"Lain kali jangan kau lakukan, kau harus makan jika sudah waktunya, kau tidak boleh menungguku, lagi pula aku tidak tentu waktu untuk pulang, kadang cepat kadang lambat." Ucapku, dia tidak boleh membuat dirinya kesulitan sendiri, dasar bodoh.
"Berisik, terserah aku, mau makan duluan atau mau makan saat kau pulang, kau tidak bisa mengaturku." Ucapnya. Kenapa tatapan menusuk itu sulit sekali hilang dari wajahnya? Membuatku kesal saja.
Makan malam bersama sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang kami lakukan, aneh sekali, dia rela tidak makan sampai aku pulang.
"Kalau menurutku, pria itu menyukaimu."
Ucapan Ino terlintas di pikiranku, melirik ke arah Sasuke dan dia menatapku balik, aku jadi salah tingkah dan langsung menundukkan wajahku, mencoba fokus pada makananku.
Apa benar dia menyukaiku? tapi sikapnya tidak pernah lembut padaku, selalu saja kasar dan mengejekku, beda halnya dengan Naruto yang benar-benar ingin mendekatiku secara pelan-pelan dan selalu bersikap lembut di hadapanku. Ahk, rasanya aku jadi bingung sendiri. Apa aku tanyakan langsung padanya? kalau aku tanyakan langsung, kira-kira jawabannya... yang kemungkinan terjadi.
Opsi pertama :
"Sasuke, apa kau menyukaiku?"
"Ha? Yang benar saja, untuk apa aku menyukai wanita barbar sepertimu."
Menghela napas, sepertinya itu adalah jawaban yang akan dia ucapkan, tapi kalau seperti ini.
Opsi kedua :
"Sasuke, apa kau menyukaiku?"
"Jangan salah paham Sakura, aku hanya baik padamu untuk mendapatkan tempat tinggalmu. Hahahaa jangan mimpi. Aku tidak menyukaimu, aku suka rumahmu, aku akan tinggal di sini selamanya."
Menggelengkan kepala cepat, kenapa dia terkesan sangat arogan sekali ingin menguasai rumahku. Tapi, mungkin saja.
Opsi Ketiga :
"Sasuke, apa kau menyukaiku?"
"Kau mengetahui perasaanku yang sebenarnya? Ahk, ya sudahlah, aku juga tidak bisa menutupinya terus-menerus, ya aku menyukaimu, mau kah kau jadi pacarku, Sakura."
Oh astaga, imajinasiku lari kemana, aku merasa malu sendiri jika hal itu yang terjadi.
He? Tangan seseorang tengah berada tepat di jidatku.
"Sepertinya kau tidak sakit, kenapa sikapmu aneh?"
"Sa-Sasuke." Aku segera menepis tangannya dan memalingkan wajah. Ya ampun, aku merasa bodoh sendiri, kenapa harus memikirkan hal itu dan dia sedang berada di hadapanku, kau benar-benar seperti orang gila Sakura. Sadarlah! Dia masih terus menatapku dan wajahnya terlihat bingung. "Maaf, aku tadi sedang memikirkan pekerjaanku, hehehe." Bohongku, aku harap dia tidak menyadarinya.
"Hmm, habiskan makananmu jangan berpikir yang aneh-aneh." Ucapnya.
Aku hanya mengangguk dan kembali menyantap makananku.
"Sasuke." Ucapku, ada yang ingin aku tanyakan padanya, sudah lama sekali aku ingin mengetahui tentang dirinya, meskipun kita sudah lama tinggal bersama, maksudnya selama ini aku sudah membuatnya aman di rumahku, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya.
"Hn?
"Jika tidak keberatan, aku hanya ingin tahu dirimu yang sebenarnya. Aku merasa kita sudah seperti teman, aku sering menceritakan masalah pribadiku padamu, tapi kau tidak pernah menceritakan apapun padaku. Aku merasa ini tidak adil." Ucapku. Meskipun ada beberapa rahasia yang tidak bisa ku katakan langsung padanya.
Aku menatapnya tapi dia tidak menatapku, dia masih terdiam, mungkin Sasuke tengah berpikir tentang pernyataanku ini. Beberapa detik berlalu, aku bisa melihat dia seperti tengah menghela napas.
"Tidak apa-apa jika kau tidak mau men-"
"-Aku tinggal bersama kakek, ayah, dan kakakku. Di rumahku tidak ada seorang wanita, ibuku sudah lama meninggal sejak aku masih kecil, kakakku satu-satunya orang yang seperti ibuku juga, dia yang membesarkanku di saat ayahku sibuk dan bahkan dia mengetahui hal sekecil apapun dariku. Aku sangat membanggakannya hingga kakek menjadikannya seorang pemegang saham terbesar yang hampir setara dengan perusahaan yang di pegang ayahku, kakekku sangat menyayangiku dan bahkan dia sudah menyiapkan sebuah perusahaan untukku kelak-" Ucap Sasuke.
Aku terdiam dan mendengar setiap ceritanya. Aku merasa melihat sosok Sasuke yang sebenarnya, dia seperti sangat di manjakan kakaknya, sepertinya inilah yang membuatnya tidak bisa mandiri, kakaknya selalu membuat semuanya terasa sangat mudah bagi Sasuke. Ahh, akhirnya aku mulai sedikit memahami Sasuke.
"-Sampai wanita itu datang, aku tidak tahu apa yang membuat kakek sampai tergila-gila pada wanita itu, dia bahkan seumuran dengan kakakku, aku tidak suka padanya, dia sangat licik dan selalu berusaha menjatuhkan kakakku di saat ayahku tidak ada-" Sasuke menggantungkan ceritanya dan dia terlihat kesal, aku rasa dia sangat benci wanita yang di bawa kakeknya. Aku masih penasaran dan tidak menanggapi apapun, aku ingin dia segera menyelesaikan ceritanya ini.
"-Dia memperkenalkan diri sebagai istri kedua kakek, aku sangat terkejut mendengarnya. Rasa sayang kakekku beralih pada wanita itu, kakekku tidak memperdulikan lagi keadaanku dan hanya wanita itu yang terus bersamanya. Beberapa kali aku sering memergoki dia tengah merayu kakakku, aku rasa dia lebih menyukai kakakku dan menyukai harta kakekku. Dasar wanita licik!"
Aku terkejut, Sasuke menghentakan tangannya di atas meja, aku bisa melihat kilatan marah dari matanya, dia sangat tidak senang dengan keadaan di keluarganya.
"Saat itu, dia bahkan berbohong pada kakekku jika kakakku merayunya. Aku sangat marah, aku bisa menjadi saksi untuk membela kakakku, tapi kakek tidak mau mendengarku. Aku benci wanita itu."
Sasuke menghela napas berat, dia sudah hampir mengeluarkan semua keluh kesal yang selama ini membebani dirinya.
"Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya ingin mengancamnya saat dia berada di ruangan kakekku, saat itu ayahku sedang keluar kota, kakakku berada di kantor dan kakek sedang berada di kamarnya. Aku tidak mengingat apapun yang jelas, tiba-tiba saja aku sudah memegang sebuah pisau dan wanita itu tergeletak bersimbah darah. Aku sungguh tidak mengerti kenapa hal itu terjadi? Aku tidak melakukan apapun padanya. Tapi, semua itu percuma, CCTV di ruangan kakek merekam semua kejadian, kakek marah besar padaku, dia bahkan meminta hukuman mati pada cucu kesayangannya sendiri, ini sungguh tidak adil, aku tidak melakukan apapun pada wanita licik itu. Di saat aku mulai menunggu kepastian bukti yang ada, entah mengapa ada celah di mana aku bisa kabur, aku melarikan diri dari tahanan rumah dan tidak akan pernah kembali lagi." Ucapnya dan Sasuke menundukkan wajahnya.
"Aku percaya padamu." Ucapku.
Aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku gemetaran setelah mendengar setiap cerita Sasuke, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menenangkannya. Tanpa sadar aku sudah berada di dekatnya dan memeluk Sasuke, meskipun dia menyembunyikan wajahnya, aku bisa merasakan jika dia sangat sedih dengan keadaannya sekarang.
"Sebaiknya kau yang tenang, aku bahkan bisa merasakan tubuhmu gemetar." Ucapnya.
"A-apa? Aku hanya ingin menenangkanmu." Ucapku.
Bahkan di saat seperti ini dia masih bisa mengendalikan dirinya dan mengejekku. Aku melepaskan rangkulanku darinya, tapi tangan kekar itu menahanku dan membiarkan aku tetap merangkulnya, dia masih duduk di kursi dan aku merangkul tubuh Sasuke dari belakang, menyandar tubuhku ke arah punggungnya, dia tidak merasakan aku seperti beban, tapi dia merasa aku tengah menghilangkan bebannya.
"Terima kasih, Sakura." Ucapnya.
"Apa? Apa yang kau ucapkan tadi?"
"Lupakan, jangan harap kau senang setelah mengetahui keadaanku yang sebenarnya." Ucap Sasuke. Dia kembali cuek seperti biasanya.
Aku merasa Sasuke sudah sangat terbuka padaku, meskipun pada bagian yang tiba-tiba dia memegang pisau dan membunuh wanita itu masih mengganjal di pikiranku, dia masih bersikeras tidak membunuh wanita itu, mungkin ada beberapa bukti yang menyatakan dia tidak membunuh, sayangnya hal ini di luar jangkauanku, aku tidak bisa membantunya, dia sudah jauh dari rumah dan masalah ini tidak akan terselesaikan jika dia tidak berani untuk membela dirinya, aku rasa dia hanya tidak punya bukti untuk membenarkan dirinya. Tapi sepertinya percuma, dia tidak akan mengurus masalahnya ini, dia sudah sangat nyaman tinggal di rumahku.
Ngomong-ngomong, wajahku sepertinya sudah memerah dan detak jantungku sudah tidak karuan. Sasuke masih menahanku tetap pada posisiku dan membuat kakiku mulai kesemutan.
"Sasuke, kakiku mulai keram." Ucapku dan langsung Sasuke melepaskan tangannya, akhirnya aku bisa berdiri dengan baik. Dia terlalu lama menahanku. Aku jadi harus sedikit menekuk kakiku.
.
.
.
.
.
Seperti biasanya setelah pekerjaanku selesai aku akan melanjutkan rajutanku, aku sudah tidak sabar untuk memberikannya pada Sasuke. sepertinya aku mulai menyukainya, mungkin yang di katakan Ino benar, tapi itu masih 50%, aku pikir dia juga menyukaiku, aku berharap Ino tidak salah, aku selalu mempercayai apapun yang di ucapkan Ino, tapi lagi-lagi ada yang mengganjal di hatiku.
"Ino." Panggilku saat melihat Ino sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Ada apa?" Tanyanya dan berjalan menghampiriku. "Waah, sudah hampir selesai yaa." Ucap Ino saat melihat rajutanku.
"Uhm, tinggal sedikit lagi akan selesai."
"Ah, beruntung sekali pria yang mendapatkan hasil rajutanmu ini." Ucap Ino.
"Hahah, Ino, apa-apaan sih, jangan berlebihan begitu."
"Heheh, eh apa yang ingin kau kau bicarakan?"
"Uhm...-" Aku tidak boleh mengatakan hal yang sebenarnya pada Ino, aku harus mulai membuat cerita karangan lagi. "Aku punya seorang kenalan, kami tidak terlalu dekat, tapi saat dia bertemu denganku, dia meminta saran padaku, hanya saja, aku tidak bisa memberinya saran yang tepat, menurutmu apa yang harus dia lakukan?" Ucapku.
"Apa masalahnya, siapa tahu aku bisa membantu." Ucap Ino.
"Dia menyukai seorang pria mantan pembunuh, mereka ingin melakukan hubungan serius, tapi dia masih ragu dan bimbang dengan keputusannya ini, dia masih takut dengan masa lalu si pria, apa yang harus aku katakan padanya, dia sangat menyukai pria ini." Ucapku, seperti aku bisa mendapatkan sebuah penghargaan pembohong terbaik tahun ini.
"Hoo, ini kasus yang rumit, aku baru menemukan hal seperti ini, aku juga sulit untuk memberi saran yang tepat untuk kenalanmu itu. Sepertinya akan ada dua opsi tentang hal ini, yang pertama, pria ini akan menyayangi wanitanya dan selalu melindunginya, dia mungkin tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Yang kedua. Aku tidak jamin dia akan melupakan masa lalunya, kau sendiri tahu kan, kita tidak bisa membaca pikiran seseorang dan pemikiran setiap orang itu berbeda-beda, aku takut jika saja mereka bertengkar dan tiba-tiba pria itu akan mengancam nyawa si wanita, asal kau tahu saja, seperti beberapa buku yang pernah aku baca, kadang pembunuh itu adalah seorang psikopat yang kita tidak bisa menebak sikapnya secara langsung, hari ini dia bersikap baik, bagaimana dengan esoknya? Dia akan melukai seseorang, mereka itu terlalu terobsesi akan hal itu. Haa..~ tolong katakan pada kenalan mu itu, jangan terburu-buru mengambil keputusan seperti hubungan yang serius, sebaiknya dia harus betul-betul mengenal pasangannya terlebih dahulu." Ucap Ino.
Dia seperti merasa kasihan pada kasus kenalanku ku ini, yang sebenarnya, ini adalah kasusku. Aku rasa Ino kebanyakan membaca buku tentang psikopat, dia jadi bisa mengatakan hal ini dengan mudah. Tapi, aku rasa Sasuke bukan seorang psikopat. Dia pria yang normal yang merasa tidak bersalah.
"Terima kasih atas saranmu Ino, aku harap kenalanku ini akan mendengarnya." Ucapku pada Ino.
"Tidak masalah, aku senang bisa membantu wanita itu, aku harap dia bisa menemukan kebahagiaannya." Ucap Ino.
Setelah berbicara dengan Ino, aku ingin pulang cepat dan akan melanjutkan rajutanku besok, malam ini aku ingin mengajak Sasuke keluar. Kita sudah jarang untuk makan malan di luar. Aku hanya ingin menghiburnya. Dia sungguh tertekan dengan kasus yang tengah menimpah dirinya. Berjalan keluar dari gedung kantor dan aku bertemu Naruto.
"Kau akan pulang?" Tanyanya.
"Iya."
"Aku ingin mengajakkmu lagi, aku mendapatkan tempat yang bagus hari ini." Ucapnya, dia terlihat sangat senang jika mengajakku pergi.
"Maaf Naruto, hari ini aku tidak bisa, aku harus pulang cepat." Ucapku.
"Hoo, begitu yaa, apa kau sedang ada janji dengan seseorang?" Dia sepertinya kecewa saat aku menolaknya, tapi hari ini aku sudah berniat untuk pergi bersama Sasuke.
"Uhm, begitulah, teman lama, aku harus bertemu dengannya hari ini." Ucapku.
"Ah, baiklah, semoga aku bisa mengajakmu lain waktu." Ucapnya.
"Tidak, lain waktu aku yang akan mengajakmu." Ucapku, aku masih utang untuk mentraktirnya.
"Tentu." Ucapnya, dia mencoba tersenyum meskipun aku tahu dia sangat kecewa tidak bisa pergi denganku hari ini, maafkan aku Naruto, lain kali kita akan pergi bersama.
Aku pamit padanya dan bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku sudah memikirkan tempat yang tidak terlau ramai tapi makanannya tetap enak. Berpikir jika aku saja mengatakan perasaanku duluan, tapi aku sangat malu, kenapa aku bisa menyukai orang seperti dia. Tapi aku ragu jika dia akan membalas perasaanku juga.
Bus sudah berhenti di halte dan aku berjalan pulang dengan santai. Melirik jam tanganku sudah jam 7, aku akan berlari dengan cepat, rasanya aku ingin segera bertemu dengan Sasuke dan mengajaknya pergi.
Sesampainya di rumah, membuka pintu dengan tergesah-gesah dan berlari ke arah kamar Sasuke, aku tahu dia ada di dalam, mengetuknya beberapa kali dan aku harap dia tida marah saat aku membangunkannya.
"Sasuke, apa kau di dalam?" Ucapku.
Pintunya terbuka dan sepertinya dia baru bangun, apa seharian ini dia tidur?
"Ada apa?" Tanyanya, dia menguap sesekali dan penampilannya sedikit berantakan.
"Bersiaplah dan kita akan keluar."
"Mau kemana?"
"Kita akan makan malam di luar, cepatlah." Ucapku.
Sejam berlalu, kami sudah berada di luar, menaiki bus menuju tengah kota dan turun di halte, tanpa ku minta pun Sasuke langsung memakai topi dan kacamatanya, dia merasa lebih aman jika memakai dua benda itu, malam ini sedikit dingin, aku sudah menyuruhnya untuk memakai jaket. Banyak juga orang yang berlalu-lalang di kota, di tengah kota tidak pernah sepi dari orang-orang.
"Ada apa? Tumben kau mengajakku keluar." Ucapnya, dia seperti tidak percaya dengan sikapku hari ini.
"Aku sedang malas makan di rumah, sudahlah, kau tidak percaya padaku, bersyukurlah suasana hatiku sedang baik." Ucapku.
"Hn."
Kami masih berjalan, restoran yang kami tuju tinggal beberapa meter lagi, rasanya jadi aneh, aku melihat sekitar dan rata-rata orang yang sedang pacaran, kenapa tiba-tiba orang pacaran banyak ditengah kota, suasananya menjadi canggung, melirik ke arah Sasuke dan tatapanku tertuju pada tangan Sasuke. Aku ingin menggenggamnya, tidak Sakura, di mana harga dirimu, aku tidak boleh melakukannya lebih dulu, seorang pria yang harus menawarkan tangannya. Haa..~ aku harus menahan diri hingga kami benar-benar memiliki hubungan khusus.
"Ada apa?" Tanya Sasuke. Aku rasa dia memperhatikan tingkahku yang aneh.
"Ti-tidak." Ucapku.
Aku rasa sebuah tangan memegang tanganku. Eh? Tangan? Menoleh ke arah tanganku dan mendapati tangan Sasuke menggenggam tanganku.
"Jangan sok kuat, aku tahu kau kedinginan dan tidak ingin mengatakannya, lagi pula ini salahmu, keluar di cuaca dingin seperti ini." Ucapnya. Terdengar seperti dia tengah mengejekku.
"Si-siapa yang merasa kedinginan. Aku tidak kedinginan." Ucapku mencoba menarik tanganku tapi dia malah memasukkan tanganku bersama tangannya ke dalam saku jaketnya.
"Jangan keras kepala, aku tahu kau wanita barbar tapi jang memaksakan diri." Ucapnya. Lagi-lagi dia mengejekku.
Suasana ini, aku merasa kita seperti tengah berpacaran dan sedang berkencan, menatap ke arah Sasuke, wajahnya datar seperti biasanya, aku bahkan tidak bisa membaca apa yang sedang kau pikirkan Sasuke, apa benar kau menyukaiku? Pertanyaan itu selalu saja menghantui pikiranku, aku harap kau menyukaiku juga. Aku sudah terlanjur jatuh hati padamu. Aku membalas genggaman tangan Sasuke, rasanya jadi hangat, aku rasa dia tadi terkejut dan menoleh ke arahku sejenak, tapi aku tidak berani menatapnya saat ini, wajahku pasti sudah sangat merona.
Kami tiba di restoran yang ingin ku datangi, di cuaca dingin seperti ini akan terasa enak jika kita makan-makanan yang hangat. Memesan beberapa makan dan kami makan malam bersama. Aku sampai tidak bisa menatapnya, hal ini sungguh membuatku sangat malu.
"Apa kau suka makanan di sini?" Tanyaku.
"Uhm, lumayan, lebih enak dari pada masakanmu." Ucapnya.
Uhk, dia mengejekku lagi, aku menatapnya dan membuat tatapan kesal di hadapannya. Dia hanya fokus pada makanannya dan tidak menatapku balik.
"Sasuke." Panggilku, aku ingin mengatakan perasaanku sekarang padanya, tapi aku ingin menanyakan sikapnya terlebih dahulu.
"Hn?"
Kami saling bertatap, ahk, rasanya kepalaku pusing, aku jadi tidak berani mengucapkan kalau aku suka padanya atau bertanya apa kau menyukaiku?
"Ada apa?"
"Ha? I-itu, a-anu. A-a-apa kau suka makanan di sini?" Aku tidak bisa mengucapkannya, ternyata sangat sulit untuk mengungkapkan perasaan sendiri.
"Kau sudah mengatakan itu dua kali."
"Oh, ma-maaf."
"Sepertinya makanamu terlalu panas, lihatlah wajahmu memerah, biarkan sedikit dingin dulu."
Ini bukan karena makananku, aku tahu wajahku sudah sangat merona karena harus berusaha mengungkapkan perasaanku tapi aku tidak bisa, aku sangat payah dalam hal ini.
"Terima kasih dan silahkan datang lagi." Ucap pemilik restoran itu.
Akhirnya tidak ada yang bisa ku ucapkan pada Sasuke, aku sangat kecewa, kecewa pada diriku sendiri. Apa susahnya mengatakan jika aku suka kamu. Aku sungguh tidak bisa mengatakannya semudah itu. Baru kali ini aku menyukai seseorang duluan, biasanya mereka yang duluan mengatakannya padaku.
Kami kembali berjalan, aku bahkan menjaga jarak darinya, aku tidak ingin dia memegang tanganku lagi, aku harus mencoba tenangkan pikiranku dan berusaha mengucapkannya lagi.
"Sasuke aku-"
"Sial!"
Haaa...! aku kehilangan keseimbangan, Tidak, aku tidak kehilangan keseimbangan, aku merasakan jika Sasuke tadi mendorongku dengan sangat keras dan dia berlari meninggalkanku. Aku terjatuh cukup keras dan aku bisa merasakan tanganku terluka dan kakiku terkilir.
"...tolong katakan pada kenalan mu itu, jangan terburu-buru mengambil keputusan seperti hubungan yang serius, sebaiknya dia harus betul-betul mengenal pasangannya terlebih dahulu."
"...aku takut jika saja mereka bertengkar dan tiba-tiba pria itu akan mengancam nyawa si wanita, asal kau tahu saja, seperti beberapa buku yang pernah aku baca, kadang pembunuh itu adalah seorang psikopat yang kita tidak bisa menebak sikapnya secara langsung, hari ini dia bersikap baik, bagaimana dengan esoknya? Dia akan melukai seseorang, mereka itu terlalu terobsesi akan hal itu..."
"...melukai seseorang..."
Kenapa aku mengingat ucapan Ino? Apa ini Sasuke yang sesungguhnya? Sasuke? dia meninggalkanku begitu saja. Dia bahkan melukaiku, aku melihat ke arah lenganku yang terasa perih, ini bukan luka biasa, tanganku terluka dan berdarah.
"Nona, kau tidak apa-apa?"
Aku menoleh dan menatap seseorang yang sedang menolongku. Aku masih tidak bisa berpikir dengan jernih. Rasanya aku syok dan tidak bisa berkata apa-apa. Aku bahkan membiarkan pria itu mengangkatku dan membawaku ke mobilnya. Melirik ke arahnya dan dia tengah berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.
"Halo, apa kau masih buka? Aku harap kau membuka klinikmu sekarang, ada keadaaan darurat, sebentar lagi aku akan tiba. Ahk, terima kasih."
Dia berhenti menelpon dan menatapku.
"Kau baik-baik saja, apa tanganmu sakit?" Ucapnya.
Aku melihat ke arah tanganku, memang berdarah, tapi rasanya tanganku tidak sakit, yang sakit adalah hatiku. Sasuke pergi meningalkanku. Tiba-tiba saja aku menangis, rasanya ini sungguh membuatku sakit. Aku pikir aku sudah mengenal Sasuke dengan baik tapi, sepertinya aku salah, dia tidak seperti apa yang tengah ku pikirkan.
"Eh? Tu-tunggu, bersabarlah, kita akan segera ke klinik dan mengobatimu." Pria itu berusaha menenangkanku. Dia pikir aku menangis karena luka yang sedang ku derita
.
.
TBC
.
.
update untuk menemani malming, apaan(?) hahahahaha... nggak terasa udah chapter segini, semoga masih konsisten untuk tetap melanjutkan ceritanya, berharap alur tiap chapter tidak membuat bosan. heheh...
update dua chapter lagi.
.
see you next chapter...~
