Hari ini, karena Ohta merasa berhutang cerita kepada kedua temannya, ia mengajak mereka serta Tanaka untuk nongkrong sebentar di café sepulang sekolah. Sekali – sekali tidak apalah, toh ia sendiri juga jarang pergi – pergi ketempat seperti itu selama ini.
"Jadi? Apa penjelasan kalian?"
Ohta menghela napas memandang Katou yang sejak tadi tidak sabaran sekali untuk mendengar cerita kenapa Ohta dan Tanaka sudah lebih akrab lagi dan bahkan sekarang terkesan lebih 'intim' lagi.
"Tunggu sebentar Katou kita baru sampai. Biarkan aku mengambil napas sebentar." Ujar Ohta.
Katou mendengus kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Sementara Shimura yang berada disampingnya hanya terkekeh geli.
Tanaka hanya diam saja, namun Ohta menangkap rona kemerahan dikedua pipi pucat pemuda pendek tersebut. Ah, manis sekali Ohta jadi ingin menciumnya. Sabar… sabar…
"Jadi… sebenarnya kita berdua hanya salah paham saja kok." Ujar Ohta santai sambil meneysap jus jeruk yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan wanita.
"HAH?" katou melongo. Matanya melotot dengan mulut terbuka lebar. "Jadi… kekhawatiran kita berdua selama ini hanya karena salah paham? Huh, aku jadi menyesal menghawatirkan kalian." Lanjut Katou sambil menggembungkan kedua pipinya dengan tangan menyilang didepan dada. Ohta terkekeh kecil.
Well, Katou dan Tanaka itu mirip, bukan dalam sikap tentu saja. Hanya… kalau diibaratkan sebagai 'atasan' dan 'bawahan', Katou dan Tanaka itu adalah type 'bawahan' yang pasrah dan mengikuti apa yang diinginkan 'atasan' dan 'atasan' itu adalah Ohta dan Shimura. Eh, bukankah kedua kata itu ambigu. Memang kok, ini soal posisi diranjang. Jadi kalau pikiran kalian ambigu, kalian tidak salah.
"Kenapa kalian bisa salah paham?" Tanya Shimura kalem. Ia sejak tadi hanya mengikuti alur pembicaraan tanpa keterkejutan yang berarti. Shimura sih memang kalem dari sananya, berbeda dengan Katou yang cerewet dan hyperactive itu.
Baik Ohta maupun Tanaka tidak yakin ingin menjawabnya. Ohta menggaruk pipinya sementara Tanaka lebih memilih mengalihkan pandangannya keluar jendela café.
"Itu… sebenarnya, er… hanya kesalahpahaman kecil kok."
"Kalian mencoba menghindar ya?" Selidik Katou dengan kedua matanya yang menyipit.
"Hhh~, baiklah, jadi kami hanya salah paham masalah kecil kok. Tanaka menyukaiku dan mengira aku pacaran dengan Echizen padahal kami hanya teman sepermainan sejak kecil. Yah, lucu sih, tapi sempat menjadi serius untuk beberapa saat." Jelas Ohta sambil membuang muka.
Tanaka memerah. Dia sangat malu, karena kalau dipikir – pikir, semua masalah ini bermula darinya.
Katou merengut. "Huh tidak seru, kalian kekanakan sekali sih." Dengus Katou sinis.
Shimura melirik pemuda disampingnya "Oh? Kaca mana kaca?" sindir Shimura sambil terkekeh. Katou merengut. Memang sih, Katou itu lumayan kekanakan untuk ukuran anak SMA. Mendukung sekali dengan wajahnya yang imut.
"sudah… sudah…" ujar Ohta menengahi. "Kalian ini… oh ya, aku dan Tanaka akan pulang, kalian berdua tetap disini atau mau pulang juga?" Tanya Ohta sambil membenahi tas nya. Tanaka sudah bersiap berdiri mengikuti Ohta.
Katou diam, memasang wajah datar sambil mengambil tas nya dengan kasar. "Aku pulang. Jaa~ matta ashita Ohta, Tanaka!" Ujarnya sambil tersenyum. Ia sengaja melupakan Shimura. Katou masih kesal padanya.
"Loh? Oi? Katou, tunggu aku." Shimura meraih tas nya, ia mengejar Katou yang sudah berlari duluan. Eh? Apakah sebentar lagi akana da drama picisan?
Ohta dan Tanaka menghela napas. "Tanaka, eng… bo—boleh aku mampir ke rumah mu?" Tanya Ohta gugup.
Tanaka menyembunyikan wajahnya yang merona dengan memalingkan muka. "Bo—boleh kok, Rino katanya menginap dirumah temannya."
Oh Tanaka, apakah dirimu bodoh? Dengan mengatakan kalau adikmu menginap itu bukankah menjadi kesempatan bagi Ohta untuk menguasai. Ohta tersenyum, senyum yang menurut Tanaka menyeramkan—ugh, lebih mirip seperti seringai ketimbang senyum.
Sepanjang perjalanan kerumah Tanaka, Ohta terus saja tersenyum – senyum sendiri, menyeringai, bahkan terkikik. Tanaka khawatir jika kekasihnya gila. Eh? Apa tadi? KEKASIH?
.
.
"Du—duduklah, aku akan mengambil minum dan cemilan."
Ohta mengangguk. Ia duduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan keadaan disana. Tidak terlalu menarik, biasa saja. Maklum saja, Tanaka hanya tinggal berdua dengan adiknya. Kalau diingat – ingat sih, Ohta sudah pernah kemari. Itu waktu… waktu… oh, sepertinya Ohta malu untuk mengakui kejadian waktu itu.
Tak berapa lama, Tanaka datang dengan membawa sebotol jus jeruk dan setoples kecil biscuit. Ohta menyambutnya dengan senyuman. Tanaka merona. Sepertinya, senyuman Ohta memiliki efek samping yang berbahaya untuk kelangsungan hidup jantung Tanaka.
"K—kau, tidak mau pulang?" Tanya Tanaka lirih.
Ohta yang tengah asyik mengunyah biscuit terhenti. Ia menoleh, menatap dalam – dalam sosok mungil disampingnya. "Kau mengusirku?" Tanya Ohta.
Tanaka tersentak. "Hah? Ti—tidak, aku hanya—"
Cup!
Satu kecupan ia daratkan di kedua belah bibir Tanaka. Ohta menahan tawa melihat ekspresi malu – malu kekasihnya itu. Tanaka mengerjap – ngerjapkan matanya. Aduh, jantungnya berdetak keras sekali sampai rasanya Tanaka khawatir kalau jantungnya akan keluar.
"A—apa yang k—kau lakukan?" Tanaka beringsut ke ujung sofa sambil memegangi bibirnya yang baru saja dicium oleh Ohta. Kalau dipikir – pikir, Tanaka jadi lebih ekspresif setelah kesalah pahaman mereka selesai. Ohta jadi senang.
"Itu? Itu namanya ciuman." Jawab Ohta enteng. Ia kembali mencomot biscuit di toples dan memakannya dengan santai. Niat awal memang ingin menggoda Tanaka saja sih. Tapi… kalau memang mau lanjut, Ohta juga tidak keberatan kok. Ups!
Tanaka merengut setelah menyadari bahwa Ohta hanya menggodanya saja. Dasar sialan. Tanaka hendak beranjak ketika merasakan tangan kanannya di pegang oleh Ohta. "Ada apa?" Tanya Tanaka. Ia kembali ke mode muka temboknya.
Ohta hanya menyeringai. Pegangannya ditangan Tanaka ia eratkan, kemudian dengan gerakan cepat ia menarik tubuh Tanaka hingga jatuh ke pangkuannya.
"A—apa yang kau l—lakukan Baka?"
"Aku? Hanya memangkumu saja kok." Jawab Ohta. Ia melingkarkan kedua lengannya dipinggang ramping Tanaka sementara kepalanya ia istirahatkan di bahu pemuda itu. Ohta menghirup dalam – dalam aroma tubuh kekasihnya itu. Manis.
"A—ah, jangan mengedusku." Desis Tanaka sambil menggigit bibirnya.
Ohta tersenyum nakal. "Oh? Kenapa memangnya? Kau harum, dan terlihat manis, rasanya aku ingin 'memakan' mu." Bisik Ohta dengan suara rendah.
Sejak kapan seorang Ohta bisa seperti ini? wajah Tanaka terasa amat panas pun dengan jantungnya yang kembali menggila. "Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda kok." Ohta kembali menempeli Tanaka sekarang bahkan Ohta berani menjilati leher Tanaka.
Tubuh Tanaka mengejang. Ia tidak pernah merasakan sentuhan semacam ini. ini pertama kalinya untuk Tanaka. Rasanya aneh… seperti ada banyak kupu – kupu berterbangan di perut. Geli… tapi menyenangkan.
"Heh? Kau menikmatinya?" Tanya Ohta.
Tanaka menatap Ohta dengan tatapan sayu. Sial, kalau Tanaka terus menatapnya seperti ini, bisa – bisa Ohta khilaf sekarang.
Tubuh Tanaka bergetar ketika Ohta terus mengendus dan menjilat leher putihnya. Tanaka menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara – suara aneh yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Sekarang ini, Ohta tengah memangku Tanaka dengan kedua tangan melingkar manis di pinggangnya.
Di detik berikutnya, Tanaka terkejut ketika merasakan ada yang menusuk dipantatnya. Seperti sebuah benda yang keras. Wajah Tanaka semakin merona ketika menyadari apa benda keras yang menonjol dibawah pantatnya.
"Ugh… sepertinya, aku tidak mampu menahannya lagi Tanaka." Gumam Ohta. Ia tersenyum aneh. Tanaka merasakan hawa tidak enak melihat kedua mata Ohta yang diselimuti kabut napsu.
Dengan gerakan cepat, Ohta menganggak tubuh mungil Tanaka di bahunya dan membawanya ke kamar.
"Tu—tunggu, kau mau apa OHTAAAAAAA?!"
.
.
.
To be continue. . .
A/N : hyaaaa! Ohta mau ngapain tuh ya? X'D uh, tidak kerasa ya saya lama banget updatenya. Maaf banget loh, maaaaaaaf banget. Sekarang nih saya lagi UKK, ah bentar lagi naik kelas 3 :'( . Dari kemarin ngeliat soal – soal udah bikin pusing plus males. Sebenarnya saya kepikiran sama cerita – cerita saya yang terlantar tapi… huhuhu :'( ini saya sempat – sempatkan nulis pas belajar, soalnya kalau ketahuan emak lagi nulis ginian padahal lagi UKK bisa kena amuk ntar.
Hehehe… udah deh curhatnya. Happy reading guys! ^_^ jangan lupa tinggalkan jejak. Heheheh /dor!
