Kiranya sudah lebih dari tiga jam Kim Jongin berdiri dengan resah didepan sebuah pintu besar tertutup dengan lampu merah menyala yang menandakan adanya kegiatan didalam ruang tersebut. Lelaki itu membawa langkahnya bolak-balik mengitari sekitar pintu itu. Tangannya saling bertautan seraya bibirnya merapalkan doa ditiap detiknya.

Kejadian yang baru saja terjadi beberapa jam lalu itu benar-benar membuat pukulan sendiri untuk dirinya. Hatinya bahkan merasakan sakit yang tak terkira ketika benaknya kembali memutar reka ulang apa yang tadi dilihatnya. Kepalanya bahkan terus berfikir bagaimana ada seorang manusia yang dengan kejamnya menyiksa orang lain yang jelas tak mungkin melawannya dengan seimbang.

Dalam hati Kim Jongin mengutuk teruntuk apa yang sudah istrinya itu lakukan kepada kekasihnya. Oh mungkin kini Kim Jongin merasa mual hanya untuk menyebut jika wanita setengah ular itu pernah menjadi bagian hidupnya bahkan menyandang nama keluarganya.

Kerkutuklah rubah Chaeyeon itu beserta ibunya yang sama penjilatnya.

Lamunan Jongin terhenti ketika mendengar suara ketuka sepatu terdengar begitu nyaring dilorong tempat berdirinya. Lelaki itu menoleh dan mendesah lega ketika mendapati seorang wanita paruh baya dengan mantel coklat berbulu berjalan dengan langkah cepat kearahnya.

"Ibu." Ujarnya mendekati wanita itu. Ia langsung menggenggam tangah wanita itu kemudian memeluk sosok itu.

"Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Kim kepada putra tunggalnya. Sedang Jongin tak mampu menjawab. Ia hanya diam sembari menikmati pelukan menenangkan miliki ibunya.

Nyonya Kim mendesah pelan sebelum melepas pelukan mereka dan membawa duduk putranya kearah kursi yang tersedia samping ruang operasi itu.

"Katakan Jongin. Sebenarnya apa yang terjadi? Kau tadi hanya memberitahu ibu jika Kyungsoo mengalami kecelakaan yang membuat harus masuk kerumah sakit. Beruntung ibu belum jadi terbang ke Jepang untuk menyusul ayahmu dan segera kemari setelah mendapat tiket pesawat tercepat. Katakan Jongin, ibu ingin tahu."

Jongin menghela napas panjang. Lelaki itu memejamkan matanya sebelum kemudian membukanya kembali dengan sorot mata yang terlihat marah.

"Ini semua karena Chaeyeon dan ibunya."

Nyonya Kim mengangguk. Merasa mengerti seperti apa situasi yang terjadi wanita paruh baya itu memilih bungkam dan mendengarkan ucapan anaknya hingga selesai.

"Aku tidak tau apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat didepan mataku. Padahal aku hanya meninggalkan Kyungsoo sebentar untuk mendapatkan es kelapa muda keinginnya namun ketika aku kembali semua telah terjadi. Aku bahkan juga sempat melihat bagaimana wanita itu menendang perut Kyungsoo lalu ibunya membantu memukuli kekasih malang ku itu dengan balok kayu."

Nyonya Kim mengusap air mata yang tak sengaja jatuh dari pelupuk mata putranya. Ia tahu bagaimana sakit hatinya putranya ketika menceritakan hal mengerikan semacam itu.

"Mu-mungkin mereka bisa membunuh Kyungsoo dan bayi kami jika aku tidak segera datang."

Dan ketika air mata itu tumpah semakin banyak. Nyonya Kim hanya mampu membawanya kedalam dekapannya. Menenangkan putranya dengan mengusap sayang punggung gemetar itu. Ia tahu putranya kuat. Namun apa yang telah ia ceritakan barusan membuatnya wajar jika ia menangisi untuk apa yang terjadi kepada orang terkasihnya.

"Shttt... tenanglah Jongin. Semua akan baik-baik saja. Kyungsoo dan bayi kalian akan selamat. Dan untuk urusan rubah itu dan ibunya biar ibu yang menyelesaikan." Ucapnya. Jujur saja ia sebenarnya juga kesal dengan apa yang telah menantunya itu lakukan. Sungguh jika tidak mengingat kondisi saat ini sedang genting, mungkin Nyonya Kim sudah pergi sedari tadi mencari orang yang telah berani mencelakai ibu beserta calon cucunya. Bahkan nyonya Kim bersedia membunuh dengan tangannya sendiri.

Namun kemudian Jongin menggeleng. Lelaki itu melepaskan pelukan ibunya sembari mengusap air matanya yang membasahi wajahnya.

"Tidak perlu ibu. Aku sudah menghubungi anak buahku untuk mencari kedua orang itu sekarang. Dan ku pastikan mereka tidak akan bisa selamat dariku."

"Apa yang akan kau lakukan Jongin?" tanya wanita paruh baya itu.

Sedang Jongin hanya memandang ibunya sekilas sembari tersenyum licik. "Membuat mereka membayar seluruh rasa sakit yang dirasa sakit yang sudah Kyungsoo rasakan. Bahkan mungkin 1000x lebih kejam dari apa yang sudah mereka lakukan."

Nyonya Kim hanya tersenyum kecil sembari menepuk pelan pundak putranya itu.


Dua jam kemudian suara tangisan bayi nyaring terdengar hingga keluar ruangan. Jongin yang tadinya duduk dengan resah langsung berderi ketika mendengar jerit tangisan itu. Lelaki itu membelalakkan matanya kemudian menatap kearah ibunya dengan mata yang berbinar terang.

"Ibu bayiku telah lahir. Aku resmi menjadi seorang ayah sekarang bu..."

Nyonya Kim tersenyum haru. Wanita itu mengangguk dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Ia kemudian berdiri memeluk putranya memberi selamat.

"Selamat nak, kau resmi menjadi seorang ayah sekarang."

Jongin mengangguk dengan tangisan bahagia dipundak ibunya. Lelaki itu masih tak menyangka jika ia sekarang menjadi seorang ayah. Masih terasa mimpi di musim panas rasanya. Terlalu membahagiakan dan terlalu mendebarkan.

Jongin melepas pelukannya bersama ibunya ketika pintu ruang operasi terbuka. Disana berdiri seorang perawat tengah menatap dengan senyum kearahnya.

"Tuan Kim?"

Jongin maju. "Ya saya."

"Silahkan masuk kedalam untuk melihat putra dan istri anda." Perawat itu ternyum. Menggeser sedikit tubuhnya mempersilahkan Jongin untuk masuk kedalam.

Jongin melirik ibunya. Meminta ijin untuk masuk duluan sebelum kemudian berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari ibunya.

Jongin merasakan dadanya berdentum dengan kencang ketika kakinya melangkah semakin dalam. Ia dapat melihat bagaimana sibuknya orang-orang disana. Ada yang tengah membersihkan sisa-sisa operasi caecar Kyungsoo dan ada pula yang tengah sibuk membersihkan bayinya.

Hal pertama yang Jongin lakukan adalah melangkah kearah Kyungsoo yang terpejam. Efek obat bius yang digunakan sebelum wanita itu tadi melakukan operasi. Beberapa perawat menjauh membiarkan Jongin mengambil waktunya bersama Kyungsoo.

Lelaki itu menggenggam sebelah tangan Kyungsoo yang terbebas dari infus sebelum kemudian mengecupnya dalam. Ia kemudian beralih untuk mengecup kening, mata dan terakhir bibir Kyungsoo. jongin pun tak lupa membisikkan kata terimakasih kepada Kyungsoo sebegai rasa balas budinya kepada kekasihnya itu yang telah membuatnya menjadi ayah.

"Terimakasih sayang. Terimakasih..."

Jongin masih ingin menikmati lebih lama lagi untuk waktunya bersama Kyungsoo. namun rupanya, bayi kecilnya tidak membiarkannya untuk melakukan itu. Bayi yang baru lahir beberapa menit lalu itu kembali menangis dan menjerik seolah meminta perhatian kepada ayahnya.

Jongin yang mengerti tersenyum. Melepaskan tangan Kyungsoo sebelum beralih kearah bayinya setelah sekali lagi mencium dalam kening Kyungsoo.

Perawat yang tadi menggendong bayi kecil itu tadi tersenyum, menyerahkan bayi itu secara hati-hati setelah Jongin berdiri dihadapannya. Dan ajaibnya, tangisan bayi itu langsung reda ketika ia dipindahkan kegendongan Jongin yang kaku. Lagi-lagi Jongin harus kembali dibuat menangis bahagia ketika merasakan bayi itu melaluin kulitnya langsung.

Dengan hati-hati Jongin mencium pipi gembil bayi itu sembari membisikkan kata, "Anakku.."

Jongin masih sibuk dengan dunia barunya ketika seorang perawat mengintrupsi kegiatannya itu.

"Tuan maaf. Namun kami harus segera membawa Nyonya Kyungsoo dan bayi anda untuk dipindahkan keruang rawat. Jadi Tuan diharap untuk menghadap reseptionis untuk mengurus perihal ruang rawat yang akan digunakan oleh Nyonya Kyungsoo beserta bayinya."

Jongin mengangguk mengerti. Mengembalikan bayinya kepada perawat yang menggendongnya tadi meski dengan tak rela. Ia kemudian pamit keluar untuk mengurus ruang rawat Kyungsoo beserta administrasinya.


Kyungsoo merasakan pening di kepalanya ketika perlahan-lahan kesadaran kembali padanya. Wanita itu menyipitkan matanya untuk memproses cahaya yang masuk kematanya yang entah tertutup sejak kapan.

Dia juga merasakan keram disekitar area perut dan pinggangnya. Dan saat matanya benar-benar terbuka, wanita itu tidak mendapati seorangpun diruangan putih dengan aroma obat yang kental tercium.

Kyungsoo kembali mencoba untuk berfikir apa yang menyebabkannya hingga harus berakhir disini. Dan ingatan-ingatan sebelum ia pingsan mulai berdatangan. kejadian dipantai tadi langsung membuat matanya melebar dan ia kelimpungan ketika meraba perutnya tidak menemukan apa-apa disana. Sesuatu yang ia bawa dan rawat baik-baik selama 9 bulan kebelakang.

Kyungsoo sudah hendak akan beranjak dari tempat tidurnya dan mencari seseorang siapapun untuk menjalaskan kemana perginya gelembung diperutnya. Ia itu mungkin saja akan Kyungsoo lakukan jika sepersekian detik sebelumnya pintu kamarnya terbuka. Menampilkan seorang laki-laki berpakaian kasual tengah menggendong seorang bayi kecil dan belum memperhatikannya.

Kyungsoo berkedip beberapa kali meyakinkan dirinya jika yang tengah lelaki itu gendonga merupakan buah hatinya.

"Jongin.." ujar Kyungsoo lemah.

Sedang pemilik nama yang tengah fokus dengan bayinya itu langsung terbelalak ketika mendapati kekasihnya telah membuka mata setelah hampir 24 jam tidak sadarkan diri.

"K-kyungsoo?"

Kyungsoo sudah hendak duduk namun urung ketika Jongin dengan mata yang terbelalak menahannya untuk tetap berbaring seperti semula.

"Apa yang kau lakukan Jongin. Aku hanya ingin duduk." Protes wanita itu.

Namun dengan tatapan tegasnya Jongin menentang. "Tidak Kyungsoo, kau harus tetap berbaring disana. Setidaknya sampai dokter selesai memeriksamu. Jadi biarkan dokter memeriksamu dulu. aku akan panggilkan dokter untukmu sebentar."

Kyungsoo sudah hendak menahan Jongin agar meninggalkan bayi mereka namun ternyata Jongin lebih cepat keluar dari sana. Dan beberapa menit kemudian rombongan dokter dan perawat datang untuk mengecek keadaannya. Setelah dokter menyatakan jika Kyungsoo baik-baik saja mereka kembali ditinggalkan berdua. Ahh mungkin bertiga dengan bayi kecil mereka.

"J-jadi ini bayi kita?" tanya Kyungsoo setengah tak percaya. Sedang Jongin disebelahnya hanya tersenyum kecil sembari mengecup pucuk kepala Kyungsoo.

"Ya sayang. Dia milik kita."

Kyungsoo menetikan air matanya bersamaan dengan bibirnya yang mengecup sayang kening bayi kecilnya. Ia kemudian memandang bayi didalam gendongannya itu dengan sayang.

"Dia berkelamin laki-laki. Beratnya 4 kg dan ketika lahir suara tangisannya begitu kencang bahkan kata para perawat dia paling kencang dari bayi-bayi lain. Semua perawat yang melihatnya selalu mengatakan jika ia akan menjadi orang hebat dimasa depan."

Kyungsoo tersenyum mendengar cerita Jongin. Satu hari yang ia lewatkan untuk melihat putranya ternyata begitu berarti.

"Aku tau dia akan menjadi orang hebat nanti di masa depan. Seperti ayahnya." Ucap Kyungsoo sembari mengalihkan perhatiannya kearah Jongin yang juga menatapnya.

Jongin tersenyum dengan bahagia. Baru sekali seumur hidupnya ia merasakan kebahagiaan seperti ini. Terlebih kali ini ia dapat melihat bagaimana tatapan tulus yang diberikan Kyungsoo kepadanya. Dan hal ini menambah kebahagiaan tersendiri dihati Jongin.

"Terimakasih soo.." ucapn Jongin sebelum kemudian menunduk hendak menjemput bibir Kyungsoo. namun ketika jarak bibir mereka tinggal satu senti saja tiba-tiba suara tangisan kencang menggangu momen manis mereka.

Kyungsoo dengan segera mengalihkan wajahnya untuk melihat putranya membuat Jongin harus puas berciuman dengan pundak Kyungsoo.


"Dia sudah tidur?" tanya Jongin sembari membawa tubuhnya duduk disebelah Kyungsoo. sementara wanita yang baru melahirkan itu mendesah sembari menganggukkan kepalanya.

"Ya. Dan rasanya tubuhku terasa begitu lelah karena dia tidak berhenti menyusu sejak tadi. Untuk saja kali ini dia mau untuk tidur." Adu Kyungsoo.

Sedang Jongin hanya terkekeh kecil. Kemudian mencuri kecupan dipipi kekasihnya. "Tidurlah. Aku akan membawanya kembali ke ruang bayi."

Kyungsoo mengangguk membiarkan Jongin mengambil putranya dan membawanya pergi dari sana. Wanita itu segera memperbaiki posisi tidurnya karena ia benar-benar ingin tidur untuk mengembalikan energinya. Sungguh ia senang bisa bermain seharian dengan bayinya yang baru berumur sehari. Namun tetap saja, rasa lelah itu pasti ada apalagi bayinya yang tidak berhenti-henti menyusu padanya.

Kyungsoo baru saja memejamkan matanya ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Wanita itu kemudian membuka kembali matanya dan mendapati Jongin berdiri dibalik pintu sembari menatap canggung kearahnya.

"Apa aku membangunkanmu?"

Kyungsoo menggeleng. Kemudian mengulurkan tangannya menunggu sambutan dari tangan kekasihnya.

"Tidak. Aku hanya baru memejamkan mata. Tidak perlu khawatir."

Jongin ikut tersenyum. Mengusap sayang punggung tangan Kyungsoo. keduanya terdiam menikmati hening antara keduanya. Sampai kemudian Kyungsoo menjadi yang pertama kembali membuka obrolan.

"Jongin... apa kau sudah memikirkan nama yang cocok untuk bayi kita?"

"Belum." Jawab Jongin. "Aku menunggumu bangun dan ingin membuat nama itu bersamamu."

Kyungsoo mendesah. "Seharusnya kau tidak perlu menungguku Jongin. Kau bisa memberikan dia nama karena dia putramu."

Lelaki itu menggeleng pelan. "Putra kita soo."

"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah memikirkan satu nama yang cocok untuk bayi kita?" tanya Jongin.

Sedang Kyungsoo yang ditanyai hanya mengedip beberapa kali sebelum kemudian menerawang keatas. "Sejujurnya aku terpikir satu nama."

"Sungguh? Siapa?" tanya Jongin antusias.

"Hae-chan. Bagaimana?"

"Hae-chan? Kim Hae-chan." Gumam Jongin. Lalu kemudian lelaki itu tersenyum. "Bagus soo. Kim Haechan. Sekarang nama putra kita adalah Kim Haechan."


TBC


Oke pertama-tama beby vee mau ngucapin minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin..

Tau kok telat bebey vee ngucapinnya. Gpp lahhh ya wkwkwk.

Beby vee mooo mintak maaf sebesar-besarnya karena telat banget up ff ini padahal udah janji beberapa kali moo up waktu beby vee ultah ke CherryDumb waktu dia ngepesan di wp. Terus tapi ternyata tugas kuliah yang kejar dateline + rapat yang gak berhenti-henti buat beby vee gak jadi up. Terus kedua moo up kemarin hari minggu tapi ternyata leptop beby vee diserang sama negara api ngebuat beberapa file ilang termasuk beberapa ff yang on going ataupun ff yang belum pernah beby vee up dan itu bener-bener buat beby vee down banget. Langsung kena virus wb dahhh. Bahkan kepikiran buat hiatus juga. Tapi untung yang after the party yang menghilang itu sebagian yang udah dipublish sebagiannya lagi masih utuh. Tapi yang ngebuat bencana adalahhhh ff beby vee yang perfect velvet itu bener-bener ilang semua termasuk chap 7 yang setengah jadi. Jadi disini beby vee sekalian ingin mengumumkan jika perfect velvet akan di HIATUSKAN untuk sementara waktu. Sampe mood beby vee kembali kebangun. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya.

Dan terakhir...

Beby vee buka akun instagram lohhhh... hehe bisa difollow entar beby vee follback deh. Maklum baru netes ig khusus kaisoonya :D

Bisa di search BEBY VEE ( veebeby_)

Sooo... jangan lupa difollow!

Dan thanks buat kalian yang udah sabar nungguin beby vee :* love youuuu... sampai bertemu dichapter depan yang bakalan sedikit menegangkan! Sampai jumpaaa... bhayyy-bhayyyy...