-"I'm Sorry..."-

.

.

.

.

.

Baekhyun memang bisu, tapi dia tidak buta, dia tidak tuli dan dia tidak bodoh. Dia tahu segalanya, dia tahu apa yang terjadi sekarang dan dia tahu jika ada yang salah dengan dirinya.

.

.

.

Makan siang sudah berlangsung beberapa menit lalu, dan saat itulah kedua bola matanya tak pernah terlepas dari sosok pemuda bersurai maroon disampingnya.

"Baek, kau baik-baik saja?" Akhirnya Chanyeol bertanya setelah lebih dari 8 menit dia melihat Baekhyun terlihat merasa tidak nyaman dengan makan siangnya. Dia memilih menu Bulgogi sebagai menu makan siangnya. Dan yang membuat Chanyeol penasaran, Baekhyun terus mengunyah makanannya bahkan memakan waktu lebih dari cukup untuk sekedar menghancurkan daging sapi itu agar bisa ditelan. Dan yang semakin membuatnya aneh disini, pemuda mungil itu selalu terlihat kesulitan saat mulai menelan makanannya. Bahkan tak jarang, dia selalu minum ditengah-tengah makan hingga segelas minumannya sudah hampir habis, tapi separuh makanannya bahkan belum termakan.

Tak lama setelah Chanyeol memanggilnya, Baekhyun langsung menoleh dan menatapnya dengan pandangan sedikit terkejut. Mereka saling menatap satu sama lain beberapa saat, dan saat itulah Chanyeol tak melewatkan satu hal. Kedua bola mata Baekhyun terlihat sedikit berkilau karena sesuatu yang Chanyeol tebak itu adalah air mata. Tapi kenapa Baekhyun... menangis?

Dia tersentak dari lamunannya saat Baekhyun mulai bertanya, 'ada apa?'

"Kau baik-baik saja? Apa kau tidak menyukai makanannya? Tapi bukankah Bulgogi adalah makanan kesukaanmu?" Satu persatu para member mulai mengalihkan perhatiannya kearah Chanyeol. Sebenarnya bukan hanya pemuda tinggi itu yang merasa sedikit aneh dengan sikap Baekhyun, tapi Kyungsoo juga.

Dia tahu betul, Bulgogi adalah makanan favorite Baekhyun, bahkan saat Baekhyun muncul tiba-tiba didalam dapur. Dia langsung memeluk Kyungsoo erat karena sudah memasak Bulgogi dari pada bubur lembek yang harus Baekhyun makan beberapa kali saat dia masih sakit.

Tapi sekarang.

"Eum, apa dagingnya terlalu keras? Tapi kurasa..." Kyungsoo menghentikan ucapannya saat melihat Chanyeol tiba-tiba mengambil makanan milik Baekhyun, dia memotong kecil daging sapi itu dan mulai memasukkannya kedalam mulutnya.

"Tidak..." gumamnya setelah beberapa saat dia menelan makanannya. "Dagingnya sama sekali tidak keras."

Chanyeol kembali mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun yang kini sudah menundukkan kepalanya kearah meja makan. Dia sangat ini bertanya kenapa, dan apa yang terjadi pada pemuda mungil disampingnya itu. Tapi dia merasa tak punya kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya. "Aku akan membuatkanmu bubur jika kau mau."

Mendengar pernyataan seperti itu langsung membuat Baekhyun menolaknya secara langsung. Dia kembali menarik piringnya yang tadi sempat diambil Chanyeol dan mulai memotong daging sapi itu lalu memakannya dengan tergesa.

Baik Chanyeol dan lainnya menatap Baekhyun dengan pandangan heran sekaligus khawatir hingga detik selanjutnya waktu terasa berhenti saat dengan tiba-tiba terdengar suara deritan kursi yang bergesekan dengan lantai dan suara tapak kaki cepat yang menggema di ruang makan itu.

"Chanyeol! Kejar Baekhyun!" seolah baru sadar dari ingatannya, Chanyeol langsung bangkit berdiri dan mengejar Baekhyun yang lari entah kemana.

.

.

.

"Gege, ada apa dengan Baekhyun-ge?" Kris langsung menoleh kesumber suara dan menemukan Tao menatapnya dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Dia hanya menggeleng pelan karena dia sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun.

Kris melempar pandangannya kearah Luhan yang langsung membalas tatapannya. "Apa kalian memikirkan apa yang aku pikirkan?" tanya Luhan entah pada siapa.

"Apa itu?" ucap Lay pelan.

"Hyung, bagaimana sebenarnya kondisi Baekhyun sekarang? Apa... ini ada hubungannya dengan racun yang pernah..."

"Aku tidak tahu," Manager Im yang beberapa menit lalu ikut bergabung bersama para member langsung berbicara bahkah sebelum Luhan mengakhiri kalimatnya. "Mungkin saja kondisinya belum stabil sampai sekarang,"

Luhan ingin bertanya lagi, tapi dia merasa tak punya pertanyaan yang tepat untuk di ajukan pada sang manager. "Ah, lalu tentang pelakunya?Apa polisi sudah berhasil menemukannya?"

Satu helaan napas berhasil keluar dari mulut sang manager, dia menggeleng pelan sebelum kembali berbicara. "Polisi bilang, aksi ini kemungkinan sudah direncanakn sang pelaku secara matang, bukan hanya karena suatu kesempatan. Mereka sudah menyelidiki rekaman CCTV di tempat kejadian, tapi hasilnya ada sesuatu yang ganjil. Rekaman itu terpotong tepat setelah wajah Sehun muncul di rekaman dan berlanjut begitu saja saat Sehun akan masuk ke ruang backstage. Itu artinya, dia tak hanya sendiri."

"Maksudnya?" tanya Lay penasaran.

"Ada pelaku lain. Dan orang ini pasti sangat cerdik. Orang biasa tidak akan mungkin diijinkan masuk sembarangan ke ruang staff control tanpa tanda pengenal."

"Jadi maksudmu, pelakunya orang dalam?" Tebak Xiumin.

"Awalnya kupikir begitu. Tapi setelah dilakukan penyelidikan, polisi menemukan tidak ada satupun staff yang berada diruang staff control diwaktu kejadian."

"Bagaimana bisa begitu? Lalu kemana mereka semua?" Kali ini giliran Kyungsoo yang merasa semakin bingung dan penasaran. "Itu dia. Mereka berdua mengaku jika mereka mendapatkan panggilan dari nomor telepon ketua staff agar segera berkumpul di kantor Manager."

"Tunggu hyung, aku semakin tidak paham. Jangan bilang jika ada orang lain yang mencuri ponsel ketua staff dan berpura-pura menjadi dirinya lalu menelpon bagian staff contro dan menyuruh mereka semua berkumpul, padahal mereka hanya ditipu."

Manager Im meng-iya-kan pernyataan Luhan, karena nyatanya semua itu memang benar. "Aku rasa begitu."

"Ini gila." Gumam Kai pada dirinya sendiri disusul Chen disampingnya, "Mereka gila."

Dan satu persatu mereka mulai saling bergumam dan mengeluarkan pikiran mereka masing-masing ke satu sama lain. Tidak, mungkin tidak semuanya jika kita lebih memperhatikan lagi pemuda berambuat blonde dan bekulit putih pucat tengah diam sedari tadi, seolah dia sedang tenggelam kedalam pikirannya sendiri.

Sehun menggenggam gagang sendok yang dia pegang dengan sedikit tekanan. Perasaannya mulai campur aduk. Seumur hidupnya dia tak pernah berpikir jika ada seseorang diluar sana yang begitu membencinya, bahkan berniat mencelakainya. Dan apa yang terjadi sekarang benar-benar membuatnya ingin menangis.

"Semua ini pasti salahku..." dia tak sadar jika gumamannya terdengar cukup jelas, hal itu membuat semua pasang mata yang ada disana beralih menatapnya.

"Sehun, apa yang kau katakan?"

Sehun tetap kembali berbicara tanpa menghiraukan pertanyaan Luhan. "Baekhyun-hyung tak akan sakit seperti jika dia tak meminum minuman itu. Kejadian ini tidak akan terjadi jika—"

"Sehun! Hentikan ucapan bodohmu itu!"

"—aku tidak menerima minuman itu begitu saja tanpa mengeceknya terlebih da—"

"Sehun! CUKUP!" tak hanya Sehun yang tersentak kaget, namun semua orang yang berada disana juga ikut terkejut saat Luhan sukses menghentikan ocehan sang maknae dengan bentakannya.

Seolah baru sadar dengan apa yang di lakukan, Luhan cepat-cepat mengamati wajah Sehun yang sedikit terhalang poninya karena menunduk. Samar-samar dia masih bisa melihat bibir sang maknae itu yang terlihat bergetar. Dia menelah ludahnya pelan sebelum kembali berbicara.

"S-sehun, m-maaf aku tak bermaksud membentakmu tadi." Luhan semakin khawatir saat tak mendengar jawaban apapun dari pemuda albino itu.

"Sehun-ah, dengarkan kami." Semua pasang mata kini beralih menatap pemuda yang duduk disisi Sehun yang lain. Suho menepuk pelan bahu maknae itu sebelum meletakkannya disana. "Semua ini bukan kesalahanmu, mungkin saja garis takdir yang harus berjalan seperti ini. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Berhenti menganggap semua kejadian ini adalah kesalahanmu. Kami tahu kau juga korban disini, maka dari itu kami semua tak akan membiarkan kejadian serupa kembali terjadi padamu, pada kita semua..." Suho menghentikan kalimatnya sejenak dan berusaha menahan sesuatu dibalik bola matanya agar tak tumpah.

"Kita akan saling menjaga dan melindungi. Sampai kapanpun. Bahkan jika nanti kita tak bisa bersama-sama lagi seperti dulu." Kalimat terakhir hampir terdengar seperti sebuah bisikan bagi telinganya sendiri. Dia hanya tak bisa membayangkan jika besok Baekhyun benar-benar akan pergi meninggalkan mereka semua, meninggalkan EXO.

Suara isakan lolos begitu saja, bukan dari sang leader melainkan sang maknae yang sedari tadi terus menunduk. Sehun menangis. Dia menangis bukan karena kebodohannya, dia menangis karena apa yang sudah terjadi pada semuanya. Teman-temannya, sahabatnya, keluarganya. Semua sudah terjadi, dan dia tak berhak menyesali segalanya dengan sebuah air mata.

Tapi nyatanya dia tak pernah bisa. Dadanya begitu sesak, jantungnya terasa ngilu, semuanya terasa sakit. Air matanya tak bisa berhenti mengalir, bahkan kali ini lebih deras. Dia kembali hancur, dan entah yang sudah keberapa kalinya.

Sehun masih bisa merasakan telapak tangan Suho di sebelah bahunya, dan kini dia bisa merasakan kehadiran tangan lain berada disisi bahu lainnya yang dia yakini itu adalah Luhan. Kedua telapak tangan itu memberikan bahunya usapan ringan namun penuh kekuatan, keyakinan.

"Kita akan melewati semua ini bersama-sama, Sehunnie. Kita semua.." Bisik Luhan sebelum dia memiringkan badannya untuk memberi rangkulan pada pemuda yang kini masih banjir dengan air mata.

.

.

.

'Kita tentu akan melewati semua ini bersama-sama, tapi aku tak tahu kebersamaan seperti apa yang akan terjadi jika salah satu diantara kita pergi.'

.

...

.

Jika dia bisa berteriak, dia pasti akan melakukannya. Mungkin hingga dia tak bisa merasakan tenggorokannya lagi. Rasanya seperti tercekik, panas, sangat sakit dan yang bisa dia lakukan adalah menangis. Tapi dia tak bisa melakukan itu, tidak didepan Chanyeol.

.

.

"Baekhyun, Kau baik-baik saja?" rasanya dia ingin menampar dirinya sendiri saat kalimat itu lagi-lagi terselip begitu saja dari mulutnya. Tentu saja Baekhyun tidak baik-baik saja. Tiba-tiba berlari dari meja makan lalu berakhir dikamar mandi dan menumpahkan semua isi perutnya.

Chanyeol tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun. Atau dia mungkin tak tahu apa yang sebenernya disembunyikan oleh Baekhyun. Wajahnya mendadak pucat, bibirnya bergetar dan juga terlihat pucat. Keringat dingin mulai bermunculan di sekeliling wajahnya.

Chanyeol tanpa sadar mengutuk dirinya sendiri karena tak pernah memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi pada Baekhyun.

Sebelah tangannya terjulur untuk mengambil tisu yang terletak tak jauh dari wastafel lalu membersikan sekitar mulut Baekhyun yang tadi sempat terbilas airkeran. Beberapa lembar tisu lagi Chanyeol gunakan untuk mengusap keringat dingin di sekitar kening dan dahinya.

"Ayo kita kerumah sakit." Satu kalimat itu sukses membuat Baekhyun membelalakkan kedua matanya. Dia menjauhkan tubuhnya spontan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa menatap kedua mata Chanyeol.

"Baekhyun, lihat aku." Perintah Chanyeol sembari menarik kedua bahu mungil itu menggunakan tangannya. Dia tahu ada sesutu yang salah dengan pemuda didepannya ini. Dengan alasan itu, dia tak akan membiarkan Baekhyun pergi sebelum menjawab pertanyaannya.

"Kau tidak sedang mencoba menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?" Lagi-lagi Baekhyun hanya menggelang dan hal itu tentu saja membuat Chanyeol frustasi. "Baekhyun, tatap aku." Kali ini Chanyeol menangkupkan wajah Baekhyun dengan kedua telapak tangan lebarnya, dan saat itulah sepasang bola mata rapuh itu bertemu dengan miliknya.

Dia tak tahu hal lain apa yang tersembunyi dibalik kedua bola mata itu, tapi Chanyeol tahu Bakhyun sedang mencoba menahan sesuatu. Sesuatu seperti rasa sakit. "Apa yang sekarang kau rasakan? Apa tenggorokanmu sakit, perutmu sakit? Kumohon katakan padaku, jangan membuatku khawatir seperti ini, baek!?"

Chanyeol masih menunggu jawaban dari Baekhyun, tapi pemuda mungil itu tetap diam dan tak mau menatap kedua matanya. "Kau tahu, aku selalu ada disisimu kapanpun kau membutuhkanku. Kau tak perlu menahan semua ini sendirian. Jadi, kumohon katakan sesuatu."

Jika saja Baekhyun bisa mengatakannya, jika saja dia bisa kembali menemukan suaranya dan mengatakan apa yang dia rasakan sekarang. Sakit. Hanya kata itu yang dapat dia deskripsikan. Tenggorokannya begitu sakit saat makanan-makanan itu melewati kerongkongannya. Dia tak tau kenapa dan apa yang salah dengan dirinya.

Tak bisa bersuara sudah cukup membuatnya sakit setiap hari, tapi jika sakit semacam ini yang sekarang terjadi. Baekhyun hanya merasa tak sanggup lagi.

.

.

"Baekhyun..." dia tak tahu sudah berapa lama dia tenggelam dalam pikirannya hingga dia baru menyadari pandangannya sekarang sudah buram karena sesuatu didalam matanya yang tak lain adalah air matanya sendiri.

Dia mencoba berkedip dan cairan itu langsung saja meluncur begitu saja dari balik kedua bola matanya. Pikirannya belum sepenuhnya fokus bahkan saat Chanyeol mulai menghapus lelehan airmata itu dari kedua pipi Baekhyun.

Seperti sebuah magic, perlahan rasa sakit itu mulai menghilang. Dia tak lagi merasakan rasa nyeri di tenggorokannya. Napasnya sudah mulai tenang dan setelah beberapa detik berlalu akhirnya kedua bola mata itu bertemu dengan sepasang manik mata coklat gelap milik Chanyeol.

Pemuda yang lebih tinggi itu mengerutkan kedua alisnya bingung saat bibir Baekhyun bergerak-gerak seperti sedang mengatakan sesuatu, dia tak sempat bertanya lebih lanjut saat tiba-tiba Baekhyun memeluk perutnya erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya, mengabaikan Chanyeol dengan segala tanda tanyanya.

.

.

Jika Chanyeol bisa melihat, sosok mungil dalam pelukannya kini kembali berlinangan air mata. Bukan karena rasa sakit seperti sebelumnya, melainkan perasaan lega, bahagia dan sedikit rasa heran menyelimuti hati dan pikirannya.

Kedua sudut bibirnya naik, dan tanpa Baekhyun sadari. Dia sedang tersenyum.

.

.

.

'Ini sungguh ajaib...'

...

Terdengar sebuah musik beat menggema didalam sebuah ruangan. Membuat seorang pemuda tenggelam dalam alunan musik itu dengan sebuah tarian atraktif dan menakjubkan. Tubuhnya meliuk-liuk lentur, kedua kakinya berpindah-pindah lincah dan gerakan tangannya bergerak cepat mengikuti alunan musik beat didalamnya.

Musim dingin tak terasa seperti musim dingin baginya. Keringat sudah sepenuhnya menghiasi kaos tipis berwarnah abu-abu yang dia pakai. Butir-butir keringat juga terlihat merembes disela-sela rambut hitamnya, wajahnya juga terlihat berkilau dibawah cahaya lampu akibat keringat yang menghiasi disana.

Orang biasa mungkin akan menganggapnya sebagai seorang penari profesional yang terkenal dan punya sejuta fans yang akan selalu menjerit bahkan hanya ketika dia melempar senyum. Tapi tidak, dia hanya pemuda biasa. Setidaknya hingga sekarang, dia belum memulai sebuah langkah panjang yang entah seperti apa akan membawanya menuju ke dunia baru.

.

.

Musikpun berhenti seiring tariannya juga ikut terhenti. Dengan posisi setengah berlutut, sebelah tangannya menapak dilantai dan tangan yang lainnya bertumpu pada sebelah lututnya. Napasnnya terlihat terengah-engah, terlihat dari dadanya yang naik turun dengan cepat dan mulutnya yang setengah terbuka.

Perlahan pemuda itu menaikkan wajahnya dan menatap pantulan dirinya sendiri didalam dinding cermin didepannya. Sebagiannya wajahnya tak terlalu terlihat karena tertutup poni.

Beberapa detik terlewat tapi dia sama sekali tak bergerak dari posisinya hingga sebuah tepuk tangan membuatnya tersentak kaget. Refleks kepalanya langsung berputar kebelakang mencoba mencari sumber suara yang menginterupsinya. Dia menghela napas lega, saat mengetahui siapa orang tersebut.

Pemuda berkaos abu-abu itu langsung berdiri dan memasang senyuman ramahnya. "Luar biasa, kau benar-benar menakjubkan nak!" lelaki paruh baya yang ternyata adalah Direktur Kim berkata dengan bangga dan menepuk pundak pemuda itu. Pemuda yang baru saja diberi pujian itupun hanya bisa balas tersenyum dengan statemen PresDir Kim barusan.

"Tentu saja, PresDir Kim. Bukankah sudah aku bilang, dia adalah calon bintang besar nantinya." Perhatian keduanya teralih kesosok lelaki yang tak lain adalah Manajer YoungJun yang tadi ikut masuk kedalam ruang latihan bersama sang PresDir.

"Kau benar. Dan Sebentar lagi, korea akan melihat cahaya baru yang akan membawa EXO munuju kepuncak kejayaannya." Ketika sang PresDir masih terlalu sibuk membanggakan salah satu anak asuhnya. Dia tak menyadari saat Manager YoungJun dan pemuda itu saling bertukar pandangan. Orang lain tak akan menyadari jika pandangan bangga dari sang manager bisa mengandung arti lain didalamnya. Begitu juga sebaliknya.

.

.

.

Setelah percakapan ringan yang ketiganya lakukan, sang PresDir dan sang manager akhirnya memutuskan untuk pamit dan meninggalkan pemuda itu sendirian lagi diruang latihan.

Dia mulai berjalan kesisi ruangan dimana dia meletakkan tasnya. Tangannya langsung menyambar tas yang bersandar didinding ketika dia sampai. Biasanya dia akan langsung berjalan pergi karena sudah terlalu lelah dengan latihannya siang hari ini. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti, sebelah tangannya mulai terangkat mencoba merogoh sesuatu didalam tas hitamnya. Dan benda putih berbentuk persegi yang tak lain adalah sebuah ponsel kini sudah berada ditangannya. Ibu jarinya mulai menekan tombol hidup yang berada disisi ponsel dan walpaper sebuah foto seorang pemuda berambut coklat dengan senyum cerahnya muncul menghiasi layarnya.

Pemuda itu menatap walpaper itu beberapa saat lebih lama, pandangannya tak bisa diartikan. Dia menghela napas panjang lalu menutup kedua matanya rapat dan menggumamkan sesuatu, tak terdengar jelas namun penuh dengan rasa penyesalan.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Mianhae..."

.

.

&^$^$^&**)&^%$%$ #_-!

.

.

Helaan napas berat keluar dari mulut pemuda berambut marron itu. baru saja Ibunya mengirimkan pesan jika mungkin mereka akan menjemput Baekhyun dipagi hari. Dia tak ingin menghitung lagi, berapa banyak waktu yang tersisa. Memikirkan hal itu hanya membuatnya semakin merasa sedih. Berat rasanya jika dia –dengan terpaksa— harus pergi meninggalkan mereka semua, sahabat-sahabatnya. Dan juga Chanyeol.

'Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini, tapi. PresDir Kim sepertinya benar-benar akan menggantikan posisimu dengan orang lain.'

Percakapannya dengan manager Im tadi pagi, kembali teringat. Kejadian seperti itu sudah tak lagi membuatnya shock, jauh sebelumnya dia sudah mempersiapkan hatinya itu hal-hal semacam itu. bukankah sudah Baekhyun bilang sebelumnya, dia tak akan punya harapan lagi. Takdir memang kejam.

Baekhyun mencoba meletakkan kembali ponselnya diatas laci, tapi pandangannya terhenti pada sebuah pigura yang didalamnya terdapat sebuah foto. Sementara tangan kanannya meletakkan ponsel, tangan kirinya kini sudah meraih pigura itu.

Jemari lentiknya perlahan meraba permukaan pigura itu. Lagi-lagi hatinya terasa berat saat menatap sebuah foto yang terdapat dalam figura itu. Foto itu adalah foto yang mereka ambil saat mereka –para member EXO— liburan di LA semasa MAMA era dulu.

Dilihat dari ekspresi yang mereka perlihatkan didepan kamera, sangat jelas jika perasaan bahagia benar-benar menyelimuti keduabelas member itu.

Menurut Baekhyun itu adalah liburan paling menyenangkan yang pernah dia alami. Semuanya terasa begitu indah, tanpa tekanan. Dan yang jelas dia merasa sangat beruntung saat itu karena bisa menjadi bagian dari EXO. Seperti impiannya sejak kecil. Menjadi seorang penyanyi, berdiri diatas panggung yang megah dan punya jutaan penggemar.

Semua itu sudah terwujud, tapi ternyata tak bisa bertahan lama. Semuanya musnah.

.

.

"Baekhyun..."

Sebuah suara menginterupsi lamunannya, saat itu juga matanya berkedip dan dia baru menyadari jika ada sesuatu yang basah turun melalui pipinya. Sadar itu adalah air matanya, refleks tangannya langsung terangkat bersiap menghapusnya tapi gagal saat sebuah tangan menghentikannya.

Pemuda bersurai marron itu mengangkat wajahnya dan mendapati Chanyeol menatapnya dengan pandangan yang lagi-lagi sulit diartikan.

Otaknya tak bisa berpikir cepat bahkan saat Chanyeol mulai menyeka cairan hangat itu dari pipi pucat Baekhyun. Mulutnya terbuka ingin mencoba mengatakan sesuatu, tapi dia lupa jika kini dia tak bisa bicara lagi. Hal itu semakin membuat airmatanya kembali tumpah.

.

"Kenapa?"

"Kenapa saat aku ingin berbicara tapi aku tak mendengar suara apapun?"

.

.

.

Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi, dia merasa tak berguna sekarng karena tak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir dari kedua mata indah itu. Chanyeol tahu, pemuda mungil itu pasti masih merasa sangat tertekan dengan keadaannya sekarang. Selain masalah kesehatannya, dia pasti sangat sedih dan berat hati jika dia benar-benar harus pergi meninggalkan dorm ini besok.

Apa yang bisa dilakukannya?

Apa yang harus dia lakukan?

Haruskah dia...

.

.

"Kau masih ingat dengan janji kita, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama?" Setelah beberap saat lalu dia mencoba menenangkan pemuda yang kini sudah berhenti menangis, Chanyeol mulai angkat bicara.

Baekhyun yang terlihat tak paham dengan maksud Chanyeol, kini hanya menatapnya bingung. Keheningan beberapa saat menyelimuti mereka sebelum akhirnya Chanyeol bicara lagi.

"Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi sendiri. Malam ini aku aku mengirimkan surat pengunduran diriku pada PresDir. Kita akan pergi bersama besok."

Setelah kalimat itu sukses keluar dari mulut Chanyeol, pemuda mungil itu masih tetap diam sementara otaknya bekerja keras berusaha memproses apa maksud perkataan Chanyeol barusan.

Mengetahui tak mendapat respon, Chanyeol kembali memanggil Baekhyun. Tapi hal selanjutnya yang terjadi justru membuatnya kaget dan bingung disaat yang bersamaan. Baekhyun tiba-tiba berdiri dan menjauhinya. Tatapan matanya terlihat serius dan tak percaya.

"Apa kau sudah gila?" Walau tak bisa mengatakannya, tapi Chanyeol sudah tahu apa maksud bahasa isyarat yang Baekhyun berikan.

Chanyeol menggelengkan kepalanya sebentar sebelum kembali berbicara. "Aku tidak gila, Baek. Aku sudah memikirkan hal ini dengan matang."

Pemuda mungil itu kembali berbicara dengan bahasa isyarat tapi kali ini Chanyeol tak bisa memahami apapun, dia berdiri dan berniat mendekati Baekhyun namun pemuda mungil itu justru mundur. Kedua matanya kembali berkaca-kaca dan Chanyeol tak melewatkan raut kekecewaan yang tersirat didalamnya.

Sesaat, perasaan bersalah dan mnyesal karena sudah mengambil keputusan itu menghantamnya. Tapi tak bertahan lama, karena dia akan tetap mempertahankan keputusannya. Tidak mungkin dia membiarkan Baekhyun berjuang sendiri diluar sana.

"Baekhyun, kumohon dengarkan aku. Sampai kapanpun aku tidak akan mungkin membiarkanmu pergi dan melewati hal ini sendirian sementara aku harus tetap disini tanpa tahu— Baekhyun! Baekhyun! tunggu!"

Chanyeol berteriak berusaha memanggil Baekhyun yang kini sudah berlali pergi keluar kamar.

.

.

.

Baekhyun berlari menjauh dari Chanyeol. Tak tahu mengapa tapi mendengar pemuda tinggi itu berniat ikut keluar dari sini membuatnya semakin benci dengan dirinya sendiri.

Untuk apa kau melakukan hal itu?

Untuk Apa kau rela mengorbankan semua impianmu untuk orang cacat sepertiku?

Park Chanyeol bodoh, kau memang bodoh.

.

.

Baekhyun terus mengutuk dirinya sendiri dan kebodohan kekasihnya, pikirannya kembali kacau hingga dia tak menghiraukan suara Chanyeol yang terus meneriaki namanya. Sementara Baekhyun tetap berlari hingga tanpa sadar dia sudah menemukan dirinya sendiri berdiri ditepi jalan yang Baekhyun tebak hanya berjarak beberapa meter dari dorm mereka.

Matanya menusuri keadaan disekitarnya, disepanjang sisi jalan masih diselimuti salju tebal. Beruntung siang ini salju tidak turun. Hanya dengan berbalut kaos tebal berlengan panjang dan celana training panjang, dia tak akan bisa berlama-lama menahan hawa dingin seperti ini.

Baekhyun menggela napas lega saat menemukan keadaan disana sepi. Dia menoleh kebelakang dan mendapati pohon oak yang lumayan besar berdiri kokoh disana. tanpa basa-basi kedua kakinya melangkah dengan sendirinya mendekati pohon itu.

Sementara mengatur napasnya yang sebelumnya sempat terengah-engah, punggungnya bersandar dibatang pohon besar itu. Baekhyun menutup kedua matanya sejenak dan ikut menyandarkan kepalanya disana. Dia bergidik saat udara dingin mulai menerpanya. Baekhyun mulai melingkarkan kedua lengannya ketubuhnya mencoba memberi kehangatan yang dia punya.

Terlepas dari udara dingin yang mulai menyelimutinya, sebenarnya perasaanya sedikit was-was, bagaimana jika para reporter atau fans menemukannya disini dengan keadaan yang seperti ini. Riwayatnya bisa tamat sampai disini.

Pikirannya kembali ke kejadian beberapa menit lalu, hal itu membuatnya teringat sesuatu. Kenapa Chanyeol tidak mengejarnya?

.

.

Pemuda berambut marron itu berniat menoleh kesamping tapi terhenti saat sebuah jeritan berhasil masuk kegendang telinganya. Saat itu juga Baekhyun bersumpah jika riwayatnya sepertinya benar-benar akan tamat sampai disini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"ASTAGA! ITU BAEKHYUN OPPA!"

"AHH! BENAR ITU BAEKHYUN OPPA!"

"OPPA! OPPA!—"

"HEY KALIAN! CEPAT KESINI!"

.

.

.

.

Rasanya begitu cepat saat orang-orang itu mulai mendekat kearahnya, beberapa gadis dengan hodie tebal dan sebuah kamera SLR yang tergantung di lehernya terus memanggil-manggil namanya. Dia juga tak melewatkan flash kamera yang berkedip bergantian.

Baekhyun mencoba melarikan diri ke arah berlawanan, tapi dewi fortuna sepertinya tak pernah memihaknya lagi. Dari jarak tak kurang 5meter dari tempatnya berdiri, beberapa orang yang bisa Baekhyun pastikan itu adalah para reporter mulai berlari kearahnya.

Refleks dia-pun kembali menoleh kearah sebelumnya. Dan yang dia dapati adalah hal yang sama.

Seumur hidupnya dia tak pernah merasa setakut ini dengan seorang wartawan, fans, apalagi jepretan kamera.

Sederetan pertanyaan mulai masuk kegendang telinganya, namun apa yang bisa dia lakukan?

.

.

.

Terkepung

.

.

Kebingungan

.

.

.

Perasaan menyesal langsung menghantamnya, seharusnya dia tak perlu lari apalagi keluar dari dorm. "Yeolli... yeollie, dimana kau?"

.

.

.

.

.

Dengan kedua tangan tergenggam erat, pemuda bersurai marron itu mulai menutup kedua matanya dan mencoba menulikan perdengarannya dari semua suara disekelilingnya. Namun belum sempat dua detik berlalu, sebuah suara yang tak dia kenali namun terdengar tak asing seolah langsung menghentikan segalanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Berhenti mengganggunya!"

.

.

.

.

.

.

A/N : I'M SORRY GUYSSSSSSSS BUNUH SAYA! BUNUH SAYA KALO NYATANYA SAYA GAK BISA NEPATIN JANJI, /criesoceanpacific/ ASDFGHJKL SAYA MUSTI JELASIN APA COBA? 5BULAN AHH MUNGKIN LEBIH. INI BENER2 DILUAR KEINGINAN SAYA.

Okehh, jadi masalah pertama adalah SAYA KAGAK BISA BUKA AKU FFN 'SIALAN' INI./bantingLAPI/

kedua, Kerjaan saya MAKIN PUADETTTTT. PERCAYA ATO NGGAK TAPI SAYA 'HAMPIR' KAGAK PERNAH PEGANG LEPI 5 BULAN TERAKHIR INI TTT^TTT, saya update info cuma lewat HP DOANG CIUSSSAN

dan karena FFN kgak bisa dibuka saya jadi MUALES aka KENA WRITER BLOCK krena kelamaan kagak pernah bikin FF. Dan yang terakhir SAYA PASRAH AJA, KALO MASIH ADA YANG BERMINAT DENGAN FF INI, MAKASIH BANGETTTT, TAPI KALAU NGGAK ITU EMANG KESALAHAN SAYA. MAAFKAN DAKU,.../

HAPPY READINGGGGGG DONGGGG... INI KADO TAHUN BARU BUAT KALIAN/tebarkrisseu/


-[Take Me Back to the Start]—

babybyunsoo © 2015-01-16