SECRET
BTS fanfiction
KookV
Rating: T-M
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, M-preg, Typo
Cast: All BTS member and other
Halooo ini chapter sebelas selamat membaca maaf atas segala kesalahan terima kasih atas kesediaan para pembaca membaca cerita saya. Happy reading all….
Previous
Ketika Jungkook menurunkan ponselnya, Taehyung tahu di seberang sana ibunya pasti sudah memutus sambungan telepon Jungkook dan Youngjae. Menelan ludah kasar, Taehyung mengulurkan tangan kanannya. Menghindari tatapan Jungkook. "Terima kasih sudah menenangkan Youngjae."
"Kau tidak perlu sungkan meminta bantuanku, aku ayah Youngjae apa kau lupa hal itu?"
"Hmm." Taehyung hanya menggumam, mengambil kembali ponselnya dan bersiap untuk pergi. Jungkook menahannya dengan memeluk pinggang Taehyung. "Jungkook lepas."
"Aku mencintaimu."
"Beri aku ruang untuk bernapas." Taehyung berucap pelan, dan ucapannya itu berhasil membuat Jungkook menyerah dan melepaskan pelukannya. Tanpa menoleh ke belakang Taehyung berjalan meninggalkan ruang latihan.
BAB SEBELAS
Hari libur, Taehyung menemani Youngjae di rumah bersama Jimin. Jimin datang setelah Taehyung mengatakan jika sahabatnya itu hanya datang saat ingin saja. Jimin yang tidak terima akhirnya menemui Taehyung, padahal Taehyung hanya ingin memanfaatkan Jimin untuk menjaga Youngjae yang kelebihan energi. Sementara dirinya bisa bermalasan.
Taehyung berbaring tengkurap di atas lantai kayu teras belakang rumahnya. Memperhatikan Jimin yang entah sudah berapa kali tersenyum setelah memeriksa layar ponselnya. "Jimin kau yakin tidak mau kue buatan ibuku?"
"Nanti saja." Balas Jimin dengan seluruh perhatian tertuju pada layar ponselnya.
Dahi Taehyung semakin berkerut dalam. "Apa yang terjadi?" Taehyung tidak tahan lagi dan akhirnya bertanya.
"Terjadi? Sesuatu yang buruk terjadi?" Jimin menatap Taehyung bingung disertai pertanyaan yang tidak nyambung sebenarnya, Taehyung mengerutkan kening. "Ayolah Tae kau membuatku bingung, apa yang sebenarnya ingin kau katakan."
Taehyung lantas mendudukan dirinya. "Itu." Balas Taehyung dengan telunjuk kanan mengarah pada wajah Jimin. Jimin semakin bingung. "Kau terus tersenyum padahal Youngjae sibuk sendiri." Taehyung melirik putranya yang sibuk bermain dengan boneka singanya.
"Ah itu….," Jimin tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya.
"Sebenarnya aku mendengar desas-desus."
"Apa?!" Jimin memekik pelan.
"Kau dan Suga hyung." Balas Taehyung kemudian tersenyum lebar.
"Katakan desas-desus seperti apa?!" tuntut Jimin sambil menarik bahu kanan Taehyung cukup keras membuat Taehyung terhuyung ke depan hingga dahi keduanya nyaris bertabrakan.
"Jangan menarikku." Kesal Taehyung kemudian mendorong dada Jimin ke belakang menjauhinya.
"Maaf, salahmu membuatku kaget."
"Untung saja dahiku tidak bertabrakan dengan jidat lebarmu." Gerutu Taehyung.
"Jidatku tidak lebar." Balas Jimin dengan bibir mengerucut sebal dan tangan kanannya yang mengusap dahinya, memastikan jika dahinya benar-benar tidak selebar dugaan Taehyung. "Katakan desas-desus apa yang kau dengar, jika itu gosip murahan awas kau Kim Taehyung!" ancam Jimin.
"Kau dan Suga hyung memiliki hubungan spesial, kalian menjalin cinta." Ucap Taehyung disertari tatapan penuh selidik.
"A—apa?! Ah kau salah dengar itu hanya berita tidak penting." Balas Jimin tergagap.
Taehyung nyengir lebar. "Jika berita itu benar dan kau merasa bahagia, aku pasti bahagia Jimin. Aku akan meminta semua orang untuk tutup mulut, kau tahu kan media bisa menjadi sangat buruk. Aku tidak mau kau terluka karena semua pemberitaan di luar sana."
"Kau—kau akan melakukan semua itu untukku?"
"Tentu." Taehyung membalas mantap. "Kau sahabat terbaikku, aku menyayangimu, pasti aku akan melindungimu Park Jimin."
"Terima kasih Tae."
"Satu hal." Taehyung mengangkat telunjuk kanannya. "Aku harap kau tidak menjadikan Suga hyung sebagai pelarian, karena aku."
Jimin terdiam untuk beberapa saat tangan kirinya terangkat untuk menggenggam telapak tangan kanan Taehyung. "Awalnya memang seperti itu, aku tak akan memungkirinya. Lalu aku berpikir jika aku melewatkan kesempatan ini, kesempatan mungkin tak akan datang untuk kedua kalinya."
"Melewatkan kesempatan?"
"Suga hyung menyatakan cintanya padaku, dan karena mengharapkanmu terlihat tidak mungkin. Aku memutuskan menerima Suga hyung. Aku akan belajar mencintainya. Bisa saja aku berusaha untuk terus mengejarmu Tae, tapi kau tidak memberiku kepastian dan kesempatan." Jimin tersenyum tipis, melepaskan genggamannya dari tangan Taehyung. "Tidak ada pilihan lain kecuali melepaskanmu Tae, dan memulainya dengan yang lain. Jika aku memutuskan untuk mengabaikan Suga hyung, aku bisa saja tak mendapatkan seseorang seperti Suga hyung di masa depan. Aku ingin memilih seseorang yang memilihku."
Taehyung menatap Jimin takjub. "Memilih seseorang yang memilihmu." Gumam Taehyung pelan.
"Ya." Balas singkat Jimin, kedua matanya menatap wajah Taehyung lekat. Memperhatikan tatapan Taehyung yang menerawang ke suatu tempat yang tak Jimin ketahui. "Maaf jika hal ini akan membuatmu kesal. Mungkin kau bisa memberi Jungkook kesempatan kedua, mungkin tak akan seburuk yang dulu."
"Hmm." Taehyung hanya menggumam sebelum memalingkan wajah mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kurasa sekarang saatnya Youngjae tidur siang."
Jimin melihat Youngjae menguap lucu, balita itu sudah membaringkan tubuhnya ke atas lantai dan menggunakan perut boneka singanya sebagai bantal. "Ya, kurasa sekarang saatnya Youngjae tidur siang, dan aku harus pergi. Aku ada acara radio pukul empat sore nanti."
"Terima kasih kau sudah datang Jim."
"Ya. Tae. Jangan memikirkan ucapanku tadi, kau tidak perlu merasa terbebani semua keputusan ada di tanganmu. Sebagai sahabatmu aku akan selalu mendukung setiap keputusanmu."
Taehyung tertawa pelan. "Kau terdengar seperti ibuku Jim. Selalu di sisiku meski aku berbuat salah."
"Karena kau melakukan hal yang sama untukku. Kau masih ingat saat aku sengaja memaki penyanyi baru yang tak menyapaku, dan kau membelaku di depan semua pencari berita itu."
Taehyung tertawa, kali ini cukup keras. "Sebenarnya aku juga ingin memukul kepalamu, tapi aku mengerti. Sebagai seseorang yang terjun ke dunia musik terlebih dulu dan dengan semua penghargaan yang kau terima kau ingin dihormati."
"Itu dulu, sekarang aku tak ambil pusing jika ada junior yang acuh saat melewatiku."
"Semua orang melakukan kesalahan Jim. Terima kasih kau selalu ada untukku."
"Kau juga. Apa aku boleh memelukmu?"
"Tentu."
Jimin mengulurkan kedua tangannya menarik tubuh Taehyung, memberinya pelukan erat. Rasa cinta itu masih ada untuk Taehyung, namun semuanya terasa berbeda sekarang. Jimin tak lagi membayangkan masa depannya bersama Taehyung, bayangan menikahi Taehyung, menghabiskan sisa waktu bersama Taehyung, memiliki keluarga kecil bersama Taehyung, semuanya tak lagi terlintas di pikirannya.
Ya, Jimin telah merelakan seorang Kim Taehyung. Dan Jimin percaya tak semua bisa dimiliki di hidup ini, Kim Taehyung salah satunya. Sesuatu yang tak bisa dia miliki. Setidaknya Jimin pernah mencoba untuk mendapatkan Taehyung, maka tak perlu ada penyesalan di kemudian hari.
"Maaf aku mengganggu."
"Ah!" Jimin tersentak lantas melepaskan pelukannya dengan Taehyung bahkan ia tak sadar dan sedikit mendorong tubuh Taehyung.
"Kau ini!" protes Taehyung. Ia lantas berdiri dan menyapa seseorang yang tiba-tiba muncul. "Hai Jungkook."
"Hai Tae, aku mampir karena kebetulan aku lewat di daerah ini bersama menejerku."
"Hmmm." Gumam Taehyung.
"Maaf aku mengganggu sebaiknya aku pergi saja…,"
"Bisa kau angkat Youngjae dan membawanya ke kamar?" potong Taehyung.
Baik Jungkook maupun Jimin terperanjat dengan kalimat Taehyung, Jimin berpikir jika Taehyung akan mengusir Jungkook. Sementara Jungkook mengangguk pelan dengan sedikit kebingungan di dalam dirinya, Jimin diam-diam pergi untuk memberi waktu pada Taehyung dan Jungkook.
Jungkook menunduk kemudian perlahan mengangkat tubuh Youngjae, membuat balitanya sedikit merengek karena tidurnya terganggu. Namun, rengekan itu tak berlangsung lama karena Youngjae dengan cepat kembali terlelap. "Ah Jimin pergi?" Taehyung bertanya entah kepada siapa setelah menyadari kepergian sahabatnya.
"Ya, dia pergi." Balas Jungkook. Taehyung tak menanggapi dia hanya mengambil boneka Youngjae dan melangkah memasuki rumah. Jungkok lantas mengikuti dari belakang.
"Dimana menejermu?"
"Kembali ke agensi."
"Kau kembali ke dorm kan nanti?"
"Ya, menejerku akan menjemputku. Hari ini tidak ada jadwal, besok baru ada jadwal, syuting MV."
"Aku tahu, aku sudah melihat jadwal kalian."
Jungkook hanya tersenyum mendengar kalimat Taehyung yang sebenarnya cukup bernada tak bersahabat itu. "Dimana bibi Kim?"
"Pergi dengan teman-temannya."
"Hmm." Gumam Jungkook sambil memperbaiki posisi Youngjae di dalam gendongannya. Taehyung mendorong pintu kamarnya, menggeser tubuhnya ke kanan memberi ruang untuk Jungkook masuk. "Baringkan saja Youngjae, kau sudah makan?"
Jungkook menggeleng pelan, sementara dirinya sedang sibuk memastikan Youngjae berbaring dengan nyaman.
"Sedang diet?" sambung Taehyung.
"Tidak, aku hanya terlalu sibuk dan melupakan jadwal makanku."
"Jaga kesehatanmu."
Jungkook menegakkan tubuhnya, menoleh menatap Taehyung. "Kau peduli?"
Mengalihkan tatapannya dan memilih untuk meneliti lemari pakaian dari kayu murahan, Taehyung lantas menjawab. "Kau penting untuk BTS dan Big Hit."
Jungkook tertawa pelan mendengar jawaban Taehyung. "Ya." Jawabnya singkat.
"Aku akan ke dapur dan membawakan makanan untukmu atau kau mau makan di meja makan?"
"Aku ingin menemani Youngjae, aku belum lapar, kau tidak perlu repot."
"Aku harus memperlakukan tamuku dengan baik." Taehyung memutar tubuhnya cepat kemudian melangkah pergi sebelum Jungkook memutuskan memiliki topik pembicaraan lain.
Taehyung membuka lemari pendingin, lantas mengambil sekotak jus jeruk dingin. Meletakannya ke atas nampan plastik bermotif corak tahunan kayu, berwarna cokelat muda. Mengambil mangkuk dan menuang sup daging, mengambil satu lagi mangkuk dengan ukuran lebih kecil untuk tempat nasi. Taehyung membawa nampan kembali ke kamarnya.
Jungkook berbaring di sisi kanan tubuh Youngjae, kedua matanya terpejam, napasnya teratur. Taehyung meletakkan nampan di tangannya ke atas meja kerjanya dengan hati-hati. Ragu-ragu Taehyung melangkah mendekati ranjang tempat tidur. Berjongkok dan memperhatikan wajah Jungkook. "Apa kau tidur? Secepat itu kau tidur?"
Dan Jungkook tentu saja tak menjawab. Kali ini perhatian Taehyung tertuju pada Youngjae. Dan putranya terlihat lebih mirip Jungkook dibanding dirinya. "Kau terlihat lelah, tidurlah. Aku bisa memanaskan supnya lagi saat kau bangun nanti." Taehyung lantas berdiri menatap Jungkook untuk terakhir kalinya sebelum dia memutuskan untuk beranjak pergi.
Jungkook membuka kedua matanya setelah mendengar suara pintu tertutup. Tersenyum perih. "Taehyung." Menggumam pelan sebelum ia memutuskan untuk memejamkan kedua matanya kembali. Memeluk tubuh Youngjae lebih erat, aroma tubuh Taehyung menguar dari selimut serta bantal yang kini Jungkook gunakan.
.
.
.
Taehyung tidak tahu apa yang terjadi, bagaimana ibunya bersikap begitu baik kepada Jungkook. Bahkan meminta Jungkook memanggil Ibu bukan Nyonya Kim lagi. Menyiapkan makan malam untuk Jungkook, menyiapkan air hangat untuk Jungkook. "Berhenti menatap ibumu seperti seorang kriminal."
"Hmmm." Taehyung menggumam malas.
"Kau keberatan dengan sikap Ibu kepada Jungkook?" tidak menjawab Taehyung hanya melempar tatapan tajam. "Terakhir kali kau menatap Ibu seperti itu, usiamu tujuh tahun dan Ibu menolak permintaanmu untuk memelihara anak anjing."
"Kenapa?" Taehyung menatap sang ibu penuh tanya.
"Jungkook ayah kandung Youngjae."
"Hanya itu?"
"Ibu kecewa pada Jungkook, apa yang telah dia lakukan padamu. Ibu kecewa. Tapi Jungkook ayah kandung Youngjae, dan di masa depan Ibu yakin kami akan sering bertemu. Ibu hanya mencoba untuk berdamai."
Taehyung melempar tatapan kosong, ia hanya tak percaya dengan apa yang dikatakan sang ibu tentang Jungkook. "Ibu—memaafkan Jungkook?"
"Kita tidak bisa terus hidup dalam dendam Taehyung."
"Nenek!" Youngjae memanggil dengan riang dalam gendongan Jungkook. Jungkook mengajak Youngjae untuk mandi bersama, dan tentu saja Youngjae tidak menolak.
"Hentikan tatapan itu, ada Youngjae, Kim Taehyung."
"Iya Ibu." Jelas sekali jika Taehyung masih sangat kesal.
"Sudah cukup larut, Youngjae waktunya tidur."
"Iya Nyonya Kim, ah maaf Ibu. Saya akan menghubungi menejer saya dan menunggu di luar, terima kasih atas makan siang dan air hangatnya hari ini." Jungkook tersenyum menurunkan Youngjae dari gendongannya, membungkuk hormat. Menatap Taehyung namun yang diperhatikan justru acuh. "Sampai jumpa Youngjae." Tangan kanan Jungkook mengacak rambut Youngjae lembut.
"Tae temani Kookie!" pekik Youngjae, berlari menghampiri Taehyung menggenggam jari telunjuk kanan Taehyung dan menariknya. "Tae temani Kookie, atau Jae di luar?"
"Haah…," hembusan napas jengah terdengar jelas dari Taehyung.
"Tae?"
"Baiklah, Tae akan menemani Kookie di luar. Jae tidur sekarang dengan Nenek." Taehyung menatap kedua mata bulat putranya yang kini tersenyum lebar ke arahnya.
Taehyung memilih bungkam meski dirinya berjalan beriringan dengan Jungkook. Berhenti di depan pintu, mengenakan sepatu, melintasi halaman rumah. Dan kini berdiri di depan pagar yang tertutup.
"Kau terlihat tidak senang?"
"Apa perlu bertanya lagi."
Jungkook tertawa canggung mendengar kalimat Taehyung. "Aku hanya ingin kita mengobrol akrab sampai menejerku tiba."
"Di sini dingin." Taehyung mulai mengeluh. "Apa aku bisa masuk? Apa kau tidak berani menunggu menejermu seorang diri?"
"Aku berani, tapi ini permintaan Youngjae. Lihat saja dia mengawasimu."
Taehyung menoleh ke belakang dan melihat putra kecilnya mengawasi dirinya dan Jugkook lewat jendela. Menempelkan pipi gembulnya pada kaca jendela, pemandangan yang sebenarnya sangat lucu.
"Anginnya kencang dan dingin." Sekali lagi Taehyung mengeluh, kali ini diselingi dengan gerakan kaki kanannya yang menendang-nendang kerikil.
Tangan kanan Jungkook bergerak cepat, menarik lengan kiri Taehyung lembut. Mendekatkan tubuh keduanya. "Lebih hangat?"
Taehyung hanya memutar kedua bola matanya malas. Jungkook melirik Taehyung dari ekor matanya, menahan senyuman karena wajah Taehyung yang sedang marah tampak menggemaskan baginya. Melepaskan jaket hijau tentaranya, Jungkook lantas memakaikan jaket itu pada tubuh Taehyung. Terperanjat, Taehyung menoleh ke kiri. "Ke—kenapa menejermu lama sekali?" terbata karena terpesona dengan Jungkook, siapa yang tidak akan terpesona dengan seorang Jeon Jungkook. Taehyung mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Entahlah." Balas Jungkook, padahal dia yang meminta sang menejer untuk terlambat menjemputnya. "Mau mendengar musik?"
Taehyung tak menjawab pertanyaan Jungkook.
"Dulu kita memiliki selera musik yang sama, mungkin sekarang tak berubah."
"Mungkin….," Taehyung menggumam malas.
Mengeluarkan ponsel, memasang earphone. Jungkook lantas memberikan sebelah earphone-nya kepada Taehyung. Musik mulai mengalun, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Berdiri dengan punggung bersandar pada pagar rumah Taehyung. Menikmati alunan musik disertai hembusan angin malam musim panas yang cukup kencang.
"So one last time I need to be the one who takes you home. One more time I promise, after that, I'll let you go….,"
Taehyung menahan senyum mendengar Jungkook menyanyikan lagu Ariana Grande. Jungkook menyukai banyak girlband bahkan ia hapal beberapa tarian girlband dengan sempurna. Namun, Ariana Grande? Taehyung baru mengetahuinya sekarang.
"Hah!" terperanjat karena Jungkook tiba-tiba berdiri di hadapannya bukan lagi di sisi kiri tubuhnya. Taehyung mendongak menatap Jungkook.
"I don't deserve it, I know I don't deserve it, but stay with me a minute I swear l'll make it worth it. Can't you forgive me? At least jus temporarily. I know that this is my fault I should've been more careful."
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti."
"Kau bukan Taehyung yang kukenal dulu. Jangan berbohong Tae, kau bahkan tinggal di Inggris dalam waktu yang cukup lama, mustahil kau tidak memahami lirik lagu tadi."
"Jung…,"
"Apa aku membuatmu tak bisa bernapas?" potong Jungkook. "Apa aku membebanimu?" Taehyung menunduk, Jungkook menarik dagu Taehyung memaksa keduanya untuk bertatapan. "Jawab aku Kim Taehyung. Apa kau akan merasa lega jika aku melepasmu?"
"Ya." Jawab Taehyung lemah.
Menurunkan tangannya dari dagu Taehyung. "Baiklah…," menggantung kalimatnya. Jungkook merasa dadanya seolah ditekan. "Baiklah—aku akan melepaskanmu."
"Kau masih bisa menemui Youngjae kapanpun yang kau inginkan."
"Terima kasih." Bisik Jungkook bersamaan dengan suara klakson dan sorot lampu dari mobil menejer Jungkook.
"Selamat malam." Suara itu bukan suara sang menejer, suara itu milik Min Yoongin. "Selamat malam Taehyung. Menejer Jungkook ada urusan mendadak jadi aku yang menjemput….," ucapan Suga terhenti karena Jungkook yang tiba-tiba membuka pintu penumpang dan merangsek masuk.
"Kita pergi Hyung." Ucap Jungkook tegas.
Suga menggangguk canggung. "Sampai jumpa Taehyung." Ucapnya.
Mengalihkan pandangannya, Jungkook harus melihat pantulan bayangan Taehyung dari kaca spion. Menggigit bibir bawahnya cukup kuat, berteriak di dalam hati agar tak menangis. Tetap saja air mata yang berusaha ditahannya meluncur keluar dengan cepat.
"Jungkook?" nada cemas terdengar dari suara Suga, melihat Jungkook yang menangis dan terlihat berantakan seperti sekarang.
"Aku tidak tahu alasan dia pergi. Aku tidak tahu dia sedang mengandung, kenapa dia menempatkanku pada posisi yang paling bersalah di sini? Kenapa dia sangat egois? Kenapa dia tidak mengerti jika aku sangat mencintainya? Aku menawarkan yang terbaik yang bisa aku pikirkan dan dia…, dan Taehyung melemparkan semuanya kembali padaku." Racau Jungkook.
"Semua butuh waktu Jungkook. Bersabarlah, kau dan Taehyung sama-sama berada di posisi yang sulit. Sedikit lagi, kau bisa menunggu Taehyung selama ini. Sedikit lagi, kau pasti bisa bertahan."
"Jika akhirnya tidak berubah bagaimana?!" Tuntut Jungkook menoleh ke kiri menatap Suga.
Menelan ludah kasar, Suga mencoba memberi jawaban terbaik. "Kecuali jika dia memintamu untuk pergi."
"Dia sudah mengatakannya, entah sudah berapa kali. Sebelum Hyung datang Taehyung juga mengatakan hal yang sama. Lebih tepatnya aku yang bertanya."
"Dia akan merasa lebih baik jika kau melepaskannya?"
"Ya."
"Kalau begitu lepaskan. Lepaskan Taehyung."
"A—apa?!" pekik Jungkook tidak percaya dengan ucapan Suga.
"Kau ingin Taehyung bahagia, kau tidak ingin menyakitinya lagi. Jika dia merasa bahagia tanpa tekanan darimu, maka lepaskan dia. Lepaskan Taehyung biarkan dia bahagia dengan pilihannya."
Jungkook terperanjat tak percaya untuk beberapa detik akibat kalimat Suga. Sebelum dia dikejutkan oleh dering ponselnya. Keningnya berkerut melihat nama si pemanggil yang tertera di layar. Jungkook bergegas menjawab panggilan pada ponselnya.
"Jungkook!" belum sempat Jungkook mengeluarkan suara, teriakkan Taehyung di seberang sana mendahuluinya.
Menoleh ke belakang Jungkook melihat Taehyung berlari mengejar mobilnya. "Berhenti Hyung!"
Suga menginjak rem dalam-dalam terkejut dengan teriakkan Jungkook, membuat tubuh keduanya tersentak ke depan. Beruntung mereka memakai sabuk pengaman. Suga melihat Jungkook menarik kasar sabuk pengamannya, mendorong pintu mobil tergesa, dan bahkan ponselnya terlempar ke dashboard. Bingung dan terkejut, Suga melompat turun dari mobil.
Taehyung memperlambat gerakan kedua kakinya sebelum akhirnya dia benar-benar berhenti. Napas berkejaran, paru-paru terhimpit, kedua kaki terasa kebas, mengejar mobil bukanlah pekerjaan yang mudah. Jungkook hanya berdiri di sisi kanan mobil, terlalu takut untuk mendekati Taehyung.
"Apa…," Taehyung mulai berbicara disela napas tersengalnya. "Apa kau tidak akan menyakitiku lagi?" Jungkook hanya mengangguk pelan. "Kau harus berjanji."
"Aku janji."
Taehyung tersenyum simpul. Jungkook benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Menarik napas dalam-dalam, mengabaikan semua kecemasan di dalam dirinya. Jungkook memutuskan untuk bertanya.
"Apa kau menerimaku kembali Taehyung?"
Taehyung mengangguk pelan.
Dan Jungkook tidak pernah merasa sangat bahagia seperti sekarang. Lebih dari saat diterima menjadi trainee, lebih dari saat debut, lebih dari menerima penghargaan, lebih dari di terima di SOPA. Kebahagiaan yang dia rasakan detik ini melebihi semua kebahagiaan yang pernah dia rasakan sebelumnya.
TBC
Terima kasih untuk semua pembaca, terima kasih review kalian MiniMinyoonMini, Nagi, TaeKai, taetae22, funf, maiolibel, VKookKookV, Icha744, ranran, kookv enthusiast, kahisairawan, shiinasany, Anselon, Clou3elf, exoinmylove, purplesya, Linkz account, GaemGyu92, VampireDPS, taelien, Diwmin chan, vivikim406, Asmaul, whalme160700, KaiNieris, Tikha Semuel RyeoLhyun, srirahayuKookV, Sasayan chan, Yeoja821, Kyunie, justcallmeBii, wijayanti628, Rizuku, juney532, jennyangkasa22, Park Rinhyun Uchiha, Gummysmiled, rrrriiiieee. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
