Disclaimer: Harry dan Hermione kemilikan J.K. Rowling. Ini cuma pengisi waktu luang. Enjoy... ^^
4:17 a.m.
Dengan khidmat, mereka hanya dapat membuat tungguan mereka terasa lama, Harry dan Hermione tidak mengobrol lagi hingga badai salju di luar mulai mereda. Oldsmobile-terdampar sekarang komplet tertimbun salju, punya potensi dikira bukit putih kecil pada bahu jalan, iglo rusak.
Interior mobil sunyi mengerikan, terlalu cocok menciptakan suasana isi dari kepompong - kasus mereka kepompong salju. Takkan berubah jadi selembar menawan kupu-kupu. Kedua anak di dalam bukan bermetamorfosis, cuma bertahan untuk tetap terjaga.
Wajah Harry pucat, bahkan sedikit transparan sampai-sampai tengkorak dapat terlihat dari bawah kulitnya. Hermione di pelukannya menatap ke kegelapan jendela depan yang tertutupi salju bekas. Setelah berjam-jam efek mengunyah lem, akhirnya ia berkata,
"Aku mau pipis."
"Lagi?" kata dengan nada kagum Harry. Dihitung-hitung sudah enam kali sejak mereka berangkat.
Hermione bergelut melepaskan diri, bergerak ke kursi belakang dan membungkuk, membuang air sehati-hati mungkin ke dalam botol kosong.
Harry meledek, "Sumpah, aku belum pernah bertemu orang yang buang air begini banyak."
"Berhenti bicara." suruh Hermione.
Dan penurut atau dia pemanja Harry berhenti, berpaling ke jendela penahan angin yang gelap, mencegah jangan tergoda untuk melirik spion tengah. Tapi si gadis itu juga yang bicara lagi seperti ada yang menanggapi,
"Aku serius, cukup sulit melakukan ini di depanmu."
Harry tak sengaja melirik ke spion sebelum berpaling lagi, menyahut, "Apa, kau salah satu dari mereka yang tak bisa kencing dengan pintu kamar mandi terbuka?"
"Bukan. Tapi pikirmu apa ini sesuatu yang biasa kulakukan kecuali sudah berwaktu-waktu kemudian dalam suatu hubungan?"
Eph. Hermione menangkap lidahnya di detik terakhir, tapi sudah sangat terlambat, kata 'hubungan' itu menggantung di udara. Harry cuma bersuara, "Well..." Dan keadaan jatuh hening. Dan semua bermula cuma karena ketelatan memesan tiket pesawat.
Selesai buang air, Hermione menyumbat tutup ke mulut botolnya. Meletakkan itu di lantai bersama botol isi urine yang lain... Ia mematung.
Karena di sana, ia menyadari satu botol yang tak mirip dengan semua yang lain.
Hermione memungutnya, jelas ia ingat itu bukan punyanya. Ia memanjat balik ke kursi depan untuk bertekad mengkonfrontasi Harry persoal botol urine yang bercorak warna pink. Darah.
"Apa ini? Apa ini darah?" sergah Hermione, mata setajam diasah ahli gerinda.
Tidak datang jawaban. Harry tak menatap balik.
Hermione mendesak lanjut, bermuka sengit, "Separah apa lukamu dalam kecelakaan?"
Harry berusaha mengangkat bahu masalah ini. "Itu bukan masalah besar. Cuma rata-rata keseharianmu yang punya NHL."
Tapi Hermione tak melihat situasi ini bisa ringan, saat melihat menembus aling-aling wajah tegar Harry, bahwa sebenarnya dia takut. Bahwa ini salah sekadar NHL tok.
"Berapa lama kau menyadarinya?" tanya Hermione, kalem, yang tidak biasa.
Harry jujur dengan terpaksa. "Sejak coba berjalan balik ke pom bensin. Kau benar, aku... bohong saat itu, aku tak pernah sampai di mana pun dekat sana. Mulai batuk darah, jadi aku berbalik dan kembali."
"Ya, Tuhan, kenapa kau tidak memberitahuku?" desah Hermione mencelos.
"Aku tidak mau membuatmu cemas," sahut Harry pelan, takut menampilkan kelemahannya. Tapi itulah, sudah diucapkan.
Dan mendadak, Harry berhenti dengan kaku menahan sakit, oleh mata yang tertutup, gigi terkatup yang semua ditekan, dan komplotan otot rahangnya berkedut. Tabrakan di awal pastinya lebih dari hanya memberi kepalanya benturan.
Hermione merasa bersalah, melihat Harry tanpa pertolongan. Ia membuat keputusan, "Kita harus mencari bantuan untukmu saat ini juga. Kau takkan bertahan sampai pagi. Aku akan mencoba menembus hutan ke pom bensin."
Harry mengerang, mengeluh dengar ide semacam itu. "Jangan. Lagipula berapa jauh hitungmu kau dapat berjalan di luar sana sebelum bertemu si polisi?"
"Aku takkan cuma duduk di sini dan menyaksikanmu meninggal!" pekik Hermione, menuju kehisterisan, lagi.
Harry duduk tegak, bersandar lalu memejamkan mata, aksennya malas. "Aku akan bertahan..."
Namun Hermione meraih ponselnya dan memeriksa pojok sinyal. Tetap nihil barang sebatang. Harusnya ada pencetus yang mengatasi sinyal di lembah, gunakan teori AM. Kepada dirinya sendiri, gadis itu mengumpat, "Sial. Kita butuh sumber jaringan." Berhenti lama. Ia berpikir. Kemudian sebuah ide terjala.
Ia menyalakan wiper untuk menyingkirkan salju dari jendela depan, serut kembar identik memasukkan cahaya ke dalam mobil. Hermione mengelus kaca yang berkabut sampai ia punya cukup lubang mengintip. Mencoba berbagai derajat saat mata mengeluyur lewat temuannya.
"Kau sedang lihat apa?" bilang Harry ingin tahu.
"Ada sebuah tiang telepon. Di sana pasti punya kotak kontak atau sesuatu untuk menyambungkan uji jaringan... Di sana! Lihat yang itu?" Ia menunjukkan Harry sependirian tiang telepon dua puluh yard di depan mereka. Ada kotak kontak kecil dari besi di dekat puncaknya.
"Lalu?" Harry belum mengerti.
Hermione berputar, mencondongkan tubuh ke kursi belakang untuk menggeledah di antara barang-barang Harry. Ia menemukan lagi guntingnya, tanpa berpikir langsung disakukan ke depan mantelnya. Ia pun mengambil telepon nirkabel tua Harry, mengecek steker di ujung sambungan kabelnya. "Lalu, mungkin ada cara aku bisa mencolok telepon ini di sana atau sesuatu. Berusaha menelepon minta bantuan."
"Kau mau memanjat tiang telepon itu?" kata Harry, sekali lagi sama sekali tak membantu. Tak mendukung ide seseorang pergi ke luar.
"Tentu saja aku tak mau! Tapi tiang itu punya pijakan tangga, lihat. Tidak bisa lebih sulit dari memanjat tebing dalam gym-ku. Tukang reparasi berbadan besar melakukan itu tiap waktu, benar 'kan? Benar."
Hermione mencoba meyakinkan diri sendiri, karena paham Harry tidak akan. Hal-hal terputar-balik berada di trayek ini. Membuat pikiran berparasit. Seluruh halnya dipertaruhkan, walau entah adakah di sejarah calon seorang DDS memanjat tiang telepon.
Harry masih saja seperti itu, tapi kali ini dia yang mulai paham tidak satu pun kemauan gadis di sini yang dapat dilarang. "Tapi kau melupakan satu hal..."
"Apa?" kata Hermione tak memerhatikan, sibuk mempersiapkan diri.
"Dia di luar sana."
Mereka berdua bungkam. Hermione duduk dengan telepon di pangkuannya, memikirkan dengan sedih pengecualian itu. Siapa yang tahu apa lagi yang bisa terjadi, dengan menimbang dari perlakuan yang didapat si Wanita Pirang. Sampai sesuatu terasa cocok, meski belum berarti dapat menolong.
"Lagunya!" Harry memandang gadis itu berteka-teki. "Lagu natal tua di radio itu. Yang selalu muncul tepat sebelum dia datang..."
Harry lebih tidak yakin lagi saat cadangan mereka kini cuma sebuah lagu, dia benci dirinya sendiri detik ini. Melihat Hermione menghidupkan radio, ke AM yang terkenal dengan suara tersaru mereka. Keduanya mendengar sayup-sayut Blue Christmas Elvis Presley yang disiarkan.
"Dengarkan terus..." talak Hermione. "Kalau Rockin' Around the Christmas Tree muncul, meraung sekeras di neraka." lagi-lagi ia berkata pelan, berupaya meyakinkan diri sendiri, "Semoga saja aku dapat cukup waktu untuk kembali."
Harry tak tahu apa lagi yang harus diucapkan, menyaksikan Hermione bersiap-siap demi misinya keluar ke radiasi dingin yang pahit. Ia melepas gagang telepon nirkabel dari cangkangnya, melilitnya dengan kabel itu sendiri, dimuatnya supaya aman terjaga ke balik sweaternya.
Menarik napas. Dan ia siap tempur.
Harry memaksa membelokkan tubuhnya ke arah Hermione. Yang mana diikuti. Saat berhadapan akan mengucapkan yang biasa diucapkan kala perpisahan seperti itu, Harry berbisik sangat pelan, tapi mereka cukup dekat - sekali, jadi... "Aku sadar sesuatu..."
"Tentang apa?" sahut Hermione tak kalah lembut.
"Pengulangan-abadi. Nietzsche. Mungkin itu tidak terlalu buruk." kata Harry, amat memimpikan momen hidup selayak ini.
"Apa yang tidak?" mata Hermione tenggelam dalam mata Harry.
"Mengulang hidup ini. Lagi dan lagi. Selalu yang sama setiap saat."
"Bahkan 24 jam terakhir?"
Harry menampilkan senyum lemah, seperti punya orang sekarat. "Terutama sekitar itu."
"Ya, tapi akan lebih bagus untuk berpikir mungkin kita boleh dapat kesempatan memperbaiki semua hal yang kita kacaukan sejak awalnya, bukan begitu?"
Mereka jatuh dalam tensi keheningan, keduanya memikirkan terkait hal itu. Hermione melihat jauh ke dalam mata Harry, seakan selain menelusuri dan mempelajari seluruh petak keberadaan Harry, ia juga meninggalkan keberadaannya di dalam sana.
Harry berkata, "Tahu apa yang kulakukan berbeda? Lain waktu aku cuma akan jalan menghampirimu setelah pelajaran... dan memulai dengan 'hai'."
Hermione tersenyum, pertama kalinya yang tulus untuk Harry. "Kau harus. Pastikan. Lakukan itu. Aku tunggu."
Ia menggunakan manset sweaternya guna membersihkan pipi Harry. Mata hazelnya bergerak lebih dulu, terbaca Harry yang menerima sebelum tubuh Hermione turut bergerak maju. Mencium dia dengan lembut dan hangat.
Kecupan tersebut mengikuti jalurnya ke mulut Harry...
...tetap hidup,
bertahan membara serta diresapi beberapa saat. Bibir mereka pun berpisah dengan sempurna.
Harry meraih tangan Hermione saat ia menggapai pin pengunci jendela sebelum niatnya urung, digenggam erat. Buat meminta dengan urgensi berat, "Kembali lagi ke sini."
Hermione menatap Harry dengan keras penuh tekad. Tatapan itu menenangkan Harry, paling tidak sedikit.
Tangannya dilepas. Hermione berpaling dan menurunkan jendela sisi penumpang. Plester pipanya terenggut saat jendela bergeser turun, mempersilakan masuk butiran bubuk salju mini dan angin kencang yang sangat dingin. Hermione pun turun keluar dari iglo Olds.
Ia terlihat kecil dan mudah diserang ada di luar sana, seperti selalu diawasi oleh puncak-puncak tinggi. Sunyian mengerikan telah hilang, di luar embus salju bersuara redam, beberapa kali ikut muncul lengking anginan sedih melalui sela pohon-pohon.
Hermione bergerak di salju yang dalam menuju tiang telepon. Giginya mengeretuk. Sedangkan Harry memerhatikan gadis ini lewat jendela depan yang memulai perjalanan sendirinya sepanjang terang bulan ke bentang salju luas.
Dia berpaling memaksimalkan volume radio yang sekarang memainkan instrumen suram musik gereja Silent Night.
Dalamnya bubuk membuat langkah Hermione tidak bisa gampang, membuatnya mengangkat tiap sepatu selutut selama ke tujuan, dan tak butuh lama ia terengah. Berulang kali ia berhenti, diam mengambil napas yang berkabut di kedinginan arktika.
Balik ke radio, Silent Night sudah berakhir. Di antara bunyi statis berkersak dapat didengar rekaman Pengumuman Pelayanan Publik. "Kantor Cuaca Negara mengeluarkan peringatan suhu dingin yang sangat ekstrim..."
Hermione bahkan sampai dapat bersandar ke angin dari depan saat tiupannya keras, dingin membuat matanya berair. Ia menunduk dan terus berjuang maju.
Radio PPP berkata, "Warga Merseyside disarankan mencari tempat berlindung karena temperatur di bawah nol menimbulkan embusan beku lebih dari minus dua puluh,"
Tiba di pangkal tiang telepon, akhirnya, kepala Hermione menengadah penuh ke kotak kontak kelabu jauh di atas. Dari sini ujung tiang telepon terlihat lebih, lebih tinggi dibandingkan dari mobil. Dan anak tangga besinya yang bagai duri ikan kini terlihat jauh lebih jarang, tapi juga lebih banyak. Ia kehilangan nyali. Menoleh balik memastikan tak ada cahaya polisi datang dari balik malam.
Menguatkan diri dan menempa hatinya, ia menaruh telapak kaki pada anak tangga pertama dan mengangkat dirinya naik.
Sekarang di antara bertambahnya kestatisan panjang yang putus-putus dari radio, cuma dapat dibedakan sedang tersiar Here Comes Santa Claus versi Gene Autry. Tanda aman.
Cabang pijakan tangganya licin berkat es, memaksa Hermione untuk memanjat lebih lambat dari yang ia mau. Ia tetap menjaga matanya ke kotak, tidak pernah menunduk ke tanah.
Saat angin bertiup kencang ia berhenti dan menunggu agar deruannya henyak.
Ia setengah jalan menuju puncak ketika kakinya terpeleset di anak tangga yang licin, kehilangan keseimbangan...
Hermione meraih pelukan tiang dengan erat, angin bersiul di lubang telinganya. Ia menunggu lagi agar jantungnya tenang dan ia pulih dari momen nyaris jatuhnya. Lalu menengadah, mengukur jarak yang masih tersisa ke kotak kontak.
Dan memanjat...
Ia pun meraih tapak terakhir di puncak tiang telepon. Di atas sini gaduh, berkat deruan angin serta buncangan kabel telepon yang meng-es, sumber dari dengungan asing nun misterius yang selama ini Hermione dengar.
Ia mencoba membuka pintu metal kecil dari kotak kontak kelabu.
Terkunci.
"AKH!" teriak Hermione frustasi.
Cuma sebentar kesal, ia merogoh saku mantelnya, mengambil gunting, memanfaatkan itu untuk mencongkel terbuka kotak kontak yang ternyata cuma tertutup karena beku, seret, pada dasarnya tidak terkunci.
Alhasil sukses. Pintunya mengayun memperlihatkan isinya. Terdapat sarang dari kabel aneka-warna dan stopkontak telepon.
Tergesa sekarang, ia menanggalkan sarung tangannya pakai gigi. Tangan telanjangnya mengambil gagang telepon yang terlilit kabel dari balik sweaternya.
Dalam usahanya menyulap semua barang itu, ia kehilangan genggaman guntingnya. Maka benda itu terjun jatuh, menghilang dalam petak salju di bumi.
Hermione melihat jatuhnya dengan murung. Sekarang mencoba kembali berkonsentrasi hanya kepada gagang telepon. Tapi tanpa sarung tangan jarinya jadi sangat kikuk terpapar dingin frontal, dan ia meleset. Gagang telepon pun ikut jatuh...
...lalu tersentak berhenti beberapa kaki ke bawah sebatas panjang kabel. Yang ia berhasil tetap pegang ujung satunya.
Menghela, ia terus melilit gagang telepon naik dari kabelnya, dapat, lanjut mencolok stekernya ke kotak kontak. Dirapatkan ke telinga, terdengar nada dering...
Hermione tercenung, "Ya, Tuhan..." Dingin sekali. Gigi tetap mengeretak, ia menekan '0' untuk tersambung ke operator. Saat bernada lagi, ia bilang, "please please please please please-"
Dan pada nada dering ketiga, meski tersaring, seorang operator menjawab,
"9-9-9 Panggilan Darurat..."
"Thank God! Hai! Halo! Kami butuh bantuan!" seru Hermione di antara kelegaan.
Suara operator kembali tersaring saat mengatakan, "Maaf, ada apa? Bisa Anda ulangi-" berhenti.
"Kami di jalan 066! Ya, Tuhan, tolong cepat! Kami butuh bantuan! Temanku terluka!"
"Bisa Anda ulangi apa yang-" putus.
"Halo?"
Kersakan.
"Halo!" jerit Hermione ingin menangis.
Dari sambungan stop kotak kontak, listrik memercik tiba-tiba seperti korsleting dan Hermione menerima sedikit shock yang membuat gagang teleponnya terlepas... Ketika ia menimbanya dan medaratkan kembali ke telinga salurannya sudah terputus.
Tidak akan tahu apa pesannya diterima.
Itu adalah saat-saat sejenis menumpuknya keputusasaan peremuk-jiwa, ia memejamkan mata dan menyandarkan kening ke tiang beku, seolah-olah ingin mati pelahan-lahan saja di atas sini 30 kaki di atas bumi.
Radio Oldsmobile menyiarkan bukan apa pun kecuali suara kersak statis sekarang.
Mata Hermione terjepret membuka, dan ia memulai panjatan turun ke permukaan. Hermione menapak pada seperangkat anak tangga kedua dari tanah, terpeleset, kini dewi tak memihak dan ia jatuh di sedikit ketinggian terakhir. Tumpukan salju jadi sangat membantu dengan membantali jatuhnya yang menelentang, berbaring di sana dalam masa-masa pusing.
Hermione mulai merangkak dengan keempat alat gerak kemudian berbalik pada Oldsmobile yang terdampar.
Tiba-tiba ia berhenti saat jalurnya dihadang oleh...
Kaki telanjang wanita.
...berdiri di salju, nadi dan arteri tampak jelas dari kulitnya yang kelabu. Lumpur tebal melapis kering di sana.
Hermione mengangkat matanya,
MAYAT WANITA
Itu si pirang yang di mimpinya diperkosa dan terbunuh pada musim panas 1958. Pakaiannya compang-camping rusak, berlapis dedaunan dan kotoran seperti sesuatu yang akhir-akhir ini digali keluar dari kuburan.
Kepalanya miring pada sudut yang tak biasa akibat patahnya leher.
Hermione tercekat dan berjuang untuk bangkit, melarikan diri. Hanya sampai berhenti setengah mati dalam jalurnya saat ia nyaris bertabrakan dengan-
DUA MAYAT REMAJA
Korban kecelakaan mobil di malam natal 1958. Keduanya memakai jaket baseball berlogo tim The Ramrods yang basah oleh darah. Mereka berdiri dalam keadaan saat kecelakaan.
Dada salah satu dari mereka cekung, remuk ke dalam berkat benturan lawan roda kemudi. Yang lain menampakkan deretan gigi pada tempat pipinya yang sudah robek besar berada.
Hermione terhuyung dalam horor, berupaya mengambil jalan memutar kembali ke Oldsmobile. Ia mengebut pada beberapa yard terakhir ke mobil yang cuma terdengar seru pancaran statis asal dari radio saat Hermione melemparkan dirinya - masuk. Aman!
Duduk, terengah, kehabisan napas. Ia menoleh cepat ke arah Harry yang pucat kesi, bersandar sangat diam di belakang setir. Seperti lelah menjebol tembok lapis tepung.
Hermione menggosok-gosok tangannya agar sirkulasinya kembali kerja. Menurunkan volume suara radio, dengan gigi mengeretak ia berkata, "- aku berhasil... tersambung - tapi aku tak tahu seberapa ia mengerti - operatornya maksudku -"
Hening. Harry tidak merespons.
"- cuma harus berdoa - mungkin... mereka bisa melacak jaringannya -" lanjut Hermione.
Saat ini, ketika terlalu lama tidak muncul reaksi, Hermione melihat Harry agak lama. Kurang jelas oleh miskinnya cahaya, ia mengernyit. Lalu gadis itu mencoba bergerak lebih dekat ke tempat Harry di kursi pengemudi, paham laki-laki itu takkan ingin menolak dirinya yang mendekat.
Masalahnya...
...Hermione tak melihat Harry.
Yang berdiri dua tangan menyaku di luar mobil, ekspresi kendur, menatap isi mobil, juga punggung Hermione.
Harry berdiri di sana, sebelum dia membias ke dalam malam...
Tapi tubuh laki-laki itu seolah tak tertarik lagi oleh dekatnya tubuh Hermione.
"Bertahanlah, kau selalu kuat dari tadi, sebentar lagi pagi..." motivasi, sokong Hermione.
Ia meraih untuk mendesaknya bangun.
Satu sentuhan memastikan rasa takutnya yang paling buruk.
Ia menyalakan lampu interior untuk mendapat pandangan bagus dari Harry...
Reaksinya sangat mendadak dan kuat sekali dan berlebihan sampai terlihat untuk sesaat ia akan muntah. Menutup mulutnya, ia membekap tangisan yang menegakkan para bulu roma. Lalu mengguncang Harry lagi, lebih bertenaga kali ini, depresi membuat dia bangun.
"Tidak! Tolong! Jangan tinggalkan aku sendiri!"
Air mata mengaliri pipinya saat ia menjadi histeris. Hermione tetap mengguncang Harry lebih kencang. Dengan gravitasi, tubuh tak-berdaya Harry tumbang ke samping, roboh ke hadapan Hermione.
Kesedihan Hermione berubah menjadi sesuatu yang lain, itu secara naluriah dan dengan segera yaitu rasa mual yang kuat, akibat berat dingin kematian tubuh Harry yang tersandar ke dirinya. Hermione langsung bergerak kilat mengambil jarak sejauh mungkin antara dirinya dan jenazah.
Menjadi pengecut dengan berjubel di pojok dasbor dan pintu penumpang. Mengamati Harry seperti tatapan umpan di kandang T-Rex, seakan bisa diterkam kapan saja...
Lampu interior berkelap-kelip, melemah cahaya di sumbernya dan akhirnya padam. Baterai akhirnya juga turut mati.
