Annyeong! Aaahh, miaaann baru update lagi . So, here is the new part. Err~ maybe I have to apologize for something. I think you'll find later what I mean. Beside that, umm, I must warn you because it contains some.. yeah, you can call it violence. But, I still hope you enjoy it. Happy reading all :)


"Yoona eonnie! Eonnie!" Seorang yeoja berpostur tinggi semampai menolehkan kepala ke belakang, mencari seseorang yang baru saja memanggil namanya. Kedua mata indahnya bersinar senang saat melihat siapa yang datang menghampirinya.

"Ah, Seohyunnie! Wae?" tanya Yoona kepada seseorang yang sudah dianggapnya sebagai adik, Seo Joohyun atau biasa dikenal dengan nama Seohyun.

"Aku ingin memelukmu, eonnie. Bolehkah?" pinta Seohyun yang membuat Yoona mengerutkan keningnya.

"Untuk a.. ah, baiklah, sini. Aku juga mendadak ingin memelukmu." Ucap Yoona penuh sayang. Yeoja itu merentangkan kedua tangannya dan menyambut Seohyun yang langsung menubrukkan diri padanya.

"Sebegitu kangennya dirimu sampai mendadak kau ingin memelukku seperti ini, Hyun?" tanya Yoona dalam bisikan ke telinga Seohyun sambil mengusap punggung yeoja itu lembut.

"Mianhamnida eonnie, mianhamnida." Bisik Seohyun lirih sambil tetap memeluk Yoona. Lalu entah bagaimana di tangan kanan yeoja itu sudah tergenggam sebuah pisau bermata tajam yang mengarah ke pinggang kiri Yoona. Mianhamnida, gumam yeoja itu lagi sebelum..

Jlep! Mata pisau itu menembus kulit Yoona dan mengoyak jaringan yang ada di lapisan dalamnya. Darah segar langsung mengalir dan menodai pakaian yang dikenakannya dengan warna merah hati.

"Seohyun-aa, apa.. apa.. yang.. kau.." Yoona menatap Seohyun tidak percaya. Sekejap keterkejutannya menutupi rasa sakit akibat luka tusukan pisau di tubuhnya. Sampai beberapa detik kemudian tubuhnya ambruk ke lantai dengan genangan kecil darah yang mulai terbentuk di sekitar pinggang kirinya. Kedua matanya melayangkan tatapan nanar kepada seorang yang sesaat lalu meminta untuk memeluknya.

"Seo.. hyun.. aa.." panggil Yoona lagi, kali ini nada suaranya melemah akibat darah yang terus mengalir keluar dari tubuhnya.

"Mianhamnida, eonnie. Mianhamnida, jeongmal mianhamnida. Aku.. aku harus.. memilikinya.. tanpamu. Mianhamnida." Ucap Seohyun dalam getaran suara yang dipenuhi rasa bersalah. Kedua matanya meneteskan air mata melihat hasil perbuatannya. Ia sungguh tidak menyangka kalau harus berbuat sejahat ini pada eonnie tersayangnya.

"Siapa.. maksudmu..?" tanya Yoona, kali ini suaranya semakin pelan. Kedua matanya pun mulai buram. Tepat satu detik sebelum kegelapan menguasainya, ia mendengar satu nama yang langsung menyayat perasaannya.

"Kyuhyun oppa."

-o0o0o-

Yoona membuka kedua matanya dan melihat langit-langit putih bersih yang biasa disapanya. Langit-langit kamarnya. Yeoja itu perlahan mendudukkan diri dan mengusap keringat dingin yang membasahi keningnya. Hanya mimpi, syukurlah batin Yoona. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan mendapati dua orang yeoja yang hampir dua tahun ini tinggal dengannya masih tertidur pulas.

Dalam gerakan pelan tangan kanan Yoona terjulur ke samping dan mengusap rambut salah seorang yeoja yang masih tertidur. Wajah polosnya memunculkan senyum penuh kasih yang terbentuk di wajah Yoona.

Apa arti mimpi itu, Tuhan? Uri Seohyun.. tidak mungkin dia melakukan itu. Dia malaikat kami, mana mungkin melakukan hal sekeji itu. Lalu.. Kyuhyun oppa. Apa hubungan dia dengan aku dan Seohyun? Apa dia dalam bahaya? Apa Seohyun dan aku dalam bahaya? Tuhan, kumohon lindungi kami. Sekelumit doa terlantun dalam hati Yoona sebelum yeoja itu memutuskan untuk kembali tidur dan bersiap untuk perform stage mereka esok hari.

-o0o0o-

"Yoona-aa!" Yoona menolehkan kepalanya dan tersenyum begitu melihat seorang namja tengah melambai dan berjalan mendekat ke arahnya.

"Annyeong Donghae oppa." Sapa Yoona sambil membungkuk ke arah namja yang belakangan ini mulai dekat dengannya.

"Mencari evil itu eh?" tanya Donghae yang telah berdiri di hadapan Yoona. Pakaian kasual beserta jaket dan topi yang dikenakannya membuat yeoja itu menyipitkan sebelah matanya.

"Kau mau kemana oppa?" tanya Yoona tanpa mempedulikan pertanyaan Donghae sebelumnya.

"Aish, anak ini. Aku tanya malah balik tanya, ckck." Decak Donghae sambil menggeleng-gelengkan kepala. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan, namun kilau matanya yang jenaka membuat Yoona sadar kalau namja itu bermaksud menggodanya.

"Hahaha, kau bermaksud menggodaku oppa? Tidak akan mempan." Ucap Yoona sambil mengibaskan tangan kanannya di depan wajah Donghae.

"Aku suka melihatmu tertawa, Yoong." Ucap Donghae tulus. Yoona langsung berhenti tertawa dan menatap aneh kepada sunbaenya ini.

"Ada apa denganmu, oppa? Apa kau salah makan hari ini?" tanya Yoona polos sambil membulatkan kedua bola matanya.

"Ya! Kau ini. Memangnya salah kalau aku menyukai tawamu? Tidak ada yang melarang kan? Huh?" tanya Donghae balik, setengah menantang. Yoona menggembungkan kedua pipinya.

"Aigoo, lihat wajahmu itu. Kau membuatku ingin mencubit pipimu, Yoong." Seru Donghae sambil menjawil pipi kanan yeoja itu dan mengedipkan sebelah matanya.

"Oppa! Berhenti menggodaku! Aish, kalau dilihat Sica eonnie bagaimana? Nappeun namja." Sungut Yoona sambil mengusap-usap pipi kanannya. Namja itu mendadak kaku begitu mendengar nama Sica -panggilan untuk Jessica- dari mulut Yoona.

"Memangnya kenapa kalau Sica sampai melihat itu? Dan kenapa kau menyebutku nappeun namja?" tanya Donghae serius.

"Tentu saja Sica eonnie nanti cemburu padaku! Aish, oppa tidak peka sekali sih. Dan aku memanggil oppa nappeun namja karena oppa berani menggodaku. Padahal oppa kan sedang dekat dengan Sica eonnie." Jawab Yoona lugas. Donghae mengatupkan bibirnya begitu mendengar jawaban yang tidak disangkanya itu. Dia mengira aku sedang mendekati Sica, padahal aku mendekati Sica dengan maksud untuk..

"Donghae hyung! Apa kau melihat Kyuhyun?" tanya seorang namja yang mendadak ada di sampingnya dan memutus gumamannya.

"Ah, ani. Aku belum melihatnya. Bukankah tadi dia bertemu dengan manajer hyung?" balas Donghae.

"Eh? Jadi pertemuan mereka belum selesai juga?" tanya namja itu lagi. Yoona yang belum memahami isi pembicaraan itu sepenuhnya hanya bisa melihat kedua sunbaenya bergantian.

"Setahuku belum. Aku belum melihat mereka keluar dari ruangan itu." jawab Donghae sambil menunjuk sebuah ruang rapat kecil yang berada sekitar dua meter di depan mereka. Baik Yoona maupun namja yang bertanya itu mengikuti arah telunjuk Donghae.

"Memangnya ada apa Wookie-aa?" tanya Donghae.

"Ah, anu, itu, tadi Sungmin hyung mencarinya untuk.. entahlah. Dia hanya memintaku untuk mencari evil itu dan menyampaikan bahwa Sungmin hyung mencarinya." Jawab Ryeowook, salah satu member Super Junior yang memiliki panggilan kesayangan Wookie dari member lainnya.

"Kalau begitu kau tunggu saja di sini sampai mereka keluar." Saran Donghae santai. Ryeowook melotot ke arahnya.

"Ada saran yang lebih baik, hyung?" tanya Ryeowook yang kemudian mendengus kesal.

"Menurutku itu saran yang paling baik, hahaha." Jawab Donghae asal yang membuat Ryeowook semakin kesal padanya.

"Oppa, sebenarnya ada apa? Apa hanya Kyuhyun oppa yang bertemu dengan manajer oppa hari ini?" tanya Yoona. Pertanyaan, atau lebih tepatnya suara Yoona menyadarkan kedua namja itu akan kehadirannya di sana.

"Ah, ne. Semalam manajer hyung menelepon Leeteuk hyung dan mengatakan bahwa ia perlu bertemu Kyuhyun pagi ini." Jawab Ryeowook. Yoona melihat sekali lagi ke pintu yang sebelumnya ditunjuk Donghae lalu kembali menatap Ryeowook.

"Apa Kyuhyun oppa membuat masalah?" tanya Yoona hati-hati. Ryeowook dan Donghae saling pandang satu sama lain sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Ya, dia telah membuat masalah. Dia selalu membuat masalah. Itu sebabnya kami, bahkan para ELF, menjulukinya evil maknae." Jawab Donghae dengan raut muka serius. Yoona mengendurkan bahunya dan mendecak kesal.

"Ckck, kalau itu aku tahu. Aish, aku serius oppa." Ucap Yoona. Sudut-sudut bibirnya turun ke bawah dan membuat wajahnya terlihat buruk.

"Hahaha, mianhae Yoong, aku hanya bercanda." Ujar Donghae meminta maaf sambil mengusap puncak kepala Yoona pelan.

"Kami juga tidak tahu kenapa ia dipanggil. Yah, sebentar lagi kita akan tahu. Itupun kalau dia boleh memberitahukannya kepada kami." Lanjut Ryeowook.

"Hmm, kalau begitu aku mau titip ini pada oppa. Tolong berikan pada Kyuhyun oppa dan sampaikan terima kasihku padanya." ucap Yoona sambil mengangsurkan tas kertas berukuran sedang yang sedari tadi dibawanya.

"Kurasa tidak perlu Yoong. Itu, lihatlah." Tunjuk Donghae. Yoona mengikuti arah telunjuk itu dan melihat dua orang keluar dari ruangan yang mereka maksud sebelumnya. Senyumnya mengembang begitu melihat sosok Kyuhyun. Namun anehnya Kyuhyun justru menatapnya dengan sorot mata aneh ketika bertemu pandang dengannya.

"Oppa, ini aku kembalikan jaketmu. Te.."

"Terima kasih Yoong. Maaf, hari ini aku sibuk. Donghae hyung, Ryeowook hyung, aku permisi." Pamit Kyuhyun dingin. Ia meraih tas yang diangsurkan Yoona dan berlalu begitu saja dari mereka bertiga.

"Ya! Kyuhyun-aa! Sungmin hyung mencarimu!" teriak Ryeowook begitu ia tersadar dari keterkejutannya melihat perilaku Kyuhyun yang tidak seperti biasanya. Ia hendak berlari mengejar namja itu, namun Kyuhyun terlanjur keluar dari gedung manajemen bersama dengan manajer mereka.

Ada apa dengan Kyuhyun oppa? Apa aku telah berbuat salah padanya? gumam Yoona dalam hati. Ia masih tidak percaya dengan sikap Kyuhyun yang mendadak dingin terhadapnya. Terlebih saat ia melihat sorot mata itu. Kyuhyun oppa, kau kenapa?

"Yoona-aa? Yoona-aa?" panggil Donghae sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan yeoja itu. Yoona tergeragap dan langsung memusatkan perhatiannya kepada Donghae dan Ryeowook di hadapannya.

"Neo gwaenchana?" tanya Donghae khawatir.

"A.. Ah, ne, nan gwaenchanayo, oppa. Nan gwaenchana." Dusta Yoona. Yeoja itu memaksakan seulas senyum untuk mempertegas jawabannya.

"Apa kau yakin?" kali ini Ryeowook yang bertanya. Yoona berpaling menatapnya dan mengangguk.

"Ne, aku tidak apa-apa oppa. Aku baik-baik saja." jawab yeoja itu, lagi-lagi dengan senyum palsunya. Donghae dan Ryeowook saling berpandangan dan kemudian menatapnya khawatir.

"Baiklah kalau begitu. Setelah ini kau mau kemana?" tanya Donghae. Ia masih sangat terlihat mengkhawatirkan yeoja itu.

"Setelah ini aku harus ke dorm untuk bersiap-siap tampil malam ini, oppa. Kalau begitu aku pamit. Annyeong Donghae oppa, annyeong Ryeowook oppa." Pamit Yoona cepat sambil membungkuk kepada keduanya. Setelah itu ia berbalik dan baru saja ingin melangkah keluar, sebuah tangan mencekal pergelangannya.

"Aku akan mengantarmu." Tawar Donghae.

"Ani, tidak perlu oppa. Aku bisa sendiri." Tolak Yoona halus. Ia menggeliat pelan dan melepaskan diri dari cekalan Donghae.

"Aku tahu kau bisa, tapi aku ingin mengantarmu." Ucap Donghae lagi. Yeoja itu hendak menyuarakan penolakannya ketika Donghae kembali melanjutkan ucapannya, "Aku tidak menerima penolakan, ingat itu Im Yoona." Pernyataan namja itu tidak lagi bisa dibantah oleh Yoona.

"Baiklah oppa, kau boleh mengantarku." Putus Yoona akhirnya.

"Tapi hyung.." Ryeowook hendak mencegah Donghae dan kemudian namja itu terdiam begitu mendapat tatapan mematikan dari hyungnya.

"Sampaikan pada Leeteuk hyung kalau aku mengantar Yoona ke dormnya. Aku tidak akan lama." Pesan Donghae. Ryeowook hanya mengangguk patuh dan diam saja saat Donghae menggamit Yoona menuju pintu keluar gedung.

"Sebenarnya ada apa dengan Kyuhyun? Tidak biasanya dia mengacuhkan Yoona seperti tadi. Donghae hyung juga bertingkah aneh belakangan ini. Sepertinya dia berusaha untuk mendekati Yoona, tapi setahuku dia juga sedang dekat dengan Sica." Urai Ryeowook pada dirinya. Ia berusaha mengurutkan setiap peristiwa yang ia tahu dan mencari benang merah dari keseluruhan peristiwa yang ia rangkai. Namun ia malah merasa semakin bingung dan frustasi.

"Aarggh! Entahlah! Lebih baik aku kembali ke ruang latihan." Erang namja itu sambil mengacak-acak rambutnya. Setelah itu dia berbalik dan berjalan menuju ruang latihan Super Junior masih dengan berbagai asumsi yang berkecamuk di pikirannya.

-o0o0o-

"Kyuhyun-ssi, ingat, kau harus melakukan apa yang diminta Sooman sajangnim kepadamu pagi ini. Beliau sangat berharap kepadamu, terutama dalam proyek ini. Aku percaya kau tidak akan mengecewakan beliau." Pesan seorang namja paruh baya kepada Kyuhyun yang balik menatapnya dengan pandangan sedikit menerawang.

"Tenang saja hyung, aku janji tidak akan mengecewakanmu. Dan beliau." Ucap Kyuhyun yang kembali fokus pada lawan bicaranya. Namja itu memberikan senyum terbaiknya dalam tekanan situasi seperti sekarang.

"Aku tahu perasaanmu, Kyuhyun-ssi. Aku tahu kau sangat berat melakukannya. Jadi, perilakumu terhadap Yoona-ssi tadi sangat kuhargai. Meski sesungguhnya aku tidak tega melihatnya." Ujar namja itu yang rupanya adalah manajer Super Junior sekaligus manajer SNSD, kelompok dimana Kyuhyun dan Yoona berada.

"Aku hanya berharap tidak terlalu menyakitinya." Ucap Kyuhyun lirih. Sang manajer menatap namja itu prihatin.

"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ucap sang manajer sungguh-sungguh sambil meremas pelan bahu Kyuhyun. Namja itu mendongak dan tersenyum lemah.

"Terima kasih, hyung. Terima kasih."

-o0o0o-

"Yoong-aa, kau mau makan apa? Satu jam lagi kita sudah harus masuk ke dalam mini van." Tanya Hyoyeon yang membawa selembar kertas dan sebuah pensil, siap mencatat pesanannya.

"Aniyo. Tidak usah eonnie, aku sedang tidak lapar." Tolak Yoona. Hyoyeon mendongak dan menatap Yoona tidak percaya.

"Kau? Tidak lapar? Shiksin sepertimu?" cecar Hyoyeon dengan kedua matanya yang membulat keheranan.

"Aku tidak lapar eon." Ucap Yoona sambil tersenyum lemah. Hyoyeon baru saja ingin mencecarnya lagi ketika ia melihat kabut itu. Kabut di mata Yoona, yeodongsaengnya.

"Kau.. tidak apa-apa?" tanya Hyoyeon, kali ini dengan nada yang lebih serius dan pelan, hampir seperti bisikan. Yoona tidak menjawab. Yeoja itu hanya tersenyum untuk menutupi kesedihannya.

"Aku ke dalam dulu eon. Aku akan menyiapkan barang bawaanku." Pamit Yoona. Hyoyeon mengangguk dan mengerti kalau Yoona butuh waktu untuk sendiri. Ia tahu, saat Yoona sudah siap maka yeoja itu akan menceritakannya sendiri. Setelah memastikan Yoona masuk kamar dan tidak terdengar isakan, Hyoyeon berjalan menjauh dan mendatangi member lainnya untuk mendata pesanan makanan mereka.

-o0o0o-

"Seohyun-aa, selamat pagi." Sapa seorang namja sambil tersenyum manis kepada seorang yeoja yang baru saja memasuki ruangan. Seohyun mendongak dan terkejut begitu melihat siapa yang baru saja menyapanya.

"Ah, annyeong Kyuhyun oppa. Selamat pagi." Balas Seohyun canggung. Tumben sekali Kyuhyun oppa menyapaku. Ditambah dia menyapaku sambil tersenyum manis sekali. Oh Tuhan, ada apa ini? Batin Seohyun. Yeoja itu lalu berjalan menghampiri Kyuhyun yang masih tersenyum manis padanya.

"Oppa, kau.. tidak apa-apa kan? Maksudku.. kau.." Seohyun terdiam, bingung harus bagaimana mengatakannya. Kyuhyun menata beberapa kertas yang berada di tangannya dan mengangsurkannya kepada yeoja itu.

"Aku tidak apa-apa. Aku hanya.. merasa senang." Jawab Kyuhyun. "Ini, ambillah. Hari ini sepertinya kita harus latihan lebih keras karena pelatih baru saja menambahkan dua lagu baru pagi tadi." Lanjutnya. Seohyun mengambil lembaran kertas tersebut dan mulai membacanya satu persatu.

"Dan sepertinya.. Sooman sajangnim menginginkan sesuatu yang istimewa dari proyek ini." Ucap Kyuhyun tiba-tiba. Seohyun langsung mendongak dan menatap kebingungan ke arahnya.

"Maksud oppa?"

"Kita tidak boleh hanya bernyanyi, tetapi kita harus menunjukkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang.. fantastis." Jawab Kyuhyun. Namja itu kini mengitari Seohyun dan kembali berhenti di depannya.

"Sooman sajangnim meminta kita untuk.. yah.. sedikit ada.. sentuhan." Lanjut Kyuhyun. Seohyun tersentak kaget begitu mendengar kata 'sentuhan'.

"Sentuhan.. sentuhan seperti apa?" tanya Seohyun. Jantungnya mendadak berdetak kencang dan membuat laju napasnya meningkat.

"Seperti ini." Jawab Kyuhyun sambil menyelipkan jemari tangan kanannya ke dalam jemari kiri yeoja itu dan kemudian menggenggamnya lembut. Seohyun menatap tidak percaya dengan apa yang Kyuhyun lakukan padanya. Ia tidak pernah menyangka kalau seseorang yang dicintainya itu mendadak menggenggam tangannya.

"Op.. oppa, apa.. apa yang.. kau lakukan?" tanya Seohyun panik.

"Aku hanya ingin memberikan contoh sentuhan itu, Hyun-aa. Mian kalau membuatmu tidak nyaman." Jawab Kyuhyun. Namja itu lalu melepas genggamannya dan berjalan mundur, membuat jarak di antara mereka sedikit lebih lebar.

"Ah, oh, aku kira.. aku pikir.. Ah, tidak oppa. Aku hanya.. terkejut." ucap Seohyun terbata-bata. Ia sedikit menyesali kepanikannya yang membuat ia harus kehilangan genggaman lembut itu dari tangannya.

"Baiklah, mungkin kita bisa mempraktikan beberapa contoh sentuhan lain nanti. Lebih baik sekarang kita mulai berlatih. Aku telah melihat dua lagu baru itu dan, yah, tingkat kesulitannya meningkat kurasa." Ajak Kyuhyun, masih dengan senyum manisnya. Pandangannya yang semula intens menatap Seohyun kini serius menekuri lembaran kertas di tangannya.

"Ah, ne, oppa. Aku juga.. memikirkan hal yang sama." Sahut Seohyun yang berusaha untuk menguasai dirinya kembali. Kyuhyun mendongak dan menatap Seohyun.

"Kau memikirkan hal yang sama? Benarkah? Hmm, apa mungkin kita berjodoh?" Seohyun mendongak cepat dan membulatkan kedua matanya. Apa tadi yang Kyuhyun oppa katakan? Berjodoh? Dia mengatakan berjodoh.. kepadaku? Apa telingaku tidak salah dengar? Atau jangan-jangan aku sedang bermimpi saat ini?

-o0o0o-

30 menit sebelumnya

Seorang namja memasuki sebuah ruangan yang rupanya masih kosong. Di tangannya tergenggam beberapa lembar kertas yang pagi tadi diberikan oleh pelatihnya untuk dipelajari hari ini. Dua lagu baru untuk kalian, itu pesan yang ditinggalkan pelatihnya.

Namja itu memandang nanar ke sekeliling ruangan dan berhenti pada pantulan bayangannya dalam cermin besar yang terpasang di salah satu sisi dinding ruangan. Kau harus dan pasti bisa. Kau tidak boleh mengecewakan siapapun. Yah, tepatnya "siapa" yang telah menjadikanmu seperti sekarang.

Setelah bertekad seperti itu, namja yang baru memasuki tahun kedua puluhnya itu berputar membelakangi cermin. Dan di saat itulah pintu ruangan terbuka, memunculkan sesosok yeoja manis berparas lugu yang tampak terkejut melihatnya. Inilah saatnya. Mainkan peranmu dengan baik, Kyuhyun-aa.

"Seohyun-aa, selamat pagi."

-o0o0o-

NB : I wanna thanks for my reviewers. Sorry for my stupid-brain-which-doesn't-know-how-to reply your review, but I'm so glad to receive yours. I'm still waiting for your review :)