Past, Present, and Future by Roux Marlet
Chapter 11: The Fisherman and the Swordsman
Kirigakure, Februari 1969.
.
"Otoo-san, malam ini kita jadi berlayar?"
Pria paruh baya itu menyahut pertanyaan putranya, "Ya, Kisame. Semoga malam ini arusnya tidak besar."
Kisame berseru, "Kalau begitu, aku pergi dulu, Otoo-san."
"Ya, hati-hati."
.
.
Kisame mendatangi sebuah dojo di desa Kiri. Di bangunan kecil itu ada sebuah papan bertuliskan "Perguruan Pedang Kirigakure".
"Zabuza-senpai! Hari ini aku hanya bisa latihan sampai sore," serunya pada seorang pemuda bermasker yang sedang duduk di halaman mengasah pedangnya.
"Ada kerjaan di laut lagi, Kisame?" tanya pemuda yang bernama Zabuza itu.
Kisame mengangguk. Dia menurunkan pedang dalam sarung yang dipanggulnya dari rumah.
Zabuza meletakkan pengasahnya. "Ayo. Sudah siap?"
"Ya."
.
.
"Aku pergi dulu, Samehada," bisik Kisame pada pedangnya malam itu.
"Anakku mulai gila, bicara dengan pedang," ujar ayahnya yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Otoo-san!" Kisame berseru, kaget dan malu. "Aku… aku hanya sangat sayang pada pedangku ini." Wajah kelabunya memerah.
Ayahnya terkekeh. "Ya, aku tahu itu, Kisame. Kau berusaha sangat keras demi mendapatkannya."
Ujian masuk Perguruan Pedang Kirigakure sangat sulit. Kisame sudah mencoba tiga kali dan selalu gagal. Dan saat mencoba yang keempat, ayahnya berkata, "Kalau memang seni pedang bukan jalanmu, ya sudah. Yang penting kau yakin pada dirimu."
Kali itu, akhirnya, Kisame lolos ujian. Dan dia diperbolehkan menempa pedangnya sendiri, yang dinamainya Samehada. Tentu saja pedang itu sangat berharga baginya.
Kisame menyeringai senang mengingat peristiwa itu. Ayahnya memang bijak.
"Siap berlayar?" seru ayahnya.
"Aye, aye, aye, Kapten!"
.
.
Hoshigaki Fuguki sudah menjadi nelayan sejauh orang dapat mengingatnya. Terkadang, putra tunggalnya Kisame ikut melaut. Mereka punya sebuah kapal kecil—keluarga Hoshigaki tergolong cukup mampu dalam kelas nelayan.
Istri Fuguki meninggal saat melahirkan Kisame.
Kisame sendiri anak yang mandiri dan berbakti. Setelah lulus SMA di Kiri, dia sempat bekerja di sebuah warung makan seafood di desa yang sama. Hanya saja setelah diterima di perguruan pedang, Kisame cuma bisa memasak di sana seminggu sekali.
Ayahnya tidak mempersoalkan Kisame yang tidak bisa bekerja penuh waktu. Toh mereka tidak kekurangan meski tinggal di pondok tepi pantai dari kayu.
Rumah mereka adalah yang terdekat dari laut. Di dekatnya ada gudang kecil yang juga terbuat dari kayu, digunakan untuk menyimpan peralatan berlayar.
.
.
"Malam ini ikannya sedikit sekali," keluh Fuguki.
"Coba kita lebih ke tengah, Otoo-san," usul Kisame.
Fuguki menggerakkan kemudi ke utara.
Sesaat kemudian, Kisame menurunkan jala di samping kapal.
Mereka menunggu.
Jala itu mulai bergetar. Kisame menariknya ke atas. Terlalu berat. Fuguki ikut menarik.
"Wah, dapat banyak!" seru Fuguki.
Ikan-ikan itu selain banyak jumlahnya, besar-besar ukurannya. Dalam sekejap, kapal mereka terombang-ambing keberatan muatan.
Sepuluh menit kemudian, dengan gerakan lamban, kapal kecil itu bertolak ke daratan.
"Coba kaujual ke Maruo-machi saja, Kisame," seru Fuguki dari kemudi. "Pasti lebih laku."
Kisame berpikir-pikir. "Oke, Otoo-san. Masalahnya a—"
DUK.
Kapal mereka membentur sesuatu.
"Apa barusan itu?" tanya Fuguki.
Kisame membungkuk ke luar kapal namun tidak bisa melihat apa-apa. Tapi persis di ujung kapal ada sebuah bayangan yang lebih gelap dari sekitarnya.
"Otoo-san! Tolong lampu!" Kisame berseru sambil menunjuk.
Fuguki menyalakan lampu darurat dari belakang dan disorotkannya ke tempat yang ditunjuk.
"Apa itu, Kisame?"
.
.
"Otoo-san! Astaga!"
Sesosok manusia dengan dominasi warna kehijauan timbul-tenggelam di samping kapal mereka.
Kisame bertindak cepat. Dia turun ke air dan meraih orang itu, sementara Fuguki mengambil tali. Dia membantu Kisame menaikkan orang itu.
Seorang perempuan. Berambut hijau.
"Dia… Dia tidak… mati kan, Otoo-san?"
Fuguki meraba pergelangan tangan si perempuan.
"Dia masih hidup," ujarnya. "Tapi dekat dengan kematian. Kena tembak," tambahnya sambil menunjuk bekasnya di baju putih si perempuan.
"Kemudikan kapalnya, Kisame," perintah Fuguki.
Kisame berlari ke kemudi.
Wanita itu tidak bernapas. Fuguki menjalankan prosedur pemberian napas buatan.
.
.
"Bagaimana sekarang, Otoo-san?"
"Pelurunya masih di dalam tubuhnya. Harus dikeluarkan."
"Bagaima—"
"Dulu sekali, aku sempat jadi dokter bedah."
Andai situasinya tidak setegang ini, Kisame pasti mengira ayahnya sedang berkelakar.
"Ambilkan morfin di lemari, Kisame."
.
.
Perempuan itu selamat. Pelurunya berhasil dikeluarkan—kata Fuguki benda itu hanya beberapa senti dari jantung—dan denyut nadi perempuan itu semakin kuat. Tapi dia belum sadarkan diri.
Siapa dia? Kenapa dia ditembak? Mereka tidak bisa tahu sebelum perempuan itu bangun.
Kisame dan ayahnya mendiskusikan hal itu esoknya.
"Otoo-san tidak lihat apa yang ada di dahinya?"
"Bekas pedang, aku tahu, Kisame."
"Dia diserang dengan pedang dan ditembak senjata api. Aneh."
Fuguki mengusap dagunya, berpikir.
"Dia bukan orang Jepang," ujar Kisame. "Eropa atau Amerika, barangkali."
"Mungkin." Fuguki menerawang ke kamar tempat perempuan itu terbaring.
.
.
Dua hari kemudian, ada dua orang asing datang ke rumah mereka.
Fuguki sedang memperbaiki jala di gudang, jadi Kisame yang menerima kedua tamu.
"Permisi. Apa kau melihat seorang wanita baru-baru ini?" tanya yang satu, kurus dan berambut pirang.
"Tinggi, kulit putih, rambutnya hijau panjang," tambah satunya, bertubuh gempal.
Kisame mengernyit.
Kedua tamu itu kulitnya juga putih dan mereka bicara dalam bahasa Jepang yang kacau sekali.
Si kurus melihat perubahan ekspresi Kisame dan menyambar, "Kau lihat dia? Di mana dia sekarang?"
"Hei, pelan-pelan, Guatiche," tegur si gempal. Dia berdehem. "Apa kau pernah melihatnya?" tanyanya dengan nada sopan.
Kisame bersikap waspada. "Siapa kalian?"
Si gempal menjawab, "Kami turis dari Spanyol."
"Lalu? Wanita itu teman kalian?"
Si kurus Guatiche menanggapi, "Benar! Kau memang tahu dia, kan?!"
"Tolonglah, bantu kami. Kami sudah mencarinya berhari-hari tapi belum ketemu," mohon si gempal.
"Oh iya," ujar Guatiche, "satu hal yang pasti membuatmu mempercayai kami. Wanita itu punya tato. Angka tiga."
Mata Kisame melebar.
Saat itu, Fuguki kembali dari gudang.
.
.
Perempuan itu bernama Nell Tu, dua puluh dua tahun. Kedua tamu itu adalah sepupunya, Birstanne dan Guatiche. Ini pertama kalinya mereka melancong ke Jepang.
Birstanne cerita bahwa mereka tak sengaja mendengar pembicaraan turis lain di kapal saat menyeberang dari Korea mengenai narkoba dan semacamnya, dan mereka jadi dikejar-kejar si turis dan gerombolannya.
Fuguki percaya pada kedua orang asing itu. Kisame terpaksa juga. Kedua orang asing itu tahu bahwa Nell Tu punya sebuah tato—tato angka tiga. Jarang orang menato angka itu.
Karena Nell Tu belum sadar dan Fuguki berpendapat tak baik jika dia dibawa pulang dalam kondisi seperti itu, gudang kecil Fuguki beralih fungsi jadi rumah sementara bagi Birstanne dan Guatiche.
Nell Tu memang diincar bahaya. Tapi, menurut Fuguki, sangat kecil kemungkinannya bahaya itu akan menghampiri sebuah pondok kayu kecil di tepi pantai yang sepi.
.
.
Beberapa minggu berlalu, dan Nell Tu akhirnya bangun.
Ketiga orang asing itu berpamitan pada Fuguki dengan terburu-buru. Saat itu, Kisame sedang latihan di Kiri.
Nell Tu wanita yang cukup sopan. Dia membungkuk ala Jepang saat mengucapkan terima kasih. Bahasa-nya juga bagus.
"Terima kasih atas kebaikan kalian," ujar wanita itu. "Tapi kami tak bisa lama-lama di sini. Banyak yang harus diurus."
Saat Kisame pulang sorenya, Fuguki tengah melamun. Memegangi sebutir manik berwarna hijau.
"Kalungnya," gumam Fuguki.
"Kalung?" tanya Kisame heran.
"Manik kalung ini menyelamatkan hidupnya. Dia sudah bangun dan pulang."
.
.
Suatu sore di akhir bulan Maret.
Kisame pulang agak cepat. Dia berjalan cepat-cepat menuju rumah. Awan badai menghitam di atas kepalanya.
Cuaca buruk, firasat buruk.
Sepertinya badai akan parah. Kalau sudah begitu, rumahnya pasti bocor di mana-mana, dan kebanjiran.
Sudah betul-betul gelap ketika Kisame sampai di depan rumahnya. Dibukanya pintu.
"Otoo-san…"
Tepat saat itu petir menggelegar. Hujan mulai turun.
Kisame meletakkan pedang di dekat pintu dan melepas sepatunya.
"Otoo-san," panggilnya lagi.
Ada sebuah suara di dapur. Seperti suatu benda berat yang jatuh ke lantai kayu. Lalu erangan Fuguki.
Kisame terkejut dan segera berlari ke dapur.
"Otoo-san tidak apa—"
Pemandangan yang dilihat Kisame membuat kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
Di sana, di tengah dapur, berdiri seorang… gadis, memegang pedang kecil berlumuran darah. Dan di bawahnya… Fuguki. Tercabik di sana-sini, tapi masih hidup.
"Ki…" rintih pria sekarat itu, "same…"
"Same?" ulang si gadis—pemuda ternyata. Suaranya berat tapi wajah dan rambutnya seperti perempuan. Pemuda itu tersenyum miring dan mengayunkan pedangnya ke bawah—menghabisi nyawa pria malang itu.
.
.
Kisame menerjang pemuda itu tanpa pikir panjang.
Orang ini membunuh ayahnya.
Lihat saja! Kisame tidak akan tinggal diam!
Tapi Kisame lupa bahwa dia tak bersenjata. Pedang si pemuda menebas bagian depan tubuhnya dengan telak.
Kisame terjatuh, mengerang kesakitan dan baru menyadari kebodohannya. Bangkit serabutan, dia keluar dapur dan meraih pedangnya sendiri—pemuda itu menyusulnya.
Kisame menyerang dengan gencar, dengan gelora kemarahan yang membuncah di dadanya. Tapi pemuda itu lebih lihai darinya. Berkali-kali Kisame kena gores.
"Siapa kau?!" raung Kisame.
"Trepadora," jawab si pemuda sambil tersenyum meremehkan. "Kau cukup bagus. Lebih seru daripada ayahmu—eh, apa dia kakekmu? Kasihan dia, sudah tua. Tidak bisa diajak main."
Kisame mengertakkan gigi.
.
.
Kisame bersandar ke dinding, terengah kehabisan napas. Samehada tergeletak tak jauh darinya.
Pemuda Trepadora itu menahan Kisame di dinding dengan pedangnya. Dia mendecak kesal. "Payah. Pengecut. Secepat ini kau menyerah?"
Trepadora mengetuk-ngetuk jam tangan atau apalah itu yang ada di tangan kanannya.
Kisame merasa tidak mampu lagi.
Tapi… ayahnya…
Sesuatu dalam diri Kisame membuatnya menendang perut Trepadora. Pemuda itu terjengkang sambil berseru kaget. Kisame menyambar Samehada dan menyerang balik.
Trepadora melompat menghindari Kisame, dan naik ke atas meja.
Tapi dia ceroboh. Trepadora mengayunkan pedangnya ke atas seakan hendak membelah Kisame, tapi…
"Waa!"
Ada kilatan listrik selama sepersekian detik, lalu kegelapan total memenuhi rumah itu.
Pedang Trepadora mengenai lampu ruangan dan menyebabkan korslet. Pemuda itu sendiri kena setrum. Tapi tidak membuatnya tumbang.
Kisame melihat kesempatan kabur. Dia di dekat pintu. Tapi Trepadora bisa mendengarnya bergerak dalam kegelapan dan dia menyerang lagi…
Kisame mendengar pedang berdesing ke arahnya. Diacungkannya Samehada untuk mempertahankan diri dan diayunkannya di saat yang kira-kira tepat…
"Arrgggh!"
"Awww!"
Sesuatu yang tajam menyerempet bahu Kisame.
Sesuatu yang berat menimpa kakinya.
Didengarnya Trepadora terbatuk di depannya, tersengal-sengal, lalu membisikkan kata terakhirnya,
"Tiburon…"
.
.
Kisame berlari sepanjang jalan utama Kirigakure. Hujan semakin deras.
Dia merasa seperti bermimpi.
Tapi sekujur tubuhnya sakit dan perih. Dan lebih perih lagi hatinya.
Kisame tidak percaya dirinya seorang pembunuh.
Pemuda Trepadora itu membunuh Fuguki!
Itu bukan alasan untuk membunuh orang. Fuguki pasti tidak suka melihat putranya menjadi pembunuh.
Siapa yang tahu Fuguki suka atau tidak? Trepadora membunuhnya.
Dan Kisame membunuh pemuda itu sebagai balasannya.
Pembunuh.
Hoshigaki Kisame seorang pembunuh…
.
.
Seharian Kisame berjalan tak tentu arah, Samehada setia di punggungnya, sampai pikirannya menjernih.
Kisame tidak punya nyali kembali ke rumahnya. Sekarang dia lapar. Dan tak punya uang satu yen pun.
Sanak saudara? Tidak ada.
Kisame memutuskan pergi ke Maruo-machi. Setidaknya ia punya seorang kenalan di sana.
Kisame mencuci wajah dan tubuhnya di sungai. Lalu berjalan lagi menuju ke sebuah supermarket di Maruo.
Tapi, begitu tiba di sana, Kisame diberi tahu bahwa Uchiha sudah berhenti bekerja sejak dua minggu yang lalu.
Kisame tidak berani bertanya di mana rumah kawannya itu, karena petugas kasir yang baru memandanginya dengan ekspresi aneh.
Keluar, Kisame kembali bingung. Tak tahu harus ke mana. Dia lalu pergi ke papan denah kota.
Kisame memandangi denah itu, tapi pikirannya tidak tertuju ke sana.
Dia teringat apa yang dilakukannya sehari sebelumnya, dan hatinya kembali seperti ditusuk pedang.
Beberapa ibu lewat di belakangnya, habis berbelanja di toko roti di seberang jalan.
Roti-roti itu masih hangat. Harum.
.
.
Kisame berjalan ke pasar yang sedang ramai-ramainya.
Matanya mencari-cari kios roti atau semacamnya.
Kruuuk.
Laparnya tak tertahankan.
Kisame menelan ludah saat menemukan satu kios roti putih.
Tak apalah mencuri sedikit. Toh dirinya sudah jadi penjahat.
Pemuda itu menyeruak keramaian dan mendekati kios tersebut lalu dengan lihai meraih sepotong besar roti.
Hup. Dalam sedetik, roti itu berpindah ke tangan Kisame. Disembunyikannya ke kantong jaketnya. Dia berjalan kembali, mencoba bersikap biasa.
Tidak ada siapapun yang berteriak, atau menahannya. Sepertinya tidak ada yang melihat aksinya barusan.
Di pertigaan yang agak sepi, Kisame membelok. Tempat itu adalah gang buntu di antara dua gedung tinggi.
Kisame mengeluarkan hasil curiannya dan matanya bersinar bergairah.
Tahu-tahu di belakangnya terdengar desingan pedang.
Dalam sepersekian detik, refleks Kisame yang bagus membuatnya berbalik tepat waktu sambil mencabut Samehada—rotinya terjatuh ke tanah.
Traang.
Hal pertama yang dilihat Kisame dan membuatnya terkejut adalah sebuah alat, yang lebih mirip sabit raksasa pemotong rumput daripada pedang, bersilangan dengan Samehadanya. Lebih terkejut lagi karena pemilik pedang itu mendadak menarik pedangnya dan mundur. Seorang pria berambut perak dan berkalung jimat.
"Orang yang tepat, Pein," ujar pria itu.
Kisame masih melongo—penampilan pria itu norak sekali—dan ia bahkan tak menyadari makanannya raib dari tangan.
Seorang pria lain, berambut jingga cerah dan bermuka penuh tindikan, muncul di belakangnya. Dia menjulurkan tangannya pada Kisame dan berkata,
"Bergabunglah dengan kami, Pencuri Roti."
Malam hari di sudut kota Maruo. Beberapa orang menggelar dagangan—barang antik, tapi rupanya bukan hanya itu. Narkoba, senjata api, permata, dan banyak lagi.
Orang-orang itu mengenakan pakaian hitam dengan lambang awan merah. Salah satunya berambut oranye dan wajahnya di-piercing.
Gambar-gambar bergerak cepat.
Kali ini, masih orang-orang yang sama, menumpang kapal dagang dengan membawa kotak-kotak besar.
Hoshigaki Kisame ada di sana, di antara orang-orang itu.
Dan Itachi bisa melihat dirinya berdiri di samping Kisame.
.
.
"Penglihatan macam apa itu?"
Itachi bergumam pada diri sendiri.
Sejak hari itu, Itachi jadi sering mendapat pemandangan masa depan dengan mata sharingan-nya. Penglihatan itu datang sendiri dan hilang sendiri, Itachi tak bisa mengaturnya. Sekali bahkan muncul saat dia sedang menggosok gigi—dari kaca wastafel itulah dia tahu bahwa matanya berubah warna jadi merah ketika melihat.
Semua penglihatan itu terjadi.
Salah satu perusahaan otomotif Hashirama Senju bangkrut, minggu lalu. Tetangganya, Akimichi Chouji, masuk rumah sakit gara-gara keracunan makanan, lima hari lalu. Seorang narapidana gila kabur dari penjara dan tertangkap di dekat Maruo, tiga hari setelahnya.
Dan malam ini…
.
.
.
To be continued.
Tiburon (Spa): Hiu, 'same' dalam bahasa Jepang
Maruo-machi: Kota Maruo
.
…Roux thinks that this chap is not good enough… 'T_T
.
Sebagai prajurit kelas tiga batalion es-em-a, Roux izin hiatus sementara karena akan maju berperang *plaak
Perang ujian wawawa =,= minggu depan udah ujian praktik! Bentar lagi US trus UN! *stress sendiri
Roux akan kembali update akhir April atau sekitar itu.
Yang mau maju ujian juga, ayo semangat! n_n (Doakan ya! *smirk)
