Can You See Me?
Bleach belongs to Tite Kubo
Chapter 11
.
.
.
Ichigo tidak mengerti, apa ada yang salah dengan pertanyaannya. Karena tiba-tiba, reiatsu Yuzu mulai stabil kembali. Menandakan bahwa sang adik sudah berhasil menahan emosinya. Seulas senyum diberikan Ichigo untuk Yuzu, tidak tahu untuk apa ― tapi dia senang jika Yuzu tidak lagi marah padanya walaupun itu hanya perkiraannya saja.
Tangan pemuda Kurosaki itu terangkat untuk meraih tangan Yuzu. Iris sang shinigami representative itu kembali melebar, dia terkejut dengan mata sang adik yang tiba-tiba menatapnya. Tatapan itu terlihat ... menyakitkan. Rasa terkejutnya tidaklah sampai disitu, Yuzu tiba-tiba saja berlari melewatinya. Meninggalkan sang shinigami dengan penuh keterkejutan.
Tangan Ichigo yang masih terangkat bergetar entah karena apa. Tubuhnya seolah kaku oleh tatapann Yuzu, tatapan bak medusa yang membuatnya mematung seketika. Rasa khawatir menyadarkan Ichigo dari diamnya, Ichigo dengan cepat berbalik untuk mengejar Yuzu. Tapi sekali lagi, suara dari salah satu pagar rumah menangkap perhatiannya. Seekor kucing hitam yang tidak lain adalah wujud hewan dari Yorouichi Shihoin berdiri dengan anggun disana.
"Yorouichi-san, kenapa Kau disini?" tanya Ichigo seraya menahan urgensinya untuk mengejar Yuzu. Kucing hitam itu manatap ichigo sendu dengan iris keemasannya, "Pergilah ke Urahara shoten, Aku yang akan mengejar Yuzu."
"Tidak, ada hal yang harus aku katakan padanya." Tolak Ichigo yang kembali menatap jalan di depannya. Terdengar raungan kecil dari Yorouichi sebelum kembali membalas pernyataan Ichigo, "Ada banyak hal yang tidak Kau tahu selama tiga tahun ini. Termasuk apa yang Yuzu rasakan saat ini, emosinya sedang tidak stabil. Aku yakin, Kau bahkan belum tahu apa yang ingin Kau katakan padanya."
"Tapi ...," Ichigo menghentikan kata-katanya ketika tidak menemukan kata yang tepat untuk membalas perkataan kucing hitam tersebut.
"Bukanlah prevalensi dirimu untuk memikirkan banyak hal dalam bertindak, tapi kali ini berbeda. Ini keluargamu, bukan lawanmu. Ada banyak hal yang harus kau pertimbangkan sebelum memutuskan sesuatu, terlebih untuk sesuatu yang tidak kau ketahui dengan baik. Tidak bermaksud menyakitimu, jika kau bertindak sesuka hatimu saat ini ― Kau hanya akan terlihat seperti orang asing dalam keluarga Kurosaki."
Yorouichi pun berjalan meninggalkan Ichigo untuk mengejar Yuzu, meninggalkan pemuda Kurosaki itu dalam pemikirannya. Dia hanya berharap bahwa Ichigo akan lebih dewasa dalam menyikapi masalah kelurganya, tidak terpikir olehnya untuk menyinggung shinigami muda itu sedikit pun. Walaupun dia tahu, perkataannya telah menyinggung pemuda itu.
Urahara Shoten
Toushiro berjalan perlahan menuju sebuah ruangan, di depan pintu ruang tersebut terlihat seorang pemuda berambut merah yang duduk dengan wajah tertunduk. Dia sering melihat pemuda itu dulu, Hanakari Jinta. Salah satu anak yang sangat berisik yang Urahara ambil sebagai penjaga tokonya.
"Tunggulah disini sampai Urahara-san selesai memeriksanya," ujar Jinta tanpa mengalihkan pandangannya pada sela pintu shoji ruangan itu. Toushiro tidak membantahnya, dia mengikuti apa yang dilakukan pemuda rambut merah tersebut. Mencari posisi yang baik agar dia dapat melihat lewat sela shoji tersebut, Toushiro pun mulai duduk di belakang Jinta.
"Tidak ada yang memberitahumu kan? Tentang Karin," bisik Jinta pada Toushiro. Toushiro yang tadinya berusaha melihat ke dalam mengalihkan perhatiannya pada Jinta, dia tidak mengerti apa yang dimaksud bocah itu. "Apa yang kau maksud, Hanakari-san?" tanya Toushiro penasaran.
"Orang-orang bodoh itu selalu saja menganggap kita anak kecil," gerutu Jinta. Toushiro yang awalnya tersinggung dengan kata 'anak kecil' pun mengurungkan niatnya untuh menyela Jinta, dia butuh anak itu tenang seperti ini untuk menjelaskan sesuatu tentang Karin padanya.
Menarik nafas panjang, Jinta pun melanjutkan perkataannya. "Karin, dia seharusnya tidak disini. Sejak kejadian itu, dia sudah menderita terlalu banyak ..."
Toushiro terdiam di tempatnya bahkan dia tidak bergeming saat Urahara membuka pintu shoji tersebut. Apa yang diceritakan Jinta padanya sungguh membuatnya terpukul. Dia tidak tahu, tidak tahu bahwa dirinyalah salah satu orang yang membuat Karin menderita selama ini.
Urahara yang melihat Toushiro seperti itu mengalihkan pandangannya pada Jinta, tapi pemuda rambut merah itu membuang muka kearah lain. Dia tidak suka dianggap penyebab masalah bagi Taicho disampingnya, karena semua yang dikatakan olehnya itu benar ― Toushiro lah yang telah membuat Karin menderita.
Mantan kapten divisi 12 itu hanya menggelengkan kepalanya lemah dan membuka tensen kecilnya untuk menutupi sebagian wajahnya. Dia berjalan keluar meninggalkan ruangan dengan Tessai yang mengikuti dibelakangnya, laki-laki bertubuh besar itu memberikan pandangan iba pada dua pemuda yang duduk di depan pintu.
Setelah keduanya keluar, Jinta beranjak dari tempatnya dan memasuki ruangan. Meninggalkan Toushiro yang diam mematung.
Isshin pov
"Tou-san, Aku hanya bermain bola sebentar saja. Kenapa Kau begitu khawatir sih," gerutuan Karin mengisi ruang kecil klinik rumahku. Aku melihat peluh di wajahnya yang baru saja selesai bermain dengan teman-temannya, dengan cepat Aku memalingkan wajahku. "Kau merasakannya 'kan, Karin-chan?" ujarku seraya membereskan berkas beberapa pasien yang tertumpuk di meja. Tentu saja, tumpukan berkas itu tidak ada yang perlu lagi dirapihkan. Aku hanya tidak ingin menatap langsung mata kelam yang telah kehilangan penglihatannya itu.
"Dasar, baka Oya-jii! Kau tidak perlu mengkhawatirkanku," suara Karin terdengar bergetar saat mengatakannya. Walaupun Aku tahu dia berusaha agar tampak biasa dihadapnku, tapi Aku menyadarinya. Gadis kecilku yang dulu sering menangis itu, kembali ingin menangis saat ini.
"A-aku akan ke kamarku," Karin berbalik menuju pintu. Tubuhnya tampak bergetar dari belakang dan suara isak tangis mulai terdengar di telingaku. Dengan cepat Aku berdiri dari kursiku dan meraih tubuhnya, memeluknya erat. Sungguh, Aku adalah ayah yang sangat tidak berguna.
Kemeja kerjaku basah oleh airmatanya, airmata yang tidak kuharapkan jatuh dari mata yang perlahan kehilangan sinarnya itu. "Berhentilah menangis, Karin-chan!" pintaku lembut. Berharap tangis tidak datang padaku, Aku memeluk Karin lebih erat.
"Tou-san, sampai kapan rantainya bertahan?" tanyanya dengan suara yang lebih tenang. Tapi suara itu semakin menyakitkanku, semakin membuat ulu hatiku bergetar entah apa sebabnya.
"Bertahanlah, Karin-chan! Bertahanlah sampai Ichigo kembali."
"Tidak bisakah Ichi-nii pulang lebih cepat, ini semakin menyakitkan dari sebelumnya."
"Bertahanlah!" dan satu kata mengisi sunyi ruang itu.
...
Terdiam. Ichigo terdiam dalam pemikirannya. Bahkan satu pun kata tidak terlintas dipikirannya, hanya terpaku dan memandang pada arah Yuzu pergi. Entah detensi seperti apa yang Yoroichi Shihoin berikan padanya. Rasanya, setiap rasa pedih bercampur jadi satu. Terlalu banyak pertanyaan sehingga dirinya tidak tahu lagi pertanyaan apa yang lebih dulu ditanyakannya.
Arisawa Tatsuki. Yang sejak tadi mendengar pembicaraan Ichigo dan seekor kucing yang dikenalinya di toko Urahara - memandang iba pada teman masa kecilnya. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Perempuan yang kini bekerja sebagai seorang polisi itu hanya terdiam berdiri di belakang Ichigo. Dia bingung harus menyapa seperti apa.
Situasi seperti ini bukanlah saatnya untuk bertegur sapa setelah lama tidak bertemu. Tatsuki paham akan itu. Dia mungkin adalah gadis tomboy yang tidak mudah terbawa perasaan, tapi rasanya sulit untuk tidak memakai perasaan dalam masalah ini. Pasalnya, dia tahu apa yang terjadi pada adik temannya itu tiga tahun lalu dan setelahnya. Dirinya pun sepertinya mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Setelah lama tidak bertemu dan bisa meluangkan waktu untuk menemui Ichigo. Tatsuki tidak berharap untuk menemuinya di antara hal seperti ini. Tapi dia tidak ingin pergi dan kembali begitu saja tanpa dapat menyapa teman masa kecilnya itu. Tugasnya sebagai polisi terlalu padat untuk sekedar bertegur sapa setelah ini. Mungkin, hanya mungkin. Dengan satu dua kata Tatsuki mampu menenangkan sahabatnya itu —walaupun dia tidak yakin bisa untuk melakukannya. Setidaknya, rindunya atau kesedihan Ichigo dapat terkurangi sedikit.
"Ichigo ...," Ichigo yang mengenali suara itu langsung berbalik dengan ekspresi yang sama. Dipaksakannya sebuah senyum untuk teman masa kecilnya itu, Arisawa Tatsuki.
Sakit. Rasanya sakit melihat Ichigo yang seperti ini. Tatsuki tidak pernah bermasalah pada sifat cengengnya sewaktu kecil atau sikap egois dan keras kepalanya itu. Tapi saat ini, dia tidak bisa melihat senyum terpaksa seperti itu. Kenapa tidak dengan memarahinya atau mengejek ketika Tatsuki mengusik diamnya, atau menangis atas perkataan kucing itu. Tatsuki tidak akan aneh jika melihat reaksi seperti itu dari temannya.
"Marahlah atau menangis juga tidak apa."
Ichigo hanya menundukkan kepalanya. "Aku akan pulang, lebih baik besok lagi bertemu." Laki-laki berambut jingga itu pun berjalan perlahan melewati Tatsuki.
"Kau selalu menundanya. Tidak seperti Ichigo yang ku kenal, selalu ingin melakukan sesuatu secepat mungkin."
"Semua orang berubah."
"Itulah yang membuatmu tidak tahu apapun sampai saat ini."
Degh!
Degup jantungnya berpacu lebih cepat karena perkataan Tatsuki satu persatu kata yang sulit dicerna sebelumnya seolah menguar membentuk makna. Perkataan Yoroichi menusuknya ditambah apa yang baru saja dikatakan teman masa kecilnya itu. Sakit! Kepalanya terus mengulang setiap kata dan tanda yang dulu terabaikannya.
"Siapa? Siapa yang datang bersamamu, Ichi-nii?"
"Sah-sahkit!"
Yuzu menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap mata sang kakak saat ini. "Obat penenang, Ichi-nii. Karin-chan sering bermimpi buruk akhir-akhir ini,"
"Baguslah! Kau tahu 'kan Rukia suka merangkai bunga. Seingatku, bunga-bunga dari karangan itu adalah cepat sembuh atau berduka cita. Ya, semacam itulah."
"Kalau begitu, kenapa kalian tidak kembali tiga tahun lalu. Se-seandainya ... tidak, seharusnya kalian datang lebih cepat. Kalau lebih cepat, maka semuanya tidak akan jadi seperti ini. Dan Karin, dia ...," Yuzu memegang kepalanya erat.
"Berhenti! Berhenti membicarakan hollow atau lainnya, Ichi-nii! Bisakah Kau bersikap seperti dulu, seperti seorang kakak biasa yang menghawatirkan adiknya. Yang akan datang jika kami membutuhkanmu, tidak bisakah?" Airmata perlahan jatuh dari wajah gadis itu.
"Bukanlah prevalensi dirimu untuk memikirkan banyak hal dalam bertindak, tapi kali ini berbeda. Ini keluargamu, bukan lawanmu. Ada banyak hal yang harus kau pertimbangkan sebelum memutuskan sesuatu, terlebih untuk sesuatu yang tidak kau ketahui dengan baik. Tidak bermaksud menyakitimu, jika kau bertindak sesuka hatimu saat ini ― Kau hanya akan terlihat seperti orang asing dalam keluarga Kurosaki."
"Itulah yang membuatmu tidak tahu apapun sampai saat ini."
Perlahan —dengan tubuh yang bergetar, Ichigo mengangkat tangannya dan memegang kepalanya. Bertindak seolah dia bisa menghilangkan masalah yang tiba-tiba muncul dikepalanya. Tanpa disadarinya, shinigami tersebut mulai meracau akan kesakitannya yang semu. Memukul kepalanya dengan keras dan membiarkan air mata terjatuh begitu saja darinya.
Arisawa Tatsuki. Melihat temannya dengan rasa iba. Dia kembali melihat seorang Kurosaki Ichigo menyalahkan dirinya sendiri. Tapi kali ini untuk orang yang berbeda, Kurosaki Karin. Dulu, saat kematian Kurosaki Masaki pun seperti ini. Mungkin dulu dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang Ichigo rasakan, tapi seperti yang dikatakan Ichigo bahwa semua orang berubah.
Dengan sigap, Arisawa menarik lengan Ichigo. Menyamakan dirinya disamping temannya itu dan "Ugh —!" brugh!
Tubuh Ichigo terpelanting tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tendangan keras yang diterimanya diperut membuat Ichigo sedikit meringis. Ditatapnya Tatsuki yang berdiri memandangnya, nafas temannya itu sedikit terengah karena berisaha menendangnya dengan sangat keras.
Tapi, lagi —Ichigo hanya melengos dan menatap sisi lain jalan. Dia tidak bisa melepaskan pikirannya dari Karin, tidak walaupun rasa sakit seakan menjalar ketubuhnya karena tendangan Tatsuki.
"Ichigo, lihat aku. Lihatlah aku, BAKA!"
Tersentak. Kurosaki Ichigo seakan tersadar dari lamunannya. Dia sudah biasa mendapat tendangan atau pukulan dari temannya itu, tapi tidak bentakan demgan nada tinggi. Diangkat wajahnya untuk menatap perempuan berambut pendek itu.
Arisawa Tatsuki menarik nafas panjang dan mengaturnya. Butuh tenaga cukup banyak agar dapat menendang temannya yang sangat terlatih dalam kekuatan fisik itu. Menghiraukan rasa sakit dikakinya, Tatsuki menatap tajam temannya yang mulai memerhatikannya itu.
"Baka! Aku tidak menyangka bahwa seorang shinigami bisa selemah ini." Tidak ada respon, Ichigo seolah tidak terpengaruh oleh sarkamse yang ditujukan kepadanya. Mulai mengerti apa yang diinginkan Ichigo darinya, Tatsuki menarik nafas panjang.
"Awalnya aku hanya ingin menyapamu, tapi segalanya tidak berjalan baik hari ini. Mungkin benar, tidak ada yang bisa disembunyikan diantara teman. Walaupun aku berharap tidak menjadi pembawa berita buruk."
Arisawa Tatsuki mengulurkan tangannya, "Berdirilah dan akan kuceritakan semuanya padamu!"
.
.
.
Author note.
Terima kasih untuk yang telah merevieww fic ini!
Aku akan update chapter selanjutnya dalam waktu yang cukup lama (mungkin 2 minggu atau entahlah). Tapi tenang, aku akan memastikan bahwa chapter depan akan sangat spesial. Full of flashback! So, semoga kalian masih mau menunggu ceritaku ya.
MK
