-Intermission: Those Who Observed; Zesshi Zetsumei-
Floating Castle Eryuentiu terletak di sisi tenggara Southward Dessert, sebuah padang pasir yang menjadi pemisah antara kastil melayang tersebut dengan Elf Kingdom. Jika berjalan dari Dragonic Kingdom, maka mereka harus pergi jauh ke selatan untuk sampai ke kastil tersebut. Karena itu, mereka harus menyeberangi Border Lake untuk sampai ke sana, atau, jika tidak mau, mereka bisa mengambil jalan memutar lalu kembali berjalan ke selatan untuk mencapai kastil melayang tersebut, namun itu akan memakan waktu yang lebih lama.
Eryuentiu dulunya adalah milik Eight Greed Kings, namun setelah mereka semua mati, Platinum Dragon Lord, Tsaindoruks vaision, mengambil alih tempat tersebut sebagai kediamannya. Ia beralasan karena barang-barang yang ada di sana terlalu berbahaya untuk jatuh ke tangan orang lain, tapi sebenarnya alasan pertamanya adalah harga dirinya sebagai seorang dragon menuntutnya untuk memiliki tempat tinggal yang melebihi siapa pun—melindungi agar item-item yang ditinggalkan Eight Greed Kings agar tidak jatuh ke tangan orang lain hanya alasan keduanya saja.
Tsaindoruks sudah menetap di kastil ini selama enam ratus tahun lamanya, dan ia tak pernah sekali pun meninggalkan tempat ini sejak saat itu. Meskipun demikian bukan berarti Tsa tidak tahu apa-apa tentang dunia luar, karena meskipun tubuhnya tak pernah meninggalkan Eryuentiu, ia bisa memanfaatkan armor lengkap untuk dikontrolnya, dan dengan mengontrol armor itu dari Eryuentiu ia memperoleh informasi penting dari luar. Salah duanya adalah vampire kuat yang ia—melalui baju zirahnya—temui di hutan di daerah Re-Estize Kingdom, satunya lagi adalah tentang revolusi dan reformasi yang terjadi di Dragonic Kingdom.
Tsaindoruks tidak tahu banyak mengenai pencetus reformasi itu selain dari rumor yang didengarnya. Berdasarkan rumor tersebut, pencetus reformasi adalah seorang lelaki berambut pirang panjang yang di dalam tubuhnya mengalir tujuh puluh lima persen darah dragon. Laki-laki tersebut ditemani seorang wanita yang juga berambut pirang, desas-desus menyebutkan bahwa wanita itu adalah malaikat, namun ada juga yang mengatakan kalau wanita tersebut adalah manusia yang telah melampaui para dewa. Tsa tidak tahu akan kebenarannya seperti apa, namun ia yakin kalau mereka adalah player, terlebih setelah ia mendengar kalau lelaki itu juga memiliki bawahan seekor dragon bersisikkan emas. Tsa benar-benar delapan puluh persen yakin kalau mereka adalah player, dua puluh persen sisanya ia meyakini mereka sebagai god-kin.
Tsaindoruks penasaran untuk mendengar pendapat Brightness Dragon Lord tentang kejadian yang terjadi di kerajaan yang didirikannya. Apa dia akan marah dan memutuskan untuk menyerang mereka berdua? Tsa mendengus pelan dan melupakan pikirannya itu karena jawabannya sudah jelas, dragon lord tersebut akan lebih memilih melakukan seks dengan para manusia berjenis kelamin wanita daripada repot-repot mengurus hal tak penting seperti kerajaan yang dibangunnya dulu sekali; dragon lord tersebut sama sekali tidak akan peduli.
Mengenai vampire yang sangat kuat itu, Tsa memiliki banyak dugaan. Yang pertama, vampire itu adalah player juga, namun ia tidak terlalu yakin akan hal itu. Yang kedua, Tsa meyakini kalau vampire tersebut adalah bawahan dari evil deities yang mencoba membebaskan mereka kembali. Yang ketiga, Tsa berpikiran kalau vampire tersebut adalah vampire yang telah bersembunyi dalam kegelapan terlalu lama sehingga dia mengalami sedikit kesusahan dalam beradaptasi dengan cahaya, meskipun ini terdengar sangat tak logis namun setidaknya itu menjelaskan mengapa sang vampire hanya diam di sana tanpa melakukan apa pun. Dan yang terakhir, Tsaindoruks menduga kalau vampire itu adalah bawahan player yang lainnya, dan itu adalah pendapat Tsa yang paling kuat.
Dengan mempertimbangkan semua hal yang telah terjadi, bisa jadi ini adalah perulangan kejadian enam ratus tahun yang lalu: Eight Greed Kings tiba beberapa saat setelah Six Great Gods, dan mereka saling bermusuhan. Bisa jadi pencetus reformasi itu dan pemimpin dari sang vampire itu akan saling bermusuhan juga. Namun Tsa masih belum terlalu yakin, ia harus menyelidikinya lebih lanjut untuk mengkonfirmasi semua itu.
Mata sang dragon lord langsung terbuka secara tiba-tiba begitu ia merasakan kehadiran seseorang di depannya, menampilkan sepasang mata kuning dengan iris hitam vertikal yang merupakan ciri khas seekor reptil.
"Lama tak bertemu ya, Tsa." Ucap tamu tak diundangnya itu sambil tersenyum ramah. "Ada apa? Apa kau sekarang telah lupa caranya untuk menyapa teman lama?"
"Hahaha.. maaf, Rigrit, didatangi teman lama membuatku sangat tersentuh."
"Teman lama? Seingatku, teman lamaku adalah baju zirah kosong yang berada di sana." Rigrit menunjuk ke arah baju zirah yang sering ia control itu berdiri.
"Bukankah dari dulu aku sudah meminta maaf untuk hal itu? Dengan wujud seperti ini maka aku tak akan bisa berpetualang dengan kalian, bukan?"
Rigrit hanya tersenyum mendengar respon Tsa.
"Oh ya, kau sekarang telah menjadi seorang adventurer, ya?" tanya Tsaindoruks lagi.
"Aku sudah pensiun beberapa tahun lalu, tugasku sudah diambil alih oleh si gadis kecil Inberun itu. Karena si gadis kecil itu suka merengek, aku pun berjanji menuruti keinginannya kalau dia bisa menang dariku. Sebagai gantinya, dia akan menuruti permintaanku kalau dia kalah. Akhirnya aku membuatnya babak belur.. hahahahaha."
"Hm.. mungkin hanya kau saja di antara manusia yang bisa mengalahkannya."
"Dia memang kuat, tapi masih banyak yang lebih kuat darinya di dunia ini, contohnya saja dirimu. Jika kau tidak menahan diri, maka kau pasti sudah menjadi makhluk yang terkuat di dunia ini."
Tsaindoruks terdiam sejenak memikirkan itu. "Mengenai itu belum tentu juga.. hm, Rigrit, kau memang sudah berhenti menjadi adventurer, tapi boleh kuminta pertolonganmu?"
"Apa itu?"
"Aku ingin kau pergi ke Dragonic Kingdom dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang Grand King Naruto dan Grand Queen Arthuria. Mengingat aturan di sana yang cukup tegas namun ramah, aku yakin kau tidak akan kesulitan untuk memperoleh informas-informasi penting dari rakyat di sana."
"Apa mereka berdua adalah bagian dari siklus?"
"Kemungkinan begitu, namun bukan mereka saja yang sudah datang. Aku tidak bisa mematikan mana yang berniat baik dan buruk, tapi dari apa yang kulihat di salah satu kota di Dragonic Kingdom, mereka berdua berada di sisi yang baik. Namun mengingat mereka membantai habis para beastmen, itu akan menimbulkan masalah dengan Argland Council State Alliance.. seperti halnya Slane Theocracy. Kau tak keberatan, kan?"
Rigrit menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak masalah, aku juga berniat untuk melihat keadaan di sana. Terlebih tidak ada satu pun beastman yang tersisa di sana, bisa jadi Dragonic Kingdom ini akan menjelma menjadi kerajaan yang melampaui Slane Theocracy."
"Ah.. tolong sekalian lihat apakah ada item-item dari Yggdrasil di sana, jika item-item itu ada maka bisa dipastikan kalau mereka adalah player. Dan, Rigrit, ada apa dengan jemarimu? Aku yakin tidak akan ada yang bisa mencuri darimu.."
Rigrit menolehkan pandangannya pada jemarinya, ia kemudian tersenyum kecil dan berkata, "Sudah kuwariskan pada seorang anak muda."
"Itu adalah item yang diluar batas pengetahuan manusia, lho.. aku tak ingin kalau item itu sampai jatuh ke tangan yang salah, tapi sepertinya.. ah.. begitu, ya.. kalau memang kau yang memutuskan untuk mewariskannya sendiri maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
..di suatu tempat di tengah-tengah benua utama..
Brightness Dragon Lord, Xyrelyun Oriculus, adalah satu-satunya dari semua dragon lord yang memilih untuk melakukan seks dengan manusia. Berkat wild magic, ia dapat mengubah tubuhnya ke bentuk manusia sehingga memungkinkannya merasakan lubang senggama manusia berkelamin betina. Harus ia akui ia sudah candu akan kenikmatan yang ditawarkan kemaluan wanita sejak pertama kali ia merasakannya, rasanya begitu nikmat dan ia tidak akan mungkin akan merasa bosan dengan itu. Tapi hal yang mengganggunya adalah manusia betina itu mudah sekali untuk mengandung; wanita yang menjadi pasangan seks pertamanya langsung hamil setelah sebulan lebih ia rutin menggauli wanita tersebut setiap malamnya.
Sebagai dragon lord, Xyrelyun memiliki harga diri yang tinggi, karenanya ia tak bisa meninggalkan wanita itu begitu saja. Wanita itu mengandung anaknya, artinya anak itu memiliki darah dragon yang patut dibanggakan. Oleh sebab itu, Xyrelyun memutuskan untuk menikahi wanita tersebut dan membangun sebuah kerajaan yang kelak akan dikelola oleh anaknya begitu anaknya tersebut menginjak remaja—Xyrelyun terlalu malas untuk memimpin mereka semua berlama-lama.
Wanita itu bernama Aurelia, Xyrelyun mengubahnya menjadi Aurelyun Oriculus begitu mereka menikah. Dia adalah wanita yang sangat cantik dengan tubuh yang sangat menggoda juga rambut pirang yang indah sepunggung, Xyrelyun langsung terpana pada kemolekan tubuhnya sejak ia melihatnya di detik pertamanya. Karena itu, meskipun sulit, Xyrelyun telah membuat Aurelyun menjadi mandul dan makhluk setengah abadi: dia tidak akan menua namun dia tidak memiliki kemampuan untuk meregenerasikan tubuhnya jika terluka. Dengan begitu maka wanita itu akan terus mampu untuk memuaskannya tanpa harus mengalami kehamilan lagi. Pemuas seks yang sempurna bagi Xyrelyun.
Setelah anaknya menginjak usia lima belas, Xyrelyun mengundurkan diri dari tahtanya lalu menobatkan anaknya sebagai penggantinya, kemudian ia mengajak Aurelyun dan meninggalkan kerajaan itu tanpa pernah kembali.
Itu sudah sangat lama berlalu, bahkan Xyrelyun tak lagi ingat rupa anaknya seperti apa. Jangankan itu, bahkan disaat anaknya mati pun ia sama sekali tidak menghadiri upacara pemakamannya. Ia bukanlah dragon yang sentimental, segala bentuk kesedihan dan kegundahan akan langsung menghilang begitu batang kemaluan manusianya memasuki lubang senggama wanita. Karena itu, melihat belasan wanita terlelap di tempat tidur besarnya tanpa tertutupi sehelai benang pun bukanlah hal yang mengejutkan lagi.
Pandangan Xyrelyun langsung beralih menuju pintu kamar begitu pintu itu terbuka. Seorang wanita cantik berambut pirang sepunggung memasuki kamarnya dengan senyum simpul, kemudian wanita tersebut menutup pintu kamar dan berjalan ke arahnya. Wanita tersebut tidak memakai sehelai benang pun—aturan dalam kamar ini adalah tidak boleh mengenakan pakaian—sehingga Xyrelyun dapat melihat kemaluan dan kedua payudara dengan puting merah muda yang bergoyang seirama dengan langkah kakinya itu. Xyrelyun langsung mendudukkan dirinya di tepi ranjang, kemaluannya yang sudah mengeras karena melihat tubuh polos wanita itu langsung terekspos dengan gagahnya.
"Ada apa Aurelyun? Bukannya kau ingin menetap di sana dan mengawasi cucu dari cucu dari cucu kita dari kejauhan?"
"Aku punya berita yang mungkin akan mengejutkanmu," respon Aurelyun sambil berkacak pinggang dan melipat kedua tangannya di bawah dada besarnya, ia berdiri tepat selangkah di depan sang dragon lord, matanya mengarah ke belasan wanita yang tertidur pulas di belakang Xyrelyun sebelum kemudian menjatuhkan pandangannya ke selangkangan Xyrelyun yang terekspos. "Kau sudah menggauli mereka semua, namun nafsumu masih sangat tinggi.."
"Bagaimana aku tidak bernafsu melihatmu berdiri seperti itu? Tapi sebelum kesana, aku ingin mendengar berita yang kau bawa." Kendati ia berkata begitu, dengan sangat cepat Xyrelyun bergerak ke belakang Aurelyun lalu menggerayangi kedua payudara besar wanita berambut pirang itu. "Jadi, apa yang ingin kau sampaikan, hm?"
..dua jam kemudian..
"Jadi, apa yang ingin kau katakan tadi?" tanya Xyrelyun sambil merebahkan dirinya tepat di samping Aurelyun yang masih mengendalikan irama pernapasannya yang menggebu.
"Haa.. Dragonic Kingdom sekarang berada dibawah kuasa seorang bernama Naruto Uzumaki dan Arthuria Pendragon, kendati status Queen masih dipegang Draudillon, namun sebenarnya mereka berdualah yang berkua..anhhh~sa."
"Oh, hanya itu, kupikir memang penting." Dan Xyrelyun kembali bermain dengan kedua puting susu Aurelyun.. dan permainan yang menggairahkan pun kembali berlanjut.
..suatu tempat di Abellion Hill..
Demiurge memandang senang pada hasil karyanya yang tergeletak begitu rapi di meja eksperimennya. Meskipun itu masih dalam kualitas rendah, namun ini adalah sebuah perkembangan dibandingkan yang sebelumnya; ia yakin Ainz-sama akan memuji hasil pekerjaannya. Tentu saja Demiurge tahu kalau Ainz-sama tahu kalau ia tidak akan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan dengan menggunakan kulit mereka, tapi Demiurge tahu kalau masternya itu tetap akan memujinya sehingga ia akan lebih bersemangat dalam berkembang lagi.
Memikirkan masternya itu selalu membuat Demiurge terkagum-kagum, meskipun beliau baru menginjakkan kakinya di dunia ini, beliau sudah merencakan rencana yang bahkan ia, sebagai makhluk paling berintelijen di Nazarick, pun tidak mengerti sepenuhnya. Tapi Demiurge yakin, semakin ia melihat rencana Ainz-sama terwujud satu persatu, ia akan dapat untuk menghubungkan semuanya dengan tujuan akhir Ainz-sama.. dengan begitu maka ia akan dapat bekerja keras mewujudkan rencana super jenius itu dan akhirnya mendapatkan pujian dari pemimpin para makhluk agung itu.
Tapi sebelum kesana, ia harus memastikan kebenaran dari perkataan bafolk yang baru saja ia kuliti hidup-hidup. Jika memang seluruh demi-human di Beastman Country sudah musnah, maka bisa jadi pelakunya adalah orang yang sama dengan yang mencuci pikiran Shalltear. Normalnya, Demiurge akan menjatuhkan kesimpulannya pada Slane Theocracy, tapi faktanya berdasarkan sejarah, Slane Theocracy sendiri tidak melakukan apa pun terhadap dominasi Beastman Country selain mengirim sekelompak orang untuk mengusir beastmen dari teritori Dragonic Kingdom, itu pun dilakukan hanya setahun sekali.
Namun seluruh beastmen itu lenyap dalam semalam pada kurang lebih tujuh bulan yang lalu. Dan setelah mengestimasi kemampuan beberapa demi-human yang telah ia tangkap, setidaknya butuh waktu paling cepat sebulan untuk menaklukkan mereka semua dengan kekuataan rata-rata setara dengan level 35 NPC. Artinya, yang menaklukkan para beastmen adalah orang dengan level yang lebih tinggi.. bisa jadi mereka berlevel 100. Kendati demikian, itu tak menutup kemungkinan kalau pelakunya tetaplah Slane Theocracy. Tapi untuk saat ini ia tidak bisa menyelidiki hal itu dulu, Ainz-sama memintanya untuk membuat scroll yang berguna bagi Nazarick. Itu bukan berarti ia akan diam saja, ia akan memanfaatkan para demi-human di sini untuk mengumpulkan informasi untuknya.
Jika saja ia bisa membuat rencana tanpa perlu mengetahui informasi apa pun seperti apa yang sering dilakukan oleh masternya, maka sudah pasti ia tak akan kerepotan seperti ini. Tapi, mungkin ini juga adalah rencana Ainz-sama untuknya, agar suatu hari ia bisa memiliki kebijaksaan yang mendekati sosoknya.
Ah, itu sangat masuk akal sekali. Dalam satu tindakan Ainz-sama mengandung beragam makna yang tak mungkin dipahami oleh selain makhluk agung, bisa jadi ini adalah cara Ainz-sama untuk membimbingku menjadi lebih baik lagi. Sasuga Ainz-sama, sepatah kata darinya jauh lebih berharga dari seisi dunia ini.
Demiurge menggelengkan kepalanya pelan mengusir pikirannya yang mulai bereuforia, ia kemudian menolehkan pandangannya pada asistennya. "Pulcinella, bawakan subjek selanjutnya."
..Kami Miyako, Slane Theocracy..
Di sebuah ruang megah dan suci di bangunan terbesar di jantung kota, enam sosok manusia duduk memenuhi enam kursi yang melingkari meja bundar yang terletak di tengah-tengah ruangan itu. Keenam orang tersebut duduk dengan tenang mendengarkan laporan dari kapten Black Scripture tentang misi mereka dan hal-hal penting lainnya. Keenam orang itu adalah para Kardinal, pemimpin tertinggi dari Slane Theocracy, mereka jugalah yang memilih Pontifex Maximus—pemimpin Slane Theocracy secara administrasi yang posisinya tak berbeda jauh dengan seorang Emperor. Meskipun para Kardinal adalah penguasa mutlak Slane Theocracy, mereka sama sekali tidak digaji, hal ini lantaran untuk menjaga tujuan seseorang menjadi Kardinal agar tetap suci.
Setiap keputusan yang diambil oleh para Kardinal dilakukan secara demokrasi, mereka akan melakukan voting dan memutuskan berdasarkan suara terbanyak. Apabila suara terbagi dua sama rata, maka mereka akan kembali melakukan rapat pada waktu berikutnya dengan memperbarui keputusan-keputusan mereka. Namun jika suara tetap terbagi sama rata, mereka akan mempertimbangkan pendapat Pontifex Maximus dalam hal itu. Akan tetapi hal itu sangat jarang terjadi, meskipun kepribadian para cardinal berbeda satu sama lainnya, mereka tetap saling menghormati satu sama lain sehingga memunculkan konflik di antara mereka sangatlah mustahil.
"Sangat disayangkan sekali," ucap seseorang memulai pembicaraan begitu pintu ruangan tersebut kembali tertutup, menandakan kalau kapten dari Black Scripture telah keluar ruangan. "Kematian penempat Kursi Kedelapan dan Kesembilan akan mengurangi kemampuan bertarung Black Scripture secara total. Klaire-sama juga terluka parah, dan kita telah benar-benar kehilangan Sunlight Scripture."
"Tahun ini adalah tahun yang buruk bagi kita," komentar seseorang dengan atribut yang menunjukkan kalau dia adalah Cardinal of Darkness. "Ainz Ooal Gown.. vampire.. Momon the Darkness.. Grand King Naruto.. dan Grand Queen Arthuria.. juga dragon bersisik emas itu.. apa ini adalah pertanda dimulainya siklus itu, apa hal yang dulu akan kembali terulang?"
"Untuk saat ini kita tidak bisa memastikan kekuatan dari Ainz Ooal Gown. Tapi kita setidaknya tahu kalau Momon the darkness itu mirip dengan god-kin.. bisa jadi kemampuannya mendekati Zesshi. Karena dia telah membunuh vampire itu, bisa kita asumsikan kalau dia berpihak kepada manusia?"
"Menurutku, lebih baik kita fokuskan perhatian kita kepada Grand King Naruto dan Grand Queen Arthuria. Mereka telah melenyapkan seluruh beastmen dari beastman country hingga tak satu pun yang tersisa, bisa jadi mereka juga memiliki prinsip yang sama dengan kita!"
"Kau terlalu keliru, Dominic. Berdasarkan laporan Thousand Leagues Astrologer, begini bunyi aturan ke sepuluh dari 10 aturan mutlak: 'Semuanya harus hidup dalam damai dan harmoni; selama mereka memiliki wujud humanoid dan mematuhi '10 Aturan Mutlak Dragonic Kingdom' dan 'Holy Book', ras dan sejenisnya tidak akan dipermasalahkan.'"
"Artinya, mereka tidak akan keberatan untuk membiarkan seekor vampire untuk hidup di sana asalkan mereka memenuhi aturan yang mereka tetapkan."
"Hmph! Kalian yang tak mengerti, Raymond, Berenice. Coba teliti aturan kesepuluh itu dengan baik, jika kalian melakukan itu maka kalian akan menyadari kalau itu cuma jebakan bagi mereka untuk menetap di sana, dan dalam sewaktu-waktu bisa saja para selain manusia itu dijadikan bahan eksperimen dengan tuduhan melanggar aturan. Apa kalian tak memperhatikan deskripsi Thousand Leagues Astrologer tentang 'Ten Commandments'? Aku yakin itu adalah hasil eksperimen mereka."
"Hm.. bisa jadi, tapi jika kau berpikiran seperti itu, Dominic, bagaimana kau bisa menjelaskan dragon bersisik emas itu?"
"Seperti yang Yvon katakan, aku juga tertarik untuk mendengarkan pendapatmu, Dominic. Tapi, aku pikir itu tidak terlalu penting saat ini; apa pun itu, aku yakin jika kita memanfaatkan hal ini dengan baik maka kita akan bisa memanfaatkan Dragonic Kingdom. Terlebih lagi, bukankah Zesshi ingin pergi ke sana, bukan begitu, Raymond?"
"Ah, aku juga ingin membicarakan keinginan Zesshi ini, Maximilian. Selama ini Zesshi sama sekali tidak meminta banyak hal, bahkan dia tidak pernah komplain apa pun. Namun ini untuk pertama kalinya dia ingin pergi, tentu saja secara pribadi aku akan mengizinkannya. Kalian tahu, selama ini kita tidak pernah tahu bagaimana pendapat Zesshi tentang para elf yang menjadi budak. Selain itu, Zesshi masih menyimpan rasa tidak suka atas cardinal yang dulu yang memisahkannya dengan ibunya. Zesshi adalah kartu as kita, kalau sampai dia merasa tidak senang maka kita berpotensi kehilangan penyelamat ras manusia."
"Hmph! Kita yang telah merawatnya dan membuatnya menjadi yang terkuat, tentu saja dia harus mematuhi perintah kita!"
"Dominic," panggil Raymond dengan nada tegas dan serius. "Jika Zesshi sampai memutuskan untuk memberontak, apa kita akan bisa menghentikannya?"
Seluruh ruangan menjadi hening seketika. Meskipun itu terdengar seperti pertanyaan retorikal, namun semuanya menanggapi pertanyaan sederhana itu dengan sangat serius. Zesshi Zetsumei adalah yang terkuat, bahkan jika seluruh anggota Black Scripture mengeroyoknya pun itu takkan mampu mengalahkan Zesshi. Satu-satunya yang mereka percayai bisa mengalahkannya hanyalah Platinum Dragon Lord, itu pun belum tentu, jika pun Platinum Dragon Lord menang maka itu adalah kemenangan yang sulit. Bagaimana kalau Zesshi sampai memberontak ke Slane Theocracy? Tentu itu akan menjadi masalah besar, mungkin juga itu adalah akhir dari kemanusian.
"Kita tidak boleh sampai membiarkan hal itu terjadi," simpul Berenice, Ginedine, Raymon, Yvon, dan Maximilion mengangguk setuju, bahkan Dominic pun, meski enggan, tetap mengangguk menyetujui kesimpulan Berenice.
"Jadi, kita akan membiarkannya pergi?" tanya Raymond.
"Ya, tapi kita harus melarangnya dari membawa artifak suci peninggalan the Six dan kita juga harus memberitahu Thousand Leagues Astrologer agar menghentikan misinya untuk sementara dan mengawasi Zesshi dari jauh, dan selama Zesshi pergi, Kapten Sylvin akan menggantikannya menjaga ruang harta untuk sementara."
"Bagaimana kalau Zesshi sampai menantang mereka bertarung? Tentu saja aku tidak masalah jika dia menang, tapi kalau sampai kalah?"
"Bagaimana menurutmu, Raymond?"
"Mengetahui pribadi Zesshi, kalau dia sampai kalah maka kemungkinan besar dia akan memprostitusikan dirinya ke Grand King Naruto. Tapi tidak perlu khawatir, aku akan mencoba meyakinkannya untuk langsung kembali kalau dia sampai kalah."
"Kalau begitu sudah diputuskan, kita akan membiarkan Zesshi pergi selama sepuluh hari."
Tidak ada yang berkomentar, semuanya setuju dengan ucapan Yvon barusan.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kita kembali ke diskusi kita sebelumnya…"
xxXxx
Merasakan kekalahan adalah salah satu dari tiga hal yang paling Zesshi Zetsumei inginkan di dunia ini, satunya lagi adalah memiliki anak dari lelaki yang telah memberinya rasa kekalahan tersebut, dan yang terakhir adalah membunuh Elf King yang telah memperkosa ibunya. Ketiga hal itu adalah tujuan Zesshi, karenanya, ia sama sekali tidak terlalu mempedulikan hal-hal yang tak ada hubungannya dengan ketiga hal tadi. Tapi, tentu saja, sebagai rasa tanggung jawab dan terima kasihnya pada Slane Theocracy yang telah merawat dan mengajarkannya cara bertarung, Zesshi menerima perintah para Cardinals dengan tanpa komplain—tentu saja jika perintah itu tidak sepele dan memuakkan.
Zesshi mengernyitkan keningnya dan menyandarkan tubuhnya di dinding luar ruang harta, sebuah sabit hitam berdiri angkuh di sisi kirinya. Mata heterokromatik Zesshi memandang intens pada rubik yang tengah diotak-atiknya dengan kedua tangannya. Sejauh ini, lawan yang belum mampu ia taklukkan adalah benda kubus dengan keenam sisi yang berbeda warna ini. Ia sudah memainkan permainan itu selama seratus tahun lebih, namun tetap saja hingga hari ini ia hanya bisa menyelesaikan satu sisi saja. Mungkin aku tak akan keberatan untuk memiliki anak dari siapa pun yang bisa menyelesaikan rubik ini, hibur Zesshi pada dirinya.
"Rubik kubus ya..? Rasanya sudah lama sekali.."
Zesshi tak perlu mengalihkan perhatiannya untuk tahu siapa pemilik suara itu. Dari sekian banyak manusia yang hidup di Kami Miyako, hanya Sylvin—kapten dari Black Scripture—dan Raymond yang menganggapnya sebagai individu dan berbicara dengannya layaknya rekan. Yang lainnya lebih menganggapnya sebagai senjata dan kartu as mereka, sedangkan mayoritas lainnya bahkan tidak tahu kalau dia ada. Kendati demikian, Zesshi tidak masalah dengan itu semua, toh ia juga tidak menganggap mereka sebagai orang-orang yang penting, dan ia sama sekali tidak peduli pada mereka semua. Satu-satunya alasan Zesshi menetap di sini hingga saat ini adalah karena ia membutuhkan Theocracy untuk membuat Elf King menderita sebelum ia mengakhiri hidup makhluk menjijikkan itu. Namun Sylvin dan Raymond berbeda dari semua orang yang mengenalnya, mereka menganggap Zesshi sebagai rekan, karenanya Zesshi tidak keberatan untuk meladeni mereka dalam setiap pembicaraan.
"Menyelesaikan sebuah sisi memang mudah, namun untuk menyelesaikan lebih dari itu sangatlah sulit.."
"Itu memang sangatlah sulit," respon Sylvin sambil melangkah mendekati Zesshi. "Namun itu adalah hal yang wajar mengingat itu adalah permainan yang diwariskan oleh Six Great Gods pada enam ratus tahun yang lalu."
Zesshi melirik sekilas ke arah Sylvin sebelum kemudian mengembalikan pandangannya pada sang rubik. "Lalu, apa yang terjadi sampai para kardinal berkumpul?" tanya Zesshi tidak penasaran.
"Laporannya seharusnya sudah dikirimkan padamu, bukan?"
Zesshi menghendikkan bahunya tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku tidak membacanya," ucapnya santai. "Lagipula, bertanya pada orang yang terlibat langsung lebih efektif dan cepat daripada membaca laporan itu, bukan begitu? Lebih penting lagi, bagaimana dengan prediksi si peramal itu, apakah meleset? Bukankah kalian diperintahkan untuk menaklukkan Catastrophe Dragon Lord yang akan bangkit kembali?"
Wajah Sylvin berubah menjadi serius seketika. "Dalam perjalanan menuju ke sana, kami bertemu vampire misterius yang jauh lebih kuat dibandingkan vampire-vampire yang pernah kami temui, Cedran dan Beaumarchais tewas serta Nyonya Klaire mengalami luka yang sangat parah. Karena itu kami memilih mundur."
"Penempat Kursi Kedelapan dan Kursi Kesembilan gugur, ya? Jadi, lebih kuat siapa kalau vampire itu dibandingkan denganku?" tanya Zesshi tanpa sedikit pun simpati terhadap anggota Black Scripture yang sudah tewas.
"Tentu saja dirimu," jawab Sylvin tanpa ragu sedikit pun.
"Begitu, ya? Sayang sekali kalau begitu, padahal aku ingin sekali merasakan kekalahan." Zesshi meningkatkan kecepatan tangannya mengutak-atik rubik kubis, kemudian gerakannya terhenti sesaat sebelum kemudian kembali bergerak. "Lalu," lanjut Zesshi, "semua anggota Sunlight Scripture juga telah dikalahkan, ya?"
"Sepertinya begitu. Magic caster yang bernama Ainz Ooal Gown telah mengalahkan mereka semua. Hanya saja, katanya tak ada satu mayat pun yang berhasil ditemukan."
"Hee.. apa dia kuat?"
"Entahlah, tapi mengingat Nigun dan anggotanya dapat dikalahkan oleh tim adamantite adventurer Blue Rose, maka sulit untuk mengatakan seberapa kuat magic caster tersebut."
"Ah, kalau begitu aku tidak bisa tahu seberapa kuat dia. Lalu, bagaimana dengan the Grand King Naruto? Apa ada informasi lainnya yang sudah didapatkan selain kenyataan kalau dia adalah keturunan dragon? Bagaimana dengan Grand Queen Arthuria, apa dia benar-benar malaikat seperti yang dirumorkan? Apa para kardinal telah memutuskan untuk mengizinkanku mengeceknya, terlebih lagi dengan adanya dragon bersisik emas yang menyemburkan leser api itu?" Kali ini kedua manik Zesshi sedikit berkilatan, menandakan kalau dia sangat ingin tahu.
Sylvin hanya mendesah pelan melihat tingkah Zesshi, kemudian ia menggeleng pelan dan berbicara dengan nada prihatin seperti biasa. "Saat ini Thousand Leagues Astrologer masih berada di Sacred City Pendragon, dia tidak bisa mendapatkan hal-hal khusus lainnya tentang mereka; memasuki 'Crimson Palace' sangatlah mustahil. Tentang keinginanmu untuk ke sana, aku tidak tahu keputusan mereka, tapi sepertinya Raymond-sama yang akan mengatakan langsung padamu hasil keputusan mereka itu."
"Ah, begitu, ya."
Kapten Black Scipture mengangguk. "Kalau begitu aku permisi dulu, Zesshi, aku ingin mengecek apa mereka berdua bisa dihidupkan kembali atau tidak."
"Ee, lakukan tugasmu."
Zesshi sama sekali tak melihat kepergian Sylvin, mata dan tangannya masih sibuk dengan rubik kubus yang hingga saat ini baru diselesaikannya satu sisi saja. Sejauh ini, orang yang memiliki kemajuan tertinggi dalam memainkan rubik ini adalah para cardinal pertama, namun mereka hanya bisa menyelesaikan empat sisi. Artinya, selain Six Great Gods, belum ada yang bisa menyelesaikan permainan sakral ini.
"Zesshi.."
Zesshi tak mengalihkan pandangannya dari rubik tersebut. "Ray," responnya tak tertarik. "Kalau kau hendak mengatakan mereka tidak membiarkanku pergi maka tidak perlu repot-repot, pergi dari sini, aku sedang sibuk."
"Mereka membiarkanmu pergi."
Gerakan tangan Zesshi seketika berhenti, senyumnya berkembang begitu saja. Namun senyum itu hanya bertahan sedetik saja dan Zesshi langsung memandang Raymond, Cardinal of Earth, dengan tajam. "Kalau kau bercanda maka aku akan mengikatmu dan menggantungmu di puncak Earth God's Temple."
"Kau tahu aku tak seperti itu," ucap Ray sambil menghela napas. "Ayo masuk, aku ingin meletakkan [Downfall of castle and country] berdampingan dengan yang lainnya, setelah itu akan kusampaikan syarat yang mereka ajukan padamu."
..beberapa jam kemudian, puluhan km di sisi timur Kami Miyako..
Border Lake terletak dua ratus kilometer lebih ke arah timur Kami Miyako, ibukota Slane Theocracy. Untuk bisa sampai ke Dragonic Kingdom, maka Zesshi harus menyeberangi danau luas itu jika ia tak ingin jarak bertambah dengan mengambil jalan memutar. Dengan kecepatan yang ditempuhnya saat ini, Zesshi baru akan tiba di danau itu ketika mentari terbenam. Ia bisa saja meningkatkan lajunya, namun akan merepotkan kalau ia menemui lawan yang kuat ketika staminanya terkuras banyak. Bukannya tidak senang atau pun ragu akan kemampuannya meskipun dengan stamina yang sedikit, tapi tanpa [War Scythe] miliknya, Zesshi tidak merasa lengkap, ia jadi tidak bisa bertarung seperti biasanya.
Zesshi bisa saja meminta seekor Sleipnir pada Raymond, namun karena ia terlalu semangat untuk pergi, ia jadi melupakan hal itu. Tentu saja ia tak akan mengakui itu pada siapa pun, ia hanya akan beralasan kalau ia lebih suka memanfaatkan kakinya sendiri daripada kedelapan kaki Sleipnir itu. Toh, ia ragu akan ada yang bertanya. Lagipula, itu tidaklah penting; apa yang menunggunya di sanalah yang paling penting.
Zesshi meningkatkan laju larinya ke tingkatan maksimal. Di penghujung hutan ini akan ada padang rumput yang menanti, dan dipenghujung padang rumput itulah danau besar itu terhampar. Zesshi terus berlari dalam kecepatan maksimal, tanpa menggunakan martial arts, selama tiga jam penuh tanpa beristirahat sedikit pun. Ia sudah melewati hutan kira-kira setengah jam lalu, dalam setengah jam lagi ia yakin kalau dirinya akan tiba di Border Lake.
Untuk pertarungan yang adil dan leluasa, maka padang rumput seperti ini adalah tempat yang sangat cocok. Zesshi membayangkan dirinya dengan [War Scythe] di tangan berdiri di bawah mayat Grand King Naruto dan Grand Queen Arthuria, ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum melihat gambaran-gambaran semu yang terbentuk di pikirannya itu. Namun raut senang Zesshi langsung tergantikan oleh kerutan di kening, [War Scythe] miliknya berada di ruang harta Slane Theocracy. Meskipun tombak yang tersemat di punggungnya memiliki kualitas yang tinggi, namun itu sama sekali tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan [War Scythe]; Zesshi merindukan sabit hitam favoritnya itu.
Sibuk dengan pikirannya sendiri, Zesshi tidak sadar kalau sejak ia memasuki padang rumput ia telah diikuti oleh sesosok makhluk yang terselimuti aura hitam namun samar dan sangat kasat mata. Jika dalam keadaan biasanya, Zesshi akan dengan sangat mudah menyadari jika ia diikuti, namun kini Zesshi terlalu sibuk mengimajinasikan apa yang akan terjadi setibanya ia di sana. Kendati demikian, itu bukan berarti instingnya menumpul; instingnya masih cukup tajam untuk memperingatkannya dari bahaya, karenanya, Zesshi langsung menghentikan lajunya dan melompat beberapa meter ke kiri menghindari sebuah cakar tajam yang hendak menyakarnya.
Zesshi langsung menarik tombaknya dan memasang posisi bertarung. "Aku sedang tidak dalam keadaan ingin menghibur siapa pun yang berani menghalangiku," ucap Zesshi dengan serius. "Kuperingatkan kau: maju, maka nyawamu akan melayang."
Makhluk yang tubuhnya diselimuti aura hitam itu perlahan-pahan menampakkan wujudnya. Wujudnya seperti wyvern, namun tanpa sayap. Zesshi tidak tahu kalau di hutan yang sudah ia lewati tadi ada magical beast tingkat tinggi seperti makhluk yang berdiri sok angkuh di hadapannya ini. Sepertinya ia harus mengatakan hal ini pada Raymond sekembalinya ia ke Kami Miyako, dengan begitu Raymond akan mengirim beberapa anggota Black Scripture ke hutan itu untuk membersihkan sampah yang mengganggu.
"Khukhukhukhukhu.. aku adalah penguasa hutan itu, dan kau berpikir bisa mengalahkanku?!"
Zesshi memandang makhluk tersebut dengan tajam. "Normalnya aku akan membuatmu setengah mati lalu menghadiahkanmu untuk Raymond, namun hari ini aku sedang sibuk." Zesshi langsung menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul di sisi kiri wyvern tak bersayap itu dengan ujung tombak mengarah ke kepala serba hitam itu. Namun sebelum tombak itu menembus kepala wyvern tak bersayap, sosok tersebut langsung mengubah tubuhnya menjadi bayangan dan bergerak menjauhi Zesshi lalu kembali ke bentuk awalnya belasan meter di belakang Zesshi.
Zesshi menyipitkan matanya lalu berbalik arah memandang makhluk itu dengan lebih tajam. "Speed Booster, Death Move." Zesshi langsung menghilang setelah mengaktifkan dua martial arts-nya secara bersamaan dan muncul di sisi kiri wyvern tak bersayap itu dengan ujung tombak mengarah ke kepala serba hitam itu. Namun, sama seperti tadi, sebelum tombak itu menembus kepala wyvern tak bersayap, sosok tersebut langsung mengubah tubuhnya menjadi bayangan dan bergerak menjauhi Zesshi lalu kembali ke bentuk awalnya belasan meter di belakang Zesshi.
"Aku belum bersiap-siap, kau tahu? Khukhukhu-" tawa wyvern tak bersayap itu langsung berhenti begitu ia merasakan sebuah ujung tombak menembus perutnya, membuat darah merah gelapnya merembes keluar.
"Idiot. Serangan yang pertama, aku terkejut, karenanya kau lolos. Serangan yang kedua, aku mengamati seberapa cepatnya kau mengubah tubuhmu menjadi bayangan. Apa kau pikir aku akan membiarkanmu lolos ketiga kalinya? Bodoh, aku sedang sibuk untuk bermain-main."
"T-Tapi aku sudah mengubah s-sebagian perutku menjadi bayangan.."
"Hmph! Salahkan tombak ini," ucap Zesshi sambil memutar tombaknya lalu meninju belakang kepala sang wyvern hingga hancur dengan tangan kirinya. "Makhluk menjijikkan, kau membuatku berhenti selama dua menit." Zesshi meludahi mayat wyvern tak bersayap itu lalu menyematkan tombaknya ke punggunya dan kembali melesat menuju Border Lake.
Zesshi terus berlari dengan kecepatan maksimal tanpa ragu sedikit pun. Kekesalan yang tadi ia rasa kini menghilang entah kemana begitu iris hitam dan putihnya memandang ujung padang rumput luas ini. Bibirnya merekah, "Border Lake," ucapnya pelan tanpa menghentikan laju larinya.
Hanya sekian menit berselang, Zesshi akhirnya tiba tepat di pinggir danau tersebut.
-10-
Er.. tolong jangan komen "ah, nggak ada Naruto.." dan sebagainya. Ini adalah intermission, kurasa itu sudah cukup untuk menjelaskan tentang ketidakberadaan Naruto di dalamnya.
Hm.. kedua ficku yang lain tidak akan kuupdate pekan ini karena setelah kutulis sebagiannya, masing-masing dari chapter tersebut ternyata akan memiliki 10k+ words.. dan minggu ini adalah minggu yang menyibukkan. Chapter selanjutnya dari chapter ini pun akan memiliki 10k+ words.. karena itu, sampai jumpa minggu depan.
