Remake dari AliaZalea "Dirty Little Secret".

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Jika ada kesamaan cerita di FF lain dengan pairing berbeda adalah hal yang wajar karena ini adalah sebuah 'remake' :)

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Age of the cast:

-Park Jimin (m) : 30 tahun

-Min Yoongi (m) : 27 tahun

-Kim Seokjin (m), Kim Namjoon (m) : 34 tahun

-Min Taehyung (m), Min Jungkook (m) : 7 tahun.

-Kim Hoseok (m) : 4 tahun.

Rate M!

Romance, Drama, Family

Yaoi, boyXboy, !MPreg!

!Warn! Bahasa non baku, typo, beberapa dialog inggris.

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 10

And all I've tried to hide

It's eating me apart

Trace this life out.

Jimin harus menghentikan dirinya dari menggeram ketika tubuh Yoongi tidak lagi kaku di dalam pelukannya dan tangan Yoongi yang tadinya mau mendorong dadanya sudah naik untuk melingkari lehernya. Kuku jarinya mulai mencakar kulit kepalanya dan kalau rambutnya lebih panjang, dia tahu Yoongi pasti sudah menjambaknya juga.

Ya, dia selalu tahu bahwa Yoongi likes it rough, dan dia tidak pernah ada masalah sama sekali dengan itu. Detik selanjutnya Yoongi sudah membalas ciumannya seganas dia menciumnya.

Untuk beberapa menit, itu saja yang mereka lakukan. Mencium satu sama lain. Bibir dan lidah mereka seperti tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu diperintahkan oleh otak mereka, seakan-akan delapan tahun yang memisahkan mereka tidak pernah terjadi.

Ketika Yoongi menggigit bibir bawahnya, Jimin harus menarik napas dalam kalau tidak mau mempermalukan diri sendiri dengan pingsan di hadapan Yoongi. Detak jantungnya sudah nggak karuan dan dia mengalami masalah mengontrol libidonya. Tapi dia harus mengontrolnya.

Perlahan-lahan dia menjauhkan wajahnya sedikit dari wajah Yoongi untuk menatapnya dan mendapati Yoongi kelihatan sama-sama out of control seperti dirinya. Pupil mata Yoongi yang sayu dipenuhi oleh gairah, sedang menatapnya seperti ingin melahapnya.

Tanpa bisa menahan diri lagi, dia sudah mengangkat tangannya untuk membelai wajah Yoongi, dan Yoongi mendekatkan keningnya hingga bertemu dengan bibirnya. Suatu tindakan yang sangat simple, tapi penuh dengan intiminasi dan pengertian yang membuat Jimin ingin membawanya pulang sekarang juga dan meneruskan apa yang mereka sedang lakukan di atas tempat tidur.

Di sudut pikirannya Jimin sadar bahwa mereka sedang di tempat umum. Siapa saja bisa memergoki mereka dan kemungkinan bisa menyebabkan mereka ditangkap polisi, tapi itu tidak cukup untuk membuatnya berhenti. Tidak ada yang bisa membuatnya berhenti, biarpun api neraka menjilati kakinya sekalipun. Dan dengan ini dia kembali menyerang bibir Yoongi.

Ketika dia sedang mencoba menarik lidah Yoongi lebih dalam lagi ke dalam mulutnya, samar-samar dia mendengar suara anak kecil bertanya,

"Eomma... Eomma lagi ngapain?"

Yoongi langsung menarik lidahnya dari dalam mulut Jimin dan tubuhnya kaku di dalam pelukannya. Dia kemudian menoleh ke dua anak kecil yang sekarang sedang menatap mereka dengan penuh keingintahuan.

"Oh, shit," ucap Yoongi dan buru-buru mendorong Jimin agar menjauhinya.

Namun Jimin tidak bereaksi sama sekali. Tatapannya melekat pada dua anak kecil yang berdiri tidak jauh darinya. Dua anak kecil yang bergandengan tangan melihat ke arahnya dan Yoongi.

.

.

.

Shit, SHIT, SHIIITTT!

Apa yang harus dia lakukan sekarang? Yoongi mengalihkan perhatiannya dari kedua anaknya kepada Jimin yang sekarang sedang menatap Taehyung dan Jungkook dengan mulut menganga, lalu Minhyuk yang menenteng ransel dan botol minuman Taehyung dan Jungkook kelihatan bingung dengan kejadian yang ada di hadapannya. Dari ekspresi wajahnya, Yoongi tahu bahwa Minhyuk sudah melihat semuanya dan sedang berusaha mencernanya.

Great. Just great.

Andaikan saja bumi bisa terbuka pada saat itu dan menelannya. Rasa malu karena sudah tertangkap making-out di muka publik tidak sebanding dengan rasa malu karena sudah tertangkap basah melakukannya di depan anak-anak dan pegawai Papa.

Ya Tuhan. Mudah-mudahan Minhyuk tidak akan menceritakan kejadian ini kepada Papa. Oh, lupakan Papa. Penjelasan apa yang harus dia berikan kepada anak-anaknya?

"Eomma, itu siapa?" tanya Jungkook yang pelan-pelan berjalan ke arahnya.

Wajahnya penuh keingintahuan. Taehyung hanya satu langkah di belakangnya.

Oh, crap, crap, crap.

Kalau saja ada tombol rewind yang bisa dia tekan pada saat ini, dia akan kembali ke dua minggu yang lalu dan memutuskan untuk tidak menghadiri acara amal, sumber bencana yang kini sedang dialaminya.

"Eomma?"

Suara Taehyung membangunkannya dan buru-buru dia mendorong Jimin dengan paksa dan melangkah mendekati anak-anaknya untuk memeluk mereka.

"Halo, Sayang," ucap Yoongi sambil mencium kepala Taehyung dan Jungkook.

Dia lalu berlutut di hadapan mereka dan dalam usaha mengalihkan perhatian mereka dari Jimin, dia berkata,

"Bisa tolong kalian naik duluan ke atas sama Minhyuk ahjussi? Eomma masih ada urusan. Sebentar lagi Eomma nyusul."

"Oke, tapi itu siapa, Eomma?" Jungkook bertanya lagi, kini dengan nada sedikit ngotot.

Tatapan Jungkook terkunci kepada Jimin dan Yoongi bersumpah bahwa kalau diberikan cukup waktu, Jungkook akan mengenali ayahnya. Dan kepanikan menyerangnya.

"Cuma temen Eomma," ucap Yoongi cepat dan segera bangun untuk menutupi Jimin dari tatapan Jungkook dengan tubuhnya.

"Pacar Eomma, ya?" tanya Taehyung.

"Bukan."

"Tapi tadi Taetae lihat Eomma cium ahjussi itu," Taehyung berkeras.

"Min Taehyung, berhenti menginterogasi Eomma!" geram Yoongi.

Bukannya kelihatan takut dengan nada tinggi suaranya, untuk beberapa detik Taehyung justru kelihatan bingung. Kemudian dia menoleh ke Jungkook yang hanya mengangkat bahunya. Sebelum bertanya dengan polos,

"Menggasi itu apa, Eomma?"

Dan Yoongi mendapati dirinya mengalami masalah untuk bertahan kepada rasa kesalnya. Yang dia inginkan adalah tertawa terbahak-bahak karena Jungkook tidak bisa mengucapkan kata 'menginterogasi'. Tentu saja kata itu terlalu panjang dan sulit untuk anak berumur tujuh tahun.

Merasakan tawanya akan meledak sebentar lagi kalau dia tetap menatap Taehyung yang masih menunggu penjelasan darinya dengan sabar, dia mengalihkan perhatiannya ke Minhyuk dan berkata,

"Hyuk, bisa tolong bawa anak-anak ke atas? Sebentar lagi saya nyusul."

Untungnya Minhyuk sudah sadar dari kebingungannya dan segera berkata,

"Ayo, Tuan Taehyung, Tuan Jungkook, ahjussi anter ke atas," sambil menggandeng Taehyung dan Jungkook dengan sedikit memaksa.

"Tapi, Eomma…" rengek Taehyung dan Jungkook pada saat bersamaan.

"Taehyungie, Jungkookie! Kalo kalian nggak ikut Minhyuk ahjussi sekarang, Eomma nggak akan ajak kalian berenang lagi. Ngerti?"

Taehyung dan Jungkook langsung memberikan tampang cemberut dan mengikuti Minhyuk tanpa berkata-kata lagi. Setelah mereka menghilang ke dalam lift, baru Yoongi berani menatap Jimin yang sedang menatap pintu lift yang sudah lama tertutup.

"Jimin," panggil Yoongi.

Sunyi. Tidak ada jawaban. Jimin bahkan tidak kelihatan mendengar panggilannya sama sekali.

"Jimin," sekali lagi Yoongi mencoba menarik perhatiannya dengan menarik lengan kemejanya.

Seperti baru sadar bahwa ada orang di depannya, Jimin mengalihkan perhatiannya dari pintu lift kepada Yoongi. Dan pada saat itulah Yoongi melihat air mata di pelupuk mata Jimin.

Dear God, apa yang telah dia lakukan? Dia sudah membuat laki-laki paling maskulin yang pernah ditemuinya menangis.

"Jimin, aku minta maaf. Aku..."

"They're mine," ucap Jimin pelan, memotong kata-kata Yoongi.

Yoongi mengangguk.

"Aku sebenarnya nggak pernah menggugur..."

Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Jimin sudah melangkah pergi, meninggalkannya lemas dan diselimuti perasaan bersalah.

.

.

.

Jimin tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di rumah, tapi dia menemukan dirinya sudah duduk di atas tempat tidurnya. Wajahnya basah oleh air mata yang dia coba tahan sepanjang perjalanan dan tangannya gemetaran nggak karuan. Dia membaringkan tubuhnya seperti bayi di dalam rahim ibu dan menangis sejadi-jadinya. Dia tidak percaya bahwa dia punya anak laki, bukan satu, tapi dua.

Ketika matanya jatuh pada mereka sejam yang lalu, dia menyangka sudah salah lihat, bahwa itu hanya imajinasinya saja. Tapi kemudian dia sadar memang melihat dua anak laki itu ada kesamaan dengan dirinya hingga membuatnya bertanya-tanya apa seseorang sudah membuat kloning dirinya tanpa seizinnya.

Segala sesuatu tentang mereka mengingatkannya pada dirinya, bahkan aura kebandelan yang terpancar dari setiap pori mereka. Satu-satunya sumbangan gen Yoongi pada mereka hanyalah hidung yang mancung dan bulat. Dia tidak lagi perlu membayangkan wajah anaknya, karena untuk pertama kalinya dalam delapan tahun ini, anaknya bukan hanya bayangan masa lalu yang menghantuinya, tapi kenyataan yang menamparnya persis di muka.

God damn it!

Bagaimana Yoongi bisa setega ini padanya? Bagaimana dia bisa berbohong tentang sesuatu sebesar dan sepenting ini? Dia tahu bahwa dia memang seorang asshole delapan tahun yang lalu, tapi apakah dia berhak diperlakukan seperti ini? Dan bagaimana dengan anak-anaknya? Mereka juga berhak mendapatkan kasih sayang dan perhatian seorang ayah.

Bukannya dia mempertanyakan kemampuan Yoongi sebagai orangtua, karena semenjak dia pertama kali bertemu dengannya, dia tahu Yoongi memiliki potensi menjadi orangtua, seorang ibu yang baik. Dan dari sedikit interaksi yang dia lihat antara Yoongi dan anak-anaknya tadi, perkiraannya benar. Tapi tetap saja, akan lebih baik bagi seorang anak untuk memiliki kasih sayang dari ibu dan ayah.

Mereka sudah berumur tujuh tahun. Dia tidak percaya bahwa dia sudah kehilangan kesempatan untuk memandikan anak-anaknya, mengganti popok mereka, membacakan cerita sebelum tidur, mengajari mereka cara membaca dan berhitung, mengeloni mereka kalau mereka takut tidur sendiri, menuntun mereka naik sepeda untuk pertama kali, nonton finding nemo sama-sama dan tertawa-tawa melihat kelucuan Dori, dan banyak lagi hal yang biasanya di lakukan seorang ayah dengan anak mereka ketika mereka balita.

Ini semua adalah kesempatan yang tidak akan pernah dia dapatkan lagi. Tapi lebih dari itu semua, dia tidak percaya bahwa dia sudah hidup berleha-leha sebagaimana layaknya laki-laki single dengan pekerjaan mapan dan tanpa tanggung jawab lain selain dirinya, sementara Yoongi harus membagi waktu antara bekerja dan mengurus anak, sendiri. Bayangan Yoongi sebagai ibu tunggal yang hanya bisa memberikan kehidupan pas-pasan kepada anak-anaknya sementara dia hidup mewah, menghantuinya.

Kenyataan bahwa Yoongi berasal dari keluarga kaya dan kemungkinan mendapatkan support financial dari keluarganya, tidak membuatnya merasa lebih baik. Dia bertanya-tanya, pengorbanan apa yang harus Yoongi lakukan untuk mendapatkan support itu?

Seingatnya dari cerita Yoongi, Papanya tidak pernah memberikan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih besar dari bayaran. Dia selalu bangga memiliki pacar seperti Yoongi, tapi rasa bangga itu sekarang bercampur dengan rasa salut dan hormat.

Rasa bersalah karena dia sudah lalai akan tugasnya untuk melindungi Yoongi dan anak-anaknya, menyelimutinya. Holy shit! Tadi pagi dia bangun hanya sebagai laki-laki single yang tanggung jawab terbesarnya adalah memastikan proyek konsultasinya berjalan lancar, dan sore ini, dia adalah seorang ayah dari dua anak laki berumur tujuh tahun.

HOLY MOTHER OF GOD, AKU SEORANG AYAH!

Apa dia bahkan bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anaknya? Dia tahu Hoseok selalu senang hangout dengannya, tapi Hoseok baru berumur empat selalu bisa disogok es krim kalau menangis. Dia yakin tidak bisa melakukan hal yang sama kepada sepasang anak berumur tujuh tahun.

Taehyung dan Jungkook, itulah nama mereka. Nama yang terdengar kuat untuk anak laki. Apa Yoongi memilih nama itu sendiri atau mendapatkan input dari Mama dan Papanya? Dan marga mereka adalah Min. Ya, setidak-tidaknya dari yang dia dengar, nama Taehyung adalah Min Taehyung, maka kemungkinan besar Jungkook juga memiliki marga yang sama.

Jimin mengerti kenapa Yoongi tidak memberikan marga Park kepada Taehyung dan Jungkook, tapi tetap saja, dia merasa sedikit dicurangi karena anak-anaknya, darah dagingnya, tidak memiliki identitas yang mengasosiasikan dirinya dengan mereka. Yang bisa menunjukkan bahwa mereka adalah miliknya dan dia milik mereka. Park Taehyung dan Park Jungkook. Hmmm, nama itu kedengaran lebih cocok untuk mereka daripada Min Taehyung dan Min Jungkook.

Seperti apakah mereka? Apa mereka punya banyak teman? Apa hobi mereka, makanan favorit mereka? Apa mereka akur? Apa mereka pernah bertanya-tanya tentang ayah mereka? Dan kalau memang mereka bertanya, apa yang Yoongi sudah katakan kepada mereka? Andaikan dia bisa menanyakan semua ini... Sayang dia terlalu shock untuk melakukan apa-apa selain menatap mereka dengan mulut ternganga siang tadi.

Dari semua pertanyaan yang kini berputar-putar di kepalanya, ada satu yang paling penting, tapi dia takut menanyakan karena tahu itu akan menghancurkannya kalau jawabannya adalah "Tidak", yaitu, apa anak-anaknya mau bertemu dengannya? Bagaimana kalau mereka tidak tertarik sama sekali untuk mengenalnya? Bahwa mereka puas hanya hidup dengan Yoongi. Bahwa mereka tidak membutuhkannya.

Oh, itu akan membunuhnya. Tapi pertanyaan paling besar yang harus dia tanyakan adalah, apakah Yoongi akan memperbolehkannya mengenal mereka? Kemarahan yang dia rasakan karena Yoongi sudah menyembunyikan Taehyung dan Jungkook darinya kembali lagi.

FUCK WHAT HE WANTS!

Terserah Yoongi mau atau tidak, siap atau tidak, dia akan mengenal anak-anaknya. Perlahan-lahan dia bangun dari tempat tidur dan berjalan sedikit kuyu menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dia sudah membuat kesalahan delapan tahun yang lalu dengan tidak meminta bantuan ketika membutuhkannya, dia tidak akan membuat kesalahan yang sama.

Setelah lebih segar dia mencari ponselnya dan menekan nomor ponsel Jin.

"Hei," ucap Jin.

Hanya mendengar suara Jin membuatnya ingin menangis lagi. Oh God, sejak kapan dia jadi seperti banci begini? Dia tidak bisa ingat kapan terakhir kali dia menangis sebanyak ini. This is fucking crazy. Dia menarik napas dalam dan hanya bisa berkata,

"Jin...," sebelum emosi mengambil alih dan dia tersedak.

Jimin mendengar Jin memanggil namanya tiga kali, setiap kali terdengar semakin khawatir, tapi dia tetap tidak bisa membalas.

"Jimin, apa ada yang salah. Apa sesuatu terjadi pada Eomma? Pada Appa? ANSWER ME, DAMN IT. YOU'RE SCARING ME!" Jin mulai histeris.

Dia tidak tahu bagaimana dia bisa mengucapkannya, tapi dia mendengar dirinya berbisik,

"Aku punya anak, Jin."

"Apaaa?!" teriak Jin.

Jimin menarik napas dan mengulang kata-katanya.

"Aku punya anak. Yoongi nggak pernah ngegugurin kandungannya delapan tahun lalu."

Dan untuk beberapa detik tidak ada balasan apa-apa dari Jin. Ketika Jimin berpikir bahwa sambungan teleponnya secara tidak sengaja sudah terputus, dia mendengar Jin berteriak sekeras-kerasnya,

"YA TUHANKU! AKU KE SANA SEKARANG!" sebelum sambungan betul-betul terputus.

.

.

.

Ketika Jin melabrak masuk ke dalam kamarnya sejam kemudian, Jimin sudah jauh lebih tenang. Dia menuliskan sebuah daftar tentang apa saja yang harus dilakukannya untuk menghadapi situasi ini.

Yang paling teratas pada daftar ini adalah: Call George. George West adalah bosnya di Chicago. Hanya membutuhkan semenit untuk menyadari bahwa dia tidak bisa kembli ke Amerika sekarang. Sulit baginya untuk membayangkan dirinya kembali ke rutinitasnya yang dulu di Chicago seakan kejadian paling penting di dalam hidupnya tidak sedang terjadi.

Dia tahu George akan mengamuk begitu mendengar dia mau memperpanjang cutinya untuk waktu yang tidak bisa ditentukan di tengah-tengah pelaksanaan proyek konsultasi besar yang sedang mereka tangani sekarang, tanpa penjelasan masuk akal. Oleh karena itu, hal ini menjadi prioritasnya. Keputusannya sudah bulat, bahwa kalau sampai dipecat karena ini, dia harus menerima keputusan itu dengan tangan terbuka.

Hal kedua: Kasih tahu Mama dan Papa. Ini satu hal yang membuatnya lebih panas-dingin daripada prospek kehilangan pekerjaan. Tidak peduli dia berumur tiga puluh tahun, tapi seperti anak yang sudah berbuat salah pada umumnya, dia takut menghadapi orangtua. Dia yakin Mama dan Papa akan senang tujuh turunan begitu tahu tentang keberadaan Taehyung dan Jungkook. Tuhan tahu dia sudah kenyang diteror oleh mereka untuk memberikan cucu.

Tapi itu bukan berarti mereka akan senang mendengar dia sudah menghamili seorang cowok delapan tahun yang lalu dan tidak menikahinya. Disinilah bantuan Jin akan sangat diperlukannya.

Hal ketiga: Call Yoongi. Untuk yang terakhir ini dia harus melakukannya dengan sangat berhati-hati karena tidak mau membuat Yoongi defensive dan justru tidak memperbolehkannya bertemu dengan Taehyung dan Jungkook.

Menurut sedikit riset yang dilakukannya melalui Naver, hukum di Korea mengatakan karena dia tidak pernah menikahi Yoongi, dia tidak punya hak apa-apa atas anaknya. Stupid law! Hanya karena dia tidak mengandung anak mereka selama sembilan bulan, bukan berarti dia memiliki lebih sedikit hak atau kasih sayang kepada anak mereka daripada sang ibu.

Kesadaran ini membuatnya terdiam sesaat. Bagaimana dia bisa menyayangi manusia yang baru saja ditemuinya kurang dari sepuluh menit, dia tidak tahu. Tapi itulah kenyataannya. Dia menyayangi dan mencintai Taehyung dan Jungkook dengan seluruh hati dan jiwanya. Oleh karena itu, dia harus menghubungi seorang pengacara untuk memastikan perkara hak asuh, tapi untuk sementara waktu sepertinya dia harus baik-baik dengan Yoongi kalau mau berkesempatan melihat anak-anaknya lagi.

"Jimin, I am so sorry," ucap Jin dan langsung menyelubunginya di dalam pelukannya.

"Makasih ya udah dateng," kata Jimin sambil menerima pelukan itu dengan pasrah.

"Nggak masalah. Aku lega kamu hubungin aku," Jin mencium keningnya dan melepaskannya untuk duduk di sebelahnya sebelum bertanya,

"Dari mana kamu tahu kalo kamu punya anak?"

"Dua anak."

"Excuse me?" tanya Jin bingung.

"Anakku kembar."

"Bercanda kamu?" Jin kelihatan tidak percaya.

Jimin menggelengkan kepalanya untuk menjawab keraguan ini yang disambut dengan,

"Oh Tuhan," oleh Jin.

"Tapi gimana… aku nggak… maksudku… keluarga kita nggak ada turunan kembar sama sekali. Apa kamu yakin itu anak kamu?" tanya Jin sedikit terbata-bata.

"Jin, mereka kelihatan kayak kembaran aku waktu umur segitu."

"Apa mereka sepreman kamu?"

"Salah satunya, yang namanya Taehyung, kelihatan jauh lebih preman daripada aku. Tinggi, gempal dan siap berantem sama siapa aja."

"Jadi nama anak kamu Taehyung?"

Jimin mengangguk.

"Dan Jungkook."

"Wow. Tokcer baby carrot–mu dipikir-pikir…"

"Aku tahu dan jangan ngeledek," desah Jimin.

Jin terdiam sesaat, seakan memikirkan sesuatu sebelum berkata- kata lagi.

"Kebayang nggak sih? Ada tiga kamu di muka bumi ini. Seolah-olah satu kamu aja belum cukup untuk membuat semua orang pusing, Tuhan harus bikin dua lagi."

Tidak merasa tersinggung dengan kata-kata Jin, Jimin justru merasa depressed. Ya Tuhan, mudah-mudahan anak-anaknya tidak mewarisi tingkah lakunya yang sering dibilang 'anak iblis' waktu kecil saking bandel dan susah diaturnya. Sejujurnya, dia mengasihani Yoongi kalau sampai mereka seiblis dirinya.

"Apa ada apapun yang bisa aku bantu?"

"Aku perlu kamu untuk nemenin aku waktu aku break the news ke Eomma dan Appa."

"Jadi mereka belum tahu tentang ini?"

Jimin menunduk dan menggeleng.

"Aku nggak tahu gimana ngomongnya, Jin."

"Tenang. Nanti aku pasti bantu, oke?"

.

.

.

Sudah tiga hari semenjak Yoongi terakhir melihat Jimin dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Telepon dan e-mail-nya tetap tidak bersuara, padahal dia sudah membatalkan blok pada nomor telepon Jimin dan spam pada e-mail Jimin.

Beberapa kali dia mencoba menelepon Jimin tapi mundur pada detik terakhir. Dia juga mencoba mengirimkan e-mail, tapi e-mail-nya stuck pada kata 'Jimin'. Ya Tuhan, dia bisa mati oleh rasa bersalah kalau Jimin tidak segera menghubunginya.

Dia beruntung Minhyuk tidak mengatakan apa-apa kepada Papa, tapi seharusnya dia tahu ada dua orang lagi yang menyaksikan kejadian ketika hormonnya mengalahkan akal sehatnya. Sejujurnya, kalau ada yang bertanya bagaimana dia berakhir mencium Jimin, dia tidak bisa menjelaskannya.

Satu detik dia sedang mencoba meneriakkan 'fuck you' kepada Jimin atas kata-katanya yang jelas-jelas memojokkan itu, detik selanjutnya mereka sudah ciuman seolah-olah alien telah menyerang bumi dan inilah saat terakhir yang mereka bisa habiskan bersama-sama sebelum mereka punah.

Betul-betul memalukan.


-TBC-

[Jreng jreng... finally Jimin ketemu sama taekook. *udah banyak kan yg tunggu2 moment ini*]

[Walo ketemunya pas lagi asik ciumin Yoongi huehehe... /#Jiminselalumesum/plakkk]

[Aku terharu loh pas Jimin tuh langsung berkaca2 pas tau keberadaan taekook... ampe nangis segala lagi dianya T_T kalo kalian gimana? Seneng kah Jimin akhirnya notis anak kembarnya? :')]