Title : All That I Am
Chapter : 11
Author : Yukishima aka Daiichi
Rating : T to M
Genre : Drama, Romance, little bit angst
Fandom : Super Junior
Pairing : Sibum; Sichul; slight Changbum, Haebum, GS
Disclaimer : Minjem nama doang. Tapi cerita milik saya ^_^
Note Author : Saya gak akan banyak komen.
Ingat2 pesan saya, ini hanya fic bukan kenyataan. Ambil yang baik, jangan ditiru hal yang buruknya :-D
=o=
Seharian ini Heechul sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Sebagai pemilik agensi yang menaungi artis-artis ternama, tentu saja tak bisa dikatakan bahwa pekerjaan itu mudah. Ia harus berusaha agar artis-artisnya selalu mengeluarkan karya yang tidak monoton dan imejnya tetap bagus di mata para penggemar. Selagi asyik dengan data-data artis yang bertebaran di meja kerjanya, pintu ruangannya diketuk dari luar. Setelah itu masuklah sekretaris pribadinya, seorang gadis berwajah manis dan bertubuh mungil.
"Sajangnim, ada yang ingin menemuimu," katanya pada Heechul.
"Bukankah aku sudah berpesan padamu supaya tidak ada yang menemuiku hari ini? Banyak yang harus kukerjakan dan harus selesai hari ini juga," Heechul menghentikan kegiatannya.
"Aku tahu. Tapi ini adik sepupumu Changmin-ssi. Dia ada diluar sekarang," jawab sekretarisnya dengan sabar.
"Biarkan dia masuk," perintah Heechul akhirnya.
"Baik," gadis itu membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan Heechul.
Tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi bernama Changmin tadi.
"Heechullie noona," Changmin tersenyum tipis kearah Heechul. Sepupu Heechul ini kemudian mengambil duduk di atas sofa merah dalam ruangan tersebut.
"Adakah sesuatu yang penting Changminnie?," Heechul berdiri dari tempat duduknya menghampiri Changmin.
"Ini," Changmin menyerahkan amplop besar berwarna cokelat yang tadi dibawanya.
Heechul terdiam beberapa saat menatap amplop besar yang ada di tangannya. Ada perasaan takut untuk membukanya. Takut akan kenyataan buruk seperti yang selama ini dipikirkannya.
"Bukalah noona. Bukankah kau yang memintaku menunjukkannya?," ucapan Changmin menyadarkan lamunan Heechul.
Akhirnya Heechul pun segera membuka amplop tersebut dan mengambil isinya. Beberapa saat ia terfokus pada lembaran-lembaran kertas yang kini dilihatnya. Wajahnya mungkin terlihat tenang, namun tidak dengan hatinya. Didalam sana, suasana hatinya sedang bergemuruh, bercampur aduk menjadi satu.
Tatapannya kemudian terpaku pada lembaran foto yang tercetak gambar diri seorang laki-laki tampan dengan seorang gadis cantik. Meskipun terlihat bahwa foto itu diambil dengan diam-diam dan dari jarak yang cukup jauh, Heechul bisa mengenali siapa sosok di dalam foto tersebut. Laki-laki itu, juga gadis yang bersamanya. Perempuan cantik itu memejamkan mata sambil sesekali menghela nafas panjang.
"Sudah berapa lama mereka berhubungan?," suara lirih Heechul memecah keheningan antara mereka.
"Belum terlalu lama. Sekitar 2 bulan lebih," jawab Changmin.
"Kau mencintai gadis yang menjadi selingkuhan iparmu eoh? Lucu sekali," Heechul tertawa satir.
"Terserah apa yang kau katakan noona, tapi menurutku dia gadis yang menarik. Aku langsung menyukainya saat pertamakali melihatnya. Tidak mengherankan jika Siwon hyung juga jatuh cinta padanya," ujar Changmin dengan nada tenang.
"Kau tentu sudah tahu apa saja yang mereka lakukan..," tanya Heechul lagi.
"Gambar di foto ini," Changmin menunjuk foto seorang laki-laki menggandeng mesra seorang gadis di depan sebuah rumah besar bergaya modern. "Mereka pernah menginap di sebuah rumah peristirahatan dekat pantai Gyeongpo di daerah Gangwon. Dari sumber yang kudapatkan, rumah itu atas nama Choi Siwon. Suamimu," Changmin menjelaskan.
Heechul tampak terkejut mendengarnya. Baru kali ini dirinya mendengar Siwon mempunyai rumah peristirahatan di luar kota. Ia yang pernah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun dan sekarang menjadi istrinya pun sama sekali tidak mengetahuinya justru gadis lain yang pernah diajak kesana. Bisa dibayangkan bagaimana posisi gadis itu di hati Siwon dan apa saja yang pernah mereka lakukan selama menjalin kasih secara diam-diam. Apapun yang ia rasakan terhadap Siwon, sebagai seorang istri tetap saja Heechul tidak suka jika sang suami mengkhianatinya.
"Siwon hyung sering berkunjung ke rumah Kim Kibum-ssi. Mereka juga kadang berkencan di luar jam kerja, bahkan beberapa kali di apartemen Siwon hyung," Changmin menghentikan perkataannya saat melihat raut wajah cantik sepupunya itu menegang. "Chullie noona. Kau tidak apa-apa?"
"Lanjutkan saja," ujar Heechul penasaran. Walaupun gejolak dihatinya semakin tak menentu, namun ia ingin mendengar semuanya betapapun itu menyakitkan.
"Beberapa hari yang lalu Siwon hyung membeli sebuah mobil sedan Jaguar XK RWD 2 seharga US $ 90,500.00. Kau pasti bisa menebak untuk siapa Siwon hyung membelinya karena ada bukti pembelian dan transfer bank dengan rekening atas nama Choi Siwon disana. Mobil tersebut atas nama gadis itu," Changmin menunjuk lembaran-lembaran kertas yang masih dipegang Heechul. Iamenarik sebelah bibirnya ke samping, mencetak senyum sinis disana.
"Gadis yang mengagumkan," nada suara Heechul lebih terdengar mengejek daripada memuji.
"Menurutku Siwon hyung-lah yang mengagumkan karena bisa mendapatkan hati seorang Kibum yang sulit diluluhkan oleh siapapun."
"Apa maksudmu?," ucapan Changmin membuat Heechul menatap tak mengerti pada sepupunya itu.
"Kibum-ssi. Dia gadis yang baik. Sama sekali tak terlihat bahwa dia adalah gadis murahan yang merayu pria kaya raya yang ditemuinya. Kyuhyun juga sudah menceritakan semua tentang Kibum-ssi padaku karena mereka dulu berteman ketika SMA."
"Ck..kau membelanya karena menyukai Kibum-ssi," sahut Heechul sinis.
"Tidak. Bukan karena itu. Kau akan mempercayai perkataanku kalau noona berbicara dengannya dan lebih mengenalnya," ujar Changmin. "Oiya, aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang."
"Siapa?"
"Nanti kau akan tahu. Tapi tidak sekarang," Changmin menatap penuh arti kearah Heechul.
=o=
Semenjak Siwon membelikannya sebuah mobil mewah, tak sekalipun ia melihat Kibum menggunakannya. Seperti pagi ini, lagi-lagi Siwon melihat Kibum berangkat ke kantor dengan transportasi umum. Padahal Siwon sengaja membelikan Kibum mobil agar kekasihnya itu tidak kelelahan harus menggunakan transportasi umum kemanapun. Yang terlihat justru Kibum tampak santai melangkah dengan anggun dari halte bis menuju kantor yang jaraknya beberapa blok dan kini Kibum melakukan hal yang sama ketika pulang dari kerja. Sungguh Siwon tak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh gadis cantik berparas Snow White tersebut.
Setelah mengikuti langkah Kibum dengan pelan hingga sampai ke halte bis, Siwon kemudian menghentikan mobilnya. Ia sengaja membunyikan klakson agar Kibum menyadari kehadirannya.
"Sajangnim," ucap Kibum sedikit terkejut dengan kemunculan Siwon.
"Masuklah," perintah Siwon sambil membuka pintu mobil dari dalam.
Kibum tampak sedikit ragu, namun akhirnya memutuskan untuk menuruti Siwon. Segera setelah Kibum memasuki mobil, Siwon langsung melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang. Entah kemana arah tujuannya, Kibum hanya diam saja tidak menanyakannya pada Siwon. Tak ada percakapan di antara mereka berdua selama perjalanan itu. Tak sampai 30 menit mobil itu pun berhenti. Kibum memandang keluar jendela mobil. Kini mereka telah berada di tepi sungai Han. Semburat keoranyean matahari sore tampak terpantul di atas permukaan sungai yang terlihat tenang. Kibum menatapnya cukup lama hingga semburat keoranyean tersebut lenyap dan tergantikan dengan pantulan cahaya lampu penerangan di sekitarnya.
"Kenapa kau tak memakainya?," suara berat Siwon memecah kesunyian.
Kibum tak menoleh. Tetap memandang lurus ke depan.
"Aku lebih nyaman naik kendaraan umum Siwonnie. Lagipula aku belum begitu mahir mengendarai mobil," ujar Kibum.
"Bukankah kau memiliki SIM? Bagaimana bisa belum mahir?"
"Benar. Tapi sudah lama aku tidak mengendarai mobil."
"Apa perlu kuajari?," tawar Siwon.
"Tidak. Terimakasih. Seperti yang kukatakan tadi. Aku lebih nyaman menggunakan kendaraan umum," Kibum tersenyum tipis.
Siwon menatap tak percaya pada Kibum. Ia kemudian menghela nafas panjang. Bagaimanapun ia tahu bukan itu alasan Kibum yang sebenarnya.
"Seharusnya kau mengatakan dengan jujur padaku bahwa kau tidak menyukai mobil itu. Jadi aku bisa menggantinya dengan yang lain."
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?," Kibum kini mengalihkan pandangan pada Siwon. "Bukankah sudah kukatakan, apapun pemberianmu aku akan menyukainya."
"Lalu kenapa kau tak memakainya? Padahal aku sengaja membelikan itu untukmu agar kau tidak perlu kelelahan menggunakan kendaraan umum setiap harinya."
"Siwonnie.. Aku menghargai maksud baikmu. Tapi kau melupakan sesuatu," Kibum menatap lurus Siwon. "Aku hanya gadis biasa, dari keluarga sederhana. Pekerjaanku pun hanya karyawati biasa, bukan pemilik perusahaan besar. Bagiku, asal bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, itu sudah cukup. Aku tidak terbiasa hidup berlebihan. Selain itu, jika orang lain melihat aku memakai mobil mewah yang bahkan tak bisa kubeli dengan gaji beberapa tahun selama aku bekerja, bagaimana pikiran mereka? Semua pasti tahu bahwa aku tak mungkin membelinya sendiri. Mereka akan mencari tahu, dan pada akhirnya semuanya akan terungkap. Kau..dan aku. Bagaimana jika keluargamu mengetahui ini?," sepasang iris indah berwarna kelam milik Kibum kini terlihat meredup.
"Kibummie..," lirih Siwon.
"Aku mencintaimu bukan karena apa yang kini kau miliki semua. Yang kuinginkan hanyalah, apa yang kurasakan selama ini bukan cuma perasaan sepihak saja."
Wajah cantik itu memang terlihat tenang. Namun tatapan matanya tak mampu menyembunyikan gejolak hati yang sedang dirasakannya. Dada Siwon terasa sesak ketika melihat kepedihan disana. Seharusnya ia tak melibatkan Kibum dalam hal seperti ini. Namun semuanya telah terjadi. Entah bagaimana mengakhirinya. Siwon sendiri bahkan tak sanggup membayangkan hidupnya tanpa menatap sosok indah gadis itu, mendengar suara lembutnya, juga sentuhan hangatnya.
"Hei... Kenapa berwajah seperti itu? Kau jadi terlihat jelek," canda Kibum ketika melihat tatapan dari mata tajam Siwon berubah sendu.
Kibum mengulurkan tangannya meraih wajah tampan itu, lalu membelai pipinya dengan lembut. Siwon membalas dengan menyentuh jemari lentik Kibum. Perlahan mempersempit jarak di antara mereka, kemudian menempelkan bibir jokernya pada bibir ranum Kibum. Hangat dan manis. Begitu yang dirasakan Siwon saat menyentuh bibir merah alami itu. Memagut mesra. Melumatnya pelan dan penuh perasaan seolah tak ingin melepaskannya. Bukan ciuman bernafsu seperti biasanya, tapi ciuman yang menyalurkan segenap perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, hanya lewat sentuhan itu.
"Aku mencintaimu, Kibummie. Sangat mencintaimu," ucap Siwon lembut setelah mengakhiri pertautan bibir mereka.
"Begitu juga diriku," senyum mempesona terulas dari bibir merah Kibum.
Siwon mengecup sayang pucuk kepala Kibum, lalu meraih tubuh mungil itu dalam rengkuhannya. Berdua, menikmati keindahan malam di tepi Sungai Han. Kibum pun tak mau melewatkan begitu saja kehangatan yang diberikan Siwon. Ia merebahkan kepalanya di dada bidang kekasihnya tersebut.
Sesekali Siwon membelai lembut bahu Kibum sambil sesekali mengecupi pucuk kepalanya, menghirup wangi tubuh yang menguar dari gadis itu. Lama-kelamaan Siwon pun tergoda untuk menyentuh bagian tubuh sintal dari Kibum yang masih tertutupi pakaian. Tangan besarnya perlahan meraba punggung Kibum, menelusuri lekuk tubuhnya. Tangan yang lain menyentuh gumpalan daging berlebih yang membentuk dada Kibum, meremasnya perlahan. Bahkan bibir joker yang semula hanya mengecup lembut pucuk kepala Kibum kini beralih ke daun telinganya. Memberi sentuhan-sentuhan lembut disana, kemudian beralih pada leher jenjang nan putih milik Kibum.
"Siwonnie...aahhn..geli," Kibum mengeluarkan desahan tertahan ketika Siwon menelusuri leher jenjangnya menggunakan bibir dan lidahnya.
"Tapi kau menyukainya bukan?," bisik Siwon sedusif membuat wajah cantik itu bersemu merah.
Tangan Siwon mulai bergerak nakal, melepas kancing kemeja Kibum hingga menampakkan gundukan bulat yang masih tertutupi bra berwarna merah.
"Kau terlihat lebih seksi dengan warna merah," ujar Siwon lagi.
Direbahkannya tubuh indah Kibum di atas jok penumpang lalu menggeser posisi jok tersebut agar lebih leluasa. Siwon langsung menaikkan penutup dada Kibum yang berwarna merah menyala itu setelah melepaskan pengaitnya. Menangkupkan tangan besarnya pada gundukan berlebih dada Kibum, memijitnya perlahan sambil memainkan ujungnya hingga menegang. Mengganti sentuhan itu menggunakan indera pengecapnya. Memperlakukan sepasang pusat kenikmatan itu bergantian dengan adil.
"Siwonnie..jangan disini. Nanti dilihat orang," Kibum mencegah ketika sebelah tangan Siwon mulai menyentuh bagian kewanitaannya, bermaksud melepas kain penutupnya.
"Tidak ada orang disini Kibummie. Ayolah..sebentar saja," bujuk Siwon. Nampaknya laki-laki tampan ini sudah tidak mampu membendung hasratnya lagi untuk menyentuh tubuh sang Snow White.
"Tapi...hmmmph.."
Sebelum Kibum berbicara lebih banyak lagi, bibir joker Siwon lebih dulu membungkamnya dengan ciuman bergairah dalam waktu yang lama dan baru terhenti ketika keduanya membutuhkan pasokan oksigen ke dalam rongga dadanya. Hanya sebentar, berpagut mesra dan intens berkali-kali. Saling berbagi saliva, menikmati kehangatan dan kelembutan dalam pertautan bibir tersebut. Tanpa melepas seluruh penutup tubuhnya, saling meraba, merasai, membangkitkan simpul-simpul syaraf kenikmatan di sekujur tubuh keduanya. Memompa kerja jantung lebih keras lagi, memaksa kelenjar keringat agar mengalirkan peluh dari lubang pori-pori kedua insan berlainan jenis itu.
"Aaahhn..."
Bibir merah Kibum mengeluarkan desahan ketika Siwon memasuki tubuhnya. Membiarkan laki-laki diatasnya memanjakan bagian intimnya, memberikan kenikmatan duniawi entah untuk yang kesekian kalinya. Berbagi sentuhan, saling memuaskan hasrat melalui penyatuan tubuh mereka hingga mencapai kenikmatan tertinggi.
=o=
Lewat tengah malam Siwon baru sampai ke rumahnya. Entah mengapa ia bisa melupakan semua hal jika bersama dengan Kibum. Siwon lupa bahwa ia laki-laki yang telah menikah dan ada orang yang menantinya di rumah. Sepanjang perjalanan pulang tadi ia berharap semoga saja Heechul sudah tidur sehingga dirinya tak perlu mencari-cari alasan untuk membohongi istrinya. Setiap langkah Siwon berusaha sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Heechul.
"Wonnie..," sapaan halus membuat langkahnya terhenti.
Siwon melihat siluet tubuh Heechul sedang duduk di atas kursi mewah ruang tamu. Perempuan cantik itu duduk dengan anggun sambil menyesap segelas minuman beralkohol di tangannya. Duduk dengan anggun bak putri raja dan menatapnya dengan penuh ketenangan.
"Kau belum tidur Heechullie," Siwon mendekati istrinya.
"Aku menunggumu," jawab Heechul dengan nada rendah. "Champagne?," Heechul menawarkan minuman itu pada Siwon.
"Tidak. Aku sedang tak ingin minum," tolak Siwon. "Seharusnya kau tidak perlu menungguku Chullie. Bukankah kau juga lelah?," ujar Siwon sambil mengusap pucuk kepala Heechul.
"Bukankah aku istrimu? Apa salah jika seorang istri menunggu suaminya pulang?," tanya Heechul dengan nada sarkastis. Bibir indahnya menyesap sedikit cairan beralkohol itu perlahan lalu menatap Siwon lagi. "Akhir-akhir ini kau sering pulang malam Wonnie. Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Kau juga tidak memberitahuku jika pulang terlambat."
Siwon sedikit terkejut dengan perkataan Heechul. Tidak biasanya istri cantiknya itu mempedulikan dirinya sampai seperti ini. Dari nada bicara Heechul, Siwon menangkap itu bukan kekhawatiran tapi lebih kepada kecurigaan.
"Maafkan aku Chullie. Akhir-akhir ini pekerjaanku banyak. Aku hanya ingin semuanya berjalan dengan sempurna tanpa ada kesalahan," dusta Siwon. Mana mungkin ia mengatakan pada istrinya bahwa dirinya menghabiskan waktu bersama kekasih rahasianya bukan?
"Begitu ya?," Heechul tersenyum satir.
"Hmm..," Siwon tersenyum mempesona menampakkan sepasang lesung pipinya.
"Syukurlah jika begitu. Aku hanya khawatir kalau kau mulai melirik wanita lain Wonnie," lirih Heechul membuat Siwon terkesiap mendengarnya.
"Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu Chullie?," walaupun apa yang dikatakan Heechul itu benar tapi Siwon tak mungkin mengiyakannya.
"Pekerjaanmu memungkinkan untuk bertemu dengan banyak relasi kerja. Tentu di antara mereka ada yang cantik bukan? Bahkan aku melihat di kantormu banyak juga karyawati yang berwajah cantik."
"Benar yang kau katakan itu Chullie. Tapi tidak ada yang menyaingi kecantikanmu," rayu Siwon berusaha meyakinkan istrinya.
"Bagaimana pendapatmu tentang Kim Kibum-ssi?," guratan wajah Siwon berubah serius saat mendengar nama itu terucap dari bibir indah Heechul.
"Apa maksudmu?"
"Aku bertemu dia beberapa waktu yang lalu saat Changmin mengajaknya makan siang. Dia salah satu karyawatimu bukan?," tanya Heechul dengan wajah tenang.
"Benar," jawab Siwon singkat.
"Menurutku dia sangat cantik. Bagaimana menurutmu?," Heechul menatap lurus kearah Siwon. Senyum tipis menghiasi wajah cantiknya, kontras dengan suasana hatinya saat ini.
"Kenapa kau tanyakan itu padaku?," senyuman Heechul itu sama sekali terlihat tidak manis di mata Siwon. Lebih terlihat menakutkan malahan.
"Apakah kau mengenalnya?"
"Tentu saja karena dia bekerja di tempatku," irama jantung Siwon semakin bertalu namun ia tetap berusaha bersikap tenang, menyembunyikan dusta dengan pintar seperti yang selama ini dilakukannya.
"Kau tinggal menjawab saja pertanyaanku tadi. Apakah sesulit itu? Bukankah dia hanya salah satu karyawatimu saja? Atau jangan-jangan kau mempunyai perasaan khusus padanya," ucap Heechul sinis.
"Chullie, apa kau sedang bercanda?," Siwon terkekeh pelan dengan perkataan Heechul. Istri cantiknya memang bukan orang yang bodoh. Tapi Siwon tak ingin Heechul mengetahui rahasianya begitu saja. "Baiklah, aku akan menjawabnya. Tentu dia adalah gadis yang cantik. Tapi bukan dia saja yang berwajah cantik karena dikantor juga banyak. Walaupun begitu, kau tetap yang paling cantik."
"Kau memang selalu pintar merayu Wonnie," lagi-lagi Heechul tersenyum aneh. "Benar, memang banyak yang berwajah cantik. Tapi dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki gadis lain maupun diriku. Benar bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Kim Kibum. Dia bukan sekedar muda, cantik dan pintar. Tapi..dia mampu memberikan apa yang selama ini tidak bisa kuberikan padamu," Heechul meneguk sekali lagi champagne-nya. "Seks. Kau juga butuh seks bukan? Aku tak bisa melakukannya, tapi dia bisa. Selain itu, dia juga memiliki hatimu,"sepasang mata cantik itu menatap Siwon tajam.
"Kau sudah mabuk Chullie," elak Siwon. "Kuantar kau ke kamar," ia menahan tangan Heechul ketika bermaksud menenggak lagi cairan beralkohol tersebut.
"Aku tidak mabuk Choi Siwon sajangnim! Minuman seperti ini tak akan membuatku mabuk semudah itu," ucap Heechul dengan nada tinggi sambil menepis tangan kekar suaminya. Menatapnya intens, dan tersenyum anggun namun terlihat janggal di mata Siwon. "Selama ini, kau tidak mencintaiku bukan? Kau menikahiku karena rasa kasihan..atau karena hal lain?"
"Sebaiknya kita beristirahat," ucap Siwon lembut berusaha membantu Heechul berdiri, tak menghiraukan pernyataan istrinya tadi.
"Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku tadi?," Siwon tetap terdiam. "Apa dia memuaskanmu Wonnie?,"pertanyaan Heechul membuat Siwon mau tak mau memalingkan wajah pada perempuan cantik ini.
"Aku tak mengerti dengan apa yang kau ucapkan Chullie. Kau boleh cemburu padaku tapi jangan menuduhku seperti itu. Bukankah sudah seringkali kukatakan akan menunggu hingga kau sembuh," Siwon meraih jemari lentik Heechul dan menggenggamnya lembut. "Maaf, ini semua salahku karena terlalu sibuk bekerja hingga tidak memperhatikanmu. Aku akan mengurangi kesibukanku dan meluangkan waktu untukmu serta Taemin seperti dulu."
"Terimakasih Wonnie. Maafkan aku yang cemburu berlebihan. Seharusnya aku mengerti pekerjaanmu," bibir indahnya berusaha menarik segaris senyuman manis.
"Tidak apa-apa Chullie. Kau berhak untuk cemburu karena aku suamimu," tangan kekar Siwon mengusap lembut pipi Heechul. "Ayo kita ke kamar," ajak Siwon pada istrinya.
"Kau duluan saja."
"Jangan minum lagi," nasihat Siwon.
"Hmm...," Heechul tersenyum lemah.
"Baiklah, aku ke kamar dulu," Siwon mengecup pelan pucuk kepala Heechul lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Dimana mobil barumu Wonnie?," tanya Heechul tiba-tiba membuat Siwon menghentikan langkahnya. "Bukankah kau baru saja membeli mobil baru?," Heechul mengulang pertanyaannya. "Kenapa tidak kau tunjukkan padaku? Padahal aku juga ingin melihatnya Wonnie," Siwon tetap tidak berpaling.
"Maksudmu mobil apa Chullie? Bukankah kau tahu aku masih memakai mobil lamaku," Siwon berusaha mengelak walau pertanyaan Heechul tadi membuatnya tercekat. Heechul telah mengetahui semuanya.
"Begitu ya?," Heechul tersenyum sinis walaupun tentu saja tidak dapat dilihat Siwon yang memunggunginya. Lalu mobil Jaguar XK RWD 2 seharga US $ 90,500.00 yang baru kau beli ini untuk siapa?"
Siwon akhirnya berpaling menatap kembali Heechul. Perempuan cantik itu meletakkan sebuah amplop besar berwarna cokelat ke atas meja. Seolah mengerti, Siwon meraih amplop tersebut lalu membuka dan mengambil isinya. Guratan wajah tampan itu terlihat menegang ketika melihat foto-foto yang berada di tangannya.
"Tidak perlu berwajah serius begitu Wonnie," Heechul tersenyum anggun. "Kau pasti membelikan mobil Kim Kibum-ssi sebagai hadiah karena dia karyawati teladan bukan? Kau benar-benar sajangnim yang baik Wonnie."
Pujian Heechul terdengar sebagai ejekan di telinga Siwon. Namun laki-laki tampan berlesung pipi ini masih terdiam, tak membalas perkataan Heechul.
"Ah..kau pasti tahu bahwa Changmin menyukainya. Kelihatannya dia gadis yang baik. Kurasa mereka cocok. Kau tidak keberatan bukan jika mereka menjalin hubungan? Bukankah kau tidak ada hubungan apapun dengan Kim Kibum-ssi selain hubungan kerja. Foto-foto kalian berdua ini pasti hanya karena berhubungan dengan pekerjaan bukan?"
Siwon masih terdiam. Hanya menatap lurus Heechul. Menunggu apalagi yang akan dilakukan istrinya tersebut. Ia tak menduga bahwa Heechul yang selalu diperlakukan bak putri saja, bersikap manja, dan terlihat lemah mampu bersikap seperti ini. Heechul sedang mengkonfrontirnya secara tidak langsung.
"Sayang sekali jika gadis secantik dan secerdas dirinya harus kehilangan pekerjaan. Aku juga tak ingin bakatnya tersia-siakan," sepasang mata bulat nan indah itu menatap tajam Siwon. "Hmm..aku sudah sudah lelah dan mengantuk. Sebaiknya kita beristirahat Wonnie," ujar Heechul seolah tak ada sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya.
Raut wajah Heechul itu melembut, menatap penuh arti pada suaminya. Heechul beranjak dari kursi ruang tamu lalu melangkah anggun meninggalkan Siwon yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Tangan kekar Siwon itu tanpa sadar meremas lembaran foto yang sedari tadi masih digenggamnya. Melampiaskan emosi yang berusaha ia redam. Heechul sepertinya tidak akan bermain-main dengan setiap perkataannya.
=o=
Seperti biasa Kibum disibukkan dengan pekerjaannya bahkan kadang ia harus merelakan diri untuk lembur kerja. Melelahkan memang, tapi Kibum sangat menyukai pekerjaannya tersebut. Jadi, semua itu bukan beban baginya.
Jam makan siang sedikit melegakannya karena pada waktu itu Kibum bisa sedikit beristirahat. Meskipun begitu, ada sesuatu yang kurang baginya. Mungkin terdengar bisa tapi penting bagi Kibum.
Walaupun ia mengerti kesibukan Choi Siwon, atasan sekaligus kekasihnya, namun biasanya laki-laki tampan tersebut selalu meluangkan waktu untuk mengunjunginya, mengajaknya keluar, maupun sekedar menelefon dan mengirimi pesan. Tetapi beberapa hari ini sepertinya Siwon menghilang entah kemana. Memang kadang secara tak sengaja mereka kadang berpapasan di kantor, namun sikap Siwon biasa saja seolah dirinya sama dengan karyawan yang lain. Kibum memaklumi, mungkin Siwon tak ingin orang lain mengetahui hubungan mereka berdua jika dirinya diperlakukan istimewa. Namun, kemana Siwon yang selalu perhatian tersebut? Choi Siwon yang selalu berkata merindukannya bahkan walaupun mereka tidak bertemu beberapa jam saja.
Tak dapat dipungkiri, Kibum merindukan sosok tampan tersebut. Suara beratnya yang selalu berkata lembut padanya, sentuhannya, dan juga kebersamaan mereka. Entah kenapa Kibum ingin lebih sering bersama kekasihnya itu. Terdengar egois dan tak tahu diri memang, tapi itu yang sedang dirasakannya. Buru-buru Kibum berusaha menepis pikiran-pikiran buruk dari benaknya karena ia tak ingin menjadi orang yang sejahat itu memonopoli milik orang yang sebenarnya bukanlah haknya. Bukankah sejak awal ia sadar bahwa inilah resiko yang harus dihadapinya jika menjalin hubungan dengan Choi Siwon?
"Bummie, kau baik-baik saja?," Kibum tersadar dari lamunannya ketika suara seorang laki-laki menegurnya.
"Hmm...aku baik-baik saja Hae oppa," ujar Kibum dengan nada malas.
"Kalau begitu kenapa dari tadi kau hanya mengaduk-aduk makananmu saja huh? Kenapa juga wajahmu cemberut begitu?," tanya Donghae lagi.
"Tidak apa-apa Hae oppa. Aku hanya belum terlalu lapar saja," ujar Kibum memberi alasan. Gadis cantik itu mengulas senyum tipis, lebih terlihat dipaksakan agar sahabatnya yang bernama Donghae tidak curiga.
"Benarkah?," Donghae menatap curiga.
"Oppa, jangan menatapku begitu. Nanti kalau kau jatuh cinta padaku bagaimana?," Kibum mencoba bergurau.
"Ish..jangan sombong hanya karena kau cantik. Aku tidak tertarik pada gadis kecil sepertimu," Donghae pura-pura sewot.
"Ya.. Aku bukan gadis kecil oppa! Umur kita hanya selisih 2 tahun saja kan," Kibum mengerucutkan bibir tanda protes.
"Kalau begitu cepatlah mencari kekasih supaya kau tidak manja lagi," Donghae mencubit gemas pipi bulat Kibum.
"Aaah..sakit! Aku kan hanya bermanja padamu saja karena kau seperti oppaku sendiri," Kibum mengelus sayang pipinya yang tadi dicubit Donghae.
"Iya..iya... Aku hanya bercanda," Donghae tertawa kecil. "Jangan cemberut lagi ok."
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa," kata Kibum lagi.
"Kau pikir bisa membohongiku eoh? Aku sudah mengenalmu sejak kecil. Apapun yang kau rasakan saat ini, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu," Donghae menatap tajam Kibum.
"Oppa..."
"Baiklah kalau kau belum mau bercerita. Aku menghargai pemikiranmu. Tapi...asal kau tahu Bummie. Setiap saat aku mau mendengar keluh kesahmu," Donghae tersenyum lembut.
"Terimakasih Hae oppa," ujar Kibum membalasnya dengan senyuman manis. "Tapi oppa..."
"Apa?," Donghae penasaran.
"Sepertinya sekarang kau yang bermasalah."
"Maksudmu?"
"Huft...," Kibum menghela nafas panjang. "Apa kau sudah berbaikan dengan Eunhyuk eonnie?," tanya Kibum retoris. "Sepertinya belum ya? Gara-gara kalian bertengkar, aku harus makan siang hanya berdua denganmu. Sungguh membosankan harus makan siang dengan ajusshi mesum sepertimu...," canda Kibum.
"Ya! Apa maksudmu membosankan dan ajusshi mesum itu bocah? Aku ini masih muda dan tampan. Aku juga bukan orang yang mesum. Aku ini setia," Donghae tak terima.
"Hahahaha...aku hanya bercanda. Iya, kau memang muda dan tampan oppa. Kau juga kekasih yang setia," Kibum tertawa kecil. "Sebaiknya kau segera berbaikan dengan Eunhyuk eonni. Wajahmu itu selalu terlihat berkerut semenjak kalian bertengkar. Nanti kau cepat tua oppa."
"Aku sudah berusaha menjelaskan padanya kalau dia hanya salah paham saja. Dulu Jessica memang kekasihku, tapi sekarang kami tidak ada hubungan apapun. Saat itu kami hanya kebetulan bertemu saja. Tapi Hyukkie tidak mempercayaiku. Apa semua wanita akan semenakutkan itu kalau cemburu?," Donghae memandang lesu kearah Kibum.
"Hmm..cemburu itu tandanya dia mencintaimu oppa. Berilah dia sedikit waktu untuk berpikir, setelah itu jelaskan lagi padanya. Tunjukkan kalau kau hanya mencintainya seorang," nasihat Kibum.
"Tapi sampai berapa lama Bummie?," tanya Donghae putus asa.
"Nanti akan kubantu membujuknya," ujar Kibum.
"Terimakasih Bummie. Kau memang yang terbaik," Donghae tersenyum cerah menunjukkan wajah kekanakannya kontras dengan raut muka sebelumnya. "Sekarang makanlah yang banyak. Aku akan mentraktirmu."
Kibum hanya tersenyum maklum dengan tingkah Donghae yang kadang kekanakan itu. Bukankah tadi Donghae yang berkata akan menghiburnya? Kenapa sekarang terbalik menjadi dirinya yang menghibur Donghae? Ck...walaupun begitu Kibum harus berterimakasih kepada sahabatnya itu karena tanpa sengaja tingkah polahnya membuatnya dirinya bisa melupakan kegalauannya sejenak.
TBC
Hello...merindukanku kah? *plaak*
Mian lama menunggu update-nya..
Thanx buat semua yg udah membaca, menunggu update, review..
I Love u all ^^ *cipokin satu2*
Maaf gak bisa sebutin semuanya...tapi yg jelas saya udah membaca review kalian kok ^^
Gomawo...
