Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?

Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita

Disclamer: Bukan, bukan saya…

Hai semua~

Oke… ini chapter 8…

Enjoy!

Baka Tantei Seishiro Amane present…

FALLING FOR CHERRY BLOSSOM

CHAPTER 8: PREPARATION

(Sasuke POV)

Orang bilang, menjalin hubungan cinta itu indah dan menyenangkan. Bagiku, itu adalah mimpi yang sulit. Bukannya aku tidak mencintai kekasihku, Sakura...

Tapi, kalau kau mengenal keluarganya, kau akan mengerti. Empat utusan iblis yang disebut 'kakak' oleh kekasihku, yang dengan sekuat tenaga berusaha membuat hidupku menjadi kacau, adalah penyebab utamanya.

Iblis perempuan dan empat asistennya itu tak pernah berhenti mengacaukan hidupku, sejak mereka bertemu muka denganku. Dan lagi, mereka kumpulan jenius. Mereka selalu saja bisa menemukan celah yang tidak kuketahui, dan mengubahnya jadi rencana jahat untuk menjatuhkanku.

Kau bilang aku berlebihan? Coba saja kau rasakan, sampai tadi malam pun aku masih bermimpi buruk tentang mereka. Kau bilang aku berlebihan! Setelah berkali-kali mereka membuatku mempermalukan diriku sendiri, menjadikanku semacam kelinci percobaan untuk ide-ide gila mereka, kau bilang itu normal!

Bahkan, aku dan Sakura terpaksa menjalani hubungan secara rahasia... Oh, Kamu memang malaikat, Sakura... Tanpa dukungannya, mungkin aku sudah gila dan mengamuk...

Tapi, masalahnya justru dimulai dari saat ini... Hubungan ini tak mungkin dijalani selamanya. Entah bagaimana caranya, aku harus membuat keempat monster itu menerimaku sebagai kekasih Sakura... Oh, benar-benar tugas yang mudah..

(Normal POV)

"Sasuke? Haloo~, kamu mendengarku?" Sasuke tersentak. Dia tersadar dari lamunannya. Sakura berdiri dihadapannya, kedua tangannya memegang minuman yang dibelinya dari kedai minum. Mereka berada di pinggir sebuah areal belanja, hiburan dan kedai di Barat Shinjuku. Sasuke sedang duduk di salah satu bangku yang tersebar di sekitar areal itu.

Sakura duduk di sebelahnya, menyerahkan kopi dingin pada Sasuke. Namun, ekspresinya masih sama, bingung dan sedikit khawatir. "Tak apa, hanya lamunan aneh. Aku sendiri sudah tidak ingat." Jawabnya. Sakura menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum.

Mereka sedang berkencan saat ini. 'Yah, teknisnya sih begitu...' Mereka pergi bersama Kotaro dan Yuri, dengan alasan 'mempersiapkan untuk event yang mereka ikuti', game perang yang direncanakan dan diselenggarakan oleh Hyouga cs. Tapi, urusan itu hanya berlangsung selama 15 menit.

Setelahnya, Kotaro dan Yuri langsung menghilang, dan mereka yang ditinggal langsung menjalankan kencan mereka. Mereka nonton berdua. (Eclipse, walau banyak yang nonton film ini karena hubungan Edward-Bella, Sakura menonton karena itu film tentang vampir dan Werewolf, salah satu tokoh mitos favoritnya.) Saat ini, mereka sedang duduk di luar bioskop.

"Ooh... Eh, Sasuke, terima kasih ya... Karena mau menerima permintaan Egoisku..." Dia berkata dengan wajah sedikit. Sakura lah yang sebenarnya meminta kencan ini.

Sasuke menggeleng. "Aku selalu ingin mengajakmu pergi. Tapi terlalu banyak kesibukan yang kita kerjakan. Dan aku... Jujur, aku cukup grogi untuk mengajakmu. Jadi, tak perlu minta maaf." Sakura kembali tersenyum senang.

Sasuke memandanginya dengan penuh sukacita. Dia merangkul Sakura, membuat Sakura sedikit bersemu merah. Dengan lembut, dia mencium kening Sakura. "Sasuke... Kamu ini..." Sasuke tersenyum bandel. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Sakura. Sakura makin bersemu merah dibuatnya. Sasuke tertawa kecil.

"Ayo, kita pergi. Sudah sore," Katanya. Memang, jam besar yang tertera di setiap sudut areal menunjukkan pukul 04.23. Sakura harus segera pulang, atau kakak-kakaknya akan curiga. Namun, Sakura malah melingkarkan lengannya ke lengan Sasuke, menahannya. Sasuke menghela napas. "Baiklah, kita memutar sedikit lagi."

Sakura tersenyum, lalu menariknya untuk memutar di sekitar areal hiburan. Sakura terlalu terfokus pada buku-buku yang terpajang di toko, hingga tidak menyadari ada orang di depannya. Dia menabraknya. "Maaf, aku... Eh?" dia menengok ke Sasuke di sebelahnya, lalu kembali menatap lelaki yang ada dihadapannya dengan kaget.

Yang ada dihadapannya adalah Sasuke, atau kembaran Sasuke kalau boleh dibilang. Hampir seluruh penampakannya sangat mirip Sasuke, kecuali dia tidak memiliki rambut 'ekor bebek' Sasuke. Dia menatap tanpa ekspresi. "Tak apa." katanya. Baik Sakura maupun Sasuke hanya bisa terdiam.

Sakura berbisik pada Sasuke. "Kamu tidak bilang kalau kamu punya kembaran." Sasuke memberinya tatapan aneh.

"Aku tidak punya kembaran, lagipula," dia menunjuk pada lelaki itu "Dia lebih tua dari kita." Sakura memperhatikan dengan seksama. Memang, setelah diperhatikan, dia memiliki wajah yang lebih tirus, tidak sedikit chubby seperti Sasuke, tanda bahwa dia telah tumbuh dewasa. Dia pun lebih tinggi dari Sasuke.

Lelaki itu menatap Sasuke dengan intens. Lalu, dengan suara berat yang agak aneh kalau dibandingkan wajahnya yang terlihat jauh lebih muda, dia berkata. "Kalian siapa, atau leih jelasnya, KAU siapa?" Ekspresinya tetap terlihat kosong, namun dari nada suaranya dia terlihat cukup bingung juga.

Sasuke menjawab dengan tenang. "Aku Sasuke Uchiha. Dia Sakura Haruno. Anda sendiri?"

Dia kini berdiri berhadapan dengan Sasuke. Dia tetap menatap lurus ke arah Sasuke, lalu Sakura. "Aku Shinji Uchida." Jawabnya. Nada suaranya kini berubah. Dari bingung, berubah menjadi tertarik. Sepertinya, dia cukup tertarik pada Sasuke dan Sakura kerena sesuatu.

"Um... Uchida-san? Ada sesuatu yang aneh?" Sakura bertanya.

Sasuke menunjukkan ekspresi agak kesal, karena lelaki bernama Shinji itu menatap Sakura dengan penuh minat. "Logat jepangmu aneh."

Dia menatap Sasuke dan Sakura bergantian lagi. "Itu wajar. Walau aku orang jepang, aku baru kali ini ke jepang. Selama ini aku tinggal di Seattle." Jawabnya, sembari memperhatikan mereka dengan eksresi penuh rasa tertarik. Setiap menatap mereka secara bergantian, dia seakan menemukan sesuatu yang menarik.

Sakura mencerna kata-kata Shinji. 'Turis asing, tapi orang jepang juga? ...unik.' Sasuke menaikkan alisnya. Baginya pun, ini sesuatu yang tidak biasa.

"Shinji! Akhirnya, aku menemukanmu... Jangan pergi sembarangan kenapa sih?" seorang wanita menghampiri mereka. Rambut pirang panjangnya, kira-kira sepinggang, diikat menjadi kuncir dua. Kulitnya yang sedikit kecolatan berkeringat, membuatnya berkilauan ditimpa sinar matahari sore. Mata biru cemerlangnya terlihat kesal saat dia menatap Shinji.

Sasuke dan Sakura lebih Shock melihatnya. Dia, adalah wujud wanita dari Naruto. Kulit coklat, rambut pirang, mata biru, sampai tanda seperti kumis kucing di pipi. Hanya saja, tanda itu hanya terlihat samar di wajah wanita itu.

"Oh… Sorry. Daripada itu, coba lihat mereka. Seperti Eve dan aku, kan?" Shinji menunjuk. Wanita itu menoleh, lalu terkejut juga. Dia memperhatikan mereka dengan seksama.

"Gila. Benar-benar gila... Mereka sangat mirip denga Eve dan kamu saat masih SMA. Apa ini! Semacam acara iseng ya?" Dia menatap sekeliling, berusaha mencari tersembunyi.

Shinji menggelengkan kepalanya. "Kenalkan, Dia adalah Natsuki Uchida, istriku. Natsuki, mereka adalah Sakura Haruno dan Sasuke Uchiha, orang yang tidak sengaja kutemui. Ini bukan acara iseng yang sering kamu tonton. Percuma saja kamu mencari kamera." Wanita bernama Natsuki itu berhenti dari kegiatan mencari kameranya, lalu menatap mereka lagi.

"Tapi, ini… Ah, benar-benar gila…" Katanya sambil menggaruk kepalanya. Shinji tertawa kecil, yang terlihat aneh dimata Sakura karena tawanya tidak mencapai matanya. Dia tetap tanpa ekspresi, bahkan saat tertawa maupaun tersenyum.

Natsuki memukul lengannya. "Jangan menunjukkan wajah kosongmu itu! Dan lagi, KEMANA kau pergi, hah? Tiba-tiba menghilang... Kau tahu, berapa banyak orang hilang di Shinjuku tiap tahunnya..." nada suaranya berubah dari marah menjadi khawatir.

Shinji memeluknya. "Maaf..." Semua orang disana menatap mereka dan berbisik. Hampir semuanya terlihat tersenyum, lalu menggumamkan sesuatu seperti 'romantis' atau 'masa muda'.

Sasuke dan Sakura menatapnya bingung, lalu saling pandang. Sasuke memberi isyarat 'Kita pergi?'. Sakura menggeleng. Setelah beberapa saat, mereka melepaskan diri. Natsuki terlihat ceria lagi.

Dia langsung mendekati Sakura dan mulai menanyakan kebiasaan-kebiasaan Sakura. Sasuke menatap Shinji. "Dia hanya penasaran, karena pacarmu mirip kenalan kami. Sangat mirip." jawabnya dengan ekspresi kosong. Kali ini, Sasuke sulit mengetahui perasaan lelaki itu, karena suranya pun kini terdengar tanpa ekspresi. Seperti berbicara dengan mesin penjawab telepon.

Natsuki sepertinya sudah puas menanyai Sakura. Dia lalu menatap Sasuke beberapa saat. "Sama denganmu. Hanya saja, lebih terlihat hidup. Shinji, cobalah seperti bocah ini. Lebih seringlah terlihat hidup. Aku jadi merasa menikahi patung batu, tahu." katanya. Dia mencebik, beberapa lelaki disekitar mereka bersemu merah.

Shinji, tersenyum lembut. Tidak hanya senyum aneh menyeramkan seperti orang mati yang ditunjukkannya sebelumnya, juga bukan ekspresi tertarik aneh yang ditunjukkannya tadi. Dia tersenyum lembut, menatap Natsuki dengan ekspresi lembut yang mampu membuat semua gadis disekitar mereka lemas dengan wajah merah padam.

"Aku akan mencoba. Ayo, kita pergi," dia mengamit lengan Natsuki yang masih linglung karena tatapan itu. "Sampai jumpa lagi, Sasuke Uchiha, Sakura Haruno." Natsuki yang tersadar mencebik sesaat, lalu menghela napas dan tersenyum dengan wajah sedikit memerah.

Dia melambai pada Sakura, yang dibalas Sakura dengan agak kaku. "Errr... mungkin sebaiknya kita pulang. Jangan-jangan, kalau kita terus berputar, malah bertemu yang lebih aneh lagi." Sasuke berkata. Sakura mengangguk setuju. Melihat 'kembaran' Sasuke dan Naruto sudah cukup membuatnya shock.

Mereka akhirnnya pulang. Setelah Sasuke mengantar Sakura dan memberi alasan kenapa mereka hanya berdua ("Kotaro dan Kak Yuri langsung pergi berdua setelah urusan beres, kami hanya minum sebentar karena panas" kata Sakura.), Sasuke pulang.

"Aku masih tidak percaya." Kata Nadeshiko. Dia baru saja pulang dari perjalanan bisnis kemarin. Dia melipat tangannya di dada, melihat Sakura, mencari tanda-tanda kebohongan.

"Daripada hal itu, ada hal mengejutkan yang terjadi saat aku disana..." Sakura menceritakan tentang pertemuannya dengan pasangan Shinji-Natsuki. Kagerou pun ikut mendengarkan dengan seksama. "...Mereka lalu pergi meninggalkan kami. Tapi, Natsuki-san memberikan nomor teleponnya, karena dia merasa kami menarik."

Kagerou terlihat terkejut. Nadeshiko berpikir dengan serius. "Ini... ini diluar imajinasiku. Mereka benar-benar mirip? Seperti kembaran atau saudara kendung?" Sakura mengangguk. Dalam hati, dia lega karena perhatian mereka teralihkan seluruhnya dari subjek aku-pergi-dengan-Sasuke-berdua. 'Untung kak Hyouga dan kak Momiji tidak ada... Mereka bisa memutar arah pembicaraan dengan mudah...'

"Eh, aku ganti baju dulu ya?" Kata Sakura. Nadehiko mengangguk. Sakura segera naik ke kamarnya dilantai dua. Setelah menutup dan menguncinya, dia duduk di atas tempat tidur. Dia mengingat kencannya dengan Sasuke, tersenyum senang. "Kita harus melakukan ini lebih sering…" Dia bergumam seraya bangkit dari tempat tidur, membuka lemari pakaian untuk mencari pakaian.

Sasuke tidak langsung pulang. Dia berhenti di sebuah jalanan sepi di pinggiran tebing. Disekitarnya, ada sepetak padang rumput dan dua buah pohon. Tampat populer untuk kencan dan piknik. Namun, dia hanya menatap kota dibawahnya dari bahu jalan. "Hei, kau Sasuke Uchiha, kan?"

Dia menengok. Ada dua orang berjalan ke arahnya. 'Mereka… Teman Sakura dan pacarnya, kalau tak salah?' "Hinata Hyuuga dan kekasihnya, Naruto Uzumaki…" Dia teringat akan peristiwa pertemuannya dengan Shinji-Natsuki.

"Tunangan. Statusku sudah naik jadi tunangan... Hoi, apa kau mendengarkan?" Kata Naruto. Sasuke mengerjapkan matanya. Dia terlihat agak kaku. "Kalau ada yang mau dikatakan, katakan saja..."

Sasuke akhirnya menceritakan tentang Shinji-Natsuki. Hinata terlihat kaget, namun Naruto terlihat seperti mendengarkan sesuatu yang telah dia duga. "Kau tidak terlihat kaget." Kata Sasuke dengan ekspresi terkejut. Hinata pun memandangnya dengan serius.

Naruto tertawa. "Aku... Tahu tentang hal ini..." Sasuke terkejut. Hinata terlihat memberi pandangan yang aneh. "Bukan, Hinata-chan. Aku pernah membaca dan menyaksikan hal ini. Bukan penglihatan, ini sesuatu yang ilmiah. Waktu aku masih berumur sekitar 8-9 tahun, aku pernah tersesat dan diselamatkan sekumpulan orang kembar. Mereka menamakan diri mereka 'Unrelated Twin.' Mereka mirip, tapi tidak punya hubungan darah. Aku melihat lelaki yang sangat mirip, berbicara dengan bahasa yang berbeda, dengan diterjemahkan teman mareka.

Yah, apapun bisa terjadi di dunia ini. Seperti dituntun oleh sungai angkasa, setiap kejadian memiliki makna yang khusus. Seperti wajah yang sama, ide yang sama, arsitektur yang sama. Manusia hanyalah setitik kecil kehidupan dalam sistem besar ini. Ini mengingatkan kita, betapa jauhnya kita, kita tetap terhubung satu sama lain... Dan orang yang mampu melihat 'garis' itulah, yang mendapat kehormatan untuk melihat dibalik tabir 'fana' kehidupan..." Suara Naruto berubah jadi mistis. Matanya menerawang jauh.

Hinata segera menepuk pundaknya. "Eh? Aku 'trance' lagi? Sori..." Suasana manjadi hening. "Err, aku akan beli minuman. Kalian mau apa?" Kata Naruto berkata, memecah kesunyian.

Setelah Naruto pergi, Sasuke bermaksud bertanya pada Hinata, namun Hinata lebih dahulu menceritakan apa yang ingin ditanyakan Sasuke. "Dia keturunan canayang. Ibunya seorang Uzumaki, kau tahu kan?" Sasuke mengangguk. "Uzumaki memang dikenal sebagai keluarga senayang dan peramal selama lebih dari 300 tahun.

Dan Naruto, adalah satu-satunya keturunan lelaki Uzumaki yang mewarisi bakat itu. Karena itulah, kadang dia sering tiba-tiba meramal sesuatu dan masuk keadaan 'trance'. Dia belum bisa mengendalikan kekuatan itu." Jelas Hinata.

"Pantas saja. Aku memang tahu dia keturunan Uzumaki, tapi keadaannya tadi diluar perkiraan." Kata Sasuke. Hinata mengangguk. Naruto datang dengan minuman di tangannya. Dia memberikannya pada Sasuke (kopi kaleng) dan Hinata (Teh hijau). Lalu tiba-tiba dia menatap Sasuke dengan intens.

Sasuke ingin berkata, namun Hinata memberikan isyarat untuk diam. Naruto menutup matanya, dan saat dia membukanya, kedua matanya menjadi merah. Pupilnya menyempit secara vertikal. "Hati-hatilah... Yang akan kau hadapi lebih berbahaya dari yang kau perkirakan... Seseorang akan jatuh dalam keadaan menuju kematian di tempat yang dipenuhi petarung... Yang berada didekatmu akan mengkhianatimu... Yang tak pernah kau bayangkan akan membawamu dalam bencana besar... Dan yang kau benci akan menjadi partner tebaikmu..." matanya kembali menjadi biru. Dia lalu jatuh tak sadarkan diri.

Hinata langsung memeriksanya. "A-apa itu tadi?" Tanya Sasuke dengan wajah horor. Hinata menghela Napas.

"Itu ramalan. Dan kuingatkan, Uchiha-san. Ramalan Naruto jarang sekali meleset. Ingat ramalan itu, perhatikan peringatannya. Maka kau akan terhindar dalam bahaya." Kata Hinata, seraya mengangkat Naruto. Sasuke membantunya, saat Hinata menelepon supirnya untuk menjemput.

"Mata tadi? Merah... Dan tidak seperti mata manusia..." Sasuke berkata sambil mengingat kejadian tadi.

"Itu sesuatu yang amat dikeramatkan oleh Uzumaki. Selain pemimpin klan dan calon penggantinya, hanya Naruto yang memilikinya di kedua matanya." Jelas Hinata.

Supir dan bodyguard Hinata datang. Mereka membopong Naruto masuk ke dalam Mobil. Hinata menunjuk ke arah motor Naruto. Salah Seorang bodyguard mengangguk, lalu menerima kunci motor dari Hinata.

Setelah berpamitan, mereka meninggalkan Sasuke yang masih terdiam. Dia kembali memandang ke arah kota dibawah. 'Yang berada didekatmu akan mengkhianatimu... Akh! Makin rumit saja...' Dia masuk kedalam mobil, dan segera melaju pergi. 'Aku ingin memeriksa tentang Uzumaki...'

"Ya. tolong setiap satu kilometer, dirikan markas kecil. Isi dengan amunisi, medical kit untuk jaga-jaga. Tolong juga siapkan senjata yang disembunyikan. Sebaiknya juga, tempatkan alat komunikasi." kagerou memerintahkan pada para pekerja.

Mereka kini berada di lokasi war game. Sebuah lokasi seluas 20 hektar di pinggir kota yang tadinya akan dijadikan perluasan areal perumahan. Namun, menjadi hutan kecil karena terbengkalai. "Harus kuakui, kakak memang jenius. Ini tempat yang tidak terlalu terpencil, tapi memenuhi syarat untuk game. Lebih mudah untuk mengakses saat dalam keadaan darurat." Sasuke berkata.

Kagerou terlihat kaget akan komentar Sasuke. Sasuke melihat denah penempatan markas-markas kecil. "Sebaiknya, dirikan menara penyerang didekat markas. Dengan senjata kaliber 40 atau 50." Kata Sasuke, tidak memperdulikan pandangan aneh Kagerou.

Kagerou kembali fokus dalam denah. "Apa perlu? Walau begitu kan, mereka tetap akan mendatangi markas untuk diduduki." Sasuke menggeleng.

"Aku melakukan survei akan hal ini di kalangan pecinta game. Mereka menyetujui hal ini. Lagi pula, markas akan menjadi pusat peristirahatan semantara, juga menjadi tempat perencanaan penyerangan berikutnya. Amunisi dan medical kit akan dikirim secara konstan lewat helikopter, kan?" Kata Sasuke. Kagerou mengangguk-angguk.

"Begitu... Baiklah. Akan dipersiapkan. Sakura, tolong telepon perusahaan. Katakan pada mereka untuk mempersiapkan yang kaliber 40-50." Kata kagerou. Sakura langsung menelepon.

Kagerou segera menggambar tambahan menara penyerang, lalu berlari kepada mandor. Sasuke mendekati Sakura. "kalau acara ini sudah selesai, tempat ini akan diapakan?"

Sakura berpikir sejenak. "Katanya... Akan dijadikan arena paintball atau airsoft... Yah, pokoknya tidak akan berubah bayak dari sebelumnya, sih. Kamu terlihat lelah, apa tidak apa-apa tidak istirahat sebentar?" Kata Sakura. Dia menyentuh wajah Sasuke dengan jemarinya.

Sasuke menggenggam jari Sakura. "Cuma... Terlalu sibuk. Tidak apa-apa, kok," Sakura masih khawatir, namun mengangguk. "Setelah ini, aku akan istirahat, oke? Sekarang masih ada yang harus dikerjakan." Kata Sasuke saat melihat Sakura masih khawatir. Sakura tersenyum, lalu mengangguk.

Saat mereka kembali sibuk, Kagerou kembali ke tenda perencana. "Huff... Dengan ini, sudah 60% dari seluruhnya rampung... Sakura, bagaimana dengan latihannya?" Sakura memandangnya bingung. "Tentu saja latihan menembak... Ini kan, war game. Pakai senjata sejenis air soft... Tak mungkin kalau tanpa latihan, kan?"

Sasuke menepuk keningnya. "Akh... orang-orang yang bergabung dengan bagian kita juga menanyakan itu kemarin... Bagaimana ini?" Sakura menepuk bahunya.

"Tenang saja... Kita kan, punya mereka..." Kata Sakura.

"Mereka?"

Seorang lelaki bertudung duduk di kursi roda. Beberapa orang berdiri di hadapannya.

"Bagaimana persiapannya?" Tanya lelaki itu. Orang besar ditengah segera mengeluarkan laporan.

"Siap! Senjata siap diselundupkan! Beberapa orang sudah menyusup di kelompok pertama." katanya dengan jelas.

"Bagaimana dengan 'viper'? apa dia sudah bergerak, 'cobra'?" Tanya lelaki itu pada lelaki kekar yang ada di pinggir.

Dia mengangguk. "Ada beberapa kesulitan, karena 'black mamba' sangat hati-hati. Tapi, dia menemukan celah, dan tengah menyusup. Dalam beberapa hari, katanya, dia akan siap di posisi." lelaki kekar itu berkata.

Pria di kursi roda itu mengangguk. Dia lalu menatap bulan dari jendela ruangan itu. "Tak lama lagi, aku akan membalasmu, Kotaro Itsuki."

Sasuke menatap ruangan itu dengan ekspresi tidak percaya. Dia menepuk bahu Sakura. "Kukira, mereka akan menyewa lapangan air soft atau paintball... Tapi, aku baru tahu ada yang bisa meminjam RUANG LATIHAN KEPOLISIAN seperti ini." Dia menekankan di bagian ruang latihan kepolisian.

Sakura tertawa. "Ayah Naruto adalah kepala kepolisian negara Fire. Dan diatambah pula dengan koneksi Kotaro dengan kepolisian. Jadi... Hal semacam ini terjadi. Lagipula, pelatihan kadet kepolisian masih lama, kata paman Minato." Jawabnya ringan.

Sasuke menghela napas. Dia sudah tahu tentang Minato Uzumaki, atau Minato Namikaze, ayah Naruto. Seorang Chites (Orang asing yang tinggal di negara kita dan berbudaya seperti orang pribumi), anak angkat dari jenderal Jiraiya Namikaze, salah satu pahlawan perang saat perang dunia berkecamuk.

Naruto, yang selalu makan di stand ramen 'Ichiraku' di pinggir jalan itu, kini diperlakukan seperti keturunan bangsawan di arena pelatihan itu. Bahkan, semua orang yang memutuskan bergabung dengan kami pun hanya bisa benong melihatnya.

"Naruto-sama! Silahkan lewat sini!" seorang polisi muda mempersilakan mereka menuju arena membidik. Setiap ada petugas kepolisian yang lewat, mereka akan membungkuk atau menyapa Naruto.

Saat mereka sampai di arena membidik, Naruto berseru. "Ayah! Kenapa ayah ada disini?" siswi-siswi langsung melihat kemana Naruto berlalri, dan mengeluarkan suara 'Aaah...'

Di depan arena tembak untuk sniper, seorang lelaki berambut pirang bersandar di pilar. Dia melepas seragam kepoilisiannya. Dia hanya mengenakan kaus hitam ketat, dengan celana jeans hitam yang dilipat hinggat sebetis, terlihat kontras dengan kulit putihnya.

Dia sedang memegang senapan, sepertinya baru saja menembak sasaran. Dia melihat Naruto, lalu tersenyum lebar. 'Mirip dengan Naruto,' Pikir Sasuke.

"Hei! Aku menunggumu, tentu saja... Memangnya ada hal lain?" Dia berkata dengan santai. Naruto menggelengkan kepalanya.

"Dasar tukang makan pajak... Oh! Kenalkan, orang yang bolos di tengah pekerjaannya ini ayahku." Kata Naruto. Beberapa membalas dengan 'selamat siang', beberapa hanya terdiam.

Minato tertawa mendengarnya. "Selamat siang, semua. Hari ini, aku akan melatih kalian semua," Naruto memprotes. "Tentu saja tidak sendirian... Aku membawa beberapa orang yang juga akan melatih kalian. Dan Naruto, aku tidak bolos, hanya cuti. Oke, Shino, Harry, kemari."

Dua orang yang sedang mengelap senapannya maju ke hadapan mereka. "Salam kenal, semua. Aku adalah Harry Mckenzy, calon inspektur. Transfer dari interpol. Dan dia, adalah Shino Aburame. Dia inspektur kepala kepolisian pusat." Lelaki berambut merah kecoklatan itu menyapa. Lelaki berambut hitam berkacamata hitam itu mengangguk.

Mereka pun mulai berlatih. Khusus untuk latihan, Kagerou mempersiapkan senjata-senjata yang akan digunakan di game nanti. "Sepertinya berjalan lancar. Syukurlah." Sasuke menghela napas lega.

Harry mendekati Sasuke. "Ini untuk permainan, ya? Katanya, boleh merekrut siapa saja yang diinginkan, selama tidak menganggu, kan?" Dia bertanya. Sasuke mengangguk. "Oke. Daftarkan aku juga." Dia berkata, lalu melenggang pergi. Sasuke diam sejenak, lalu mencatat namanya di daftar.

Shino mendekatinya juga. "...Kata Naruto, Tim musuh kalian memakai veteran SWAT dan tentara?" Sasuke mengangguk. Dia mengambil catatan itu, lalu menulis namanya. Setelah menyerahkannya pada Sasuke, dia pergi tanpa berkata apa-apa.

Naruto mendekati Sasuke. "Kau memancing ikan besar, Sasuke. Harry Mckenzy, walau masih baru, adalah mantan interpol. Shino, aku berani menjamin kualiasnya. Ayahku sebenarnya mau ikut, tapi aku larang. Dasar orang tua menyebalkan..." Dia kembali ke arena pistol.

Sakura mencoleknya, "Kamu tidak latihan?"

Sasuke mengambil senapan k-1, lalu mulai menembak. "Target nomor 120. assault riffle. 30 tembakan, 2 miss, 28 hit, 3 death spot. 70 poin." Suara komputer penilai terdengar. Dia meletakkannya, lalu menengok pada Sakura.

"Aku akan mengajarimu. Ayo." Dia menerik lengan Sakura yang masih terkagum-kagum.

DUAR!

Semua menengok. Seorang lelaki berambut oranye menembakkan shotgun ke sasaran berjarak 40 meter. "Target nomor 10. Shotgun. Hit. Death spot. 100 poin."

Lelaki itu menaruh shotgun itu, lalu mengambil pistol. Dia mulai menembak ke arah sasaran berjarak 15 meter di sebelahnya. "Target 11. handgun. 13 hit. 13 death spot. 100 poin."

Sasuke memperhatikan. Lelaki itu memakai banyak tindikan di kupingnya. Ekspresi puas terlihat jelas di wajahnya. Lalu, Kotaro datang dan memukul kepalanya. "Yahiko, jangan pamer."

Lelaki itu malah tersenyum lebar. Kotaro menggelengkan kepalanya. Di belakangnya, seorang lelaki berambut hitam dan seorang wanita berambut biru tertawa.

Sasuke mendekati mereka. "Kotaro, kau datang rupanya. Mereka?" Kotaro menghela napas.

"kenalkan, tiga dari enam doom soldier, kreasi Danzou. Yahiko, Nagato dan Konan. Tiga lagi, sedang dalam perjalanan. ada satu, tidak, dua lagi. Mereka akan kutemui setelah pelatihan ini." Kotaro menjelaskan dengan malas.

Sasuke menatapnya bingung. "Kau bilang, hanya kau yang selamat." Kotaro berpikir sejenak, lalu menepuk keningnya.

"Sori, kadang aku lupa dengan mereka. Aku berasal dari eksperimen yang berbeda dengan mereka. Mereka, berasal dari Doom creation, ekspreimen tentang tentara yang memiliki senjata khusus yang lolos dari seluruh pemeriksaan. Selebihnya, rahasia negara level A." kata Kotaro. Yahiko langsung memprotes karena dilupakan.

"Hoo... Kalau begitu, yang tiga lagi yang sedang menuju kemari, lalu yang dua lagi yang ingin kau temui?" Tanya Sasuke. rasa ingin tahunya membuatnya tidak bersikap tenang.

"Yang tiga lagi, sound experiment, eksperimen yang berhubungan dengan suara. Yang dua lagi... Agak spesial. Ikut aku kalau mau tahu," Kata Kotaro. Sasuke berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Ajak Sakura juga, kalau kau mau." Katanya, seraya menarik Yahiko yang sedang cari tampang pada siswi-siswi.

Konan segera adu mulut dengan Yahiko. Nagato menggelengkan kepalanya, duduk di kursi kosong. Tak lama kemudian, tiga orang muncul dan ikut duduk dan mengobrol dengan Nagato.

Kotaro memperkenalkan mereka pada Sasuke. "Sound soldier. Rin, Kadotsu, Dozu." lelaki bernama Kadotsu itu menyeringai, menunjukkan lubang aneh di telapak tangannya. Lelaki bernama Dozu mengenakan topi yang menutupi seluruh rambutnya, dan masker. Dia memakai semacam pelindung lengan berlubang. Rin, memakai topi hitam kecil. Sebuah flute panjang menyembul dari tasnya.

Sesi latihan akhirnya berakhir. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan cerita seru tentang latihan hari itu untuk diceritakan. Sasuke telah memberi tahu Sakura, dan mereka setuju untuk ikut dengan Kotaro.

Saat berada di mobil Sasuke, Kotaro berkata. "Oke... Sebelum sampai disana, aku akan memberi peringatan. Apapun yang dikatakan oleh orang yang akan kita temui, jangan naik darah. Dia itu bicaranya agak kurang sopan. Dan jangan menyentuh peralatannya. Dia agak sensitif soal itu." Sakura mengangguk.

"Jadi, siapa orang ini?" Tanya Sasuke.

Kotaro menghela napas. "Dia orang yang memberi tahu jalan kabur saat kami memberontak. Dulunya... Dia anak buah Danzo, tapi dia berkhianat setelah beberapa insiden terjadi. Diluar sikapnya, dia orang yang baik, sebenarnya..." Jelasnya. Sasuke mengangguk-angguk.

Mereka memasuki perumahan kuno yang sangat mahal. Sasuke berhenti di salah satu rumah kuno. Kotaro memeriksa papan namanya. "Sawada... Ya, ini rumahnya." dia memencet bel di pintu. Saat pintu terbuka, seorang pelayan berdiri disana. Dia menggumamkan sesuatu yang aneh. "Sialahkan masuk, tuan sudah menunggu." Suaranya terdengar seperti mesin penjawab telepon.

Kotaro menghela napas, lalu berbalik pada Sakura dan Sasuke. "Selamat datang di rumah boneka Sawada."

Siapakah yang ditemui oleh Sasuke dan Sakura?

Hint: tokoh Naruto juga.

Oke, mengenai Shinji dan Natsuki Uchida. Sebenarnya, itu twist dari fem naru ama sasuke. Cuma tambahan yang menyenangkan. Idenya ada di kepala saya, tapi ga pernah terealisasikan. Jadi, ini Cuma sekedar ide.

Oke... Sampe ketemu lagi di chapter mendatang!

Baka Tantei Seishiro Amane sign out.