Tapi yang penting sekarang ini adalah ia mencintai Namjoon dan Namjoon juga mencintainya.

.

.

Please See Me

Author: L ( XVLove )

Cast: Kim Namjoon / Rap Monster, Kim Seokjin / Jin, Jeon (Kim) Jungkook / Jungkook, BTS' Members

Pair: NamJin x Kookie Monster, JiKook x YoonMin, Vkook x VHope, and others

Rate: T+++

Genre: Romance, Angst, Sad

Summary: Jin bersahabat sangat dekat dengan Namjoon, bahkan Namjoon sudah mengenal dekat keluarganya Jin. Tapi Jin sebenarnya memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat, perasaan yang juga dirasakan oleh adiknya, Kim Jungkook. Rumit? Well itu belum seberapa, ini berisi tentang cerita sang adik yang mencintai hyung kandungnya, sahabat yang mencintai sahabat, anak remaja abg yang bahkan tidak tau siapa yang dicintainya. yups, ini adalah boys love

Warning: BL/Boys Love, Typo, OOC dan kekurangan Author lainnya

.

Something Called Honesty

.

Seluruh peserta telah menampilkan penampilan mereka dalam pertunjukkan bakat, tapi festival masih belum berakhir. Masih ada beberapa agenda dalam festival ini, salah satunya tentu saja pelepasan lentera, agenda yang tengah mereka lakukan saat ini. Sebenarnya panitia telah menyediakan lentera-lentera untuk para pengunjung yang ingin berpartisipasi dalam agenda ini, tapi tentu saja mereka juga boleh membawa lentera mereka sendiri terutama jika takut akan kehabisan lentera dari panitia. Walaupun sebenarnya mereka bisa mendapatkan lentera dengan mudah, mengingat mereka juga mahasiswa universitas ini, Jin dan kawan-kawan tetap memutuskan untuk membuat lentera-lentera mereka sendiri. Awalnya memang hanya mereka berempat, tapi Jungkook langsung ingin ikut membantu membuat lentera-lentera saat ia melihat Jin dan Namjoon tengah mengerjakan lentera bagian mereka di rumah. Hoseok yang waktu itu menawarkan pada mereka kalau mereka tidak perlu repot-repot membuat lentera karena ia bisa mendapatkannya dengan mudah untuk mereka pun merasa terpana(?) saat mereka berempat dengan kompak ingin membuat lentera-lentera mereka sendiri, dan pada akhirnya ia pun memutuskan untuk membantu mereka karena menurutnya akan menyenangkan jika ia membantu mereka. Taehyung yang waktu entah kenapa bisa bersama Hoseok pun ikut-ikutan membantu mereka. Jimin juga membantu Yoongi mengerjakan bagiannya, walaupun pada akhirnya ia selalu mendapat sindiran dan bentakan Yoongi saat ia membuat kesalahan. Meskipun begitu, lentera yang dibuat Jimin sangatlah bagus, dan tentu saja Yoongi enggan mengakuinya.

Setelah cukup lama mencari, mereka akhirnya menemukan tempat yang strategis untuk melepaskan lentera mereka; mereka ingin tempat yang spesial untuk pelepasan lentera mereka. Pemandangan di atap gedung ini sangatlah indah meskipun bintang-bintang tidak terlihat di atas sana karena tertutupi cahaya ribuan lentera yang tengah menghiasi seluruh lingkungan universitas, ditambah lagi mereka bisa melihat dengan jelas lapangan utama tempat pelepasan lentera. Dari sana, langit seolah-olah berpindah ke bawah; lentera-lentera yang bersinar di kegelapan malam terlihat seperti bintang yang selalu menerangi langit. Tapi yang lebih membuat Jin terkesan adalah memori yang ia miliki di atas sini. Ini adalah atap yang sama tempat ia dan Namjoon menghabiskan waktu bersama melihat bintang beberapa bulan yang lalu. Ia sejujurnya sedikit kecewa, dan berharap kalau tempat ini bisa menjadi tempat istimewanya bersama Namjoon. Sudahlah, kalau dipikirkan lagi, menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat di tempat istimewa tidak ada salahnya kan?

"Hyung, jangan melamun saja. Bantu kami menyiapkan lenteranya." Teriak Yoongi yang kini tengah mengeluarkan lentera dari box yang dipegang oleh Jimin pada Jin yang masih asik melihat panorama dibalik jeruji kawat. Namjoon, Jungkook, dan Hyosang pun terlihat sibuk dengan lentera mereka; Taehyung dan Hoseok tadi pamit pada mereka, sepertinya mereka ingin melepaskan lentera mereka berdua saja.

Jin hendak berbalik untuk membantu Yoongi saat sebuah lentera melayang dari lapangan utama bagaikan setangkai tunas dandelion yang terbang tertiup angin. Belum sempat Jin selesai terpana dengan satu lentera itu, lentera-lentera yang lainnya terbang mengikuti lentera pertama. Yoongi, Jimin, Jungkook, Hyosang, dan Namjoon yang tadinya sibuk dengan lentera mereka kini sudah berada di samping Jin ikut menyaksikan kumpulan lentera yang berterbangan ke langit bak ombak cahaya yang bergerak perlahan menerjang langit. Sinar ombak lentera tadi bahkan mampu menyinari atap tempat mereka berdiri saat ini dengan terang. Dalam sekejap, ombak lentera tadi menyinari seluruh universitas Toei layaknya api unggun raksasa yang menyinari tempat perkemahan, mencekam namun hangat.

"Hyung! Ayo cepat kita nyalakan lenteranya! Nanti kita ketinggalan!" Jimin menyerahkan dua lentera bulat yang entah kapan ia ambil pada Yoongi. Bersama, mereka menyalakan lentera pertama, dan melepaskannya ke angkasa. Jimin tertawa senang, dan Yoongi pun ikut tertawa.

Ini pertama kalinya Jungkook melihat mereka berdua akur seperti itu, dan entah kenapa Jungkook merasa aneh melihat mereka akur seperti itu. Sempat sepercik bisikan muncul di dalam hatinya yang mengatakan kalau ia ingin menggantikan posisi Yoongi saat itu, tapi Jungkook langsung menepisnya. Ia langsung beralih pada Namjoon. "Namjoon-hyung, ayo kita juga menyalakan lentera kita!" Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik tangan Namjoon tanpa izin sang empunya tangan, dan membawanya ke tempat lentera mereka.

Lentera yang Jin, Namjoon, dan Jungkook buat sejujurnya sangat lah sederhana. Tiga buah lentera berbentuk kotak yang masing-masing mereka tuliskan sesuatu. Jin menuliskan namanya "Monster" pada satu sisi, "Rhythm", "and" , "Poetry" , pada sisi-sisi lainnya. Namjoon menuliskan nama panggilannya "Namjoon" , Jin "Jin" , dan Jungkook "Kookie" pada setiap sisinya, dan sisi terakhir dihiasi oleh gambar mereka bertiga yang digambar oleh Jungkook, menurut Jin gambar Jungkook itu adalah gambar era modernism beraliran abstraksi mendekati surreal dengan kata lain tidak jelas dia menggambar manusia atau bukan. Sementara lentera kotak Jungkook sendiri ia menghiasinya dengan "Kookie" dan gambar hati dibawahnya, sementar pada sisi lainnya ia tuliskan hangul "Kim", "Nam", dan "Joon" dengan horizontal, jadi tidak ada yang tahu apa yang ia tulis.

Namjoon membantu Jin menyalakan lenteranya; Jungkook hanya diam memandang mereka berdua tertawa dan tersenyum sambil memegang lenteranya erat.

"Kalau dipegang terlalu kuat nanti lenteranya rusak."

Jungkook langsung mengalihkan pandangannya pada Jimin yang entah kapan ada di hadapannya, entah kenapa sekarang perutnya terasa melilit namun tak sakit, justru menyenangkan.

"Sini, aku bantu menyalakan."

Entah kenapa Jungkook tidak bisa melepaskan pandangannya dari mata pria yang ada dihadapannya ini, bahkan seringaian nakal yang biasa membuat Jungkook sebal pun malah membuat jantungnya berdetak cepat. Ia dapat merasakan kedua punggung tangannya dipegang oleh telapak tangan Jimin sambil sesekali pria itu mengelusnya. Ia langsung tersadar dan sedikit kecewa saat Jimin melepaskan kedua tangannya dan mulai menyalakan sumbu di dalam lenteranya.

"Lepaskan, nanti tanganmu terbakar."

Dan benar saja, dalam sekejap tangannya terasa begitu panas; reflek ia melepaskan pegangannya. Mata Jungkook kini langsung terpaku pada lentera yang bertuliskan "Kook" dengan gambar hati dibawahnya yang kini tepat ada di depan wajahnya. Senyumannya melengkung entah kenapa, dan lengkungannya semakin melebar saat lentera itu perlahan terbang ke atas, dan bagaikan seperti membuka sebuah tirai, menampilkan senyuman memesona seorang Park Jimin lengkap dengan eye smile-nya. Oh, dan jangan lupakan cahaya lentera yang masih menyinari wajah Jimin dari atas; Jungkook percaya pada malaikat, dan sekarang ia percaya kalau suatu hari nanti ia bertemu malaikat, wajah mereka tidak akan berbeda dari wajah Jimin saat ini. Ia tak mampu menghilangkan senyuman di wajahnya, tak juga mampu mengatur nafasnya. Akhirnya ia tertawa sambil berharap pipinya tidak memerah saat ini. Jimin pun ikut tertawa karena sebenarnya, apa yang Jungkook lihat, juga dilihat oleh Jimin; apa yang Jungkook alami, Jimin juga mengalaminya.

Sementara itu di sisi lain atap ini, sambil menatap langit penuh lentera di balik pagar kawat di hadapan mereka, Namjoon dan Jin juga asik berdiri bersebelahan sambil menikmati dinginnya malam. Tak ada yang berbicara sepatah kata pun, tapi tubuh mereka mendekat dengan perlahan. Pelan sekali, hingga butuh beberapa menit untuk mereka bisa merasakan bahu orang disampingnya. Jin tersenyum, begitu pula dengan Namjoon. Saat seperti ini adalah saat dimana waktu seakan menghilang dan irama musik romantis mulai mengalun, setidaknya itulah yang terjadi di dalam kepala Jin saat ini. Bisa kau bayangkan, berduaan di atap gedung dengan pujaan hatimu ditemani oleh musik indah, latar belakang penuh bunga-bunga, dan di hadapanmu tersaji lentera-lentera yang terbang menghiasi langit malam ini bagaikan kunang-kunang yang tengah menari, tidak heran kalau waktu pun merasa malu menjadi orang ketiga diantara mereka.

"Hyung!" Sayangnya kata "malu" tidak pernah ada dalam kamus cinta si gigi kelinci ini. Dengan seenak jidatnya ia menyelipkan badannya diantara Jin dan Namjoon, menghancurkan momen-momen indah yang ada di dalam kepala Jin, dan membawa waktu kembali bersama mereka. Meskipun ia sangat ingin menjitak adik kesayangannya ini, ia tetap menahan dirinya. Biar bagaimanapun ia tidak ingin merusak momen bahagianya malam ini bersama teman-temannya.

"Ada apa?"

"Tuhkan kalian tidak mendengarkanku! Kita mau kemana sekarang!?"

"Hm. . . Yang lain memangnya mau keman—" Jin tidak menyelesaikan kalimatnya saat menyadari hanya tinggal mereka bertiga di atap. "Kemana yang lain?"

Jungkook menghela nafas malas, "Jimin pergi menemani Yoongi-hyung yang katanya sedang ada urusan di markas kita dan Hyosang-hyung juga sama." Terangnya.

"Jadi sekarang kita mau kemana hyung? Pulang?"

"Bagaimana kalau kita ke festival saja, sambil menunggu pengumuman penampilan terbaik tahun ini." Jungkook langsung mengangguki saran Namjoon dengan sangat semangat.

"Benar juga, kita harus menunggu pialanya Jin-hyung. Kalau begitu ayo kita ke festival!"

"Jungkook, aku belum tentu menang."

"Hyung, kau pasti menang! Penampilanmu tadi bagus sekali, jadi kau pasti menang! Apalagi hyung kan hyung ku, jadi wajar kalau kau menang."

"Haish! Anak ini." Jin mengacak-acak rambut Jungkook sambil tertawa; Namjoon pun ikut tertawa melihat tingkah mereka. "Ayo."

Jungkook, sambil menggandeng Jin dan Namjoon, menarik mereka pergi dari tempat itu sambil terus tertawa.

Malam memang sudah hampir larut, tapi itu tidak membuat para pengunjung festival ini surut. Sebenarnya sudah banyak pengunjung yang pulang, tapi masih banyak pula pengunjung yang masih ingin menikmati stan-stan yang dihadirkan di sana.

Buktinya? Mereka bertiga bahkan hampir tidak bisa ke stan-stan yang mereka inginkan entah itu karena terlalu lama mengantri atau stan tersebut telah kehabisan stok. Jangankan mengantri di depan stan, bahkan berjalan saja sudah seperti mengantri. Jadilah mereka hanya bisa pergi ke beberapa stan, seperti stan takoyaki, stan coklat panas, stan sosis bakar, stan gulali, oh dan jangan lupakan stan steak yang baru saja diadakan tahun ini. Jungkook juga membuat kedua hyung-nya yang sudah jauh memasuki umur dua puluhan duduk bersamanya dan anak-anak sekitaran tk dan sd di hadapan sebuah kolam pemancingan mainan. Andai saja Jin bisa mencopot dua gigi kelinci anak itu. . .

"Haaah. . ." Jin kembali menghela nafasnya berat, lalu menyuapkan sepotong okonomiyaki kedalam mulutnya. "Jadi setelah ini kita mau kemana?" Tanyanya pada dua orang di sebelah kirinya yang juga sepertinya sangat menikmati okonomiyaki mereka.

"Hm. . . bagaimana kalau kita ke stan ayam goreng di depan gedung fakultas ekonomi?"

"Boleh juga."

"Idhe bahus" Jungkook pun, dengan mulut yang penuh dengan okonomiyaki, menyutuji saran dari Namjoon.

Tak lama, handphone Jungkook berdering; sebuah pesan masuk. "Ah, hyung. . . sepertinya aku tidak bisa ikut makan ayam. Seungcheol-hyung mengadakan pesta kelulusan sekarang di rumahnya." Jungkook langsung menyesal telah memberitahu Jin tentang pesta Seungcheol karena sekarang ia harus berhadapan dengan mata emak-emak Jin.

"Pesta larut malam begini? Ini sudah malam Kookie, lagipula kau ingin pergi dengan siapa?"

Jungkook menyempatkan dirinya untuk berpikir, biar bagaimana pun ia harus pergi ke pesta itu. "Aku akan pergi dengan Jimin dan Taehyung-hyung."

Jin diam sejenak, lalu berkata, "Tidak ada alkohol atau narkoba kan?"

"Tidak hyung." Sejujurnya Jungkook tidak tahu, tapi kalaupun ada ia tidak mungkin memberitahu Jin kan.

Jin masih tetap diam sambil terus menatap Jungkook curiga.

"Sudahlah Jin. Lagipula Jungkook sudah besar, tidak apa kan kalau dia minum alkohol sedikit."

Jin tidak sepenuhnya setuju dengan ucapan Namjoon barusan, tapi sentuhan kulit Namjoon di tangannya membuat konsentrasinya buyar. Tapi mungkin Namjoon benar, Jungkook sudah besar, dan kalaupun terjadi sesuatu pada anak itu, Jimin dan Taehyung pasti akan membantunya. "P-pulangnya jangan terlalu malam, dan tetap tidak boleh minum alkohol apalagi narkoba."

Senyuman yang menampakan kedua gigi kelincinya kembali melebar di bibirnya. "Ne!". Dengan secepat kilat Jungkook menyumpal mulutnya penuh dengan okonomiyaki, dan berlari pergi dari tempat itu. Namjoon tertawa, sementara Jin hanya bisa menggelengkan kepalanya.

.

.

Jungkook baru saja mendapatkan pesan dari Taehyung yang mengatakan kalau dia tidak bisa pergi besama Jungkook ke pesta karena ada urusan mendadak. Berarti yang tersisa tinggal Jimin yang mungkin sekarang masih berada di markas mereka.

Jungkook sadar kalau markas itu bukanlah markasnya secara resmi, mengingat Yoongi selalu marah setiap melihat ia, Taehyung, dan Jimin di sana padahal mereka hanya membantu para hyung untuk membuat lentera. Walaupun Yoongi langsung mengalah saat Namjoon mengatakan untuk membiarkan mereka di sana untuk membantu. Sejak saat itulah markas tersebut menjadi markas ketiga bocah berandalan yang baru saja lulus dari SMA. Ah benar juga, itu artinya ia juga sebentar lagi akan masuk perkuliahan ya. Jungkook ingin sekali masuk jurusan musik, tapi appa-nya justru memaksanya untuk masuk ke jurusan bisnis dan pasar. Jungkook memang tidak tahu belajar bisnis dan pasar itu seperti apa, tapi bahkan belum tahu saja ia sudah sebosan ini, bagaimana kalau ia nanti masuk. Jungkook tidak ingin membayangkannya.

Ia berhenti tepat di depan pintu markas, tapi saat Jungkook ingin membukanya, pintu itu secara ajaib terkunci. "Aneh." Gumamnya. Kalau Jimin dan Yoongi ada di dalam, pintunya seharusnya tidak dikunci, mungkin mereka sudah pergi. Tapi saat Jungkook hendak berbalik, telinganya menangkap suara dari balik pintu. Jungkook memejamkan matanya, dan menajamkan pendengarannya.

"Ahhh. . ."

Tidak salah lagi, suara itu berasal dari dalam pintu. Tapi suara siapa itu? Kenapa bisa ada orang di dalam markas mereka padahal pintunya terkunci. Apa jangan-jangan. . . jangan-jangan. . . Jungkook menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tidak mungkin kan markas mereka ini sebenarnya berhantu. Jungkook yang tidak betah berlama-lama berdiam disana hendak pergi saat ia menyadari suara itu sangatlah familiar. Seperti suara. . . Yoongi.

Jungkook kembali menggelengkan kepalanya keras. "Tidak mungkin." Gumamnya.

Tapi suara tadi kembali terdengar, dan sekarang malah seperti desahan. Jantungnya berdegub dengan kencang tanpa sebab, keringat dingin meluncur begitu saja dari pelipisnya, dan tubuhnya mendadak panas dingin. Ia tidak tahu suara apa barusan, tapi suara itu memang terdengar seperti suara Yoongi. Apa jangan-jangan. . . jangan-jangan. . . jangan-jangan Yoongi sudah berubah menjadi hantu dan bergentayangan di markas mereka.

Jungkook kembali menggelengkan kepalanya; hal itu tidak mungkin terjadi. Akhirnya, daripada termakan rasa penasaran yang takutnya malah akan membuatnya jadi hantu gentayangan seperti Yoongi(?), ia memutuskan untuk mengintip dari jendela di samping rumah ini. Jungkook berjalan membungkuk sambil berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara saat ia melangkah. Setelah berada tepat di bawah jendela, Jungkook perlahan mendirikan badannya.

Matanya langsung disambut oleh cahaya lampu dari ruang tengah, dan tak butuh waktu lama baginya untuk menangkap dua sosok manusia yang kini tengah berciuman mesra. Ya, Jimin tengah mencium Yoongi yang berada di bawahnya di atas sofa yang mengahadap langsung ke arah jendela. Mereka tidak hanya berciuman, tapi mereka juga tidak mengenakan sehelai benangpun dan tubuh mereka mengkilap bermandikan keringat. Ini bukan pertama kalinya Jungkook melihat perut sixpack Jimin, tapi ia baru sadar kalau tubuh Jimin terlihat sangatlah sexy tanpa sehelai benang pun. Tanpa sadar ia merasa sangat iri dengan Yoongi yang tak kalah sexy terlihat sangat serasi dengan Jimin.

Tiba-tiba saja Jimin melepaskan pagutan mereka. "Hyung, aku harus menemani Jungkook ke pesta Seungcheol."

Yoongi terkekeh pelan, kedua tangannya meraih kedua bongkahan pantat Jimin. "Dengarkan aku Park Jimin." Jimin mendesah saat tiba-tiba Yoongi meremas pantatnya. "Malam ini," Jimin kembali mendesah saat Yoongi memukul pantatnya kuat, "Kau hanya milikku, dan bukan milik anak manja itu." Satu pukulan lagi kembari mendarat di kedua bongkahan pantatnya. "Malam ini," Satu pukulan lagi, "Kau hanya akan memuaskanku, bukan memuaskan anak itu." Jimin mendesah sangat kuat kali ini karena Yoongi memukulnya dengan sangat kuat.

Pantat Jimin terlihat sangat merah dan seksi; Jungkook tahu pantat Jimin memang sudah seksi sejak awal, tapi saat berwarna merah seperti itu, pantatnya semakin terlihat seksi. "A-apa yang aku pikirkan!" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya kuat. Setelah merasa cukup pusing, Jungkook kembali melanjutkan acara mengintipnya. Yoongi masih belum bosan memukul pantat Jimin.

"Saat aku menjadi pacarmu dulu, kau selalu menolak saat aku ingin memukul pantatmu. Sekarang saat aku justru berstatus kakak tirimu, kau malah tidak menolak, dan bahkan kecanduan untuk dipukul seperti ini. Kau tau Park, seharusnya kau langsung menunjukkan anak manja itu kehebatanmu diranjang dan juga pantat seksimu ini Park! Aku yakin dia akan langsung mengemis untuk ditidurimu. Ah tapi mungkin dia tidak akan suka saat melihat pantatmu merah dengan bekas telapak tangan seperti ini, bisa-bisa dia malah ingin ikut memukul pantatmu hahahah."

"Hyung, Sayangku, kalau kau memukul pantatku kuat begitu, aku tidak akan bertanggung jawab kalau yang depannya bangun heh."

Yoongi menyeringai kearah Jimin yang juga tengah menyeringai. "Itu yang aku mau bodoh." Ia langsung menyambar bibir Jimin, dan memagutnya mesra.

Jungkook langsung menarik kepalanya menjauh; ia benar-benar tidak bisa untuk melanjutkan melihat apa yang mereka berdua lakukan. Tubuhnya benar-benar merasa tidak nyaman. Tanpa membuang waktu, Jungkook langsung pergi dari tempat itu.

.

.

Jungkook terus berjalan di tengah keramaian festival tanpa arah dan tujuan, pikirannya benar-benar kacau saat ini. belum lagi panas yang didapatnya saat mengintip adegan dua orang itu masih belum juga menghilang. Kepalanya terus menunduk, ia tidak lagi peduli kemana kakinya membawanya atau dengan umpatan orang-orang yang ditabraknya. Ia hanya ingin melupakan kejadian tadi. Setidaknya itulah yang ada dipikirannya sampai tiba-tiba saja ia menabrak seseorang, lagi.

"Jungkook?"

Ia mengadahkan kepalanya, dan menemukan sosok Namjoon bersama Jin dan juga Hyosang. "Hyung. . ."

"Kau kenapa masih di sini? Bukannya kau ingin pergi kepesta?" Pertanyaan Jin barusan membuat Jungkook terdiam; ia kembali teringat akan pesta yang tadi ia lupakan. Benar juga, mungkin rasa tidak karuannya saat ini akan hilang dengan pergi ke pesta.

"A-aku ingin pergi, tapi Jimin dan Taehyung-hyung sedang tidak bisa."

"Jadi kau ingin pergi dengan siapa? Hyung tidak akan mengizinkanmu kalau kau sendirian."

"T-tapi hyung, inikan pesta kelulusanku!"

"Tetap tidak boleh!"

"Hyung!"

"Jin, bolehkan saja. Lagipula pesta perpisahan SMA itukan pesta sekali seumur hidupnya." Akhirnya Namjoon pun ikut berbicara untuk menengahi pertengkaran kakak-beradik itu.

"Tapi bagaimana kalau terjadi apa-apa!?"

Namjoon memegang lengan Jin erat. "Kalau begitu biar aku saja yang menemaninya."

"Eh?" Ucap Jin dan Jungkook bersamaan.

"Sekarang dia ada temankan?"

Jin menghela nafas malas. "Ya sudah, tapi ingat, tidak ada alkohol atau narkoba."

"Ne." Namjoon mencubit pipi Jin pelan, lalu berpaling ke Jungkook. "Ayo Jungkook."

Jungkook hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan bersama Namjoon sambil memegang tangannya. Entah kenapa, berpegangan tangan dengan Namjoon seperti ini justru membuatnya kembali teringat dengan wajah dan tubuh Jimin tadi, alhasil panas badannya malah semakin menjadi-jadi.

.

.

Rumah Seungcheol benar-benar berbeda dari apa yang Jungkook ingat berbulan-bulan lalu saat ia mengerjakan tugas di rumah ini. Padahal Jungkook baru saja sampai di teras rumahnya, tapi suana kapal pecah sudah dapat ia lihat dengan beberapa pakaian dan benda-benda aneh terdampar di halaman depan. Oh, dan jangan lupakan suara musik keras yang mengalun dengan sangat keras dari dalam rumah. Tak mau ambil pusing, Jungkook memencet bel rumah. Tak butuh waktu lama untuk pintu itu terbuka menampakan sosok Seungcheol, yang menurut Jungkook sedikit aneh karena bagaimana bisa dia mendengar suara bel di tengah suara musik yang sangat berisik begini.

"Jungkook! Akhirnya kau sampai juga!" Seungcheol langsung memeluk Jungkook erat. Jungkook langsung tahu kalau hyung-nya ini tengah mabuk saat melihat wajahnya yang sangat memerah. "Ayo masuk!" Dia langsung menariknya masuk tanpa memerdulikan Namjoon yang sedari tadi ikut dibelakang Jungkook.

Jika di luar Jungkook hanya merasakan suasa kapal pecah, maka di dalam Jungkook benar-benar masuk kapal pecah. Sampah dimana-mana, banyak remah-remah makanan yang jatuh di lantai, banyak pula tumpahan minuman, bahkan celana dalam berserakan di sana, belum lagi suara bising musik dan lampu disko menyala terang di ruangan yang luas itu semakin membuat Jungkook pusing. Tapi Seungcheol sepertinya tidak memerdulikannya dan langsung mendudukan si kelinci bersama dengan teman-teman geng Seungcheol yang juga lulus tahun ini, Junghan, Jihoon, dan Jisoo.

"Jungkookie! Akhirnya kau datang juga! Seharusnya kau datang lebih awal dan melihat bagaimana Seungcheol tadi. Dia tidak hanya diceburkan ke kolam renang di belakang, saat dia sedang ganti baju, kami juga membuang celana dalamnya ke air, sekarang dia tidak memakai celana dalam hehehe!" Ucap Junghan yang memang Jungkook akui tidak kalah cerewet dari Jin; sepertinya Junghan pun sudah mabuk walau tidak separah Seungcheol.

"Ya! Junghan! Awas kau!"

"Sudah, sudah, ayo kita lanjut main lagi saja. Jungkook kau ikutan kan?" Diantara mereka semua, Cuma Jihoon dan Jisoo lah yang terlihat masih "normal".

"Main? Main apa?"

"Bottom up or dare! Sistemnya sama seperti truth or dare, kita memutar botol ini, dan orang yang ada di depan mulut botol harus memilih, hanya saja kali ini kita tidak jujur-jujuran, tapi minum segelas bir penuh!" Ucap Seungcheol sambil menuangkan bir ke gelas yang bahkan Jungkook baru tahu ada gelas sebesar itu sampai penuh. "Ayo!"

Jungkook melihat kearah Namjoon yang kini tengah menggelengkan kepalanya. "Jangan! Nanti Jin pasti marah kalau ia tahu!" Meskipun Namjoon sudah berteriak, suaranya masih tetap terdengar kecil di telinga Jungkook.

Namjoon memegang bahunya, mencoba untuk menarik Jungkook pergi. Tapi justru saat mereka bersentuhan, Jungkook kembali teringat pada Jimin. Tubuh Jimin, wajah Jimin, keringat Jimin, semua bayangan itu terus terngiang di kepalanya. Tiba-tiba terbesit di kepalanya sebuah keinginan, ia juga ingin melihat tubuh Namjoon.

"Hyung! Aku tidak bisa pergi begitu saja! Aku tidak enak pada Seungcheol -hyung."

"Tapi-"

"Aku mohon. Lagipula aku akan berusaha untuk tidak mendapatkan giliran." Jungkook tidak misa mengatur takdir bahkan walaupun hanya sekedar mengatur ke arah mana mulut botol itu akan mengarah. Kalaupun ia bisa, ia akan lebih memilih untuk mengarahkan mulut botol kearahnya. Ia serius saat mengatakan ia ingin melihat tubuh Namjoon.

"Ayo mulai!" Junghan memutar botol itu di atas lantai tepat di tengah-tengah mereka.

Sambil diiringi musik bising dan kerlap kerlip lampu disko, mereka menunggu putaran botol untuk berhenti. Akhirnya botol itu berhenti di Jihoon. Dia memilih dare, dan Junghan langsung menantangnya untuk mencium Seungcheol. Tanpa ragu, pria berambut pink sakura itu melumat habis bibir Seungcheol. Tanpa mereka sadari, adegan panas barusan justru membuat suhu tubuh Jungkook semakin tidak karuan, padahal ia belum meminum satu tetes alkohol pun. Permainan pun dilanjutkan dengan Jihoon memutar botol.

Doa Jungkook pun terjawab; mulut botol itu mengarah padanya.

"Kookie! Kau ingin apa? Bottom up atau dare? Yang jelas kalau kau memilih dare, aku akan memintamu untuk menciumku." Mereka semua tertawa saat Seungcheol yang sudah mabuk berat itu memanyunkan bibirnya ke arah Jungkook. Tidak sedikit pun terpikir olehnya untuk menempelkan bibirnya di bibir Seungcheol, tidak peduli seberapa kagumnya ia dengan hyung-nya itu. Lagipula, ia sudah punya rencana lain.

"Aku memilih bottom up." Ucapan Jungkook barusan langsung disambut sorak-sorai mereka.

"Kookie, kau yakin bisa menghabiskannya? Tapi ingat, kalau kau gagal, kau harus menciumku dua kali." Seungcheol kembali memanyunkan bibirnya, dan mukanya langsung merasakan timpukan bantal mesra dari Junghan.

"Ayo Jungkook! Minumlah! Jangan pedulikan dia!"

Bukannya meminum, Jungkook malah tersenyum. Tiba-tiba saja ia mengatakan sesuatu. "Black Knight!" Kalau ia boleh jujur, sejujurnya ini bukanlah kali pertama ia bertaruh minuman seperti ini. Salahkan Jimin dan Taehyung yang sering kali membawanya minum ke bar dan klub malam saat mereka sedang libur panjang. Kalau mereka sudah berada di sana, tidak ada satu malam pun mereka lewati tanpa taruhan minuman seperti ini, dan pada salah satu momen-momen minum itu pula Jimin mengajarkannya tentang Black Knight. Jungkook sendiri bukanlah orang yang bisa bertahan minum minuman keras, jadi karena itulah setiap Jungkook kalah taruhan, Jimin selalu rela menjadi Black Knight-nya. Jimin akan menggantikan Jungkook untuk minum dengan bayaran satu permintaan. Sekarang ia tinggal menghasut Namjoon untuk menjadi Black Knight-nya.

"Hyung, kau maukan jadi Black Knight-ku? Aku cepat mabuk hyung, bisa-bisa Jin-hyung ngamuk kalau tahu aku mabuk."

Namjoon, yang memang tidak ingin Jungkook dimarahi Jin ditambah lagi ia juga pasti kena amuk, tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan Jungkook. Jadilah ia meminum gelas 5 liter berisi bir itu.

Inilah rencana Jungkook, membuat Namjoon minum hingga mabuk. Ia tau Namjoon tidak sekuat itu soal minum, mungkin setelah satu atau dua gelas lagi dia akan tumbang.

Permainan pun lanjut, masih dengan ditemani oleh musik yang meriah. Seungcheol sempat beberapa kali terkena dare dan minum, Jisoo lebih memilih untuk minum, dan Jihoon kembali terkena dare untuk mencium Seungwoo. Hingga akhirnya tiba giliran Jungkook lagi, dan seperti yang ia rencanakan, Namjoon kembali menjadi Black Knight-nya. Seperti dugaannya, Namjoon sudah mabuk, tapi sepertinya masih belum cukup mabuk. Karena itulah Jungkook tetap memutuskan untuk lanjut meskipun Namjoon sudah memintanya untuk pulang.

Tak butuh waktu lama untuk Jungkook kembali mendapatkan giliran, dan kembali ia memilih untuk minum. Namjoon, yang tidak memiliki pilihan lain pun langsung menghabiskan segelas penuh bir itu. Wajahnya sudah sangat merah sekali.

"Jungkook-ah." Nada suara Namjoon sudah mulai tidak beraturan.

"Ne?"

"Ugh. . . sekarang kau berhutang tiga permintaan padaku. tapi hyung akan menganggap semuanya lunas, asalkan kau hik mau menjadi anak baik dan hik pulaaang."

Permintaan Namjoon tidaklah bermasalah untuk Jungkook, justru menguntungkannya malah. Tentu saja Jungkook akan menuruti permintaan Namjoon tanpa menolak sedikit pun.

.

.

Ia sudah 4 tahun kuliah di kampus ini, itu artinya dia sudah empat kali ikut berkompetisi dan sudah tiga kali gagal memenangkan piala bahkan juara ketiga sekali pun. Jadi saat momen ini datang, saat dimana ia berdiri ditengah panggung dengan semua mata penonton tertuju padanya untuk menjadi perwakilan dari jurusannya untuk menerima piala juara pertama, wajar saja kalau ia meneteskan air matanya kan. Terlebih ini adalah saat terakhirnya di tempat ini, di kampus tempat ia dan pujan hatinya bersama-sama menuntut ilmu, di tempat yang membuatnya bisa berdiam lebih lama bersama pujaan hatinya. Andai saja Namjoon ada di sini sekarang, ia pasti sudah memaksa anak itu untuk naik ke atas panggung bersamanya, atau mungkin tidak. Dia tidaklah seberani itu, dan lagi dia juga tidak ingin Namjoon malah mencuri panggung yang telah ia dambakan selama tiga tahun ini. Sepatah dua patah kata ia ucapkan di atas panggung. Pidato yang disampaikannya malam ini adalah pidato yang telah ia persiapkan sejak tiga tahun lalu, jadi wajar saja kalau pidatonya pada malam ini terasa sangat sempurna.

Setelah selesai berpidato, mendapatkan tepuk tangan, dan membungkuk, Jin langsung turun panggung untuk disambut oleh teman-teman jurusannya. Mereka memujinya, lalu Jin kembali merendah diri. Ia benar-benar tahu apa itu standard operation procedure dalam kemenangan. Mereka semua memeluknya; mereka semua mengenalnya. Ya, Jin yang lebih memilih untuk sendiri sekarang benar-benar memiliki banyak teman, atau paling tidak itulah yang mereka katakan.

Tapi tetap saja, dibalik senyumannya itu, Jin selalu merasa sendirian tanpa kehadiran Namjoon. Karena itulah saat ia sudah merasa cukup tersenyum dan bersosialisasi, Jin langsung melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.

Jalan-jalan di area kampus sudah sepi karena memang seluruh acara telah selesai. Tinggalah para panitia yang kini sedang membereskan "sisa-sisa" festival, dan diantara banyaknya panitia yang sedang berberes itu, Jin menemukan Taehyung dan Hoseok. Tapi ia tidak memeliki waktu untuk menyapa mereka karena yang ada di pikirannya sekarang hanyalah menunjukkan pialanya ini pada Namjoon.

Siapa yang sangka jalan yang baru saja beberapa menit yang lalu ia harus mengantri untuk melewatinya bisa jadi sesepi ini. Dan saat itulah muncul pikiran-pikiran busuk(?) di dalam kepala Jin. Bagaimana kalau ternyata ada orang yang sedang membuntutinya? Bagaimana kalau ternyata orang tersebut sedang mengendap-endap diantara semak? Bagaimana kalau orang yang membuntutinya itu ternyata sedang menunggunya di belokan gang di depan dan bersiap menculiknya? Dan sebagainya.

Walaupun pikiran Jin itu tidak sepenuhnya meleset karena memang benar saat ia hendak berbelok, sebuah tangan tiba-tiba saja menariknya.

"AAAA! TOLONG! AKU DICULIK PREMAN PASAR! MFMFMPFPMFP."

"Tidak bisakah kau sekali saja tidak memanggilku preman pasar?"

Jin mengerjapkan matanya, dan melihat kearah orang yang menariknya barusan yang tidak lain adalah Yongguk.

"Hehehehe." Tawanya kikuk saat Yongguk menatapnya malas.

"Ayo, ikut aku."

.

.

Setelah berpamitan pada Seungcheol dan meminta Seungwoo yang masih sehat mengantarkan mereka pulang, disinilah mereka berdua sekarang, duduk di atas sofa di rumah mereka. Ya, sofa yang menjadi saksi bisu ciuman pertamanya dengan Namjoon, dan sekarang, Jungkook berencana untuk membuat sofa itu menyaksikan lebih. Jungkook yang melihat Namjoon yang terkulai dihadapannya lemah merasa semakin tidak karuan, jantungnya berdetak dengan cepat, keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya, kepalanya terasa berada di awang-awang. Terlebih saat ia melihat mata Namjoon terbuka namun tak memiliki sedikit pun nyawa di sana, detak jantungnya semakin kencang. Dengan tangan yang bergetar ia menggerakkan tangannya membuka kancing kerah Namjoon yang sedang mengenakan tuxedo hitam. Perlahan ia naik ke atas pangkuan Namjoon, sengaja ia menggesek-gesekkan badan mereka dengan perlahan sambil terus membuka kancing baju Namjoon. Jungkook sudah tidak tahan lagi, tubuhnya semakin panas.

Jungkook memberanikan dirinya untuk mencium bibir Namjoon; ia dapat mencium bau alkohol masih melekat disana, bahkan memabukkannya. Jungkook terus mencium dengan ganas, sementara Namjoon yang awalnya pasif, kini mulai bangkit. Perlahan dia membalas ciuman Jungkook; Jungkook pun dapat merasakan kedua tangan Namjoon memegang pinggangnya erat. Jungkook terus berusaha membuka baju Namjoon sambil menari di sana, dan ciuman mereka semakin ganas. Jungkook semakin mabuk dalam ciuman Namjoon, dan aroma alkohol yang ada di dalam mulut Namjoon malah membuatnya semakin melayang. Mereka melepaskan pagutan mereka untuk mengambil nafas, tapi Jungkook tetap tidak berhenti bergerak. Mereka saling bertatapan, kedua wajah mereka merah, dan mereka berdua tiba-tiba saling tersenyum.

"Jin."

Jungkook langsung memagut bibir Namjoon.

Ia dengar. Ia mendengar dengan jelas kata itu.

Meskipun begitu, meskipun rasanya sakit sekali di hatinya, meskipun kini air matanya mengalir, ia tetap ingin memiliki Namjoon untuk malam ini. Ia sudah begitu mabuk malam ini, mabuk dengan cintanya. Ya, ia sudah terlalu lama mabuk dalam cintanya pada Namjoon, dan sekarang ia ingin memiliki Namjoon! Walaupun hanya semalam.

.

.

TBC

.

.

YOSH! L BALIK LAGI MEMBAWAKAN CHAPTER PENUH CINTA! Mohon maafkan L yang meskipun udah sering janji bakal update cepet, tetep aja ujung-ujungnya lama juga wkwkwk L sebenernya ga pengen banyak alasan, tapi berhubung L emang punya banyak alasan jadi L sebutin satu alasan L aja ya :v Jadi intinya L banyak banget tugas semester ini T_T padahal pas semester kedua kemarin kayanya ga banyak-banyak amat, tapi sekarang udah semester empat kok jadi menumpuk gini yeth #curcol Saran buat para reader L, sering-sering ngerjain tugas dan jangan keseringan pake sks kaya L ya. . . Kerasa menderitanya entar kali udah numpuk wkwkwk Gara-gara banyak tugas juga L jadi ga bisa main game T_T #ditendang.

Oh iya balik lagi ke chapter ini! Gimana? Bagus ga? Greget ga? Btw ratingnya L naikin dikit dengan tambahan + soalnya kontenya emang ga ada yang hardcore banget wkwkwk dan plis L juga kayanya ga bakal bikin yang hardcore di ff ini soalnya L itu masih polos :v oh dan mungkin ada beberapa reader yang sadar kalo chapter ini sedikit singkat, dan emang chapter ini L bikin sedikit singkat. Rencananya L berencana memerpanjang ff ini satu chapter yang awalnya selesai di chapter 12 jadi selesai di chapter 13. Karena menurut L biar alurnya ga kerasa terlalu kecepetan, dan sedikit memermudah L kalo pengen update soalnya ga perlu banyak-banyak :v #ditimpuk. Dan L jug ingin mengingatkan sekali lagi kalo ff ini itu genrenya angst, jadi siapkan hati kalian T^T (L udah ngerasain sakit duluan soalnya L yang bikin plot T^T) BTW gimana pendapat kalian sejauh ini cerita yang L bikin ini? masih terlalu abal-abal kah? Atau bagus? Terus bagian mana yang perlu L tingkatin? Apakah kalian masih pada penasaran ama YoonMin? Atau Kookie Monster? Atau yang lainnya? Pokoknya jangan lupa tulis semua itu direview ya! L bakal sangat berterima kasih. Kalian ga tau seberapa senengnya L kalo udah ngeliat banyak yang ngereview. Tapi kalo emang kalian susah untuk mereview, jangan maksain okay, L tau kok ngereview itu ga gampang :3 Pokoknya L sangat mengapresiasi para pembaca L baik yang terlihat ataupun engga :3

Next, pemberitahuan sejenak tentang Teaching Hall, L harap bisa membantu kalian dengan teaching hall L ini, soalnya apa yang L sampaikan disini itu apa yang udah L pelajari semasa perkuliahan semua, jadi untuk kalian yang pengen masuk jurusan sastra Inggris tapi gagal, jangan khawatir! L bakal bantu kalian sebisa mungkin! Yah walaupun L ragu seluruh ff ini bakal cukup untuk menyampaikan semua pengetahuan yang udah L dapet heheheh dan L baru sadar kalo ada beberapa hal yang menurut L penting yang belum L kasih tau ke kalian, entar deh L usahain L sempetin kasih tau semua, oh iya L juga kayanya ga bakal membahas soal tanda baca disini soalnya tanda baca itu ribet banget wkwkwkwk tapi entar L bakal usahain bikin yang penting-penting nya aja dan orang sering banyak salah hehehe

[Teaching Hall]: Untuk Teaching Hall kali ini, L bakal ngebahas sastra! Pertama adalah apa itu sastra! Sejujurnya pembahasan mengenai sastra itu sendiri panjang dan bisa sampe 1 kali perkuliahan, tapi L bakal ngasih tau ke kalian definisi L tentang apa itu sastra. Sastra adalah seni dalam karya tulis (atau beberapa non tulis seperti drama dan film) yang memiliki nilai(pengaruh) yang tahan lama yang di dalamnya terkandung pemikiran penulis, dan memiliki keindahan saat dibaca. Definisi ini adalah definisi L pribadi, jadi kalian bisa memiliki definisi kalian sendiri kalo kalian sudah meniliti tentang apa itu sastra, dsb. Satu hal yang L ingin tekankan disini adalah kata "nilai" , dengan kata lain seluruh karya sastra harus memiliki nilai, entah itu nilai moral, nilai edukasi, nilai pengajaran, nilai kemanusiaan, nilai keindahan, dsb, dan nilai-nilai itu adalah nilai yang bertahan sangat lama. Menurut L, nilai adalah jantung dari karya sastra. Kita lanjut ke fungsi sastra. Fungsi sastra itu ada banyak, tapi yang akan L bahas disini adalah fungsi yang major alias besar, yang pertama adalah Dedactic(to educate) artinya memberikan pengajaran, misalnya cerita rakyat, fungsi mimetic (to mimic) yang artinya menunjukkan kenyataan, bisa berupa keadaan atau budaya suatu tempat, atau sifat manusia, misalnya cerita rakyat atau cerita bergenre Slice of Life. Yang terakhir Aesthetci(to appreciate) artinya para pembaca bisa menikmati saat membaca karta sastra, ini sih kayanya ada di semua karya sastra deh XD satuhal yang L pengen kalian ingat adalah kalian ga perlu fokus untuk memasukkan fungsi ini satu-satu kedalam cerita kalian karena semua fungsi ini akan otomatis masuk. Yang harus kalian perhatikan adalah fungsi mana yang ingin kalian tonjolkan? Misalnya jika kalian ingin menulis untuk mengenalkan negara kalian, mimetic itu cocok, atau ingin mendidik anak-anak, tekankan unsur dedactic, atau kalia ingin pembaca kalian lebih dekat dengan buku kalian, mimetic juga bagus. Menentukan fungsi ini juga akan membantu kalian untuk menentukan target pembaca kalian, jadi kalo suatu hari kalian kena bash, kalian ga perlu ambil pusing kalo seandainya bash itu bukan di bagian fungsi yang kalian tekuni. L harap penjelasan L mudah dimengerti wkwkkw.

Lanjut ke balas review!

[KittiToKitti]: HAI! Wah tapi gimana nih si kookie di chapter ini sudah terlanjur. . . Ini semua tidak boleh dibiarkan! Apa yang akan terjadi dengan Jin! Apa yang akan Jin dan RM lakukan!? Penasaran? Terus ikutin yeth :v #korbaniklan

[dewiaisyah]: Wah, aku seneng banet udah ditungguin wkwkwkkw. Sama aku juga takut. Terkadang aku juga ngerasa ga tega kalo terjadi apa-apa sama hubungan mereka, sama kaya aku ga mau misahin Jikook dan Vhope di sini. Hiks aku Cuma bisa berdoa semoga mereka ga macem-macem entar di chapter depan :'( Makasih udah mau baca! Ikutin terus yaaa.

[Song Raemi]: Penasaran sam Yoonmin? Sepertinya di chapter depan bakal diceritain deh wkwkwkw (L ga berani janji lagi taku harapan kosong :'v) ikutin terus ya! Makasih!

[iPSyuu]: Dan didalam cerita akan ada cerita lagi, dan seluruh cerita akan menjadi satu cerita (ngomong apa sih gue :v) weh, makasih banget Syuu! Udah memuji cerita aku ini XD Aku merasa terharu dan berhasil sebagai author :') pokoknya ikutin terus ya! Makasih sekali lagi!

[septianamlinasteleport05]: Ga papa kok, direview aja aku udah seneng banget :) wah mohon maaf banget, kalo di ff ini kayanya L gabakal bikin mereka yadongan, soalna auhtornya masih polos :'v Yey! Ketemu Vhope Jikook Namjin Shipper XD Kita teman seperjuangan! Tapi kalo soal Ending, L juga sebagai author ga bisa ngatur banyak banyak wkwkwk lebih baik kita lihat saja endingnya entar wkwkwk gimana dengan chapter ini? nganu juga ga? Yah walaupun bukan pair yang kamu suka kayanya. Tetep ikutin terus ya!

[she3nn0]: HAI! Chapter ini lebih singkat sih, dan mungkin beberapa chapter kedepannya juga bakal singkan wkwkwk ga papa ga ngerti juga, yang penting bisa menikmati :'v ikutin terus ya!

[sanaa11]: Setelah kamu baca ini mungkin kamu akan tahu kenapa :'v ga Cuma Namjin, vhope juga, Jikook juga, otp aku semuanya sailing akhir-akhir ini terutama Jikook wkwkwk tapi emang bener, Namjin harusnya nikah aja cepetan, daripada malah berbuat yang iya-iya(?) :v Ikutin terus ya! Kamu juga fighting!

[10113K]: Pengennya sih aku juga ingin nambahin mereka terus juga ohmtoey, terus SingtoKrist, dan masih banyak lagi, tapi kayanya ff ini ga muat kalo mereka masuk wkkwkwkw Chapter depan bakal ada Yongguk X Jin, tapi siapkan hatimu wkkwwk bagaimana kisah Namjin selanjutnya? Ikutin terus!

[juliakie]: kamu tau apa? Saat L baca komen kamu, L langsung nyebut "wow". Apa yang kamu lakukan barusan sudah masuk kedalam close reading alias meneliti bacaan, dan L ngerasa terdukung banget saat baca review kamu itu karena rasanya seneng banget kalo ada yang ngeclose reading karya kamu. Kamu mungkin ga ngerti seberapa bahagianya L saat ini, tapi sumpah, review kamu bener-bener membangkitkan semangat L banget! L berharap banget kamu terus baca ff L! L seneng banget. Dan kamu bikin L nyadar sesuatu di sini, awalnya L berniat bikin ff ini NamJin fokus, tapi bukannya fokus ke Namjin, cerita ini bener-bener cerita dimana Jungkook yang menempati panggung utamanya. Wow, L sangat mengapresiasi review kamu! Terus ikutin ya! MAKASIH!

Sekian balasan review dari L.

Terima kasih buat yang udah baca! Terus ikutin ya!

Last but not least

Mind to Review?