UnaOne present
•
•
Badboys
•
•
Cast: WinkDeep! JinSeob! Samhwi! Ongniel! (Side: HakWoong Minhyunbin Guanho)
Rate: T
Lenght: Chaptered
Discalimer: Cuma minjem nama doang hehe
Warn! :Terlalu ngedrama, Kebayakan keju, Typo! YAOI NIH YAOI!
•
•
Chapter 11
•
•
-JINSEOB-
Semua korban langsung masuk ke ruang UGD, di dalam sana mereka di pakaikan alat pernafasan dan alat-alat lainnya. Para suster bolak-balik keluar masuk, menambah kekalutan semua yang menunggu.
Minhyun tadi sudah menyuruh Jinyeong, Woojin dan Daniel untuk mengganti baju karena baju mereka tak layak di pakai, karena terkena darah. Sedangkan Daehwi sedang berada di rawat inap Hyeongseob, yang bersebelahan dengan ruang UGD.
Di ruang inap Hyeongseob, Daehwi hanya diam termenung. Hyeongseob belum bangun karena dibius, kakinya yang luka itu ternyata sangat fatal kata dokter.
Jika saja kaki Hyeongseob tidak ditangani lebih lanjut, dia akan lumpuh permanent.
Woojin yang tadi mendengar kabar itu langsung marah, dia membuang semua apa yang dilihatnya, seperti orang kesetanan. Untung saja Jinyeong berhasil menenangkan Woojin dan sekarang dia sedang meraung tak jelas di luar ruangan.
Satu kelemahan Woojin terkuak layaknya buku tertiup angin.
"Daehwi, keluar dulu ya? Biar Woojin yang temani Hyeongseob" ajak Daniel, yang diajak sebenarnya enggan tetapi melihat betapa kacaunya Woojin, Daehwi mengangguk segera.
Setelah keluarnya Daehwi, Woojin masuk sambil menunduk. Dia mengenggam tangan dingin Hyeongseob dan menciumnya silih berganti. Mengamati wajah cantik Hyeongseob yang terlewat anggun di tidurnya.
"Kamu kapan bangunnya?" Tanya Woojin sambil merengek kecil, dia mencium kening Hyeongseob lama dan menangis. Terus menangis sampai air matanya mengenai wajah Hyeongseob.
Woojin takkan selemah ini sebenarnya. Dia sangat kuat, disaat nenek yang ia sayangi meninggal 7 tahun yang lalu dia tak mengeluarkan air mata sedikit pun, disaat ayahnya membentaknya dan mengklaim dirinya sebagai anak kurang ajar dia hanya diam membisu.
Tak pernah sekalipun Woojin mengeluarkan mata selama 17 tahun, dan dengan kurang ajarnya air mata yang ia jaga itu keluar hanya karena Hyeongseob, kekasihnya. Pemuda manis yang awalnya cuma ia jadikan mainan, yang kini telah merubah Woojin.
Hanya Hyeongseob yang bisa merubah Woojin menjadi manusia layak.
Benar, Woojin sebenarnya hanya main-main dengan Hyeongseob. Karena pikirnya Hyeongseob lucu ketika ia menangis. Tetapi lambat laun, hatinya menghangat dimana Hyeongseob mengkhawatirkannya. Menyayanginya. Melebihi sayang ibunya sendiri.
Dia bahkan sudah bersumpah akan bersama Hyeongseob selama hidupnya. Woojin tidak sanggup melihat Hyeongseob seperti ini, hatinya hancur. Dia sekarat.
"Aku sayang kamu, Seob-ie"
"Aku akan bunuh Sohye jika kamu ga bangun" ancam Woojin. Dia menggerakkan bahu Hyeongseob, berpikir bahwa kekasihnya itu telah meninggalkannya selamanya.
Mendadak Woojin jadi tumbang, dia menangis di perut Hyeongseob. Tak tau jika Hyeongseob yang sedari tadi bangun hanya tertawa kecil. Dia mengelus pelan kepala Woojin.
"Hey? Kamu pikir aku sudah mati apa?"
"SEOB-IE??"
Teriakan Woojin membuat orang yang diluar ruangan menghela nafas lega.
•
•
Hyeongseob hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah kekasihnya, tidak boleh bergerak, tidak boleh makan es krim, jika bergerak nanti infusnya tercabut. Hyeongseob sendiri bingung kenapa kekasihnya bisa sangat cerewet hari ini.
"Tunggu ya, tunggu sebentar. Aku akan keluar sebentar saja. Dalam 5 menit lagi aku akan datang" Hyeongseob mengangguk malas mendengar peruntunan Woojin yang teramat panjang itu, dia hanya melambai kecil ketika Woojin menutup pintu ruangannya pelan.
Hyeongseob mengerucut bibirnya, dia bosan, tadi dia sudah membalas semua pesan dari teman-temannya. Dan Hyeongseob sebenarnya ingin sekali pergi ke ruang rawat Seongwoo tetapi Hyungnya itu masih koma sampai sekarang. Jihoon juga masih belum terbangun dari kemarin. Kalau Samuel, ada Daehwi, nanti dia dimarahi karena keluyuran.
TOK TOK
Pintu ruang Hyeongseob dibuka, menampilkan suster yang masuk sambil tersenyum, ditangannya ada kotak yang membuat Hyeongseob bingung.
Suster itu menyodorkan kotak tersebut ke Hyeongseob lalu berkata "Ini tadi ada yang mengirimkan, untuk kamu Hyeongseob" setelah itu Suster berambut pendek segera keluar dari kamarnya.
"Siapa?" Gumam Hyeongseob sambil membuka kotak itu perlahan, belum ada semenit dia melihat, kotak tersebut sudah ia lempar bersamaan dengan bunyi nyaring yang keluar dari mulutnya sendiri.
Dia menutup mulutnya tak percaya, bagaimana bisa seseorang mengiriminya bangkai tikus? Terlebih lagi dengan kertas yang bertuliskan.
-JAUHI WOOJIN SEBELUM KAU MATI DITANGANKU HYEONGSEOB-
Dan bagian yang lebih buruk lagi, kertas itu dituliskan dengan darah tikus tersebut. Hyeongseob langsung mual, pikirannya melayang ke satu nama.
Kim Sohye.
"Hyeongseob? Ya ampun kamu kenapa!?" Woojin yang baru masuk sudah disungguhi pemandangan Hyeongseob yang mual dan bangkai tikus yang berceceran di lantai, dia berjengit jijik ketika darahnya mengenang di lantai ruang Hyeongseob.
Sesegera Woojin memanggil petugas kebersihan, untuk membersihkan bangkai tikus tersebut. 10 menit kemudian ruang Hyeongseob bersih seperti semula tapi Hyeongseob sendiri belum bisa meredakan syoknya.
"Kamu tak apa apa'kan?" Tanya Woojin kalut, dia memeluk Hyeongseob sambil menciumi bibir yang terlampau pucat itu. Tapi kekasih manisnya tak menjawab apapun.
"Kamu jangan buat aku takut, Sayang!"
"Aku capek Woojin, aku tidak tau lagi kenapa Sohye terus-terusan menerorku. Padahal aku selalu memaafkannya tetapi kenapa? Aku capek, aku lelah" mata itu berair mengatakannya, Hyeongseob menunduk.
"Kamu juga capek liat aku diteror terus'kan? Lebih baik kamu sama Sohye saja. Lepaskan aku jika itu memang perlu--
"--Woojin, Ayo kita putus"
•
•
Ditaman yang indah itu, pemuda berambut cokelat hanya duduk termenung. Mata nya memandang lurus anak kecil yang sedang bermain dengan ibunya, tersenyum kecil melihat celotehan anak itu. Lalu pikirannya melayang, memikirkan pernyataan dari Hyeongseob tadi.
"Ayo kita putus"
Putus? Disaat Woojin sudah sangat mencintai Hyeongseob?
Mana mungkin Woojin bisa menerima hal itu. Bersamaan pernyataan Hyeongseob yang tak masuk akal, dia langsung keluar ruang inap Hyeongseob dan berlari ke taman belakang rumah sakit milik keluarga Justin ini, ngomong-ngomong Justin itu sepupunya Woojin.
Karena Woojin hanya melamun sedari tadi, dia tak menyadari ada anak kecil yang sudah 2 menit menarik-narik ujung kemejanya. Dia mengangkat anak kecil itu agar duduk dipangkuannya lalu tersenyum manis.
"Ada apa? Hm?" Tanya Woojin sambil membersihkan mulut anak kecil itu dari remahan kripik yang ia makan. Anak kecil itu terdiam sebentar lalu berkata dengan lucunya, "Kenapa kakak bersedih? Jangan bersedih nanti Sora ikutan sedih"
Ah, jadi namanya Sora?
"Kakak tidak sedih, kakak hanya bingung. Kakak sangat menyukai seseorang tetapi dia ingin meninggalkan kakak" terang Woojin kepada Sora, tak peduli jika anak kecil itu akan ngerti atau tidak dengan ucapannya.
"Kakak harus perjuangin, buktikan kalau kakak benar-benar cinta, buat kakak cantik itu suka sama kakak. Sora bakal semangatin kakak!" ucap Sora sambil mengecup cepat pipi Woojin lalu berlari kecil mendekati ibunya, dia melambai lalu pergi dari hadapan Woojin yang terdiam.
Kenapa anak kecil bisa lebih dewasa ketimbang dirinya sendiri?
•
•
Dibanding kegalauan Woojin, Hyeongseob lebih menderita lagi.
Hyeongseob hanya menangis sambil menggigiti bibirnya, dia takut Woojin beneran tak peduli dengannya.
Terus tadi ngapain dia minta putus?
Hyeongseob merutuki sifat bodohnya yang tiba-tiba kambuh di otaknya, tak memikirkan perkataannya tadi membuat Woojin pergi. "Maafkan aku!" teriaknya. Jika saja Hyeongseob bisa memutar waktu, dipastikan dia tadi tidak berkata demikian tetapi melumat bibir Woojin yang terlampau bergairah itu.
"Maafkan aku!" Yang dipanggil tiba-tiba muncul. Woojin melongokkan kepalanya di pintu, langsung saja Hyeongseob merentangkan kedua tangannya, wajahnya sudah tak bisa ia kondisikan lagi sehingga Woojin tertawa lebar sebelum dia memeluk Hyeongseob.
"Aku tarik perkataanku tadi..." isak Hyeongseob sambil mendusel-dusel wajahnya ke dada Woojin, tak apalah ingus dan air matanya bercampur menjadi satu di baju Woojin. Woojin sendiri bisa mandi di rumah sakit, right?
"Aku nyesal, aku tidak mau kamu ninggalin aku, aku sayang kamu. Pokonya aku tidak ma--"
CUP
Bibir Woojin membungkam bibir cerewet milik Hyeongseob, dia menarik tengkuk Hyeongseob agar mendalami ciuman panas mereka. Mulut Hyeongseob yang terbuka memudahkan Woojin mengakses bibir Hyeongseob semakin dalam, dia mengabsen satu persatu gigi Hyeongseob. Membuat pemuda manis itu melenguh lagi dan lagi.
Tangan Hyeongseob yang menganggur hanya meremas kemeja Woojin, sesekali meremas rambut pemuda gingsul itu, terlebih lagi ketika Woojin naik ke kasur Hyeongseob dan menindihnya tanpa melepaskan ciuman tersebut.
Jangan tanyakan lagi bagaimana penampilan Hyeongseob, baju rumah sakit itu hampir tanggal jika saja Hyeongseob tidak menepuk-nepuk dada Woojin agar menyudahi kegiatan gila mereka di rumah sakit.
Woojin hanya mengerang nafsu melihat penampilan Hyeongseob yang acak-acakan. Baju yang meleper hingga bahu putih itu terekspos secara bebas, bibir yang membengkak merah akibat ciumannya dan mata sayu itu.
Padahal tinggal sedikit lagi bibir Woojin sampai di leher Hyeongseob, tapi kekasihnya itu menggelengkan kepalanya dan memukulnya juga.
"Nikah dulu baru boleh"
Woojin hanya tertawa lalu memangut bibir yang menjadi candunya lagi dan lagi.
•
•
TBC
•
•
JIAH WOOJIN NAFSU BANGET BOR. GAS TEROS JIN SAMPE PELAMINAN. CIA
Saya sudah siapin Chapter 20!!! Maaf untuk alur cepat karena ngebut wkwk. Dan lagi pula konfliknya sudah selesai, tidak untuk Winkdeep ya.
Ini-lah Rated M yang bisa saya buat :") Semi-M ya itu kan yang penting mau cupangan tapi ga bole dulu, kata ucup harus halalin. Jadi tunggu aja tanggal mainnya, oke
JIAH SETELAH INI MUNGKIN HANYA WINKDEEP YANG DILANDA BEBATUAN KEKARAMAN WKWKWK. Windeep, mau karam woy. Karamin tida ya?
Seongwoo takut air tapi tetap dia juga mandi, tolong author Unaone sedang ngakak tidak terkendali karena review Ong ga mandi WKWKWKㅠ
Unaone
