Dislaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings
Warning: AU, Slash, OOC, Poweful! Draco, Creature! Fic, dsb.
Pairing: DMHP, BZNL, THDG, others
Rating: T dulu
Genre: Romance, drama, adventure. family, dsb.
AN: hallo, terima kasih sudah setia menanti fic ini. akhirnya aku dapat mengupdatenya lagi. Chapter kali ini aku dedikasikan buat Green Adonis Dragon dan Artemisaish sebagai hadiah ulang tahun, maaf ya telat ngasih kadonya... aku harap hadiah ini cukup. Ok, langsung saja, selamat membaca!
CHASING LIBERTY
By
Sky
Riddle Manor, Little Hanglington
Draco membuka kelopak matanya saat ia merasakan sihir hangat milik ibu baptisnya menyentuh lengan kirinya dengan perlahan-lahan, ia memperhatikan wanita cantik yang bernama Perenelle Flamel itu yang mencoba untuk mengecek keadaan tangan kirinya, memastikan apakah racun yang Sanguini berikan padanya dulu sudah hilang sepenuhnya dari tubuhnya apa belum. Wajah cantik Perenelle terlihat begitu berkonsentrasi sementara sihirnya mencoba untuk meraih sihir milik Draco, pemuda yang tangannya tengah diperiksa itu hanya menghela nafas pelan saat sesi yang begitu membosankan ini tidak segera berakhir.
Perenelle tersenyum lembut kepada Draco, "Nah, aku bisa lega sekarang. Kau sudah sembuh total meskipun kau akan merasakan beberapa kali rasa sakit di sekitar lengan kirimu, kurasa itu adalah efeknya untuk sementara tapi tenang saja karena hal ini sudah tidak berbahaya lagi." katanya dengan pelan.
Pemuda berambut pirang tersebut mengangguk pelan, ia menurunkan lengan bajunya lagi ke posisi semula. Draco mengacak rambut pirangnya yang tidak gatal itu, mata silver kebiruannya mengatakan kalau ia tidak akan menyukai hal ini, meski begitu Draco tidak akan mengatakannya secara langsung di wajah Perenelle.
"Apakah aku akan sering merasakannya?" tanya Draco.
"Kurasa tidak kalau kau tidak menggunakan sihirmu sewaktu masa penyembuhan, dalam waktu seminggu lagi rasa sakit itu akan hilang. Tidak perlu khawatir." jawab Perenelle, ia mengalihkan pandangannya dari Draco untuk melihat Harry yang duduk tepat di samping Draco, wajah remaja berambut hitam tersebut begitu khawatir dan cemas sementara kedua tangannya menggenggam lengan kanan Draco. "Kau harus memastikan kalau Draco tidak terlalu capek dalam beberapa hari ini, Harry. Itu adalah tugasmu, dan tentu saja kau tidak perlu untuk terlalu mengkhawatirkan keadaannya."
"Apa kau yakin?" tanya Harry tidak yakin. "Maksudku, tadi anda mengatakan kalau Draco akan merasakan sakit pada bagian lukanya untuk beberapa hari ini."
"Tentu, aku sudah memeriksanya berulang." jawab Perenelle, ia berdiri dari tempat duduknya. "Nah, Draco... aku sarankan kau banyak beristirahat dulu dan tidak melakukan sihir yang terlalu berat kalau kau mau penyembuhanmu cepat. Aku harus segera pergi, kurasa Nicholas sudah menungguku."
"Ini akan jadi minggu yang sangat membosankan." gumam Draco pada dirinya sendiri, yang tentu saja hal itu tidak luput dari pendengaran Harry maupun Perenelle.
"Oh, kau tidak akan bosan karena kau masih memiliki sang raven manis yang ada di sampingmu." jawab Perenelle yang membuat wajah Harry merona merah, wanita itu memberikan kedipan mata pada mate Draco sebelum ia berdiri dari tempat duduknya.
Draco dan Harry ikut berdiri, mereka mengantarkan Perenelle sampai ke depan pintu ruangan milik Draco, keduanya melihat wanita itu berjalan menjauh dari sana. Meninggalkan keduanya sendirian.
"Sekarang hanya tinggal kita berdua di sini." kata Harry dengan suara lirih. Ia melirik Draco yang balik menatapnya dengan hangat, Harry mendekatkan tubuhnya pada Draco dan memeluknya dengan erat.
Harry menyandarkan tubuhnya kecilnya pada Draco, ia bernafas lega saat ia merasakan lengan kanan Draco memeluk pinggangnya untuk menahan agar Harry tidak jatuh. Harry membiarkan saat Draco mencium pipinya dengan lembut sebelum melumat bibirnya. Keduanya berdiri pada jarak yang sangat dekat, tanpa ada batas di antara keduanya. Draco menatap kedua mata Harry, dan ia menemukan sebuah kilatan yang sangat memikat di sana, begitu bening serta fierce. Dengan perlahan ia mengusap pipi mulus milik Harry dengan telapak tangan kiriya sebelum memberikan senyuman kecil padanya, Harry sendiri yang menikmati sentuhan kehangatan dari mate-nya itu hnya dapat bernafas lega dan merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Kedua kelopak Harry setengah terbuka, pantulan mata emeraldnya begitu menggoda di benak Draco. Apalagi paras Harry yang sangat manis itu dalam opininya mampu membuat siapa saja bertekuk lutut di hadapannya, bukan hanya charm Seraphine yang membuat paras Harry begitu angelic, namun kecantikan dalam diri Harry sendiri yang membuatnya sangat menarik. Mungkin ini adalah alasan mengapa Draco memberik kesempatan kepada Harry, ia menyukai kepribadian pemuda manis yang ada di dekatnya itu.
Setelah menghabiskan waktu seharian bersama Harry untuk saling mengenal satu sama lain, Draco mulai menemukan arti sesungguhnya untuk apa ia hidup di dunia ini. Meskipun Draco menganggap sensasi yang menyelumuti kulitnya itu begitu asing atau sama sekali tidak ia kenal, yang penting ia cukup nyaman dengan itu saat ini.
Mereka berdua tidak mengucapkan apa-apa, tidak ada suara kecuali desah nafas keduanya yang terdengar di sana. Suasana yang seperti ini begitu damai dalam benak mereka, baik Draco maupun Harry hanya saling memandang satu sama lain tanpa mengubah posisi mereka di mana Harry yang berada dalam pelukan Draco dengan Draco sendiri yang membelai wajah Harry, sebelum ibu jarinya itu mengusap bagian bawah bibir pink milik Harry.
Draco mendekatkan wajahnya pada Harry yang mulai memejamkan kedua kelopak matanya. Harry bisa merasakan hembusan nafas dari Draco, jantungnya berdegup keras sementara ia mulai bisa merasakan wajahnya memanas lagi. Saat jarak di antara bibir mereka berdua hanya beberapa sentimeter, tiba-tiba terdengar bunyi 'pop' di sana, membuat keduanya terkejut dan menoleh ke arah sumber suara itu.
"Maaf bila Piper mengganggu Young Master dan Mr. Potter, Piper peri rumah yang sangat buruk!" ujar Peri rumah dari keluarga Riddle, makhluk mungil itu memiliki ekspresi menyesal di wajahnya dan serasa ingin menghukum dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa, Piper. Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Draco, ia melepaskan pelukannya dari Harry, menghiraukan bibir Harry yang mulai cemberut itu.
Piper menundukkan kepalanya begitu rendah, tidak berani bertatap mata dengan pangeran kegelapan itu untuk beberapa saat lamanya.
"Master Riddle meminta Young Master dan Mr. Potter untuk menemui beliau sekarang juga, Master Riddle menyuruh Piper untuk menyampaikan ini pada Master berdua." kata Piper dengan suara lirih.
Draco melihat Harry yang saat itu langsung pucat pasi ketika mendengar ayah angkat Draco ingin bertemu dengan mereka berdua. Draco tidak menyalahkan Harry untuk ketakutan seperti itu, mereka berdua adalah musuh bebuyutan di mana ayahnya sejak dulu mencoba untuk membunuhnya sementara Harry pernah mengalahkannya 15 tahun yang lalu ketika ia masih seorang bayi yang pada akhirnya membuatnya mendapat julukan sebagai The-Boy-Who-Lived. Pemuda berambut pirang platinum tersebut harus melakukan sesuatu bila ia ingin mereka berdua untuk tidak saling membunuh di hadapannya, Draco tahu kalau saat ini ayahnya mentolerir keberadaan Harry di sini karena dirinya.
Pangeran kegelapan itu memberikan anggukan kepada Piper untuk segera pergi dari kamarnya, peri rumah yang kecil tersebut mematuhinya dengan menghilang dari sana.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Draco, itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat bodoh.
Harry menggeleng pelan, ia mengambil tempat duduk di samping piano berwarna ivory yang ada di sana, tatapannya begitu kosong saat ia melihat ke arah pangkuannya. Harry tidak menyadari saat Draco menghampirinya dan berlutut di hadapan Harry, ia baru menyadarinya saat Harry merasakan kontak hangat dengan tangan Draco yang mencoba untuk meraih tangannya.
Pemuda berambut hitam yang manis tersebut hanya memberikan senyuman sendu kepada mate-nya, ia ingin sekali mengatakan kalau ia baik-baik saja, tapi itu akan menjadi sebuah kebohongan yang sangat besar bila ia mengatakannya kepada Draco. Sejujurnya Harry takut akan hal ini, ayah dari mate-nya adalah orang sama yang telah membunuh kedua orang tahu Harry, bagaimana ia harus menghadapinya sementara Harry sendiri masih menyimpan amarah kepada Voldemort karena telah membuat hidupnya menderita selama 15 tahun belakangan ini?
Harry terlonjak kaget saat bibir Draco mencium punggung tangan kanannya dengan hangat.
"Apa kau takut ketika bertemu dengan ayah, Harry?" tanya Draco dengan suara lirih, mata silver kebiruannya menatap Harry dengan penuh kehangatan di sana.
"Aku tidak tahu harus bertindak seperti apa bila bertemu dengan Voldemort nantinya. Dia sudah membenciku semenjak aku dilahirkan." jawab Harry lirih. "Dan aku juga membencinya karena dia telah membuat hidupku berantakan. Sama sekali tidak pernah menduga kalau kau adalah putranya, Draco."
Draco mengangguk, "Pasti kenyataan ini sangat berat bagimu."
"Iya, mungkin ini adalah karma yang harus aku tanggung karena dosaku di masa lalu. Bicara tentang ironi kehidupan, mate-ku adalah putra dari seorang Dark Lord yang pernah membunuh kedua orang tuaku." seru Harry, ia tertawa kecil namun sepasang mata emeraldnya terlihat begitu sedih.
"Masa lalu adalah tolak ukur kita untuk saat ini, meskipun kau menganggapnya hal ini sangat berat, Harry, aku yakin kalau hal ini tidak akan menjadi buruk seperti kelihatannya. Aku mengerti bagaimana perasaanmu terhadap ayah dan begitu pula sebaliknya, aku tidak akan memaksa kalian berdua untuk saling menyukai atau apa." kata Draco, "Aku harap kau ingat kalau aku akan mendukungmu apapun itu keputusanmu, meskipun itu artinya kau ingin kembali ke sisi Dumbledore atau siapapun."
Mendengar pernyataan dari Draco membuat Harry tersenyum kecil, ia menggenggam tangan Draco dengan erat, ingin menunjukkan kalau Harry hanya butuh sebuah dukungan yang sangat besar dari pemuda berambut pirang platinum yang ada di hadapannya ini. Ia senang Draco mau membela Harry saja itu sudah cukup.
"Aku tidak akan mendukung Dumbledore, dia sama buruknya seperti Voldemort." ujar Harry.
"Pasti ada cerita di balik ini semuanya."
"Iya, dan ceritanya sangat panjang kalau kau ingin tahu, Dray. Tapi aku tidak bisa menceritakannya sekarang ini."
"Mengapa tidak?" tanya Draco, ia berdiri dari posisi semulanya.
"Itu karena kita harus bertemu dengan ayahmu, Draco." jawab Harry dengan senyum menggoda di wajah manisnya.
Draco ikut tersenyum kecil sebelum membantu mate kecilnya berdiri dari tempat duduknya, ia mencium kening Harry dengan penuh kasih sayang sebelum menuntunnya untuk menemui ayah angkatnya yang Draco yakini sedang berada di ruangan tengah.
"Aku tidak mengerti bagaimana ini semua bisa terjadi, benar-benar kacau dan meleset jauh dari rencanaku semula." kata Tom, ia menengguk wine-nya untuk yang kesekian kalinya.
Sang Dark Lord bisa merasakan efek stress mulai meninggalkan tubuhnya saat minuman beralkohol yang ia minum itu menenangkan sarafnya yang telah tegang semenjak kedatangan Potter ke manornya. Ia memejamkan kedua mata ruby-nya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang ia duduki saat ini.
Sementara itu, Tristan yang sejak tadi berdiri di depan jendela besar yang ada di sana hanya memberi Tom tatapan penuh kelucuan di sana. Sang Lord dari keluarga Hammond itu secara perlahan menyeruput darah merah yang tertuang pada gelas anggur yang tengah ia pegang. Tristan tidak pernah membayangkan Tom yang selalu kalem dan dingin baik di luar dan dalam bisa stress seperti ini hanya karena menyadari kalau Harry bloody Potter adalah mate dari putra tunggalnya. Oh, andai saja ia mempunyai kamera pada saat ini pasti ia akan mengabadikan saat-saat yang langka seperti ini.
Bahkan karena rasa stress yang ada dalam benak Tom, ia sampai tidak menyadari kalau ia tengah berbicara pada Tristan, satu-satunya orang yang tidak ia sukai dan tidak bisa ia ajak bekerja sama meskipun mereka berada pada sisi yang sama. Kalau bukan karena Draco, pasti keduanya sudah saling membunuh satu sama lain sejak dulu.
"Bicara mengenai ironi." ujar Tristan.
"Aku tidak peduli dengan ironi atau segala macam bahasa yang kau ucapkan, Hammond. Aku tidak pernah membayangkan kalau jadinya akan seperti ini, bocah yang selamat dari kejadian itu dan ditakdirkan di mana kami saling membunuh sekarang tidak bisa lagi aku bunuh."
"Tentu, atau Draco akan membunuhmu sebelum kau bisa berkata Merlin pada saat itu."
Tom membuka kelopak matanya dan memberikan death glare pada Tristan, "Kau sama sekali tidak membantu."
Tristan menghela nafas dalam-dalam, ia tidak mengerti dengan jalan pola pikiran orang itu. Memang kalau ia akui Tristan itu tidak pernah menyukai Tom, dan begitu pula sebaiknya, meskipun seperti itu namun Tristan tidak ingin melihat ayah angkat putra baptisnya terlihat begitu menyedihkan seperti yang ditampilkan oleh Tom saat ini.
"Sebenarnya siapa yang berani memberikan Portkey itu kepada Potter? Aku tidak ingat masih menyimpan koin Avena satupun setelah terakhir kali kugunakan. Kalau aku tahu siapa yang memberikan benda itu pada Potter, aku akan menyiksa orang itu sebelum membunuhnya perlahan-laha!" Ujar Tom yang tiba-tiba memiliki ide kalau ada yang memberikan koin ajaib yang ia maksud kepada Harry.
Belum sampai Tristan menjawabnya kalau itu adalah dirinya yang ia berikan kepada Blaise serta ia tidak takut pada ancaman Tom, pintu utama untuk mengakses ruangan besar Manor itu terbuka, mereka berdua menatap ke arah sana dan mendapati kedua subjek yang menjadi objek pembicaraan serta sumber sakit kepala Tom berada di sana. Baik Draco maupun Harry melihat mereka berdua secara seksama sebelum Draco berjalan duluan untuk masuk ke dalam, Harry pun berjalan mengikuti Draco dari belakang. Ekspresi pemuda berambut hitam itu sedikit was-was, ia takut kalau ia mengambil langkah yang cepat maka Dark Lord yang menatapnya dengan santai dari sofa di tengah ruangan tersebut akan memberinya kutukan pembunuh dalam waktu yang singkat. Sebetulnya bukan itu yang Harry takutnya sebenarnya, namun tatapan kedua laki-laki yang lebih tua dari Draco dan Harry itu benar-benar mampu membuat Harry merinding, sihir mereka sangat kuat yang mampu mencekik dirinya kalau mereka mau.
Harry mengenali kedua laki-laki itu, laki-laki yang berdiri di depan jendela besar dengan sikap seperti seorang Lord yang terhormat tersebut adalah Tristan, orang sama yang berada di kamar Draco waktu Harry sadar kemarin. Sementara pria yang duduk dengan ekspresi santai di wajahnya sudah dapat Harry pastikan adalah Tom Riddle a.k.a Voldemort a.k.a Kau-Tahu-Siapa a.k.a orang yang membunuh kedua orang tua Harry 15 tahun yang lalu dan orang sama yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun.
"Piper bilang kau ingin menemui kami." kata Draco, ia berdiri di depan rak buku yang ada di sana, "Kalau boleh aku tahu, apa itu?"
Harry dan Tristan melihat Draco berbicara dengan santai kepada Tom yang hanya menyipitkan matanya sebelum menghempaskan badannya pada sandaran sofa yang empuk itu. Pria itu menenggak wine dalam gelas anggurnya sebelum menaruh gelas kaca tersebut di atas meja yang ada di depannya.
"Apakah ini langkah yang bijak, Draco?" tanya Tom pelan.
"Apa maksudmu?" gantian Draco yang bertanya tidak mengerti, ia memberikan intruksi kepada Harry untuk mendekat ke arahnya.
Pemuda manis berdarah Seraphine tersebut mengangguk, ia berjalan menghampiri Draco dan berdiri di sampingnya. Kontras perbedaan di antara mereka berdua terlihat sangat jelas, dalam artian kata bila Draco begitu maskulin maka Harry terlihat sedikit feminim. Tristan tersenyum kecil melihatnya, ia menyembunyikan senyumnya dibalik gelas kaca yang ia pegang, menanti apa yang akan Tom katakan kepada putra baptisnya, bila Tom menolak mereka maka ia akan menerimanya.
"Menjadikan Potter untuk menjadi Mate-mu, kau pasti mengerti apa maksudku tanpa perlu kujelaskan secara gamblang." jawab Tom, "Kalian berdua adalah pribadi yang sangat berbeda, bila kau berada di dunia kegelapan maka Potter adalah kebalikannya."
Harry ingin sekali memprotesnya, namun sentuhan di bahunya membuatnya diam karena ia yakin Draco mampu mengatasinya dengan baik.
Draco mengangguk, "Aku sangat mengerti apa maksud perkataanmu, kau masih melihat kalau Harry adalah anak buah Dumbeldore yang sewaktu-waktu dapat berlari kepadanya dan membeberkan semua ini untuk menghancurkan kita." kata Draco, Tom memberikan tatapan dingin kepada putranya namun ia juga memberikan anggukan, "Sepertinya kau masih mempercayai ramalan yang dibuat oleh Trelawney, bukan."
"Bagaimana aku tidak mempercayai ramalan wanita tua itu, Draco. Sampai saat ini aku masih melihat Potter sebagai ancaman yang sangat besar, meskipun setiap ramalan tidak pernah berpihak kepadaku namun bukan berarti kalau aku tidak mempercayainya. Potter tetaplah kunci dari ramalan yang mengatakan untuk menghancurkanku terjadi."
"Aku tidak akan melakukan itu, apalagi kembali kepada Dumbledore!" teriak Harry yang tidak sabaran, membuat ketiga pasang mata tertuju padanya, "Aku benci orang tua itu, bagaimana kau bisa mengasumsikan seperti itu! Namun aku juga tidak suka padamu, Tom!"
Tom mengangguk, "Perasaan kita sama, aku juga tidak menyukaimu dan masih ingin untuk membunuhmu, Potter!"
"Lalu apa yang kau tunggu, Riddle." desis Harry yang termakan api emosi. Secara tidak langsung ia memberikan undangan kepada Voldemort untuk membunuhnya.
Tom memberikan glare pada Harry, dengan cepat ia berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tongkat sihirnya yang terletak di atas pangkuannya. Sang dark Lord tersebut melemparkan sbeuah kutukan pemotong kepada Harry, untung saja dengan sigap Harry mencabut tongkat sihirnya dan melindungi dirinya menggunakan Protego.
"Montegra!" desis Tom menggunakan Parseltongue, sebuah sihir hitam yang hanya bisa diucapkan dalam bahasa ular.
Harry yang menyadari bahasa yang digunakan oleh Tom hanya bisa terpaku dengan shock, ia bahkan tidak bisa menerjemahkannya dengan baik. Sebuah pergerakan dari dalam pijakan merambat ke arah Harry yang masih diam membeku, Harry membatu saat sebuah ledakan dari dalam tanah meledak tepat di depannya. Draco yang menyadari hal itu langsung berlari ke arah Harry dan memeluknya sebelum mengucapkan mantra kecil dari balik nada bibirnya.
Ledakan tadi menghancurkan sebagian ruangan itu, Tom memberikan senyuman sadis saat melihat debu tebal menyelimuti tempat di mana Potter berdiri tadi, anak itu pasti sudah tamat, urusan Draco akan ia urus nanti. Namun senyuman Tom meredup saat ia melihat Barrier transparan menyelubungi tubuh Harry... tidak... bukan Harry saja, namun Draco sekaligus. Bocah sialan itu berada dalam pelukan putra angkatnya yang tengah memberikan pelindung tebal kepada mereka berdua.
"Riddle, hentikan perbuatanmu yang kekanakan ini!" Sergah Tristan yang terlihat begitu murka.
"Jangan ikut campur dengan urusanku, Hammond. Aku tidak ingin terjadi pertumpahan darah di antara kita lagi. Aku akan menyelesaikan semua ini dengan Potter di sini." jawab Tom dengan suara dingin. "Draconis, apa yang kau lakukan!"
Draco mengangkat wajahnya, ia memberikan glare terganas pada ayahnya.
"Kau masih berani bertanya 'apa yang kau lakukan' padaku, kau hampir saja membunuh Harry, ayah!" jawab Draco. Ia mengucapkan Finite untuk mengembalikan selubung sihirnya pada keadaan semula, Draco masih bisa merasakan desah nafas mate-nya yang tersengal-sengal di lehernya. "Apa kau sadar kalau yang Tristan katakan itu benar, bersikaplah dewasa untuk sekali saja."
"Kalau kau menginginkanku untuk tidak membunuh Potter, itu adalah permintaan yang salah, Draco."
Draco menghela nafas, rasanya ia ingin sekali marah namun tetap saja hal itu sulit sekali untuk ia lakukan. Harry yang masih berada di pelukan Draco segera menoleh ke arah Tom, sepasang mata emeraldnya yang begitu bersinar terlihat berkilat-kilat penuh api emosi di sana, ia memberikan death glare pada Lord Voldemort yang masih berdiri dengan santai di sana.
"Kau sudah berjanji padaku." ujar Draco lagi.
"Aku tidak pernah menjanjikan hal semacam itu padamu."
"Kurasa ini akan tidak berguna kalau aku menjelaskannya setengah-setengah, rasa bencimu itu sama sekali tidak beralasan, ayah."
"Apa maksudmu sama sekali tidak beralasan?"
Draco menatap mata violet milik Tristan dari kejauhan, ia tidak ingin menjelaskan hal ini kepada Tom kalau pikirannya masih kacau, bisa saja mereka malah akan saling menyerang. Ia lelah dengan perdebatan di antara ayahnya dengan Harry yang sering terjadi. Tubuhnya lelah, tangannya sakit, serta perasaannya tidak menentu.
"Draco." panggil Harry lirih, ia menyadari kalau ada yang tidak beres dengan Draco.
Pemuda berambut pirang platinum itu menundukkan wajahnya, melihat ke arah Harry yang balik menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Harry.
"Aku baik-baik saja, 'Ry. Jangan terlalu mengkhawatirkanku." jawabnya sebelum mencium pipi mate-nya dengan lembut sebelum kembali melihat ke arah Tristan dan Tim secara bergantian.
Tristan yang sama-sama tidak menyukai situasi ini hanya bisa menghela nafasnya sebelum menenggak isi gelasnya dan meletakkanya di atas meja yang ada di samping jendela. Ia melihat sosok Tom dengan seksama.
"Kemarahanmu sama sekali tidak beralasan, Tom." kata Tristan tiba-tiba. "Sama sekali tidak beralasan karena ramalan yang kau yakini dapat menghancurkanmu itu sama sekali tidak pernah ada. Semuanya hanyalah rekayasa."
Perkataan yang dilontarkan dari Tristan itu mampu membuat baik Tom dan Harry membeku di tempat, keduanya terdiam dengan tatapan shock di wajah mereka. Harry sendiri tidak sadar kalau Draco semakin erat memeluknya,
"Tutto e stato progettato da Dumbledore, aveva pianificato prima (1)." kata Tristan lagi dalam bahasa Italia yang hanya bisa diartikan oleh Tom dan Draco di ruangan itu. Mereka terdiam dalam waktu yang lama. Hening, hanya itu yang bisa terdengar.
Arti kalimat:
(1) Semuanya adalah rekayasa dari Dumbledore, dia telah merencanakan ini sebelumnya.
AN: Terima kasih sudah mampi, maaf kalau pendek dan gaje. Oh, ya... makasih banyak buat yang memberi review chapter sebelumnya, maaf kalau tidak bisa membalas semuanya.
Author: Skye
