I highly recommend Adele - Skyfall while reading this chapter.

Stunning and very brilliant.

Falling to You

Pairing : HoMin / YunJae / YooSu

Rate : M

Length :11 of ?

Warn : sudut pandang yang berganti-ganti dan…

"Yunho, aku mencintaimu.." ucap pria itu tanpa keraguan.

.

.

Butuh waktu untuk memahami artinya.

Yunho menyentuh dadanya.

Memastikan apakah dia sudah mati.

Benarkah ini Shim Changmin?

.

.

.

Yunho merasakan darahnya mengalir terburu-buru.

Mungkin jantungnya bekerja terlalu keras.

Dia tahu, pria di depannya ini yang memicunya.

Kenapa begini?

Mendengar pernyataan itu..

Dari mulut pria di hadapannya kini..

Diimpikannya pun tidak pernah..

Dan ketika ini benar-benar terjadi,

apa yang harus dilakukannya?

.

.

.

Aku meletakkan kewarasan dan logika kebanggaanku. Ini fase terbawah dalam hidupku. Menyembunyikan harga diri untuk beberapa waktu. Menyatakan hal paling tabu pada pria ini.

Bagus Jung Yunho..

Satu lagi kata pertama yang kau rebut dariku.

First fucking in love..

Sampai kapan kau akan diam seperti itu?

Apa aku meminta terlalu banyak?

Jung Yunho..

Mata kecilnya menantang yakin seakan menyelam pada lautan kelam milikku.

Kami tidak pernah melakukan segalanya dengan normal. Tidak pernah.

Sejak awal kami membangun aturan sendiri. Dunia sendiri. Tabu menyenangkan milik kami saja.

Dulu..

Sekarang..

Sama saja.

Apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang?

Loncat dan melumatnya penuh nafsu?

Astaga…

Otakku memang sudah lama rusak karena pria nista ini.

Pria ternikmat penuh gairah dan bersikeras ingin aku miliki..

Aku bertaruh banyak hari ini.

.

.

.

Jaejoong merapatkan lutut kirinya sejajar dengan bahunya yang sedikit membungkuk. Sekalian membenarkan selimut agar menutupi setengah tubuhnya. Dingin. Sangat dingin walau pemanas ruangan mendampinginya. Menumpukan dagunya pada lutut, kini Jaejoong menghembus udara pada poni lembutnya. Membuang energi percuma. Menatap kesal pada kaki kanannya yang masih disangga dan berbalut kain putih jelek. Kapan dia bisa berjalan normal kembali..

Jaejoong sedikit menghentak batinnya sendiri. Sekarang bukan saatnya memusingkan perban menyedihkan miliknya.

Ada hal yang harus dilakukannya.

Menyangkut masa depan hatinya.

Beberapa detik berpikir. Keputusan cepat harus diambil. Tepat setelah manajernya pergi dan menutup pintu.

Flashback.

"hyung, Yunho kemana?" tanya Jaejoong.

"dia bersama Changmin. memangnya kenapa?"

Flashback end.

Menarik napas sejenak. Dan Jaejoong beringsut mengambil telepon genggamnya yang tergeletak di samping ranjang. Menggapai dan secepatnya menekan speed dial nomor 1.

Baiklah, kau yang memulai Changmin..

Jaejoong menggigit bibir. Menanti suara hangat yang dipujanya.

Tut.. tut..

Ini dia saatnya..

.

.

.

Ini bukan film bisu.

Dua orang itu dapat berbicara dengan lancar. Hanya saja kali ini mereka tidak mengeluarkan suara seperti biasa.

Mungkin mereka ingin mencoba bahasa kalbu.

Ah sudahlah.. yang terpenting mereka saling mengerti artinya.

Yunho menarik sudut bibirnya. Hal sederhana. Namun berarti banyak.

Mungkin ini saatnya untuk terkubur di perut bumi..

Drrt.. Drrt..

Yunho merasakan getaran itu. Seketika melirik pada saku celananya. Changmin masih mengeratkan tangan pada gelas dihadapannya. Anggukan kecil tanda persetujuan diberikan.

Secepatnya Yunho mengangkat telepon miliknya.

"Love.."

Suara itu menjadi petir di senja hari.

Yunho mengunci mulut serapat yang dia bisa.

Kenapa harus sekarang?

Kenapa tidak nanti saja?

Kenapa kau menelepon Jaejoong?

.

.

.

Jaejoong menyender pada bantal lembut di punggungnya. Mencoba menyamankan dirinya sendiri. Menyelipkan telepon genggamnya di sela bahu kiri.

"Love.."

"…"

"diluar sangat dingin, jangan lupakan vitaminmu.."

"…"

"cepat kembali.. aku bahkan sudah merindukanmu"

"…"

Jaejoong menoleh ke samping, tersenyum dingin pada bulir air hujan di kaca jendela rumah sakit.

Ini saatnya bertaruh..

"katakan.."

"…"

"katakan kau mencintaiku, Love…"

.

.

.

Mereka masih saling mengawasi.

Yunho masih mempertahankan senyumnya.

Berusaha menggambar raut biasa saja.

Tebasan pelan membelah hatinya duluan.

Mata berbinar yang mengharap itu..

Bibir kissable favoritnya itu..

Wajah candu penghibur hati itu..

Yunho ingin mengingatnya.

Yunho ingin menyimpan setiap detilnya.

Yunho ingin mencatat dalam dasar hatinya.

Yunho ingin Changminnya…

Dengan Changmin semua terasa benar. Ini benar. Selalu menjadi benar.

Benar?

Kelopak mata Yunho menggetar samar. Sekali ini saja,

bisakah dia berbuat benar..?

"aku mencintaimu…"

"…"

Yunho menahan napas sejenak.

"boo…"

Yunho masih menatap mata Changmin.

Tidakkah ada seseorang yang melihatnya berdarah-darah?

Tidakkah ada seseorang yang melihat sembilu menguar dari pecahan dalam dirinya?

"aku mencintaimu, boo.." ulangnya.

Klik.

Yunho menutup teleponnya.

Mungkin Yunho terkejut dengan dirinya. Mungkin dia tidak mempercayai apa yang baru dilakukannya.

.

.

.

Changmin mengedip matanya. Lebih cepat dari biasa. Membaurkan dirinya. Changmin memutuskan untuk percaya bahwa telinganya baik-baik saja. Percaya bahwa telinganya tidak salah mendengar.

Changmin mengangkat kikuk gelasnya. Meminum isinya buru-buru.

Menoleh asal pada lukisan di dinding samping tempatnya duduk.

"Changmin.."

Akhirnya Yunho menyebut namanya. Hanya namanya saja.

Sejenak Changmin menampar isi pikirannya sendiri.

Sebuah tanya besar muncul begitu saja di dalam kepalanya.

Sebenarnya apa yang sedang dilakukannya?

"jadi, ini akhirnya.." Changmin tersenyum masam.

"…"

Lelaki itu sempat mematung beberapa saat.

Yunho menyentuh canggung ujung kemejanya. Gerakan yang tidak perlu. Entah kenapa dilakukan. Kemudian menunduk beberapa saat dan memandangnya lagi.

Yunho mengangguk pelan.

Terlalu pelan sehingga Changmin tidak yakin itu bisa disebut anggukan.

Menyedihkan.

Sungguh ini drama terburuk.

Dua orang aneh duduk berhadapan. Berlomba terlihat baik-baik saja.

Changmin berdiri pertama kali. Berjalan pelan melewati bahu Yunho. Tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya berlalu.

Hari ini, disadari atau tidak..

Kedua orang itu saling menghancurkan dirinya masing-masing.

Tidak ada kata maaf.

Hanya berakhir.

Begitu saja.

Bukankah siapa pun boleh berhenti kapan saja?

Bukankah itu kesepakatannya dengan Yunho dahulu?

Bukankah itu idenya?

.

.

.

Jaejoong menggigit bibir. Kebiasaannya saat berpikir serius. Tangannya memainkan telepon genggam yang baru ditutupnya.

Dia menang.

"kau terlihat senang, hyung.."

Yoochun bersandar santai pada pintu. Sambil memainkan rubik cube di tangannya.

Senyum tersungging di bibirnya.

"kau rupanya.." Jaejoong mengangkat satu alisnya.

Seketika Yoochun berjalan mendekat ke sisi ranjang. Menarik kursi dan duduk tepat disamping Jaejoong. Sebelumnya membantu pasien manja itu berbaring dari duduknya.

"kau terlalu keras pada maknae.."

Jaejoong menggeliat. Mencari posisi nyaman pada bantalnya.

"shut up.." gumamnya di telinga Yoochun.

Yoochun kembali menekuni rubiknya.

"sejak kapan kau mengkhawatirkan riak kecil seperti Changmin? Bukankah kau selalu percaya bahwa Yunho adalah setengah jiwamu sejak kehidupan sebelumnya?" ejek Yoochun tanpa menoleh.

Jaejoong menghembus tawa kecil pada udara diatasnya.

"riak kecil?"

"…"

"riak itu mampu membawa Yunho-ku berlayar pergi.."

"…"

"aku ingin melindungi milikku. Hanya itu." ucap Jaejoong pelan.

Yoochun mendecih. Tidak terkejut dengan jalan pikiran pria yang lebih tua darinya itu.

Kim Jaejoong..

Laki-laki itu besar dengan pertaruhan ego. Paling mengerti harga hidup. Yoochun mengetahui Jaejoong lebih dari siapa pun.

Lebih dari ibu kandung Jaejoong.

Lebih dari Yunho.

Bertahun-tahun saling mengenal. Berangkat dari kepolosan yang serupa hinga menjelma seperti sekarang..

"tidak. Kau melindungi dirimu sendiri. Kau.. hanya takut terluka" Yoochun memantul gumamnya lancar.

Yoochun terus mengitari mata besar di depannya. Tidak melepaskan barang sedetik.

Keduanya diam. kemudian tertawa lepas.

Mereka hanya terlalu saling memahami.

.

.

.

Dia kalah.

Rugi besar.

Changmin mengejek dirinya sendiri.

Dia membuka perlahan pintu kamar di apartemen lamanya.

Jangan tanya bagaimana bisa kemari. Insting membawanya menyetir ke tempat ini. Keajaiban karena dia tidak menabrak siapa pun.

Sepertinya sebuah kesalahan karena lututnya melemas melihat ranjang itu. Tidak ada apa pun disana. Seprai dan bantal tersusun rapi.

Hanya saja bau Yunho tertinggal disana.

Di bantal.. di selimut.. di setiap sudut ruang ini..

Bahkan di sudut ruang hatinya.

Entah hidungnya mengada-ada..

Entah karena dia merindukan bau itu..

Tangannya menarik kasar apa pun yang dilihatnya.

Dua menit.

Kamar itu hampir tidak dikenali.

BRAK!

Changmin menumbangkan sofa di sudut ruang. Mengoyak bantal yang tadi sempat dipeluk dan diciuminya. Memalukan.

Gemuruh petir terdengar samar-samar dari arah balkon. Dia mendudukkan dirinya bersandar pada dinding. Lalu menekuk kaki panjangnya.

Membungkus tubuhnya dengan selimut yang telah poranda di lantai dingin.

Tidak menemukan alasan untuk mengambinghitamkan yang lain. Dia memaki benaknya sendiri.

Changmin, kau tahu apa salahmu?

Kau memberinya terlalu banyak.

Kau mencintainya terlalu besar.

Kau membuang dirimu terlalu jauh.

Tidak ada airmata.

Ini bukanlah hal paling menyakitkan yang pernah dilaluinya.

Dia sudah terbiasa memaafkan rasa sakit.

Dia sudah terlalu sering berdamai dengan kekecewaan.

Tut.. tut..

"hyung, tak bisakah.. aku berangkat secepatnya?" tanya Changmin pada seseorang di seberang sana.

"…"

Klik.

Memutuskan sambungan telepon.

BLARR!

Semua terlihat suram. Kilat petir dan awan kelabu membuat kusam pandangan pada kaca jendela.

Kira-kira apa yang dicatat langit saat ini?

Satu hati patah, Tuhan..

.

.

.

Flashback.

Napas changmin tercekat.

"…"

"tidakkah kau mengerti, sayang? Dia hanya milikku.." ucap Jaejoong dingin.

Changmin tidak menyangkal. Tidak pula berusaha membela diri.

Tidak ada satu maaf. Atau apa pun itu.

Jaejoong mengerti.

"dari bertahun-tahun aku menyayangimu.. hanya ini yang kuminta"

"…"

"hanya satu hal sederhana"

"…"

"pergilah.."

"…"

" Selama yang kau bisa. Sejauh yang kau mampu"

"…"

"pergi saja, Changmin.."

Pupil Changmin melebar.

Jaejoong mengulum senyumnya. Senyum tampan yang menjatuhkan hati siapa pun yang melihatnya.

Flashback end.

.

.

.

Derik pelan pintu membangunkan Jaejoong. Di temaram lampu kamar tempatnya dirawat, Jaejoong dapat melihat Yunho mendekat ke arahnya.

Yunho berdiri cukup lama di sudut ranjang. Menatap saja tanpa berbicara. Jaejoong menggeser pelan tubuhnya saat Yunho berangsur naik ke ranjang dan berbaring di sebelahnya. Jaejoong mengusap dada kekasihnya. Merasakan detak kehidupan pria itu.

Rasanya dingin sekali.

Pelan dia menyenandung lullaby yang sering digumamnya sejak kecil. Lagu yang sering dibisiknya setiap selesai bercinta dengan Yunho. Dilihatnya pria itu mulai memejamkan mata. Jaejoong merapatkan tubuhnya pada gelung nyaman bahu kekasihnya.

"hey love.. I miss you" bisik Jaejoong.

Hening.

Jaejoong melanjutkan senandungnya.

"me too, boo.." jawab Yunho lirih.

Jaejoong menyembunyikan senyumnya.

Petir di luar masih berteriak nyaring.

Jaejoong tidak peduli. Bahkan bila ada badai sekalipun.

Tidak masalah.

Selama Yunho tidur sambil memeluknya seperti ini.

.

.

.

"good night, Changmin.." bisik Yunho dari sudut hatinya.

.

.

.

Tbc.

Duh.. saya diculik alien. Jangan tanya kenapa ceritanya begini ya? Soalnya saya amnesia nih. Nggak inget apa-apa *alibi *alah.. *takut digampar.

Miannnn… Sabar ya, author juga emosi waktu bikinnya…*bow*

Jangan menyerah dengan cerita ini ya. I promise I'll fix it! *wink*

Hm, makasih buat Skyfall-nya ya mbak Adele.. *sok kenal* lagunya benar-benar membantu dalam membangun mood chapter ini.

Susah banget pas mau dapetin feel chapter ini karena author lagi terpapar radiasi "catch me" yang telah memaksimalkan 'racun' abang HoMin di kepala author yang sedikit menyimpang inih. *aaaaaa….

RnR ya. Hehe.

see you in next chapter!

p.s. : thanks for reviews in Chapter 10 ^^