Mom for My Little Menma
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : SasuFemNaru
Rated : T
Genre : Family, Romance, Humor
By : Lukas "Luke"
Warn : AU, OOC, GS , Gaje, Garing, Ngaco
Typos menunjukkan bahwa yang ngetik juga manusia. Ini serius.
Happy reading~
Chapter 10
. .
" Mommy!"
Naruto tersentak kaget. Garam sesendok penuh di tangannya tumpah begitu saja ke dalam panci berisi sup kentang buatannya yang nyaris mendidih.
Mampus. Batinnya merana. Siapa yang sudi menghabiskan sepanci sup yang kelebihan garam? Dibuang sayang. Dimakan sama dengan menyiksa diri.
" Mom!" bocah lima tahun memasuki dapur Naruto dengan langkah tergesa. Tubuhnya berkeringat dan nafasnya tersengal.
" Hai, Jagoan. Kau tidak mengetuk pintu," Naruto menatap pria kecil itu dengan satu alis terangkat meminta penjelasan.
" He?" Menma mengerjap.
" Mana mungkin aku mengetuk pintu di rumahku sendiri?" protesnya.
" Ini rumahku."
" Kau mommy ku, jadi ini juga rumahku!" Menma melotot lucu. Tangannya terjulur, " Lihat!" serunya girang. " Aku dapat bintang lima di kelas," lanjutnya. Menunjukkan selembar kertas yang dipenuhi gambar khas anak- anak yang terlihat rapi.
' Gambarnya bagus,' pikir Naruto. Memasang wajah antusias dan menunggu Menma menceritakan apapun tentang gambar yang telah dibuatnya di sekolah tadi.
" Kau lihat? Ini Dad. Ini nenek, ini –"
" Tunggu. Tunggu. Ini daddy mu?" ulang Naruto memastikan. Menunjuk sebuah gambar manusia dengan dua mata besar, telinga kebesaran dan rambut mencuat ke atas. Ganteng sekali Sasuke di sini, batinnya tergelak geli bukan main.
Menma mengangguk. " Iya, ini daddy."
" Pantas, ganteng sekali gambarnya," balas Naruto dengan senyum usil.
" Apa maksudmu? Tentu saja aku lebih ganteng," protes si kecil tidak terima.
Menma kembali mengamati gambarnya dan menunjuk satu objek lain yang terlihat seperti manusia berambut hitam dengan ukuran tubuh paling kecil. Gambar kali ini lebih manusiawi dengan ukuran kedua telinga dan mata juga wajah yang cukup proporsional untuk ukuran gambar seorang bocah.
" Lalu ini, yang tampan ini aku. kau lihat kan? Dan ini- ini . ." Menma langsung kicep. Terlihat gugup.
Naruto yang heran lantas mendongak dan mendapati si kecil merona menggemaskan.
" Yang jelek ini dobe mommy," tuturnya.
Apa?
" Hei!" protes Naruto dengan wajah kesal main- main, seolah tidak terima dikatai jelek. Menma terpingkal seketika.
" Apaan? Giliran gambarku dikatai jelek!"
" Kenapa marah- marah? Aku cuma bercanda. Ini untukmu," Menma tersenyum. Menyerahkan gambarnya untuk disimpan dobe mommy nya.
" Untukku?" tunjuk Naruto pada dirinya sendiri dan segera meraih gambar Menma dengan senyum kecil.
Menma mengangguk mantap.
" Terima kasih."
" Oke. Tapi ini tidak gratis," sahut Menma cepat –menirukan gaya bicara obito- nii- channya. Lalu mengedarkan pandangan mencari makanan favorit nya.
" Aku mau ramen. Buatkan aku," titahnya bak bos besar. Melangkah mendekati meja makan dan memanjat kursi dengan susah payah.
Naruto mendengus.
" Pakai tomat ya?" pinta Menma dengan cengiran kecil.
Si pirang hanya mengacungkan jempol kanannya sebagai jawaban. Gadis itu lantas meraih panci kecil dari dalam rak dan mengisinya dengan air kemudian meraih satu plastic ramen instan dari dalam lemari dan membawanya ke dekat kompor.
" Siapa yang menjemputmu?" tanya Naruto memecah keheningan.
Menma yang tengah asik menghitung jari- jari kakinya mendongak, " Nenek," balasnya pendek dan kembali menunduk.
" Dan di mana nenekmu sekarang?"
" Di rumah. Bersih- bersih. Baju daddy berantakan. Celana dalamnya dimana- mana," jelas Menma.
Naruto mematung, nyaris tergelak mendengar penjelasan Menma yang blak- blak an. " Kenapa sampai berantakan?" tanyanya.
" Daddy tidak sempat beres- beres pagi tadi, aku sudah telat." Menma kembali mendongak, " Kenapa jari kakiku ada sebelas!?" pekiknya horror.
Naruto tersedak ludahnya sendiri. Menoleh pada Menma yang menatap ketakutan padanya.
" Sakura- sensei bilang padaku jari kaki ada sepuluh!" serunya panik. Turun dari kursi dan menghampiri Naruto dengan langkah cepat.
" Hitung dengan benar," Naruto berujar.
" Aku sudah."
" Hitung lagi. Ah, sh- aku lupa masakanku," si pirang nyaris mengumpat. Mematikan kompor cepat dan kembali memandangi Menma yang menunjuk jari- jari kakinya satu per satu.
" . . . Delapan, Sepuluh-"
" Sembilan," koreksi Naruto cepat. Menma mendongak, mengerjap beberapa kali dan mulai menghitung dari awal lagi.
" Ah, benar aku punya sepuluh jari kaki," gumam si bocah lega kemudian kembali menghampiri meja makan.
" Haiss, Dasar."
Naruto tersenyum kecil dan kembali menyiapkan ramen instan pesanan Menma.
" Dobe- mommy," suara kecil memanggil.
" Hmm?"
" Kenapa kau tidak tinggal di rumahku saja?"
Naruto terdiam. 'Kenapa? Tentu saja karena aku bukan siapa- siapa kalian,' pikirnya.
Gadis itu tak berniat menjawab, ia justru meletakkan dua mangkuk ramen dengan irisan tomat dan asap yang mengepul di atas meja makan.
Menma membulatkan bibirnya takjub. Memandang semangkuk ramen yang mampu menyedot seluruh atensinya hingga ia langsung melupakan pertanyaannya yang tak mendapat balasan apapun dari Naruto.
" Habiskan, oke?"
Berdecak kesal, " Jawab dulu kenapa kau tidak tinggal serumah saja denganku?" seru Menma menuntut jawaban.
Aih, menyebalkan.
" Aku bukan siapa- siapa kalian."
" Siapa bilang? Kau mommy ku dan daddy," protes Menma.
" Tapi aku belum menikah dengan daddy mu, Menma," balas si pirang mencoba memberi pengertian.
" Kalau begitu cepat menikah saja. Supaya aku bisa cepat dapat adik."
" Kau ingin punya adik?" Naruto menautkan kedua alis.
" Tidak," balas si kecil cepat dan menggeleng mantap.
Naruto nyaris melempar sendok karena gemas. Apa maunya anak ini!?
" Obito- nii- chan yang bilang. Setelah menikah bisa jadi um .. apa? Perutnya besar dan ada kurcaci di dalamnya-"
" Bayi, bukan kurcaci," Naruto membenarkan.
" Obito- nii bilang kurcaci. Dan kurcacinya menyebalkan seperti adik temannya. Kurcaci-"
Menma kicep begitu mendapati tatapan intens dari si mommy.
" Iya, iya, bayi. Begitu saja marah," Menma memutar bola mata bosan, kemudian meraih sendok besar dan melahap ramennya.
' Enak sekali~' batinnya senang dengan kaki berayun.
" Enak?" tanya Naruto.
" Tidak."
" Men-"
" Cepat menikah dengan daddy dan pindah ke rumahku, oke?" potong si kecil, mengabaikan reaksi Naruto yang menatapnya bimbang dengan bibir terkatup rapat.
..
..
Naruto melangkah cepat menuju pintu ruang tamu dan membukanya.
" Sasuke? Menjemput Menma?" sapanya pada si pria.
Sasuke tersenyum kecil seraya mengangguk kemudian pria itu melangkah masuk begitu Naruto membuka daun pintunya dengan lebih lebar.
" Dia tidur sejak dua jam lalu setelah menghabiskan semangkuk besar ramen dan sekotak susu cokelat, lalu bermain plastisin sampai akhirnya tertidur karena kekenyangan, kurasa," jelas Naruto.
" Kau mau membawanya pulang sekarang?" tanyanya seraya berjalan masuk dan membiarkan Sasuke mengikutinya di belakang.
" Tidak," Pria itu menggeleng, menarik sebentar wajah Naruto untuk memberi kecupan gemas pada pipi berisinya yang menuai kekehan geli dari si gadis.
" Okay. Kau mau ku buatkan sesuatu?" tawar Naruto setelah berhasil melepaskan diri dari Sasuke kemudian menghampiri dapurnya.
" Kopi? Bagaimana dengan kopi?" lanjutnya.
" Boleh. Jangan tambahkan gula," balas Sasuke kemudian meraih satu kursi di sisi meja makan dan mendudukinya. Mengamati gadis pirang di depannya yang terlihat meraih satu mug di dalam lemari.
" Aku tidak tahu apa yang disukai pria dari kopi pahit, rasanya menjijikkan. Aku pernah mencobanya."
Sasuke terkekeh ringan. " Rasanya manis, Sayang," ujarnya.
" Mana mungkin?" Naruto menoleh dengan alis bertaut sebagai tanda heran. Kedua tangannya memegang termos kecil dan mug yang berisi serbuk kopi.
" Kau yang membuatnya manis."
Naruto bengong. Tidak paham jika Sasuke tengah menggodanya.
" Tapi aku membuatnya tanpa gula, Teme. Seperti pesanan- Oh, diamlah."
Gadis itu cepat berpaling ketika melihat seringai kecil di bibir Sasuke. Barulah ia paham, laki- laki itu tengah menggombali- nya.
" Aku tidak bercanda, kau manis jadi-"
" Teme, diamlah, Astaga," Naruto merasa harus berjuang keras menetralkan lonjakan detak jantungnya yang nyaris menggila kala melihat Sasuke tergelak dengan begitu menawannya.
" Wajahmu memerah. Menggemaskan sekali," ujar pria itu di sela tawanya.
" Haiss, kubilang diamlah," desis Naruto pelan sambil memalingkan wajahnya kesal.
Tak berapa lama kemudian, pria itu kembali bersuara, " Tadi banyak sekali karyawanku yang bertanya siapa dirimu," ceritanya.
" Aku?" Naruto mengenyit, menatap Sasuke dengan alis bertaut seraya meletakkan satu mug kecil dengan kopi panas tanpa gula di hadapan si Uchiha.
" Hn. Gossip tentang kedekatanku dengan gadis berambut pirang yang akhir- akhir ini sering ku telepon. Dan mereka mendapat fotoku yang menciummu di parkiran depan kemarin-"
" Ya Tuhan, oke, aku paham. Kau tidak perlu melanjutkannya," potong Naruto cepat dengan kedua netra memutar bosan. Diam- diam merona malu mengingat sudah berapa banyak ia berciuman dengan mantan pacar SMA- nya ini beberapa hari terakhir.
" Kita pasti jadi pembicaraan yang panas di kantormu," ujarnya lagi kemudian terkekeh ringan dengan mata menyipit.
" Hn, banyak gadis- gadis yang cemburu padamu."
" Chk, berhenti menyombongkan diri-"
" Gadis- gadisnya cantik lho. Mereka karyawanku. Aku jadi cemas, bagaimana kalau aku jadi berpaling pada mereka?" goda Sasuke dengan tampang datarnya.
Jemari pria itu meraih satu buah apel dari keranjang buah di atas meja makan, memutar- mutarnya iseng sambil menanti reaksi gadis di hadapannya.
" Tidak masalah," balas Naruto menuai lirikan dari si pria dengan begitu cepat.
Naruto menjilat bibirnya sebentar, mengambil pisang dari keranjang yang sama dan, " paling- paling aku hanya akan mendiamkanmu beberapa hari," mematahkan buah berwarna kuning itu menjadi dua bagian.
Nyuut~
Meringis dalam hati. Tiba- tiba Sasuke merasa ngilu pada bagian selatan tubuhnya.
" Ka- kalau begitu aku tidak akan berpaling," sahutnya kemudian meraih mug kopi lalu meminumnya cepat dan tersedak.
" Baguslah," Naruto menimpali sambil memasukkan potongan pisang ke dalam mulutnya.
..
..
Naruto tengah membuatkan segelas cokelat hangat di dapur untuk Menma yang baru saja bangun tidur. Sementara bocah lima tahun itu kini tengah berada di gendongan Sasuke dengan kedua mata nyaris kembali tertutup karena masih mengantuk. Lengan- lengan kecilnya melingkari leher si pria dan sisi kepala bersandar pada bahunya.
" Hei, waktunya bangun, Menma. Ini sudah sore," Sasuke menepuk- nepuk pelan pantat si bocah.
" Dad, jangan pegang- pegang pantatku," pekik Menma menepis- nepis jemari kokoh sang daddy yang masih dengan usil mengusap kedua bokongnya, bahkan dengan usil mencubitnya pelan beberapa kali.
" Dad!" Menma mendelik pada Sasuke yang terkekeh ringan dengan suara beratnya.
" Kenapa tidak boleh?"
" Nanti pantatku membesar," sungut Menma sambil memutar kedua lengannya membentuk lingkaran besar di udara.
" Obito yang memberitahumu?"
Menma menggeleng, " Chima," jawabnya.
Chima?
" Chima- chan bilang pantat mamanya membesar karena terlalu sering dipegang-"
" Stop. Jangan dekat- dekat bocah itu, oke?" Sasuke mengerutkan kening tidak suka. Anaknya tercemar, ia tahu. Ia akan menghajar Shikamaru lain kali kalau bertemu dan kalau . . . ingat. Tentu saja.
" Kenapa tidak boleh? Dia temanku."
" Tapi temanmu itu bicaranya tidak pernah benar-" ucapan Sasuke terpotong dengan suara ponsel Naruto di atas meja ruang tamu.
Dua kali notifikasi masuk dan Sasuke entah kenapa tidak bisa mengabaikannya. Pria itu mengambil si ponsel ketika suara dering telepon terdengar.
" Halo," sapanya dingin. Mengumpat kasar dalam hati saat mendengar balasan suara laki- laki dari seberang telepon yang terdengar kaget.
Oh, shit. Ia bahkan lupa tidak melihat nama si penelepon sebelum menerima panggilannya.
" Aku Sasuke."
" Hn, tidak masalah," ada jeda beberapa saat sebelum pria itu kembali melanjutkan, " Aku temannya. Akan ku sampaikan pada Naruto jika dia sudah kembali," Sasuke mengeraskan rahang. Menma menatapnya cemas, sang daddy terlihat menahan marah. Pria 25 tahun itu menarik ponsel Naruto dari telinganya. Membawa ke hadapannya untuk membuka dua pesan dari nomer yang ternyata sama dengan si penelepon.
Dari: Utakata
Naruto, kau tidak menghubungi papamu? Iruka- sama memintaku untuk segera menjemputmu.
Katakan padaku kau ada di mana! Kau sendiri tahu bukan aku tidak tahu kau ada di mana. Kau tidak menghubungiku sebulan terakhir dan kau sama sekali tidak mengatakan di mana kau tinggal.
Dari: Utakata
Kalau tidak ingin ku jemput, cepatlah pulang. Kita harus segera membagikan undangan pesta perayaan pertunangan pada teman- teman.
" Sasuke?"
Sasuke tersentak pelan. Menoleh pada Naruto yang menatapnya aneh ketika mendapati dirinya tengah memegang ponsel gadis itu.
Sasuke membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Tanpa sadar meremas ponsel di tangannya dengan sangat erat. Tak peduli jika nantinya ponsel itu rusak akibat ulahnya, atau kalau perlu ia ingin sekali melempar ponsel malang milik Naruto ke jendela, supaya pria bernama Utakata itu tak lagi menghubungi gadisnya. Gadisnya? Benarkah gadisnya?
" Mommy," panggil Menma mengulurkan kedua tangan untuk menerima segelas besar cokelat hangat dari Naruto.
" Habiskan, oke?" Naruto mengusap kepala Menma lembut dan membiarkan Sasuke tetap menggendong pria kecilnya. Menma mengangguk semangat sebelum mendekatkan bibir gelas ke mulut mungilnya.
" Ponselmu," ujar Sasuke. Mengulurkan telepon genggam milik Naruto.
Naruto menoleh pada pria itu yang kini menatapnya lekat.
Gadis itu tidak berkata banyak saat meraih ponsel miliknya.
" Utakata menelfonmu," kata Sasuke sambil menurunkan Menma dari gendongannya. Dia bisa melihat Naruto menatap dirinya terkejut.
Apa?
" U- utakata?"
Sasuke masih melihat Naruto selama beberapa saat sebelum tersenyum getir, " Ya, Utakata," ujarnya mengiyakan, " Tunanganmu," lanjutnya.
Naruto mematung. Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa suara. Serbuan pertanyaan lantas memenuhi pikirannya. Apa Utakata memberi tahu Sasuke? Lalu bagaimana perasaan Sasuke setelah mendengarnya? Apa Sasuke membencinya sekarang? Apa Sasuke tidak mau melihatnya lagi setelah ini? Lalu- tidak, Naruto bahkan tidak tahu reaksi macam apa yang harus ia tunjukkan sekarang. Ia ingin memberikan banyak penjelasan tapi lidahnya terasa begitu kelu.
" Sas-"
" Tidak apa- apa," potong Sasuke cepat dengan suara lembut, namun terdengar begitu dingin di kedua telinga Naruto. Naruto bahkan berjengit pelan saat mendengarnya, membuat sisa keberanian untuk membalas tatapan Sasuke semakin menipis.
Ahh, tentu saja Sasuke marah.
Sasuke jelas kecewa padanya, dan Naruto tiba- tiba merasa begitu tidak pantas berdiri tegak di hadapan Sasuke. Merasa tidak pantas untuk dicintai oleh pria ini.
" Aku tahu. Belum lama ini," tambah Sasuke menuai kernyitan bingung dari si gadis. Naruto mendongak takut- takut. Jantungnya berdegup kencang karena gugup dan cemas.
Sasuke terkekeh masam.
" Kau telah memiliki tunangan bernama Utakata. Dan kau kembali ke sini untuk melarikan diri dari pesta perayaan pertunangan kalian. Pikirmu aku tidak tahu?"
Naruto menarik nafas gugup. " Sasuke-"
" Kau tahu aku benar, Dobe."
Si gadis tampak berpikir, " Itu tidak benar, Suke," lirihnya dengan alis bertaut.
" Jangan berkilah, Sayang. Tidak apa- apa. Aku tidak apa- apa," balas Sasuke. meraih pipi kiri Naruto dan mengusapnya lembut, namun Naruto lekas menepisnya. Tiba- tiba ia merasa kesal.
" Kau salah!" serunya dengan nafas tersengal. Menatap tajam pada si pria Uchiha. Tiba- tiba matanya terasa panas dan dadanya sesak luar biasa. Sasuke salah jika mengatakan ia tengah melarikan diri. Dirinya sedang tidak lari, ia – ia apa? Tiba- tiba pikirannya buntu.
" A- aku sedang memastikan sesuatu," gumam Naruto berbisik namun tak cukup didengar oleh kedua telinga Sasuke. Ia terlihat kebingungan.
" Jadi kau salah jika mengatakan aku sedang melarikan diri!" seru Naruto tiba- tiba mendongak dan menatap tajam pada si pria Uchiha.
Sasuke tertegun. Menelan ludah susah payah kemudian menoleh pada Menma yang menatap keduanya dengan pandangan bingung, tidak mengerti. Rasa bersalah sontak menyerang Sasuke, pria itu sempat melupakan keberadaan putranya beberapa saat lalu. Tidak seharusnya ia memulai membicarakan masalah seserius ini dengan Naruto saat ada Menma bersama mereka.
" Mom-"
" Menma, kau pulang dulu, oke? Mommy sedang saki-"
" Kalian bertengkar," lirih si bocah dengan suara bergetar. Matanya berair hendak menangis. Tidak, ia tidak mau daddy dan mommy- nya bertengkar. Meletakkan gelas susunya yang masih terisi separuh dengan buru- buru untuk mendekat pada keduanya.
" Kalian bertengkar," ulangnya dengan suara lebih keras.
Naruto diam- diam merasa bersalah, kedua tangannya mengepal, menggantung kaku di kedua sisi tubuhnya, begitu pun Sasuke yang merasa tidak bisa mengendalikan keadaan. Pria itu menunduk, berjongkok di hadapan putranya.
" Iya, kami bertengkar. Makanya Menma pulang dulu, oke?"
" Tidak mau. Daddy dan mommy tidak boleh bertengkar."
" Daddy akan minta maaf pada mommy. Kami butuh waktu berdua, Sayang. Menma pulang dulu dan bantu nenek menyiapkan makan malam, bagaimana?"
" Tapi mommy . . . " Menma melirik pada Naruto yang menunduk seolah enggan menatapnya.
Gadis itu terus membisu meski tahu Menma menatapnya lekat menunggunya berbicara.
" Dad, janji tidak akan bertengkar lagi?" pinta si kecil kemudian setelah sadar ia takkan mendapat perhatian apapun dari sang mommy, membuatnya sedikit kecewa. Sasuke mengangguk.
" Janji?"
" Janji."
Menma menatap lekat kedua netra sang daddy, " Oke," putusnya lalu mengecup singkat pipi Sasuke dan berjalan menjauhi keduanya untuk keluar dari apartemen Naruto, menyempatkan untuk melirik sang mommy sebentar sebelum benar- benar berlalu.
Sasuke kembali memberikan perhatiannya pada Naruto yang masih memalingkan wajah menghindari tatapannya.
" Dobe-"
" Pulanglah, Sasuke."
Sasuke terkejut mendengar nada dingin keluar dari mulut si pirang.
" Pulang. Aku bukan gadis baik," Naruto melempar ponselnya ke atas sofa dengan begitu kasar.
Gadis itu berjalan menjauhi Sasuke. kembali memasuki dapur kecilnya yang didominasi warna biru lembut. Sasuke terus mengikutinya.
" Naruto-"
" Ku bilang pulang! Jauhi aku! Pergilah!" sentak Naruto cepat, berbalik dengan wajah lelah.
Sasuke membatu.
Tidak, bukan karena kalimat kasar yang gadis itu lontarkan untuk mengusirnya, tapi . .
" Kau menangis, Sayang?" –pertanyaan retoris. Sasuke bahkan bisa melihat dengan jelas pipi Naruto basah karena air mata.
" Mana mungkin," kilah Naruto, lagi- lagi berpaling. Memunggungi Sasuke yang berusaha mendekatinya. Kaki rampingnya berjalan menuju lemari es, meraih cepat sebotol minuman isotonic untuk melegakan tenggorokannya.
" Naruto-"
" Pergilah, Sasuke," kali ini Naruto bersuara lirih. " Kumohon," tambahnya.
" D-"
" Ku bilang per-"
" NARUTO!" raung Sasuke menahan kesal, menarik paksa lengan gadis itu dan memutar tubuhnya. Mencari- cari wajah si gadis yang kini tertunduk dengan kedua bahu bergetar. Jemari lentik itu terlihat mengeratkan genggamannya pada botol berwarna putih biru yang isinya nyaris habis.
Sasuke lantas merampas dan meletakkannya di meja dapur kemudian dengan cepat meraih tubuh kecil Naruto dalam pelukannya. Mengusap punggungnya lembut dengan ekspresi mengeras. Sedang Naruto, ia menangis tanpa suara.
" Naruto, aku tidak marah. Aku tidak akan membencimu," bisiknya.
" Aku tahu kau tidak menyukainya, jadi tidak masalah untukku," tambah pria itu.
Naruto membersit hidungnya pelan. Perasaannya kacau, begitupun pikirannya yang dalam kondisi sama kacaunya. Ia tak berani sedikit pun untuk membalas pelukan Sasuke. Dirinya tahu, cepat atau lambat Sasuke akan tahu dirinya tak lagi sendiri sekarang. Tapi ia tak menyangka akan secepat ini laki- laki ini mengetahuinya.
" Kau mencari tahu tentangku?" balas Naruto membisik.
Sasuke terdiam beberapa saat, " Ya. Aku ingin tahu banyak tentangmu selama kau pergi."
' Idiot!' maki Naruto.
" Sas-"
" Aku mencintaimu, Dobe. Karena itu aku ingin tahu lebih banyak lagi tentangmu selama kau pergi. Aku selalu merasa jika kepergianmu dulu bukan karena kau tidak lagi memiliki perasaan yang sama denganku, sebab nyatanya aku melihat dengan jelas kau masih menyimpan perasaan itu untukku, kau masih mencintaiku dan kau tidak bisa berbohong," potongnya cepat dengan kalimat yang terdengar sangat berantakan di telinganya. Omong kosong, ia hanya mengatakan apa yang sedang ada di kepalanya saat ini.
Sasuke mengecup puncak kepala Naruto lama. Menghirup dalam aroma wangi gadisnya yang menguar dengan begitu kurang ajar dan membuatnya nyaris lepas kendali.
" Kau tidak akan pulang. Aku tidak akan membiarkanmu pulang ke Suna."
" . . . ."
" Kau tidak menyukainya, aku tahu. Kalian hanya dipaksa bersama oleh orang tuanya juga papamu, oh, tidak, papamu tidak memaksa, hanya saja kau tidak mampu menolak permintaan papamu. Aku benar bukan?"
Naruto diam. Sasuke tak berniat menunggu balasan apapun dari si pirang dan memutuskan untuk mengeratkan pelukannya setelah memberi dua tiga kecupan di pelipis Naruto, lagi. Perasaannya begitu sesak, keterdiaman Naruto membuat berbagai spekulasi terburuk tentang keputusan gadis itu berseliweran di kepalanya. Begitu kesal dan marah pada keadaan yang seolah menenggelamkan mereka dalam keheningan yang menyiksa.
Sasuke tak bisa tenang.
Sasuke tak bisa diam.
Ia ketakutan.
Ia tak mungkin merelakan gadisnya untuk laki- laki lain.
Ia tidak mungkin membiarkan kisah cintanya kembali berakhir dengan menyedihkan. Tidak lagi setelah kepergian gadis ini delapan tahun lalu.
" Kau tidak akan kembali ke Suna. Kau harus berjanji padaku."
" . . . ."
" Jangan tinggalkan aku lagi, Naruto. Kau tidak boleh pergi."
Dan entah kenapa Sasuke justru semakin merasa ragu, keyakinannya goyah. Bisakah ia terus bersama dengan gadis ini?
..
..
Dua hari, Sasuke tak lagi bertemu dengan Naruto. Gadis itu seolah lenyap begitu saja. Apartemennya kosong dan ponselnya tidak pernah aktif. Ia sudah menemui Shikamaru dan bertanya pada pria itu dimana Naruto, tapi Shikamaru juga tidak tahu keberadaan gadis pirangnya.
Menma terus merengek, memintanya untuk membawa Naruto pulang, membuatnya ingat dengan dirinya sendiri saat gadis yang sama meninggalkannya delapan tahun lalu.
Menma bahkan menangis semalaman kemarin, mengadu pada neneknya mengenai pertengkaran keduanya dan berpikir jika kepergian Naruto adalah karena kesalahannya. Demi Tuhan, mereka tidak bertengkar.
Sasuke menggeram. Melempar jasnya pada kursi putar di ruangannya. Mengabaikan Hinata yang beberapa kali bertanya tentang kondisinya yang terlihat sangat tidak baik. Gadis itu mungkin sadar diri dan merasa jika bukan saat yang tepat untuk berada di tempat yang sama dengan sahabatnya ini saat ini dan ia memutuskan untuk keluar ruangan.
" Naruto, Naruto, Naruto, Naruto . . ." desisnya dan kembali mendaratkan bokongnya dengan kasar ke atas sofa. Memijat pelipisnya dengan begitu frustasi. Ia merindukan gadis itu hingga rasanya ia bisa saja menyeret gadis itu dan menguncinya di kamar jika bertemu.
" Kau kemana, Naruto?" desahnya.
Menatap kosong keluar dinding kaca yang menampilkan kumpulan awan kelabu di luar sana. Membiarkan pikirnya berkelana, memikirkan apapun tentang gadisnya. Mengingat kembali senyum merekah Naruto yang selalu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Sasuke meraih ponselnya malas ketika benda persegi itu bergetar pelan. Ibu jarinya mengusap layar hingga menampilkan sebuah notifikasi-
" Naruto?" punggungnya menegak. Terkejut.
Pria itu merasakan lonjakan detak jantungnya yang tiba- tiba berdentum cepat. Nyaris melumpuhkan jari- jarinya untuk sekedar membuka sebuah pesan masuk dari gadis yang sejak dua hari lalu mengacaukan hari- harinya.
Sasuke berharap banyak pada Naruto.
Berharap gadis itu muncul di depan pintu ruang kantornya atau pintu apartemennya kemudian tersenyum manis dan menyambut pelukannya dengan kekehan ringan yang menghangatkan hatinya.
Atau barangkali gadis itu akan mengatainya Teme berkali- kali sambil mengatakan jika dirinya tak perlu mencemaskan hubungan mereka karena Naruto lebih memilih dirinya dari pada laki- laki tunangannya itu.
Namun . . .
Dari: Naruto
Aku kembali ke Suna. Maafkan aku, Suke.
Dan pesan singkat itu mampu meruntuhkan pertahanan Sasuke, pria itu melempar ponselnya ke sudut ruangan dan meraung penuh kekecewaan. Terisak pelan dan tak berniat sedikitpun meraih kembali ponselnya yang telah hancur berserakan di atas lantai ruang kerjanya.
Sasuke kecewa.
Dan ia begitu marah.
Tapi ia sadar, Naruto berhak menentukan pilihannya. Sebab, di sisi lain ia tahu, kepergian Naruto delapan tahun lalu adalah karena sang ibu yang disayanginya. Gadis itu terluka karena ibunya. Dia pergi bukan karena tak lagi mencintainya, namun justru dia pergi karena Naruto begitu mencintainya hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertunangan dengan laki- laki lain demi menuruti permintaan sang ibu. Dan Sasuke menyesal ia baru mengetahui kenyataan itu setelah Naruto tak lagi bisa ia temui dua hari lalu.
Chapter 10_ Tbc
Maaf updet ngaret..
Dan maaf jika cerita berkembang gak sesuai keinginan para pembaca, karena ini cerita versi saya hehe..
Kenapa marga Naruto Naruko berbeda? Tunggu saja lanjutan ceritanya, barangkali nnti sya bakal menyiapkan momen khusus dimana dua karakter ini bs bertemu dan mngkin sya akan mnceritakannya di saat prtemuan mreka. Tenang saja. Cerita ini sdh hampir menuju ending.
Naruto terkesan plin plan? Murahan? enggak, Naruto sejak awal hanya mencintai Sasuke. Dan dia cuma ciuman sama Sasuke.
Endingnya bakalan UtafemNaru atau SasuFemNaru? Rahasia Negara..huehehe
Bargkali teman- teman udh ada yg bisa nebak endingnya.
Kay, terima kasih sudah mau mampir.
Terima kasih dan selamat datang untuk readers baru.
Terima kasih bnyk yg sudah mnyempatkan diri kasih review (jelas ini buat penyemangat semua author utk trs lanjutin ceritanya, krna tahu ceritanya ditunggu bnyk org), juga untuk yg sdh follow dn jadiin cerita ini masuk dlm dftar cerita favorit, sy bnr2 mngucapkan mkasih.
Tunggu chap selanjutnya ya, hehe
Salam kangen,
LukazLuke
