Update lagi ^^

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo


Para kapten divisi tengah melakukan pertemuan, membahas hasil pertempuran mereka. Meski mereka tidak berhasil membunuh Aizen yang menjadi target utama tapi itu bukan pertempuran tanpa hasil. Banyak vampir yang terbunuh dalam pertempuran yang berarti akan sedikit vampir yang berkeliaran di wilayah manusia, hampir seluruh Espada mati, mereka juga 'mendapat' vampir yang akan menjadi sumber informasi penting mereka.

"Bagaimana kondisi para vampir, Soi Fon-taichou?" Tanya Yamamoto.

"Kita tidak bisa berharap banyak dari Nelliel, selain fisiknya menjadi anak kecil dia juga sepertinya menyegel seluruh ingatannya. Ichimaru Gin yang kita tawan juga masih menolak bicara meski dia mau memberi sedikit informasi pada Matsumoto."

Secara reflek Toushirou mengepal erat tangannya dan mengeluarkan reiatsu menakutkan. Para kapten disana yang tahu sebagian dari alasan sikap Toushirou ini (Gin yang membuat Rangiku menjadi vampir) tidak mengeluarkan komentar apapun dan melanjutkan pertemuan.

"Sementara dua vampir lainnya, Ggio Vega, saya bisa yakinkan dia tidak dalam kategori berbahaya dan dia tidak akan bisa berbuat macam-macam dengan houmonka di badannya, saya rasa tidak apa-apa jika kita membiarkannya 'bebas' di dalam lingkungan markas selama dia tahu area mana saja yang bisa dia masuki. Sementara Ulquiorra Schiffer...mungkin Unohana-taichou bisa memberi laporan lebih jelas." Soi Fon menoleh ke arah kapten perempuan lain di ruangan itu.

"Dari hasil pemeriksaan bisa dipastikan dia darah murni Alpha." Kata Unohana.

"Alpha? Darah murni yang keturunannya tetap berdarah murni tidak peduli gen dari pihak orangtua lainnya?" Komentar Byakuya.

Unohana memberi anggukan lalu melanjutkan laporannya. "Jika dia mau bekerja sama dia bisa menjadi aset terbesar, tapi yang menjadi masalah kondisinya saat ini. Reiatsu disekitar lukanya bukan hanya menghalangi segala proses penyembuhan dari luar tapi juga menyerap reiatsunya."

"Berapa kemungkinan dia bisa pulih?" Tanya Yamamoto.

"Sangat kecil bahkan kemungkinannya bisa melewati masa kritis tidak kurang dari 20%. Sampai sekarang dia masih tidak sadarkan diri." Jawab Unohana.

Ruang pengobatan divisi 4...

Orihime terus menunggui Ulquiorra yang terbaring di salah satu tempat tidur, tangannya menggenggam erat tangan laki-laki itu. Luka yang sangat parah bahkan membuat Ulquiorra tidak memiliki reiatsu cukup untuk mempertahankan fisik vampirnya, membuatnya berada di fisik manusia. Infus yang terpasang padanya berisi darah. Asosiasi vampir cukup 'berbaik hati' untuk merawatnya karena mereka menginginkan informasi darinya.

Untuk kesekian kali Orihime menggunakan kekuatan penyembuhannya pada Ulquiorra yang hasilnya tetap sama, reiatsu Aizen yang berada di luka Ulquiorra menghalangi kekuatannya. Airmata mulai berjatuhan di wajah Orihime, dia selalu mengira kekuatan penyembuhannya bisa berguna tapi ini pertama kalinya dia merasa tidak berguna dan sangat bersalah. Kalau saja dirinya tidak muncul saat Ulquiorra bertarung, vampir itu tidak perlu melindunginya dan menjadi seperti sekarang.

"Kamu tahu, kamu sudah tiga hari tidak sadar. Unohana-taichou bilang kalau 3 minggu kamu tidak sadar..." Orihime tidak bisa melanjutkan ucapannya dan airmatanya semakin deras, terlalu menyakitkan untuknya harus mengakui hidup Ulquiorra diujung tanduk. Dia tidak akan mengizinkan Ulquiorra mati, tidak setelah dia sadar perasaannya.

Dia kembali berusaha bicara dengan Ulquiorra, berharap meski dia tidak membuka mata tapi dia bisa mendengar suaranya. "Dihari pertama aku melihatmu, aku sudah menyukai matamu tapi aku juga merasa takut dengan auramu. Ternyata memang benar, kamu bukan manusia. Awalnya aku sangat takut padamu tapi perlahan rasa takut itu lenyap dan...keberadaanmu mulai menyingkirkan keberadaan posisi Kurosaki-kun."

Orihime menggenggam tangan Ulquiorra semakin erat dan tangan lainnya menyusuri wajah laki-laki itu. "Kalau aku memiliki lima kehidupan, aku ingin semuanya kuhabiskan dengan orang yang sama, mencintai orang yang sama, kamu." Dia meletakkan tangan yang dia genggam ke pipinya. "Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu, karena itu buka matamu, Ulquiorra."

Area divisi 2...

"Sepertinya kau bosan sekali." Kata Soi Fon dengan senyum 'iblis' saat memasuki aula markasnya. Ggio, dalam wujud manusia, menunggunya disana dengan ekspresi kesal.

"Kalau kau tidak ingin aku mati kebosanan jangan hanya izinkan aku berkeliaran di area divisimu. Aku juga ingin melihat kondisi Ulquiorra-sama." Protes Ggio. Dia memang cukup beruntung tidak berada di penjara seperti tawanan lain tapi sejak dia berada di markas asosiasi Pemburu, yang dia lihat hanya area divisi 2. Soi Fon juga mengharuskannya berada dalam wujud manusia. "Dan hapus houmonka di badanku. Aku sudah muak melihat tato kupu-kupu di dadaku."

"Aku kan sudah bilang kau hanya boleh keluar dari area divisiku jika bersamaku."

"Kalau begitu aku ingin ke divisi 4, sekarang."

"Ya ya, baiklah. Aku juga ada urusan dengan Unohana-taichou." Kata Soi Fon sambil lalu.

Ggio menggerutu kesal lalu mengikuti Soi Fon, dia punya perasaan perempuan ini akan senang sekali membuatnya 'menderita'.

Soi Fon tanpa sengaja menjatuhkan selembar foto yang dia simpan dibalik haori. Ggio memungutnya, foto itu diambil beberapa tahun lalu, rambut Soi Fon tidak sepanjang sekarang dan dia masih belum memakai haori kapten. Di foto itu juga terdapat wanita berkulit gelap dan berambut panjang diikat kuncir kuda. Wajah Soi Fon bersemu merah di foto itu yang menurut Ggio membuatnya imut.

"Hoi, kau menjatuhkan ini." Kata Ggio.

"jangan tidak sopan padaku." Soi Fon berbalik dan hendak memprotes lebih banyak tapi segera dia menjadi panik dan cepat-cepat menyambar foto di tangan Ggio.

Ggio tertawa geli melihat reaksi Soi Fon. "Siapa perempuan itu?"

"Yoruichi-sama, kapten divisi 2 sebelum aku. Dia juga mentorku sebelum dia non-aktif sebagai Pemburu. Sebagai Pemburu dia sangat hebat dan kuat, aku betul-betul mengaguminya." Jawab Soi Fon yang tanpa disadari ekspresinya menjadi lembut saat menjawabnya. Melihat ekspresi lembut Soi Fon, Ggio juga ikut tersenyum.

"Ke...kenapa ekspresimu seperti itu?" Ucap Soi Fon yang baru 'sadar'.

"Bukan apa-apa. Hanya saja kau manis kalau tidak memasang wajah serius tiap waktu." Kata Ggio yang tersenyum lebar.

(author mendadak pingsan waktu buat percakapan ini, bayangin Ggio)

Rona merah memenuhi wajah Soi Fon. Dia membalik badan dan berjalan secepat mungkin. "Jangan pikir dengan bersikap manis kau akan kubiarkan berbuat seenaknya."

"Iya..." Kata Ggio dengan wajah usil.

"Hei, kalau boleh tahu kenapa kau mau berada disini? Padahal kalau kau memilih meninggalkan tuanmu kau tidak perlu dikurung seperti ini, kondisinya juga kritis." Tanya Soi Fon selewat beberapa waktu dengan suara normal, sudah tidak bercanda lagi.

Ggio kembali memasang wajah biasa. "Karena aku sudah bersumpah hanya memberi kesetiaanku pada Ulquiorra-sama dan terus mengikutinya tidak peduli seperti apapun kondisinya dan dimanapun dia. Ulquiorra-sama satu-satunya vampir yang kusegani."

"Kau serius kan?" Tanya Soi Fon yang terheran pada jawaban Ggio, berhenti berjalan dan menolehkan kepalanya. Dia tidak menyangka vampir yang selama ini dia kira sebagai makhluk yang hanya mencari keuntungan untuk mereka sendiri ternyata ada juga yang seperti Ggio, loyal pada atasannya tidak peduli apapun yang terjadi pada atasannya itu.

"Iya. Mungkin bagi vampir lain aku ini 'tidak waras', sekarang ini mungkin hanya aku saja vampir yang melakukan sumpah darah tapi itu semua kulakukan karena aku benar-benar menghormati Ulquiorra-sama. Dibanding Aizen, dia jauh lebih pantas mengatur komunitas vampir." Kata Ggio, dari ekspresi dan nada bicaranya tampak jelas dia benar-benar loyal pada atasannya.


Dibanding Ggio, keadaan Gin tidak sebaik dirinya, dia benar-benar menjadi tawanan dan berada di dan Nel dikategorikan tidak berbahaya oleh asosiasi, Nel benar-benar menjadi anak kecil sementara Ggio sudah mengatakan dengan jelas dihadapan seluruh kapten asosiasi dia hanya akan 'bergerak' jika diperintah oleh Ulquiorra dan sekarang Ulquiorra tidak sadarkan diri yang berarti Ggio bisa dianggap 'tidak berbahaya'. Selain itu dia juga diancam oleh Soi Fon dengan tusukan kedua houmonka, tusukan pertama sudah dia dapat saat bertarung oleh kapten itu.

Tapi Gin berbeda. Selain dia menjadi tangan kanan Aizen, dia juga bisa bergerak atas keinginan sendiri. Dia bahkan sudah masuk dalam daftar blacklist sejak 16 tahun lalu di hari dia mengubah salah satu Pemburu asosiasi menjadi vampir.

"Ran-chan." Panggil Gin saat dia mendengar derap langkah menuju selnya, dia mengenakan kimono hitam sebagai tanda dirinya tawanan asosiasi.

Tebakannya keliru, Rangiku memang yang sering mengunjunginya atau bahkan bisa dibilang satu-satunya yang mengunjunginya diluar alasan meminta informasi, tapi kali ini yang mengunjunginya adalah Toushirou. Pemuda itu sudah memberinya pandangan dingin sebelum satu katapun terlontar.

"Apa maksudmu merubah Matsumoto menjadi vampir?" Ujar Toushirou dengan suara sedingin es yang nyaris menyaingi Ulquiorra.

"Sebelum kujawab, apa yang kau tahu hanya sebatas aku mengubah Ran-chan beberapa hari setelah kau lahir."

"Ya, lalu?"

"Darah manusia tidak akan bisa menahan darah vampir dalam waktu lama, terlebih kalau manusia itu mengandung bayi vampir, dia bisa meninggal."

Toushirou tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. "Jangan bohong! Apa kau ingin bilang aku nyaris membuat ibuku meninggal!" Serunya.

"Terserah kau mau percaya atau tidak tapi itu memang benar. Saat Ran-chan mengandung dirimu dia masih seorang manusia. Dia tahu resikonya tapi dia bersikeras melahirkanmu. Kondisinya sudah kritis saat kau lahir. Aku tidak ingin kehilangan dia karena itu lebih baik aku dibencinya dengan mengubahnya menjadi vampir daripada melihatnya meninggal disaat aku masih bisa menolongnya." Kata Gin.

"Sekarang kau senang membuatnya menderita?! Apa kau masih belum cukup mempermainkannya?!" Teriak Toushirou penuh kemarahan, reiatsu yang dikeluarkannya bahkan menurunkan suhu disana.

"Mempermainkan? Senang melihatnya menderita? Tidak sekalipun." Kata Gin serius. "Biarpun aku harus mengakui aku memang sering membuatnya menderita tapi aku tidak pernah menyukai perbuatanku sedikitpun. Satu-satunya yang tidak ingin kulihat hanya airmata Rangiku."

"Jangan bercanda!" Toushirou memunculkan pilar-pilar es dan menggunakan pilar itu untuk menghimpit Gin ke dinding selnya. Gin mengerinyit sakit saat dirinya menghantam dinding tapi kemudian dia hanya tampak pasrah, senyum rubahnya tetap ada tapi tidak seperti biasanya, senyum itu menunjukkan kepahitan.

"Kau bilang tidak ingin melihatnya menangis tapi semua perbuatanmu hanya membuatnya meneteskan airmata! Kau hanya membuatnya menderita! Vampir sepertimu tidak pantas mendapat hatinya!"

"Tidak pantas? Berarti kau juga. Apa pantas seseorang yang memiliki separuh darah vampir mengambil darah dari gadis yang kehilangan orangtuanya ditangan vampir?" Kata Gin tenang, yang dia sadar betul memprovokasi Toushirou dan akan semakin memperparah kondisinya. Benar saja, es yang menghimpit dirinya semakin kuat, membuatnya kesulitan bernafas namun dia tetap tidak memberi perlawanan.

"Itu tidak akan terjadi kalau darahmu tidak ada didalam diriku! Sejak aku tahu separuh darah dalam diriku adalah vampir, aku selalu mengutuk separuh darah vampir itu."

"Aku anggap itu berarti kau membenciku."

"Aku sudah membencimu di hari Matsumoto mengatakan siapa yang mengubahnya menjadi vampir." Ucap Toushirou penuh dengan kebencian dan samar-samar terasa keinginannya membunuh Gin.

"Taichou, jangan menyakiti tawanan." Kata Rangiku pelan.

Meski masih kesal Toushirou menghancurkan es yang menghimpit Gin. Dia lalu membalik badan dan meninggalkan area penjara.

"Gin, kamu tidak apa-apa? Maaf soal Toushirou, sampai sekarang dia masih membenci darahmu." Ujar Rangiku, menggenggam jeruji sel Gin karena hanya itu jarak terdekat yang bisa dia raih. Gin dianggap tawanan berbahaya sehingga tidak seorangpun diizinkan memasuki selnya, meski Rangiku memohon pada Yamamoto-soutaichou.

Gin mengangguk dan berjalan hingga batas jeruji sel, meletakkan tangannya diatas tangan Rangiku. "Nee...Ran-chan, aku rasa dia akan semakin membenciku kalau tahu aku yang memberinya nama."

(flashback)

Salju turun perlahan memenuhi kota Karakura dengan warna putih. Disaat semua orang memilih berlindung dari udara dingin, seorang pria justru berada diluar, berdiri dibawah pohon yang sudah kehilangan semua daunnya di tengah musim dingin.

"Gin, maaf. Ada pertemuan. Yoruichi-san tadi juga mau ikut patroli denganku, aku harus buat alasan supaya dia tidak curiga kenapa aku ingin patroli sendiri." Ucap Rangiku, berlari ke arah Gin.

"Tidak apa-apa." Kata Gin dengan senyum khasnya.

"Tapi sekarang sedang turun salju. Aku tidak enak membuatmu menunggu lama, pasti dingin."

"Aku tidak keberatan, aku suka salju." Gin menjulurkan satu tangannya, membiarkan salju jatuh ditangannya. "Ran-chan, kamu tahu, kalau aku punya putra dia akan kuberi nama Toushirou."

"Toushirou ya...nama yang bagus." Komentar Rangiku, tersenyum lembut.

Namun ucapan ini justru membuat Gin sedih, tampak dari senyum rubahnya yang tidak seperti tadi. Rangiku tidak menyadari perubahan sikapnya ini.

"Tapi Ran-chan, aku tidak ingin membebanimu." Kata Gin.

Rangiku memberi tatapan bingung tapi Gin tidak memberi penjelasan atas ucapannya.

(end flashback)

"Mungkin saja. Dia sama sepertimu, susah memaafkan orang yang sudah menyakiti orang yang berarti baginya." Kata Rangiku yang dengan berat hati mengakui, senyum lemah mengiringi ucapannya.


Sebuah ide mendadak terbesit di benak Orihime. Ide yang memungkinkannya bisa menyembuhkan Ulquiorra yang kondisinya semakin menurun. Dengan tangan gemetar dia mengambil pisau yang berada di atas meja kecil didekatnya. Tangannya semakin gemetaran saat dia mendekatkan pisau itu ke pergelangan tangan kirinya, tapi dia harus menahan rasa sakit itu demi kemungkinan samar.

Dia mengerinyit sakit dan berusaha menahan suaranya sekecil mungkin saat dia mengiris pergelangan tangannya. Dia mendekatkan tangannya ke mulut Ulquiorra tapi di detik terakhir menarik kembali. Orihime ragu dengan cara itu darahnya bisa ditelan oleh Ulquiorra dan dia menggunakan cara lain. Dia mengambil beberapa teguk darah ke mulutnya. Sesaat dia terlihat ragu, tapi segera dia buang jauh-jauh. Orihime mendekatkan dirinya dan meminumkan darahnya dari mulut ke mulut.

Orihime bisa merasakan Ulquiorra meminum darah yang diberikan meski perlahan. Setelah semua darah diminum, dia melepas bibirnya. Dia berharap penuh caranya ini akan berhasil. Untuk beberapa detik tidak ada perubahan pada Ulquiorra, membuat Orihime kembali putus asa, tapi kemudian dia melihat tangan Ulquiorra bergerak.

"Ulquiorra." Panggil Orihime penuh harap.

Badan Ulquiorra kembali bergerak tapi dia tetap tidak sadarkan diri dan seolah tengah mengalami mimpi buruk. Orihime menjadi panik terlebih saat dia merasakan sejumlah besar reiatsu dari vampir itu.

"Inoue, tolong keluar sebentar." Ucap Unohana yang datang saat merasakan reiatsu besar dari Ulquiorra.

"Inoue-san, ayo." Kata Isane sambil menuntun Orihime, yang tidak juga beranjak dari tempatnya karena terlalu cemas, keluar. "Tenang saja. Unohana-taichou akan menolongnya, jadi jangan khawatir. Luka ditanganmu juga harus diobati." Isane menambahkan kalimat terakhir saat melihat darah menetes dari pergelangan kiri Orihime.

Orihime hanya mengangguk lemah dan membiarkan Isane membawanya ke ruangan lain untuk mengobati lukanya. Dia sama sekali tidak bisa memikirkan hal lain kecuali kondisi Ulquiorra sekarang.


Nasib Ulquiorra masih belum jelas ya? Saya memang author kejam kalo soal ini, hehehe :evil grin:

Asal nama Toushirou itu pemberian Gin bukan murni ide saya, saya dapat ide dari fic lain.

Ruki_ya : author gak sejahat itu kok, tenang aja gak bakal saya lempar sandal

Kazu : syukurlah kalo suka momen SoiGgio. Masa' sih, perasaan biasa aja ide-ide saya *blush*. Gak tau ini fic mo dibuat berapa chap, nulis ya nulis aja, gak mikir jadinya berapa chap yang penting gak keluar dari draft

Fusae : sebelumnya mo tanya, pennamemu dulu Rhya, kan? Ortu Ulquiorra saya adain sendiri, lagian mereka juga gak banyak dibahas dicerita. Disini diceritain nasib GinRan kan (biarpun cuma dikit)

KuroShiro : ini udah update, tapi author lagi 'jahat', nasib Ulquiorra belum dijelasin, hehehe

Tsukuyomi-Tsuki : kalo mo dibanyakin ntar saya buat side story tentang mereka, tapi mungkin baru dibuat waktu cerita utamanya selesai. Disini udh ada momen GinRan kan, mudah2an kamu suka. Soal takdir itu...ngutip kata2 Gin nih, 'I'm not too fond of sad stories'. Saya gak terlalu suka buat cerita dengan ed tragis tapi...tergantung ceritanya juga. Liat aja ednya gimana ^^

Hana-Hana : dibuat mati gak ya...tunggu chap selanjutnya ya ^^

Kaze-Hime : selama Ulquiorra gak gigit Orihime, dia gak bakal jadi vampir (sama kayak di Vampire Knight). Adegan terakhirnya emang saya ambil dari manga. Soal nasib Ulquiorra...baca chap selanjutnya

*maaf, author jadi kebanyakan iklan gini*

Silahkan review...