A Ferret In Love

Author: eccentric indeed

Translator: dei-enjel

Summary:

"Aku tidak mencintai Granger. Aku hanya memiliki ini. perasaan yang jelas-jelas lucu ketika aku ada disekitarnya. Dan itu bukan cinta! Cinta itu unicorn, pelangi dan panda besar yang mengemong.", "Kegilaanmu tidak pernah gagal membuatku takjub." Menjadi seorang ferret yang jatuh cinta itu sulit. Dasar Granger.


Disclaimer: Harry Potter always belongs to J.K Rowling

A Ferret in Love - eccentric indeed

A/N : Beribu maaf kepada beribu (?) pembaca fic terjemahan ini, hehe, maaf, dei kemarin sakit, plus diopname di rumah sakit, plus dei lagi ngurus beasiswa S2 (doain die ya :D), dan juga 'sibuk' membaca fis teman-teman (wkwkwkk, alesan :D) jadilah dei gak bisa nerjemahin dengan cepat. tapi dont worry be happy, karena chapter selanjutnya adalah ini!

Special Thanks To:

Yang udah ngereview fic ini dari chapter 1 sampe 10: LianaAndromeda, megu takuma, Antares Malfoy, Chaaa, ochan malfoy, sycho37, shizyldrew, BlueDiamond13, choKyulate , mrsbubugig, .121, Rin, Kuroba Ayaka, cla99, Kebab, candy, Chikuma Yafa-DamselFly, christabellicious, serenashield, Ladyusa, luvusamamo, choKyulate, , Guest, DraconisChantal, Sinta malfoy, biancav312, susi. desiani, Kaze no Nachi, hikari rhe chen, nyanmaru, Ms. Lonny Lovegood, cintaihya, dan - Makasih buat semua yang baca, yang fave, sama yang follow. Waw, yang baca udh 7000-an lebih.. Makasih banyak :)

Oke, tanpa berlama-lama happy reading :)

jangan lupa review ya :D


Chapter 11: PLAN 236!

Ini waktunya. Coba kita lihat daftarnya:

Blaise tidur dan berada di kamarnya; oke,

Penentuan kewarasan untuk melakukan ini; oke,

Si tampan iblis dan terlihat menarik; sepertinya itu kutukan sejak aku lahir,

Well, Rencana 236 siap untuk dilaksanakan.


Hermione POV

SUARA APA SIH ITU?

Aku mendengar suara ketukan di jendelaku. Sangat keras, ketukan yang menjengkelkan. Aku duduk dengan marah, mencari sumber suara itu dan berteriak.

Draco Malfoy ada diluar jendelaku, menggigil dengan seringaian konyol di wajahnya. Aku segera bangkit dari dudukku dan membuka jendela. Aku mendorongnya masuk ke dalam kamar dengan cepat dan menamparnya. "Apa kau sudah gila? Ini –"Aku mengecek jam dindingku, "jam 4 pagi dan aku melihatmu menggigil diluar jendelaku – ba-bagaimana kau bisa sampai ke sini?"

Draco duduk di sofa dan mengangkat bahu. "Memanjat." Mataku melebar, "Apa kau kehilangan kewarasanmu, Malfoy? Kenapa bahkan kau berpikir untuk melakukan hal itu? Kau bisa saja jatuh atau buruknya –"

"Kau tidak berpikir kalau aku serius untuk meminta ampunanmu." Draco berkata, melihatku dengan serius. "Aku ingin menunjukkan padaku bagaimana usahaku untuk memperbaiki hal ini denganmu. Dan aku berharap usahaku ini tidak diabaikan. Aku serius; cukup serius untuk memanjat kesini, dalam baju tidur, di jam tidur pagi hari hanya agar kau bisa berpikir untuk memaafkanku atas kesalahan bodohku." Draco menghela nafas berat dan aku menunduk kepalaku karena malu. Aku sudah melihat semua usahanya untuk memperbaiki hal itu, meskipun semuanya berjalan tidak bagus, aku melihat usahanya yang keras. Dan aku mengabaikannya, karena aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Kau tidak bisa hanya memaafkan seseorang secara tiba-tiba setelah mereka memanggilmu Darah Lumpur. Aku butuh waktu untuk sendirian dan mendinginkan kepalaku.

Aku menghela nafas dan menggigit bibirku. "Maaf karena meragukan keseriusanmu, dan untuk sebelumnya, mempertanyakan kewarasanmu." Bibir Draco tertarik ke atas dan aku melakukan hal yang sama. Kualihkan pandanganku kearahnya dan ia memainkan alisnya padaku. "Jadi apakah aku dimaafkan sekarang?"

Aku menahan tawaku. Aku merindukan hewan ini. "Baiklah, kau dimaafkan." Aku tersenyum mendengarnya, namun senyumnya sangat-sangat lebar. Aku tertawa tak terkontrol dan ia menarikku ke dalam pelukan penghancur tulang (A/N: sangat erat maksudnya :D).

Draco tertawa senang saat aku menggeliat di bawah lengannya. Ia memelukku lebih erat dan mengabaikan tatapan ia akhirnya melepas pelukannya, aku memukul lengannya. Benar-benar tak peduli, ia menyengir padaku dan berkata, "Kau tidak bercanda kan? Aku benar-benar dimaafkan?"

Aku tersenyum. Apakah aku begitu keras kepalanya, hingga ia tidak percaya aku sudah memaafkannya? "Aku tidak bercanda Draco. Kau dimaafkan." Draco melompat kegirangan dan aku tertawa. "Tapi apa yang kau lakukan sangat konyol."

"Konyol mungkin tapi itu adalah ide terbaik dari banyak ide brilianku." Draco terkekeh mencoba memelukku lagi. Aku berteriak dan berlari menjauhinya. Semuanya kembali ke normal.


Draco POV

Kau tau perasaan saat kau menyadari Natal akan tiba atau itu adalah hari ulangtahunmu dan kau hanya merasa benar-benar, benar-benar bahagia? Yah itu mungkin satu kegembiraan; sekarang kalikan perasaan itu sepuluh kali lipat: itulah perasaan bahagia yang aku rasakan sekarang.

Aku dan Hermione berada di depan perapian, duduk di sofa, tawanya yang menyenangkan memenuhi setiap sudut ruangan. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum; wajahnya memerah dan tangannya memegang perutnya karena tertawa terlalu banyak. "Tunggu—kau melihat Filch telanjang?"

Wajahku memerah. "Hampir, Merlin tau otakku tidak perlu terkotori di usia muda." Hermione meledak dalam tawa. "Kau botak, tersedak kacang, diinjak-injak pinguin yang bermutasi, kehilangan hidungmu, diserang centaurus, digantung terbalik dan melihat Filch – oke hampir—melihat Filch telanjang. Kau memiliki hari yang berat." Ia menghitung dengan jarinya, terus tertawa.

Aku meringis. "Salahkan Blaise Zabini bodoh,"

"Oi, berhenti menyalahkanku," Blaise berjalan keluar dari kamar mandi Ketua Murid. Kami menatapnya tak percaya. "Bagaimana kau bisa ada disana?"

Blaise mengangkat bahu. "Aku benar-benar tidak tau. Aku baru saja bangun meringkuk di bak mandi." Kami menatap satu sama lain untuk beberapa menit kemudian Blaise berjalan keluar Asrama Ketua Murid dengan tenang.

Hermione berdehem. "Well itu tidak terjadi setiap hari."

Dia mengambil bukunya dan mulai membaca. Aku tidak bisa menemukan apapun untuk dilakukan jadi aku hanya menatapnya. "Aku benar-benar tidak ingin terbakar dalam api." Aku menyeringai. "Berhenti menatapku, idiot."

"Bisakah kau merasakan terbakar api?" Aku meyeringai dan ia mendengus. "Semua yang bisa kurasakan adalah lapar, bodoh." Aku tersenyum. "Well, kalau begitu ayo kita berjalan-jalan ke dapur!" Hermione berdiri dan berjalan ke tangga, "Kau duluan saja. Aku akan menyusulmu dalam beberapa menit."

Aku menganggu dan berlari menuju dapur. Aku memanggil Candy, salah satu Peri Rumah. "Tuan Malfoy," dia membungkuk. "Apa yang bisa Candy lakukan untuk Tuan?"

Aku tersenyum dan memikirkan sesuatu. "Aku ingin melakukan sesuatu, bisakah kau -?"


Beberapa menit kemudian, Hermione datang dan disambut oleh Peri Rumah yang lain, Twinkle. Dia membungkuk rendah dan berkata dengan suara mencicit, "Selamat pagi Nona, Tuan Malfoy mengatakan padaku untuk mengantarmu ke mejamu. Sebelah sini, silakan Nona, ikuti Twinkle." Hermione tersenyum senang pada sikap Peri Rumah itu. Ia mengikuti Twinkle hingga mereka mencapai meja untuk dua orang di depan jendela besar yang menampakkan pemandangan gunung yang menakjubkan. Hermione tersenyum lebar dan duduk. Peri Rumah berdiri di sampingnya dan ikut tersenyum.

Hermione berpaling pada si Peri Rumah. "Dimana Draco?" Si Peri Rumah, berseri cerah dan berkata, "Jangan khawatir Nona; Tuan Draco akan disini dengan segera. Dia hanya sedang sibuk melakukan sesuatu, seperti biasanya." Hermione menaikkan alisnya. "Dia pergi ke sana sepanjang waktu?"

Twinkle terkekeh. "Tidak sepanjang waktu Nona, walaupun kami Peri Rumah suka jika Tuan Malfoy melakukannya. Dia memperlakukan kami dengan baik tidak seperti penyihir berdarah murni lainnya. Tuan Darco sangat baik, kami para Peri Rumah sangat menghormatinya."

Hermione tersenyum mendengar itu semua, terkejut dengan fakta bahwa Draco, yang berasal dari keluarga yang tidak menghormati apapun di bawah mereka, benar-benar sangat menyukai makhluk ini. Dimana anak itu-?

"Waktu yang tepat Hermione, ini masih panas." Hermione berbalik dan melihat wajah berseri Draco, dua piring dengan gundukan kue emas melayang di belakangnya. Draco duduk di seberangnya dan piring-piring itu meletakkan diri mereka sendiri dengan hati-hati di depan mereka. Hermione mengerang dengan lapar saat sirup lezat jatuh seperti air terjun di gundukan kuenya. Draco tertawa pada ekspresinya dan memutuskan untuk tidak menunggunya lebih lama lagi. "Silakan, Hermione."

Langsung saja, Hermione mengunyah satu kue, ia begitu persis terlihat seperti Ron Weasley yang sedang berhadapan dengan ayam. "Kau memiliki ciri-ciri yang sama dengan Weasley ketika datang untuk makan, apakah kau tau itu?" Draco menyeringai dan wajah Hermione memerah. "Aku benar-benar lapar dan aku suka kue." Draco mengangguk geli. "Well, aku senang kau suka masakanku." Hermione berhenti beberapa saat, mengolah apa yang ia katakan, kemudian berseru, "Kau membuat ini?"

Draco tersenyum bangga. "Well, ya. Ya aku memasaknya. Enak 'kan?" Hermione mendengus. "Mereka mengerikan sebenarnya." Ia bergumam sambil kembali menggigit kue yang ia katakan mengerikan. "Mengerikan, kau bilang? Aku mungkin saja mengambil kue itu menjauh darimu jadi kau tidak bisa memiliki hal-hal yang mengerikan lagi…"

"Tidak, tidak, tidak! Aku suka hal-hal yang mengerikan. Aku menyukaimu, 'kan?" Hermione menyengir ke arahnya, menunggu pesan itu masuk padanya. "Oh terima kasih – Oi!"

Hermione meledak dalam tawa dan Draco mengikuti dengan tawa yang keras. "Ayolah, Hermione. Akui saja kalau aku juru masak yang menakjubkan, tidak diragukan ketampanannya dan sempurna dalam segala hal."

Hermione mencemooh. "Sempurna? Selain kau bisa memanggang, aku benar-benar tidak bisa mengatakan kalau kau sempurna dalam segala hal." Draco menyengir makin lebar dan memanggil Twinkle. Ia membungkuk dan tersenyum padanya. "Apa yang bisa Twinkle lakukan untukmu Tuan Draco?"

"Tolong bawa kue-kue yang yang kubuat sebelumnya, Twinkle." Ia menjentikkan jarinya dan di depan Hermione muncul senampan kue blueberry. Hermione mengambil satu kue dengan hati-hati dan menganga pada Draco. Draco menyeringai angkuh. "Apakah aku sempurna dalam segala hal sekarang?" Hermione memutar bola matanya dan kembali pada kue di tangannya. "Jangan khawatir, Hermione. Aku tidak menaruh racun apapun di dalamnya."

Hermione melototinya dan menggigit kecil kue di hadapannya. Ia berhenti beberapa saat, menatap kue tak bergerak itu. Kemudian bibirnya mulai naik ke atas. "Selalu sempurna."

Draco menyeringai penuh kemenangan. "Aku tau, aku tau," Hermione kembali melototinya dan menggigit besar-besar kue itu. "Ini surga. Mmmmm…" Draco terkekeh dan menggigit kue miliknya. "Ini bukan apa-apa. Aku membuat banyak setiap waktu."

Mata Hermione melebar. "Aku bisa memakan itu selamanya dan tidak akan letih memakannya." Hermione kembali menggigit kue itu. "Aku serius akan menikahimu Draco. Aku butuh kue itu selamanya!" Draco tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan. "Kau tidak bisa menikahiku hanya karena aku memanggang kue dengan baik."

Hermione mengibas tangannya dengan acuh. "Aku bisa. Sekarang berlututlah dan lamar aku sekarang juga." Draco melihatnya seakan ia sudah kehilangan kewarasannya. Yah, mereka berdua sebenarnya. Draco mengambil sebuah kue dan berlutut di dekatnya, wajahnya terlihat serius. Hermione memutar bola matanya dengan geli saat menatapnya. "Hermione, untuk kue-kue lezatku, maukah kau menikah denganku?"

Hermione tertawa. "Ya, tentu! Kue untuk seumur hidup!"

"APA?"

"Harry!"

"Potter,"

"MALFOY?"

"Weaselbee,"

"DRACO!"

"DRACO?"

"Ron,"

"Hermione,"

"HERMIONE?"

"Harry, Ron –"

"Potsy, Weasel –"

"DRACO!"

"Hermione,"

"BLAISE ZABINI!"

"Blaise! Dimana – Bagaimana -?"

"Apa yang harus aku lakukan?"