A/N: Haloo~ Apakah saia update lama lagi? mudahan tidak...
Balas review dulu, seperti biasa...
neko-chan cat eyedgirl meong: tebakannya bener, hebat lho... Saia updatenya nggak pas UN kok, jadi silahkan baca~ oh, gimana nih UN nya? Sukses kah? Arigatou buat reviewnya..!
Rurippe no Kimi: Ah, saia masih kelas 1 SMA, UN masih lama, hehe^^ kalau Rippe kelas berapa? Meskipun nggak review di chap sebelumnya, nggak papa kok, saia maklum aja ^^ makasih juga buat reviewnya!
And, Enjoy!
xXx_xXx
Chronicle of The Different Times
By: Shu AliCieL
Chapter Eleven: Where He Belongs To
Disclaimer: TRC © CLAMP
xXx_xXx
Sakura merasa pernah melihat pemandangan ini. Air mancur di depannya dan taman bunga di sekelilingnya. Ah, dia ingat sekarang. Di tempat ini ia bertemu seseorang yang berkacamata. Orang itu mengatakan hal yang sama dengan Yuuko dan ia tak sempat menanyakan namanya.
"Sakura..." suara yang terdengar lembut dan berwibawa datang tepat dari arah belakangnya. Ketika Sakura menoleh, ia mendapati sosok yang baru saja diingatnya.
"Anda...orang yang pernah bertemu denganku dalam mimpi..." orang itu mengangguk.
"Masih ingat rupanya..."
"Ya. Dan...terakhir kali bertemu, aku terbangun sebelum menanyakan nama anda."
"Kalau begitu, akan kukatakan sekarang. Namaku Clow Reed," orang itu tersenyum ramah.
Sakura ikut tersenyum, lalu memperhatikan Clow. Tapi, Clow Reed. Nama itu seperti pernah ia dengar. Sakura lalu terpaku pada buku yang dibaca oleh pria yang lebih tinggi dan lebih tua darinya itu. Di mimpinya saat itu juga ia membaca buku yang sama.
"Buku itu...apa anda suka membacanya? Apa isinya?"
"Kau mau melihatnya?" tawar Clow Reed, masih sambil tersenyum.
Sakura mengangguk dan menerima buku itu dengan tangannya. Ia memperhatikan sampul buku bergambar matahari yang terlihat sangat epic. Ia lalu membuka halaman pertama, di mana di sana tertera nama Clow Reed.
"Clow Reed's Note... Jadi, apakah anda yang menulis buku ini...?"
Aneh. Tadi jelas-jelas Clow berada di sampingnya. Tetapi sekarang pria itu tak ada di manapun. Sakura lalu celingukan mencarinya. Tak ada di manapun, dan tiba-tiba pemandangan di sekitarnya berubah dalam sekali kedipan mata.
Sakura bingung karena tiba-tiba ia dalam posisi berbaring, di tempat yang berbeda dari yang tadi. Ia lalu mengambil kesimpulan bahwa ia baru saja bermimpi. Lalu, apa yang ia kerjakan sebelum tidur?
Sakura masih sedikit bingung. Begitu sepenuhnya tersadar, ia bangkit ke posisi duduk dan mengamati ruangan di sekitarnya. Ia terbaring di atas tempat tidur seseorang, tapi ia tak tahu di mana tempat ini. Ia bahkan tak tahu apa yang telah terjadi hingga ia bisa berada di tempat ini.
"Tadi, aku bersama Syaoran dan... Ah! Dimana Syaoran dan yang lainnya?" Sakura pun bangun dan panik. Lupa pada mimpinya yang sebenarnya sangat penting, ia ,alah celingukan mencari Syaoran, Fay, Kurogane, Mokona atau siapa saja yang ia kenal.
Matanya menangkap figur seseorang. Ia berdiri membelakangi Sakura di pinggir sebuah kolam air. Sakura tak tahu siapa itu, tetapi rambut pirang yang dimilikinya sangat mirip dengan seseorang yang dikenalnya.
Pria itu mungkin sadar kalau Sakura telah terbangun. Ia menoleh ke belakang, ke arah Sakura. Sekarang bukan hanya rambutnya saja, wajahnya juga sangat mirip dengan Fay.
Saat pria itu berjalan mendekat, Sakura menyadari satu hal. Dia memakai jubah putih. Dia bukan Fay. Mungkin saja dia orang jahat yang berniat melukainya. Sakura pun mulai bersikap siaga.
Melihat sikap Sakura yang menatapnya dengan tajam, Yuui tahu apa yang kira-kira dipikirkan olehnya. Ia pasti dianggap musuh olehnya, karena tadi ia diculik oleh orang berjubah putih. Gadis itu pasti berpikir bahwa ia berkomplot dengan orang yang menculiknya atau semacam itu.
"Tak usah tegang begitu, nona. Aku bukan teman dari orang jahat yang telah menculikmu..." ucap Yuui sambil tersenyum. Mencoba untuk terlihat ramah.
Ia berkata begitu, tapi bahkan Sakura sendiri tak tahu kalau dirinya habis diculik oleh seseorang.
"Dimana aku sekarang?" tanya Sakura dingin. Ia belum bisa mempercayai Yuui.
"Wilayah pemerintah. Lebih spesifiknya, ini adalah kamarku, sekaligus laboratoriumku. Oh, bisakah kau beritahu namamu?" Yuui masih saja berusaha ramah pada Sakura.
"Kau sendiri siapa? Wajahmu mirip dengan orang yang kukenal, tapi aku yakin kau bukan dia. Kau siapa?"
Yuui ingat bahwa ia pernah mengalami ini sebelumnya, di dalam mimpinya. Dan pasti akan muncul reaksi yang sama jika ia mengatakan...
"Namaku Yuui. Aku kembaran Fay, orang yang kau kenal itu..."
"Eh?" yah...Yuui sudah menduganya.
'Jadi dia benar-benar kembaran Fay-san? Oh, iya... Syaoran pernah menceritakannya padaku.' Kata-kata itulah yang ada di otak Sakura saat ini. Ia juga mengingat bahwa Syaoran memang pernah menceritakan masa lalu Fay padanya dulu.
"Kau terlihat bingung. Apa kau butuh sesuatu? Minum, misalnya?" tawar Yuui dengan ramahnya. Sikapnya tak jauh beda dari Fay. Setidaknya senyum yang mereka miliki sama-sama bikin melting(?)
"Tidak, terima kasih. Tapi apa Yuui-san tahu kenapa tiba-tiba aku di sini?" suasana sudah mulai mencair. Sakura pikir kalau hanya pertanyaan seperti itu bisa lah ditanyakan padanya.
"Temanku lah yang membawamu ke sini. Ia bilang kau terbang di dekat labirin dan..."
"Eh? Te...terbang? Aku bisa terbang?"
Yuui pun dibuat bingung oleh reaksi Sakura yang malah kaget mendengar bahwa dirinya terbang.
"Maksudmu benar-benar terbang...melayang di udara?"
"Ya. Dan kau sangat dekat dengan labirin. Kau tidak ingat?"
Sakura menggeleng dan keduanya sama-sama bingung. Sakura menyentuhkan tangan kanan ke dagunya, berpikir. Rasanya ia tidak pernah terbang. Tahu bisa terbang saja tidak! Dan...labirin? kapan itu?
"Aku ingat...mimpiku," gumam Sakura pelan.
"Di sebuah tempat yang gelap, aku mengikuti sebuah kupu-kupu bercahaya ungu yang sedang terbang. Ia menuntunku ke arah sebuah pintu. Tetapi sebelum mencapai pintu itu, mimpiku terputus. Aku terbangun."
Yuui tidak mengerti sama sekali tentang apa yang Sakura ceritakan. Tapi...mimpi seorang penyihir yang memiliki kekuatan yang besar pastilah berarti sesuatu. Bukannya ia juga pernah mengalami mimpi yang tak biasa?
Ia teringat mimpinya di mana ia bertemu Tomoyo. Ia pun sadar bahwa dari tadi gadis ini belum menyebutkan namanya.
"Sakura..."
"Eh...Yuui-san...tahu namaku?"
"Kau sudah menyebutkannya tadi. Kau lupa?" oke, kita semua tahu dia sedang berbohong. Tapi dengan begitu ia jadi mengetahui jawabannya secara tidak langsung.
"Aku sudah menyebutkannya? Benarkah...?"
"Sudahlah, yang itu tidak usah dipusingkan. Daripada itu..." ucap Yuui menggantung. Ia mengenggam kedua tangan Sakura.
"Aku membutuhkan bantuanmu, Sakura..." Sakura yang tangannya dipegang agak salah tingkah.
"Bantuan...?"
"Ya. Aku tahu kau juga akan membutuhkan bantuanku nanti. Jadi, kumohon..." minta Yuui dengan sangat. Diperlakukan begitu, Sakura tambah salah tingkah lagi.
"I...iya, tapi...bantuan macam apa?"
"Aku harus bertemu dengan..."
BRAK! Suara gebrakan pintu yang tiba-tiba itu nyaris membuat jantung mereka berdua copot. Yuui pun terpaksa menghentikan kata yang hendak keluar dari mulutnya. Ia berdiri menghadap arah pintu untuk melihat siapa yang berani menerobos masuk ruangan pribadinya.
Beberapa prajurit berjubah putih, seperti dirinya. Dan seorang lagi...ia bukan prajurit. Tetapi seorang wanita berambut hitam panjang dan warna amethyst menghiasi iris matanya. Wanita yang dikenal Yuui sebagai Akai-sama.
Melihat situasi itu, Yuui maju ke depan Sakura. gadis itu menjadi tanggung jawabnya sekarang.
"Hmm... Apa yang kudapat di sini? Kau tahu, Yuui? Tidak baik bagi seorang pria membawa seorang gadis ke kamarnya."
"Heh! Orang tak tahu belas kasihan tidak usah bicara tentang kebaikan," balas Yuui sarkatis.
"Setidaknya kau bisa mengenalkannya padaku dulu. Kau tahu aku tak akan berbuat apapun padanya."
"Dan melihatnya dipergunakan sebagai alat untuk mencapai kejayaanmu? Tidak akan pernah."
Yuui sudah benar-benar kehilangan kehormatannya pada orang itu. Ia bahkan sudah melupakan panggilan '-sama' untuk wanita di depannya itu. Dan ucapan Yuui yang terakhir berhasil membuat kesabarannya habis.
"Tangkap pengkhianat itu."
Pasukan Akai-sama bersikap dengan senjata mereka. Dan Yuui mempersiapkan mantranya. Tetapi sebelum ada yang sempat memulai serangan, alarm tempat itu berbunyi.
"Siaga merah! Penyusup teridentifikasi!" kalimat itu diucapkan berkali-kali melalui speaker.
Lengahnya orang-orang dimanfaatkan Yuui untuk kabur. Ia menarik Sakura, lalu berlari secepatnya menuju kolam air. Meskipun ia ditembaki, tetapi ia berhasil menggunakan mantra untuk melindungi dirinya dan Sakura.
Yuui menceburkan dirinya beserta Sakura ke dalam kolam. Bukannya tanpa tujuan. Ia ingin mengambil sesuatu di sana. Sesuatu yang hanya bisa diambil oleh dirinya seorang. Kunci perak.
Yuui membaca mantra di dalam air. Seketika itu juga, tabung berisi kunci perak muncul. Setelah kunci itu jatuh ke tangannya, ia membaca mantra lain lagi. Kali ini untuk melarikan diri.
Air di kolam itu menyembur ke atas. Seperti sebuah menara dengan Yuui dan Sakura berada di atasnya. Pasukan yang berada di bawah tak bisa berbuat apapun selain melihat takjub kepadanya.
Untuk ketiga kalinya Yuui membaca mantra. Mantra yang kali ini membuat cahaya di bawah kakinya setiap kali ia melangkah di udara. Ia berjalan di udara dengan sihirnya, sambil menggendong Sakura yang kelihatannya agak terkejut.
Bagaimana tidak? Ia baru saja tercebur...atau diceburkan ke dalam kolam, lalu meluncur di atas air, lalu sekarang dibawa seseorang berjalan di udara. Kejadian itu terjadi begitu cepat.
Yuui tahu pasukan itu tak akan tinggal diam. Jadi ia menggunakan satu sihir lagi: teleportasi.
"Sakura, kau tak apa-apa?" ucap Yuui ketika mereka sudah berpindah tempat. Ia menurunkan Sakura ke tanah.
"Ku...kurasa begitu..." ya, ia tak apa-apa. Tapi Yuui bisa melihat bahwa gadis itu kedinginan. Sayangnya ia tak punya apapun yang bisa digunakan untuk menghangatkannya karena baju mereka sama-sama basah pasca tercebur di kolam.
"Tak perlu mengkhawatirkanku. Tapi di mana kita sekarang?"
Mereka berdua sama-sama menyisir area sekitar dengan pandangan mata.
"Lihat! Di sana itu labirinnya. Kalau begitu ini pasti area perbatasan," ketika melihat labirin itu, Sakura ingat sesuatu. Ia tahu tempat ini.
"Tempat ini..."
"Kenapa?" tak menjawab, Sakura malah melihat pemandangan sekitarnya lagi. Sebuah objek menarik perhatiannya.
"Ah, menara itu!" Sakura pun berlari menuju menara tua yang ia lihat. Yang tidak lama ini ia datangi bersama Syaoran dan yang lainnya.
"Tunggu, Sakura!" Yuui pun mengejarnya. Di saat seperti ini tidak baik bertindak buru-buru seperti itu.
"Tunggu. Jelaskan dulu tentang tempat ini," kata Yuui setelah berhasil menangkap lengan Sakura. Mereka tak jauh dari menara tua tadi.
"Aku pernah diajak kesini oleh Syaoran. Dan kami beristirahat tepat di atas menara itu."
"Jadi maksudmu, ini wilayah 'mereka'?"
Sakura mengangguk. Yuui langsung bersikap waspada. Jika ini wilayah lawan, tidak baik bila ia ada di sini sekarang. Dan, benar saja. Sesaat setelah berpikir seperti itu, seseorang menyerangnya dengan melempar tombak-tombak es dari jarak jauh.
Untungnya sebelum benda itu mengenainya, ia berhasil menghindar. Menarik Sakura ke samping sambil melompat. Mereka pun jatuh tersungkur di tanah.
"Sial!" umpat Yuui yang mulai kesal. Baru saja ingin berdiri dan melarikan diri, ada dua orang yang sudah berada di belakangnya. Salah satunya menodongkan belati yang terbuat dari kristal es.
"Diam di tempat atau nyawamu akan berakhir di tanganku," ucap orang berjubah merah itu dingin. Sedingin aura yang ia pancarkan. Orang itu mengarahkan belatinya lebih dekat ke leher Yuui.
"Tunggu dulu, Kamui. Gadis itu..." ucap teman orang itu, yang berdiri tepat di sampingnya. Sakura yang kakinya melemas menjadi pusat perhatian kedua orang itu.
"Jubahnya...sama seperti kita!" lanjutnya lagi.
"Jangan tertipu, Subaru. Mungkin itu penyamaran. Aku tak pernah melihat gadis itu," dan 'Pria Es' itu mengabaikan Sakura. Ia lebih tertarik pada sesuatu yang disembunyikan Yuui.
"Daripada itu, kau. Apa yang kau sembunyikan itu?" karena Yuui tak menjawabnya, ia menyuruh Subaru untuk mengambilnya.
"Tolong kau periksa, Subaru."
Subaru megangguk. Dengan sedikit paksaan, ia berhasil merebut benda itu. Subaru yang merebutnya tak tahu ekspresi Yuui saat itu karena Yuui memakai tudung pada jubahnya. Ia juga berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk dalam-dalam.
"Ini...kunci perak!"
Kamui dan Subaru pun terkejut. Lengahnya mereka merupakan kesempatan bagi Yuui untuk meloloskan diri dari Kamui dan mengambil kembali kunci peraknya. Tetapi mereka tidak sebodoh dan selemah yang ia kira. Subaru yang merupakan penyihir es membuat dinding penghalang, melintang tepat di depan Yuui. Membuatnya tidak bisa lari lebih jauh...itu yang dia kira.
Predikat yang disandang Yuui sebagai penyihir terkuat memang tidak salah. Hanya dengan satu gerakan tangan ia dapat menghancurkan dinding tersebut menjadi serpihan.
Karena cara itu tidak berhasil, Kamui pun mencoba menyerang dengan kontak langsung. Hal itu sangat merugikan Yuui karena ia tak mahir dalam pertarungan jarak dekat.
Kamui menggunakan sihirnya. Sihir es yang sama seperti kembarannya, Subaru. Kedua tangannya diliputi kabut-kabut es dan sekarang apapun yang disentuh olehnya akan mulai membeku.
Tak lama, pertarungan dimulai. Sayangnya ini merupakan pertarungan dua lawan satu yang tidak adil, meskipun Yuui sendiri adalah penyihir terkuat.
Satu serangan dari Kamui mengenainya. Yuui terjatuh dan tangan kanannya mulai membeku, diliputi kristal es yang dinginnya membuat mati rasa. Dan jubah yang sedari tadi menutupi wajahnya kini tersingkap.
"Kau...Fay?" Kamui yang melihat wajah Yuui pun terkejut.
Tanpa disadari oleh Yuui yang tadi terlalu sibuk dengan pertarungannya, tabung kaca yang tadinya ia pegang kini terlempar entah ke mana.
Sebelum tabung itu menghempas tanah dan hancur berkeping-keping, Sakura yang sempat terlupakan berhasil menangkapnya. Sebenarnya jatuh juga tak apa, asalkan kunci di dalamnya tak ikut hancur. Tetapi Sakura tahu seberapa berharganya kunci itu.
Tindakan Sakura barusan membuat kunci itu bercahaya. Cahaya menyilaukan yang tiba-tiba muncul membuat aktifitas tiga penyihir itu berhenti seketika. Tanpa terkecuali, mereka semua memandang takjub pada Sakura.
"Kalian...tahukah kalian, siapa gadis itu?" tanya Yuui sesaat setelah mereka semua terdiam.
"Dia adalah pemilik asli kedua kunci."
o0o
"Yukito-san!"
Teriak Sakura setelah melihat figur Yukito di lorong di depannya.
"Sakura!" teriak Mokona yang entah dari mana. Ia melompat ke arah Sakura.
"Mokona, aku merindukanmu!"
"Sakura, bagaimana kau bisa di sini?" Yukito pun terkejut melihat Sakura yang setahunya sedang diculik, kini tengah berdiri di depannya.
Sakura akhirnya dibawa ke tempat Yukito, yang menurut Kamui dan Subaru adalah yang paling aman saat ini. Dan karena Yukito adalah satu-satunya orang yang tahu harus melakukan apa. Mereka juga membawa Yuui setelah dibujuk oleh Sakura.
"Kamui, Subaru, kalian kah yang telah menyelamatkan Sakura?" tanya Yukito pada dua orang yang mengiringi Sakura. Tetapi ekspresi bahagianya berubah melihat seseorang berjubah putih di belakang mereka.
"Bukan kami, Yukito-san. Tapi orang ini... dia yang membawa Sakura ke wilayah kami," Subaru pun menjelaskan.
Yuui melangkah ke depan Yukito, lalu membuka tudungnya. Betapa terkejutnya Yukito melihat wajah yang sangat ia kenal.
"Dia Yuui. Penyihir penjaga kunci perak, dan juga adik kembar Fay."
"Senang bertemu denganmu," sapa Yuui dengan senyum yang ramah, membuatnya makin mirip dengan Fay.
"Suatu kehormatan bisa berdiri berhadapan dengan penyihir yang sangat terkenal sepertimu," tanpa rasa malu Yukito membungkuk hormat pada Yuui yang notabene lebih muda darinya.
"Yukito-san..." Sakura tiba-tiba menyela.
"Dimana Fay-san? Aku meminta mereka membawa Yuui-san ke sini agar ia bisa bertemu dengannya."
"Fay dan Kurogane menyusup ke markas pemerintah...untuk menyelamatkanmu." Yukito tahu bahwa sekarang penyusupan itu sia-sia saja. Ia lalu melihat pada Yuui yang terlihat sedang berpikir.
"Fay-san? Tetapi dia habis terluka parah!" Sakura terlihat sangat khawatir.
"Dia tidak bisa dilarang. Katanya dia punya alasan tersendiri untuk pergi ke sana," Yukito menatap pada Yuui yang tertunduk.
"Alasan itu...pasti aku, kan?" ucap Yuui pelan.
"Dan sialnya...mereka mungkin sudah tertangkap sekarang," lanjutnya lagi. Kali ini dengan ekspresi yang... Ah...ekspresinya tak terbaca. Namun terdapat sedikit getaran di suaranya.
"Maksud Yuui-san... Jangan-jangan alarm yang tadi itu?" Yuui mengangguk atas pertanyaan itu.
"Yukito-san, apa yang bisa kulakukan?" tiba-tiba saja Sakura mendongak.
"Maksudmu?"
"Fay-san pernah terluka karena melindungiku. Aku...di sini, aku selalu diberi gelar sebagai 'Pemilik Asli Kunci Emas dan Perak'. Pasti ada sesuatu yang dapat kulakukan, bukan?" jelas Sakura.
"Memang benar. Aku bisa memberitahukan apa yang bisa kau lakukan. Tetapi kita hanya punya satu kunci..."
"Kau salah," potong Yuui. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Kunci perak. Yuui memberikan kunci itu kepada Yukito.
"Sekarang, kau punya keduanya."
Yukito memperhatikan benda di tangannya. Tabung kaca dan kunci berbentuk sama, hanya berbeda warna.
"Baiklah... Sekarang, Sakura dan Yuui-san tunggulah di ruanganku. Kamui dan Subaru bisa kembali berjaga.
"Lalu anda sendiri, Yukito-sama?" tanya Subaru.
"Aku akan menyimpan kunci ini, lalu melaporkan pada Touya-sama tentang apa yang mungkin sedang terjadi pada Fay dan Kurogane."
Kamui dan Subaru mengangguk dan segera berbalik meninggalkan mereka. Sedangkan Sakura, Yuui dan Mokona menuju ke ruangan Yukito. Ruangan Touya, maksudku. Sudahlah, sama saja karena mereka berbagi ruangan itu.
Setibanya di ruangan Touya, sang pemilik ruangan tidak ada. Mungkin saat ini Yukito sedang mendatanginya? Sakura dan Mokona pun duduk menunggu di sofa, sedangkan Yuui melihat-lihat rak buku yang berjejer di ruangan itu.
Agak lama setelahnya, terdengar langkah kaki seseorang. Tadinya mereka kira Yukito sudah kembali, tapi ternyata bukan. Dia bukan lelaki berkacamata itu, tetapi...
"Syaoran!" Sakura pun langsung beranjak dari kursi yang ia duduki dan berlari menghampiri Syaoran.
"Sakura! Kau selamat...syukurlah..."
Mereka berdua merasa lega lantaran dapat melihat satu sama lain dan langsung berpelukan. Yuui hanya tersenyum melihat keduanya berpelukan seperti tak mau terpisahkan lagi. mereka berdua bahkan tak sadar akan apa yang mereka lakukan hingga seseorang berkata...
"Wah, kalian berdua memang sangat cocok, ya."
Ternyata Yukito sudah datang entah dari mana dan sekarang berdiri di belakang Syaoran. Syaoran dan Sakura langsung gelagapan dan salah tingkah, lalu saling berjauhan lagi.
"Kok sudahan? Padahal yang begitu tadi terlihat sangat mesra lho..." kata Yukito lagi.
Syaoran tidak mengatakan apapun, hanya menunduk dengan wajah dipenuhi semburat-semburat merah. Sedangkan Sakura menutupi wajahnya yang juga blushing dengan kedua tangannya.
"Pelukan mesra!" seru mokona yang ikut bergabung dengan Yukito untuk menggoda mereka.
"Mokona, jangan bilang seperti itu!" teriak Sakura yang rasa malunya makin memuncak lantaran terus digoda. Dan Syaoran menunduk makin dalam.
"Baiklah...baiklah... Kasihan juga kalau kalian terus digoda seperti itu," Yukito benar. Entah akan jadi semerah apa wajah mereka nantinya.
"Yukito-san, Sakura sudah kembali? Lalu mana Fay-san dan Kurogane-san?" tanya Syaoran yang sudah kembali serius.
"Entahlah...tapi orang yang di sana itu bilang, mereka mungkin terjebak dalam situasi yang rumit di sana," Yukito menunjuk seseorang dengan matanya. Syaoran pun mengikuti pandangan Yukito.
Di sana ada seseorang yang tidak disadari kehadirannya oleh Syaoran. Dan reaksinya pasti...terkejut? Tentu saja. Sekali lihat saja, Syaoran tahu itu bukanlah Fay. Justru karena ia tahu itu bukan Fay lah yang membuatnya kaget.
"Kembaran Fay-san...ya? Yuui-san, kan?"
Tadinya Yuui ingin memberinya tepuk tangan karena ia langsung bisa mengatakan siapa dia dan juga menyebutkan namanya. Tapi Yuui lebih memilih mengangguk dan tersenyum saja.
"Kau benar. Senang bertemu denganmu."
"Hei, Yukito. Itu apa?" tanya Mokona sambil menunjuk kain merah yang dibawa Yukito dengan kedua tangannya.
"Ini? Ini untuk Yuui-san."
"Eh? Untukku?" Yukito mengangguk dan mendekat ke arah Yuui.
"Tadi aku sudah mendengar ceritamu..." ya. Sakura dan Yuui tadi sempat bercerita mengenai masa lalu Yuui di perjalanan menuju ke ruangan ini.
"Dan kau juga...dengan sukarela telah memberikan kunci perak kepada lawanmu sendiri. Aku sangat berterima kasih. Dan untuk menyampaikannya, aku rasa kau berhak menerima ini..."
Yukito akhirnya menunjukkan bentuk asli kain merah yang tadi terlipat di atas tangannya. Jubah berwarna merah yang sama dengan yang dipakai Yukito, Syaoran dan Sakura. Oh, entah sudah kusebutkan atau belum, Mokona juga memakainya.
Senyum di wajah Yuui terlihat makin melebar. Ia lalu berdiri dan menanggalkan jubah putihnya, menggantinya dengan jubah berwarna merah yang diberikan oleh Yukito.
"Mulai sekarang, kau menjadi bagian dari kami..."
Entah mengapa, Yuui merasa sangat bahagia saat ini. Ia bisa kembali ke sisi yang seharusnya dijalaninya. Kembali memakai jubah merah yang pernah dikenakannya saat masih kecil dulu.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa, menyela momen itu. Semua mata tertuju ke arah pintu masuk yang saat itu sedang terbuka.
"Yukito-sama, ini buruk! Pasukan pemerintah, mereka..."
Pria yang kita kenal bernama Reyn, yang selama beberapa chapter ini tidak muncul, masuk ke ruangan itu. Ucapannya terhenti lantaran sadar ia sedang menyela sesuatu. Ia memperhatikan semua orang di ruangan itu. Pandangannya lalu terpaku pada Yuui.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu terdiam, melihat ke arah belakangnya dan kembali lagi memperhatikan Yuui. Sedangkan yang lainnya memandangnya dengan tatapan bingung. Bingung dengan apa yang dia lakukan barusan.
"Kau...bukan Fay, kan? Karena Fay...pastinya tak akan ada di sini sekarang," katanya pada akhirnya.
"Ya, dia bukan Fay. Yang lebih penting, Reyn, alasan kau kemari tadi apa?" Yukito seakan tahu bahwa hal yang ingin dikatakan Reyn adalah sesuatu yang penting.
"Itu...pasukan pemerintah! Fay dan Kurogane berhasil lolos dan sedang bersembunyi, tetapi karena penyusupan itu, pasukan pemerintah akan menyerang wilayah kita dalam waktu dekat!" ucap Reyn dengan intonasi tinggi. Ketahuan sekali kalau ia panik.
"Begitukah? Sudahkah kau informasikan pada Touya-sama?"
"Ya."
"Lalu perintahnya?"
"Semua pasukan bersiap untuk pertahanan di daerah perbatasan. Beberapa orang diperintahkan untuk mengusahakan komunikasi dengan Fay dan Kurogane. Warga lainnya sudah mulai dievakuasi," jelas Reyn.
"Tak ada ucapan apapun tentang Sakura?"
"Touya-sama menyerahkan urusan itu pada anda."Yukito lalu terlihat tersenyum, entah apa artinya.
"Terima kasih atas informasinya, Reyn. Kembalilah pada tugasmu."
Tanpa bertanya apapun, Reyn berlari meninggalkan ruangan itu. Tetapi lalu Yuui terpaku pada benda yang sedari tadi dibawa Reyn di tangan kirinya. Sebuah senjata berbentuk seperti bulan sabit.
"Tunggu, orang itu...bagaimana bisa ia memiliki senjata itu?" Yuui lebih memilih bertanya pada Yukito karena Reyn sudah berlari terlalu jauh dan tak akan bisa mendengarnya.
Dia tahu senjata itu. Dia tidak mungkin lupa akan senjata miliknya, yang DIBUAT OLEH TANGANNYA SENDIRI.
"Kakak Kamui dan Subaru. Dia memang mempunyai banyak senjata dari bayaran menjadi mata-mata seorang penyihir pembuat senjata," Yukito tahu bahwa Yuui mengenal betul siapa orang yang dimaksud.
"Pria itu...menjadi mata-mata dua orang yang berbeda, huh? Ah, siapa namanya lagi? Fuuma?"
Dan tentu saja dia sangat mengenal orang ini. Fuuma adalah mata-mata pribadinya yang dirahasiakan dari Akai-sama. Tanpa ia ketahui, dirinya telah mengkhianati dan dikhianati dalam waktu yang bersamaan.
Hal ini menyadarkan Yuui akan sesuatu. Ia tidak pandai dalam memilih orang untuk dipercayai. Yuui jadi geleng-geleng kepala sendiri menyadari kalau ternyata selama ini ia begitu bodoh.
"Kurasa tidak perlu dijelaskan lagi karena Yuui-san nampaknya sudah mengerti terlalu banyak. Sekarang sebaiknya kalian ikuti aku," Yukito lalu mengisyaratkan Sakura, Syaoran, Yuui dan Mokona untuk mengikutinya.
Syaoran yang sama sekali tak tahu mengenai hal ini sebenarnya ingin penjelasan lebih jauh. Tetapi karena Yukito sudah berkata demikian, apa boleh buat. Mungkin ia bisa minta diceritakan kapan-kapan.
Yuui membawa mereka ke depan sebuah podium di tengah-tengah jejeran rak-rak buku. Di atas podium itu terdapat kotak kaca yang menyimpan sebuah buku di dalamnya.
Dengan hati-hati Yukito membuka kotak kaca tersebut dan mengambil buku di dalamnya. Ia lalu memperlihatkannya pada semua orang di ruangan itu. Dan Sakura adalah yang pertama kali bereaksi.
Buku dengan sampul bergambar matahari itu...
"Buku itu..."
~TBC~
A/N: Maaf kalau ending di chapter ini gantung banget. Karena saia lagi mati ide...hiksu! *nangis
Tanpa banyak kata lagi, saia sudahi dulu chap ini. See you in the next Chap!
Last, review?
