-After Wedding-
Disclaimer:
Naruto © Om Masashi Kishimoto
Story © Mikiraa / Msyn
Warning:
OOC, Typo's, AU , abal, aneh, etc
Rate:T
Genre:Romance, Family
Chapter 11: Good Job, Good mood, Good day
Hampir 2 bulan Sakura menganggur sejak hari wisudanya berlangsung. Dirinya sering meratap sedih akan keberuntungan yang tak kunjung datang padanya. Memang mencari pekerjaan tidaklah mudah, apalagi di era sekarang. Meski kau berpendidikan tinggi pun, pekerjaan masihlah sulit untuk mendapatkannya. Sakura telah mengirim portofolio tentang dirinya di hampir seluruh rumah sakit di Konoha, tapi sejak 3 minggu pengiriman belum ada satupun yang memanggilnya untuk wawancara atau sekedar mengatakan "maaf anda belum beruntung". Kalimat itu lebih melegakan daripada menunggu tanpa kepastian dari pihat rumah sakit. Bukankah dia sangat menyedihkan?
Akan tetapi, pagi itu, untuk pertama kalinya seseorang menganggu paginya dengan kata "Kami menunggu anda hari ini jam 9 untuk melakukan wawancara." Dirinya yang masih setengah mengantuk saat menerima telepon hampir terjungkal dari kasur karena terkejut. Untung saja Sasuke sigap melingkarkan lengannya di pinggang istrinya. Pria itu memang berada tepat di sebelah Sakura, bergumul di satu selimut yang sama -yang sekarang ini sudah menjadi sebuah rutinitas untuk mereka berdua.
"Hati-hati," Sasuke bergumam dengan tangan yang malah semakin mendekatkan tubuh istrinya kepelukannya, mendekapnya dan membiarkan wajah Sakura memerah di antara dada bidang suaminya yg tertutup pajama. Kepala Sakura mengangguk lemah sambil menutup wajahnya yg sudah seperti tomat kelewat matang.
"Sa... Suke," Wanita itu bergumam setelah beberapa menit mereka terdiam tanpa bergerak diantara acara cuddling yang jarang mereka lakukan. Sasuke kembali bergumam, mata hitamnya terpejam, terlihat sekali menikmati pagi hangatnya bersama sang istri.
"Bisa antar aku?" Sakura mendongak dan atensinya bersirobok dengan mata hitam sang suami yang ternyata sudah terbuka. Menatap sebentar, dan sebuah kecupan selamat pagi lolos diantara mereka.
Hanya melumat sedikit sebelum sang lelaki menjauh berjalan menuju dapur. "Bersiaplah," ucap pemuda itu seraya berlalu.
Sedangkan Sakura, tubuhnya kaku ditempat.
.
Butuh waktu hampir 1 jam bagi Sakura untuk mempersiapkan diri. Tentu saja karena waktunya yang terlalu mendadak. Untung saja, dia sedang tidak berada di luar kota karena sebenarnya minggu ini dia seharusnya pergi bersama mertuanya.
Dia mengakhiri acara berdandannya setelah melihat Sasuke bersender bosan pada kusen pintu kamar mereka, dirinya yang menggunakan pakaian formal terlihat berbeda sekali, tidak ada lagi Sakura tomboy dan urakan apalagi dengan tatanan rambut panjangnya yang digulung seperti orang kantoran. Dia berubah menjadi sosok wanita dewasa, sangat berbeda.
"Ayo pergi," ujarnya dengan langkah pelan, karena jujur rok yang dipakainya membuatnya sedikit sulit bergerak, terlalu terbiasa menggunakan jeans setiap harinya . "Pakaian ini benar-benar."
Mereka sampai tujuan 20 menit sebelum wawancara berlangsung. Sebuah gedung besar yang berbau obat menjadi objek amatan mata hijau Sakura, terkagum-kagum tidak percaya. Bahkan gadis gulali itu hampir saja berlari keluar mobil tanpa melepaskan seatbelt-nya karena terlalu senang, tapi sebelum itu terjadi, tangan Sasuke lebih dahulu memegang lengan istrinya. Membuat istrinya menoleh. "Seatbelt-mu?"
"Sial aku terlalu senang." gumam gadis itu yang membuat sudut bibir Sasuke sedikit terangkat, tingkah istrinya ini sangatlah lucu. Setelah melepas seatbelt pegangan pada lengan gadis itu tak kunjung terlepas. "Ada apalagi?" Sakura terlihat tidak sabar.
"Aku ada rapat dengan perusahaan milik Naruto."
"Iya, tidak apa, aku bisa pulang sendiri. Jadi kau tidak usah khawatir, " jawabnya seraya menyingkirkan tangan suaminya dari lengannya, bersiap untuk keluar mobil.
"Semoga berhasil."
Sakura tersenyum, "Tentu saja."
Ucapan itu berakhir dengan sebuah kecupan terima kasih dari sang istri dan pintu mobil yang tertutup rapat. Jangan lupa dengan muka Sasuke yang terlihat sedikit bingung.
Hari ini, istrinya terkena sihir apa sebenernya?
.
Rapat berlangsung baik, dengan persetujuan kedua belah pihak sebuah proyek tercipta untuk direalisaikan pada beberapa bulan mendatang. Sebenarnya tidak akan sulit apalagi jika kerja sama bersama sahabatmu.
Rapat selesai pada jam makan siang, Sasuke berencana makan di luar tetapi saat pintu ruangnya terbuka dia memilih menyuruh sang sekretaris untuk membelikan makan siangnya. Ternyata istrinya datang berkunjung, masih dengan pakaian yang sama seperti tadi pagi. Rambutnya sudah terkuncir, tak lagi menggulung dan blazernya sudah terkapar di lantai bersama tas dan sepatunya. Wanita itu tengah tertidur, meringkung di sofa panjang ruangan.
Entah sudah berapa kali Sasuke bersyukur akan istrinya hari ini, mood baiknya sangat merubah segala hal. Bahkan dia jadi bertingkah manis. Sasuke jadi gemas sendiri.
Pria itu mengambil blazer milik Sakura, menjadikannya selimut untuk sang gadis, agar lebih hangat. Tetapi akibat aksinya itu, Sakura malah terusik. Mata hijaunya perlahan terbuka. "Eng, Sasuke... Sudah selesai rapat." Gadis itu menggaliat, mengatur tubuhnya menjadi duduk.
"Aku lapar!"
"Tunggulah sebentar lagi."
Sakura mengangguk-angguk, lalu tubuhnya beranjak dari sofa, mendekati jendela kaca di sisi ruangan, titik-titik hujan membasahi beningnya kaca besar itu. "Hujan lagi."
"Aku akan lembur hari ini, kau pulanglah setelah hujan reda." Pemuda itu berkata sembari memeriksa berkas-berkas yang menumpuk dimejanya, meminta untuk ditandatangani.
"Kau mengusirku ya?" Sasuke hanya terdiam mendengar jawaban sewot dari istrinya, membuat Sakura menghela nafas mengerti. "Aku tidak akan bosan, jika aku bosan aku akan turun ke kafe sebelah, jadi jangan khawatir." Sakura tersenyum riang. "Aku sedang good mood hari ini. Jadi bersyukurlah aku tak akan banyak membuatmu repot."
Setelahnya pintu terbuka, seorang gadis yang merupakan sekretaris dari tuan muda Uchiha datang membawa beberapa bungkus makanan. Buru-buru Sakura membantu gadis itu, mengambil bungkusan di tangan kanannya. "Terima kasih."
"T-tidak masalah, Nyonya Uchiha," ucap gadis itu.
"Nyonya? Panggil aku Sakura, aku tidak setua itu." Gadis itu tertawa kecil lalu izin pamit untuk kembali menjalankan tugasnya di belakang meja kerjanya.
Sakura dengan cekatan mengambil bungkusan, membukanya dan menatanya di meja yang tersusun satu set dengan sofa yang dia tiduri. "Kemarilah, kau juga harus makan. Aku tidak ingin kerepotan saat kau mengeluh sakit." Sakura menarik lengan Sasuke mendekat, menyuruhnya duduk makan disebelahnya.
"Oishi!" Ekspresi wanita itu sangatlah menggemaskan, padahal ini hanya makanan biasa. Hanya sushi. "Kau juga harus makan, ini enak sekali."
Dan siang itu mereka makan dengan tenang, tak ada cekcok yang biasa terjadi dan hal bagus lainnya adalah mereka tampak bahagia. Ini semua karena mood baik Sakura.
Bisakah Sakura seperti ini setiap hari?
Bisakan mereka akur seperti ini setiap hari?
.
Author's note:
Hallo, apa ada yang masih menunggu fic ini setelah 3 bulan tak tersentuh? Ini lebih cepat dari biasanya lho (engga sama aja lama). Maaf jika chap ini tidak memuaskan, Terima kasih yang masih mau mantengin fic ini sampe sekarang. Dan sekali lagi saya memohon support kalian dengan cara review, fav ataupun follow fic ini. kritik dan saran sangat saya nantikan dari pada readers sekalian.
Arigatou gozaimasu.
Miki
[161029]
